Murim Psychopath

Chapter 94

2788 Kata

**Bab 94. Pemilik Pedang Baja Surgawi Agung**

***

Tepat di saat gema teriakan heran yang tidak disengaja meluncur dari mulut Eulji Tae baru saja.

“Keparat kurang ajar!”

Woo Sim-gi menyemburkan umpatan kasarnya baru kemudian meluncur menyerang ke arah pemuda berjubah biru pudar tersebut.

Kepalan tinjunya meluncur sangat deras membidik langsung ke arah wajah pemuda berjubah biru tersebut. Jurus pukulan tersebut adalah `[Chasing Snow Fist]` (Tinju Mengejar Salju), salah satu dari khazanah seni bela diri tinju andalan milik Sekte Kunlun. Meskipun serangannya dideteksi hanya berupa pukulan lurus sederhana biasa, namun keluwesan pergerakan meringankan tubuh khas Sekte Kunlun terpatri sangat presisi di sepanjang alur serangannya.

Namun!

*Ting!*

“Uh!”

*Sret.*

Pemuda berjubah biru tersebut murni hanya mengibaskan ibu jari tangan kirinya untuk menyentil pelat penahan pedangnya dan mengangkat gagang pedangnya sedikit ke atas. Hanya rangkaian pergerakan fisik itulah yang ia lakukan untuk menangkis total gempuran kepalan tinju Woo Sim-gi.

Tepat di saat ibu jarinya menghantam gagang pedang tadi, bagian pangkal bawah sarung pedang panjangnya menyembur keluar menembus udara, menyerupai visual seekor ikan hiu orca raksasa yang melompat keluar dari dalam air untuk menelan mangsanya bulat-bulat, dan menghantam keras kepalan tinju Woo Sim-gi.

Akibat benturan tak terduga tersebut, alur pukulan Woo Sim-gi seketika bergeser melenceng sepenuhnya dari lintasan awalnya. Pukulan tinjunya murni hanya berakhir meluncur kosong menyapu udara di atas kepala pemuda berjubah biru, dengan tubuh Woo Sim-gi yang justru terdorong condong ke depan dan limbung ke arah pemuda berjubah biru.

Melihat celah pertahanan kosong tersebut, pemuda berjubah biru memosisikan bagian ujung gagang pedangnya menempel rapat di sela urat leher Woo Sim-gi. Jika saja bagian yang ia tempelkan adalah bagian mata bilah tajam pedangnya alih-alih bagian gagang sarung pedang tadi, Woo Sim-gi dipastikan sudah tewas menggelinding dalam sekali tebasan tunggal saat itu juga.

Visual gerakannya terlihat sangat sederhana, namun eksekusi fisiknya sama sekali bukan merupakan tugas yang mudah untuk dilakukan oleh pendekar biasa.

“…… Sangat mengagumkan.”

Eulji Tae meletakkan kembali potongan daging babi panggang lima bumbu yang telah ia jepit menggunakan sumpitnya tadi ke piring. Menyusul kemunculan tak terduga dari Pedang Baja Surgawi Agung baru saja, kelihaian pergerakan fisik yang diperagakan oleh pemiliknya terpaksa membuat fokusnya buyar. Kini, ketertarikan batinnya telah bergeser sepenuhnya dari perkara makanan lezat menuju ke arah jalannya pertikaian di jalanan bawah.

Kepala Dong Gwang-cheon juga tampak berputar ke arah yang sejajar. Ia secara mutlak sedang menyaksikan jalannya pertikaian fisik tersebut. Namun karena visual wajahnya sebagian besar tertutup oleh helaian rambut poninya yang panjang, sangat sulit bagi orang lain untuk menebak ke arah titik koordinat mana sepasang matanya sedang membidik saat ini.

“B-Bajingan kurang ajar! Apakah kau merumuskan pemikiran bahwa pendekar kelas rendahan sepertimu akan mampu meluncurkan penghinaan fisik seperti ini ke hadapan Naga Putih Kunlun lalu bisa melangkah pergi meloloskan diri begitu saja?”

Woo Sim-gi, yang kualitas bela dirinya baru saja terbukti kalah kelas, justru melayangkan tatapan mata tajam ke arah wajah pemuda berjubah biru dan meluncurkan kalimat ancaman maut.

*Sret.*

Apakah ia merasa terintimidasi oleh reputasi besar milik Sekte Kunlun maupun reputasi kepahlawanan Woo Sim-gi? Pemuda berjubah biru tampak menurunkan kembali bilah pedangnya yang sempat setengah tertarik keluar tadi baru kemudian menguncinya kembali ke dalam sarungnya.

Baru kemudian ia melangkah kaki memotong jalan melewati tubuh Woo Sim-gi menuju ke depan.

Tubuh Woo Sim-gi tampak sempat berkedut halus karena panik, bersiap mengantisipasi jika saja pemuda berjubah biru tersebut secara mendadak meluncurkan serangan gerilya kembali. Kehebatan gerakan fisik yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut baru saja diakui terlampau menekan mental bertarungnya saat ini.

Namun sejak awal, pemuda tersebut memang tidak memiliki niat bertarung untuk melenyapkan nyawa Woo Sim-gi sedikit pun. Ia murni hanya ingin melanjutkan langkah kakinya berjalan ke depan. Menilik dari arah jalur pergerakannya, lokasi tujuan yang ia sasar dideteksi sebagai dermaga kapal penyeberangan feri.

Tepat pada detik itu.

“Berhenti di tempat!”

Sesosok rombongan prajurit tampak meluncur keluar dari dalam penginapan dan langsung memotong rapat jalur pergerakan pemuda berjubah biru.

Seluruh personel di dalam rombongan tersebut menggenggam persenjataan pedang lengkap dengan hiasan rumbai bunga plum di gagangnya serta mengenakan jubah bela diri berwarna merah menyala, menandakan identitas asal mereka sebagai jajaran murid asuhan Sekte Huashan.

Tidak lama kemudian, rombongan prajurit lainnya juga ikut meluncur keluar menyusul di belakang mereka. Mereka mengenakan jubah bela diri berwarna putih bersih lengkap dengan hiasan berbentuk awan putih yang terpasang di sela bahu jubah mereka, menandakan identitas mereka sebagai murid Sekte Kunlun. Kemungkinan besar pemuda berjubah biru tersebut telah terjerat masalah dengan Sekte Huashan sekaligus Sekte Kunlun secara bersamaan. Atau ia awalnya hanya berseteru dengan salah satu sekte saja, baru kemudian sekte lainnya meluncur membantu pertempuran.

Eulji Tae menaruh rasa penasaran batin yang cukup padat menyikapi detail pertikaian tersebut.

Ia sama sekali tidak menaruh ketertarikan bertarung untuk mengetahui detail kronologi mengapa mereka bisa saling bertikai atau masalah medis apa yang melatarbelakanginya. Objek yang memicu rasa penasaran di dalam kepalanya murni hanya terbatas pada kualitas bela diri dari pemuda berjubah biru tersebut, yang diakui secara mutlak menyandang gelar sebagai pemilik dari `Pedang Baja Surgawi Agung` (`Great Heavenly Steel Sword`).

‘Apakah ia secara harfiah telah menyatu menjadi pedang sejati baru kemudian melangkah membelah dunia persilatan saat ini, ataukah ia hanya sekadar melangkah turun dari gunungnya untuk menghirup udara segar padang rumput sejenak? Mari kita saksikan kelanjutannya.’

Jika kemungkinannya adalah opsi kedua, ia menganalisis akan jauh lebih baik bagi keselamatan nyawa pemuda itu untuk segera melangkah kembali ke dalam area gunung tempat asalnya semula.

Pemuda berjubah biru menghentikan langkah kakinya.

Ia memutar arah kepalanya perlahan baru kemudian membalikkan posisi tubuhnya ke belakang secara lamban.

Dari sela-sela uraian rambutnya yang sangat berantakan, sepasang matanya yang berkilat tajam tampak menyapu lekat wajah jajaran murid Sekte Huashan beserta Sekte Kunlun, baru kemudian secara tidak sengaja ikut berputar menatap ke arah ruangan lantai dua penginapan.

Sepasang matanya sempat berpasangan tatap dengan pandangan mata Eulji Tae selama beberapa saat, baru kemudian juga berbenturan langsung menatap sorot mata Dong Gwang-cheon yang duduk bersiap di depannya. Namun benturan tatapan mata tersebut secara harfiah murni hanya berlangsung selama sepersekian detik saja, sebatas tatapan mata yang melintas sekilas.

“Seekor binatang liar sejati.”

Itu merupakan sebaris penilaian batin singkat dari mulut Eulji Tae, singkat menyelaraskan benturan tatapan mata sekilas baru saja. Bagi logikanya, pemuda berjubah biru tersebut dideteksi sebagai seekor binatang liar mentah yang sepenuhnya belum dijinakkan oleh peradaban.

Namun, penilaian batin dari Dong Gwang-cheon terdeteksi sangat berbeda.

Sentuhan tatapan mata dari pemuda berjubah biru yang melintas menyapu matanya selama sekejap baru saja dirasa sangatlah tajam hingga seolah-olah mampu memecahkan sel otaknya secara instan. Riak tekanannya sangatlah intens. Namun secara sangat ajaib, di balik tatapan matanya yang sangat mentah tersebut, sama sekali tidak tersimpan riak ketamakan batin sedikit pun. Sorot matanya dideteksi sangat murni dan sangat transparan.

Itu merupakan sesosok tatapan mata yang sempat ia saksikan saat ia meluncur berburu di Bumi dulu. Di masa itu, target buruannya dibekali sorot mata seperti itu murni karena ia salah mengira dirinya sedang memperjuangkan keadilan, namun pemuda di depannya saat ini memiliki karakteristik yang berbeda. Ia murni, secara mutlak hanya menaruh fokusnya menatap ke arah “pedang sejati” semata, mempercayai hukum kekuatan murni. Ia bukan merupakan jenis manusia yang layak untuk dianalisis menyangkut benar atau salahnya tindakan. Di beberapa aspek, ia dideteksi menyandang kelas eksistensi yang sejajar dengan dirinya.

Ia secara harfiah merupakan pedang sejati. Sesosok manusia yang menjelma menjadi pedang itu sendiri secara fisik.

Dong Gwang-cheon sepanjang hidupnya belum pernah berpapasan langsung dengan manusia unik seperti ini di dunia persilatan. Golongan manusia pada dasarnya diklasifikasikan sebagai hewan omnivora yang sebagian besar makanannya bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Dan jika sesekali ia berpapasan dengan golongan karnivora pemangsa, maka mereka secara otomatis akan bertransformasi menjadi target buruannya.

Namun pemuda di depannya sama sekali bukan dideteksi sebagai jenis predator pemangsa seperti itu. Meski begitu wibawa bertarungnya terdeteksi sangatlah intens. Intensitasnya sangat padat hingga mampu memicu rasa panas di bagian belakang kepalanya akibat letupan hasrat kompetitif yang membara di dalam dada.

Ia bukan merupakan jenis hewan yang hidup mandiri ditopang oleh cara menyerang, merampas, maupun melenyapkan nyawa makhluk lain.

Ia dideteksi sebagai jenis hewan herbivora. Sesosok herbivora sejati, namun tingkat kekuatan fisiknya terdeteksi sangatlah luar biasa kokoh…… apakah ia harus mendefinisikannya sebagai seekor binatang herbivora raksasa (`herbivorous beast`)? Pemuda di depannya merupakan sesosok tipe manusia yang sangat unik hingga menyulitkan otaknya untuk menemukan padanan kosakata yang pas untuk menggambarkan dirinya.

Jika ia terpaksa harus menganalogikannya dengan ras fauna di Bumi.

‘Mungkinkah ia menyerupai sesosok gajah liar raksasa……?’

Gajah liar diakui menyandang status sebagai raja penguasa mutlak dari kelangsungan fauna di darat. Meskipun secara biologis ia hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan, tidak ada satu pun predator pemangsa di darat yang dibekali kekuatan untuk bisa menandingi kedahsyatan kekuatan fisiknya sebagai makhluk terkuat di daratan.

Apakah ia menyandang gelar sebagai raja dari kawanan herbivora?

Jantung Dong Gwang-cheon mulai berdegup kencang secara perlahan, meskipun intensitasnya tergolong sangat tipis. Memicu letupan emosi seperti ini terhadap seorang pendekar yang statusnya bukan merupakan target buruannya merupakan sebuah anomali batin yang sangat langka. Tidak, bahkan di sela-sela proses perburuannya melawan target buruannya sekalipun, ia sangat jarang diselimuti oleh letupan hasrat seperti ini.

Lalu apakah pemuda di depannya saat ini…… layak diklasifikasikan sebagai target buruannya?

Dong Gwang-cheon menaruh ketertarikan yang sangat padat terhadap pemuda berjubah biru tersebut, dalam definisi ketertarikan yang berbeda dengan ketertarikan Eulji Tae. Sepasang matanya memusatkan fokus bidikannya menatap lekat pergerakan pemuda berjubah biru secara jauh lebih intens dibandingkan sebelumnya. Tentu saja, karena visual wajahnya terhalang oleh helaian poni rambutnya yang panjang, tidak ada satu pun orang yang menyadari fokus tatapan matanya saat ini.

“Jika kau menolak melayangkan permohonan maaf secara tulus kepada Nona Muda Hua beserta di hadapanku saat ini juga, maka menyelaraskan hukum persilatan yang berlaku, kami terpaksa harus meluncurkan hukuman fisik yang keras untuk memberimu pelajaran.”

Kemungkinan besar karena mental bertarungnya telah pulih setelah dibantu oleh tambahan kuantitas prajurit di sekitarnya, Woo Sim-gi kembali melangkah kaki ke depan dan melayangkan kalimat ancaman pertama ke arah pemuda berjubah biru.

“A-Aku…… tidak melakukannya. Aku…… tidak…… melaku……kan apa pun……”

Gaya penyampaian kalimat dari pemuda berjubah biru tersebut terdengar sangat kacau dan sangat kaku. Visualnya terlihat sangat menyerupai sesosok manusia yang selama bertahun-tahun telah melupakan metode menyuarakan bahasa manusia, dan baru saja meluncurkan kosakata pertamanya hari ini.

“Kau mengklaim tidak melakukan apa pun? Bukankah sepasang matamu yang sangat kotor tersebut sejak tadi secara konstan terus melayangkan tatapan mesum ke arah wajah Nona Muda Hua?”

Sembari menyuarakan kalimat tuduhannya tersebut, Woo Sim-gi sempat melayangkan pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan Paviliun Qingqing sejenak. Nada bicara beserta gestur tubuhnya diposisikan seolah-olah ia sedang memamerkan aksinya, menyerupai gestur: *apakah aksiku melindungimu saat ini terlihat sangat mentereng?* Kemungkinan besar sosok Nona Muda Hua yang ia maksud saat ini sedang bersiap di salah satu sudut ruangan Paviliun Qingqing, dan sudah menjadi fakta tak terbantahkan bagi logikanya bahwa Woo Sim-gi menaruh niat tidak murni untuk menarik hati wanita tersebut.

“Aku…… tidak melakukannya. Aku……”

Pemuda berjubah biru melafalkan kembali baris kalimat sanggahan yang sama. Kosakatanya dideteksi masih terus terdengar kaku, namun entah mengapa intonasi suaranya secara perlahan mulai tumbuh menjadi sedikit lebih tegas.

“Aku secara pribadi telah berlapang dada memberikanmu peluang emas untuk melayangkan permohonan maaf baru saja.”

“………”

“Sebelumnya, alasan kau berhasil menangkis seranganku murni karena aku menolak menarik bilah pedangku dari sarungnya baru saja, namun kau justru berani bertindak tidak sopan hanya berbekal penguasaan teknik bela diri kelas teri seperti itu di depanku. Hari ini bilah pedang *Hundred-Shattering Sword* milikku dipastikan akan mencongkel keluar sepasang mata mesummu tersebut dari kepalamu.”

Selesai bersuara, Woo Sim-gi menarik setengah bilah pedang di pinggangnya ke luar sarung.

Julukan maut yang ia sandang sebagai *Hundred-Shattering Sword* (Pedang Penghancur Ratusan) merupakan sebuah nama besar yang berhasil ia rengkut setelah sukses menebas kalah seratus orang master persilatan yang aktif berkeliaran di sepanjang Pegunungan Kunlun di dalam pertandingan duel resmi. Begitu ia memutuskan menarik bilah pedangnya dari sarung saat ini, ia dipastikan akan meluncurkan serbuan tebasan pedang yang sangat tajam menyapu lawannya, menyelaraskan nama besar dari julukan reputasi yang ia sandang.

Sesosok durasi kritis yang sewaktu-waktu dapat memicu meletusnya pertempuran maut secara instan.

“Jangan…… jangan mencabut pedangmu. Kau dipastikan…… akan menyesalinya nanti……”

Ucap pemuda berjubah biru secara perlahan menggunakan intonasi suara yang sangat rendah. Kalimatnya yang terdengar sangat kaku tersebut secara sangat ajaib menghantarkan gema hawa dingin maut yang merayap di kulit.

Namun bagi mental Woo Sim-gi yang saat itu telah terlanjur menarik setengah bilah pedangnya ke luar sarung, ia tidak lagi dibekali opsi pertahanan selain menarik bilah pedangnya keluar seutuhnya. Ia telah menderita satu buah penghinaan fisik di depan umum baru saja. Jika ia sampai mengurungkan niat mencabut pedangnya saat ini atau menyatakan memaafkan pergerakan lawannya, ia menganalisis dirinya dipastikan tidak akan memiliki wibawa bertarung lagi untuk bisa mendongakkan kepalanya di hadapan jajaran murid sektenya beserta di depan wajah Nona Muda Hua di masa depan.

*Klang—!*

Woo Sim-gi akhirnya menarik bilah pedangnya keluar. Tidak, lebih tepatnya ia baru berniat mengeksekusinya.

Tepat di saat bilah tajam pedangnya baru tercatat keluar sekitar tujuh atau delapan persepuluh bagian dari sarung pedang saat itu, pergerakan fisik dari pemuda berjubah biru akhirnya resmi bergerak meluncur kencang.

*Sret!*

“……!?”

Sepasang telapak kakinya secara fisik memang dideteksi sedang menapak di atas tanah pasir padang rumput, namun gestur pergerakannya terlihat seolah-olah ia sedang menapak di atas udara kosong dan meluncur lincah ke depan. Sebuah teknik gerakan meringankan tubuh yang sangat aneh. Satu hal yang paling unik dari visual pergerakannya adalah bagaimana cara ia memosisikan penempatan kakinya terlihat menyelaraskan baris aturan pakem jurus tertentu—menyerupai susunan formasi barisan—namun di saat yang sama terlihat sangat acak tanpa pola. Dan meski begitu, akselerasi kecepatannya dideteksi sangatlah luar biasa cepat. Terlampau cepat hingga membuat wujud fisik pemuda berjubah biru tersebut terlihat menyisakan beberapa kilasan bayangan biru di udara.

Hanya berbekal tujuh langkah kaki saja.

Tujuh langkah kaki yang durasi benturannya dirasa menyerupai satu langkah kaki instan semata.

“……!”

Wujud fisik pemuda berjubah biru secara misterius telah berdiri tegak tepat di hadapan wajah Woo Sim-gi saat itu.

Bilah pedang Woo Sim-gi terdeteksi masih belum keluar seutuhnya dari dalam sarung pedangnya saat itu.

Sebaliknya, di dalam genggaman telapak tangan pemuda berjubah biru saat itu telah bersiap sebilah pedang panjang—tidak ada satu pun orang yang menyadari sejak kapan ia telah menarik pedang tersebut dari sarungnya—dan sela ujung bilah pedang panjangnya tampak mengetuk keras bagian pangkal sarung pedang Woo Sim-gi dari arah belakang.

*Brak—!*

Tubuh Woo Sim-gi secara paksa terdorong memasukkan kembali bilah pedangnya ke dalam sarung secara instan, menyelaraskan postur awal penarikan pedangnya tadi.

Bahkan setelah sukses memaksa pedang musuh kembali ke sarungnya sekalipun, bilah pedang panjang milik pemuda berjubah biru terbukti masih terus meluncur maju tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Selesai mengembalikan pedang Woo Sim-gi ke posisi semula, mata bilah pedangnya merangsek naik mencapai koordinat ketinggian leher Woo Sim-gi, baru kemudian dengan sangat lincah menyapu permukaan kulit lehernya menyerupai visual pisau dapur yang sedang mengupas kulit buah apel.

*Sret—.*

Urat lehernya tergores tebasan pedang. Memang luka tebasannya tidak sampai memutuskan urat leher secara utuh, namun sesosok garis sayatan tipis yang melingkar rapi terukir menyelimuti lehernya menyerupai hasil kupasan kulit buah.

Secara alami, aliran darah merah segar menyembur keluar dari goresan leher Woo Sim-gi layaknya semburan cairan buah segar baru kemudian merembes mengalir deras membasahi permukaan leher baju zirah zirah di dadanya.

“Akh! U-Ukh!”

Menilai dari gema teriakan kesakitan yang menyembur keluar dari mulutnya saat itu, ia dipastikan belum tewas mati. Namun rasa nyeri dipadu letupan ketakutan maut yang menyelimuti batinnya…… dideteksi sangatlah luar biasa menyiksa. Jika leher fisiknya terbukti mampu dikupas serapi itu baru saja, itu berarti pemuda berjubah biru dibekali kapasitas fisik untuk menebas putus lehernya kapan saja ia mau. Tubuh Woo Sim-gi ambruk lemas ke atas tanah pasir, tidak hanya menderita pendarahan luar saja melainkan celana jubahnya juga tampak basah kuyup akibat mengompol celananya karena ketakutan maut.

“Bajingan kurang ajar……!”

Barulah setelah kejadian tersebut berlalu, jajaran murid Sekte Huashan beserta Sekte Kunlin di sekelilingnya memulihkan kesadaran bertarung mereka dan bersiap meluncurkan serangan balik. Namun, tidak ada satu pun personel di sela rombongan tersebut yang dibekali kelincahan pergerakan fisik untuk bisa mengimbangi akselerasi gerakan pemuda berjubah biru.

*Sret! Sret!*

Memicu gerakan fisik meringankan tubuh yang menyerupai visual pembentukan pola garis Rasi Bintang Biduk (`Big Dipper`) di atas tanah, pemuda berjubah biru meluncurkan goresan sayatan pedang yang serupa membidik urat leher masing-masing murid sekte di sekelilingnya secara presisi, menyalin jenis luka goresan yang ia ukir di leher Woo Sim-gi tadi.

Tidak lama kemudian, seluruh murid sekte di sekitarnya tampak meratap memegang leher mereka masing-masing sembari bergulingan kesakitan di atas tanah pasir jalanan, menyalin visual kekalahan Woo Sim-gi sebelumnya.

Bahkan setelah sukses menyeret jajaran murid resmi asuhan Sekte Huashan beserta Sekte Kunlun ke dalam kondisi kekalahan yang sangat mengenaskan seperti itu sekalipun, ekspresi wajah pemuda berjubah biru terbukti tetap terlihat sangat dingin dan sangat datar. Seolah-olah rangkaian pembantaian sepihak baru saja sama sekali tidak memiliki hubungan pertikaian apa pun dengan kelangsungan hidupnya.**

***

*Jleg!*

`[Pemain berhasil menyukseskan penerjemahan Bab 91–94 dari novel Murim Psychopath seutuhnya.]` `[Proses penyimpanan file lokal dan penerapan data database selesai.]`

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar