Eternally Regressing Knight

Bab 862: Anak Tempaan Api dan Kuda yang Terbang di Angkasa

2363 Kata

Bab 862: Anak Tempaan Api dan Kuda yang Terbang di Angkasa

Kuda yang mengepakkan sayapnya di langit itu perlahan mendarat ke tanah.

Sosoknya tampak anggun dengan latar cahaya langit yang hujannya baru saja reda.

Di tengah suasana itu, Audin bahkan melambaikan tangan menyambutnya, sementara kelompok prajurit yang kini bagaikan jemaat fanatik bersorak serentak.

"Ooh, divine beast!"

"Tunggangan para dewa, kuda surgawi!"

"Itu pegasus!"

Padahal, kuda itu hanya baru pulang setelah puas bermain-main di langit, tetapi bagi sebagian orang, ia benar-benar tampak seperti binatang suci yang turun dari kayangan.

Jika dilihat dari fakta objektifnya saja, anggapan itu tidak sepenuhnya salah.

Begitu tahu bahwa sosok itu bukan musuh, sikap mereka langsung berbalik seratus delapan puluh derajat.

Cahaya suci telah turun, ditambah secercah sinar matahari sewarna lemon yang merobek kelabu muram yang tadinya menyelimuti perkemahan.

Hiii-rkk.

Odd-eye yang telah mendarat berjalan ke sisi Encrid, lalu melipat sayapnya rapat-rapat ke punggung.

Entah dengan keahlian macam apa, saat kedua sayap itu terlipat, bentuknya tampak seperti punggung yang terbungkus selimut tebal. Sulit mengenali bahwa itu adalah sayap kecuali diperhatikan dari dekat.

Warna bulu sayap dan warna kulitnya mirip, dan bulu-bulu itu berbeda dari bulu unggas biasa.

Teksturnya jauh lebih keras dan liat.

Apakah seperti ini bentuk bulu yang tumbuh dari tubuh seekor kuda?

Bagaimana sebenarnya Odd-eye bisa menumbuhkan sepasang sayap?

Cukup banyak waktu telah berlalu sejak Encrid pertama kali melihat sayap itu.

Bahkan tanpa rasa penasaran yang besar pun, ia sudah punya cukup waktu untuk merenungkannya.

'Pertama, asal-usul kelahirannya memang sudah berbeda sedari awal.'

Alasan utama ia mampu mengatasi darah binatang sihir adalah tekadnya sendiri, tetapi Odd-eye memang mewarisi darah Pegasus.

Garis keturunan dari binatang mitos.

Sulit untuk mengatakan bahwa faktor darah itu tidak berpengaruh.

'Apakah ini kasus percampuran antara darah monster dan raga seekor divine beast?'

Alasan kedua.

'Waktu itu ia menelan benda aneh itu.'

Tepatnya, itu bukan benda aneh, melainkan air mata air suci.

Itu adalah hadiah yang diberikan oleh Viscount Harrison yang bermarkas di selatan Border Guard.

Kala itu, Odd-eye menenggak habis air suci tersebut.

Setelah meminumnya, sebuah memar muncul di punggungnya.

Padahal Odd-eye tidak pernah menunjukkan sifat serakah akan makanan.

Sepanjang bersamanya, kuda itu tidak pernah menginginkan apa pun secara berlebihan.

Ia tidak pernah menuntut tempat tidur yang empuk ataupun lahan luas untuk berlari bebas, tetapi saat itu ia langsung menerjang dan menenggaknya.

Encrid memikirkan kedua kemungkinan itu, namun ia tidak terkejut, apalagi memarahi Odd-eye karena meminum air suci tersebut.

Jika memang berniat memarahinya, ia pasti sudah melakukannya sejak pertama kali kejadian.

Kesimpulannya, apakah ada masalah jika Odd-eye menumbuhkan sayap di punggungnya?

Sama sekali tidak.

Bahkan jika tiba-tiba sepasang tanduk mencuat dari dahi Rem sekalipun, Encrid tidak akan terkejut.

'Pantas saja, sedari dulu aku sudah tahu kau ini iblis.'

Ia sangat yakin dirinya bakal melontarkan kalimat itu lalu melangkah pergi dengan tenang.

Di saat Cypress, sang ksatria berambut separuh putih, menunjukkan senyuman alih-alih keterkejutan, pengiring sekaligus squire-nya melangkah mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinganya.

Mengingat Encrid yang berdiri tepat di depan mereka saja tidak bisa mendengar bisikan itu, terbukti bahwa sang squire sudah terbiasa berbisik kepada ksatrianya dalam keseharian mereka.

Mata Tuan Cypress berbinar terang saat mendengarkan bisikan itu.

Tatapannya tidak tertuju pada Encrid, melainkan langsung ke arah Odd-eye.

Sorot matanya begitu berkilau hingga siapa pun yang ditatapnya pasti akan merasa risi.

Kenapa pria itu mengalirkan Will ke matanya?

Hiii-rkk!

Odd-eye langsung bereaksi terhadap tatapan intens itu.

Kuda itu tampak siap menggigit atau menendangkan kaki depannya kapan saja.

"Tenang."

Ketika Encrid menenangkannya dengan mengelus surainya, Odd-eye menyandarkan tubuhnya dan menyenggol pinggang Encrid seolah sedang mendorongnya.

Itu tanda protes yang jelas.

"Apa aku ini anak kecil?"

Dari samping, Themares membaca isi pikiran si kuda dan menyuarakannya.

Cypress, yang tadi menatap dengan pandangan menekan, meredupkan binar di matanya lalu bertanya,

"Apa temanmu ini bisa ditunggangi orang lain?"

"Bisa."

Tepatnya, ia hanya mau ditunggangi oleh Encrid, tetapi intinya ia memang bisa membawa penumpang.

"Pinjamkan padaku selama sehari, tidak, dua hari saja."

Odd-eye memahami ucapan manusia dan langsung menyatakan sikapnya lebih dulu.

Ia menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan kuat-kuat, disertai suara dengusan keras.

Itu adalah gestur penolakan yang maknanya sangat gamblang, bahkan bagi orang asing sekalipun.

"Dia paham ucapan manusia? Ah, tak perlu kutanya lagi. Jelas dia paham."

Cypress menatap Odd-eye, bertanya pada dirinya sendiri, lalu menjawabnya sendiri.

"Kami juga biasa saling bercanda."

"Luar biasa. Tampaknya barusan dia menolak, benarkah begitu?"

"Ya, benar."

Pertanyaan untuk memastikan, dan sebuah jawaban tegas.

Raut wajah sang squire yang sedari tadi membisikkan kata-kata di sampingnya tampak meredup muram.

Pandangan Encrid beralih ke wanita itu.

Ia seorang wanita dengan rambut pendek dan mata bulat yang cantik.

Bentuk wajah alaminya bulat, dengan mata, hidung, dan bibir yang tersusun harmonis dan manis.

Rambutnya berwarna cokelat berkilau, menyerupai warna sirup mapel.

Menilai dari penampilannya saja...

'Bisa dibilang pesonanya tak kalah dari seorang elf.'

Dibandingkan Shinar, ekspresinya jauh lebih beragam, meski keanggunannya tidak terlalu mencolok.

Jika ia berada di ibu kota, wajahnya cukup untuk membuatnya lebih terkenal sebagai seorang Lady daripada Kin Baisar.

'Kecantikan yang bahkan membuat bekas luka tampak seperti sebuah kelebihan.'

Bekas luka sepanjang satu ruas jari terlihat meliuk zig-zag di dahinya, tetapi sama sekali tidak tampak buruk rupa.

Garis luka itu justru terlihat seperti aksesori yang sangat pas.

Bahkan jika ada yang mengira itu tato, orang-orang pasti akan mempercayainya.

Parasnya memang secantik itu.

"Apa yang kau lihat? Ada apa di mata itu?"

Bagi seorang elf, membaca arah pandangan Encrid adalah hal yang sangat mudah.

Karena matanya selalu tertuju pada pria itu setiap saat.

Shinar bertanya tepat di sampingnya.

Karena ia mendekatkan wajahnya begitu dekat, Encrid bahkan bisa merasakan hembusan napasnya.

Napas yang membawa aroma hutan dan rerumputan yang basah oleh hujan.

"Apakah ini gara-gara para griffon itu?"

Encrid memiliki kebijaksanaan untuk tidak menjawab saat posisinya tersudut.

Ini adalah keahlian yang sudah ia kuasai bahkan sebelum hari-harinya berulang tanpa henti.

Mungkin ia tidak berbakat pedang, tetapi bukankah ia terlahir dengan bakat bersilat lidah?

Salah satu bagian dari bakat bicara itu adalah mengalihkan topik pembicaraan.

Trik ini tidak akan berhasil jika topiknya dialihkan asal-asalan, tetapi jika langsung menusuk ke inti persoalan seperti ini, jawaban pasti akan keluar dengan sendirinya.

"Kau sudah mendengarnya?"

Cypress mengangguk.

Encrid mendengar kabar bahwa masalah ini cukup merepotkan, tetapi sikap Cypress tetap tampak begitu tenang.

Bahkan jika diberitahu bahwa ia akan mati besok pagi sekalipun, bukankah pria ini hanya akan mengangguk santai?

Ketenangan semacam itulah yang terpancar dari ksatria bernama Cypress ini.

Agak membingungkan juga karena tidak ada hal lain yang bisa dibaca darinya.

"Aku mendengarnya saat di perjalanan."

Krang mengangguk dari samping.

Ia juga sempat membicarakannya, dan sahabat lamanya, Bunion, turut menceritakan hal serupa.

Encrid mengalihkan pandangannya, dan sang squire sempat menatapnya sejenak sebelum membuang muka.

Mata mereka hanya bersirobok sesaat, tetapi Encrid bisa membaca beberapa emosi di dalam tatapan wanita itu.

Sorot mata yang memancarkan secercah harapan di tengah keresahan yang mendalam.

"Tunanganku, sekarang kau malah saling bertukar pandang?"

Shinar berujar dari sampingnya.

Nada bicaranya sengaja ditekankan untuk menunjukkan keterkejutan.

Padahal percakapan tadi merupakan bagian inti dari masalah ini, tetapi sang elf sama sekali tidak menyimaknya.

Ia tidak pernah melewatkan apa yang sedang ia awasi.

Konsentrasi yang mencengangkan.

Konsentrasinya memang kian terasah belakangan ini, seiring dengan kemajuan ilmu pedangnya.

"Bukan bertukar pandang. Tampaknya squire di sebelah sana itu adalah orang yang menggunakan otaknya."

Encrid menyahut acuh tak acuh.

Apa pun yang dikatakan Shinar, ia hanya perlu fokus pada tugasnya.

Sejujurnya, ia bukanlah pria yang mudah terpikat oleh paras seorang wanita, jadi tidak mungkin hatinya goyah hanya karena kecantikan sang squire.

Jika ia tipe pria yang jatuh hati pada penampilan luar—tidak, jika hanya karena rupa saja—ia pasti sudah lama bertekuk lutut di hadapan Golden Flower atau wanita yang dijuluki Black Witch.

Tak peduli seberapa cantiknya wanita itu menyaingi elf, tetap saja sulit menandingi aura mistis yang dimiliki bangsa elf sejati.

Pesona magis Golden Flower yang tak nyata bagaikan sihir yang sanggup menyedot seluruh pandangan prajurit hanya dengan melangkah lewat.

Bahkan di tempat ini pun, banyak orang yang tak sanggup mengalihkan pandangan darinya.

Shinar pun mengetahui hal itu.

Ia tahu betul Encrid bukanlah pria yang akan berhenti hanya karena terpaku pada penampilan semata.

Ia hanya gemar melontarkan lelucon tanpa henti.

Tentu saja, rasa waspada yang ia tunjukkan kepada wanita itu lewat percakapan ini sepenuhnya tulus.

Apakah ini ciri khas seorang elf yang gemar memutarbalikkan fakta?

"Jangan lupakan anak di antara kita."

"...Kau mulai mengarang cerita lagi?"

Fwoosh!

Shinar berbicara seraya memperlihatkan kadal api di tangannya.

"Lihat anak kita ini. Buktinya sangat nyata."

Itu bukan seorang anak, melainkan monster api yang pernah menanamkan teror di seantero benua, dan saat ini menjadi roh yang bersemayam di kota para elf.

Shinar memang melompati proses pembuahan dan kelahiran, tetapi roh yang bermula dari Encrid dan disempurnakan olehnya itu kini ia klaim sebagai anak mereka.

Sebuah pembelokan fakta yang sangat ekstrem.

Ia bahkan telah mengucap ikrar dan sumpah untuk melindunginya layaknya seorang anak kandung.

Sulit untuk menganggapnya sekadar lelucon bohong belaka.

Betapa cerdik permainan katanya; ia tidak menyebutnya 'anak yang lahir dari hubungan kita', melainkan 'anak yang ada di antara kita'.

Mereka yang sudah lama terbiasa dengan lelucon dan manipulasi kata-katanya mungkin paham, tetapi siapa pun yang baru pertama kali berhadapan dengan elf semacam ini pasti akan dibuat kelabakan.

Namun Encrid tidak repot-repot menjelaskan panjang lebar untuk meluruskan kesalahpahaman itu.

Memangnya apa pentingnya hal semacam itu?

"Bukan seperti itu."

Sebaliknya, ia hanya menegaskannya secara singkat kepada semua orang, lalu kembali ke topik pembicaraan utama.

"Kudengar mereka menjatuhkan gulungan sihir dan batu-batu dari langit."

Ia sudah mendengar penjelasan rincinya dari Bunion.

Krang juga tiba saat hujan sedang turun lebat, sehingga belum sempat melihat para penunggang griffon itu secara langsung.

"Anak yang ditempa dari api dan seekor kuda yang terbang di angkasa. Apa kau ini benar-benar manusia?"

Cypress bergumam heran.

"Bukan begitu ceritanya."

Encrid membantahnya sekali lagi, lalu menatap pria itu.

Mata Cypress menyipit lembut.

Apakah pria ini sedang menggodanya?

Ternyata benar.

"Sudahlah, apa pentingnya hal itu?"

Cypress berujar seraya tersenyum, lalu kembali ke pokok bahasan.

"Kami dibuat babak belur tanpa daya."

Nada bicaranya masih tetap datar dan santai.

Perpaduan antara ketenangan mutlak dan kesederhanaan.

Melihatnya seperti ini, siapa pun akan ragu apakah pria ini benar-benar ksatria terkuat di kerajaan.

Hasrat untuk bertarung bahkan tidak muncul begitu saja di hadapannya.

Meski begitu, Encrid tidak merasa dirinya bakal kalah jika mereka beradu pedang saat ini juga.

Sosok yang aneh.

Tenang seperti danau, semilir bagai angin, tampak sama sekali tidak berbahaya.

Bahkan Ingis saja sempat menatap wajah sang elf berkali-kali saking terpesonanya, tetapi pria ini bahkan tidak membiarkan wajah Shinar masuk ke dalam bidang pandangnya.

Sejak pertama kali bertemu, tatapan Cypress hanya tertuju pada tiga hal.

Pertama Encrid, kedua Krang, dan ketiga Odd-eye.

"Kupikir masalah itu bisa diatasi entah bagaimana nanti, tapi dia tidak akan mau membawa Tuan Cypress di punggungnya."

Encrid menegaskan.

Odd-eye bukan sekadar tunggangan biasa.

Bukan tanpa alasan ia menyebutnya sebagai seorang teman.

Encrid bukanlah orang yang berbeda di luar dan di dalam.

Kata-kata yang ia ucapkan selaras dengan isi hatinya.

Encrid sangat menghormati kehendak sahabatnya, Odd-eye.

Jika Odd-eye tidak mau, maka ia tidak akan memaksanya.

Cypress mengapresiasi hal tersebut.

Pencapaian luar biasa yang telah diraih pria di hadapannya ini, prestasinya, kemasyhurannya, dan julukan yang disematkan kepadanya.

Ia sudah mendengar semuanya dan menerima laporan singkatnya.

Bahkan jika hanya separuh dari kabar itu yang benar, pria ini sudah tergolong manusia langka, tetapi sosok aslinya tampak melebihi rumor yang beredar.

"Bukan tanpa alasan kata 'orang gila' melekat pada kalian."

Cypress berujar seraya tersenyum.

Encrid menyimpan sebuah tanda tanya besar, dan ia tidak berniat menahan rasa penasarannya.

"Apakah Anda benar-benar yang terkuat di kerajaan?"

Pertanyaan itu terdengar tajam, menusuk, dan sarat akan tantangan.

Menanyakan kebenarannya sama saja dengan menantang apakah pria itu bersedia membuktikannya jika jawabannya adalah 'ya'.

Itu pertanyaan yang sudah hampir dua puluh tahun tidak pernah didengar Cypress, tetapi bagi Encrid, itu adalah pertanyaan yang wajib ia lontarkan.

Sejujurnya, bukankah ia sudah menantikan sesuatu sepanjang perjalanannya ke mari?

'Duel melawan ksatria terkuat di kerajaan.'

Sulit mencari hal yang lebih menarik daripada itu.

Namun pria yang ia jumpai secara langsung ini sama sekali tidak menunjukkan hawa keberadaan seorang pendekar tangguh.

Menariknya, justru karena itulah Encrid menaruh harapan besar, dan karena itulah ia bertanya.

Sebab ia tidak percaya bahwa apa yang tertangkap oleh matanya adalah segalanya.

Ia ingin melihat ketajaman pedang yang tersembunyi di balik ketenangan dan kesederhanaan tersebut.

"Tuh, kan. Agak mengecewakan, bukan?"

Rem menyela percakapan.

Alih-alih niat membunuh, ia hanya memperlihatkan rasa penasaran dan keheranan.

"Memangnya tampangku lebih buruk dari sang komandan? Dia tadi mempermasalahkan wajahku," tambah Rem.

Luagarne sendiri tidak menyangka kalimat semacam ini bakal meluncur dari mulutnya, tetapi ia merasa harus menanggapinya.

"Kau benar-benar tidak punya nurani."

Sungguh langka melihat Frog melontarkan komentar yang berkaitan dengan perasaan.

Rem baru saja menorehkan pencapaian baru hari ini.

"Terserahlah."

Rem memotong ucapannya sendiri, lalu kembali mengawasi Cypress.

Bukan, lebih tepatnya ia sedang melotot tajam.

Apakah pria ini tipe orang yang bakal menyerahkan lehernya begitu saja tanpa melawan bahkan jika ada kapak yang diayunkan ke arahnya?

Inilah sosok yang selama ini bertahan memimpin Southern Front hingga detik ini.

Beberapa bekas luka tampak di wajahnya, tetapi kesan yang ia pancarkan teramat ramah dan lembut.

Dalam pandangan seorang ksatria—terutama orang seperti Encrid yang telah mengasah inderanya hingga batas ekstrem—tampak lembut berarti pria itu memancarkan 'kelembutan' tersebut lewat postur tubuh, sikap, watak, hingga momentum keberadaannya.

"Kau benar. Seperti bilah pedang yang tumpul."

Encrid menimpali.

Suasana di sekitar mendadak menghening.

Di tempat yang telah disucikan oleh kekuatan ilahi ini, kobaran hasrat bertarung terasa nyaris mendidih ke permukaan.

"Ksatria terkuat di kerajaan? Gelar itu sudah kuserahkan pada Tuan Rien sejak lama."

Cypress berujar santai, tersenyum ramah layaknya kakek tua yang baik hati di lingkungan tetangga.

Guardian of the Southern Front.

Itulah julukan kebanggaan Cypress.

Sosok di hadapan mereka ini adalah sosok legendaris yang juga kerap dijuluki sebagai ksatria serba bisa.

"Kau tidak pernah berubah, Tuan."

Krang menyahut.

"Orang-orang akan mati jika mereka berubah, Yang Mulia."

Dari apa yang dilihat dan didengarnya, Encrid menyadari satu hal penting.

'Seseorang yang menguasai seni mengendalikan suasana.'

Apakah ini kebajikan utama dari sosok yang memimpin sebuah ordo ksatria?

Ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya memetik pelajaran berharga dari mengamati sosok Cypress ini.

Lagi pula, ia tidak berniat menerjang maju untuk bertarung sungguhan, jadi ia tidak berniat memperpanjang masalah di sini.

Ia hanya menyaksikan, belajar, dan merenungkan hal itu dalam benaknya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.