Bab 846: Diriku Hari Ini Lebih Baik dari Diriku yang Kemarin
Ilmu pedang yang tempo hari dipamerkan oleh sang Ferryman—sebuah ilmu pedang khusus yang dirancang untuk membantai ras raksasa—tampak sangat berbeda di permukaan, namun esensi intinya sama persis dengan konsep ilmu pedang Pusaran (Vortex).
'Menghimpun seluruh daya kekuatan fisik dan pancaran kehendak Will lalu membenamkannya ke dalam satu sabetan tebasan tunggal.'
Tentu saja terdapat perbedaan mendasar kala kau mencermatinya secara lebih mendalam.
Jika ilmu pedang Vortex bertumpu pada daya rotasi putaran tubuh, maka teknik yang dipamerkan oleh sang Ferryman berpusat pada daya gravitasi momentum kejatuhan.
'Memanfaatkan elastisitas otot dan bobot massa dari seluruh raga tubuh.'
Kemungkinan besar pendekar yang dulu menjadi pengguna utama dari ilmu pedang ini mengenakan setelan baju zirah pelat baja gelap (dark steel) yang teramat berat di sekujur tubuhnya.
Jika bukan karena faktor itu, mereka dipastikan menerapkan metode khusus lainnya.
'Sebuah teknik pedang yang murni hanya memiliki makna destruktif andai kau sanggup melipatgandakan bobot massa tubuhmu.'
Gambaran visual kala sang Ferryman melompat membubung tinggi ke angkasa lalu menghunjam deras ke bawah terukir teramat jelas di dalam benak memorinya.
Pria gaib itu telah memenggal putus leher sang raksasa murni hanya bermodalkan satu hantaman tunggal tersebut.
'Bisakah diriku melipatgandakan bobot tubuhku murni menggunakan manipulasi kehendak Will?'
Hal itu kemungkinan besar bakal sangat sulit untuk diwujudkan.
Namun andai dirinya menghimpun konsentrasi kehendak Will tepat pada titik benturan sesaat lalu menghantamkannya, daya hantam yang tercipta bakal terasa teramat berat dan masif, seolah-olah bobot tubuhnya telah bermutasi menjadi berkali-kali lipat lebih padat.
Berbagai macam kilasan ide saling bertaut di kepalanya, memburu sebuah jawaban yang paling presisi.
Encrid mengerahkan daya pikirnya secara alami, seolah itu adalah sebuah kewajaran mutlak.
Di mata seorang Themares, bakat bawaan yang dimiliki oleh Encrid dalam memanipulasi raga fisiknya terasa sangat tumpul dan lamban.
Kini setelah pemuda itu resmi merengkuh tingkatan seorang ksatria sejati, sudah sewajarnya jika kapasitas fisiknya telah melompat melampaui batas manusia biasa, namun sama sekali tak terlihat adanya keistimewaan bakat yang mencolok di luar hal tersebut.
Sebagai gantinya, Encrid selalu merenung, menimbang, dan menjelajahi setiap kemungkinan secara mendalam.
Ini adalah watak kepribadian yang sedari awal memang telah berakar di dalam jiwanya, serta merupakan sebuah kebiasaan batin yang kian terasah tajam seiring berjalannya ratusan siklus pengulangan 'hari ini'.
Secara alami dia mengulang alur pemikirannya, membedah, memutilasi, dan menguji setiap hal yang pernah dia lihat, rasakan, dan alami.
'Pedang Kejatuhan (Sword of the Fall).'
Pergerakan tubuh yang dituntut oleh teknik ini dipastikan bakal sangat lebar dan masif.
Secara tak terelakkan, sebuah celah kelengahan pada kuda-kuda bertarung bakal tercipta.
Dengan asumsi bahwa dirinya bakal menerapkan Pedang Kejatuhan ini di medan laga nyata, apakah sang Ferryman—sang mahaguru pencipta ilmu pedang ini—bakal menelantarkan celah kelemahan yang sedemikian mencoloknya begitu saja?
'Mustahil.'
Itu adalah sebuah ilmu pedang yang dirajut langsung oleh seorang ksatria agung.
Mustahil ada celah kelemahan senaif itu.
Lantas bagaimana metode penyempurnaannya?
Dia telah mengantongi waktu yang lebih dari cukup untuk merenungkannya.
Demi merintis dan melahirkan sebuah gaya aliran pedang yang baru, ekspansi konsep berpikir dan wawasan visual adalah syarat mutlak yang pantang ditawar.
Encrid membuka lebar-lebar kedua matanya—bukan dalam artian fisik organ matanya, melainkan sepasang mata di dalam dimensi batinnya.
Dia pantang lupa untuk terus belajar, pantang lupa untuk terus menyimak nasihat.
Dia merangkum seluruh pemahaman yang telah dia kuasai, alami, pelajari, dan sadari, lalu menarik sebuah kesimpulan taktis yang utuh.
'Menindas musuh menggunakan tekanan gelombang Will.'
Fondasi dasar dari Pedang Kejatuhan adalah menerapkan sebuah intimidasi aura yang sanggup mengunci dan menjerat pergerakan lawan di tempat.
Dalam satu sudut pandang, konsepnya sangat serupa dengan ilmu pedang milik Aisha.
Gadis itu menjerat pergerakan lawannya menggunakan intimidasi aura Will, membatasi ruang gerak mereka, lalu menebas dan menusuk sasaran dengan leluasa.
Sebuah teknik pedang sakral yang dikenal sebagai Pedang Penahanan (Sword of Detention).
Aisha memang tidak mengayunkan bilah pedang berat (heavy sword), namun cetak biru dari formasi ilmu pedangnya memiliki karakteristik yang serupa.
'Akan sangat bermanfaat jika nanti kusarankan pada Aisha untuk turut melatih penggunaan pedang berat.'
Itu adalah sebuah poin penting yang mendadak dia sadari di tengah proses perenungannya.
Tak ada seorang pun manusia yang terlahir sempurna di dunia ini.
Terlebih lagi, sosok diriku di hari ini selalu berbeda dari sosok diriku di esok hari.
Seseorang yang terus melangkah maju hari demi hari dipastikan bakal selalu mengalami evolusi perubahan.
Andai dirinya telah memahami hal ini sejak masa-masa itu, dia dipastikan bakal membagikan segudang petuah yang jauh lebih berharga kepada Aisha.
Dia melepaskan kilasan ingatan perihal Aisha yang sempat menyusup di kepalanya lalu kembali menenggelamkan dirinya ke dalam samudra ilmu pedang.
'Prinsip dari hantaman mematikan ini memang berbeda.'
Namun apakah fondasi dasarnya turut berbeda?
Tentu saja tidak.
Encrid memadukan teknik hantaman mematikan—yakni momentum kejatuhan yang diajarkan oleh sang Ferryman—ke dalam struktur ilmu pedang Vortex miliknya.
Tepat saat teorinya telah terpatri kokoh di dalam kepalanya, saatnya tiba untuk mengeksekusi manuver tersebut menggunakan raga fisiknya.
Dan demikianlah, dirinya tengah mengayunkan telapak tangannya layaknya sebilah pedang, melatih tebasan tanpa menggenggam sebilah pedang fisik di tangannya.
"Apa yang sebenarnya tengah kau perbuat?" tanya sang Ferryman penasaran.
Kini setiap kali pemuda itu melangkah masuk ke dalam dimensi mimpi atau alam imajinasi batinnya, dia selalu langsung menenggelamkan dirinya ke dalam sesi latihan tempur tanpa melontarkan sepatah kata pun.
Perahu kayu tua itu berderit pelan dan bergoyang lembut di atas riak air sungai hitam.
Encrid sama sekali tidak memedulikannya.
"Bagaimana menurutmu?"
Pria gaib itu bertanya perihal apa yang tengah dia lakukan, namun yang dia terima justru adalah sebaris pertanyaan balik.
Pendaran cahaya dari lentera kuno yang tergantung di genggaman sang Ferryman berkedip-kedip redup dan terang secara berulang kali.
Sensasinya persis seperti sepasang mata yang tengah mengerjap takjub.
"Lumayan tidak buruk," sahut sang Ferryman meladeni rasa ingin tahunya.
Encrid menganggukkan kepalanya santai, sama sekali tidak merasa canggung.
"Lantas bagaimana dengan teknik yang ini?"
Pemuda itu kemudian mendemonstrasikan serangkaian manuver pedang baru yang dia serap dari sosok sang Dragonkin.
Fondasi utamanya berakar kokoh pada lima gaya aliran pedang pribadinya: Pemecah Ombak (Breaking Wave), Ilmu Pedang Ortodoks (Orthodox Swordsmanship), Kilatan (Flash), Pedang Kebetulan (Coincidence), serta menyempurnakan seluruhnya, teknik Pusaran (Vortex).
Di atas fondasi tersebut, dia memadukan seluruh pemahaman baru yang telah dia serap dan kuasai.
Dan sosok Encrid menikmati seluruh proses penempaan ilmu ini dengan kebahagiaan yang teramat murni, hingga ke tingkatan di mana dirinya enggan berhenti bahkan kala berhadapan langsung dengan sang Ferryman gaib yang keluar dari alam mimpinya.
"Perhatikan ini baik-baik," ujar sang Ferryman sembari menggerakkan jemarinya.
Mengikuti gestur ayunan tangan tersebut, sebilah pedang mendadak tercipta di genggaman tangan Encrid.
Sebilah pedang yang entah sejak kapan telah bersemayam mantap di telapak tangannya.
"Kala jeratan penahanan mulai mencekik lawan," lanjut sang Ferryman membeberkan ilmunya.
Encrid secara alami memperagakan teknik Pedang Penahanan (Sword of Detention), setia mengikuti bimbingan suara sang Ferryman.
Lebih presisi lagi, itu adalah titik awal peluncuran dari formasi pedang berat yang dikenal sebagai Vortex.
Sepanjang proses menghimpun tenaga, dia melepaskan intimidasi aura Will miliknya dan menindas kebebasan gerak sang lawan.
Sang Ferryman mengangkat sudut bibirnya dari balik naungan jubah gelapnya.
Beberapa serpihan kulit abu-abu yang telah mengering berjatuhan dari paras wajahnya.
Pada saat yang sama, sang Ferryman menjulurkan bilah pedang ramping menyerupai tusukan sate yang terhunus di tangannya.
Tusukan kilat yang dia lesakkan seketika melubangi dan merobek dinding penahanan Will tersebut.
'Dan pada detik yang sama dirinya melancarkan aliran pedang yang mengalir.'
Sang Ferryman tidak berhenti hanya pada tusukan belaka; dia memuntir pergelangan tangannya dan mengubah sudut kemiringan bilah pedangnya dengan luwes.
Momentum gelombang Will yang tadi dilepaskan demi mengunci lawan seketika mengalir tergelincir di sepanjang bilah pedang yang terpuntir tersebut.
Itu sangat serupa dengan konsep aliran pedang mengalir yang pernah dipamerkan oleh sang Dragonkin Themares.
Manuver itu melangkah jauh melampaui sekadar menepis serangan fisik biasa; teknik itu bahkan sanggup menepis dan membelokkan pancaran Will yang terkandung di dalamnya.
"Sebatang jarum yang runcing sanggup menembus lapisan kulit tebal sekalipun."
Untaian petuah bijak yang dibisikkan oleh sang Ferryman seketika memicu gelombang kejut di dalam kepala Encrid.
Encrid merenungkan makna di balik untaian kalimat tersebut.
'Sebatang jarum dan selembar kulit tebal.'
Bagaimana cara mencegah agar sebatang jarum tidak sanggup menembus kulit pelindungmu?
Lapisan kulitmu cukup dibuat berkali-kali lipat lebih tebal dibanding panjang jarum tersebut.
Sebaliknya, bagaimana cara menembus lapisan kulit tebal apa pun di dunia ini?
Mata jarummu wajib diasah menjadi teramat panjang dan keras.
"Manusialah yang mengendalikan sebuah ilmu pedang, kau pasti sudah memahami hakikat ini, bukan?" demikianlah petuah lanjutan yang disampaikan oleh sang Ferryman.
Encrid menganggukkan kepalanya mantap.
Sang penguasa perahu kayu di atas sungai hitam pekat itu baru saja membedah beberapa poin kunci terpenting dari hakikat ilmu pedang sejati.
Setelah menuntaskan sesi pembinaannya, sang Ferryman akhirnya membeberkan tujuan sejatinya.
"Ini adalah sebuah belas kasih."
"Ini adalah sebuah rasa iba."
"Ini adalah sebuah welas asih."
Gema suara sang Ferryman terdengar bersahut-sahutan dan bercampur baur.
Setiap lapis suara yang saling bertumpuk tersebut merepresentasikan kepribadian jiwa yang berbeda.
"Kau bakal segera menyesali mengapa dirimu tidak memilih untuk tetap terperangkap di dalam siklus hari ini selamanya," tutur sang Ferryman dingin.
Dia menegaskan bahwa dirinya sudi membeberkan ilmu pedang ini saat ini murni karena dirinya menaruh rasa iba yang mendalam kepada pemuda di hadapannya.
Encrid menangkap intisari dari penuturan tersebut lalu terdiam merenung sesaat.
'Apakah pria gaib ini bakal mengajarkan lebih banyak ilmu pedang padaku andai aku berpura-pura bersikap menyedihkan di depannya?'
Sebuah kilasan ide gila yang murni hanya sanggup dirumuskan oleh pria abnormal seperti dirinya.
Sang Ferryman, sebaliknya, sanggup membaca gejolak batin yang berputar di kepala Encrid.
Bukan karena dirinya dibekali anugerah membaca pikiran layaknya seekor Dragonkin.
Itu murni karena Encrid memasang raut ekspresi wajah yang menyingkapkan isi hatinya dengan teramat gamblang dan transparan.
Namun Encrid sama sekali tidak pernah tahu bagaimana cara bersikap menyedihkan di sepanjang lembaran hidupnya.
Dahinya mengernyit rapat.
Itu adalah proses perenungan taktis yang mendalam.
Jika harus berbicara secara teramat jujur, Encrid sejatinya sama sekali tidak mengerti mengapa sang Ferryman memandang dirinya tampak sedemikian menyedihkannya di dalam kondisi hidupnya saat ini.
Enam pilar raja iblis dari Demon Realm tengah memburu nyawanya?
Bukankah hal itu sedari awal memang merupakan hal yang paling dia dambakan?
Dirinya pun tengah memburu eksistensi mereka untuk dibantai.
Maka situasinya sama persis.
Hukum pembalasan yang setimpal.
Lantas perkara apa lagi yang perlu diratapi?
Tepat saat dirinya tengah merenungkan hal tersebut, sang Ferryman kembali membuka suaranya.
"Kau pasti telah merasakan pertanda aroma prahara perang yang kian mendekat, bukan? Sanggupkah dirimu melindungi seluruh hal berharga yang ingin kau bentengi? Apakah rasa kehilangan itu bakal tetap membiarkanmu bernapas sebagai sosok dirimu yang sekarang?"
Sang Ferryman mendadak dilanda oleh dorongan impulsif untuk mengoyak sekerat dari lembaran memorinya sendiri lalu memperlihatkannya kepada pemuda tersebut.
Dia mendambakan untuk mengajarkan kepedihan mutlak dari sebuah rasa kehilangan yang abadi.
Setelah kehilangan seluruh hal yang kau cintai dan ditelantarkan hidup sebatang kara, makna berharga apa lagi yang tersisa dari sebuah 'hari ini'?
Encrid samar-samar menangkap bayangan ilusi sesosok wanita berambut kepang yang bersenjatakan sebatang tombak di belakang punggung sang Ferryman.
Namun terlepas dari apakah dirinya sanggup melihatnya ataukah tidak, pemuda itu bersedekap dada, memeluk kedua lengan bawahnya yang kekar, lalu bertanya santai, "Apakah penampilanku saat ini benar-benar terlihat sedemikian menyedihkannya di matamu?"
Terlepas dari seluruh wejangan tragis yang dipaparkan oleh sang Ferryman, pemuda itu sedari tadi murni hanya memeras otaknya mencari cara bagaimana agar dirinya bisa tampak menyedihkan.
"...Kau ini benar-benar pria keparat yang telah gila total," sang Ferryman pada akhirnya tidak sanggup lagi menahan rasa kesalnya dan melontarkan sebaris umpatan kasar.
Encrid mengingat kembali pertemuannya bersama sang Ferryman tadi malam.
Dia memang sempat ditendang keluar dari alam mimpi tepat setelah momen tersebut, namun seluruh ilmu pedang yang berhasil dia serap sepanjang sesi tersebut sudah lebih dari cukup untuk memberinya kepuasan batin.
"Sebuah senjata berinskripsi (inscribed weapon) menyerap pancaran Will milik tuannya secara konstan. Oleh sebab itu, bilah pedangnya tidak mudah mengalami kerusakan, namun bakal jauh lebih baik andai kau merawat kebersihannya dengan penuh ketulusan."
Ting, ting!
Jauh di sudut ruangan, murid magang asuhan Eitri tengah sibuk menempa lempengan logam menggunakan palunya.
Eitri yang baru saja ditemui oleh Encrid setelah sekian lama memiliki sepasang pipi yang tampak berkali-kali lipat lebih cekung dibanding sebelumnya.
Raut wajahnya terlihat jauh lebih letih dibanding masa-masa kala dirinya dulu tengah menempa bilah pedang Dawnforged.
"Apakah kondisimu baik-baik saja?" tanya Encrid memastikan.
Rona wajah sang pandai besi mengindikasikan adanya sesuatu yang janggal.
"Semuanya baik-baik saja."
Encrid menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata milik Eitri.
Apakah sepasang mata ini adalah tatapan dari seseorang yang berada dalam kondisi baik-baik saja?
"Baru-baru ini beberapa petarung termasuk Tuan Jaxon sempat mampir berkunjung dan memesan beberapa bilah senjata baru. Tuan Krais pun telah memberiku pasokan kepingan krona yang lebih dari cukup untuk membiayai sisa hidupku selamanya."
Andai Eitri mendambakan untuk hidup bermandikan tumpukan kepingan emas, dia dipastikan tidak bakal memilih untuk menjalani rutinitas hidup seperti ini.
Dia memiliki sebuah impian luhur, dan dirinya telah berhasil menggapai impian tersebut.
Lantas apakah tersimpan seberkas kehampaan di dalam sepasang matanya?
Apakah tenaganya telah terkuras habis layaknya fenomena yang kerap melanda orang-orang yang telah berhasil menuntaskan tujuan hidup mereka?
Sama sekali tidak demikian.
Sepasang matanya masih memancarkan kilau binar yang teramat benderang.
TRANG!
Di tengah dentang suara hantaman palu milik sang murid yang menggema layaknya melodi latar belakang, sepasang mata Eitri memantulkan kobaran lidah api dari perapian tempa.
Sang maestro perajin yang telah menjadikan kobaran api sebagai sahabat karibnya di sepanjang hidupnya membelai penampang bilah pedang Dawnforged menggunakan ujung jemarinya yang kapalan.
"Pedang ini benar-benar sebilah mahakarya yang teramat luar biasa, bukan?" tanyanya bangga.
Hal itu tentu tak perlu dipertanyakan lagi.
"Tentu saja."
Eitri menundukkan kepalanya, mengoleskan minyak pelumas khusus ke bilah pedang dengan sentuhan yang dipadati oleh rasa kasih sayang, lalu memeriksa setiap lekuk engsel sambungan Dawnforged sebelum akhirnya menyerahkannya kembali ke tangan Encrid.
Gelombang hawa panas yang menyembur dari perapian tempa seketika memukul mundur hembusan angin sejuk yang menegaskan bahwa musim gugur telah resmi tiba.
Di dalam bengkel pandai besi ini, atmosfernya masih terasa sepanas musim amukan sang Salamander purba.
Dan palung hati milik Eitri pun berdegup dengan gelora yang serupa.
"Jika ada fasilitas atau material apa pun yang kau inginkan di benteng ini, kau cukup mengatakannya padaku kapan saja," pesan Encrid tulus.
Pria di hadapannya inilah sosok maestro yang telah menganugerahkan sebilah senjata berinskripsi agung ke tangannya.
Dia rela mengabulkan permintaan apa pun demi dirinya.
"Aku pasti akan menyampaikannya padamu kelak."
Eitri menyahut dengan ekspresi wajah yang teramat datar tanpa senyuman, persis seperti biasanya.
Sang pandai besi ini memang bukanlah tipikal pria yang mahir dalam memperlihatkan emosi batinnya di depan orang lain.
Sang Dragonkin Themares mengamati sosok pria yang telah menempa bilah Dawnforged tersebut dengan tatapan mata yang teramat lekat.
Themares memahami dengan sangat baik bahwa teramat jarang bagi sesuatu di dunia ini untuk sanggup memantik rasa ketertarikannya.
Seluruh lembaran tahun yang telah dia lalui di masa lampau membuktikan kebenaran hukum tersebut.
'Rupanya ada manusia hebat lainnya di tempat ini.'
Namun di ruangan ini, dia kembali menyaksikan sosok manusia luar biasa lainnya.
Seorang pria fana yang telah mencurahkan segenap eksistensi hidupnya ke dalam bidang keahliannya.
Helaian rambutnya telah mulai memutih dimakan usia, dan tampak tanda-tanda anomali di sepasang matanya.
Bagian putih matanya tampak keruh dan berkabut.
Sebuah efek samping permanen akibat hidup menatap kobaran api perapian dalam kurun waktu yang teramat lama.
Namun meski begitu, tingkat kemurnian kehendak Will yang bersemayam di dalam sepasang matanya berada di tingkatan yang teramat tinggi.
Sang Dragonkin membaca secuil dari relung batin sang pandai besi.
Pria ini sejatinya tidak mengetahui secara pasti apa objek yang sebenarnya tengah dia dambakan saat ini.
Dia murni tengah dipadati oleh gelora hasrat membara yang mendidih di dalam jiwanya.
Apa yang bakal terjadi kala gelora hasrat tersebut berhasil menemukan arah tujuannya yang sejati?
Sebuah kehendak Will dan hasrat berkemurnian tinggi selalu menjelma menjadi objek yang teramat memikat di mata seekor Dragonkin.
Meskipun kualitasnya memang wajib berada di tingkatan yang sangat langka.
'Segala keajaiban ini bermula dari sosok pria berambut hitam itu.'
Dan sang Dragonkin paham betul bahwa seluruh rentetan peristiwa ini bukanlah sekadar kebetulan semata.
Semuanya berakar dan berputar mengelilingi sosok pria bernama Encrid.
"Baiklah kalau begitu."
Tepat saat Encrid berbalik badan bersiap melangkah pergi, Eitri mendadak melontarkan sebuah pertanyaan. "Dawnforged (Tempaan Fajar), pasti ada alasan khusus mengapa kau menyematkan nama itu pada pedangmu, bukan?"
Sebilah pedang yang memancarkan kilau keagungan seolah ditempa murni dari bias sinar fajar yang menyingsing.
"Kenapa? Apa kau merasa tidak menyukai nama itu?"
"Tidak. Nama itu tetaplah sebuah nama yang teramat sangat indah."
Encrid merasa bahwa Eitri tampaknya tengah menyembunyikan sebuah rahasia darinya.
Kepekaan matanya dalam membaca detail berada jauh di luar batas normal.
Terlebih lagi setelah resmi dinobatkan sebagai seorang ksatria sejati, ketajaman panca indranya kian terasah sempurna, serta indra keenamnya pun telah mekar berkembang.
Namun pemuda itu memilih untuk tidak mendesak bertanya.
Pria itu dipastikan bakal membeberkannya sendiri kala saatnya telah tiba.
Alih-alih bersuara, sang murid magang yang sedari tadi sibuk mengayunkan palunya mendadak menghentikan pekerjaannya lalu melirikkan matanya sekilas.
Dan sang katak cerdas yang tengah mengutak-atik sebuah aksesoris di sudut ruangan turut melayangkan lirikan serupa.
"Hmm, ada apa sebenarnya ini?"
Di tengah keheningan tersebut, sesosok kurcaci melangkah masuk menginjakkan kakinya ke dalam bengkel pandai besi.
Seraut wajah yang teramat familier.
Encrid menyisir lembaran memorinya lalu berucap pelan, "Mata Busuk (Rotten Eye)."
Dia mungkin agak samar-samar dalam mengingat hal-hal sepele, namun poin kuncinya selalu terpatri kokoh di kepalanya.
"Namaku adalah Argan!"
Bangsa kurcaci kerap dicap sebagai kaum yang keras kepala dan bertabiat buas, namun hal itu pun berbeda-beda bergantung pada masing-masing individu.
Sang kurcaci Argan yang telah lama terwarnai oleh dinamika peradaban bangsa manusia dibekali oleh daya adaptasi lingkungan yang teramat mirip dengan manusia biasa.
Dia pantang memprovokasi lawannya secara serampangan.
Terutama bagi sosok pria yang kini tengah berdiri tegak di hadapannya, sama sekali tak ada keuntungan apa pun yang bisa diraup lewat mencari gara-gara dengannya.
Bagaimana suasana pertemuan pertama mereka tempo dulu?
Pertemuan itu jelas sama sekali tidak menyenangkan.
"Apa kau sudah melunasi seluruh hutangmu pada Martai?" tanya Encrid memanggil kembali satu memori tambahan perihal sosok sang kurcaci.
Krais adalah sosok pria yang pantang melupakan perkara apa pun yang bersinggungan langsung dengan kepingan krona.
Pria bermata besar itu telah mempekerjakan sang kurcaci Argan dengan teramat keras tanpa ampun.
Fondasi dasarnya murni berakar dari jeratan hutang piutang yang ditanggung oleh sang kurcaci kepada pihak Martai.
Sudah berapa kali Krais menceritakan kisah tersebut di hadapannya?
Setidaknya sudah lebih dari sepuluh kali.
"Aku sudah melunasi seluruh hutang itu sejak lama! Kenapa kau mendadak mengungkitnya kembali?!"
Sang kurcaci mengedarkan pandangan matanya menyapu seluruh rombongan Encrid.
Seekor katak cerdas, sesosok putri elf jelita, serta seekor Dragonkin legendaris tengah melangkah beriringan bersama.
Jaxon telah lebih dulu memisahkan diri demi mengurus kepentingannya sendiri di sudut kota.
"Kalian sebenarnya mau berangkat ke mana? Mau memburu raja iblis neraka atau bagaimana?"
Separuh dari pertanyaannya adalah lelucon iseng, namun separuh lainnya terdengar sangat tulus.
Perihal raja iblis neraka memang murni sebuah kelakar, namun menyaksikan jajaran figur legendaris yang berkumpul bersama di tempat ini membuat pertanyaan itu meluncur secara alami dari bibirnya.
"Tidak, kami murni hanya tengah menikmati jalan-jalan santai (piknik)," sahut Encrid santai sembari melangkahkan kakinya ke luar.
Ada hal-hal yang sama pentingnya dengan sesi latihan fisik: memperluas cakrawala wawasan batin dan mengamati denyut kehidupan dunia nyata.
Bagaimana mungkin seorang Encrid tidak memahami hikmah berharga yang bahkan telah disadari oleh sosok seperti Esther?
"Momen ini bakal menjadi sebuah kencan romantis andai kedua makhluk ini tidak ikut mengintil di samping kita," celetuk Shinar yang sedari tadi menyimak dalam senyap.
"Kau bisa menganggap keberadaanku tidak eksis di tempat ini. Aku murni hanya akan berdiri menonton," timpal sang Dragonkin dengan teramat polos.
"Menonton apa maksudmu?! Kalimatmu itu terdengar sangat ambigu dan menyesatkan, Themares!"
Dan sang katak cerdas di sampingnya tengah sibuk membimbing sang Dragonkin agar memahami norma kesopanan sosial secara bertahap.
Sang kurcaci Argan telah dibekali ketajaman intuisi yang setara dengan manusia biasa.
Dia membaca situasi tak terucap murni lewat mengamati ekspresi wajah Eitri dan respons tenang Encrid, lalu memutuskan untuk mengunci rapat mulutnya.
Beberapa saat kemudian, rombongan Encrid telah resmi melangkah pergi meninggalkan bengkel.
"Kenapa kau tidak menyerahkan pedang itu kepadanya?" tanya Argan penasaran.
Dia adalah sosok kurcaci yang kini telah meneguhkan ketetapan hatinya dan menjalani hidup sembari saling bertukar keahlian teknik serta ketulusan batin bersama sosok Eitri.
Dia mengetahui dengan sangat jelas perihal sebilah pedang baru yang baru saja dirampungkan oleh Eitri belakangan ini.
"Aku memang sengaja tidak menyerahkannya," sahut Eitri jujur.
Sepanjang beberapa bulan terakhir, sang pandai besi telah memeras segenap jiwa raganya demi menempa sebilah pedang baru yang sanggup mengimbangi kedahsyatan Dawnforged milik Encrid.
'Pedang kembaran tersebut menyandang nama Twilight (Tempaan Senja).'
Kurang dari satu bulan setelah merampungkan penempaan senjata berinskripsi milik Encrid tempo hari, Eitri dilanda oleh sebaris rasa penyesalan yang teramat mendalam.
'Sosok diriku di hari ini jauh lebih hebat dibanding sosok diriku di hari kemarin.'
Dan berlandaskan prinsip penempaan itulah, dirinya mulai meracik sebilah pedang kedua.
Mengingat Encrid bertarung mengandalkan dua bilah pedang sekaligus, dia menilai bahwa pedang ini bakal sangat cocok untuk digenggam di tangannya.
Pedang ini memang tidak diselimuti oleh aroma malam yang dirajut oleh sang penyihir Esther, tidak pula dialiri oleh kemurnian energi vigor yang ditiupkan langsung oleh sang putri elf, namun dirinya telah berhasil menempa sebilah pedang yang memiliki kualitas serupa.
Nama pedang itu adalah Twilight, sengaja dirancang demi menjadi pasangan sejati bagi Dawnforged.
Namun dirinya sama sekali tidak merasa puas.
Bilah pedang yang baru saja dia selesaikan ini murni hanyalah buah dari sebuah kompromi sesaat.
Sebilah pedang yang sama hebatnya dengan Dawnforged?
Bukan.
Benda ini murni hanya tampak hebat dari luar belaka.
"Lelehkan kembali pedang ini ke dalam tungku peleburan."
"Apa?!"
Eitri memutuskan untuk membuang dan menghancurkan pedang mahakarya yang baru saja dia tempa menggunakan tangannya sendiri.
Sang murid magang seketika terbelalak kaget.
Argan pun nyaris terlonjak kaget mendengarnya.
"Hei kawan, pedang itu..."
Bahkan sang katak cerdas yang tengah bersantai di sudut bengkel pun bergegas melangkah maju hendak mencegahnya.
Benda itu adalah sebuah pusaka yang ditempa oleh sang maestro perajin layaknya tengah mengukirkan serpihan jiwanya sendiri ke dalam lempengan logam, bukan sekadar memeras keringat biasa.
Siapa saja yang menyaksikan proses pembuatannya memahami betul fakta tersebut.
"Kualitas pedang ini masih belum memadai."
Eitri sama sekali tidak pernah menginginkan sebilah pedang Twilight yang murni hanya sekadar 'setara' dengan Dawnforged.
Itulah alasan tunggal mengapa dirinya memilih untuk meremukkan pedang yang telah dia tempa tersebut.
Sementara itu di ruang komando markas garnisun.
Kala Encrid tengah berada di luar, Krais menyambut kedatangan seorang kurir utusan resmi yang dikirimkan langsung oleh Raja Krang.
"Pihak kerajaan wilayah selatan telah resmi memobilisasi divisi angkatan perang mereka," lapor sang kurir dengan nada tegang.
Krais menyimak laporan darurat tersebut dengan ekspresi wajah yang teramat dingin dan tenang.
Tak terlihat lagi sosok pria yang kerap memperlihatkan rasa cemasnya secara gamblang layaknya masa lalu.
Sosok Krais di era saat ini pun telah berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda.
"Kerahkan seluruh divisi pasukan ke garis depan (Deployment)."
Demikianlah titah komando resmi yang dijatuhkan oleh Krais kepada sang kurir.











