Bab 849: Putra Sang Pengkhianat
Semua prahara ini bermula sepanjang proses renovasi dinding benteng kota. Guyuran hujan lebat yang turun tanpa henti seketika merendam kawasan pemukiman kumuh (slum).
Rakyat jelata berada di ambang maut tenggelam di tengah luapan air bah.
Kian memperburuk situasi, pada hari-hari kelam semacam ini, kawanan monster buas yang dikenal sebagai arwah tenggelam kerap berkeliaran mengintai di batas luar perimeter kota.
Ada segudang kewajiban darurat yang menuntut penanganan kilat.
Sang penguasa kota berikhtiar sekuat tenaga demi menyelamatkan siapa pun yang terancam bahaya maut, terlepas dari apakah mereka adalah kaum miskin ataupun bukan, namun apakah segala sesuatunya sanggup berjalan mulus persis seperti yang dia dambakan?
Katakanlah mereka berhasil mengevakuasi segenap korban yang terendam air bah.
Di mana mereka bakal ditampung berteduh?
Bagaimana cara menyuplai pasokan pangan untuk memberi mereka makan?
Atmosfer ketegangan yang teramat ganjil menggantung pekat di atas kota benteng, bercampur baur bersama luapan genangan air bah yang kian membuncah. Gelombang kecemasan meledak hebat. Jika kematian pada akhirnya tetap tak terhindarkan, bukankah bakal berkali-kali lipat jauh lebih baik andai kita berubah menjadi kawanan bandit penjarah? Bisik-bisik gelap semacam itulah yang mulai berputar liar di kalangan kaum miskin, dan beberapa warga sipil telah mulai menghunus senjata di tangan mereka.
"Beri aku sepuluh orang prajurit serta wewenang mutlak untuk memimpin proyek renovasi dinding benteng kota murni hanya untuk satu hari ini saja."
Edin Molsan melangkah hadir tepat di momentum kritis tersebut.
Dia adalah sesosok pemuda berambut pirang yang basah kuyup, dengan segores luka terbuka di tulang pipinya yang belum mengering sempurna dan masih meneteskan sisa-sisa darah segar.
"Atas dasar apa kau merasa bahwa diriku bakal sudi mengabulkan permintaan gilamu itu?"
Sang penguasa kota memang merupakan sosok pria yang berhati lembut dan dipadati oleh rasa cemas, namun dirinya sama sekali bukan pria dungu yang tolol. Mustahil baginya untuk menaruh kepercayaan buta kepada untaian kata dari sesosok pemuda asing yang mendadak muncul entah dari mana.
"Kehilangan sepuluh prajurit untuk satu hari tidak bakal memicu bencana keruntuhan benteng kota secara instan, bukan? Satu-satunya hal yang kubutuhkan murni hanyalah dua puluh pasang tangan dan kaki yang setia mengeksekusi komandoku, serta waktu satu hari penuh manipulasi tipu daya." Edin tidak memperlihatkan secuil pun riak emosi di wajahnya. Dia memaparkan argumennya dengan ketenangan yang teramat dingin.
"Andai aku terbukti berkhianat menipu Tuan Lord, penggal kepalaku di tiang gantungan setelah seluruh urusan ini tuntas. Aku menitipkan sesosok anak perempuan yang kujaga jauh lebih berharga dibanding nyawaku sendiri di dalam kastel ini. Aku pantang melarikan diri menelantarkan anak itu. Kau boleh mengurungnya di sini sebagai jaminan sandera hingga seluruh tugasku rampung."
Pemuda itu telah menitipkan seorang gadis cilik jelita di dalam kediaman kastel, mengakuinya sebagai adik kandungnya.
Sang lord penguasa kota belum menyadarinya kala itu, namun Edin sejatinya telah menempatkan adik perempuannya tepat di titik koordinat yang paling aman di seantero kota tepat kala potensi kerusuhan berdarah di ambang meletus.
Pemuda itu benar-benar memeras kapasitas otaknya dengan teramat brilian.
"Baiklah kalau begitu."
Sang penguasa kota pada kenyataannya memang tidak memiliki banyak opsi pilihan lain. Benteng Cross Guard berdiri berkali-kali lipat jauh lebih dekat ke benteng Border Guard dibanding ke jantung kerajaan Aspen, sebuah kota benteng perbatasan yang jauh lebih bergantung pada kucuran bantuan Border Guard dibanding tanah air asalnya sendiri.
Di luar faktor tersebut, pertimbangan dinamika politik membuat mereka teramat mustahil untuk sanggup meraup bantuan logistik dari tanah air mereka. 'Andai kubiarkan prahara ini berlarut-larut...'
Benteng Cross Guard dipastikan bakal hancur luluh lantak dari dalam.
Mereka menuntut kehadiran para arsitek tata kota serta pasokan tenaga kerja manusia. Dalam kuantitas yang teramat masif.
Apakah menunda perbaikan selama satu hari sanggup membendung potensi kerusuhan? Kemungkinan besar tidak. Namun dirinya tidak sanggup melihat opsi alternatif lain yang lebih realistis. Oleh sebab itu, pria itu menganggukkan kepalanya pasrah.
"Lakukan apa pun sesuka hatimu."
Edin seketika memilih sepuluh orang prajurit secara selektif.
Seluruh prajurit yang dia tunjuk adalah barisan pria berkeluarga yang memiliki istri dan anak-anak yang bermukim di dalam kota benteng.
Pemuda itu tahu betul bagaimana cara memilih orang yang tepat.
Sebagaimana yang didengar oleh sang lord di kemudian hari, Edin menerjang langsung menembus badai hujan lebat, persis seperti kala malam sebelum genderang pemberontakan meletus.
Dia melangsungkan proses tanya jawab secara tegas kepada siapa saja tokoh masyarakat yang sanggup diajak berkomunikasi rasional.
Sementara itu, luapan air bah kian membubung naik, mengancam menenggelamkan setinggi betis orang dewasa.
Dia memimpin sepuluh prajuritnya, mengerahkan kekerasan fisik demi mengeksekusi mati lima orang provokator secara langsung.
Seluruh kaum miskin menyaksikan pembantaian tegas tersebut dengan mata kepala mereka sendiri.
Kelima orang yang dibantai itu adalah para petinggi serikat kriminal bersenjata sekaligus dalang utama di balik rencana kerusuhan massal.
Namun bara amarah yang terlanjur tersulut di dalam dada kaum jelata sama sekali belum padam.
Guyuran hujan badai terus menghujam deras; siapa pun yang tertinggal di pemukiman kumuh dipastikan bakal meregang nyawa tenggelam.
Di tengah situasi mencekam tersebut, Edin membujuk beberapa tokoh perwakilan warga miskin demi sengaja merobohkan salah satu sektor dinding benteng kota yang tengah direnovasi.
"Sialan, kita semua dipastikan bakal dipenggal mati oleh sang lord!"
Pria perwakilan kaum miskin berteriak histeris. Dialah sosok yang pada akhirnya berhasil meredam kerusuhan massa. Sosok yang turut membantu meremukkan dinding benteng kota.
"Jika ada yang harus meregang nyawa, maka akulah sosok tunggal yang bakal mati. Murni karena akulah sosok penanggung jawab mutlak atas proyek perbaikan hari ini."
Edin sengaja merobohkan sebagian dinding benteng kota secara terukur, lalu menghimpun ratusan warga demi menggali kanal pembuangan air darurat secara gotong royong.
Dibutuhkan waktu satu hari penuh hingga genangan air bah tersebut berhasil surut mengalir keluar dari kota.
Persis seperti yang telah diprediksi, jasad-jasad arwah tenggelam seketika mencuat menyusup masuk melalui celah dinding benteng yang telah dirobohkan.
Sebuah celah jebol telah menganga lebar di dinding pelindung yang bertugas membendung serbuan kawanan monster. Meskipun dirinya telah bekerja memeras keringat tanpa henti sepanjang hari, Edin seketika mencabut pedangnya dari sarung.
"Siapa pun yang sanggup bertarung, melangkah majulah ke garis depan! Prajurit Del, bersediakah kau berlari memohon bala bantuan pasukan kepada Tuan Lord?!" "Siap, laksanakan!"
Itu adalah satu hari penuh di mana mereka mempertaruhkan nyawa mereka demi bertahan hidup. Prajurit Del bergerak cepat, menaruh kepercayaan mutlak kepada sosok Edin.
Ada segelintir ksatria yang membuktikan kapasitas integritas mereka murni lewat menggenggam bilah pedang dan membentengi keselamatan orang banyak.
Ada pula figur-figur yang membuktikan diri lewat kepiawaian retorika diplomasi serta ketegasan aksi nyata.
Edin membuktikan kapasitas dirinya lewat mempertaruhkan segenap jiwa raganya, menumpahkan peluh keringat berdampingan di samping para prajurit jelata. Dia telah berhasil merengkuh kepercayaan tulus dari mereka semua.
Jika murni menatap hasil akhirnya, pencapaian tersebut sejatinya bukanlah hal yang teramat spektakuler.
Kawanan arwah tenggelam pada kenyataannya berkali-kali lipat jauh lebih mudah untuk ditumpas dibanding luapan air bah. Benteng Cross Guard memang tidak dibekali oleh kehadiran para arsitek tata kota yang jenius, namun mereka mengantongi pasokan divisi pasukan yang teramat melimpah.
Menjebol sebagian dinding benteng demi membuang luapan air adalah manuver yang sederhana, dan divisi angkatan bersenjata kota sanggup membendung serbuan kawanan monster yang mencoba menerobos masuk melalui celah tersebut.
Tentu saja teori selalu terdengar jauh lebih mudah dibanding realitas praktiknya—menggerakkan massa dalam tempo sedemikian singkatnya serta membujuk orang-orang yang tengah dilanda kepanikan adalah tugas yang teramat mustahil. Namun sosok Edin telah berhasil mewujudkannya secara sempurna.
Edin yang bertempur mati-matian di garis depan melangkah kembali menghadap sang penguasa benteng kastel.
"Jebolnya dinding benteng kota adalah tanggung jawab mutlakku pribadi. Jika Tuan Lord menuntut sebutir kepala manusia untuk dipenggal, maka ambillah kepalaku detik ini juga."
Sang lord penguasa kota sama sekali tidak sudi memenggal kepala pemuda bernama Edin yang melangkah masuk dengan kedua telapak kaki yang membengkak parah dan pecah-pecah akibat terendam air bah berjam-jam.
Pemuda itu terus mengabdikan dirinya memberikan bantuan strategis kepada sang lord sejak saat itu. Dia menyarankan bahwa pembersihan serikat kriminal bersenjata murni hanya boleh dieksekusi tepat setelah kawasan kumuh ditata ulang, serta mendesak sang penguasa kota demi segera mengundang kehadiran Kuil Kelimpahan (Temple of Abundance).
Segala kemajuan kota ini—kucuran bantuan garnisun Border Guard, perjanjian kerja sama perdagangan bersama serikat saudagar Rockfreed Merchant Guild serta aliansi kota-kota perdagangan—semuanya merupakan buah mahakarya taktis yang dirancang langsung oleh jemari tangannya.
Jika berjalan di atas seutas tali tipis di tepi jurang maut adalah hal yang mutlak dibutuhkan, maka biarlah hal itu dieksekusi. Edin melakukan segudang terobosan taktis yang bahkan mustahil sanggup dibayangkan oleh sang lord penguasa kota.
"Hanya karena tanah air asal kita enggan mengucurkan bantuan logistik, bukan berarti kita harus membiarkan rakyat jelata yang bermukim di balik dinding benteng ini mati kelaparan." Argumennya terbukti seratus persen benar.
Bahkan andai seluruh manuver berani ini kelak berubah menjadi celah kelemahan politik yang sanggup merenggut nyawanya sendiri di tiang gantungan, sang lord penguasa kota pantang menelantarkan sosok pemuda bernama Edin. Pria itu tidak memiliki opsi lain.
Sebagai gantinya, dia telah berhasil memenangkan masa depan esok hari bagi segenap rakyat jelata yang menggantungkan napas di kota benteng ini. Dia sama sekali tidak memelihara secuil pun rasa penyesalan.
* * *
Encrid melontarkan pertanyaannya lalu menunggu jawaban dalam keheningan.
Menilik dari seluruh konteks situasi yang tersaji, pemuda itu telah mengetahuinya secara pasti.
Seluruh kemajuan tata kota yang luar biasa ini jelas bukan merupakan buah karya sang lord penguasa kota.
Mempertimbangkan sikap penuh rasa hormat dan perlindungan yang diperlihatkan oleh sang lord kepada sosok Edin, kesimpulan akhirnya teramat sangat mudah untuk ditarik.
Sang lord penguasa kota memejamkan kedua matanya sejenak, lalu membukanya kembali perlahan. Dia sedari dulu telah memahami bahwa hari penuntutan semacam ini dipastikan bakal tiba suatu saat nanti. Namun meski begitu, dirinya sama sekali tidak merasa menyesal. Tanpa secercah bantuan bimbingan dari sosok Edin, jumlah korban jiwa yang meregang nyawa di kota benteng ini dipastikan bakal berkali-kali lipat jauh lebih masif dibanding apa yang tercatat di lembaran sejarah.
"Sayalah sosok tunggal yang telah mengajukan permohonan bantuan tersebut. Edin Molsen murni bergerak murni setia mengeksekusi komando resmi yang saya jatuhkan selaku penguasa sah benteng kota."
Sebuah bentuk kesetiaan—bukan, lebih tepatnya sebuah ikhtiar demi membalas budi kebaikan. Sang lord memandang segenap insan manusia yang bermukim di balik dinding benteng kota sebagai bagian dari keluarga besarnya sendiri. Terlepas dari apakah mereka adalah kaum jelata miskin ataupun para bangsawan terhormat, setiap nyawa manusia teramat sangat berharga di matanya. Pria itu adalah sesosok umat beriman yang sangat taat, setia mengamalkan ajaran suci yang termaktub di dalam kitab kuil.
Kala Encrid menatap lekat-lekat ke arah sang lord penguasa kota dalam keheningan, kedua prajurit pengawal veteran berdiri menegang kaku di tempat mereka, bahkan tanpa berani mengerjapkan kelopak mata mereka sedetik pun. Apakah tuan mereka baru saja nekat menampung putra kandung dari sesosok gembong pengkhianat negara? Pada kenyataannya, selain sang lord penguasa kota serta segelintir petinggi utama, tak ada seorang pun prajurit biasa yang mengetahui identitas jati diri sejati milik Edin.
Tok, tok.
Suara ketukan pintu kayu memecah keheningan singkat yang mencekam di ruangan tersebut. Seseorang tengah mengetuk daun pintu ruang resepsi.
Sepersekian detik berikutnya, pintu berderit terbuka perlahan.
"Mohon maaf atas kelancangan saya menginterupsi sejenak."
Sosok itu adalah Edin Molsan. Sang putra gembong pengkhianat.
Pemuda itu melangkah masuk dengan setelan pakaian yang telah berganti bersih dan rapi, seolah dirinya baru saja membersihkan raganya di sela-sela waktu. Dia telah sanggup mengantisipasi dinamika apa yang tengah bergolak di dalam ruangan ini.
Sang lord penguasa kota memiliki palung hati yang terlalu lembut untuk memegang tampuk kekuasaan sebagai seorang penguasa tiran. Pria itu tidak dibekali kekejaman biadab untuk membantai sesamanya demi memanjat tangga kekuasaan. Pria itu bahkan sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengkhianati kepercayaan yang telah dititipkan padanya.
Yah, justru atas dasar alasan itulah mengapa kedua tentara bayaran veteran yang berdiri mengawalnya enggan melarikan diri menyelamatkan nyawa mereka sendiri bahkan kala tuan mereka terancam dicap sebagai pengkhianat, melainkan memilih untuk menggertakkan gigi mereka dan berdiri membentengi sang lord hingga titik darah penghabisan. Kedua prajurit itu tengah menjaga kesetiaan murni mereka kepada sang tuan.
"Belas kasih."
Edin membuka suaranya. Dia telah bersiap hendak menjabarkan apa hakikat makna sejati di balik frasa 'belas kasih' tersebut. Ampunilah keselamatan adik perempuanku seorang, dan pahamilah betul bahwa ketulusan batin yang dimiliki oleh Tuan Lord adalah hal yang teramat murni tanpa cela.
Andai pria berambut hitam di hadapannya ini adalah sosok Encrid yang dulu dia kenal, pemuda itu dipastikan bakal mengabulkan permohonan ampunan tersebut.
Satu-satunya hal yang luput dari kalkulasi Edin di titik ini adalah fakta bahwa tingkatan kegilaan yang bersemayam di dalam jiwa Encrid berada di dimensi yang sanggup membuat orang gila sekalipun terbelalak ngeri ketakutan.
"Permohonanmu kuterima."
Encrid menjatuhkan keputusannya dengan teramat singkat dan tegas.
Tersentak kaget oleh maklumat persetujuan yang meluncur sedemikian tiba-tibanya, Edin seketika menghentikan untaian kalimat penjelasannya di tengah jalan lalu terbungkam membisu.
Perkara apa sebenarnya yang baru saja disetujui oleh pria ini?
Krais tempo hari sempat berujar bahwa dalam urusan menangkap makna tersirat di balik untaian kata seseorang serta membaca intensi batin lawan bicara, sosok Encrid berkali-kali lipat jauh lebih hebat dibanding dirinya.
Dan klaim tersebut terbukti seratus persen benar.
Di momentum-momentum tertentu, ketajaman intuisi milik Encrid benar-benar melompati kapasitas milik Krais.
Pemuda itu baru saja membaca secuil dari relung batin terdalam milik Edin. Dia bahkan sama sekali tidak membutuhkan bantuan indra milik sang Dragonkin.
"Aktivitas apa saja yang telah kau lalui sepanjang masa-masa pelarianmu selama ini?" tanya Encrid penasaran.
Edin mengernyitkan dahinya rapat-rapat lalu menyahut pelan.
"Saya sempat bekerja menjadi buruh penambang bijih besi di kawasan Pegunungan Demp (Demp Mountains), lalu berkelana menjelajahi berbagai macam tempat. Saya pun sempat menghabiskan waktu berkeliaran di dekat teritorial wilayah timur." Encrid menganggukkan kepalanya paham.
Edin adalah sesosok perancang strategi yang ulung. Seorang administrator tata kota yang dibekali oleh kapasitas eksekusi aksi nyata yang teramat luar biasa.
Mungkinkah sesosok pria dengan kapasitas brilian semacam ini tidak sanggup menemukan tempat bernaung untuk menyambung hidup di belahan benua mana pun?
Lantas atas dasar alasan apa pria muda ini memilih untuk tetap bertahan di kota benteng terpencil ini?
Mengapa sang putra gembong pengkhianat memilih untuk menambatkan langkah kakinya di tempat ini?
"Datanglah bertolak menuju ke benteng Border Guard. Aku bakal mempersiapkan sebuah posisi yang layak untukmu di sana."
"...Apa sebenarnya maksud dari perkataan Anda barusan?"
Sosok Edin Molsan adalah representasi dari seorang pria yang dirundung oleh kemalangan nasib.
Dia berjuang mati-matian di bawah bayang-bayang kuasa mendiang ayahnya murni demi membentengi keselamatan adik perempuannya dan dirinya sendiri, dan baru sanggup menemukan impian luhur yang sesungguhnya dia dambakan tepat setelah dirinya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman sang ayah.
Dia mendambakan untuk melepaskan segenap potensi kapasitas ilmu yang dia miliki, dan secara instingtif selalu memburu tempat-tempat di mana keahliannya mutlak dibutuhkan.
Benteng Cross Guard terlalu sempit baginya.
Dia telah berhasil menuntaskan sebagian besar dari borok permasalahan kota ini.
Namun batinnya masih terus dilanda oleh rasa dahaga yang belum terpuaskan.
Dia terus berlari mengitari kota setiap pagi dan petang.
Sebagian dari motivasinya murni demi mengikis rasa gelisah di dalam jiwanya, namun alasan utamanya adalah agar kala momentum emas di mana kapasitas keahliannya dibutuhkan tiba—kala peluang berharga itu akhirnya mengetuk pintunya—bahkan andai peluang itu murni melintas hanya dalam tempo sepersekian detik singkat, dirinya pantang melewatkannya begitu saja.
"Bekerjalah mengabdi di benteng perbatasan kami," tegas Encrid.
Terpampang teramat jelas bahwa sama sekali tak ada lagi tugas berbobot yang tersisa untuk dia selesaikan di benteng Cross Guard ini. Kota benteng ini kini telah stabil dan mandiri, dan satu-satunya aktivitas yang tersisa untuk dia lakukan murni hanyalah berlari.
Kota terpencil ini bukanlah panggung megah yang layak bagi dirimu untuk melepaskan segenap potensi kapasitas terbaikmu. Demikianlah pesan tersirat yang terkandung di balik untaian kalimat Encrid.
Sebelah alis mata milik Edin seketika terangkat berkedut tanpa henti. Shinar memperlihatkan secercah rasa ketertarikan yang sangat tidak lazim.
Setiap tindakan yang diambil oleh Encrid selalu menyimpan makna yang mendalam, namun manuver pemuda itu kali ini terasa teramat sangat berbeda.
Gadis itu memang merupakan sesosok peri elf jelita, namun dirinya memahami seluk-beluk tabiat bangsa manusia dengan sangat baik. Pria muda di hadapannya ini adalah putra kandung dari seorang gembong pengkhianat negara. Pihak keluarga kerajaan Naurilia dipastikan tidak bakal memandang sebelah mata perihal keberadaannya.
Sang katak cerdas Luagarne turut menggembungkan kedua pipinya tipis.
Dia pun memahami seluk-beluk intrik konspirasi politik hingga ke tingkatan tertentu. Dia telah menyaksikan berbagai macam drama politik kala mengemban tugas mengawal keselamatan sang Ratu. Namun meski begitu, tak satu pun dari mereka yang melangkah maju hendak mencegahnya. Jika itu adalah hal yang didambakan oleh Encrid, maka mereka murni bakal berdiri mengamati. Persis seperti biasanya, ketetapan tekad pemuda itu selalu terbentang kokoh dan keteguhan prinsipnya pantang goyah.
"Pilihan yang sangat menarik," gumam sang Dragonkin Themares.
Untaian kalimat yang dilontarkan oleh Encrid detik ini memancarkan tingkat kemurnian kehendak Will yang belum pernah dia saksikan sebelumnya.
"Beri kami waktu satu hari untuk bersiap," pinta Edin.
"Kami murni hanya akan bermalam di benteng ini selama satu malam," sahut Encrid sembari menatap lurus ke dalam sepasang mata milik Edin.
Sang lord penguasa kastel sejatinya sama sekali tidak memahami dinamika rumit yang tengah bergolak di depan matanya, namun dirinya sanggup menangkap garis besar intisarinya. Pria itu menyahut ramah, "Baiklah, silakan beristirahat dengan nyaman."
Encrid dianugerahi kamar tidur termewah di dalam kompleks kastel milik sang lord. Pemuda itu turut meminjam fasilitas lapangan latihan pribadi milik sang penguasa kota. Edin mendambakan untuk membuktikan dan memamerkan kapasitas keahliannya. Dalam satu sudut pandang, watak kepribadiannya memiliki kemiripan dengan mendiang ayahnya, Count Molsan.
'Namun pemuda ini memahami arah jalur yang benar.'
Encrid tenggelam ke dalam perenungan batin bahkan tanpa perlu menghunus bilah pedangnya. Sungguh menggelikan—pada akhirnya segala hal di dunia ini selalu bermuara pada hakikat ilmu pedang.
'Kondensasi pemadatan.'
Ini berpusat pada seni menunggu momentum yang tepat. Bagaimana jadinya jika kau menyuntikkan konsep kondensasi ke dalam teknik ledakan akselerasi satu titik? Tekan dan tahan, lalu lepaskan seketika.
Menunggu momentum emas yang dipastikan bakal tiba suatu saat nanti.
'Lantas bagaimana jika aku menciptakan momentum emas itu menggunakan tanganku sendiri?'
Edin baru saja mengeksekusi hal tersebut. Sepanjang mengelola tata kota Cross Guard. 'Menunggu membawa kalkulasi ilmu pedang yang matang.'
Menghantam sasaran mengandalkan bilah pedang yang terkondensasi padat dan berkecepatan tinggi.
Sebuah pergerakan yang teramat sederhana. Ini adalah gaya ilmu pedang pribadiku; aku cukup menyuntikkannya masuk ke dalam formasi teknik Kilatan (Flash) milikku.
Tepat setelah dirinya menuntaskan sesi perenungan ilmu pedang dan melangkah kembali ke kamarnya, dua sosok wanita tampak tengah berdiri menunggu tepat di depan pintu kamar Encrid.
Satu adalah sang pemilik helaian rambut pirang keemasan dan sepasang mata hijau zamrud; sedangkan yang lainnya adalah sesosok wanita yang memiliki helaian rambut pirang pudar. "Aku baru saja menangkap basah wanita ini tengah berusaha menyusup masuk ke dalam kamar tidur pria asing tanpa izin," lapor Shinar dingin.
"Kau sendiri sedari tadi telah berada di dalam kamar tidur tersebut," timpal sang wanita asing dengan nada datar.
Shinar dipastikan telah menunggu di dalam kamar tidurnya sejak awal. Itu bukanlah perkara besar yang perlu diperdebatkan.
"Aku memang tidak mengetahui siapa nama aslimu, namun aku mengetahui dengan sangat jelas siapa dirimu," ujar Encrid sembari melangkah mendekat.
Tinggi pandangan mata sang gadis nyaris hanya setinggi dada bidang milik Encrid. Pemuda itu memang bukan sosok ksatria yang berperawakan raksasa. Sang gadis mendongakkan kepalanya demi menatap lurus ke arah sepasang matanya.
Rupanya bukan hanya sang putra saja yang mewarisi kemiripan wajah sang ayah.
"Tolong bawalah Edin bersamamu."
Gadis ini adalah putri kandung dari mendiang Count Molsen.
Sosok adik perempuan yang sedari dulu dibentengi dan dilindungi mati-matian oleh sosok Edin.
Apakah mereka pernah dipertemukan sekali di masa lampau, kala gadis ini menyamar mengenakan setelan pakaian pria?
Sembari berdiri tegak, sang gadis menuturkan kembali seluruh kurun waktu yang telah mereka lalui bersama sepanjang masa pelarian. Kisah-kisah kala bekerja keras menjadi buruh penambang di Pegunungan Demp (Demp Mountains), diburu layaknya mangsa, hingga nyaris meregang nyawa kala mengulurkan tangan membantu orang lain.
Edin sama sekali tidak sekadar berkeliaran tanpa arah. Dia telah menjelajahi dan menyaksikan denyut nadi dunia nyata.
Kerajaan Naurilia dan Aspen, daratan benua, dua negara kota otonom yang mendewakan kesucian agama dan hegemoni perdagangan; kerajaan kecil di ujung wilayah barat yang bertahan hidup murni berkat penjagaan satu ksatria tunggal; serta Imperium agung di timur hingga ke perbatasan wilayah selatan.
Encrid menyimak seluruh penuturan tersebut sembari berdiri mematung.
Itu adalah sebuah kisah perjalanan hidup yang teramat sangat menarik.
Kisah tersebut turut mengonfirmasi kebenaran dari dugaan taktisnya. Edin adalah sesosok pria yang tengah dilanda dahaga membara demi melepaskan segenap kapasitas ilmu yang bersemayam di dalam raganya.
"Kita selalu mengalami krisis kekurangan pasokan talenta berbakat. Aku sendiri saat ini tengah setengah mati mendambakan kehadiran orang-orang pintar." Demikianlah keluhan yang selalu dilontarkan oleh Krais setiap hari.
Pria bermata besar itu kerap melontarkan candaan bahwa andai dirinya dibekali dua orang bawahan tambahan yang otaknya sama encernya dengan dirinya, dia sanggup menaklukkan seisi daratan benua.
Maka jika aku memboyong sosok Edin pulang bersamaku, apakah itu mengindikasikan bahwa dirinya bakal sanggup menaklukkan separuh daratan benua? Encrid telah memutuskan untaian kalimat apa yang bakal dia lontarkan kepada Krais kala dirinya tiba di markas garnisun nanti.
"Edin sama sekali tidak perlu terus terbelenggu hidup dalam persembunyian murni demi melindungi keselamatanku. Jika memang mutlak dibutuhkan, aku rela memikul seluruh tanggung jawab atas dosa-dosa kejahatan ayahku dan meregang nyawa di tiang gantungan."
Gadis ini pun dibekali oleh ketajaman otak yang luar biasa.
Maksud dari ucapannya adalah dirinya bersedia menyerahkan dirinya ke hadapan keluarga kerajaan Naurilia sebagai putri sang pengkhianat demi menghadapi maklumat eksekusi mati.
Membiarkan sosok sang kakak terbebas murni dari jeratan masa lalu.
Sepasang kakak beradik yang teramat luar biasa dan memikat. Kenyataan ini turut menegaskan fakta bahwa seluruh pencapaian taktis yang diraih oleh Edin di kota ini bukanlah murni murni hasil pemikirannya seorang diri.
Encrid merevisi kembali kalimat yang bakal dia sampaikan kepada Krais nanti.
'Kau tempo hari tidak sedang berencana menaklukkan seisi benua murni lewat membuka panggung salon kecantikan, kan?' Ya, mari kita rangkai kalimatnya seperti itu.
Bukan sekadar separuh benua, melainkan menaklukkan seisi daratan benua secara mutlak.
Keesokan paginya, Edin melangkah menemuinya.
"Apakah Anda telah melupakan siapa sosok ayah kandungku yang sebenarnya?"
Pemuda itu melontarkan pertanyaannya secara tiba-tiba tanpa basa-basi.
"Tentu saja aku tidak lupa," sahut Encrid tenang.
Hari ini pun, ketiga rekan dari ras yang berbeda tengah mengamati interaksi kedua manusia tersebut dengan penuh minat.
"Keberadaanku dipastikan bakal memicu prahara politik yang besar."
Lingkaran hitam pekat tampak membayang di bawah kelopak matanya, dan kulit wajahnya terlihat kering—menandakan bahwa dirinya telah terjaga semalaman suntuk tanpa tidur.
Encrid menganggukkan kepalanya santai.
Siapa pun manusia normal dipastikan bakal merumuskan kesimpulan yang serupa. Encrid membeberkan solusinya.
"Krais yang bakal membereskan seluruh urusan itu nanti." Pemuda itu bertindak murni setia mengikuti kehendak hatinya.
Urusan bersih-bersih birokrasi selalu bisa dilemparkan kepada orang lain.
Dia telah menyerap doktrin tersebut kala dirinya menyambangi Serikat Gilpin (Gilpin Guild) di masa lampau, dan dia mengeksekusi hal serupa kala berhadapan melawan sang Salamander purba, di masa-masa kala kondisi Shinar belum diketahui pasti.
Dan detik ini situasinya sama persis.
Encrid menyukai kepribadian pemuda ini.
Hanya sebatas itu saja.
Tidak, lebih tepatnya pemuda itu menyukai integritas dari kedua kakak beradik tersebut.
"Saatnya tiba bagimu untuk dipertemukan dengan sesosok pria yang menyimpan impian gila ingin menaklukkan seisi daratan benua."
Encrid berujar mantap, dan Edin menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata biru milik Encrid untuk beberapa saat.
Dia sempat mendengar celotehan aneh perihal menaklukkan benua atau semacamnya, namun pemuda itu memilih untuk mengabaikannya dan menyahut mantap.
"Aku adalah putra kandung dari seorang pengkhianat." "Setidaknya julukan itu berkali-kali lipat jauh lebih keren dibanding julukan 'pemikat hati wanita'." Encrid melontarkan sebaris lelucon santainya.
Dan demikianlah, sepasang kakak beradik Molsen resmi menggabungkan diri ke dalam rombongan perjalanan.
* * *
"Omong-omong, kenapa sang komandan masih belum juga kunjung tiba?"
Sang kurir utusan resmi kerajaan melontarkan pertanyaannya setelah menunggu selama satu hari penuh di ruang komando. Pria itu telah menikmati santapan lezat dan tidur dengan sangat nyenyak, namun sosok Tuan Encrid sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
"...Kukira dia bakal segera tiba. Dia pasti akan datang. Dia bagaimanapun juga bukanlah sosok seperti Ragna. Mungkinkah pria itu tersesat di jalan?" Krais sendiri sama sekali tidak memiliki banyak alasan untuk membela diri.
Dia tempo hari murni hanya menginstruksikan pemuda itu untuk menghabiskan waktu paling lama setengah hari demi menginspeksi kawasan kota benteng. Masalah gila macam apa sebenarnya yang baru saja diperbuat oleh komandannya di luar sana?











