Eternally Regressing Knight

Bab 843: Kau Lagi?

3544 Kata

Bab 843: Kau Lagi?

Penadex dilanda kepanikan yang teramat luar biasa.

Sesosok iblis yang dia panggil menggunakan raga fisiknya sendiri sebagai media pemanggilan—bukan, lebih tepatnya sebagian dari daya kekuatan yang dipinjamkan oleh sang iblis—telah terluka parah tepat pada detik pertama kemunculannya.

Pria tua itu seketika mengulurkan lengan manusianya lalu mencengkeram erat pergelangan tangan kekasih sekaligus rekan penyihirnya yang berdiri tepat di sampingnya.

Lebih presisi lagi, dia menancapkan kuku-kukunya dalam-dalam, mengoyak luka menganga sembari mencabik kulit tangannya.

"Penadex—! Dasar kau anjing keparat—"

Sang penyihir wanita pemanggil ular tidak sanggup menuntaskan makiannya.

Anatomi tubuhnya mengering dan layu dalam sekejap mata.

Lidahnya terlipat tergulung ke dalam rongga mulutnya, dan sepasang bola matanya seketika mengkerut cekung.

Dia sempat berupaya memanggil beberapa ekor ular berbisa demi melancarkan perlawanan darurat, namun kawanan ular itu—setelah menyembulkan kepala mereka ke udara—seketika hancur luruh layaknya selembar kain lap lapuk yang membusuk.

Lalu, aliran darah segar yang menetes dari pergelangan tangannya mengalir deras menyelimuti sekujur raga Penadex.

Darah itu tidak jatuh membasahi tanah, melainkan mengalir berbalik arah, merayap naik menembus telapak tangan Penadex.

Sang penyihir ular seketika ambruk berdebam ke tanah, menyisakan raga kering yang murni hanya berupa sekam mayat tanpa nyawa.

Itu murni karena seluruh cadangan energi sihirnya telah dirampas paksa, serta seluruh sari pati daya hidupnya telah disedot habis tanpa sisa.

Dan demikianlah, wanita itu meregang nyawa.

Penadex bahkan tidak sudi menolehkan kepalanya menatap jasad sang kekasih yang tewas.

Dia telah berhasil merengkuh tujuan pragmatisnya.

Lantas apa pedulinya andai beberapa nyawa manusia harus meregang nyawa jika hal itu memang mutlak dibutuhkan?

Dia telah membantai lebih dari ratusan manusia di dalam laboratorium eksperimennya, dia telah membantai sesama kaumnya sendiri, serta telah menangkap dan memenjarakan segudang monster dan binatang buas purba.

Apakah dirinya pernah membeda-bedakan korbannya antara anak-anak kecil, kaum wanita, ataupun para lansia?

Tentu saja tidak pernah.

Di mata seorang Penadex, mereka semua murni hanyalah sekadar gumpalan-gumpalan daging belaka.

Dirinya adalah entitas superior yang mulia, sedangkan sisanya hanyalah makhluk-makhluk rendahan yang hina.

Terutama bangsa manusia fana!

Dirinya terlahir membawa garis darah bangsawan agung serta diberkahi oleh bakat manipulasi formula sihir tingkat tinggi sejak usia belia.

Sama sekali tak ada entitas hidup di muka bumi yang berdiri jauh lebih superior dibanding dirinya.

'Akulah sang bangsawan sejati.'

Terlahir membawa bakat istimewa yang teramat langka bahkan di antara jajaran para penyihir hebat—jika takdir semacam itu bukan sebuah kebangsawanan mutlak, lantas apa lagi namanya?

Dia meninjau kembali setiap momentum hidupnya sejak hari pertama dirinya terlahir ke dunia.

Apa pun hal yang menarik minatnya selalu berhasil dia taklukkan dengan teramat mudah.

Di masa kanak-kanaknya kala dirinya belum memahami apa-apa, lawan jenis bakal langsung jatuh hati murni lewat satu lirikan matanya, dan terkadang sesama jenis pun mengalami hal serupa.

Dan setelah dirinya mulai menyelami samudra formula sihir?

Bakat jenius yang dianugerahkan langsung oleh surga, seorang pendekar magis tanpa tanding.

Itulah sosok dirinya.

"Penadex, aku sangat membencimu!" Kobaran kebencian berkumpul pekat.

"Tuan Penadex, kaulah segalanya bagiku!"

Pemujaan yang teramat tulus berkumpul sama banyaknya dengan kebencian.

Seseorang yang memiliki segalanya selalu mendongakkan kepalanya menatap ke tempat yang jauh lebih tinggi.

Dia mendambakan untuk berdiri tegak melangkahi batas kubah langit.

'Sejauh mana diriku sanggup melangkah bermodalkan bakat bawaan lahirku ini?'

Sebuah tempat yang teramat jauh, batas terluar dari cakrawala ilmu pengetahuan yang bahkan mustahil sanggup dibayangkan oleh akal manusia, sebuah tempat di mana mati dalam kenikmatan dan kebahagiaan ekstasi mutlak adalah hal yang sangat layak tepat pada detik dirinya menginjakkan kaki di sana.

Bahkan andai tak ada seorang pun manusia yang sanggup memahaminya, dia cukup terus melangkah maju seorang diri.

Sosok Penadex adalah sesosok entitas yang teramat istimewa.

Demikianlah cara dirinya menilai eksistensi pribadinya.

Dia meyakini sepenuh jiwa bahwa kelak dirinya bakal menelan seisi ilmu pengetahuan dunia lalu bermutasi menjadi sesosok entitas agung yang baru.

'Namun mengapa...'

Mengapa sekujur raganya saat ini tengah gemetar hebat tak terkendali?

Dia telah memanifestasikan sesosok iblis neraka ke dunia fana ini melalui ikatan kontrak terlarang.

Sebuah momentum mengerikan di mana seorang penyihir biasa dipastikan bakal langsung kehilangan kesadaran dan raganya diambil alih secara mutlak dalam sekejap.

Namun kenyataannya tidak demikian bagi dirinya.

Dia sanggup mempertahankan kesadaran egonya dan mengendalikan eksistensi sang iblis.

'Tapi mengapa?'

Pertanyaan serupa terus bergema berulang kali di dalam kepalanya.

Mengapa rongga dadanya terasa sedemikian sesak dan sakitnya, ujung-ujung jemari tangan dan kakinya terasa kesemutan hebat, seluruh serat otot di sekujur tubuhnya menegang kaku, serta guyuran peluh keringat dingin mengucur deras tanpa henti?

Momentum kala dirinya memanggil kembali rekaman masa lalunya terasa sangat panjang, namun pada kenyataannya seluruh kilas balik itu meletup hanya dalam hitungan sepersekian detik.

Itu murni hanya berlangsung dalam satu kedipan mata singkat.

Penadex menatap sosok sang lawan melalui sepasang mata milik sang iblis.

Sepasang manik mata biru tua pekat yang terbentang jernih layaknya sebuah danau purba.

Selain sepasang mata biru tersebut, seluruh anatomi tubuh sang pendekar tertutup rapat oleh naungan bayang-bayang gelap dan tidak terlihat secara jelas.

Namun ada satu objek yang terpampang nyata: sebilah mata pedang yang tengah menghunjam turun dari atas kepala.

"KIIIAAAAK!"

Raga fisik Penadex memang tengah membeku kaku, namun raga milik sang iblis tidak demikian.

Entitas neraka itu seketika menarik tubuhnya meliuk ke belakang.

Dia meronta liar dan berkelit menghindar.

Kekuatan sang iblis telah mengambil alih kendali atas anatomi fisik milik Penadex.

'Rasa takut.'

Gelombang teror rasa takut yang teramat pekat seketika meledak membuncah dan menghantam kesadaran otak Penadex.

Apakah ini adalah kali pertama dirinya mencicipi emosi semacam ini di sepanjang lembaran hidupnya?

Tentu saja bukan.

Namun ini adalah kali pertama dalam sejarah emosi ketakutan itu meletup dengan intensitas sedahsyat ini.

"Oh—"

Sang ksatria berpedang bergerak melangkah maju sembari melontarkan sebaris decak kagum yang teramat ringan.

Sebongkah meteor tebal menghunjam turun di atas dua lintasan garis biru yang teramat ramping.

Sebongkah meteor biru tua pekat.

"KIIIAAAAK!"

Sang iblis melolong ketakutan, dan Penadex dilanda kepanikan maut.

Sreeet!

Kali ini sabetan mata pedang tersebut memenggal putus salah satu lengan sang iblis secara utuh.

Lengan hitam yang terpenggal itu melayang berputar di udara.

Tepat saat kepulan asap hitam pekat berhamburan, lengan bawah yang jatuh ke tanah itu seketika buyar musnah layaknya serakan abu arang.

Sang iblis bergegas merapalkan formula sihir pribadinya secara darurat.

Media persembahannya adalah sari pati daya hidup milik Penadex yang telah memanggilnya.

Tepat sesaat sebelum dirinya menuntaskan mantra sihir yang dirajut menggunakan media darah tersebut, aliran denyut mananya mendadak terputus paksa.

Sensasinya persis seperti seseorang yang menyiramkan seember air es ke atas api unggun yang baru saja hendak menyala membara.

"Halo, wahai sang iblis," bisik sang penyihir wanita dingin.

Esther telah mengintervensi aliran sihirnya.

Sang penyihir wanita yang membentengi dimensi formula sihir yang teramat mahir untuk mengacaukan sihir lawan mengibaskan telapak tangannya tanpa secuil pun senyuman di wajahnya.

"Gadis penyihir itu saat ini tengah benar-benar menikmati momentum pertempuran ini," gumam sang Dragonkin bercelah pupil vertikal dengan teramat polos.

"Apa aku perlu menjahit mulutmu itu sekarang juga?!" semprot Esther melontarkan kekesalannya kepada sang Dragonkin.

Sang Dragonkin menganggukkan kepalanya seolah dirinya memahami teguran tersebut.

Sang iblis terdiam merenung sesaat.

Dia benar-benar merasa sangat heran di belahan dunia mana sebenarnya dirinya baru saja dipanggil keluar.

'Seorang pendekar pedang monster, seekor Dragonkin, serta seorang penyihir agung.'

Tempat terkutuk macam apa sebenarnya ini?!

Jiwa sang iblis kini dipadati oleh segudang keraguan dan kecurigaan yang mendalam.

"Iblis penguasa apa tadi katamu? Antek bawahan Demon Realm? Penjaga pintu gerbang neraka? Ataukah tukang sapu jalanan? Aku benar-benar sangat penasaran ingin mendengar kelanjutan dari kalimatmu yang terpotong tadi," gumam Rem santai.

Pria barbar itu benar-benar menaruh rasa ingin tahu yang tulus perihal sisa untaian kalimat sang iblis yang sempat terputus tempo hari.

Encrid menyadari bahwa gambaran taktis yang sempat dia rancang di dalam kepalanya sesaat lalu tidak terwujud secara sempurna di dunia nyata.

Sang iblis telah berhasil berkelit menghindari tebasan mautnya.

Sang penyihir yang kini berada dalam status sinkronisasi jiwa dengan sang iblis yang mencuat keluar dari punggungnya memiliki raga yang membungkuk melengkung layaknya seorang pria bungkuk.

Sang iblis menggerakkan sepasang kaki panjangnya dan melangkah mundur.

'Pemandangannya tampak agak menjijikkan.'

Pria yang awalnya adalah seorang penyihir agung kini tergantung lemas di antara kedua selangkangan kaki sang iblis.

Pemandangan itu memicu analogi visual yang teramat ganjil.

Sangat mudah untuk membayangkannya, bahkan tanpa perlu mengerahkan daya imajinasi yang tinggi.

Encrid mengabaikan penampilan ganjil tersebut lalu memutar ulang rekaman detik kala makhluk itu berhasil berkelit menghindari ayunan pedangnya tadi.

Sepasang matanya menyisir permukaan lengan sang iblis.

Dia sanggup melihat seberkas pendaran energi hitam yang berkilau tipis di sana.

Teksturnya menyerupai jelaga hitam pekat, serta tampak sangat mirip dengan fenomena magis yang pernah dia saksikan di masa lampau.

'Dinding Semak Berduri (The Thornbriar Wall).'

Apakah itu sejenis formula sihir yang serupa?

Kelihatannya memang demikian.

Makhluk neraka itu telah menyelimuti permukaan lengannya menggunakan lapisan zirah yang tersusun murni dari manifestasi arwah-arwah terkutuk.

Lapisan arwah itulah yang sempat membelokkan arah lintasan bilah pedangnya.

Tentu saja hal itu pun terjadi murni karena Encrid mengayunkan pedangnya murni sebagai sebuah tebasan uji coba.

Dia belum mengerahkan segenap daya kekuatan fisiknya.

Dia sengaja menyisakan cadangan tenaganya sembari menakar kapasitas sang lawan.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa pemuda itu tengah dipadati oleh ketenangan batin yang teramat melimpah.

Encrid mengayunkan pedangnya, bersiap menyambut segala macam trik licik yang mungkin bakal dilancarkan oleh sang lawan.

Itu adalah sebuah kenyataan taktis yang disadari oleh siapa saja yang menyimak jalannya laga.

Kondisinya sedemikian gamblangnya hingga sang iblis pun secara samar-samar mulai menyadarinya.

Pendekar pedang di hadapannya ini bersikap terlalu santai dan tenang.

Demikianlah kesimpulan batin yang dirumuskan oleh sang iblis.

"Makhluk monster macam apa sebenarnya dirimu?!"

Pada akhirnya, sang iblis memutuskan untuk menyerah memperkenalkan identitas dirinya.

Dia bergumam sembari memutar liar sepasang bola matanya yang menempel di kepala benjol yang mencuat keluar dari punggung sang inang ke kiri dan ke kanan.

Bola-bola matanya menggeliat liar hingga nyaris melompat keluar dari rongga kelopaknya.

Pergerakan abnormal semacam itu adalah bukti sahih yang menegaskan eksistensinya sebagai entitas penghuni Demon Realm.

Bagi manusia biasa, itu adalah sebuah pemandangan mengerikan yang sanggup membuat rongga mulut mengering seketika saking ngerinya.

"Pemandangan yang benar-benar sangat menjijikkan untuk dilihat," celetuk Rem santai seolah hal itu bukanlah perkara besar.

Namun di mana kau sanggup menjumpai manusia biasa di medan tempur ini?

Tak ada satu pun ksatria di tempat ini yang kestabilan mentalnya bakal goyah murni hanya gara-gara 'merasakan' kehadiran sesosok entitas neraka.

Seluruh ksatria yang berdiri di tempat ini adalah barisan petarung bergelar Pembantai Beelrog (Beelrog Slayer).

"Pemandangan itu membuatku merasa sangat gatal ingin memukulinya," timpal Ragna dingin.

Sang penyihir yang sedari tadi tergantung menyedihkan di antara kedua selangkangan kaki sang iblis mendongakkan kepalanya.

Punggungnya yang bungkuk terangkat, dan dia menatap ke sekelilingnya layaknya seekor tikus got yang tengah dilanda ketakutan maut.

"Penadex, apakah wujud monster busuk itu adalah representasi dari bintang keabadian yang sedari dulu kau dambakan?"

Esther membuka suaranya, dengan nada bicara yang dipadati oleh rasa jijik dan penghinaan yang teramat mendalam.

Dan sang Dragonkin...

"Rasa takut. Apakah itu adalah ketakutan mutlak terhadap jurang pemusnahan abadi?" gumam Themares sembari memanggil kembali rekaman memori perihal tabiat dari musuh-musuh yang dulu kerap berhadapan dengannya.

"KRAAAAK!"

Sang iblis mendongakkan kepalanya ke belakang lalu melolongkan jeritan histeris ke angkasa, berusaha keras mengibaskan emosi ketakutan yang merayapi jiwanya.

"Akulah sang penguasa agung yang mengomandoi sepuluh ribu legiun arw—"

Pria neraka itu kembali tidak sanggup menuntaskan kalimatnya.

DHUAAR!

Sebuth proyektil batu yang meluncur merobek atmosfer seketika menghantam tepat ke arah kepalanya.

Simultan dengan suara dentuman ledakan tersebut, sebagian dari paras wajah sang iblis memelintir patah dan remuk hancur berkeping-keping.

Percikan darah hitam pekat seketika menyembur berhamburan ke segala penjuru.

Sang iblis menutupi wajahnya yang remuk menggunakan satu-satunya lengan yang tersisa.

Pada saat yang sama, dia berusaha merapalkan formula sihir lainnya, namun...

"Berhenti," titah Sabda Perintah (Word of Command) milik sang Dragonkin seketika membungkam pergerakannya.

"Akulah sang komandan tertinggi dari divisi pasukan yang menguasai sepuluh ribu arwah..." bisik sang iblis merana.

Dia baru saja diperlakukan dengan cara yang teramat sangat biadab dan tak terbayangkan tepat setelah dirinya dipanggil keluar melalui ikatan kontrak magis.

"Iblis keparat, lekaslah bertarung dan bantai mereka!" teriak Penadex yang telah ditundukkan oleh rasa takut, mendongakkan kepalanya dari sela-sela selangkangan sang iblis.

Pemandangan kala dirinya mengangkat kepala dari posisi ganjil tersebut benar-benar terlihat sangat aneh dan menggelikan.

"Tutup mulut busukmu itu!" bentak sang iblis murka kepada sang penyihir kotor.

Pada akhirnya, bukankah murni gara-gara bajingan dungu ini berani mencari gara-gara di tempat yang salah sehingga malapetaka ini meletus?!

Seekor iblis pada hakikatnya adalah seorang mahaguru dalam seni negosiasi dan perjanjian kontrak.

Dia merasakan kepunahan eksistensinya yang kian mendekat lalu menggerakkan bibirnya.

"Apakah kalian benar-benar berniat berhadapan langsung melawan sang Penguasa Seratus Ribu Arwah (Master of a Hundred Thousand Phantoms)?"

Bagi Encrid, itu sama sekali bukan pertanyaan yang menuntut perenungan mendalam.

Itu pun merupakan sebuah gelar kehormatan yang pernah dia dengar di masa lampau.

Ada perkara-perkara berharga yang pantang dia lupakan bahkan kala dirinya terus mengulang siklus 'hari ini' tanpa henti.

Itu sama persis dengan nama dari sesosok iblis agung yang menampakkan diri kala Count Molsen meregang nyawa tempo dulu.

'Akulah sang penguasa seratus ribu arwah,' demikianlah ocehan sombong yang pernah dilontarkan oleh bajingan tersebut.

Sesosok raja iblis.

Sosok itu dipastikan merupakan salah satu dari jajaran penguasa tertinggi di Demon Realm.

Apakah dia adalah salah satu dari enam pilar agung yang pernah disinggung oleh sang antek iblis tempo hari?

Kemungkinan besar memang demikian.

"Akan sangat menyenangkan andai kau sudi memanggilnya datang ke tempat ini sekarang juga," sahut Encrid tenang.

Mengingat dirinya ditanya apakah bersedia menghadapinya, maka pemuda itu menjawab dengan kata bersedia.

"..."

Sang iblis seketika terbungkam seribu bahasa.

"Cepatlah bertarung!" teriak sang penyihir kembali mengangkat kepalanya dari sela-sela selangkangan sang iblis.

"Bukankah sebaiknya kita mulai dengan cara memotong benda menjijikkan yang menggantung di bawah sana?" sela Rem melontarkan usulan taktis.

"Haruskah kita memotongnya sekarang?" sang Dragonkin meminta izin pertimbangan.

"Keduanya saat ini telah tersinkronisasi secara jiwa, sehingga memotongnya tidak bakal mengubah apa pun di medan laga," Esther memaparkan fakta medisnya secara objektif.

"Tapi tetap saja pemandangan itu sama sekali tidak sedap dipandang mata," timpal Ragna sembari menyandarkan pedang Sunrise di atas pundaknya.

Jaxon berdiri dalam keheningan tepat di belakang punggung sang iblis.

Pria pembunuh itu tengah menimbang-nimbang apakah dirinya perlu menyayat putus bagian di antara kedua selangkangan tersebut secara bersih.

"Cepat, cepatlah habisi mereka!"

Sang penyihir yang kewarasannya telah lumpuh total terus meronta histeris.

Menyaksikan kehancuran moral pria tersebut, Esther merasakan seberkas sentimen emosional yang baru meletup di dalam hatinya.

Stabilitas batinnya sama sekali tidak goyah.

Namun haruskah dikatakan bahwa dirinya tidak pernah menyangka bahwa musuh bebuyutannya bakal hancur lebur dengan cara yang sedemikian menyedihkannya?

Organisasi Astrail adalah kelompok terkutuk yang telah memburu dan menyiksa hidupnya selama berpuluh-puluh tahun, serta merupakan pihak yang telah membantai mendiang gurunya.

Mereka adalah objek dari segenap dendam kesumatnya dan merupakan biang keladi di balik kutukan maut yang dia tanggung di dalam raganya.

Murni karena dirinya telah teramat lelah terus diburu layaknya mangsa, dia dulu bertekad ingin menumbuhkan kekuatannya sendiri demi membalikkan dan membumihanguskan mereka semua.

Jika dipikir-pikir kembali, Esther pun sempat melakukan pencapaian yang teramat luar biasa di masa lampau.

Justru karena dirinya membenci statusnya sebagai buronan, dia berusaha keras merajut dimensi formula sihir yang sanggup menindas mereka secara mutlak.

Ada suatu masa di mana dirinya terus mendesak maju bermodalkan tekad baja tersebut, tanpa memedulikan apakah ambisi itu mungkin untuk diwujudkan ataukah tidak.

Dia tidak pernah bersandar pada artefak relik suci ataupun meminjam kekuatan orang lain, melainkan murni melangkah maju mengandalkan kedua kakinya sendiri.

Lantas apa hasil yang dia rengkuh dari seluruh perjuangan berdarah tersebut?

Dia murni menuai sebaris kutukan maut.

Dan melalui takdir kutukan itulah, dirinya dipertemukan dan terikat erat dengan sosok pemuda bernama Encrid.

Jika fenomena itu bukan dinamakan sebagai lelucon usil dari sang dewi keberuntungan atau dewi takdir, lantas apa lagi sebutan yang pantas disematkan?

Pada akhirnya, Esther baru sanggup merekonstruksi dimensi formula sihirnya secara sempurna murni setelah dirinya dipertemukan dengan sosok Encrid di tanah perbatasan ini.

'Hal yang sesungguhnya kubutuhkan selama ini adalah sebuah kehangatan hati.'

Sebuah hati yang paham bagaimana cara mempedulikan keselamatan orang lain, sebuah cara pandang yang sanggup mengenali hal-hal apa saja yang teramat berharga di dunia ini.

'Bagaimana aku harus melabeli perasaan ini? Sebuah hati yang mengerti bagaimana cara mencintai?'

Gadis itu nyaris mendengus mencibir dirinya sendiri kala kilasan ide tersebut melintas di benaknya.

Sang Penyihir yang Berjuang, sang penjelajah samudra formula sihir yang dingin, tengah mendiskusikan perihal cinta?

Haruskah disebut sebagai sebuah kata yang sanggup membuat seluruh bulu kuduknya berdiri meremang murni hanya dengan memikirkannya sepintas lalu?

Namun dia wajib mengakui apa yang memang terbukti benar.

Hati yang tulus mempedulikan keselamatan orang lain—mempedulikan keselamatan seseorang—telah meluaskan cakrawala dimensi formula sihirnya hingga melompati batas tertinggi.

"Penadex, dasar manusia dungu yang menyedihkan," tegur Esther dingin kepada sang lawan.

Apakah jalan hidup yang kau tempuh setelah menanggalkan kemanusiaanmu hanyalah berujung pada menyerahkan kesadaran jiwamu ke pangkuan sesosok monster neraka?

Apakah kapasitas dari sosok konspirator agung yang dulu terus memburu dan menyiksaku hanya berada di tingkatan serendah ini?

Kenyataan memalukan itulah yang menyulut kobaran amarah di dalam dadanya.

Dan Rem sekali lagi melontarkan ejekan narsisnya.

"Wanita itulah sosoknya!"

Esther berikrar di dalam batinnya bahwa dirinya dipastikan bakal melontarkan kutukan sihir tergelap kepada sang pria barbar biadab itu setelah seluruh prahara ini tuntas.

"Entitas kontrakanku adalah sesosok vampir agung. Dia menyandang gelar terhormat sebagai bangsawan penguasa Demon Realm. Jika kalian berani membantai diriku di tempat ini, kalian dipastikan bakal menanggung dendam kesumat abadi bersamanya!"

Sang iblis melontarkan sebaris pernyataan yang terdengar sangat rasional, dan persis seperti kala dirinya berhadapan melawan One-Killer tempo hari, Encrid memilih untuk menapaki jalur yang dia ketahui teramat sangat tidak rasional.

"Hal semacam itulah yang paling kudambakan di dunia ini."

Melalui sebaris pernyataan singkat, padat, dan tegas, pemuda itu mengangkat pedang Dawnforged miliknya tinggi-tinggi.

Dia telah mengidentifikasi lapisan zirah arwah yang menyelimuti raga sang iblis, dan dia memahami bahwa monster itu dibekali keahlian magis untuk mengaburkan persepsi saraf lawan.

'Akar penyebab dari melesetnya tebasanku sesaat lalu.'

Pengalaman tempur nyata tidak pernah berbohong.

Encrid yang telah berulang kali bertarung hidup-mati melawan sosok Beelrog telah mengintip keberagaman karakteristik yang dimiliki oleh bangsa iblis.

Mereka semua dipastikan dibekali oleh keahlian khusus yang saling bertolak belakang.

Sosok Beelrog hanyalah salah satu iblis yang paling terspesialisasi dalam duel fisik murni di antara kaumnya.

Pemuda itu melangkah maju lalu mengayunkan pedangnya dengan segenap jiwa raganya.

Sang iblis melancarkan perlawanan pamungkasnya dengan penuh keputusasaan.

Dia menghimpun sebagian dari arwah-arwah terkutuk di bawah komandonya tepat di ujung-ujung jemari tangannya, memadatkannya hingga setajam mata tombak, lalu menusukkannya ke depan.

Encrid menepis dan menangkis ujung serangan tajam tersebut menggunakan bilah pedangnya yang tengah menyambar turun.

TRANG!

Bilah pedang yang ditempa murni oleh keteguhan kehendak Will menangkis serangan sang lawan lalu melesat menusuk maju tanpa ragu.

Dia sama sekali tidak peduli rintangan maut apa yang menanti di ujung jalannya.

Murni karena dirinya memiliki prinsip yang dia yakini sepenuh jiwa, maka dia wajib membentengi dan menegakkan keyakinan tersebut hingga titik darah penghabisan.

Dia cukup memupuk kehendak Will miliknya dan merajut keyakinan baja di dalam dadanya.

CRIIING! JLEB!

Encrid menggerakkan bilah pedangnya meliuk naik dan turun sembari menepis serangan lawan.

Melalui luapan kekuatan fisik dahsyat yang telah melompat jauh melampaui batas kemampuan manusia biasa, dia menyatukan dua sabetan pedang secara simultan: sebuah tebasan menghunjam ke ubun-ubun kepala yang disambung seketika oleh sabetan menyapu ke atas dari arah bawah. Dan melalui manuver maut tersebut, raga sang iblis seketika terbelah dua simetris tepat berpusat pada area selangkangannya!

Guyuran darah hitam pekat seketika memancar menyembur deras layaknya air bah yang meledak.

Sosok iblis yang dipanggil paksa itu seketika buyar hancur dan meregang nyawa.

Dari sela-sela jasad sang iblis yang mulai menipis buyar menjadi butiran debu hitam, seraut paras wajah arwah raksasa mendadak menampakkan manifestasinya di udara.

Itu adalah proyeksi kesadaran dari salah satu raja penguasa tertinggi di Demon Realm yang baru saja merasakan kematian dari perwira bawahannya.

"Akulah sang penguasa agung yang mengomandoi seratus ribu arw—kau lagi?!"

Wajah raksasa sang raja iblis yang baru saja muncul seketika terbelalak mengenali sosok pemuda di hadapannya.

Dia sama sekali belum melupakan paras wajah milik Encrid.

Sosok yang mengomandoi seratus ribu legiun arwah pada hakikatnya dianugerahi oleh daya ingat memori yang teramat luar biasa.

"Kita akhirnya dipertemukan kembali," sahut Encrid santai.

Sang penguasa seratus ribu arwah, persis seperti di masa lampau, turut merasakan hawa keberadaan sang penyihir wanita di sampingnya.

Kondisinya sama persis seperti momen kala perwira bawahannya yang lain meregang nyawa tempo dulu.

Perwira bawahan tersebut adalah sosok Count Molsen.

Kala itu pun dirinya berhadapan dengan momentum memalukan semacam ini dan sempat berusaha melontarkan kutukan maut, namun berakhir dengan kegagalan total.

"Gara-gara ulahmu, dua anggota tubuh kekuatanku kini telah terpotong putus! Hentikan seluruh kegilaanmu ini!"

Di tengah situasi di mana kutukan sihirnya dipastikan tidak bakal mempan, sang penguasa seratus ribu arwah melontarkan sebuah permohonan atau tawaran kerja sama yang terdengar sangat realistis sebelum akhirnya bersiap menarik kesadarannya.

Bukan, dia sempat menyematkan satu untaian kalimat terakhir tepat sebelum proyeksi dirinya benar-benar lenyap.

"Mending kau bergabung saja bernaung di bawah sisiku. Aku berjanji bakal memperlakukanmu dengan sangat baik."

Sebuah suara bisikan yang meluncur dari sela-sela butiran debu hitam tepat saat raganya terbakar hangus oleh terik sinar mentari lalu runtuh menjadi abu.

Suaranya tidak bergema angkuh, melainkan terdengar teramat ringan dan santai, layaknya tengah menyapa seorang kawan lama yang kebetulan beradu pandang di jalanan.

Mendengar percakapan yang terdengar sedemikian realistis dan santainya dari mulut sesosok raja iblis neraka, bahkan sosok barbar seperti Rem pun seketika terdiam membungkam mulutnya sembari bergumam heran.

Sang iblis neraka kini telah resmi musnah, dan seluruh pertempuran berdarah ini telah resmi berakhir tuntas.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.