Bab 823: Lima, Tiga, Dua
Sebenarnya bukan berarti dirinya benar-benar sanggup mencium aroma alkohol di tempat ini.
Encrid mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat berceceran.
Dia memang langsung terlelap sesaat setelah meneguk cangkir araknya tadi malam, namun indra penglihatan dan pendengarannya merekam seluruh kejadian dengan sangat gamblang.
Ingatannya tidak terputus sama sekali, sehingga dia mampu mengingat seluruh peristiwa semalam hingga detik terakhir.
Semua orang bertingkah konyol layaknya orang bodoh di bawah pengaruh alkohol sebelum akhirnya tumbang tertidur pulas, dan tak ada hal buruk yang terjadi.
Rem sempat melolong keras bagaikan serigala liar sembari meneriakkan nama Ayul.
Jaxon yang menyaksikan kelakuan memalukan itu langsung melempar sebilah belati ke arahnya sembari mencibir, 'Cinta sejati sama sekali tidak cocok untuk bajingan sepertimu. Jadi matilah saja.'
Ragna mendadak tersentak bangun dari tidurnya lalu berteriak histeris bahwa yang ada di hadapannya bukanlah hawa panas, melainkan sebilah pedang.
Sedangkan Audin mulai melantunkan nyanyian rohani, 'Tuhan, Tuhan, ya Tuhanku,' dan saat itulah Encrid akhirnya paham mengapa pria itu tidak pernah menjadikan doa nyanyian suci sebagai keahlian utamanya.
Suara pria itu memang menggelegar lantang, namun nada suaranya benar-benar sumbang dan berantakan.
Ketika dia bernyanyi dengan suara pelan, melodinya terdengar sedikit lebih selaras. Namun apakah nada itu diraih lewat latihan keras, ataukah murni berkat sebuah keajaiban yang dipaksakan?
'Konon kemampuan bernyanyi adalah murni sebuah bakat?'
Sebuah pemikiran acak tiba-tiba melintas di benaknya tanpa diundang.
Siapa yang pernah mengatakan hal itu tempo hari?
Wajah Nurat sekilas terlintas di ingatannya, disusul oleh bayangan seraut wajah dari seseorang yang nyaris terlupakan.
Tepatnya.
'Komandan Garrett?'
Garrett Guiro, itulah nama lengkapnya.
Pria itu dulunya adalah seorang perwira yang diberkahi bakat menyanyi luar biasa. Dia memilih pensiun dini dari kemiliteran demi mewujudkan impiannya hidup berkelana sebagai seorang penyair keliling.
Setelah kepergiannya, kabar mengenai dirinya masih sesekali terdengar sampai ke telinga mereka.
Dia kabarnya telah menggubah lagu berjudul 'Demonic Knight' dan 'Heartbreaker', namun rumor yang beredar menyebutkan bahwa bakatnya dalam merangkai komposisi lagu tidaklah sehebat suaranya.
Setiap kali merasa cemas, Krais selalu tertekan oleh beban pikiran, dan demi melepaskan tekanan tersebut, pria itu kerap mengoceh panjang lebar tanpa henti.
Kisah mengenai Garrett adalah bagian dari celotehan Krais tempo hari.
"Apa kau tidak ingat pada Garrett Guiro? Dia sudah jadi orang yang cukup terkenal akhir-akhir ini."
"Siapa dia sebenarnya?"
Tentu terlalu berlebihan jika meminta seseorang yang hidup mengulang hari yang sama untuk mengingat setiap jalinan hubungan yang hanya melintas sepintas lalu.
"Terkadang kau benar-benar tampak seperti orang idiot."
Encrid sempat menjentik kening Krais yang tengah menggerutu itu.
"Aduh, kepalaku rasanya mau pecah."
"Lantas kenapa?"
"Tidak, aku hanya bicara saja."
Pria itu menjadi sangat terkenal berkat suara emasnya, namun dia kerap dilanda rasa cemas karena tidak memiliki bakat dalam menciptakan melodi baru. Setidaknya, begitulah cerita yang disampaikan oleh Krais.
Krais juga sempat menambahkan bahwa sepucuk surat baru saja tiba dari sang kekasih sekaligus pengawal pribadinya, Nurat.
"Pikiranmu tengah melayang ke mana-mana."
Suara sang Ferryman menyentak lamunan Encrid hingga pria itu mengangkat kepalanya.
Sebuah fenomena yang cukup ganjil.
Tempat ini adalah dimensi mimpi, sebuah alam bawah sadar yang terisolasi.
Bisa-bisanya dia memikirkan hal-hal lain di tempat semacam ini.
Dan sekali lagi, dia merasa bahwa sosok Ferryman malam ini tampak jauh lebih ramah dan sabar dibanding biasanya.
Bahkan saat Encrid larut dalam lamunan kosongnya, sang pendayung perahu itu tetap berdiri diam di posisinya sembari menunggu dengan tenang.
"Ada apa sebenarnya?"
Encrid bertanya lugas.
Sosok misterius di hadapannya ini bukanlah tipe entitas yang sudi memanggilnya ke perahu ini hanya untuk sekadar bertatap muka tanpa urusan penting, bukan?
"Perhatikan baik-baik."
Sang Ferryman mendadak mengulurkan tangan yang tidak memegang lentera.
Dari balik telapak tangan yang terbuka itu, sebatang tongkat panjang mendadak tercipta dari udara kosong.
Sebatang tongkat dengan badan berwarna hitam pekat, dialiri cahaya keunguan yang berdenyut redup di sepanjang batangnya.
Sebelum Encrid sempat mencerna apa yang tengah terjadi, tubuhnya sudah lebih dulu mengambil kuda-kuda bertarung secara refleks.
Sebilah pedang dengan bentuk dan bobot yang persis seperti Dawn kini telah tergenggam erat di tangannya.
Wuuush!
Ujung tombak itu melesat menusuk ke arahnya.
Tombak adalah senjata bertangkai panjang.
Itu berarti senjata tersebut memiliki keunggulan jangkauan yang jauh lebih dominan dibanding sebilah pedang dalam pertarungan jarak menengah.
Lantai perahu penyeberangan itu mendadak meluas dengan sendirinya, menyediakan ruang gerak yang sangat leluasa untuk bertarung.
Papan-papan kayu yang menyusun lantai perahu terasa jauh lebih padat dan kokoh dibanding batuan marmer terkeras.
Encrid mengangkat pedangnya lalu menepis ujung tombak yang menusuk.
Ting!
Ketika kau berhasil membelokkan arah daya dorong dari sebuah tusukan lurus, celah pertahanan lawan akan otomatis terbuka lebar.
Jika kau sanggup menyusup masuk ke dalam celah sempit itu dalam sekejap mata, pertarungan akan langsung berpindah ke dalam zona jarak serang milik sang pengguna pedang.
Itu adalah alur logika tempur yang sederhana, namun semua aksi ini dieksekusi murni berdasarkan intuisi murni, bukan hasil perhitungan matematis.
Artinya, tepat saat dirinya menepis ujung tombak dengan sisi datar bilah pedangnya, Encrid langsung merundukkan badannya dan melesat maju ke depan.
Namun pada detik berikutnya, sepasang mata Encrid menangkap pangkal tongkat tombak itu tengah melesat naik membidik dagunya dengan kecepatan mengerikan.
'Kalau serangan itu sampai kena, aku tamat.'
Untungnya, karena kepekaan indranya sudah membaca bahaya lebih awal, dia sanggup mengerem laju tubuhnya, menarik kembali bilah pedangnya, lalu mengayunkannya sekuat tenaga.
TRANG—!
Sebuah dentang nyaring memekakkan telinga meledak saat batang tongkat beradu hantam dengan bilah pedang baja.
Seiring meredanya suara benturan itu, aksi serang dan bertahan di antara keduanya berakhir seketika, dan duel latihan tanding itu pun terhenti.
Sosok Ferryman entah sejak kapan telah mundur melayang jauh ke belakang.
Jarak di antara mereka kini terbentang lebih dari sepuluh langkah.
Meski begitu, suara berat sang Ferryman tetap terdengar sangat jernih di telinga Encrid.
"Itu adalah Killing Stroke," ujar sang Ferryman datar.
Tidak sulit untuk memahami maksud dari istilah tersebut.
Ada banyak variasi teknik serupa yang tersebar di dalam seni berpedang.
Jika dibedah berdasarkan prinsip kerjanya, kaidah pertamanya adalah Armor Break.
'Menghancurkan lawan yang mengenakan zirah pelindung.'
Secara teknis, prinsip itu merujuk pada keahlian membidik bagian-bagian tubuh lawan yang tidak terlindungi oleh lempengan zirah.
'Sama persis seperti ujung pangkal tongkat yang membidik leherku barusan.'
Bahkan jika kau terpaksa menghantam bagian berzirah sekalipun, ayunan senjata harus dilancarkan dengan kekuatan destruktif yang cukup besar untuk meremukkan titik tanpa perlindungan di baliknya.
Kaidah keduanya adalah melancarkan serangan menggunakan bagian senjata yang bukan merupakan mata pisau atau ujung tajam.
Itu berarti serangan yang biasanya mengandalkan ketajaman bilah dapat berubah wujud menjadi hantaman tumpul yang tak terduga.
Dengan kata lain, teknik itu menjelma menjadi sarana mematikan yang sarat akan unsur kejutan mendadak.
'Sebuah teknik yang dirancang untuk menentukan akhir duel dalam satu kedipan mata.'
Pola serangannya sangat mirip dengan gaya bertarung milik Fel.
Keduanya sama-sama berakar pada metode menuntaskan pertarungan hanya dengan satu hantaman telak.
Fakta bahwa tusukan ujung tombak tadi hanyalah sebuah tipuan, sementara hantaman pangkal tongkat di belakangnya adalah serangan sebenarnya, membuktikan bahwa jurus tersebut memanfaatkan berbagai manipulasi psikologis lawan.
"Pegang teguh dasar-dasar ilmu pedangmu, namun jangan pernah mencoba menakar kapasitas lawanmu sembarangan."
Begitu mendengar petuah itu, Encrid langsung merenungkan makna mendalam di balik kalimat tersebut.
Sang Ferryman memberi pelajaran, dan Encrid menyimaknya sembari menurunkan pedangnya dengan takzim.
Itu adalah pemahaman berharga yang hanya bisa dipetik lewat tumpukan pengalaman nyata atau disingkap melalui kematian.
Pedang di tangan Encrid mendadak lenyap tanpa bekas, dan tongkat panjang yang digenggam sang Ferryman buyar menguap bagaikan asap tipis.
"Apakah itu menyenangkan bagimu?" tanya sang Ferryman.
Encrid mengangkat kedua tangannya yang kini kosong, seolah hendak bertanya apakah mereka tidak berniat mengulangi duel itu sekali lagi.
"Kurasa bakal jauh lebih seru kalau kita mencobanya beberapa kali lagi."
Alih-alih mengabulkan permintaan Encrid, sang Ferryman justru membuka suara dengan nada berbeda.
"Konon jika kau sanggup memahami hasrat dan rasa takut tergelap dari lawanmu, kau akan mampu menaklukkan mereka sepenuhnya."
Cahaya ungu dari lentera di tangannya bersinar tenang.
Malam ini, riak air di sungai bawah sadar itu bahkan tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya.
Permukaan perahu penyeberangan itu terasa teramat hening.
Bahkan saat mereka mengayunkan tongkat dan pedang sesaat lalu, pijakan di atas perahu terasa sekokoh geladak baja yang tertanam kokoh di atas tanah padat.
Saat Encrid menatapnya dalam diam, bibir sang Ferryman kembali terbuka.
"Apakah kau ingin mengetahui apa yang sebenarnya didambakan oleh para iblis?"
Begitu mendengarnya, Encrid langsung paham.
Sebuah tawaran.
Sekaligus sebuah godaan manis.
"Aku juga akan membeberkan kepadamu apa yang paling mereka takuti di dunia ini."
Sang Ferryman tidak menghentikan ucapannya sampai di situ.
Dia terus melanjutkan bisikannya.
"Dan kau akan bisa menikmati mimpi indah penuh latihan seperti ini setiap hari."
Itu adalah janji manis untuk memberikan apa yang paling dicintai oleh manusia gila pedang ini: teknik tempur, ilmu pedang, duel tanding, latihan fisik, dan pengasahan diri tanpa henti.
Terlebih lagi, sang Ferryman juga berjanji akan menyingkap tabir misteri mengenai sosok musuh mengerikan yang selama ini terselubung kabut gelap.
Tentu saja, semua tawaran menggiurkan itu tidak datang secara cuma-cuma tanpa syarat.
Sebab sang Ferryman selalu menuntut bayaran atas apa yang dia berikan.
"Ulangi hari damai yang baru saja kau lewati hari ini. Sepuluh kali pengulangan sudah lebih dari cukup. Caranya sangat sederhana. Sekarang juga, ucapkan saja bahwa kau ingin mati di sini. Maka semuanya akan terwujud. Setelah itu, kau hanya perlu melakukan bunuh diri sebanyak sembilan kali lagi sebelum hari esok tiba. Itu bukanlah tugas yang sulit bagimu, bukan?"
Encrid telah mengalami kematian dengan berbagai cara mengerikan di sepanjang hidupnya.
Bagi seorang Encrid, melakukan beberapa kali bunuh diri bukanlah perkara besar.
Benar.
Itu sama sekali bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Namun meski begitu, Encrid tidak serta-merta membuka mulutnya untuk menyetujui tawaran itu.
Perahu penyeberangan itu terombang-ambing tenang, dan riak air sungai mengalir jauh lebih lembut dari biasanya, namun entah mengapa perut Encrid terasa mual bagaikan diaduk-aduk.
Keheningan panjang menyelimuti kedua sosok tersebut.
Bibir kering sang Ferryman yang menyerupai tanah tandus tanpa setetes air hujan selama berbulan-bulan, kembali berucap.
"Bagaimana kalau lima kali?"
Jumlah pengulangan yang diminta mulai menyusut.
Encrid tahu betul apa yang sebenarnya diinginkan oleh sosok Ferryman di hadapannya ini.
Dia mendambakan hari yang tidak gulita, sebuah hari damai tanpa gelegar petir dan sambaran badai yang mengerikan.
Satu-satunya hal yang dia dambakan saat mendesak Encrid untuk mengulang hari ini adalah kedamaian abadi.
Sang Ferryman mendambakan kedamaian.
'Melangkahlah maju, seolah-olah kau tak pernah mati sekali pun.'
Sosok Ferryman yang mengucapkan kalimat bijak itu di masa lalu mungkin berbeda dengan sosok yang berdiri di depannya saat ini.
Namun apa yang mereka dambakan pada dasarnya selalu sama.
Yah, mungkinkah ada sedikit perbedaan di antara setiap kepribadian Ferryman?
Encrid yang sadar bahwa dirinya mustahil bisa mengetahui segala rahasia semesta, memilih untuk tidak memusingkan hal-hal rumit semacam itu.
"Maukah kau melakukannya?"
Sang Ferryman akhirnya membuka suara lagi dan mengulangi tawarannya.
"Bagaimana kalau tiga kali saja?"
Encrid paham betul bahwa hari ini terasa begitu berharga justru karena hari ini tak akan pernah bisa diulang kembali.
Encrid tahu bahwa andai dirinya dianugerahi sihir mutlak yang sanggup memutar ulang waktu sesuka hati sekalipun, dia pantang menggunakan kekuatan tersebut.
Sebab dirinya harus terus melangkah maju menyongsong hari esok.
Meskipun selama ini dia kerap memanfaatkan kematian demi mengulang waktu sebagai sebuah kesempatan belajar, dia tidak boleh terlena dan berpuas diri dalam kenyamanan semu.
Tak ada keraguan sedikit pun pada keteguhan prinsip hidupnya.
"Dua kali?"
Angka yang diajukan sang Ferryman kian menyusut rendah, namun Encrid tetap bergeming tanpa niat untuk mengabulkannya.
"Kau pasti akan menyesalinya kelak."
Pada akhirnya, sebuah kutukan dingin meluncur dari bibir sang penjemput jiwa.
"Apa kau tidak bosan terus-terusan mengulang ancaman basi semacam itu?"
Sang Ferryman tersadar bahwa dirinya memang telah mengulang ancaman serupa berkali-kali.
"...Kau benar-benar akan menyesal."
Tampaknya perbendaharaan kata milik Ferryman yang satu ini agak terbatas.
Encrid perlahan membuka kedua matanya.
Kala itu, rekan-rekannya yang sempat tumbang berserakan di atas tanah karena mabuk berat mulai terbangun satu per satu.
"Kenapa aku bisa tergeletak di sini?"
Ropord mengerjapkan matanya linglung sembari menatap tumpukan pakaian dan sepatu botnya yang terlipat rapi di sudut lapangan.
"Arak jenis apa sebenarnya yang kau bawa semalam?"
Jaxon ikut menimpali dengan nada kesal.
Dia menatap tajam ke arah Rem dengan sepasang mata yang masih sayu dan layu.
Jaxon bukanlah orang awam dalam urusan mencicipi minuman keras bermutu.
Namun arak yang mereka teguk kemarin malam benar-benar berada di luar batas toleransi yang sanggup dia tanggung.
"Ah, masa bodoh, bajingan. Anne yang bilang padaku kalau dia berniat menciptakan arak yang tidak memicu kekebalan tubuh tapi sanggup membuatmu mabuk instan dalam sekali teguk."
"Itu namanya racun obat bius, bukan arak minuman!"
Anne yang baru saja tiba di area latihan pada pagi hari itu langsung menyambar perdebatan mereka.
"Aku sempat heran untuk apa kalian meminta cairan itu kemarin. Kan sudah kubilang sejak awal, cairan itu dirancang khusus untuk diminum sedikit demi sedikit setiap hari oleh orang-orang yang fungsi tubuhnya rusak parah akibat kecanduan alkohol akut."
Cakupan riset penelitian milik Anne memang sangat luas.
Kekayaan melimpah yang baru saja dinikmati oleh Border Guard belakangan ini telah melahirkan banyak waktu luang, dan waktu luang tersebut pada gilirannya memicu lahirnya berbagai macam hobi baru.
Di antara mereka, ada beberapa orang yang mulai mengalami gangguan kesehatan serius akibat konsumsi alkohol berlebihan. Pria yang bercita-cita mengelola Salon bisnis menemukan fenomena tersebut dan bermimpi menciptakan arak yang sanggup memabukkan namun minim membebani organ tubuh.
Sebab kau tentu tidak bisa menjual secangkir teh biasa di dalam sebuah Salon hiburan.
Bukankah ada jenis minuman keras yang tetap terasa memabukkan saat diteguk, namun tidak merusak organ tubuh secara fatal?
Kurang lebih seperti itulah pesanan yang diajukan kepada Anne.
Dengan kata lain, cairan keras yang mereka tenggak semalam adalah hasil dari proyek riset yang didanai langsung dari kantong pribadi Krais.
Itu berarti arak tersebut adalah produk eksperimen terlarang yang dirancang atas persekongkolan antara Rem dan Krais.
Tujuannya murni untuk menguji bagaimana cita rasanya sekaligus membuktikan seberapa dahsyat daya hantam cairan tersebut pada tubuh manusia.
"Kurasa kondisiku bakal membaik kalau aku mengeluarkan sedikit keringat."
Demikianlah celetukan santai yang keluar dari mulut Encrid.
Dia memang bangun sedikit lebih siang dibanding hari kemarin, namun dia tetap menggerakkan tubuhnya dengan santai seolah tak terjadi apa-apa.
Meski dirinya selalu mengaku menjalani pola hidup yang konsisten setiap hari, konsistensi itu tidak selalu kaku tanpa pengecualian.
Ada hari-hari tertentu di mana dia terpaksa melewatkan sesi latihan pedangnya.
Encrid paham betul bahwa hal semacam itu sangat wajar terjadi dalam kehidupan nyata.
Yang terpenting adalah dirinya pantang menghentikan usaha kerasnya yang berkesinambungan.
"Ngomong-ngomong, daya tahan minum kalian semua hebat juga ya."
Sepasang mata Anne berbinar kagum.
Di hadapannya kini terpampang bukti nyata bahwa khasiat dari formula arak atau ramuan obat yang dia racik bekerja dengan teramat sempurna.
Seorang ksatria perkasa bisa mabuk, seekor katak cerdas bisa mabuk, seorang putri elf bisa mabuk, dan seekor beastkin beruang pun ikut tepar mabuk kepayang.
'Ah, bukan beruang.'
Koreksi.
Melainkan seorang wanita separuh raksasa yang ikut tumbang mabuk tak berdaya.
Theresa bangkit berdiri hanya dengan mengenakan pakaian dalam ketat yang melekat pas di tubuh kekarnya, lalu mulai mengumpulkan pakaian luarnya tanpa rasa risih.
Ropord menatap wanita itu tanpa berkedip.
Rupanya bukan hanya dirinya seorang yang menelanjangi diri dan tidur di alam terbuka semalam.
"Benar. Rasanya tubuh ini bakal jauh lebih segar kalau kita mengeluarkan keringat."
Fel seperti biasa langsung menyetujui ucapan Encrid tanpa banyak tanya.
Apa pun yang tengah dikerjakan oleh The Order of the Madmen Knights, regu penyerbu milik Rem selalu menjalankan rutinitas harian mereka tanpa pernah absen.
Melakukan patroli rutin menyisir lereng Pegunungan Pen-Hanil yang sekaligus berfungsi sebagai ajang latihan tempur langsung di medan nyata.
Ada sektor wilayah tertentu yang menjadi tanggung jawab mereka di sepanjang rute penghubung antara pegunungan dan perkotaan, serta di area lereng bukit. Ada pula zona patroli yang dipercayakan kepada sepuluh pendekar pedang di bawah komando Ragna.
Tentu saja, ada pula sektor perbatasan yang dijaga ketat oleh pasukan Holy Infantry.
Di antara semua pos tersebut, regu penyerbu milik Rem selalu bertugas mengamankan sektor yang terletak paling dalam dan terpencil.
Apakah mereka memilih posisi berbahaya itu atas kehendak mereka sendiri?
Tentu saja tidak.
"Unit tempur kita bertugas di sektor terdalam. Tidak ada bantahan. Para bajingan yang dulu sempat protes semuanya sudah lenyap karena kepala mereka kubelah pakai kapak."
Rem tidak pernah repot-repot memberikan penjelasan diplomatik yang berbelit-belit.
Dia hanya melontarkan instruksi dengan sopan dan penuh harap.
Tentu saja, itu adalah definisi sopan menurut standar barbar milik Rem.
Keunggulan dari pria itu adalah struktur psikologisnya yang sangat sederhana dan tidak berliku.
Dia pantang berbicara dengan intonasi yang memutarbalikkan fakta.
'Dia hanya tidak ingin menelan kekalahan dari siapa pun.'
Para anak buahnya pun sangat menyukai karakter pemimpin semacam itu.
Jika mereka memang ditakdirkan untuk bertarung di garis depan, maka mereka harus menjadi yang terbaik di antara yang terbaik.
Pola pikir yang sederhana dan seragam itu mungkin bukan semata-mata menular dari figur Rem, melainkan karena sedari awal pria itu memang hanya merekrut orang-orang dengan watak serupa ke dalam pasukannya.
Jumlah anggota di dalam regu penyerbu Rem mencapai lebih dari seratus orang prajurit tangguh.
Jika dihitung bersama pasukan cadangan dan para rekrutan baru yang tengah menjalani pelatihan, jumlah totalnya melampaui seratus lima puluh personel.
Dan di antara barisan prajurit tersebut, ada sekelompok elit yang sangat layak menyandang gelar Rem's Strike Force.
Di lingkungan Border Guard, mereka kerap dijuluki sebagai pasukan pengawal pribadi Rem, sedangkan di dalam struktur internal regu penyerbu, mereka cukup disebut sebagai unit 1.
Jumlah anggota unit elit itu hanya berkisar dua puluh orang lebih sedikit, namun setiap prajurit di dalamnya adalah sosok terpilih yang sanggup melahap menu latihan ekstrem yang dirancang oleh Rem.
Selain itu, sebagian besar dari mereka berasal dari tanah Wilayah Barat.
Itu karena mereka telah setia mengikuti langkah Rem sejak awal mula, atau merupakan para petualang pengembara asal Wilayah Barat yang memutuskan untuk bergabung di sepanjang jalan.
Namun tentu saja, tidak pernah ada aksi saling merendahkan atau perselisihan internal terkait latar belakang asal-usul mereka.
Alasannya sederhana: menu latihan fisik yang mereka jalani sehari-hari teramat brutal dan kejam.
Begitu kerasnya tempaan itu hingga rasa persaudaraan kental yang sebelumnya tak pernah ada, otomatis tumbuh mekar dengan sendirinya di antara mereka.
Bagi para prajurit itu, regu penyerbu adalah saudara kandung dan keluarga sejati mereka di dunia ini.
Perbedaan ras ataupun tanah kelahiran sama sekali tidak memiliki arti di tempat tersebut.
Kala itu, dua puluh prajurit elit dari unit 1 tengah berbaris rapat sembari menyisir dan memeriksa setiap sudut tersembunyi di belantara pegunungan.
Kawasan pegunungan ini bakal menjelma menjadi sumber malapetaka besar jika populasi monster liar dan binatang buas di dalamnya tidak dibersihkan secara berkala.
Patroli rutin ini dijalankan demi tujuan pembersihan tersebut sekaligus menjadi sarana latihan bertempur di medan perang yang sesungguhnya.
"Hei, apa kalian pernah melihat makhluk semacam itu sebelumnya?"
Salah seorang anggota pasukan mendadak membuka suara dengan nada heran.
Dia adalah seorang prajurit yang memiliki kebiasaan unik: alis matanya kerap berkedut setiap kali dirinya merasa tegang.
Seorang prajurit perkasa asal Wilayah Barat langsung menggenggam erat gagang kapak tempurnya.
"Udaranya sudah cukup panas tanpa kehadiran makhluk itu."
Saat ini adalah puncak musim panas.
Hawa di dalam lembah pegunungan terasa sangat pengap, lembap, dan menyengat kulit.
Keringat pekat bercucuran deras membasahi sekujur tubuh mereka.
Dan tepat di tengah udara yang menyesakkan dada itu, seekor monster aneh mendadak menampakkan wujudnya di hadapan mereka, dengan seluruh raga yang terbuat murni dari kobaran lidah api membara.
Bentuk tubuhnya tampak bagaikan gundukan tumpukan kayu bakar yang tengah menyala hebat dijilat api.
Memiliki tiga kaki kokoh dan dua kepala yang menyembul aneh.
Itu adalah sesosok monster dengan anatomi tubuh yang cacat dan mengerikan.
"Itu jenis monster baru."
Meski mereka semua bergaul akrab layaknya saudara kandung, rantai komando militer tetap berlaku mutlak di dalam unit ini.
Biasanya, prajurit yang telah berhasil meraih pengakuan tulus dari Rem akan ditunjuk untuk menjabat sebagai komandan lapangan.
Pengakuan dari Rem itu berarti sang prajurit telah terbukti sanggup bertahan hidup dan menahan hantaman kapak maut milik sang kapten tanpa meregang nyawa.
Sosok mantan tentara bayaran yang kini menjabat sebagai komandan Rem's Strike Force, pria dengan luka parut panjang melintang di dekat matanya, membuka suara dengan nada tenang.
"Ah, masa bodoh jenis apa dia. Habisi makhluk itu sekarang."
Hanya karena monster itu adalah jenis spesies baru yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya, apakah mereka harus gentar dan lari terbirit-birit?
Pasukan penyerbu milik Rem pantang melakukan tindakan pengecut semacam itu.
Merespons perintah tegas tersebut, salah seorang anggota regu langsung melepaskan lemparan kapak tangan baja miliknya dengan kekuatan penuh.
Kapak tempur yang ditempa dari lempengan baja padat itu melesat membelah udara lalu menancap telak menembus tubuh sang monster api.
DHUAR!
Kobaran api di tubuh monster itu mendadak terhempas menyebar membentuk lingkaran besar, sebelum akhirnya memadat dan menyatu kembali seperti sediakala.
Dan kali ini, salah satu kepala monsternya hancur remuk separuh akibat hantaman kapak.
Fuuush!
Saat makhluk buas itu membuka satu-satunya moncong kepala yang masih utuh, semburan lidah api dahsyat mendadak membubung tinggi ke angkasa.
Kobaran api sepanjang dua jengkal tangan itu langsung membakar hangus hamparan rumput hijau di sekitarnya dalam sekejap.
Meski hawa lembap di pegunungan membuat api tersebut tidak mudah menjalar liar ke pepohonan lain.
"Serangan fisik biasa tidak mempan padanya."
Demikianlah seruan peringatan dari sang prajurit yang baru saja melemparkan kapak bajanya.
Itu adalah sesosok monster kebal yang imun terhadap senjata fisik biasa, senjata tajam yang ditempa murni dari lempengan baja.
Dan monster itu juga sanggup menyemburkan kobaran api maut dari mulutnya.











