Eternally Regressing Knight

Bab 822: Hueeek

2715 Kata

Bab 822: Hueeek

Cahaya senja meresap lembut ke paras wajahnya.

Rambut hitamnya berpadu dengan bias cahaya, membentuk sosok Esther lain di belakang tubuhnya.

Namun, sosok Esther yang satu itu hanya terbuat dari jalinan garis dan bayang-bayang kelam tanpa warna, sehingga orang-orang cukup menyebutnya sebagai bayangan.

Meski begitu, bayangan milik seorang wanita cantik tetaplah berbeda. Bentuknya tampak luwes bagaikan sebuah mahakarya seni yang digoreskan dengan garis-garis anggun.

"Kurasa akan ada beberapa orang yang datang mencariku."

Esther berujar lirih.

"Siapa?"

"Orang-orang yang telah terjerumus ke dalam ajaran sesat, kehilangan jati diri mereka, dan terlahap oleh kebenaran semu. Mereka yang bertingkah bagaikan binatang buas, namun terjebak di dalam sumur kebodohan sembari merasa paling unggul di atas segalanya."

Untaian kata yang terdengar sangat muluk.

Namun memang hanya sebutan itulah yang paling pantas disematkan kepada mereka.

Encrid mengerjapkan matanya sekali lalu menyahut santai.

"Maksudmu, beberapa penyihir atau witch setengah matang bakal datang kemari?"

Kemampuan Encrid dalam merangkum inti masalah memang selalu berada di tingkat tertinggi.

Setelah jeda sesaat, Esther tertawa kecil.

Sepasang mata birunya menyipit indah.

Ya, menyebut mereka seperti itu pun tidak ada salahnya.

"Benar."

Sang witch yang dulunya pernah hidup sebagai seekor macan tutul itu mengangguk pelan.

Bahaya tengah bergerak mendekat.

Dan ancaman itu datang dengan tujuan tunggal: mengincar dirinya.

'Sebuah risiko yang tidak perlu.'

Bagi Esther, ancaman ini adalah beban yang akan terus membuntutinya seumur hidup, namun tidak bagi pria di sampingnya ini.

Apakah ada alasan bagi Encrid untuk turut menanggung risiko sebesar itu?

Haruskah dia menambah beban di pundak orang yang bahkan baru saja didatangi oleh para bawahan iblis?

Dalam situasi yang hampir serupa di masa lalu, Shinar sempat pergi sendirian dan nyaris berakhir menjadi pengantin iblis.

Mereka mungkin hanya sekadar penyihir atau witch setengah matang. Namun, orang dungu yang berpikiran sempit selalu menjadi pihak yang paling berbahaya ketika mereka terobsesi secara membabi buta pada satu hal.

Orang-orang itu memang seperti itu.

Mereka adalah entitas tersesat yang meyakini bahwa kebenaran picik yang mereka anut adalah satu-satunya hukum mutlak di dunia.

Setelah menyelami Fantasia, Esther telah berhasil membangun dunia mantranya sendiri yang jauh lebih tinggi.

Meski begitu, dia tetap menilai kelompok itu sebagai ancaman nyata.

Esther sebenarnya sanggup memisahkan seluruh ancaman ini dari Encrid lalu membereskannya seorang diri.

Yang perlu dia lakukan hanyalah melangkah pergi meninggalkan Border Guard.

Semburat matahari terbenam menyinari wajah pria yang memiliki sepasang mata dengan kilau serupa.

Pandangan Esther tak beranjak dari paras wajahnya.

Perpaduan warna jingga dan keemasan membuat garis wajah pria itu tampak jauh lebih menawan dibanding biasanya.

'Wajah yang bakal membuat delapan dari sepuluh wanita bangsawan di kota langsung jatuh hati.'

Esther tahu betul bahwa tumpukan surat dari para wanita bangsawan masih terus berdatangan hingga saat ini.

Jika mereka melihat wajah pria ini sekarang, surat-surat lamaran itu akan terasa sebagai hal yang sangat wajar.

Pria itu, Encrid, mengalihkan pandangannya dari cakrawala senja lalu menatap lurus ke dalam manik mata Esther sembari berucap.

"Begitu ya. Aku akan bertarung bersamamu."

Sebuah jawaban yang sederhana, tegas, dan tak tergoyahkan.

Kalimat lugas yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk dibantah.

"Apa?"

Esther bertanya balik, sedikit terkejut.

"Bukankah kau baru saja hendak mengatakan hal itu?"

Pandangan Encrid kembali terarah pada lembayung senja.

"Tepat sekali."

Esther tidak kehilangan ketenangannya.

Dia tidak berusaha membujuk pria itu untuk menarik kata-katanya.

Dia hanya mengiyakannya dengan tulus.

Itu adalah jawaban yang sebenarnya sudah diberikan sejak pertama kali Esther bertanya apakah dirinya juga berada di balik punggung sang ksatria.

Dia bisa saja membereskan para penyihir sesat itu sendirian di luar Border Guard.

Namun, cara itu akan memakan waktu yang teramat lama.

Dan sepanjang waktu itu bergulir, dia terpaksa harus meninggalkan sisi pria ini.

Esther kini telah memahami apa yang sebenarnya dia dambakan di dalam hidup.

'Bukan menjadi sosok penyendiri yang melangkah tanpa kawan.'

Sama seperti sang guru yang dulu selalu menatap taburan bintang, kini Esther telah menemukan orang-orang yang mampu menghiasi lembaran hidupnya.

Mereka adalah manusia sejati.

Sahabat.

Kawan seperjuangan.

Ada orang-orang yang menatapnya dengan penuh rasa kagum sembari mempelajari mantra sihir, dan ada pula seorang pedagang ramah yang selalu menyodorkan selai marmalade diiringi senyuman tulus.

Semua orang itu telah menjadi tujuan hidupnya.

Mantra hanyalah sebuah sarana perantara, bukan tujuan akhir yang sesungguhnya.

Pria yang dulu bermimpi menjadi seorang ksatria kini telah resmi menyandang gelar tersebut, namun langkah kakinya tak pernah terhenti.

Sebab impiannya bukanlah sekadar menjadi ksatria, melainkan mewujudkan sesuatu yang hanya bisa digapai setelah dirinya menjadi seorang ksatria sejati.

'Tapi bukan berarti mendalami dunia mantra itu membosankan.'

Tak ada aturan tertulis yang mengharuskan seseorang mengasingkan diri dari peradaban dunia hanya karena dirinya menekuni ilmu sihir.

Bahkan tak ada urgensi untuk mengurung diri di dalam ruangan sempit demi meneliti, atau membangun gubuk terpencil di tengah belantara hutan demi bersembunyi.

Di masa lalu, para penyihir kerap dikaitkan dengan dua bencana besar yang mengerikan.

Pertama adalah pemanggilan iblis purba bernama Father of the Dead, dan yang kedua adalah pelepasan monster raksasa berwujud kobaran api abadi bernama Salamander.

Meski sekte Demon Realm Holy Land Cult menjadi dalang utama di balik pemanggilan monster api tersebut, mustahil tak ada campur tangan dari para perapal mantra di dalamnya.

Sejarah kelam itulah yang memaksa para penyihir memilih hidup dalam persembunyian.

"Bakar mereka sampai mati."

Bahkan sempat ada suatu masa di mana membakar hidup-hidup para witch dan penyihir menjadi tren perburuan yang marak di berbagai penjuru.

Tentu saja, siapa pun yang telah mencapai ranah 'Seer' mustahil bisa ditumbangkan dengan mudah, sehingga korban yang berjatuhan saat itu sebagian besar hanyalah rakyat jelata yang tak bersalah.

Esther merenung di dalam benaknya.

'Aku tidak perlu menapaki jalan sempit yang sama seperti orang-orang terdahulu.'

Doktrin kuno yang lahir dari trauma masa lalu para penyihir dan witch di era sebelumnya kini telah kehilangan relevansi bagi dirinya.

'Menyelami dunia mantra itu sangat menyenangkan.'

Sensasi mengeksplorasi samudera pengetahuan dan menyingkap pemahaman baru selalu menyuntikkan euforia yang menggetarkan jiwa.

Dia sangat menikmati proses merapal mantra itu sendiri, namun dia tetap memperlakukan kekuatan tersebut sebatas sarana.

Itulah sebabnya tidak ada keraguan sedikit pun dalam setiap jengkal langkah yang dia ambil menuju apa yang benar-benar dia inginkan.

Keduanya berdiri berdampingan dalam keheningan, menikmati pemandangan matahari yang kian tenggelam.

Rona langit senja perlahan berganti corak.

Semburat keunguan mulai berbaur dengan warna jingga, membelai paras wajah mereka dengan garis-garis cahaya yang hangat.

"Apa yang sedang kalian lakukan berdua?"

Suara lain terdengar menyela, dan sang elf pun tiba di hadapan mereka.

Entah mengapa Encrid langsung tertawa begitu mendengar celetukan dari sosok yang baru saja muncul tanpa aba-aba itu.

Sosok itu adalah Shinar, yang melangkah mendekat dengan langkah kaki yang teramat lincah.

Melihat Encrid tertawa, Shinar kembali berucap dengan nada datar khas miliknya.

"Rasanya aku seperti sedang melihat seorang tunangan yang berusaha kabur dari situasi pelik dengan cara tertawa bodoh."

Sang elf yang pantang melontarkan kebohongan memang paling ahli dalam memelintir kebenaran.

Maksudnya, dia gemar memutarbalikkan fakta visual yang dilihat matanya sendiri, lalu menyampaikannya seolah-olah hal itu adalah sebuah kebenaran mutlak.

"Bagaimana kondisi tubuhmu?"

Encrid bertanya, mengingat tendangan terakhir yang menewaskan Beelrog tempo hari adalah milik Shinar.

"Aku sudah pulih sepenuhnya. Kalau kau penasaran, aku tidak keberatan membuktikannya padamu di atas ranjang."

Kadar lelucon gadis itu tampaknya kian meningkat drastis.

Encrid hanya menanggapi gurauan itu dengan tawa renyah.

Dan dengan begitu, sang surya pun resmi tenggelam di balik cakrawala.

Kilau keemasan berganti menjadi jingga pekat, menampakkan semburat ungu tipis, hingga akhirnya memudar menjadi warna nila yang gulita.

Setelah kegelapan malam menyelimuti bumi, Rem muncul membawa guci arak langka dari suatu tempat dan menggelar pesta minum-minum dadakan.

Entah mengapa, seluruh anggota kelompok langsung berkumpul dan mengambil posisi masing-masing.

"Pesta ini diadakan untuk merayakan kepulanganku," ujar Shinar dengan percaya diri.

"Omong kosong apa yang kau celotehkan? Apa kepalamu terbentur saat bertarung?" sahut Rem ketus sembari mendengus.

Sementara itu, Krais mulai memanggang seekor babi utuh yang telah dibumbui dengan sempurna di atas bara api, mengumumkan bahwa barbekyu malam telah siap.

"Biar kuceritakan pada kalian kisah tentang pria paling tampan di seantero Wilayah Barat."

Rem yang sudah menenggak cangkir araknya mulai merangkai bualan panjang yang bersumber murni dari imajinasi liarnya.

Encrid mendengarkannya dengan saksama.

Mendengar cerita selalu menjadi hal yang menyenangkan baginya.

Betapa pun konyolnya kisah yang dibawakan, manusia bernama Encrid selalu sanggup menemukan kebahagiaan di dalamnya.

Jaxon yang mendengar bualan Rem hanya tersenyum tipis sembari terkekeh pelan.

Sosok yang benar-benar tampan memang selalu bersikap santai menghadapi bualan semacam itu.

"Bukan bermaksud lancang, namun dewa perang sangat murah hati dalam urusan asmara, dan beliau tidak pernah melarang kita menyambut lawan jenis yang mendekat."

Audin ikut nimbrung ke dalam obrolan.

Pria itu rupanya tengah bersiap membeberkan kisah asmara di masa mudanya dulu.

"Maksudmu kisah saat kau bertemu dengan seekor beruang betina?"

Fel melontarkan celetukan itu dengan kedua pipi yang memerah padam, tanda bahwa minuman keras yang dibawanya benar-benar berkadar tinggi.

Encrid melirik sejenak ke arah wajah Fel.

Bukankah itu jenis ekspresi wajah yang mungkin tidak akan bisa dilihat lagi esok hari?

Sesaat lalu, nada bicara Fel terdengar persis seperti cara bicara Rem yang kurang ajar.

Bagi seorang Audin, itu adalah bentuk pelanggaran berat yang pantas diganjar tebasan maut tanpa hak untuk mengeluh.

"Apakah kau berniat segera sowan ke haribaan Tuhan, Saudaraku?"

Mendengar teguran dingin Audin, Fel mengerjapkan matanya beberapa kali.

Rasa mabuknya seolah langsung menguap seketika.

"Ah, tidak apa-apa."

Melihat reaksi itu, Rem tertawa terbahak-bahak sembari menepuk pundak Audin.

Dia bermaksud menyuruh Audin mengakui saja fakta bahwa dirinya memang seorang beastkin beruang.

Audin melayangkan tebasan sisi telapak tangannya, namun Rem berhasil menangkisnya dengan tangan kosong.

Keduanya bercanda layaknya anak kecil yang tengah bergulat.

Arak keras yang mereka minum malam ini tampaknya bukan minuman sembarangan.

Semua orang mulai mabuk berat.

"Orang bilang kau bakal mati kalau nekat meminum racun ini setiap hari," igau Rem di tengah pesta sembari melambaikan tangannya ke udara.

Itu merujuk pada arak keras yang dibawanya sendiri.

"Hah! Cemas? Khawatir? Mana pernah aku memikirkan hal semacam itu! Suruh semua bajingan iblis itu datang kemari! Bakal kubantai mereka semua! Aku sendiri yang turun tangan!"

Bahkan seorang Krais yang biasanya penuh perhitungan pun kini mabuk kepayang dan meracau tak karuan.

Encrid menyaksikan pemandangan kacau itu dengan senyum tenang.

"Biar kunyanyikan sebuah lagu untuk kalian. Sekarang, bersihkan telinga kalian dan dengarkan baik-baik."

Theresa mendadak bangkit berdiri dan mulai melantunkan nada-nada indah.

Mengenakan pakaian santai tanpa zirah, otot-otot di kedua lengan bawahnya terlihat sangat kekar.

Wanita ini adalah seorang separuh raksasa.

Tenaganya sanggup meremukkan musuh hanya dengan tinju dan lengan bawahnya, bahkan suara hantaman pukulannya bisa dijadikan instrumen musik yang menggelegar.

Namun luar biasanya, suara nyanyian yang keluar dari bibirnya terdengar teramat merdu dan memikat hati.

Suara parau yang sedikit serak, namun sekaligus terdengar sangat jernih dan bening.

Sebuah suara dengan karakter ganda yang unik.

Pemandangan itu mengingatkan Encrid pada sensasi saat dirinya meminum Founding Liquor tempo hari.

Sebuah arak bermutu tinggi selalu terasa sangat kuat, namun menyisakan kelembutan yang memabukkan di akhir tegukan.

Suara Theresa persis seperti itu.

Lagu yang dilantunkan Theresa berjudul Wandering Jack.

Meski liriknya memiliki sedikit variasi di beberapa wilayah, lagu rakyat itu sangat populer dan dinyanyikan di seluruh penjuru benua.

Kisah mengenai seorang pengelana bernama Jack yang akhirnya menemukan cinta sejatinya lalu memutuskan untuk menetap hidup damai.

Alunan suaranya yang merambat halus sanggup mengendurkan seluruh ketegangan otot di sekujur tubuh, menghadirkan rasa rileks yang luar biasa nyaman.

Audin sempat menyebutnya sebagai nyanyian doa suci, sebuah Chant.

Theresa rupanya menyelipkan kekuatan suci ke dalam suaranya tanpa sadar saat tengah mabuk.

Hanya dengan mendengarkan lantunan melodi itu, sebagian besar rasa lelah yang menumpuk di dalam tubuh seolah luruh tersapu angin malam.

Dia benar-benar memamerkan segala keahliannya di tengah kondisi mabuk berat.

"Kenapa kalian semua begitu payah menahan alkohol?"

Ropord menggelengkan kepalanya pasrah. Dia melepas kedua sepatunya lalu menaruhnya rapi di sudut lapangan. Setelah itu, dia melepas celananya, melipatnya dengan teliti, lalu bersiap untuk tidur di pojok area latihan.

"Dan kenapa pula kalian semua harus berpesta tepat di depan kamarku?"

Ropord berdecak jengkel sembari merebahkan tubuhnya ke tanah.

Meski hanya beralaskan tanah berbatu tanpa kasur empuk di dalam kamar, pria itu tetap menggumam meracau bahwa tempat tidurnya malam ini terasa sangat empuk.

Dia langsung terlelap mendengkur begitu saja.

Tak ada seorang pun yang berniat mencegahnya.

Memang tidak ada orang yang sanggup menghentikannya.

Sementara itu, Ragna yang sedari tadi hanya menyesap minumannya dalam diam rupanya sudah lebih dulu tertidur lelap di kursinya.

Arak ini benar-benar sangat keras, hingga seorang Encrid yang secara alami memiliki daya tahan alkohol luar biasa pun mulai merasakan kepalanya berputar pening.

Bahkan setelah sang surya tenggelam sempurna, taburan cahaya bintang di langit malam ini tampak berkilau sangat benderang.

Di atas tanah yang disinari rembulan dan gemerlap bintang, Esther membentangkan sebuah mantra pelindung untuk menghalau serangga malam agar tidak mendekat.

Shinar yang tengah mabuk berat mulai mengoceh membeberkan ambisi besarnya untuk melahirkan dua puluh orang anak.

Luagarne menggali lubang di tanah lalu merebahkan tubuhnya di dalam ceruk tersebut.

"Nyaman sekali rasanya."

Sang katak tampak sangat menikmati uap kelembapan sejuk yang menguar dari balik pori-pori tanah.

Bawahan iblis memang sempat berkunjung kemarin.

Namun meski begitu, semua orang tetap menjalani hidup mereka seperti biasa.

Encrid bukanlah orang bodoh.

Dia juga sama sekali tidak berniat meremehkan situasi genting yang tengah mengepung mereka saat ini.

Di tempat baru yang dia capai setelah melewati batas titik perhentian siklus, ada bahaya yang jauh lebih mengerikan yang telah menunggunya di depan mata.

Ada para iblis penguasa di Demon Realm, dan daratan benua ini pun masih sarat akan ancaman mematikan.

Musuh-musuh itu adalah entitas mengerikan yang bahkan tak bisa dibandingkan dengan serikat pencuri seperti Thieves' Guild ataupun sarang monster semacam Gnoll Colony.

Negeri Naurilia pun kini tengah diincar oleh musuh rakus dari wilayah selatan.

Intrik dan konspirasi para mata-mata selatan di ibu kota tempo hari sudah menjadi bukti nyata bahwa ancaman perang kini terasa jauh lebih nyata dibanding sebelumnya.

Belum lagi Esther yang baru saja memperingatkannya perihal kedatangan sekelompok penyihir sesat yang mengincar nyawanya.

Esok hari, bisa saja puluhan sarang monster mendadak mengamuk dan menyerbu tempat ini tanpa peringatan.

Bukan mustahil pula jika monster-monster legendaris yang tercatat di dalam lembaran sejarah tiba-tiba bangkit dan menampakkan wujud mereka.

Semua kemungkinan buruk itu sejatinya sanggup menumbuhkan benih kecemasan yang mencekik dada, namun ajaibnya tak ada satu orang pun di tempat ini yang kehilangan ketenangan diri.

Berdiri tegak dengan penuh kebanggaan, mereka memilih untuk fokus menjalani hari ini dengan sepenuh hati.

"Fiuh, si barbar gila itu membawa arak yang benar-benar gila. Kapten yang gila. Hari yang gila, tapi sekaligus hari yang luar biasa menyenangkan."

Melihat sosok Jaxon yang biasanya selalu anggun ikut mabuk dan meracau demikian, hari ini memang sulit disebut sebagai hari yang waras.

Encrid tertawa lepas.

Sebab mereka tidak memilih untuk terjebak di dalam masa kini, melainkan terus melangkah maju menyongsong hari esok.

Tak pernah ada satu hari pun yang tidak berharga di dalam hidup ini.

Alasan mengapa momen malam yang baru saja dia nikmati bersama rekan-rekannya terasa begitu istimewa adalah karena hari ini adalah hari berharga yang tak akan pernah terulang kembali.

Sejak kali pertama dirinya terjebak dalam pusaran pengulangan waktu hingga detik ini, sosok Encrid tak pernah berubah sedikit pun.

Dia tetaplah pria yang sama.

Dia memejamkan kedua matanya, meresapi kedamaian malam yang menenangkan, sembari memantapkan tekad di dalam lubuk hatinya untuk menghadiahkan kedamaian sejati ini kepada setiap jiwa yang berdiri di belakang punggungnya.

Encrid yang akhirnya jatuh tertidur dalam kondisi mabuk berat mendadak tersadar bahwa dirinya kini tengah berada di atas sebuah perahu penyeberangan yang terombang-ambing pelan. Dia membungkukkan tubuhnya ke pinggiran perahu.

"Hueeek!"

"...Sepanjang hidupku melayari sungai ini, baru kali ini aku menyaksikan ada orang yang muntah di atas perahuku. Sebenarnya apa yang kau tenggak sebelum tidur?"

Arak itu rupanya begitu keras hingga efek memabukkannya meresap melampaui raga jasmani dan menembus ke dalam sukma jiwanya.

Encrid mengembuskan napas panjang, lalu perlahan merasakan efek alkohol di kepalanya mulai memudar.

Itu terjadi karena dia memang menenggak terlalu banyak cangkir arak sebelum memejamkan mata, namun tempat ini adalah alam bawah sadar, sebuah dimensi mimpi yang diciptakan oleh sang Ferryman.

Oleh sebab itu, mustahil dirinya bisa mabuk secara fisik di tempat ini.

Namun ajaibnya, dia tetap saja muntah terlebih dahulu.

Rupanya itu adalah bentuk refleks tubuh yang terkondisi.

Goyangan perahu penyeberangan di tengah pekatnya kabut malam dan ingatan akan arak keras tadi benar-benar mengocok isi perutnya.

"Haaaah."

Encrid menghela napas panjang untuk melegakan rongga dadanya.

"Baunya benar-benar menyengat seperti arak keras," gumam sang Ferryman.

Sosok Ferryman malam ini terasa sangat lembut.

Apakah pantas jika disebut bahwa dia tampak jauh lebih ramah dan berbelas kasih dibanding biasanya?

Setidaknya, itulah kesan yang tertangkap oleh benak Encrid.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.