Murim Psychopath

Chapter 95

3242 Kata

**Bab 95. Zhong Zhihang**

***

Sesaat setelah itu, ia memutar kembali arah tubuhnya dan mencoba melanjutkan kembali langkah perjalanan awalnya yang sempat terputus.

“Hei!”

Sesosok wanita mengenakan jubah merah menyala yang gerak fisiknya terlihat sangat lincah menyerupai rontokan kelopak bunga plum tampak meluncur keluar dari dalam Paviliun Qingqing dan kembali memotong jalur langkah pemuda berjubah biru.

Bilah pedang dengan gantungan rumbai bunga plum merah yang ia genggam di tangan kanannya memperjelas identitas dirinya sebagai salah seorang murid asuhan Sekte Huashan.

“Aku saat ini sedang berdiri menghadang jalanmu di sini. Jika kau berniat melangkah pergi melarikan diri begitu saja……”

“Mustahil…… menarik bilah pedang…… membidik wanita……”

Bahkan tanpa perlu memutar posisi tubuhnya menatap ke belakang, pemuda berjubah biru tersebut memotong kasar kalimat penjelasan sang wanita di udara.

Kemungkinan besar karena klaim kalimatnya yang menolak menarik pedang di depan wanita dirasa menyinggung harga diri kewanitaannya, sang wanita cantik berjubah merah tersebut tampak mengerutkan dahinya tidak senang—sepasang alis matanya yang terbentuk lurus menyerupai bilah pedang tajam ditarik membentuk huruf delapan terbalik (八) baru kemudian melepaskan teriakan lantang penuh amarah.

“Apakah kau sedang meremehkan kekuatan beladiriku murni hanya karena status fisikku terlahir sebagai seorang wanita?!”

*Tap, tap.*

Alih-alih melayangkan kalimat jawaban balik, pemuda berjubah biru tersebut tetap melanjutkan pergerakan langkah kakinya menuju ke arah dermaga kapal feri.

Detail gerakan diam tersebut dirasa sudah sangat cukup untuk menjawab pertanyaannya.

*Klang—!*

“Berhenti di tempat! Jika kau bersikeras menolak menghentikan langkah kakimu saat ini juga, bilah pedang di tangan **Hua Ruizhi** ini dipastikan tidak akan memberikan ampunan bagimu……!”

*Sret.*

Tepat di saat Hua Ruizhi telah menarik bilah pedangnya keluar dari sarung saat itu juga, pemuda berjubah biru akhirnya bergerak memicu serangan. Langkah kakinya sekali lagi bergerak lincah menyusuri tujuh alur pergerakan Rasi Bintang Biduk (`Big Dipper`) dan merapat tepat di hadapan wajah Hua Ruizhi. Akselerasi kecepatan gerakannya terlampau lincah hingga membuat visual fisiknya terlihat memanjang di udara.

Berbeda dengan pertarungan sebelumnya, pemuda berjubah biru kali ini memilih tidak menarik pedang panjang miliknya dari sarung. Ia murni hanya mengangkat tangan kanannya tinggi-tanggi, meluruskan jari telunjuknya, baru kemudian mengetuk halus bagian dahi Hua Ruizhi menggunakan jarinya.

Bersamaan dengan ketukan halus tersebut, ia menggumamkan kosakatanya yang sangat kaku.

“Aku…… menyentuhmu. Aku…… jauh lebih…… kuat. Dari dirimu……”

“………”

Hua Ruizhi seketika bungkam kehilangan kapasitas untuk bersuara.

Dari jarak fisik yang sangat dekat saat itu, sepasang mata pemuda di hadapannya memancarkan sorot mata transparan yang sangat mengerikan. Terlampau transparan hingga membuat visual pantulan wajah dirinya sendiri tercermin sangat jelas di sela sepasang matanya. Hua Ruizhi mendeteksi wujud visual dirinya yang terpantul di balik sepasang mata tersebut terlihat sangat buruk dan sangat tidak murni.

*Set.*

Pemuda berjubah biru menekuk kembali jari telunjuknya yang baru saja mendarat menyentuh bagian tengah dahi Hua Ruizhi, baru kemudian melangkah pergi melanjutkan perjalanannya menuju ke dermaga kapal feri.

“Si-Siapa nama pendaftaranmu?”

Menyusul meluncurnya pertanyaan darurat dari mulut Hua Ruizhi tersebut, pemuda berjubah biru kembali menghentikan langkah kakinya. Baru kemudian ia menundukkan kepalanya perlahan, seolah-olah ia sedang kesulitan untuk merumuskan kembali nama pendaftaran dirinya di kepala.

Seluruh sepasang mata beserta lubang telinga pengunjung yang bersiap di tempat kejadian saat itu memusatkan seluruh fokusnya menatap lekat ke arah tubuhnya. Itu murni bukan merupakan kejadian pertarungan yang megah, namun pemuda tersebut dibekali oleh sesosok hawa wibawa misterius yang secara konstan terus menyedot perhatian batin orang lain di sekelilingnya.

“Zhong…… Zhihang…… mungkin……”

Zhong Zhihang.

Selesai meninggalkan tiga suku kata yang menyusun nama pendaftarannya tersebut, fisiknya meluncur pergi sangat jauh hingga visual tubuhnya tidak lagi mampu ditangkap oleh pandangan mata pengunjung dari arah Paviliun Qingqing.

“Zhong…… Zhi…… Hang……!”

Hua Ruizhi masih terus berdiri terpaku di posisinya, menatap lekat ke arah garis cakrawala tempat hilangnya pemuda tersebut.

Tidak lama kemudian, jajaran murid Sekte Huashan beserta Sekte Kunlun yang tadinya bergulingan kesakitan di atas tanah pasir mulai bangkit berdiri kembali dan bersuara melayangkan kalimat tanya ke arahnya, namun ia memilih tetap bungkam dan secara konstan terus memandang kosong ke arah kejauhan.

Kenyataannya, tidak hanya dirinya saja, melainkan banyak orang di tempat kejadian ini yang kondisi batinnya terpatri sangat dalam menyaksikan proses kemunculan beserta kepergian Zhong Zhihang baru saja.

“Ia merupakan sesosok pemuda yang sangat luar biasa hebat.”

Di sela-sela jajaran pengunjung tersebut, Eulji Tae, yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertikaian sepihak dari ruangan lantai dua Paviliun Qingqing, menyuarakan kalimat pujiannya.

Dari arah seberang mejanya, Dong Gwang-cheon…… no, Dong Bong-su, yang juga menyaksikan seluruh pertikaian tersebut sejak awal melayangkan anggukan kepala tanda setuju.

Secara faktual, nama Dong Gwang-cheon merupakan nama samaran yang digunakan oleh Dong Bong-su, yang helaian rambut kepalanya sengaja dibiarkan tumbuh terurai panjang untuk menyembunyikan wajahnya setelah meloloskan diri dari kawasan Padang Rumput Utara kemarin.

Selesai menuntaskan misinya di Guisui, ia meluncur kembali ke kota Datong. Sebelum memutuskan menyeberang menuju ke wilayah Dataran Tengah, ia diwajibkan untuk menemui sosok Monster Senjata terlebih dahulu. Langkah ini terpaksa ia ambil demi bisa mengambil kembali barang peralatan miliknya yang dirakit murni memanfaatkan peleburan pedang pemula `[Novice's Sword]`. Oleh karena rencana itulah ia melangkah kaki menuju ke Gudang Senjata Delapan Arah (`Eight Directions Armory`), namun sesampainya di sana sosok Monster Senjata dilaporkan sudah tidak bersiap di tempat.

Sebaliknya, ia justru berpasangan tatap dengan sosok master puncak tangguh lainnya yang riak kekuatannya sangat mengerikan hingga memicu keaktifan peringatan bahera dari indera penguji sistemnya. Master tersebut mengabarkan bahwa Monster Senjata saat ini sedang didelegasikan di dalam area Aliansi Beladiri.

Dong Bong-su tidak memiliki dasar informasi untuk mengetahui detail rencana gerak apa sebenarnya yang sedang disusun oleh Monster Senjata saat itu, namun ia memutuskan untuk mengekor tepat di sepanjang perjalanan master tersebut, Eulji Tae. Sebagai gerbang pembuka penjelajahannya memasuki Dataran Tengah, kota Zhengzhou dideteksi bukan merupakan opsi pilihan yang buruk bagi logikanya.

Saat ini, tidak peduli apa pun klaim yang disuarakan oleh penduduk persilatan, wilayah jantung utama dari kelangsungan dunia persilatan Dataran Tengah berpusat di Zhengzhou.

Murni karena markas pusat Aliansi Beladiri bersiap di Zhengzhou.

Dong Bong-su sendiri saat itu belum merumuskan keputusan bulat mengenai rencana tindakan apa yang bersiap ia jalankan setelah ia menapakkan kakinya di Dataran Tengah kelak.

Jika ia berniat untuk mendirikan sebuah “peternakan” (`ranch`), prioritas pertama yang harus ia jalankan adalah mencari pasokan bibit ternak (`breeding stock`) berkualitas tinggi. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bersedia menyerahkan pasokan bibit berkualitas secara cuma-cuma. Terlebih lagi di dalam belantara kejam yang diistilahkan sebagai dunia persilatan ini.

Ada banyak sekali simulasi taktis yang ia rancang di dalam kepalanya saat itu.

Bagaimana cara merumuskan rancang bangun serta jenis peternakan apa yang paling ideal untuk ia dirikan? Dan jika peternakannya sukses didirikan kelak, apakah ia akan dibekali kemampuan untuk mengamankan pasokan bibit ternaknya secara konstan? Serta dari mana ia bisa memanen nominal modal uangnya?

Hingga kemudian, sesosok rencana alternatif yang sangat gila mendadak melintas memenuhi sel otaknya.

Mengapa ia harus repot-repot membuang energinya untuk merancang pembangunan sebuah peternakan baru dari awal? Bagaimana jika ia murni hanya perlu merebut paksa eksistensi peternakan terbesar dan terbaik yang saat ini telah bersiap di sepanjang dunia persilatan? Sebuah peternakan raksasa yang meskipun ia murni hanya duduk diam bersantai sekalipun, pasokan modal uang melimpah beserta bibit ternak berkualitas tinggi dipastikan akan mengalir deras memenuhi sarangnya secara konstan……

Aliansi Beladiri, Kastil Iblis Surgawi, beserta Aula Pengumpul Kejahatan.

Saat ini, ketiga faksi raksasa tersebut menyandang status sebagai tiga peternakan terbaik—yaitu wadah berkumpulnya jajaran bakat persilatan terhebat. Detail kebenaran ini tidak membutuhkan kalimat penjelasan tambahan.

Lalu ke arah faksi mana dari ketiga peternakan tersebut ia harus melangkah kaki? Dan metode perebutan paksa seperti apa yang bersiap ia jalankan nanti?

Rangkaian rencana taktis tersebut belum ia kunci seutuhnya saat ini.

Dong Bong-su membiarkan seluruh persentase peluang rencana tersebut tetap terbuka lebar ke segala penjuru arah.

Selama ia dibekali kemampuan untuk bisa menyalurkan hobi perburuannya secara konstan serta mampu memicu akselerasi kenaikan levelnya secara efisien, faksi mana pun tidak mendatangkan perbedaan bagi kepalanya. Dan di saat yang sangat tepat saat ini ia memperoleh peluang emas untuk bisa mengunjungi markas Aliansi Beladiri, oleh karena faktor taktis itulah ia memandu fisiknya meluncur menuju ke Zhengzhou.

Dan tepat di sela penantian tersebut, sosok Zhong Zhihang mendadak menampakkan diri melintas tepat di hadapan sepasang mata Dong Bong-su.

Persis seperti kalimat pujian dari mulut Eulji Tae baru saja, kualitas bela diri pemuda tersebut dideteksi sangatlah hebat. Terlampau hebat hingga memicu lahirnya rangkaian pemikiran berikut di dalam kepalanya.

‘Pemuda itu memiliki karakteristik yang sangat identik dengan sosok tokoh utama (`protagonist`) di dalam buku fiksi maupun film bela diri.’

Itu merupakan sebaris penilaian objektif murni yang dirumuskan oleh logika Dong Bong-su menyikapi wujud pemuda tersebut.

Sosok Zhong Zhihang yang ia saksikan sekilas baru saja merupakan seorang pendekar misterius yang dibekali oleh wibawa bertarung unik yang secara konstan mampu memangkas eksistensi pendekar di sekelilingnya bertransformasi menjadi sebatas tokoh pembantu (`supporting roles`) belaka di depannya.

“Memicu pertikaian fisik dengan masing-masing satu orang phoenix jalan lurus serta satu naga Kunlun bahkan sebelum kakinya sempat menapak di kota Zhengzhou…… Apakah aku harus menjuluki pemuda itu sebagai sesosok master agung dari Pedang Baja Surgawi?”

Gelar naga jalan lurus yang dimaksud oleh Eulji Tae saat ini murni tertuju ke arah Naga Putih Kunlun Woo Sim-gi, sedangkan gelar phoenix ditakdirkan merujuk pada sosok Nona Muda Hua Ruizhi.

“………”

Bagi analisa Dong Bong-su, Eulji Tae tampaknya memiliki dasar informasi tersendiri menyangkut latar belakang Zhong Zhihang. Dan di balik sorot mata master di hadapannya saat itu, ia mendeteksi adanya riak ekspektasi yang sangat padat yang ditujukan ke arah nama besar “Master Pedang Baja Surgawi”.

Sesosok tatapan mata yang sangat identik dengan tatapan mata penonton film bioskop maupun pembaca buku fiksi, yang menaruh ekspektasi besar menyaksikan aksi kepahlawanan sang tokoh utama.

Dong Bong-su sempat terdiam melamun selama beberapa saat.

Tepat di saat jeda melamunnya tersebut berjalan, seluruh visual pemandangan di sekitarnya seolah-olah membeku secara misterius dan tersedot masuk memenuhi sepasang matanya. Eulji Tae, Hua Ruizhi, Woo Sim-gi, beserta pendekar lainnya. Masing-masing pendekar tampak mengekspos luapan emosi yang berbeda, namun seluruh isi kepala mereka saat itu secara mutlak dipaksa untuk memikirkan dan merasakan riak wibawa bertarung yang dilepaskan oleh Zhong Zhihang, terlepas dari suka atau tidak sukanya mereka menyikapinya.

Apakah ia harus merumuskan kesimpulan bahwa kemunculan sesosok pahlawan muda bernama Zhong Zhihang secara nyata telah sukses memicu guncangan ombak di dunia persilatan saat ini?

Hingga kemudian durasi waktu kembali bergulir seperti biasa, dan alur rencana pemikiran Dong Bong-su mendadak melompat ke arah titik area yang sangat aneh.

Master Pedang Baja Surgawi beserta Pedang Baja Surgawi Agung.

Zhong Zhihang beserta bilah pedang panjang yang ia genggam.

Dan.

Sesosok pertanyaan gila yang mendadak meletus memenuhi otaknya.

*Malapetaka seperti apa yang bersiap meletus aktif di dalam alur buku fiksi maupun film, jika sosok tokoh utama (`protagonist`) cerita secara mendadak tewas dibantai di tengah jalan?*

Bukankah detail kematian tak terduga tersebut juga dipastikan akan melahirkan sesosok alur cerita film maupun buku fiksi yang jauh lebih menarik untuk disaksikan?

Siapa hukum yang menetapkan bahwa hanya sosok tokoh utama saja yang diizinkan untuk menyandang peran sebagai tokoh utama cerita? Bukankah alurnya dipastikan akan terasa jauh lebih menyenangkan jika sesosok peran pembantu (`extra`) secara mendadak melompat keluar baru kemudian merebut paksa slot peran utama cerita seutuhnya?

*Chop. Chop.*

Eulji Tae kembali melanjutkan aktivitas santap makannya secara santai.

Dong Bong-su juga tampak memungut kembali sumpit kayunya baru kemudian menyuapkan sepotong daging babi panggang ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan. Limpahan kuah kecap rempah menyebar menyelimuti seluruh rongga mulutnya, namun otaknya terbukti sama sekali tidak mampu merasakan atau mendeteksi cita rasa lezatnya makanan tersebut.

Sebab fokus pikirannya saat itu telah resmi bergeser memikirkan bagaimana cita rasa murni dari sepotong daging hewan herbivora sejati. Cita rasa dari seekor gajah liar raksasa.

***

**Sekte Zhongnan.**

Merupakan salah satu sekte legendaris yang di masa lalunya sempat bersanding menyandang status sebagai bagian dari anggota Sembilan Sekte Besar (`Nine Sects`) dipadu dengan Aliansi Pengemis. Sepanjang sejarah perkembangannya, sekte ini diakui sebagai penguasa tunggal wilayah Provinsi Shaanxi.

Namun……

Detik ini, ia tidak lebih dari sekadar sekte terlupakan yang namanya telah merosot padam dari dunia persilatan.

Sesosok pendekar berjuluk *Zhongnan Lone Sword* (Pedang Tunggal Zhongnan) atau *Zhongnan Poison Sword* (Pedang Racun Zhongnan).

Dijuluki sebagai Pedang Tunggal karena ia merupakan satu-satunya murid yang tersisa hidup membentengi sektenya seorang diri. Dijuluki sebagai Pedang Racun murni karena ia dibekali kepemilikan atas sebilah pedang pusaka yang ketajamannya sangat mematikan.

Namun……

Sama halnya dengan nasib sektenya, nama julukannya saat ini juga telah resmi bertransformasi menjadi sesosok nama yang sepenuhnya terlupakan oleh masyarakat persilatan.

Durasi waktu tersebut secara faktual telah berlalu selama puluhan tahun lamanya. Hari ini, Pedang Baja Surgawi Agung akhirnya resmi mengibaskan lapisan debu tebal yang menyelimuti tubuhnya dan mengekspos kembali kilauan ketajaman aslinya yang tersembunyi.

Sebilah pedang pusaka terakhir yang bertindak sebagai simbol kedaulatan dari Sekte Zhongnan seutuhnya. Bilah pedang yang diwariskan atas nama *Lone Sword*.

Zhong Zhihang memosisikan genggaman tangan kirinya mempererat pegangannya pada gagang Pedang Baja Surgawi Agung, dan menatap tenang derasnya arus Sungai Kuning di bawahnya. Visual arusnya dideteksi tidak menyajikan keindahan artistik apa pun, namun hawa maskulin yang sangat kokoh secara misterius merembes keluar menyelimuti sekelilingnya. Baik itu berupa derasnya arus Sungai Kuning maupun wujud fisik dari Zhong Zhihang saat itu.

*Wusss—.*

Kapal feri penyeberangan yang ia tumpangi meluncur deras membelah sungai mengarah lurus ke timur. Jarak tempuh menuju ke kota Zhengzhou dideteksi sudah tidak lagi terlampau jauh.

Rangkaian kekacauan fisik telah resmi ia pemicu aktif begitu kakinya baru saja menapakkan kaki memasuki rimba dunia persilatan Dataran Tengah hari ini, namun batinnya terbukti sama sekali tidak menaruh riak penyesalan sedikit pun menyikapi detail keributan tersebut.

Mengingat kembali sebaris pesan petuah terakhir yang sempat disuarakan oleh gurunya di masa lalu:

`[Jangan pernah meluncurkan pencabutan pedangmu dari sarungnya secara sembarangan di depan umum. Namun di saat batinmu telah menetapkan keputusan untuk menarik bilahnya keluar, tebaslah sasaranmu secara mutlak tanpa keraguan. Buatlah barisan gunung beserta aliran sungai bergetar hebat karena takut, dan paksa seluruh pendekar persilatan mengompol ketakutan menatap wibawa pedangmu.]`

Ia hari ini telah resmi mencabut bilah pedangnya, dan telah mengayunkan tebasan pedangnya secara kasar di depan umum. Ia memang belum memiliki dasar pembuktian apakah tebasan pedangnya baru saja sukses memicu getaran di sepanjang barisan gunung beserta aliran sungai persilatan saat ini, namun setidaknya ia telah sukses membuktikan tebasan pedangnya mampu memaksa satu orang pendekar muda mengompol ketakutan di tanah.

Gurunya di masa lalu juga kerap melayangkan kalimat cibiran maut menyangkut karakteristik murid asuhan Sekte Kunlun di hadapannya.

*Sebuah sekte pedang yang seluruh tekniknya dipenuhi oleh pameran kosong serta gema kebohongan jurus semata.* Itulah baris penilaian dari gurunya. Selesai berhadapan langsung menyongsong duel fisik melawan murid sekte tersebut hari ini, Zhong Zhihang juga kesulitan untuk merumuskan penilaian alternatif lainnya di kepala.

Sesosok tebasan pedang lemah yang aroma bilahnya dipenuhi oleh aroma bedak kosmetik wanita.

Itulah baris penilaian gurunya menyangkut karakteristik teknik pedang Sekte Huashan yang posisinya berada di belakang Kunlun. Namun untuk kasus pertikaian hari ini, ia memiliki sedikit perbedaan pandangan. Bilah pedangnya memang memancarkan aroma bedak wanita, namun kualitas tebasannya sama sekali tidak dideteksi lemah. Untuk sepersekian detik yang sangat singkat tadi, ia sempat dilingkupi oleh ketertarikan batin untuk menyaksikan bagaimana visual keindahan jurus pedang plum Sekte Huashan yang tingkat pencapaiannya telah menyentuh tingkatan alam tertentu.

Kenyataannya, ketertarikan batin itulah yang melatarbelakangi mengapa ia terseret ke dalam pertikaian fisik melawan mereka baru saja.

Sesosok aroma harum bunga plum yang sangat kuat terdeteksi menguap menyelimuti tubuh wanita berjubah merah tersebut. Murni dipicu karena dirinya melayangkan fokus tatapan matanya beberapa kali secara berulang meneliti asal-usul wewangian misterius tersebut yang tetap menyembur keluar bahkan di saat sang wanita murni hanya berdiri diam tanpa bergerak, rangkaian kesalahpahaman taktis akhirnya meletus di sela mereka. Tentu saja, faktor pemicu utamanya murni didorong oleh reaksi pertahanan faksi lawan yang terlampau berlebihan menyikapi tatapan matanya.

Zhong Zhihang mengingat kembali kronologi pertikaian baru saja selama beberapa saat, baru kemudian menghapus paksa memori tersebut seutuhnya dari kepalanya. Begitu tugas fisik dari seorang pendekar pedang telah selesai dieksekusi secara tuntas di lapangan, tidak ada kebutuhan bagi otaknya untuk memikirkan detail pertikaian tersebut lebih jauh lagi. Rangkaian prinsip bertarung itulah yang secara konsisten selalu dideklarasikan oleh gurunya semasa hidup. Ia sangat setuju dengannya. Duel telah berakhir, dan sesosok duel baru lainnya dipastikan sedang bersiap menanti langkah perjalanannya di depan nanti. Berkat dipegangnya prinsip tersebut, nilai guna praktis dari pertikaian baru saja telah resmi habis dari kepalanya.

*Wusss—.*

Zhong Zhihang berdiri tegak seorang diri di sela-sela heningnya kabin kapal. Bersiap tepat di sela pinggir dek perahu, lokasi di mana letusan derasnya arus sungai yang terbelah akibat benturan lunas perahu mampu ditangkap secara paling jelas oleh matanya.

`[Bagaikan gerakan membelah derasnya arus sungai, belahlah kedaulatan dunia persilatan seutuhnya.]`

Ia sepanjang hidupnya belum pernah menyaksikan visual pembelahan derasnya arus sungai sedekat ini sebelumnya, dan menyangkut perkara kedaulatan dunia persilatan seutuhnya, detail tersebut berada jauh di luar batas imajinasinya. Ia telah merelakan seluruh durasi hidupnya mendekam di dalam area Pegunungan Zhongnan seumur hidupnya, sehingga bagi logikanya kedaulatan dunia persilatan diwakili secara mutlak oleh Pegunungan Zhongnan semata. Setidaknya, hingga ia pertama kali mendengarkan kosakara petuah tersebut disuarakan gurunya.

Zhong Zhihang menyuarakan kalimat patuh `[Aku bersedia melakukannya]` saat itu murni ditopang oleh kesadaran batinnya bahwa sangat tidak sopan bagi seorang murid untuk membantah baris pesan petuah terakhir dari gurunya yang sedang bersiap menjemput ajal kematian.

Kini setelah ia berhadapan langsung menyongsong kedahsyatan arus deras sungai dari jarak sedekat ini secara fisik, ia merasa dirinya akhirnya mulai bisa memahami motif gurunya menyuarakan kosakara petuah gila tersebut di masa lalu.

Zhong Zhihang mengangkat telapak tangan kanannya tinggi-tinggi di atas kepalanya.

*Set.*

Sesosok tebasan pisau tangan (`hand-blade`) diluncurkan jatuh membelah udara secara perlahan seolah-olah tidak ada keunikan apa pun yang bersiap menyertainya.

Sama sekali tidak ada fenomena aneh yang terjadi di sungai. Perahu kayu tersebut terdeteksi masih terus meluncur lincah membelah derasnya arus sungai menuju ke arah depan.

Namun malapetaka seperti apa yang bersiap meletus aktif jika derasnya arus sungai tersebut dianalogikan sebagai dunia persilatan seutuhnya, dan tebasan pisau tangannya dianalogikan sebagai Pedang Baja Surgawi Agung? Zhong Zhihang menaruh rasa penasaran yang sangat luar biasa gila di dalam dadanya. Terlampau penasaran hingga membuat batinnya diliputi hasrat kegilaan.

Hingga kemudian secara mendadak, di sela-sela dersanya arus sungai yang terbelah di depannya, visual wajah dari dua orang pria yang melayangkan pandangan mata menatap ke arah tubuhnya dari ruangan lantai dua Paviliun Qingqing tadi secara misterius meluncur melintasi memorinya.

Salah seorang di antaranya merupakan sesosok master puncak persilatan. Hanya dalam sekali sapuan mata saja, ia dideteksi sebagai master puncak yang kualitas kekuatannya terlampau mentereng hingga memicu letupan getaran tajam pada bilah Pedang Baja Surgawi Agung di tangannya.

Sedangkan sosok pria lainnya……

‘Hmm.’

Ia kesulitan untuk memicu memori ingatan wajahnya. Ia tidak mengetahui alasan medis di balik ketiadaan ingatan tersebut.

Zhong Zhihang segera menghentikan energinya memikirkan sosok misterius kedua tersebut. Fokus ketertarikannya sejak awal hanya terbatas ditujukan ke arah pendekar kuat saja. Ia sama sekali tidak menaruh ketertarikan bertarung terhadap pendekar lemah kelas teri, di level tingkat kelas di mana Pedang Baja Surgawi Agung di tangannya bahkan menolak memancarkan riak getaran sedikit pun saat berpasangan tatap dengannya.

‘Apakah aku dibekali kemampuan untuk bisa keluar sebagai pemenang akhir jika berduel melawannya?’

Ia kembali mengangkat telapak tangan kanannya ke atas, baru kemudian mengayunkannya deras ke bawah.

Di dalam visual imajinasi pikirannya, sosok master lawan tampak menarik bilah pedangnya dan menangkis sabetan pisau tangannya secara presisi.

Simulasi duel batin yang dipicu aktif dengan metode seperti itu berlangsung cukup lama di dalam kepalanya, memicu pergeseran visual pria kedua yang wajahnya tidak berhasil ia ingat tersebut tenggelam semakin jauh ditelan memori ingatan masa lalunya yang buram.

Dan……

Persis seperti alur pelenyapan tersebut, eksistensi pemuda tersebut telah resmi dilupakan seutuhnya dari kepalanya.

Murni karena ia dideteksi sebagai sosok manusia yang sama sekali tidak penting, dan tidak dideteksi memiliki kekuatan beladiri sedikit pun.

Setidaknya, belum dideteksi saat ini…….

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar