Bab 845: Sang Pengasah Permata
Sebilah mata pedang putih bersih yang menyambar turun dari atas ke bawah seketika berlipat ganda menjadi lima puluh bayangan ilusi dalam sekejap mata.
Alur pemikirannya yang berakselerasi kencang serta sepasang mata yang diselimuti oleh pancaran kehendak Will menghitung jumlah pasti dari bayangan pedang tersebut.
'Haruskah kublokir?'
Ataukah kuhindari?
Itu adalah sebuah proses menjatuhkan pilihan di persimpangan jalan taktis.
Proses kalkulasi itu sejatinya tidak memakan waktu lama.
Namun bagaimana jadinya jika seseorang mengamatinya dari dalam dimensi keheningan absolut, di mana kecepatan berpikir terakselerasi ekstrem hingga waktu terasa melambat?
Themares menyusupkan bilah pedang Baek-a miliknya tepat ke dalam sebuah celah sempit yang murni hanya sanggup dilihat oleh sepasang matanya.
Pedang panjang yang tadinya menyambar turun membawa lima puluh bayangan ilusi mendadak bermutasi menjadi sebuah tusukan kilat.
Jika proses transisinya dijabarkan ke dalam untaian kata, pria itu menghentikan laju tebasannya, menggeser titik berat tubuhnya ke telapak kaki kanan, lalu mengubah kuda-kudanya dengan cara meregangkan engsel siku demi melancarkan tusukan horizontal.
Dapat dikatakan bahwa dirinya membelokkan arah serangan murni mengandalkan kekuatan fisik yang teramat dahsyat.
Namun menilik dari arah aliran tenaga serta lintasan ayunan pedangnya, manuver tersebut sama sekali tidak melenceng jauh dari kaidah-kaidah dasar ilmu pedang.
Encrid menyaksikan sebutir titik putih membesar dengan kecepatan mengerikan tepat di depan matanya.
Dia menarik kembali pedang yang tadinya dia julurkan untuk memblokir, lalu menegakkannya layaknya selembar perisai baja, menyisakan sepasang mata biru dinginnya yang mengintip tajam tepat di atas bilah pedang.
Ting!
Jika dibandingkan dengan pergerakan berkecepatan tinggi yang baru saja meletup, suara benturan yang tercipta terdengar teramat sangat halus.
Itu murni karena keduanya sedari awal memang tidak tengah bertarung mengerahkan segenap tenaga mereka.
Tepat pada detik ujung mata pedang Baek-a menyentuh permukaan Dawnforged, bilah putih itu seketika menarik langkah mundur.
Itu adalah sebuah hantaman tusukan yang sejatinya sanggup menjelma menjadi teknik penghancur senjata andai disuntik oleh luapan kehendak Will, namun detik ini pria itu justru menguras habis seluruh daya hantam dari senjatanya.
"Lihatlah sendiri. Itulah akar permasalahan yang sempat kusinggung tempo hari."
Themares berujar tenang sembari menyarungkan kembali bilah pedang Baek-a miliknya.
Encrid menatap sebutir noktah putih yang terukir tipis di atas permukaan bilah biru milik Dawnforged.
'Aku memang berhasil memblokirnya, namun...'
Andai pertarungan tadi dilanjutkan ke babak berikutnya, posisinya dipastikan bakal terdesak masuk ke dalam posisi bertahan pasif.
Baik Encrid maupun Themares sama-sama merupakan sosok ksatria berilmu tinggi.
Sangat mudah bagi mereka untuk memprediksi arah jalannya pertarungan yang bakal meletus setelahnya.
'Demi merebut kembali inisiatif serangan...'
Atau demi meloloskan diri dari kepungan defensif, dirinya dipaksa harus memforsir ketahanan fisiknya secara berlebihan.
Kenyataan itu sendiri sudah merupakan sebuah kerugian taktis yang nyata.
Akumulasi kerusakan yang menumpuk selalu menuntun seorang petarung kian mendekat ke jurang kekalahan dibanding tangga kemenangan.
Tentu saja sangat sulit untuk menyimpulkan bahwa hasil akhir duel telah ditentukan murni oleh satu bentrokan ini semata.
'Celah kelemahan itu memang benar-benar eksis.'
Pesan yang disampaikan oleh ayunan pedang milik Themares terpampang teramat jelas.
Perenungan singkat yang disusul oleh kalkulasi keputusan yang kilat.
Ini adalah sebuah dimensi ilmu yang mutlak wajib diasah dan disempurnakan oleh Encrid.
Haruskah momen ini dicap sebagai sebuah momentum berharga di mana dirinya sanggup mengenali celah kekurangannya sendiri secara jernih?
'Kukira aku telah menyerap seni penilaian instan murni lewat mengamati gaya bertarung milik Rem, namun...'
Rupanya masih ada segudang bagian yang wajib dia poles kembali.
"Ah, sungguh menyebalkan," gumam Encrid pelan.
Themares membaca gejolak batin sang lawan.
Dia menatap lurus ke dalam relung hati pemuda gila di hadapannya.
'Pria ini justru merasa sangat senang bukan main.'
Sensasi emosi yang terpancar memang terasa sangat hangat seperti itu.
Encrid tidak menuntaskan untaian kalimatnya, namun getaran perasaannya tersampaikan dengan sangat gamblang.
Themares, dalam satu sudut pandang, tak ubahnya sesosok pengasah permata (jeweler).
Seorang pemotong permata yang membedah dan mengasah potensi manusia, bukan sekadar memoles bongkahan batu mulia.
Wawasan indrawi miliknya teramat terspesialisasi dalam mengidentifikasi celah kelemahan yang bersemayam di dalam diri lawannya.
Encrid sedari awal mendambakan agar Themares sudi menemukan celah-celah kelemahannya menggunakan bakat spesialisasi tersebut.
Dan buah manis dari harapan tersebut telah tersaji nyata detik ini.
Kekurangan dirinya telah tersingkap jelas di depan mata.
Lantas langkah apa yang wajib dia tempuh berikutnya?
Yang perlu dia lakukan sekarang hanyalah mengisi dan menambal celah kekurangan tersebut melalui ketekunan disiplin yang konstan.
Apakah itu adalah sebuah tugas yang mudah?
Tentu saja tidak.
Namun itu adalah sebuah proses belajar yang teramat sangat menyenangkan.
Itulah alasan tunggal mengapa seulas senyuman mengembang di bibirnya.
"Pada keputusan instanmu, keputusan yang berlandaskan pada ketajaman intuisi, kau sudah selayaknya menyuntikkan kecerdikan taktis demi membalikkan segala macam situasi menjadi keuntungan mutlak bagimu."
Sang Dragonkin bahkan dengan sukarela melontarkan petuah bijaknya.
Encrid adalah sosok pria yang selalu memposisikan dirinya di dalam postur seorang pembelajar yang rendah hati.
Dia menyimak, memahami, lalu meninjau kembali setiap ilmu yang dia serap.
Mengingat kembali seluruh kurun waktu yang telah dia lalui di masa lampau, Themares belum pernah sekali pun menjumpai sesosok talenta unik semacam ini.
Bukan, apakah terasa agak janggal jika melabeli pemuda ini murni sebagai sesosok 'talenta jenius'?
Bagi standar seorang ksatria agung, kecepatan belajar pemuda ini tergolong sangat lambat.
Dia wajib diperlihatkan teknik yang sama secara berulang-ulang hingga puluhan kali.
Perbedaan kapasitasnya dengan para ksatria lain di sekitarnya terpampang teramat mencolok.
"Lagipula, senyuman konyol macam apa itu sebenarnya?"
Pria berambut abu-abu yang kerap disalahpahami sebagai seorang bandit jalanan adalah salah satu contohnya.
"Gaya bertarungmu benar-benar luwes menyerupai aliran air, wahai saudaraku sang kadal."
Sang manusia beruang (Bear-Beastkin) yang selalu menikmati seni memprovokasi lawannya tanpa beban pikiran adalah contoh lainnya.
"Duel ini benar-benar sangat menghibur."
Dan bahkan pria pirang yang tengah berbicara sembari berbaring santai mengunyah buah apel, serta pria berambut merah yang berdiri menyimak sesi adu pedang dalam keheningan.
Kapasitas bakat tempur yang dimiliki oleh orang-orang tersebut berada di tingkatan yang teramat luar biasa.
Mereka sanggup menangkap dan menambal celah kekurangan mereka sendiri murni hanya lewat mengamati sepintas lalu.
Mereka memamerkan jurang pemisah yang teramat tegas dibanding pria bernama Encrid.
Bukan berarti sang Dragonkin merasa kecewa ataupun frustrasi kala melatihnya.
Sang Dragonkin selalu memelihara kestabilan emosi yang teramat dingin dan tenang.
Keahlian andalannya adalah mengulang tugas kewajibannya secara konstan tanpa pernah terombang-ambing.
Ketenangan emosional tersebut adalah salah satu keunggulan terbesar yang dimiliki oleh rasnya.
Dalam satu sudut pandang, dapat dikatakan bahwa dirinya dan Encrid adalah pasangan rekan latihan yang teramat serasi.
'Jika hal itu memang mutlak dibutuhkan, aku cukup mengulangnya kembali.'
Alur pemikiran milik sang Dragonkin dan Encrid bertemu dalam keselarasan mutlak.
Persis seperti biasanya, mereka pantang bertarung mengerahkan segenap daya kekuatan mereka di sesi latihan ini.
Ilmu Pedang Pemecah Ombak (Wave Breaker Sword), Tebasan Bara Padam (Dying Ember Strike), Ilmu Pedang Ortodoks (Orthodox Swordsmanship), Kilatan (Flash), serta Pedang Kebetulan (Sword of Coincidence), dan menyempurnakan seluruhnya, teknik Pusaran (Vortex).
Encrid saat ini tengah terus mengasah lima gaya aliran pedang pribadinya, dan andai dirinya mengerahkan seluruh ilmu maut tersebut secara simultan, sesi sparring ini dipastikan bakal berubah menjadi ajang pembantaian yang teramat brutal.
Menyempurnakan lima gaya pedang tersebut, tersimpan sepuluh varian teknik bertarung komprehensif.
Inilah fokus disiplin utama yang tengah digembleng oleh Encrid dengan segenap konsentrasinya saat ini.
Kehadiran sosok sang Dragonkin sangat membantunya dalam memoles dan memadatkan kembali seluruh ilmu yang telah dia serap selama ini.
Dan kenyataan itulah yang membuatnya merasa teramat sangat bahagia.
"Apa kalian bertiga sanggup menyaksikan jalannya duel tadi dengan jelas?" suara Rem terdengar menimpali dari sisi lapangan.
Mereka bertiga memang sanggup melihat hasil akhirnya, namun sangat sulit bagi mereka untuk mencerna proses rumit di baliknya.
Itulah sebabnya mengapa ketiga pemuda yang baru saja tiba dari kerajaan Aspen itu sama sekali tidak sanggup menganggukkan kepala mereka.
"Apa?! Kalian lebih memilih kubantai mati sekarang dibanding harus memohon bimbingan ilmu dari ksatria musuh?!"
Rem terus melancarkan intimidasi liarnya, dan salah seorang pemuda dari kerajaan Aspen bergegas menyahut panik, "Kapan sebenarnya kami pernah melontarkan kalimat semacam itu..."
Tentu saja mereka sama sekali tidak pernah mengucapkannya.
Pria barbar itu murni melontarkannya murni karena dirinya adalah seorang Rem.
"Kalian mengucapkannya di dalam hati! Aku mendengarnya dengan sangat jelas! Aku bisa membaca pikiran orang, kalian tahu?!" seru Rem sembari menyunggingkan seringai mengejek di sudut bibirnya.
Pria itu sengaja tengah mencari gara-gara dengan salah satu dari mereka.
Sebuah mainan baru akhirnya tiba di hadapannya kala dirinya tengah beristirahat santai selama beberapa hari pasca-pertempuran.
Sudah menjadi etika sopan santun yang pantang dilanggar untuk memainkan mainan tersebut dengan sungguh-sungguh, menimbang ketulusan niat dari pihak yang telah menghadiahkannya.
Di belahan wilayah barat, adalah sebuah tindakan yang teramat tidak sopan andai kau menerima sebuah hadiah namun enggan menggunakannya.
Dan Rem adalah sosok pria yang terlahir dan dibesarkan di tanah tandus semacam itu.
"Nah sekarang, bagaimana kalau kita mulai bersenang-senang mencicipi kematian?!"
Pancaran hawa membunuh murni yang diselimuti oleh kesungguhan seketika mencekik rongga dada ketiga pemuda asal kerajaan Aspen tersebut.
Di antara ketiganya, hanya ada satu pemuda yang menggertakkan giginya rapat-rapat lalu mencabut pedangnya dari sarung.
Sreeeng!
"Apakah murni demi alasan ini kalian memanggil kami ke sini?! Karena kalian merasa takut terhadap masa depan?! Apakah kalian merasa gentar membayangkan kami bertumbuh menjadi ksatria yang jauh lebih kuat di masa depan?!"
"Ya, ya, aku benar-benar merasa sangat takut sampai-sampai aku tidak bisa tidur nyenyak di malam hari! Omong-omong, siapa sebenarnya namamu tadi?"
Provokasi ejekan milik Rem benar-benar telah matang sempurna.
Sama sekali tak ada ceritanya seseorang tidak bisa tidur nyenyak murni karena merasa takut kepada sosok musuh yang bahkan namanya saja tidak pernah dia ketahui.
Sorot pandangan matanya yang menyeringai sinis tak ubahnya sebuah hantaman telak yang sanggup membalikkan isi perut lawan saking jengkelnya.
Rem sangat menyukai tipikal bocah pemula (greenhorn) yang polos semacam ini.
Murni karena mereka teramat sangat menyenangkan untuk dihajar babak belur.
Sensasi kenikmatan itu terpancar teramat nyata di paras wajahnya.
Dia mengangkat kapak tempurnya tinggi-tinggi diiringi tawa terkekeh yang mengerikan.
Menyaksikan pemandangan tersebut, paras wajah sang pemuda pemula seketika berubah pucat pasi.
Bajingan gila ini tampaknya murni hanya berniat membantai manusia demi kepuasan pribadinya.
Para petinggi negaraku menyuruhku berangkat ke benteng perbatasan Border Guard demi mempelajari ilmu pedang?
Apakah tanah airku sejatinya telah membuang diriku ke neraka ini?
Segala macam prasangka buruk berputar liar di dalam kepalanya.
Sang pemuda pemula mengibaskan seluruh keraguan di dalam benaknya dalam sekejap.
'Ah, persetan dengan semuanya!'
Kala saatnya bertarung tiba, maka kau wajib bertarung.
Memeras otak untuk berpikir sedari awal memang bukan keahlian utamanya.
Maka yang perlu dia lakukan hanyalah mengayunkan pedangnya dengan segenap tenaga di hadapan sang pembantai berkapak tersebut.
Keteguhan tekad sang pemuda pemula terpancar nyata di bilah pedangnya.
Oleh sebab itu, ayunan senjatanya dipadati oleh watak bertarung yang teramat kasar dan buas.
Sang pemuda pemula mengayunkan pedangnya ke depan.
Itu adalah tebasan terbaik yang sanggup dia kerahkan di sepanjang hidupnya.
Tebasan yang paling cepat dan paling bertenaga.
"Oh," Rem memonyongkan bibirnya tipis.
Setidaknya salah satu dari ketiga bocah ini memiliki nyali yang lumayan.
Tentu saja kapasitas keahliannya masih teramat jauh dari kata memadai.
Tepat pada detik mata kapak bersentuhan dengan bilah pedang lawan, Rem menerapkan kontrol daya tekan yang presisi demi menempelkan bilah pedang dan kapak menjadi satu, lalu menariknya ke arah tubuhnya.
Bilah pedang milik sang pemuda pemula seketika menempel rekat di mata kapak milik Rem.
'Kenapa pedangku bisa menempel seperti ini?!'
Sebuah keterkejutan yang membingungkan.
Namun andai dirinya menghentikan serangannya, dia dipastikan bakal langsung dihajar habis.
Jika sang lawan menarik senjatanya, maka yang perlu dia lakukan hanyalah mendorong maju.
Sang pemuda pemula mencengkeram gagang pedangnya menggunakan kedua tangannya lalu mendorong maju dengan segenap sisa kekuatannya.
Tentu saja manuver naif semacam itu sama sekali tidak mempan.
TRANG! BUG!
Rem dengan kapak yang digenggam di tangan kanannya meluncur masuk menyusuri penampang bilah pedang lalu melancarkan hantaman tinju kiri ke arah dagu sang pemuda pemula dalam sebuah gerakan menyapu yang mematikan.
Sebuah momentum dan akselerasi kecepatan yang mustahil sanggup dihindari.
Tubuh sang pemuda pemula seketika ambruk terkulai lemas layaknya sesosok boneka tali yang telah diputus benang pengikatnya.
Rem menahan kepala pemuda itu menggunakan punggung kakinya lalu menurunkannya secara perlahan ke atas tanah sembari berujar santai, "Kalian berdua sisanya sebaiknya segera angkat kaki dari tempat ini."
Di antara ketiga calon ksatria tersebut, pemuda yang baru saja dia tumbangkan sejatinya adalah petarung dengan kapasitas ilmu yang paling lemah.
Dia sanggup membedahnya murni hanya lewat satu kali lirikan mata.
Namun watak kepribadiannya?
Hanya bocah inilah satu-satunya murid yang layak untuk dia bina menjadi seorang petarung sejati.
"Hanya bajingan kecil ini yang diizinkan untuk tetap tinggal di benteng ini."
Tak ada seorang ksatria pun yang menaruh minat mendalam pada tingkah laku Rem.
Terutama sang Dragonkin yang bahkan sama sekali tidak sudi melayangkan sebaris lirikan matanya ke arah mereka.
Murni karena dirinya tidak menaruh ketertarikan, dia enggan menyimak apa pun yang tengah diperdebatkan oleh barisan manusia tersebut.
Fokus minatnya hanya terbagi menjadi dua perkara.
Satu tertuju lurus kepada entitas yang telah mengacaukan kewajiban suciku, dan yang lainnya...
"Mau pergi ke mana kau hari ini?" tanya sang Dragonkin tenang.
Tentu saja pertanyaan itu sengaja dia tujukan langsung kepada sosok Encrid.
"Melangkah masuk ke dalam kawasan kota."
Dia sama sekali tidak merasa penasaran apakah kunjungan itu bertujuan untuk inspeksi formal ataupun sekadar patroli santai.
Pria itu murni bakal melangkah mengiringi di mana pun pemuda itu berada.
Sang Dragonkin menyarungkan pedang Baek-a ke pinggangnya lalu menatap lurus ke arahnya.
Kehadiran sosok sang Dragonkin yang selalu mengiringi ke mana pun dirinya melangkah sama sekali tidak terasa membebani pundak Encrid.
Bahkan andai hal itu terasa agak canggung, menimbang segudang bantuan ilmu yang dia serap dari sang Dragonkin saat ini...
'Sangat sepadan untuk ditoleransi.'
Di masa lampau, dia rela menguras habis seluruh kepingan uang krona yang dia kumpulkan lewat mempertaruhkan nyawanya murni demi mempelajari satu tebasan pedang tunggal.
Jika dibandingkan dengan masa-masa sulit tersebut, membiarkan sosok pria ini mengikutinya secara pasif adalah tugas yang berkali-kali lipat jauh lebih mudah.
Dirinya pun sama sekali tidak merasa keberatan.
"Apa kau baru saja menambah satu hiasan pengiring baru di sampingmu selain diriku?" tanya Luagarne santai.
Andai dirinya tidak memiliki urusan riset khusus, sang katak cerdas hampir tidak pernah beranjak dari sisi Encrid.
"Seekor spesies metamorfosis," sela Shinar menimpali.
Dan sang putri elf berambut pirang keemasan turut melangkah bersama mereka.
Gadis itu kerap dijuluki sebagai bunga emas yang mekar abadi di benteng kota.
"Tolong nyalakan apinya untukku," pinta Braum yang kebetulan melintas bermain karena tidak memiliki tugas piket hari ini, sembari menyodorkan sebatang rokoknya.
Shinar yang berdiri di sampingnya menjentikkan jemarinya dengan anggun.
Ctak!
Hanya lewat satu jentikan jemari tunggal, ujung batang rokok tersebut seketika menyala membara.
Shinar telah merajut sejenis ikatan kontrak batin dengan sang Salamander purba.
Oleh karena itu, gadis itu kini sanggup memanipulasi elemen api murni dengan leluasa.
Sosok putri elf yang dulunya selalu gemetar ketakutan setiap kali menatap kobaran api akibat trauma teror iblis kini telah tiada selamanya.
"Sekarang aku bahkan sanggup memadamkan kebakaran hutan andai api mulai berkobar liar."
Meskipun dirinya tidak lagi dilanda ketakutan maut, tampaknya sang putri elf masih memelihara secuil rasa keengganan alami terhadap kobaran api itu sendiri.
"Aku akan ikut melangkah bersama kalian," Jaxon turut menggabungkan dirinya ke dalam rombongan.
Pria pembunuh itu pun memiliki urusan logistik di dalam kota hari ini.
"Baiklah, mari kita berangkat bersama."
Encrid menanggapi seluruh dinamika tersebut dengan ketenangan batin yang teramat stabil.
Ini hanyalah bagian dari rutinitas kehidupan harian yang sangat normal.
Hal serupa berlaku mutlak bagi sosok Rem, Ragna, dan Jaxon.
Namun bagi kedua calon ksatria muda asal kerajaan Aspen yang baru pertama kali menyaksikan fenomena abnormal ini, situasinya terasa teramat sangat berbeda.
Sang pemuda pemula memang tengah terbaring pingsan tak sadarkan diri, namun kedua rekannya yang tersisa terus gemetaran hebat di tempat mereka berdiri.
Bukankah julukan 'barisan orang gila' sedari awal hanyalah sekadar nama ordo belaka?
Apakah mereka semua pada kenyataannya memang benar-benar sekumpulan monster gila yang biadab?!
Sosok pria berambut lemon itu adalah seekor Dragonkin?
Spesies Dragonkin legendaris yang hanya tercatat di dalam lembaran mitologi kuno?!
Lantas mengapa sesosok putri elf sanggup menyalakan lidah api murni hanya lewat menjentikkan jemarinya?!
Ini adalah sebuah dimensi dunia yang terpisah total dari realitas yang selama ini mereka pahami, sebuah dunia yang membentangkan jurang pemisah yang teramat nyata.
Kedua pemuda itu saling bertukar pandang lalu menjatuhkan keputusan mutlak.
Mari kita segera kembali pulang ke tanah air kita.
Tempat ini jelas bukan pemukiman yang waras bagi manusia normal.
Sang pemuda pemula yang tengah terkapar pingsan tentu saja kehilangan haknya untuk ikut melarikan diri pulang.
"Jangan sampai membunuhnya," pesan Encrid mengingatkan, memanggil kembali permohonan yang sempat dilontarkan oleh Abnaier tempo hari.
Rem memiringkan kepalanya dengan tatapan heran.
"Apa aku terlihat layaknya seorang pria biadab yang gemar membantai orang demi kesenangan pribadi?"
Pertanyaan tanpa tahu malu itu seketika disambar oleh Ragna.
"Memangnya kau selama ini bukan pria seperti itu?"
Rem menyahut sembari menyunggingkan seringai mengejeknya.
"Alih-alih mengurusi sang kadal, aku bakal membeberkan celah kelemahan terbesarmu sekarang juga. Kepalamu adalah titik kelemahan terbesarmu. Kau dipastikan bakal bertarung berkali-kali lipat lebih hebat andai kepalamu itu dipenggal lepas!"
Kala kedua ksatria perkasa ini saling bertukar candaan mesra semacam itu, akhir ceritanya selalu dapat ditebak dengan sangat mudah.
BLAAR!
Suara ledakan dahsyat meletup memekakkan telinga tepat saat pedang Sunrise milik Ragna beradu hantam melawan bilah kapak tempur milik Rem yang tengah menyambar turun.
Hembusan angin badai seketika membubung menderu di sekeliling mereka, dan gelombang kejut meledak menyebar membentuk lingkaran konsentris raksasa dari titik pijakan keduanya.
Itu adalah senjata-senjata pusaka yang diayunkan dengan kesungguhan penuh oleh dua orang ksatria agung.
Murni hanya dengan berada di dekat radius bentrokan tersebut, daging tubuh manusia biasa dipastikan bakal terkoyak robek dan meletup hancur seketika.
"Status darurat! Amankan perimeter! Tak ada satu orang pun yang diizinkan melangkah mendekati area latihan ini untuk sementara waktu!"
Barisan prajurit penjaga yang bertugas mengawal pos gerbang lapangan latihan The Order of the Madmen Knights berteriak lantang sembari bergerak cepat mengamankan area.
Tugas pokok utama dari barisan prajurit reguler ini sejatinya bukanlah membendung serbuan musuh dari luar, melainkan murni demi mencegah terjadinya tragedi maut di mana ada warga sipil atau prajurit awam yang melangkah masuk lalu meregang nyawa kala keributan internal meletus di dalam markas.
"Kalian telah bertugas dengan sangat baik."
Encrid menepuk pundak salah seorang prajurit penjaga tersebut dengan ramah.
Sang prajurit seketika merasa terharu bukan main.
Itu adalah sebaris kata-kata penyemangat yang meluncur langsung dari bibir sang Komandan Tertinggi Ksatria.
Kelompok organisasi Astrail—atau apa pun label perkumpulan perapal mantra amatir tersebut—telah menyerbu masuk tempo hari, dan segenap warga yang bermukim di dalam kota benteng sekali lagi mengonfirmasi dengan mata kepala mereka sendiri perihal siapa sosok pelindung sejati yang membentengi kedamaian kota ini.
Murni karena ada segudang pasang mata yang menyaksikan langsung kedahsyatan pertarungan yang dipamerkan oleh Audin dan Ragna.
Di antara para saksi mata tersebut, beberapa penyair keliling (bard) telah menggubah sebuah kidung balada baru lalu menyanyikannya di sudut-sudut kedai.
Para Ksatria Gila dari Benteng Perbatasan (The Madmen of the Border Guard).
Kidung kepahlawanan agung itu kini tengah menyebar melompat melintasi dinding kota, bergema luas ke seantero daratan benua.
"Pihak Astrail tampaknya memiliki banyak hal untuk disuarakan. Ada beberapa serikat bawah tanah yang mulai menunjukkan iktikad baik mereka sejak kita membantai habis rombongan penyihir tersebut," lapor Jaxon santai.
Segala hal yang bergolak di balik naungan bayang-bayang kegelapan selalu melintasi jemari tangannya.
Serikat pembunuh bayaran Georg's Daggers adalah kelompok intelijen yang menyimpan fondasi kekuatan sebesar itu.
"Begitukah?" sahut Encrid dengan nada yang tidak terlalu memusingkannya.
Kala dirinya melangkah keluar meninggalkan barak militer lalu melintasi jalanan kota yang ramai, beberapa sosok wajah yang familier tampak berpapasan dengannya.
"Apa kau sudah sempat mampir melihat gedung perpustakaan baruku?"
Mendengar pertanyaan dari sang pemilik penginapan Vanessa, Encrid menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau harus meluangkan waktumu untuk berkunjung ke sana."
Sebuah sapaan hangat yang diiringi oleh seulas senyuman ramah.
"Wanita itu baru saja mendirikan sebuah gedung perpustakaan?!"
Alek, pemilik penginapan di seberang jalan, mendengar percakapan Vanessa tersebut.
Pria itu telah menganggap Vanessa sebagai rival bisnis abadinya di sepanjang lembaran hidupnya.
Oleh sebab itu, kala Vanessa mengadopsi tiga anak yatim piatu di masa lalu, Alek membalasnya dengan cara menjadi sponsor tunggal bagi sebuah panti asuhan bernama Rumah Malaikat (Angel's House) yang merawat anak-anak korban perang.
Gelora persaingan di dalam dada Alek seketika menyala berkobar kembali.
Wanita itu membangun perpustakaan mewah?
Maka aku bakal membangun fasilitas yang berkali-kali lipat jauh lebih megah dibanding gedungnya!
Sebuah dinamika psikologis kompetitif yang sanggup dibaca murni hanya lewat menatap raut wajahnya.
Encrid menyunggingkan senyuman hangatnya.
"Apa kau merasa sangat senang?" tanya sang Dragonkin yang sedari tadi mengamati ekspresi wajah Encrid.
"Tentu saja."
"Merasa senang atas dasar apa?"
"Merasakan kehangatan tulus dari orang-orang yang berdiri damai di belakang punggungku."
Itu adalah sebuah konsep filosofis yang mustahil sanggup dipahami oleh logika akal seorang Dragonkin.
Encrid, sembari melangkah melintasi orang-orang yang dia kenal, tengah merapikan seluruh pemahaman ilmu yang berhasil dia serap dan kuasai berkat bimbingan Themares di dalam kepalanya.
'Sosok sang Ferryman dan sang Dragonkin.'
Seluruh petuah berharga yang dia pelajari dari kedua entitas agung tersebut kini tengah menyatu dan saling berkelindan di dalam benak memorinya.
Terutama wejangan sakral yang dibisikkan oleh sang Ferryman di dalam alam mimpinya tadi malam—bukankah petuah ilmu tersebut benar-benar terasa sedemikian luar biasanya?











