Bab 848: Edin Molsan
Tebasan Bara Padam (Dying Ember Strike) pada hakikatnya merupakan sebuah bentuk ekstensi dari ilmu pedang Pemecah Ombak (Breaking Wave).
Fondasi dasarnya berpusat pada seni memotong denyut nadi aliran tenaga musuh.
Encrid mendedikasikan seluruh waktunya murni untuk merenungkan seluk-beluk ilmu pedang di sepanjang perjalanannya melangkah.
Proses perenungan ini pun terbukti memberikan kontribusi yang teramat besar.
Memahami konsepnya di dalam kepala sebelum mengeksekusinya menggunakan raga fisik.
Murni karena dirinya memahami prinsip dasar tersebut, Encrid selalu menerapkan pola pembinaan yang serupa setiap kali mengajarkan ilmu pedang kepada orang lain.
'Pemahaman konsep wajib diutamakan.'
Metode ini terbukti sangat efektif bagi mereka yang telah berhasil merengkuh tingkatan ilmu tertentu.
Lantas bagaimana perlakuan yang tepat bagi mereka yang belum menginjak tingkatan tersebut?
'Cukup berlari saja.'
Stamina fisik adalah fondasi utama dari segala hal di dunia ini.
Jika dianalogikan ke dalam proses konstruksi dinding benteng kota, ini tak ubahnya kerja keras memadatkan tanah sebelum meletakkan batu fondasi pertama.
Oleh karena itu, menempa kapasitas stamina fisik berarti menempa eksistensi dirimu sendiri, dan proses penempaan semacam itu dipastikan bakal memberi manfaat nyata apa pun profesi yang kau geluti.
Encrid meyakini metode pembinaan dasar ini sama kuatnya dengan keteguhan prinsip hidupnya.
Alur pemikirannya meyakini bahwa siapa pun yang tengah mempersiapkan dirinya demi merengkuh sesuatu, langkah pertama dan utamanya adalah dengan cara berlari.
Kala dirinya melangkahkan kakinya memasuki kawasan benteng kota Cross Guard, Encrid melihat sesosok pria yang tengah berlari kencang sembari bermandikan cucuran keringat.
Tepat pada detik sepasang matanya menangkap siluet pria tersebut, mulutnya terbuka secara alami.
"Kau rupanya berada di kota ini?"
Ada segelintir orang yang mustahil sanggup kau lupakan betapa pun kerasnya kau mencoba menghapusnya dari ingatan. Jika dipikir-pikir kembali, impresi yang sempat ditinggalkan oleh pria ini sejatinya tidak terlalu mendalam, namun sosoknya terpatri dengan sangat jelas di dalam memorinya.
'Pertama kali kami dipertemukan, dia murni hanyalah sesosok bocah tengil yang menerjang maju layaknya orang bodoh yang gegabah di samping ayahnya.'
Dalam peribahasa wilayah barat, haruskah pria ini dilabeli sebagai seekor 'anak anjing kemarin sore (harup-gangaji)'? Makna harafiahnya adalah seekor anak anjing yang baru lahir dan berusia kurang dari satu tahun. Namun jika kau menelaah makna filosofisnya yang lebih dalam, istilah yang sama kerap disematkan bagi seseorang yang baru saja mulai menjalani lembaran hidupnya dengan cara yang benar.
'Istilah itu menyimpan makna ganda, di mana seseorang yang baru mulai menapaki jalan hidup yang benar tak ubahnya sesosok makhluk yang baru saja terlahir kembali ke dunia.'
Demikianlah wejangan yang pernah diutarakan oleh Rem tempo hari.
Untaian kosakata dari belahan barat memang kerap dibekali oleh makna ganda yang tersirat.
Frasa 'pagi yang gelap (eoduk-achim)' sanggup merepresentasikan kegelapan yang menelan sang mentari, sekaligus melambangkan waktu fajar yang merupakan titik tergelap sesaat sebelum sang surya menyingsing. Istilah itu pun terkadang dilabeli sebagai 'langit yang gelap (eoduk-haneul)'. Jika kau melabelinya sebagai pagi yang gelap, maka maknanya adalah fajar harapan, dan andai bermutasi menjadi langit yang gelap, maka bobotnya kian condong pada pekatnya kegelapan.
Apa pun makna di baliknya, andai sang penutur melontarkannya membawa intensi yang positif, maka langit yang gelap sekalipun sanggup menjelma menjadi fajar benderang sesaat sebelum matahari terbit.
Pemuda itu sendiri tidak tahu pasti mengapa peribahasa rumit dari belahan barat tersebut mendadak terlintas di kepalanya saat ini.
Itu murni kilasan ide yang menyusup tiba-tiba kala dirinya tengah asyik memikirkan konsep ilmu pedang.
Pria yang tengah berlari itu seketika menghentikan derap langkah kakinya.
Dia memutar pandangan matanya merespons panggilan suara Encrid.
Beberapa warga sipil yang melintas di sekitar jalanan seketika mengenali paras wajah sang pahlawan Encrid.
Pria yang menghentikan larinya sama sekali tidak memedulikan tatapan mata orang-orang di sekelilingnya.
"Takdir membawaku berakhir di tempat ini," tuturnya pelan.
Sorot pandangan matanya tampak benar-benar hidup dan benderang.
Nama pria muda ini adalah Edin Molsan.
Putra kandung dari mendiang Count Molsen, sang konspirator utama di balik kecamuk perang saudara berdarah yang dulu menganugerahkan gelar kehormatan 'Pahlawan Kerajaan' kepada sosok Encrid, sekaligus sosok pengkhianat yang dulu menampung entitas iblis neraka di dalam raganya.
Peluh keringat yang membasahi helaian rambut pirangnya menetes deras membasahi tanah.
Tetesan keringat itu jatuh lalu meresap ke sela-sela lantai batu jalanan kota yang tertata rapi.
Di permukaan, postur perawakan fisiknya tampak berkali-kali lipat jauh lebih ramping dibanding masa lalunya.
Apakah pria muda ini telah menanggalkan bilah pedangnya selamanya?
Sebuah ketajaman wawasan dari seorang ksatria sejati.
Keseimbangan struktur fisiknya kini jauh lebih proporsional dibanding masa lalu, sama sekali tak ada lemak tubuh yang berlebih, serta kuda-kuda berdirinya tampak sangat stabil, namun...
'Dia telah menaruh pedangnya.'
Lebih presisi lagi, dirinya kemungkinan besar masih menggenggam sebilah pedang murni demi sarana kebugaran jasmani dan proteksi bela diri dasar, namun dia telah menghentikan proses latihan ilmu pedang yang sesungguhnya.
Pria ini kemungkinan besar murni hanya berlatih di tingkatan kemahiran dasar belaka.
Meskipun guratan serat-serat otot yang menyembul dari balik lengan pendeknya tampak teramat liat dan padat...
'Pria ini murni menempa ketahanan fisiknya, bukan mengasah ilmu pedangnya.'
Dia dipastikan telah berlari mengitari kota setiap hari, baik di bawah guyuran hujan lebat ataupun di bawah terik mentari, di mana pun dirinya berada.
Tampak pula segores bekas luka baru di paras wajahnya, sebuah torehan luka yang sama sekali belum eksis di masa lampau.
Sebuah jejak luka parut yang memanjang dari tulang pipi kiri hingga ke ujung dagunya.
'Bukan luka akibat sayatan bilah pedang.'
Bentuk polanya mengindikasikan bahwa kulit wajahnya sempat terkoyak akibat tersangkut pada sebuah objek tajam.
Apakah dirinya sempat tergelincir jatuh kala mendaki tebing pegunungan yang terjal?
Encrid murni hanya mengamati struktur fisiknya, gestur kuda-kudanya, serta sorot matanya, namun pemuda itu telah berhasil mengintip secuil dari lembaran perjuangan hidup yang dilalui oleh Edin selama ini.
Pria muda ini jelas sama sekali tidak menikmati kehidupan santai sembari mengelus perut buncitnya.
Encrid mengingat kembali momen terakhir kala dirinya melihat sosok Edin di masa lampau.
Pemuda itu dulu pamit melangkahkan kakinya pergi bersama adik perempuannya, membawa alasan luhur bahwa dirinya murni mendambakan kehidupan yang damai.
Meskipun proses observasi dan perenungan batin ini terasa sangat panjang, pada kenyataannya seluruh kalkulasi tersebut meletup hanya dalam tempo satu kedipan mata singkat.
Kecepatan akselerasi berpikir seorang ksatria agung mustahil bisa dibandingkan dengan manusia biasa.
"Raut ekspresi wajahmu tampak jauh lebih cerah dan tenang dibanding masa lalu," ujar Encrid ramah.
Edin Molsan menatap sosok pemuda di hadapannya sesaat, lalu membuka suaranya.
"Semua ini berkat bimbingan kebaikan Anda, Tuan."
Lalu pemuda itu membungkukkan badannya dengan khidmat.
Gestur tubuhnya memancarkan etika sopan santun dari seorang bangsawan tulen.
Sosok dirinya di hari ini adalah pribadi yang sama sekali berbeda dibanding masa-masa kala dirinya masih bernaung di bawah ketiak ayahnya.
Demikianlah penilaian yang tersaji di sepasang mata Encrid.
Sang Dragonkin, sang katak cerdas, serta sang putri elf mengekspresikan rasa penasaran mereka melalui cara mereka masing-masing, tanpa memedulikan siapa sosok lawan bicara yang tengah dihadapi oleh Encrid.
Dalam artian lain, sang putri elf sama sekali tidak menaruh minat murni karena pria itu adalah seorang laki-laki; sang Dragonkin mengamatinya menggunakan sorot mata dingin tanpa emosi lalu bergumam pelan, "Sempat terkejut sesaat, namun sanggup menenangkan diri dengan sangat cepat"; sementara sang katak Luagarne yang merasa penasaran murni mengulang namanya, "Edin Molsan?"
Luagarne menyisir lembaran memorinya di masa lalu.
Tempo dulu kala dirinya mengemban tugas mengawal keselamatan sang Ratu, figur bangsawan yang paling merepotkan dan menjengkelkan adalah sosok Count Molsen.
Pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah putra kandung dari pria tersebut.
Sang katak cerdas pantang menilai integritas seseorang murni berlandaskan garis ikatan darah keluarga, sehingga dirinya sama sekali tidak memelihara prasangka buruk.
Dia murni...
'Pria muda ini terlihat jauh lebih hebat dibanding dugaanku,' batinnya menilai.
Meskipun paras wajahnya dihiasi oleh segores luka parut, dia tergolong sebagai pemuda yang sangat tampan.
Mungkin karena dirinya telah mengikis habis lemak tubuhnya dan menggantinya dengan otot-otot padat yang liat, garis rahangnya tampak sangat tegas, dan perawakan tubuhnya terlihat berkali-kali lipat lebih ramping dibanding sebelumnya.
Faktor-faktor itulah yang membuat pesona penampilannya memancar benderang.
Bahkan andai tidak sampai dilabeli sebagai seorang pemuda jelita, dia tetaplah sosok pria yang teramat rupawan.
Andai Krais melihat pemuda ini, pria bermata besar itu dipastikan bakal menimbang-nimbang apakah dirinya perlu menyeret bocah ini masuk ke dalam lingkaran salon kecantikannya.
Penampilan fisik seseorang memang tidak mudah berubah, namun seiring bermutasinya watak kepribadiannya, aura atmosfer yang menyelimuti tubuhnya telah berubah total.
Pria muda ini dipastikan telah melintasi berbagai macam asam garam kehidupan sebelum akhirnya sanggup tiba di titik hari ini.
Rasa ingin tahu sempat menggelitik batin Luagarne, namun intensitasnya tidak terlalu besar sehingga dia memilih untuk tidak bersuara.
Anggota rombongan terakhir, sang kuda liar Odd-eye, tengah asyik melangkah santai menyusuri jalanan kota.
Kuda monster itu tidak meringkik liar, melainkan murni mengamati tata kota dan kerumunan warga menggunakan sepasang matanya yang belang sembari menghafal rute jalanan.
Tak ada seorang pun yang menyadarinya secara detail, namun ke mana pun Odd-eye melangkah, binatang cerdas itu selalu merekam dan mempelajari kontur topografi serta geografis wilayah setempat.
Itu adalah sebuah insting alami yang telah melekat di dalam dirinya sejak masa-masa kala dirinya masih berkeliaran bebas sebagai kuda liar.
Banyak warga kota yang terbelalak takjub menyaksikan komposisi rombongan yang teramat ganjil ini.
Di antara mereka semua, figur yang paling dilanda keterkejutan luar biasa adalah sosok bangsawan penguasa benteng kota Cross Guard.
"A-a-apa—bukan, kenapa, kehormatan besar, se-selamat datang Komandan Agung!"
Sang lord penguasa kota berlari tergesa-gesa keluar dari kediamannya bahkan tanpa sempat mengikat tali sepatu botnya dengan benar.
Empat orang prajurit pengawal yang mengiringi di belakang punggungnya turut membelalakkan mata mereka saking kagetnya.
Bagaimana mungkin komandan tertinggi Ordo Ksatria Gila (Madmen Knight Order) mendadak menampakkan dirinya di kota benteng ini?!
"Aku murni tengah melangsungkan agenda inspeksi," sahut Encrid datar sembari mengalihkan pandangan matanya dari sosok Edin.
"Kunjungan ini sejatinya bakal menjadi sebuah kencan romantis andai murni hanya kita berdua yang melangkah bersama," celoteh sang putri elf sekali lagi tanpa kenal lelah.
Tampaknya gadis itu berniat untuk melontarkan kalimat serupa kepada siapa pun yang mereka jumpai di sepanjang jalan.
"Tercekat membisu akibat rasa kaget yang teramat luar biasa. Tegang, menyimpan rahasia, pusing."
Sang Dragonkin membuka suaranya sembari mengamati kondisi psikologis sang penguasa kota.
Dia tengah meneliti anomali perubahan mental yang dialami oleh orang-orang yang berinteraksi langsung melawan sosok Encrid.
'Mengapa orang-orang yang berdiri di samping pria ini selalu mengalami perubahan batin?'
Ini adalah sebuah fenomena yang sangat langka bagi pertanyaan semacam itu untuk meletup di dalam kepala seekor Dragonkin.
Tentu saja tak ada seorang pun yang mengetahui isi kepala sang Dragonkin, sehingga tak ada yang merasa heran.
Bagaimanapun juga, dia membaca batin sang lord penguasa kota lalu menyuarakannya secara gamblang.
"Hah? Apa maksud Anda?"
Pria berambut lemon yang memiliki celah pupil mata vertikal itu mendadak melontarkan untaian kata-kata yang teramat ganjil.
Sangat sulit bagi sang lord untuk tidak dilanda kepanikan moral.
"Rasa tidak nyaman, ketegangan batin," ucap sang Dragonkin mengulangi analisisnya.
"Hentikan ocehanmu itu," sang katak cerdas bergegas membungkamnya.
Bangsawan penguasa benteng Cross Guard pada hakikatnya adalah sosok pria yang sangat rajin dan disiplin, namun dirinya bukanlah figur yang dibekali oleh kapasitas kepemimpinan yang luar biasa.
Lebih tepatnya, dia adalah tipikal pria yang dipadati oleh segudang rasa cemas dan kekhawatiran.
Penempatannya di posisi penguasa kota ini merupakan buah kalkulasi yang dirancang langsung oleh Abnaier.
Bangsawan ini, sebanyak apa pun rasa cemas yang membebani pundaknya, turut dibekali oleh kehangatan kasih sayang yang melimpah serta tahu betul bagaimana cara mempedulikan nasib rakyat jelata.
Dalam pengamatan taktis Abnaier, pria ini adalah representasi sempurna dari tipikal figur pemimpin yang bakal sangat disukai oleh sosok Encrid.
Dan bahkan tanpa perlu berusaha meraup simpati dari Ordo Ksatria Gila, dia adalah sosok penguasa yang pantang melakukan manuver-manuver mencurigakan di benteng Cross Guard.
Abnaier menempatkannya di posisi strategis ini membawa serangkaian kalkulasi matang semacam itu.
"Ada perkara apa sebenarnya yang membawa Tuan Komandan sudi berkunjung kemari?" sang lord mengulangi pertanyaannya dengan gugup.
"Sebuah agenda inspeksi resmi yang gagal bermutasi menjadi kencan romantis, wahai bangsa manusia," sahut Shinar mewakili.
Di tengah percakapan tersebut, Edin telah menyelinap pergi secara diam-diam lalu kembali melanjutkan sesi larinya mengitari jalanan kota.
Encrid melirikkan matanya menatap sosok Edin yang tengah berlari menjauh.
Pakaian yang membalut tubuhnya telah basah kuyup oleh peluh.
Itu adalah bukti sahih dari kerja keras seseorang yang tekun berlari setiap hari, dan tampak banyak warga di sekitarnya yang menatapnya sembari melayangkan anggukan penuh rasa hormat.
Pemuda itu jelas bukan baru tinggal di kota ini selama satu atau dua hari.
"Apakah Edin telah lama tinggal menetap di benteng kotamu ini?" tanya Encrid sembari menatap punggung Edin yang kian menjauh.
Rona wajah sang penguasa kota seketika memucat pasi berkali-kali lipat.
Pria itu menarik napas panjang beberapa kali lalu memberanikan diri menjawab.
"Saya mengetahui fakta tersebut. Bahwa dirinya adalah putra kandung dari mendiang pengkhianat Count Molsen. Saya pun memahami betul bahwa keberadaannya di kota ini sanggup memicu prahara politik yang besar."
Lantas atas dasar apa dirinya tetap nekat menampung sosok pemuda semacam itu?
Selalu tersimpan motif rasional setiap kali seseorang mengambil sebuah tindakan.
Terutama bagi sosok seperti seorang penguasa kota, sebaik apa pun kepribadian batinnya, dia paham betul bagaimana cara memainkan bidak catur politik.
Dan saat ini hal yang paling mencemaskan pihak kerajaan Aspen adalah eksistensi garnisun Border Guard.
Seluruh kekuatan inti dari sebuah ordo ksatria legendaris tengah bermarkas di kota yang berbatasan langsung dengan tanah air mereka.
Andai sang raja ataupun sang komandan ksatria mendadak kehilangan akal sehat mereka dan mengobarkan perang terbuka esok hari, kerajaan Aspen dalam skenario terbaik dipastikan bakal langsung ditundukkan menjadi sebuah negara bawahan (vassal).
Penguasa benteng Cross Guard memahami realitas pahit tersebut dengan sangat jelas.
Andai dirinya adalah sosok pria yang otaknya tidak sanggup mencerna kalkulasi tersebut, Abnaier mustahil bakal sudi menempatkannya di posisi ini.
"Saya telah menerima banyak sekali bantuan berharga darinya. Dan sebagai imbalan balas jasanya, satu-satunya hal yang didambakan oleh pria muda itu murni hanyalah sebuah rumah tinggal sederhana serta sebuah tempat bernaung yang tenang bersama adik perempuannya."
Apakah hal yang didambakan oleh Edin hingga detik ini murni hanyalah sebuah kedamaian hidup?
Apakah tujuannya murni hanyalah hidup di sebuah suaka yang terpisah total dari dosa-dosa pemberontakan mendiang ayahnya, jauh dari naungan bayang-bayang kelam sang ayah?
"Begitukah kenyataannya?" Encrid mengangkat sebelah pundaknya santai.
Gestur tubuh itu mengindikasikan sebuah pesan tak terucap: 'Aku memahami situasimu, dan aku akan membiarkannya berlalu.'
Sang lord penguasa kota dibekali kepekaan yang cukup untuk menangkap sinyal tersebut.
Itu menandakan bahwa sang komandan bersedia menutup mata untuk saat ini.
Meskipun tak ada yang tahu apa yang bakal terjadi di masa depan.
"Mari saya antarkan Tuan Komandan masuk melihat-lihat kawasan dalam benteng."
Kota benteng Cross Guard bukanlah kota metropolitan yang kaya raya, bahkan andai dinilai menggunakan standar yang paling toleran sekalipun.
Kota ini sejatinya lebih menyerupai sebuah kota benteng pertahanan yang sedari dulu dibangun murni demi mewaspadai pergerakan benteng Border Guard.
'Namun bagi kota benteng semacam ini.'
Meskipun kemakmurannya belum sanggup menandingi benteng Border Guard, kota ini telah menjelma menjadi sebuah pemukiman yang teramat kokoh dan stabil.
Kondisinya sama sekali tidak seperti masa lalu, melainkan telah mengalami perubahan yang luar biasa.
Encrid melihat bahwa sebuah bangunan megah Kuil Kelimpahan (Temple of Abundance) telah didirikan tegak tepat di atas lahan yang dulunya merupakan kawasan pemukiman kumuh (slum).
'Langkah taktis yang sangat cerdas.'
Jika ini murni merupakan keputusan sepihak dari sang penguasa kota, maka pria itu wajib diakui sebagai sosok perwira yang mengantongi kecerdikan yang teramat luar biasa.
Kawasan pemukiman kumuh sedari dulu selalu menjadi borok penyakit kronis yang menggerogoti stabilitas kota Cross Guard.
Encrid memang tidak mengetahuinya secara detail, namun beberapa serikat kriminal skala kecil dulunya sempat menancapkan cengkeraman mereka di kawasan kumuh tersebut, memicu sakit kepala bagi para penegak hukum.
Lantas apa alasan di balik berdirinya Kuil Kelimpahan di titik tersebut?
Sama sekali tak perlu memeras otak terlalu lama untuk memahaminya.
'Pihak Temple of Abundance wajib membersihkan kotoran dari skandal mereka sendiri.'
Di masa lampau, salah seorang rasul suci dari Temple of Abundance sempat terlibat dalam skandal ajaran sesat yang mengklaim diri secara palsu sebagai manifestasi dari sang Dewa Abu-Abu (Gray God).
Pasca-skandal memalukan tersebut meletus, pengaruh dan hak suara mereka di dalam Takhta Suci (Holy City) dipastikan merosot tajam.
Dengan kata lain, otoritas Temple of Abundance telah kehilangan taring kekuasaannya.
Dari mana sumber kekuatan sejati sebuah kuil keagamaan bermula?
Tentu saja bersumber murni dari ketulusan barisan para jemaat pengikutnya.
Iman keyakinan merekalah yang menjadi fondasi pilar utama bagi eksistensi kuil.
Pihak Temple of Abundance setia menjalankan amanat suci yang tertulis di dalam kitab suci mereka, yakni merangkul kaum jelata dari lapisan paling bawah dan merawat orang-orang yang terlunta-lunta.
'Tidak, lebih tepatnya mereka memang dipaksa harus setia menjalankannya saat ini.'
Waktunya memang menuntut mereka berbuat demikian.
Terlepas dari apakah mereka adalah kaum miskin ataupun gelandangan, pihak kuil wajib bertahan hidup bahkan andai mereka harus menguras habis seluruh pundi-pundi kekayaan yang tertimbun di gudang logistik mereka demi amal sosial.
'Apakah ini merupakan usulan strategi yang dirancang oleh Noah?'
Kemungkinan besar memang demikian.
Bagaimanapun juga, kuil keagamaan ini telah merangkul dan merawat anak-anak yatim serta orang-orang lemah di kalangan masyarakat miskin.
Dan lewat mengeksekusi langkah tersebut, mereka telah menyingkirkan ladang basah bagi para kriminal secara bersih dan elegan.
Betapa pun telaknya pukulan skandal yang sempat menghantam mereka, pihak kuil dipastikan masih menyimpan kekuatan militer dan pasokan logistik yang lebih dari cukup untuk dikerahkan mengamankan satu kota benteng.
"Beberapa kelompok kriminal bersenjata bernama Rantai Berkarat (Rusted Chains) sempat menjadi duri dalam daging di kota ini, namun seluruh komplotan mereka kini telah berhasil dibersihkan tuntas. Permohonan bantuan keamanan tersebut ditangani langsung oleh divisi pasukan benteng Border Guard."
Sang penguasa kota bahkan dengan sukarela membeberkan informasi yang sejatinya sama sekali tidak ditanyakan.
Itu membuktikan bahwa pria cerdik ini telah memanfaatkan sistem penyewaan prajurit-tentara bayaran dari garnisun kota tetangga Border Guard dengan teramat lihai.
Kapasitas otak Encrid bekerja dengan sedemikian briliannya hingga sosok Krais pun mengakui kehebatannya.
Murni hanya lewat menyimak penuturan sang lord penguasa kota, pemuda itu telah melukiskan bagan komprehensif perihal proses evolusi perubahan kota ini di dalam kepalanya.
'Pria ini meminjam kekuatan dari mana pun yang dia butuhkan.'
Dia menggusur kawasan kumuh dengan meminjam supremasi keagamaan kuil, dan dia mengulurkan tangannya meminta bantuan garnisun Border Guard demi menumpas seluruh komplotan bandit kota.
'Pengaruh dari aliansi kota-kota perdagangan pun telah menancapkan kaki mereka di tempat ini.'
Dia sanggup melihat beberapa kantor perbankan dan pertokoan mewah yang menjadi kebanggaan serikat saudagar.
Jalan raya utama kota telah diaspal menggunakan batu-batu halus yang bersih, dan barisan kereta kuda milik serikat saudagar Rockfreed Merchant Guild melintas santai di atasnya.
"Jalan raya beraspal batu itu merupakan hadiah hibah istimewa yang dipersembahkan langsung oleh pemimpin serikat saudagar Rockfreed Merchant Guild."
Leona adalah sesosok saudagar wanita yang teramat luar biasa.
Wanita itu pantang mengaspal jalanan kota andai proyek tersebut mendatangkan kerugian bagi kasnya.
Lantas keuntungan apa yang dia bidik dari kota benteng ini?
'Rupanya wanita itu telah resmi membuka gerbang perdagangan langsung menuju ke kerajaan Aspen.'
Alasan mengapa kota Rockfreed sanggup berkembang sedemikian pesatnya bukanlah murni karena statusnya sebagai titik simpul Jalan Batu (Stone Road) dari belahan barat semata.
'Wanita itu telah melebarkan cengkeraman bisnisnya ke segala penjuru mata angin, bermula dari kota-kota perdagangan.'
Apakah membuka jalur perdagangan bersama kerajaan Aspen mendatangkan margin keuntungan yang masif?
'Pandangan matanya dipastikan telah membidik cakrawala yang jauh melampaui hal tersebut.'
Kerajaan Aspen membentangkan relasi diplomatik yang teramat erat bersama pihak Imperium agung.
Wanita itu berambisi membuka jalan sutra perdagangan menuju ke jantung Imperium melalui jalur tersebut.
Alur pemikiran batin milik Leona berhasil dibedah secara jernih oleh Encrid.
Namun siapa sosok arsitek sejati yang telah merangkai seluruh potongan puzzle rumit ini hingga menyatu dengan sedemikian presisinya?
Siapakah sosok brilian yang telah menyulap kota benteng ini menjadi sedemikian kokoh dan mandirinya?
Apakah bangsawan penguasa kota yang kini tengah duduk gemetar di hadapannya ini adalah sosok arsitek utama di balik mahakarya ini?
'Kurasa bukan dia pelakunya.'
Encrid yang tengah duduk bersandar santai di ruang resepsi mengusap dagunya perlahan.
Jumlah prajurit pengawal yang berdiri di ruangan itu kini telah dipangkas tersisa dua orang.
Seorang pria bermata sipit tajam serta seorang pria yang memiliki lengan kanan bawah yang berukuran teramat kekar.
Perbedaan dimensi ukuran pada lengan bawahnya adalah tanda mutlak dari seseorang yang telah mengayunkan senjata berat dan melatih fisiknya dalam kurun waktu puluhan tahun.
'Keduanya adalah mantan tentara bayaran veteran.'
Encrid pun telah menghabiskan sebagian besar lembaran hidupnya menyelami kerasnya dunia tentara bayaran.
Dia mengamati kedua prajurit yang mengawal sang lord dan menilai bahwa keduanya adalah figur-figur yang teramat layak untuk dipercaya, terlepas dari tingkatan keahlian tempur mereka.
Dibutuhkan kejelian mata yang luar biasa dalam menilai talenta manusia demi merekrut tentara bayaran berkualitas semacam itu.
Ini pun merupakan bukti sahih dari kecerdikan strategi tingkat tinggi.
Alasan mengapa sang lord terus membeberkan informasi yang tidak perlu sedari tadi murni karena pria itu menyadari betul kekhilafan fatal yang telah dia perbuat.
Dia telah berani menampung putra kandung dari gembong pengkhianat yang telah mengobarkan api pemberontakan di kerajaan Naurilia.
Dalam satu sudut pandang, itu adalah sebuah tindakan kriminal berat di mana kepalanya bakal langsung dipenggal di tiang gantungan tanpa ampun andai maklumat pengadilan militer dijatuhkan.
Dan secara kebetulan yang teramat ironis, komandan tertinggi Ordo Ksatria Gila mendadak melangkah masuk dan berpapasan langsung dengannya hari ini.
Nasib keberuntungannya benar-benar teramat sangat sial.
Itulah hakikat sejati di balik gejolak ketegangan dan kecemasan maut yang tengah mencekik batinnya.
"Apakah selama ini kau menerima bantuan nasihat strategi dari sosok Edin?" tanya Encrid to the point.
Sang lord penguasa kota seketika menelan ludahnya dengan susah payah.
Bermula dari detik ini, satu patah kata salah saja yang meluncur dari bibirnya dipastikan bakal menuntun hidupnya lurus menuju ke jurang kebinasaan abadi.











