Eternally Regressing Knight

Bab 847: Inspeksi

3588 Kata

Bab 847: Inspeksi

"Omong-omong, di mana keberadaan Tuan Encrid, sahabat karib Yang Mulia Raja, sang pembantai iblis, pahlawan agung kerajaan, pelindung benteng Border Guard, sang ksatria iblis, pemikat hati wanita, sekaligus komandan tertinggi Ordo Ksatria Gila (Madmen Knight Order)?" tanya sang kurur utusan kerajaan.

Krais menatap ke arah sang kurir yang tengah terengah-engah mengatur napasnya setelah memuntahkan rentetan gelar panjang tersebut dari seberang meja, lalu membatin, 'Apa pria ini tidak merasa kehabisan napas?'

Terselip beberapa julukan aneh di dalam daftar tadi yang dipastikan tidak bakal disukai oleh sang komandan.

Dan gelar 'Pembantai Beelrog' rupanya masih belum dimasukkan ke dalamnya.

Apakah saat ini memang belum saatnya untuk mempublikasikan pencapaian tersebut ke khalayak umum?

Kemungkinan besar memang demikian.

Jika mereka harus bertempur hidup-mati melawan pihak kerajaan selatan, bukanlah langkah yang bijak untuk membeberkan seluruh kartu as kekuatan militer mereka sejak awal.

Pada hakikatnya, genderang perang selalu bermula bahkan jauh sebelum bentrokan bilah pedang baja meletus di medan laga.

'Sembunyikan kapasitasmu sendiri.'

Dan pahami betul kapasitas musuhmu.

Wilayah selatan adalah sebuah gunung berapi aktif yang sanggup meletus kapan saja.

Raja mereka selalu gemar mencari perkara dan memicu provokasi, dan teritorial Demon Realm pun membentang bersinggungan di antara perbatasan kerajaan Naurilia dan Lihin-Stetten.

'Lantas apakah kobaran perang ini memang sebuah keniscayaan yang mustahil dihindari?'

Ataukah ini murni merupakan sebuah konspirasi yang sengaja dirancang oleh pihak tertentu?

Dari sudut pandang kalkulasi politik, memang sangat tepat untuk melabelinya sebagai kegilaan yang tidak masuk akal persis seperti yang disuarakan oleh Raja Krang, namun Krais bukanlah seorang negarawan.

Lebih tepatnya, pria bermata besar itu sama sekali tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang politisi.

Oleh karena itu, dia mencoba membayangkan sosok pria yang kini bertakhta sebagai raja penguasa wilayah selatan.

Apa sebenarnya hal yang paling didambakan oleh pria tersebut?

'Apakah dia mendambakan penyatuan seluruh daratan benua di bawah panji kekuasaannya? Tak ada yang tahu pasti.'

Sangatlah sia-sia untuk menerka isi kepala seseorang yang belum pernah kau temui secara langsung.

Dia murni hanya sanggup menebak arah ambisi sang lawan.

Ada segelintir orang yang rela mempertaruhkan segenap eksistensi hidup mereka murni demi menggapai impian mereka.

Krais telah menyaksikan sosok manusia berjiwa semacam itu tepat di sampingnya setiap hari.

'Jika ambisi pria itu bertolak belakang dari impian sang komandan.'

Terlepas dari apakah impian itu benar ataukah salah, bahkan andai jutaan nyawa manusia harus meregang nyawa di dalam prosesnya hingga daratan benua terjerembap ke dalam era penderitaan abadi...

'Jika mereka menginginkannya, mereka bakal terus mendesak maju. Begitulah hakikat bangsa manusia.'

Demikianlah kesimpulan batin yang dirumuskan oleh Krais.

Ini adalah sebuah perang kolosal yang sangat dipengaruhi oleh kehendak pribadi sang raja selatan.

Itulah dugaan terkuat yang dia yakini.

"Kala kau bertemu dengannya nanti, tolong panggil saja dirinya sebagai Tuan Encrid. Aku belum pernah sekali pun melihatnya tersenyum senang setiap kali mendengar julukan 'pemikat hati wanita'."

"Benarkah demikian?"

"Sang komandan saat ini tengah melangsungkan agenda inspeksi ke lapangan."

Krais berujar santai sembari menyesap secangkir teh hangatnya.

Seberkas ketenangan batin terpancar teramat luwes dari setiap gestur tubuh Krais.

Amukan sang Binatang Gaib Salamander purba sempat meluluhlantakkan wilayah ini tempo hari, dan perkumpulan para penyihir sesat bernama Astrail telah menargetkan kehancuran kota benteng ini.

Hampir tak ada seorang warga pun yang tidak mengetahui rentetan peristiwa mencekam tersebut.

Banyak di antara mereka yang menyaksikan jalannya pertarungan hidup-mati itu menggunakan mata kepala mereka sendiri.

Apakah mereka merasa sedemikian terharunya hingga menggubah bait-bait lagu pujian kepahlawanan?

Krais sendirilah sosok di balik layar yang telah menyewa jasa beberapa penyair keliling (bard) tersebut.

'Masyarakat sipil saat ini pasti tengah dilanda kecemasan yang mendalam.'

Itu adalah sebuah reaksi psikologis yang sangat alami.

Betapa pun amannya situasi saat ini, ada banyak kepala keluarga yang menyaksikan kecamuk pertempuran tersebut sembari mendekap anak-anak, istri, serta orang tua mereka di belakang punggung mereka.

Krais menilai bahwa sebaris sentuhan ketenangan yang nyata teramat mutlak dibutuhkan saat ini.

Dan langkah terbaik yang paling efektif adalah dengan mengutus sosok Encrid berkeliling menyapa warga kota.

Sama sekali tak ada metode yang jauh lebih ampuh selain memperlihatkan langsung kepada segenap penduduk kota perihal siapa sosok pelindung sejati yang membentengi keselamatan mereka.

Jika pemuda itu melangkah melintasi jalanan kota dan singgah di beberapa pos benteng, sebagian besar warga bakal langsung merasa tenang murni lewat menyaksikan sosoknya.

Rasa aman dan tenang itu bakal menyebar cepat dari mulut ke mulut, mengembalikan stabilitas moral ke seisi penjuru kota benteng.

Demikianlah kalkulasi psikologis yang dirancang oleh Krais.

Dan kalkulasi pria bermata besar itu hampir tidak pernah meleset.

"Ada banyak kewajiban yang wajib dituntaskan berlandaskan berbagai macam pertimbangan," ujar Krais tanpa perlu membeberkan penjelasan detailnya.

Sang kurir kerajaan kemungkinan besar memang tidak diinstruksikan untuk menuntut pergerakan pasukan secara tergesa-gesa saat ini.

Alasan tunggal mengapa pria itu tetap bertahan di ruangan ini murni demi menyampaikan amanat lisan Raja Krang secara tatap muka langsung kepada sang komandan.

"Aku mengerti," sang kurir menganggukkan kepalanya paham.

Krais mengalihkan pandangan matanya menatap ke luar jendela kaca.

Hamparan tanah garapan yang baru saja dibuka, serta segenap masyarakat yang bermukim damai di atasnya.

Jauh di balik bingkai jendela, terbentang rumah-rumah warga, tanah subur, serta denyut kehidupan kota di mana orang-orang menggantungkan napas mereka.

'Prahara perang.'

Daratan benua ini memang selalu berada dalam kobaran api peperangan.

Baru-baru ini mereka sempat terlibat dalam pertempuran sengit melawan kerajaan Aspen di seberang perbatasan.

Gesekan-gesekan militer skala lokal melawan pihak kerajaan selatan pun meletus tanpa henti.

'Apakah pertumpahan darah memang benar-benar mutlak dibutuhkan?'

Tidakkah penentuan pihak pemenang sanggup diputuskan melalui metode lain yang lebih beradab?

'Sebagai contoh, bagaimana jadinya jika mereka saling mengadu keahlian berdansa di atas panggung salon kecantikan?'

Jika kompetisi semacam itu dinilai terlalu sepihak, tidakkah mereka bisa menyepakati beberapa cabang perlombaan seni lainnya?

Itu murni hanyalah sebaris perenungan konyol yang sia-sia.

Kau mustahil sanggup memperebutkan hegemoni kekuasaan sebuah imperium mengandalkan hal-hal semacam itu.

'Namun meski begitu...'

Bagaimana dengan nasib jutaan nyawa manusia yang harus meregang nyawa di dalam kancah perang?

Pasokan sumber daya alam memang sangat terbatas, dan jika satu orang kenyang, maka orang lain dipastikan bakal kelaparan.

Dia memahami betul hukum rimba tersebut.

Itu adalah prinsip dasar kehidupan yang telah dipelajari oleh Krais sejak masa kanak-kanaknya.

'Lantas apakah perang adalah satu-satunya jawaban mutlak?'

Pria bermata besar itu enggan menganggukkan kepalanya setuju.

Meskipun itu adalah fakta kelam yang telah dia ketahui sejak lama.

'Tampaknya diriku saat ini pun telah menjejakkan sebelah kakiku ke dalam impian sang komandan.'

Ada sesosok ksatria agung yang mendambakan berakhirnya seluruh prahara perang dan musnahnya eksistensi Demon Realm selamanya.

Ada sesosok pria berambut hitam yang bercita-cita ingin menjalani hidup layaknya lakon utama di dalam kidung balada kepahlawanan.

Krais mengenal sosok pria berjiwa murni tersebut dengan sangat baik.

Itulah sebabnya mengapa meskipun rasa cemas membuncah di dalam dadanya kala membayangkan kata 'perang', dirinya tidak bakal membiarkan jiwanya terombang-ambing dan goyah begitu saja.

'Tidak, bahkan andai diriku sempat goyah sesaat, asalkan aku tidak sampai ambruk tumbang, bukankah hal itu sudah cukup baik?'

Di tengah perenungan batinnya yang mendalam.

"Aku akan menunggu di sini," suara sang kurir memecah lamunan singkatnya.

Mengalihkan pandangan matanya dari jendela kaca kembali menatap lurus ke depan, Krais menyahut ramah, "Silakan duduk bersantai. Beliau dipastikan bakal tiba di ruangan ini sebelum hari berganti malam."

Raut wajahnya masih memancarkan aura ketenangan yang teramat matang.

Sang kurir menatap ke arah Krais dan berdecak kagum di dalam relung hatinya.

Pria perwira ini bahkan sama sekali tidak bergeming sedikit pun kala mendengar kata 'perang' ataupun pergerakan masif divisi angkatan perang wilayah selatan.

Tentu saja realitas yang sesungguhnya agak sedikit berbeda.

Krais saat ini tengah berjuang sekuat tenaga demi meredam gejolak kecemasan yang mendidih di dalam relung dadanya.

'Kurasa tidak masalah andai aku sempat ambruk sekali, asalkan diriku sanggup bangkit berdiri kembali,' batinnya melanjutkan alur pikirannya yang santai.

Nurat yang menyadari kecemasan batin yang tengah dirasakan oleh sang kekasih mengamatinya lekat-lekat dari balik daun pintu.

Kala sang kurir berpamitan pergi nanti, pria itu dipastikan bakal kembali melontarkan lelucon iseng perihal niatnya untuk melarikan diri dari markas.

Sosok kekasihnya adalah sesosok pilar kokoh yang sanggup bertahan memikul beban murni lewat melontarkan kelakar-kelakar semacam itu.

Nurat memahami betul tabiat pria tersebut.

Itulah sebabnya mengapa bagi dirinya, sangatlah wajar jika sang kurir memamerkan ekspresi penuh kekaguman kepada Krais.

Jika orang awam menatap sosok Encrid dan merasa tenang sembari melabelinya sebagai seorang pahlawan sejati, maka Nurat melabeli sang kekasih sebagai pahlawan hidupnya dan menghormatinya sepenuh jiwa.

Sementara itu di belahan wilayah lain.

"Hei bocah tengil—bukan, kau sekarang sudah resmi menjabat sebagai komandan ksatria tertinggi, kurasa aku sudah tidak bisa lagi berbicara sembarangan kepadamu seperti dulu."

Kota benteng Martai dulunya merupakan kota tetangga yang berbatasan langsung dengan benteng Border Guard sekaligus menjadi simbol dari perebutan hegemoni kekuasaan melawan kerajaan Aspen.

Kini kota tersebut telah sepenuhnya ditundukkan oleh kerajaan Naurilia dan berubah menjadi salah satu kota benteng penyangga utama bagi komando Border Guard.

Sosok penguasa pengelola kota tersebut adalah Torres, seorang pria tangguh yang dulunya merupakan salah satu anggota kebanggaan dari korps Border Guard.

Seorang petarung veteran yang sangat mahir memanipulasi teknik menyembunyikan belati di balik lipatan lengan baju yang dikenal sebagai Hide-Knife.

Namun saat ini, siapa pun dipastikan bakal sepakat bahwa pria itu telah teramat sangat pantas untuk menyandang gelar sebagai seorang bangsawan penguasa kota.

Tubuhnya telah mulai berisi makmur, serta dirinya kini telah dikaruniai oleh seorang istri yang setia dan seorang anak.

"Bicaralah dengan santai seperti biasa padaku," ujar Encrid ramah.

"Apa kau benar-benar tidak keberatan?"

"Aku jauh lebih mengingat sosok Torres sang Jagal Perbatasan (Torres the Slaughterer of the Frontier), bukan Torres yang berperut buncit."

Mendengar lelucon santai yang dilontarkan tanpa beban tersebut, Torres menyunggingkan seringai lebarnya.

Lidah tajam milik bajingan ini rupanya sama sekali belum berubah.

"Jadi perkara apa sebenarnya yang membawamu berkunjung ke kota terpencilku ini?"

"Jalan-jalan santai (piknik)."

"Momen ini sejatinya bakal menjadi sebuah kencan romantis andai murni hanya kita berdua yang melangkah bersama," celoteh sang putri elf dari belakang punggungnya.

Pandangan mata Torres seketika teralih menatap lurus ke arah sang putri elf.

Pria itu bertanya-tanya apakah gadis jelita ini adalah sosok komandan kompi elf yang sama persis seperti yang dia kenal tempo dulu.

'Watak kepribadiannya tampaknya telah melunak cukup banyak.'

Gadis itu memang kerap melontarkan lelucon di masa lalu, namun tampaknya kebiasaan manjanya saat ini terasa kian berlebihan.

Yah, dipastikan ada segudang dinamika hidup yang telah terjadi sepanjang masa-masa kala dirinya tidak bertemu dengannya.

Torres adalah seorang pria dewasa yang matang.

Dia paham betul bahwa setiap orang memiliki latar belakang perjuangan hidup masing-masing.

"Maukah kau menikmati segelas minuman bersamaku?"

Seorang kawan seperjuangan lama.

Mereka pernah berdiri berdampingan menumpahkan darah di medan perang yang sama.

Itulah alasan tunggal mengapa Encrid merasa teramat sangat nyaman kala berbincang bersama pria ini.

"Dengan senang hati."

Dia sejatinya bukanlah tipikal pria yang gemar menenggak minuman beralkohol, namun dia tahu betul bagaimana cara mengangkat gelas demi menghormati seorang sahabat lama.

Minuman yang disajikan bukanlah minuman keras yang membakar tenggorokan.

Istri Torres secara pribadi membawakan sebotol anggur berkualitas lalu menuangkannya ke dalam cawan mereka.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa sang istri adalah putri kandung dari seorang maestro peracik anggur ternama.

Cita rasa anggur tersebut benar-benar teramat luar biasa.

Tingkat keasaman dan sepatnya terasa sangat seimbang, dan aroma buah-buahan segar menguar harum di sela-sela rasa manisnya yang lembut.

Torres adalah sosok pria yang menjalankan perannya sebagai seorang penguasa kota dengan penuh tanggung jawab.

Dia memahami betul motif di balik kunjungan mendadak yang dilangsungkan oleh Encrid hari ini.

Pemuda itu sengaja melangkah masuk ke dalam kota sembari memamerkan paras wajahnya secara terbuka sejak awal.

Siapa pun warga yang melihatnya dipastikan bakal berbisik-bisik gembira perihal kehadiran sang komandan Ordo Ksatria Gila yang tengah menyambangi kota Martai.

Jika dibandingkan dengan segudang pencapaian kepahlawanan agung yang berhasil dia torehkan, Encrid sejatinya tergolong sangat jarang melangkahkan kakinya keluar dari markas.

'Pemuda ini pasti menghabiskan seluruh waktunya murni untuk berlatih pedang sepanjang hari.'

Dan tebakan itu seratus persen tepat sasaran.

Encrid mencurahkan sebagian besar waktunya murni untuk menggenggam bilah pedangnya, mengayunkannya ribuan kali, serta menempa ketahanan fisiknya tanpa kenal lelah.

"Nama kesatuan Jagal Perbatasan (Frontier Slaughterers) kini telah resmi menjadi bagian dari masa lalu. Pasukan itu kini telah tiada. Namun meski begitu, bagi kesatuan tempur garis depan semacam itu, nasib akhir ini adalah sebuah masa pensiun terbaik yang paling membahagiakan."

Torres, setelah membasahi bibirnya dengan menenggak tiga cawan anggur, berujar sembari mengunyah irisan kentang goreng renyah.

Divisi tempur khusus yang merepresentasikan daerah mereka layaknya Jagal Perbatasan ataupun Anjing Pemburu Abu-abu (Grey Hounds) sedari dulu selalu eksis di garis depan.

Mereka adalah barisan kesatuan darurat yang bakal dibentuk kembali dengan sangat cepat tepat setelah mereka musnah di medan laga.

"Kau pasti memahami betul apa konsekuensi dari mengemban misi-misi paling berbahaya di medan perang, bukan?" tanya Torres.

Tentu saja Encrid mengetahuinya dengan sangat jelas.

Sebuah tempat yang teramat berbahaya selalu menyimpan risiko kematian yang teramat tinggi.

Oleh karena itu...

"Nasib akhir dari kesatuan tempur semacam itu adalah musnah tanpa sisa setelah sebagian besar anggotanya tewas meregang nyawa. Lalu setelah beberapa waktu berselang, sebuah kesatuan tempur baru bakal dibentuk kembali dari awal."

Tak ada satu hal pun di dunia fana ini yang bersifat abadi.

Terlebih lagi masa hidup dari sebuah kesatuan militer yang diciptakan murni sebagai pion tumbal perang berada dalam tempo yang berkali-kali lipat jauh lebih singkat.

"Semua anugerah hidup damai ini berkat campur tanganmu," tutur Torres tulus.

Andai dirinya terus menjalani hidup seperti masa lalunya, dia dipastikan bakal meregang nyawa terkubur di dalam tanah tandus di tengah kecamuk perang.

Torres menguasai seni memanipulasi belati di balik lengan bajunya.

Atas dasar apa?

Murni demi bertahan hidup.

Dan segenap prajurit benteng Border Guard yang dulu berjuang mati-matian demi menyambung nyawa merasakan sentimen yang serupa.

Bahwa berkat kehadiran sosok pemuda ini, mereka semua telah dianugerahi sebuah kesempatan hidup baru yang teramat indah.

"Bagi seseorang yang melontarkan kalimat merendah semacam itu, barisan prajurit kotamu tampak sangat disiplin dan tangguh."

Encrid sempat mengamati barisan prajurit yang memadati lapangan latihan kala dirinya melangkah masuk ke dalam kompleks benteng kota.

"...Apakah kalimat pujian semacam itu pantas meluncur dari mulut monster sepertimu?"

Torres telah menyaksikan langsung bagaimana rupa dari divisi angkatan bersenjata tetap milik garnisun Border Guard saat ini.

Di masa lampau, kesatuan Jagal Perbatasan murni hanya merekrut prajurit-prajurit yang menyandang pangkat tinggi berlandaskan sistem kemiliteran kerajaan Naurilia.

Namun bagaimana dengan angkatan perang Border Guard saat ini?

Seorang petarung veteran berilmu tinggi yang sanggup mengibarkan namanya di seantero kota—bahkan andai namanya belum terdengar di tingkatan benua—berdiri tegak murni hanya sebagai seorang prajurit infanteri biasa di dalam barisan.

Bahkan ada beberapa prajurit yang mengantongi kapasitas setara seorang ksatria pendamping (squire) yang tersebar di berbagai sudut kompi.

'Monster macam apa sebenarnya yang tengah kau ciptakan di benteng perbatasan itu?'

Pemandangannya sedemikian mengerikannya hingga siapa pun bakal terdorong untuk melontarkan pertanyaan takjub semacam itu.

Encrid berpamitan meninggalkan sang kawan seperjuangan lamanya lalu melangkah bertolak meninggalkan kota Martai.

"Demi sang ksatria agung!"

Torres mengangkat cawan anggurnya tinggi-tinggi ke arah punggung pemuda yang tengah melangkah pergi.

Tepat di belakang punggungnya, segenap jajaran pasukan keamanan kota Martai yang merupakan mantan prajurit kesatuan Jagal Perbatasan melancarkan gestur penghormatan militer resmi.

Mereka menempelkan telapak tangan kiri mereka tepat di pinggang sembari menundukkan kepala mereka dengan khidmat.

Mereka semua adalah barisan prajurit yang garis takdir hidupnya telah diubah total oleh eksistensi pria berambut hitam tersebut.

Hari itu dinaungi oleh bentangan kubah langit yang teramat tinggi dan cerah.

Sebuah hari yang dipadati oleh sedikit gumpalan awan putih serta hembusan angin sejuk yang berhembus lembut.

Atmosfer udara dipenuhi oleh kesegaran yang teramat murni.

"Hari yang benar-benar sangat indah," puji Shinar senang.

Sang Dragonkin murni mengamati seluruh interaksi tersebut dalam keheningan tanpa melontarkan sepatah kata pun. Sang katak Luagarne yang sedari tadi menggembungkan kedua pipinya berujar ceria, "Aku turut merasa sangat bahagia untukmu."

Lantas apakah palung hati milik Encrid merasakan hal yang berbeda?

Tentu saja sama persis.

Pemuda itu merasa teramat sangat bahagia.

Dia baru saja menyaksikan lembaran hidup dari orang-orang yang berdiri damai di belakang punggungnya mengalir megah layaknya sebuah aliran sungai yang membanggakan.

Agenda inspeksi ini sejatinya dirancang demi menyuntikkan rasa aman kepada segenap warga kota, namun pada kenyataannya palung hati Encrid sendirilah yang kini tengah mekar mengembang layaknya sepasang pipi gembung sang katak cerdas.

"Ya, ini adalah hari yang teramat menyenangkan."

Tepat saat rombongan mereka melangkah keluar meninggalkan batas gerbang kota, seekor kuda liar berlari kencang menerjang mendekat dari arah jalan setapak yang aman.

Hiiiii-ring!

Itu adalah seekor kuda gagah yang memiliki sepasang bola mata dengan warna yang saling bertolak belakang (belang).

Encrid telah menyematkan nama 'Indomitable (Pantang Mundur)' pada kuda tersebut, namun kawan-kawannya selalu memanggilnya dengan julukan 'Odd-eye (Si Mata Belang)'.

"Aku sama sekali tidak melupakanmu. Sungguh, aku tidak lupa," ujar Encrid ramah sembari membelai surai leher sang kuda.

Odd-eye berulang kali mencoba menggigit telapak tangan Encrid.

Suara gemeretak giginya yang mengatup rapat terdengar cukup mengintimidasi.

"Sangat unik dan luar biasa."

Fokus ketertarikan milik sang Dragonkin seketika meluas mencakup eksistensi sang kuda liar.

Bagi sosoknya, pria berambut hitam ini beserta seluruh hal yang berputar di sekelilingnya adalah sebuah rangsangan batin yang teramat memikat.

Andai ada seorang cendekiawan dari Imperium ataupun kerajaan besar yang meneliti bangsa Dragonkin menyaksikan fenomena ini, mereka dipastikan bakal terbelalak takjub hingga mulut mereka ternganga lebar saking herannya.

Seekor Dragonkin pada hakikatnya adalah sesosok penonton abadi yang mengamati panggung dunia dengan kacamata yang teramat dingin dan tanpa emosi.

Itulah gelar kehormatan yang disematkan kepada ras mereka, sebuah nama lain yang melekat abadi pada kaum mereka.

Dan kini sang Dragonkin legendaris...

"Apakah bangsa manusia normal memang selalu digigit oleh kuda tunggangan mereka?"

...bahkan memperlihatkan rasa ingin tahu yang tulus terhadap tingkah laku seekor kuda.

Seekor binatang perkasa yang berhasil menaklukkan garis darah monster buas di dalam raganya.

Tingkat kemurnian kehendak Will yang bersemayam di dalam jiwa binatang ini berada di tingkatan yang teramat tinggi.

"Tidak, manusia normal tidak digigit seperti ini. Ini adalah bukti tanda kasih sayang murni darinya. Hmm."

Tepat saat Encrid melontarkan pembelaannya, sang kuda seketika menancapkan gigitannya tepat di punggung tangannya.

Bekas jejak gigitan gigi terpampang teramat nyata di atas kulitnya.

"Kuda ini benar-benar menggigitmu," ucap sang Dragonkin sembari membaca alur kesadaran batin sang kuda.

Jika suatu entitas dibekali oleh keteguhan kehendak Will yang jernih, sama sekali tak ada alasan bagi sang Dragonkin untuk tidak sanggup membaca isi pikirannya, bahkan andai entitas itu berwujud seekor binatang.

'Rasa frustrasi dan sesak.'

Rasa rindu yang membuncah.

Emosi-emosi murni semacam itulah yang tertangkap oleh indranya.

Jika emosi gelisah tersebut diibaratkan sebagai sebutir noktah kecil, maka gelora kebahagiaan kala berhasil berjumpa kembali dengan pemuda ini tak ubahnya sebongkah matahari raksasa yang menelan seluruh noktah kegelisahan tersebut tanpa sisa.

"Kenapa punggungmu terlihat kian memar dan terluka parah seperti itu?" tanya Encrid prihatin kala melihat seberkas luka lebam biru keunguan yang terukir di punggung Odd-eye.

Pembengkakan di area tersebut pun tampak kian parah.

Hiiiii-ring!

Odd-eye murni mengibaskan tubuhnya santai seolah cedera tersebut bukanlah perkara besar.

"Mari kita melangkah bersama."

Encrid mengajak serta Odd-eye sebagai rekan perjalanannya lalu bertolak melangkahkan kaki menuju ke kota Rockfreed.

Di benteng kota tersebut, pemuda itu menemui sang penguasa kota sekaligus pemimpin serikat saudagar kaya, Lord Leona.

"Kehormatan besar apa yang membawa komandan agung sudi melangkahkan kakinya ke tempat terpencilku yang sederhana ini?"

Murni menilik dari kepiawaiannya dalam melontarkan sindiran sarkasme yang manis, Leona adalah sesosok wanita yang dibekali oleh talenta yang teramat luar biasa.

"Senang bisa berjumpa kembali denganmu."

Mendengar respons tenang yang dilontarkan oleh Encrid, Leona menyunggingkan senyuman manisnya.

Pria berambut hitam ini memang selalu bersikap sangat keras kepala dan sesuka hatinya.

Yah, watak kepribadian semacam itulah yang justru memancarkan pesona karisma yang teramat memikat.

Andai pria perkasa ini bukanlah sosok komandan tertinggi Ordo Ksatria Gila, melainkan murni hanya seorang prajurit reguler biasa...

'Aku dipastikan bakal berusaha sekuat tenaga untuk menggoda dan menaklukkan hatinya.'

Sang Dragonkin membaca alur pemikiran batin yang melintas di kepala sang wanita saudagar.

"Wanita ini tengah menyimpan niat tersembunyi yang licik. Dia tengah bernafsu ingin mengincarmu."

Mendengar celetukan polos yang meluncur tanpa sensor tersebut, sepasang pipi Leona seketika memerah merona, dan sebelah alis mata milik Shinar seketika terangkat berkedut tajam.

Bukanlah fenomena yang lumrah bagi sebelah alis mata seorang putri elf untuk berkedut menahan jengkel.

"Ke mana sebenarnya arah pandangan matamu tengah membidik?! Sang Bunga Emas yang berstatus sebagai tunangan sahnya tengah berdiri tegak di tempat ini!"

Sang putri elf sama sekali tidak merasa malu sedikit pun kala melabeli dirinya dengan gelar kehormatan tersebut.

Leona menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum anggun.

"Aku sama sekali tidak bermaksud demikian."

Kota peradaban bangsa elf adalah salah satu mitra dagang utama yang paling berharga bagi serikat saudagar miliknya.

Berbagai macam komoditas magis yang diproduksi oleh para pengrajin elf selalu menjadi primadona yang diburu di seantero daratan benua.

Hubungan kerja sama di antara kedua belah pihak selalu terjalin dengan sangat harmonis di ranah yang tidak terlihat oleh mata publik.

Itu adalah sebuah relasi akrab di mana dirinya sanggup menganggap semprotan protes yang dilontarkan oleh Shinar murni sebagai sebaris candaan hangat lalu mengabaikannya.

"Pesona ketampanan terkutuk milik pria inilah yang menjadi biang keladi dari seluruh masalah ini," gumam Shinar sembari berdecak lidah.

Bukanlah pemandangan yang mudah dijumpai di dunia ini untuk menyaksikan sesosok putri elf berdecak lidah menahan kesal.

Setelah momentum tersebut, percakapan mereka murni berlanjut menjadi obrolan santai yang hangat.

Jajaran petinggi benteng kota Rockfreed sempat dilanda kecemasan maut pasca-bencana tempo hari, namun detik ini mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri kala sang pahlawan Encrid dan bangsawan penguasa kota mereka melangkah beriringan menyusuri jalanan kota dengan penuh keakraban.

"Kunjungan mendadakmu ke kota ini pasti merupakan ide brilian yang dirancang oleh Krais, bukan? Otak pria bermata besar itu benar-benar bekerja dengan teramat luar biasa."

Setelah menuntaskan perbincangan singkat bersama Leona, Encrid melanjutkan rute perjalanannya melangkah menuju ke benteng kota Cross Guard.

Mengingat dirinya telah terlanjur melangkah keluar melakukan inspeksi.

Dan di dalam benteng kota yang baru saja dia pijak tersebut, pemuda itu dipertemukan dengan sesosok figur yang teramat sangat tak terduga.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.