Eternally Regressing Knight

Bab 844: Berharap Kehancuran Bersama

3190 Kata

Bab 844: Berharap Kehancuran Bersama

'Jika kupikir-pikir kembali saat ini.'

Esther sejatinya sama sekali tidak pernah merasa takut pada organisasi Astrail.

Tidak pernah sedetik pun.

'Mereka murni hanya terasa teramat menyebalkan dan menjengkelkan.'

Mereka tak ubahnya kawanan lalat buah yang terus menempel di sekujur tubuhmu di tengah teriknya musim panas.

Mereka bakal langsung meliuk kabur kala kau mencoba menepuknya, namun andai kau membiarkannya berkeliaran bebas, mereka adalah tipikal lalat abnormal yang bakal bertelur dan bersarang di suatu tempat di tubuhmu.

Oleh karena itu, kini setelah seluruh anggota Astrail musnah tanpa sisa, gadis itu merasakan seberkas kelegaan tipis di dalam dadanya, namun sama sekali tidak lebih dari itu.

Dapat dikatakan bahwa dalam bahasa awam, peristiwa pembantaian ini sama sekali tidak meninggalkan kesan mendalam yang membekas di jiwanya.

Itulah sebabnya mengapa Esther tetap bersikap sangat tenang sembari memetakan tugas krusial berikutnya.

"Aku harus pergi mengunjungi beberapa tempat."

"Mau pergi ke mana?" tanya Encrid.

Sama sekali tak ada hal berbobot yang perlu dipikirkan berlarut-larut dari pesan terakhir yang dilontarkan oleh sesosok iblis yang telah tewas.

Entitas neraka itu hanyalah calon lawan yang wajib dia tebas kapan pun mereka dipertemukan kembali di masa depan.

Hanya sebatas itu saja.

Oleh sebab itu, pemuda itu murni merespons ucapan Esther kala dirinya tengah asyik merenung, meninjau kembali setiap pemahaman baru yang berhasil dia serap sepanjang pertempuran hari ini.

"Menyisir seluruh markas persembunyian rahasia milik mereka."

Gadis itu telah menyelidiki seluk-beluk organisasi Astrail seorang diri di masa lampau, sehingga meskipun dirinya tidak mengetahui koordinat markas utama mereka, dia tahu betul bagaimana cara melacak seluruh aset tersembunyi milik kelompok tersebut.

'Sebagian besar dari aset itu kemungkinan besar sudah tidak berguna lagi.'

Namun di antara timbunan barang rongsokan itu, dipastikan tersimpan benda-benda eksperimen berbahaya yang bakal menjadi malapetaka besar andai dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Kelompok yang menyandang nama Astrail ini, dalam satu kata, adalah sekumpulan manusia gila.

Dan kegilaan mereka sama sekali bukan dalam artian yang positif.

'Sesosok monster buas setingkat koloni sarang bisa saja mendadak mencuat keluar dari salah satu markas tersebut.'

Akan menjadi sebuah bencana besar andai warga sipil biasa yang tidak tahu apa-apa secara kebetulan menemukan pintu masuk markas persembunyian mereka.

'Jika aku membayangkannya dalam skenario terburuk.'

Sebuah insiden bencana dahsyat yang setara dengan tragedi sang Binatang Gaib Salamander purba bisa saja meletus terulang kembali.

Bagaimana jadinya jika dia bergerak lebih awal untuk membersihkan dan membakar habis seluruh markas terkutuk itu sebelum bencana meletus?

Seluruh aset peninggalan dan hasil riset sihir gelap mereka kini tak lagi memiliki nilai guna bagi dirinya.

Ini pun, dalam satu sudut pandang, merupakan buah manis dari cara berpikir yang dia serap dari sosok Encrid.

'Jika kau membiarkannya terbengkalai, hal itu dipastikan bakal bermutasi menjadi racun mematikan di masa depan.'

Maka mengeksekusi langkah pencegahan sedini mungkin adalah keputusan yang teramat bijak.

Sebuah potensi ancaman yang cukup masif untuk membumihanguskan pemukiman warga atau merenggut nyawa orang banyak—seluruh warisan peninggalan Astrail sudah selayaknya diperlakukan demikian.

Demikianlah kesimpulan batin yang dirumuskan oleh Esther.

"Ketulusan hati dan rasa kepedulian yang mendalam..." sang Dragonkin mulai membuka suaranya, namun seketika mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

KRAAAK!

Suara ledakan petir menggema terlambat satu detik di udara.

Tepat sesaat sebelumnya, seberkas sambaran kilat cahaya telah bertubrukan langsung melawan bilah pedang Baek-a milik sang Dragonkin, memercikkan kobaran halilintar berderak ke segala penjuru mata angin.

Helaian rambut pirang lemon milik Themares sempat berdiri meremang merespons sengatan listrik tersebut, sebelum akhirnya perlahan rebah kembali ke posisi semula.

"Sudah berulang kali kuperingatkan padamu untuk berhenti membacakan isi hatiku di depan umum," tegur Esther dingin.

Dia adalah sesosok penyihir agung.

Betapa pun banyak perubahan positif yang dia rengkuh dibanding masa lalunya, respons tindakannya tetap berada di tingkatan yang jauh melampaui logika manusia biasa.

Menembakkan sambaran petir sihir murni karena dirinya merasa terganggu adalah salah satu contoh nyatanya.

Dan dalam aspek tersebut, sang Dragonkin pun berada di dimensi pemikiran yang serupa.

Keduanya sama-sama merupakan mahaguru yang memanipulasi pola pikir di luar batas normal.

"Aku akan mengingat peringatanmu ini," sahut Themares tenang.

Pria itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi tersinggung terhadap serangan sihir yang sedari awal memang tidak menyimpan secuil pun niat membunuh tersebut.

Wanita itu murni melepaskan sihirnya sebagai sebaris peringatan tegas.

Sang Dragonkin saat ini tengah berada dalam proses membedakan hal-hal apa saja yang pantang dia perbuat sembari membiasakan diri dalam proses adaptasi sosialnya secara bertahap.

Esther mengumpulkan barang-barang yang dia butuhkan dari jasad para penyihir yang tewas.

Masing-masing dari mereka membawa berbagai macam perkakas magis yang unik.

Dari balik lipatan jubah milik sang penyihir kerdil berzirah perak, sebuah lempengan besi bundar yang teramat lebar mencuat keluar, sebuah artefak istimewa yang telah ditanamkan formula sihir melayang permanen (permanent levitation).

"Benda ini bakal sangat berguna andai dimodifikasi sedikit."

Esther, kala membantu Eitri menempa bilah pedang baru milik Encrid tempo hari, telah membuka wawasan batinnya terhadap seni menanamkan sihir ke dalam lempengan logam (magic enchanting).

Beberapa kilasan ide kreatif seketika melintas di dalam benaknya.

Akan sangat menyenangkan untuk membedah benda ini kala dirinya memiliki waktu luang di masa depan. Meminta bantuan kurcaci Eitri pun bakal menjadi opsi yang sangat menarik.

"Baiklah kalau begitu."

Esther tidak memelihara secuil pun rasa keterikatan pada masa lalunya.

Dia selalu menatap lurus ke depan dan paham betul bagaimana cara membedakan antara tugas yang wajib dia selesaikan dan hal-hal yang belum dia tuntaskan.

Di atas segalanya, andai dirinya kembali pulang ke markas garnisun dalam kondisi seperti ini, barisan pria gila itu dipastikan bakal menggoda dan menjahilinya habis-habisan tanpa henti.

'Akan jauh lebih bijak jika aku mengambil jeda waktu sejenak di luar.'

Sebuah kalkulasi rasional yang teramat dingin.

Esther benar-benar menyesali mengapa dirinya sempat melontarkan lelucon iseng murni didorong oleh rasa bersalah dan terima kasih sesaat lalu.

Itu mungkin adalah gurauan yang bakal berlalu tanpa masalah andai diucapkan oleh sosok seperti Shinar.

'Namun bakal terlihat sangat menggelikan andai aku mendadak berpura-pura pusing demi minta digendong di tempat ini.'

Gaya lelucon khas milik Shinar serta taktik manjanya demi mendapatkan tumpangan gendongan di punggung Encrid.

Mengapa memori konyol semacam itu mendadak terlintas di kepalanya saat ini?

Bagaimanapun juga, Esther telah menyerap satu hikmah pelajaran baru hari ini.

Bercanda adalah hal yang teramat diharamkan kala berhadapan langsung dengan barisan ksatria gila ini.

"Apa ini hanyalah halusinasiku semata, ataukah dirimu saat ini memang tengah melarikan diri terbirit-birit?" celetuk Rem melontarkan sindiran.

Itu memang berupa sebaris pertanyaan, namun menyaksikan sudut bibir pria barbar itu yang perlahan terangkat menyeringai lebar, kalimat itu sengaja dia lontarkan agar didengar oleh seisi dunia.

"Tentu saja tidak," sahut Esther seketika tanpa ragu sembari menggerakkan kakinya melangkah pergi.

Bahkan bagi seorang penyihir agung sekalipun, serangkaian persiapan logistik tetap mutlak dibutuhkan sebelum melangsungkan perjalanan panjang.

"Aku akan mampir sebentar ke benteng Rockfreed lalu langsung berangkat menuju ke sana."

Tepat saat sang penyihir berbalik badan, Jaxon menatap punggungnya dengan tatapan mata yang teramat menyelidik lalu berujar pelan, "Apa kau berniat memburu sisa-sisa mereka?"

Pria pembunuh itu mungkin tidak terlihat demikian dari luar, namun kenyataannya Jaxon pun selalu bersikap sangat serius kala menjahili seseorang.

Andai dirinya tidak memiliki watak usil semacam itu, mustahil baginya untuk sanggup bertahan akur bergaul bersama sosok Rem selama ini.

Tentu saja andai ada orang yang berani mengatakan bahwa keduanya sangat kompak bermain bersama, duel adu belati berdarah dipastikan bakal meletus seketika.

Encrid menggelengkan kepalanya pelan. "Biarkan saja dia pergi menenangkan diri untuk sementara waktu."

Lalu pemuda itu mengalihkan pandangan matanya, bukan menatap ke arah jasad-jasad yang tewas, melainkan menatap lurus ke permukaan tanah di bawah kakinya.

Bukankah Krais tempo hari sempat memaparkan bahwa tanah tandus ini tengah dibajak dan digemburkan menggunakan tanah humus subur demi disulap menjadi lahan pertanian baru?

Jejak-jejak pengerjaan tanah garapan itu tampak tersisa di berbagai sudut.

Dan di atas tanah tersebut, torehan sisa-sisa racun serta bekas bentrokan formula sihir tampak terukir sangat nyata.

Krais berambisi menyulap bahkan tanah gersang semacam ini menjadi hamparan lahan pertanian yang hijau.

Sebuah ikhtiar mulia demi merajut tanah peradaban yang jauh lebih layak untuk ditinggali, sebuah tempat bernapas yang jauh lebih damai bagi umat manusia.

Demi melindungi suaka berharga semacam inilah, dirinya wajib terus menjalani siklus 'hari ini' dengan ketekunan disiplin yang mutlak.

Bias sinar mentari yang perlahan condong ke ufuk barat bertubrukan dengan gumpalan awan mendung, menghamburkan pendaran cahaya redup ke segala penjuru cakrawala.

Meskipun seluruh prahara telah resmi berakhir tuntas, Encrid merasa seolah dirinya samar-samar sanggup mencium seberkas aroma hangus yang mengambang tipis di udara.

Apakah ketajaman intuisi dan indra keenamnya yang telah terasah sempurna tengah membisikkan padanya bahwa badai ini tidak bakal berakhir semudah ini?

'Ataukah aroma hangus ini murni bersumber dari pembantaian antek iblis tadi, ataukah dari ancaman bangsa vampir neraka?'

Dia tidak tahu pasti.

Dia mustahil sanggup meramalkan masa depan.

Justru karena dirinya tidak sanggup mengetahui takdir esok hari yang belum tiba, satu-satunya hal yang sanggup dia eksekusi adalah mencurahkan segenap daya upayanya di dalam siklus hari ini.

Oleh karena itu, hari ini pun pantang berakhir hanya sampai di titik ini.

"Mari kita kembali ke markas. Themares, kau kemungkinan besar bahkan belum sempat melakukan sesi pemanasan ototmu, kan?"

"Sama sekali tak ada ruang bagiku untuk melangkah maju tadi. Dan kau tampaknya masih sangat bernafsu ingin bertarung lebih banyak lagi."

"Tentu saja."

Mendengar jawaban jujur yang sama sekali tidak menampik fakta tersebut, Themares menganggukkan kepalanya mantap.

Seekor Dragonkin pada hakikatnya teramat sangat rentan terhadap pesona dari sesosok makhluk berakal budi yang memancarkan kilau kehendak Will yang benderang.

Mereka tak ubahnya setangkai tanaman hijau yang menggantungkan eksistensi hidupnya pada hangatnya sinar mentari.

"Ayo kita mulai."

Rombongan ksatria akhirnya melangkah pulang kembali menuju ke benteng kota.

Krais menyimak seluruh jalannya laporan taktis dari kursi kerjanya.

Dan pria bermata besar itu sama sekali tidak meluapkan kegembiraan berlebihan murni karena rasa cemasnya telah teratasi.

'Apakah seluruh persiapan ini bakal benar-benar memadai?'

Mereka bahkan telah berhasil membendung amukan sang Binatang Gaib legendaris Salamander purba, dan kini mereka telah dibekali kekuatan militer yang cukup untuk membantai seisi organisasi perkumpulan para penyihir.

Namun meski begitu, rasa cemasnya tetap bergemuruh di dalam dada.

Persis seperti Encrid yang mengendus aroma hangus di udara, Krais merasakan sebuah firasat kecemasan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

'Harga mahal yang harus dibayar demi menolak tawaran dari bangsa iblis.'

Rasa cemasnya bermuara pada poros ketakutan tersebut.

Lantas apakah ada hal lain yang sanggup dia eksekusi di detik ini?

Tentu saja tidak ada.

Maka yang perlu dia lakukan hanyalah terus melangkah setia menjalankan perannya seperti biasa.

"Abnaier."

Merespons panggilan Krais, sang pria berambut hijau tua pekat mendongakkan kepalanya dari atas meja kerjanya.

"Ada perkara apa?"

Ruang kerja perwira yang teramat luas untuk sekadar menampung dua buah meja kerja itu sanggup disulap menjadi sebuah ruang rapat koordinasi darurat kapan saja dibutuhkan.

Di atas meja bundar raksasa yang bertengger tepat di tengah ruangan, selembar peta taktis militer selalu terbentang terbuka.

Itu adalah tempat di mana mereka biasa berdiri mengelilingi meja sembari saling melontarkan analisis strategis masing-masing.

Krais berdiri tegak di depan meja peta tersebut, tenggelam dalam perenungan mendalam.

Dia memanggil Abnaier murni sembari menata ulang alur kalkulasi taktis di dalam kepalanya sekali lagi.

Abnaier memahami tabiat tersebut dan menunggu untaian kata-katanya dengan sabar dalam keheningan.

Pandangan mata Krais terarah menatap ke permukaan peta benua.

'Jika seluruh persiapan kita saat ini ternyata masih belum memadai.'

Jemarinya membagi wilayah-wilayah kekuasaan di atas peta.

Dia menatap kembali titik-titik koordinat strategis di masing-masing wilayah.

Celah kelemahannya terpampang teramat nyata.

"Pihak kerajaan Aspen saat ini pasti tengah aktif membina barisan ksatria mereka sendiri juga, bukan?"

Dugaannya sangat tepat.

Abnaier memang tidak mengetahui seluruh manuver rahasia yang tengah bergolak di tanah air asalnya, namun dirinya memahami garis besarnya hingga ke tingkatan tertentu.

Dan hal-hal yang tidak dia ketahui secara pasti sanggup dia tebak atau prediksi melalui logika politik.

"Kau melontarkan hal yang teramat gamblang," sahut Abnaier tenang.

Sebuah wilayah kadipaten agung wajib sanggup berdiri mandiri di atas kakinya sendiri.

Dan demi mewujudkan hal tersebut, kepemilikan kekuatan militer yang tangguh adalah sebuah syarat mutlak yang pantang ditawar.

Meskipun saat ini mereka tengah ditekan dan dibendung oleh kekuatan benteng Border Guard dan kerajaan Naurilia, tak ada yang tahu apa yang bakal terjadi dalam kurun waktu dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan.

Terlebih lagi, berapa lama aliansi damai ini bakal sanggup bertahan?

Daratan benua adalah tanah liar yang jauh lebih akrab dengan bara kekacauan dibanding ketertiban hukum.

Ketamakan dan egoisme bangsa manusia dipastikan bakal mengubah peta perpolitikan kapan saja.

Abnaier tidak pernah menaruh kepercayaan secara mudah kepada bangsa manusia.

'Sebuah sistem di mana kita mustahil sanggup saling mengkhianati satu sama lain adalah hal yang mutlak dibutuhkan.'

Namun apakah sistem ideal semacam itu mungkin untuk diwujudkan?

Untuk saat ini, membendung potensi pengkhianatan murni menggunakan supremasi militer adalah opsi terbaik yang paling realistis.

Jika seorang pria dewasa bertinju besi berdiri mengawasi dua anak kecil sembari melarang mereka bertengkar, kedua anak itu dipastikan tidak bakal berani baku hantam.

Atas seluruh pertimbangan itulah, menanamkan investasi pada masa depan dan membina barisan talenta muda adalah langkah alami yang wajib ditempuh.

Dan tanah air asalnya dipastikan tengah mengeksekusi doktrin tersebut.

"Kirimkan para calon ksatria muda mereka ke benteng ini untuk belajar."

Mendengar usulan mengejutkan yang meluncur dari bibir Krais, Abnaier—meskipun dirinya tidak menaruh kecurigaan picik—bertanya balik demi memastikan, "Kau tidak sedang berniat memaksa mereka melakukan naturalisasi kewarganegaraan, kan?"

"Sama sekali tak ada urgensi untuk mengekang mereka menggunakan kekerasan fisik. Hal yang mutlak dibutuhkan adalah proses 'pembelajaran ilmu' serta kepemilikan kapasitas militer yang nyata."

Krais memahami watak seorang Encrid dengan sangat baik.

Pemuda itu dipastikan bakal membentengi keselamatan kerajaan Aspen dengan cara apa pun.

'Bahkan andai kita tidak sanggup memproduksi barisan ksatria secara massal.'

Pemuda itu sanggup merajut fondasi kokoh untuk mencapainya.

Encrid telah merancang sebuah sistem pembinaan yang teramat luar biasa.

Meskipun sistem itu belum sempurna seutuhnya...

'Hal itu bakal sangat membantu.'

Tawaran ini murni dirancang demi kemakmuran dan keuntungan kerajaan Aspen, namun Krais tidak memandangnya secara sesederhana itu.

'Kerajaan Aspen bakal menjelma menjadi sebuah benteng dinding pelindung yang membentengi bagian belakang punggung benteng Border Guard.'

Abnaier mengakui di dalam relung hatinya bahwa sosok Krais pun sejatinya adalah seorang pria gila.

Di luar antusiasme liarnya terhadap panggung salon kecantikan, wadah kapasitas batin yang dimiliki oleh bajingan gila ini terbentang sedemikian luas dan megahnya.

"Mari kita eksekusi rencana ini."

Kerajaan Aspen adalah negara musuh bebuyutan yang baru saja berperang melawan mereka beberapa tahun lalu.

'Mengambil inisiatif untuk mendongkrak kapasitas militer dari bekas negara musuh semacam itu?'

Apakah murni karena dirinya buta dan tidak sanggup memprediksi apa yang bakal terjadi sepuluh tahun ke depan?

Tidak, itu murni karena pria bermata besar ini sanggup melukiskan peta taktis yang berkali-kali lipat jauh lebih megah dibanding manusia biasa.

Dia bakal meredam ancaman bahaya yang berada di depan matanya saat ini, dan dia baru akan membereskan konsekuensi masa depan kala waktu itu tiba.

Krais mungkin bakal menolak klaim tersebut, namun bajingan gila ini sejatinya tidak berbeda jauh dari sosok Encrid.

Keduanya memiliki kesamaan di mana mereka sama-sama menapaki jalanan hidup mereka di atas seutas tali tipis yang berbahaya.

Dan demikianlah, barisan calon ksatria muda yang tengah digembleng di bekas negara musuh mulai melangkahkan kaki mereka bertolak menuju ke benteng perbatasan Border Guard.

Abnaier telah membujuk petinggi tanah airnya, dan pihak kerajaan Aspen pada kenyataannya tidak memiliki opsi pilihan lain.

Barisan ksatria gila dari benteng Border Guard memiliki kapasitas militer yang lebih dari cukup untuk menundukkan dan meratakan seisi kerajaan Aspen andai mereka menghendakinya.

Terlebih lagi kabar perihal keberhasilan mereka membantai sosok Beelrog serta rentetan insiden penaklukan monster baru-baru ini telah sampai ke telinga keluarga kerajaan Aspen.

'Ini adalah sebuah peluang emas yang teramat berharga.'

Demikianlah kesimpulan penilaian yang dirumuskan oleh Abnaier.

Meskipun gejolak batin yang dirasakan oleh para calon ksatria muda yang dikirim ke benteng Border Guard dipastikan bakal terasa sangat berbeda.

Sementara itu di belahan tanah lain, sosok Raja Krang untuk kali pertama setelah sekian lama melontarkan kebiasaan gaya bicara lamanya yang kasar.

Dia biasanya enggan menggunakan intonasi bahasa yang terlalu tinggi demi menjaga wibawa kerajaannya, dan berkat teguran cerewet dari orang-orang di sekitarnya, dia telah mulai membiasakan diri menggunakan tata bahasa yang relatif teramat halus, namun detik ini situasinya tidak memungkinkan.

"Bajingan-bajingan keparat ini?! Mereka benar-benar berniat melancarkan agresi militer terbuka ke arah kita?!"

Marquis Marcus Baisar, sang perwira bangsawan muda yang baru saja mewarisi gelar kepemimpinan dari mendiang marquis sebelumnya, nyaris mengangguk setuju menyimak umpatan sang raja.

Raja Krang terus meluapkan amarahnya.

Pria perkasa itu tidak sampai membelalakkan matanya lebar-lebar, tidak pula menghantam permukaan meja rapat.

Namun murni dari intonasi nada bicaranya saja, siapa pun sanggup merasakan gelora kegeraman yang tengah membakar batinnya.

"Atas dasar apa?! Apakah mereka semua telah kehilangan akal sehat mereka?! Pihak selatan sama sekali tidak bakal meraup keuntungan apa pun dari perang ini, bukan?!"

Hubungan bilateral di antara negara adidaya wilayah selatan, Lihin-Stetten, dan kerajaan Naurilia sedari dulu teramat sangat buruk.

Berkali-kali lipat jauh lebih kelam dibanding relasi mereka dengan kerajaan Aspen.

Kedua negara adidaya ini sama-sama berbatasan langsung dengan teritorial Demon Realm, dan pihak selatan kerap melangkahi batas garis aman.

Gesekan perbatasan itu terkadang meletus menjadi rentetan pertempuran skala lokal, dan mereka bahkan sempat terlibat dalam kecamuk perang terbuka di masa lalu.

Sudah berapa banyak korban jiwa yang meregang nyawa di antara kedua negara?

Bahkan mendiang Marquis Baisar semasa hidupnya selalu menggertakkan giginya menahan geram setiap kali nama wilayah selatan disinggung.

Raja Krang sanggup membaca konstelasi geopolitik yang tengah berlangsung.

Kerajaan Naurilia saat ini tengah menikmati masa-masa kemakmuran ekonomi yang belum pernah tercatat di sejarah.

Pemandangannya seolah dirinya sanggup mendengar suara bisikan dari sang raja selatan yang bergema angkuh.

'Mari kita mati binasa bersama-sama.'

Jika bukan makna keputusasaan semacam itu, lantas apa lagi tujuannya?

"Ataukah itu mengindikasikan bahwa mereka memiliki rasa percaya diri mutlak perihal kemenangan perang mereka," Marcus menyuarakan kesimpulan logisnya secara dingin.

Pihak kerajaan selatan mustahil bakal mendorong maju garis depan perbatasan mereka murni hanya gara-gara mereka kehilangan akal sehat.

'Murni karena mereka memegang peluang kemenangan yang nyata.'

Raja Krang pun menyadari bahwa analisis tersebut sangat masuk akal.

Namun dirinya merasa seolah ada sebuah konspirasi kedengkian yang teramat bengkok tengah menyusup mengintervensi di balik layar.

"Selama ini aku memandang seluruh manuver picik mereka bukan sebagai genderang perang, melainkan murni sebagai sarana tawar-menawar demi menegosiasikan pembagian jatah keuntungan."

Dia selama ini memandang aksi pengiriman mata-mata serta rentetan konspirasi gelap mereka murni berlandaskan perspektif tersebut.

'Apakah mereka sedari awal memang mendambakan kobaran perang total?'

Ini adalah sebuah aksi kehancuran bersama (mutual destruction).

Sebuah pertempuran hidup-mati hingga titik darah penghabisan.

Atas alasan apa sebenarnya mereka melancarkan kegilaan ini?

Apa pun motif di baliknya, dirinya pantang berpangku tangan dan pasrah menerima agresi militer tersebut.

"Mobilisasi seluruh divisi angkatan bersenjata dan segera kirimkan maklumat perang resmi kepada Dewan Sepuluh (Council of Ten). Sektor perbatasan ini adalah garis depan sakral yang dibentengi langsung oleh barisan ksatria Ordo Ksatria Jubah Merah (Crimson Cloak Knight Order)! Kita pantang mundur sedalam satu jengkal pun!"

Menyaksikan barisan angkatan perang wilayah selatan yang perlahan mulai mendorong maju garis perbatasan mereka, Raja Krang meneguhkan ketetapan hatinya.

Tak ada satu pun hal yang bakal berubah andai dirinya murni meluapkan amarah di ruangan ini.

'Paling lambat dalam kurun waktu satu bulan ke depan?'

Marcus mengantongi segudang jam terbang pertempuran di medan perang nyata.

Bahkan tanpa perlu repot-repot merinci berbagai macam kalkulasi rumit, perwira bangsawan muda itu sanggup memprediksi bahwa perang skala penuh dipastikan bakal meletus dalam tempo kurang dari satu bulan.

Dia memegang keyakinan yang teramat pasti.

Perang dahsyat ini bakal dikobarkan dan diprakarsai langsung oleh kerajaan Lihin-Stetten, bukan oleh kerajaan Naurilia.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.