Bab 824: Salamander
Apakah sifatnya serupa dengan roh jahat?
Istilah roh jahat merupakan sebutan umum bagi entitas gaib yang kebal terhadap tebasan baja biasa, makhluk yang tidak mengandalkan serangan fisik melainkan gemar mengacaukan jiwa manusia atau berniat merasuki raga mereka.
'Yang terpenting adalah berhati-hati terhadap semburan apinya.'
Sebagian besar anggota regu berpikiran serupa. Mereka adalah para pria tangguh yang menghabiskan hari-hari mereka bertarung melawan monster di belantara pegunungan.
Bagi mereka, situasi berbahaya semacam ini adalah santapan sehari-hari.
Pengalaman bertempur yang mereka kumpulkan memang belum cukup tebal untuk dibukukan menjadi sebuah buku panduan, namun intuisi tempur mereka telah terasah dengan teramat tajam.
Pola serangan dari monster jenis itu biasanya memiliki banyak kemiripan.
"Hei, rapatkan gigi kalian. Kalau sampai ada yang tersandung sekali saja, hukumannya tiga ronde latihan ketahanan mental bersama Kapten Rem."
Salah seorang prajurit bergumam lirih memperingatkan rekan-rekannya.
Mendengar satu kalimat itu, seluruh prajurit langsung menegang kaku.
Otot-otot rahang mereka mengeras rapat hingga guratan gigi geraham mereka tercetak jelas, dan urat-urat tebal bermunculan di punggung tangan mereka.
Menu latihan ketahanan mental milik Rem pada dasarnya adalah sesi pemukulan brutal hingga sang prajurit berada di ambang pingsan.
Sebab konon katanya, prajurit sejati adalah sosok yang tetap sanggup bertarung meski telah didorong ke dalam situasi yang paling ekstrem, bukan?
Meskipun disebut hanya sampai ke batas pingsan, siapa pun yang pernah menjalaninya sekali saja pasti akan langsung terbungkam seribu bahasa.
Pria berkemampuan tempur luar biasa itu, bajingan dengan kejelian mata yang tak tertandingi, bahkan tidak akan sudi membiarkanmu pingsan sesuka hatimu.
Kalimat dingin yang kerap dia lontarkan sembari menggoreskan luka merah di leher mereka dengan mata kapak saat mereka hendak tumbang, masih terpatri sangat jelas di dalam ingatan.
"Mau kubunuh saja sekarang? Kalau kau sampai ambruk di situ, kau mati."
Mereka tahu betul bahwa Kapten Rem adalah sosok pria yang benar-benar tega—dan sanggup—melakukan hal tersebut, yaitu membunuh mereka tanpa ragu.
Bagaimana mereka bisa begitu yakin?
Pria itu kerap menggunakan mata kapaknya yang tajam untuk mendongakkan leher mereka dan memaksa mereka bangkit berdiri. Bagaimana mungkin mereka tidak mempercayainya?
Dalam situasi mencekam di mana sedikit gerakan salah saja bisa membuat leher mereka terpenggal dan meregang nyawa.
"Kubantu kau berdiri. Di mana lagi kau bisa mendapatkan perlakuan sebaik ini, hah?"
Pria itu selalu bertindak liar semacam itu.
Jadi bagaimana mungkin mereka tidak tegang setengah mati?
Tak ada satu pun prajurit di antara mereka yang belum pernah mencicipi menu latihan ketahanan mental tersebut.
Sebab berhasil selamat dari siksaan itu adalah syarat mutlak paling dasar untuk bisa diterima menjadi anggota pasukan pengawal pribadi Rem.
Saat mereka tengah merapatkan geraham dan membakar semangat tempur, monster yang tersusun dari kobaran lidah api itu mendadak menghantam sebatang pohon besar menggunakan kaki depannya.
KRAAAK!
Pohon hidup yang kokoh itu meledak hancur, menyemburkan serpihan kayu tajam ke segala penjuru.
Diiringi suara runtuhan kayu yang menancap ke tanah dengan suara berderak, pohon raksasa yang bahkan tak sanggup dipeluk oleh rentangan tangan orang dewasa itu langsung miring goyah.
"...Makhluk ini agak curang."
Demikianlah gerutuan sang komandan lapangan.
Jika tubuhnya kebal ditembus oleh senjata baja, seharusnya sifat itu berlaku dua arah: makhluk itu mestinya juga tak bisa menyentuh benda-benda fisik padat di sekitarnya.
Hanya dengan satu ayunan kaki depan, batang pohon sebesar itu bisa langsung miring hampir tumbang?
Andai hantamannya sedikit lebih akurat, pohon raksasa itu pasti sudah patah berkeping-keping.
Dari segi kekuatan destruktif murni, daya hantam monster ini sudah setara dengan kekuatan fisik bangsa raksasa.
Namun apakah mereka akan pasrah begitu saja?
Rem memang seorang kapten yang sangat kejam, namun jika kau sanggup bertahan hidup di bawah pimpinannya, kau akan memetik imbalan yang sepadan.
Dan imbalan berharga itu tidak sebatas peningkatan kemampuan tempur, melainkan mencakup persenjataan fisik yang nyata.
Contohnya seperti senjata sihir.
Para kurcaci adalah pemantera yang ahli menempa lempengan baja, dan mereka tahu betul bagaimana merancang rangka dasar untuk senjata sihir bermutu tinggi.
Dan salah satu pengrajin kurcaci paling berbakat saat ini tengah mengabdikan hidupnya untuk melayani Border Guard.
Terlebih lagi, ada seorang penyihir genius di dalam ordo ini, beserta sebuah divisi sihir terlatih yang dibina langsung di bawah arahannya.
Mereka telah berhasil mengukir jalinan formula mantra dengan sempurna ke atas lempengan besi yang ditempa oleh sang kurcaci.
Itulah alasan utama mengapa seluruh dua puluh anggota elit ini memiliki apa yang disebut sebagai spell weapons.
Secara teknis, dibutuhkan seorang enchanter ulung untuk bisa memproduksi senjata semacam itu, namun sosok Esther adalah seorang genius tanpa tanding.
Dalam urusan dunia sihir, gadis itu menguasai segala disiplin ilmu tanpa terkecuali.
Tentu saja, senjata mereka tidak memiliki efek magis dahsyat seperti memanggil badai angin atau menurunkan hujan api hanya dengan mengayunkannya.
Fungsi dari senjata yang mereka genggam sangat sederhana dan terarah.
Senjata itu sanggup menebas dan meremukkan entitas gaib serta roh-roh jahat yang tak berwujud padat.
Mereka serentak mencabut dan menggenggam erat kapak tempur mereka yang kini memancarkan pendaran cahaya biru redup.
Meski panjang gagang kapak mereka bervariasi, kilau magis yang memancar dari mata bilah mereka tampak sangat seragam.
"Segitu saja sudah lebih dari cukup, bukan?"
Rem sempat berucap saat melihat persenjataan mereka tempo hari.
Tentu saja, itu sudah sangat cukup.
Monster api di hadapan mereka hanya sanggup menyemburkan lidah api sepanjang lengan bawah manusia.
Meskipun daya hantam dari ayunan kaki depannya memang teramat mengerikan.
'Masih jauh lebih baik dibanding melawan beruang liar.'
Seekor beruang buas atau binatang monster berwujud beruang raksasa bakal terasa jauh lebih berbahaya bagi mereka.
Jika kau tidak memiliki senjata khusus untuk melukai tubuhnya, makhluk semacam ini adalah lawan terburuk. Namun jika kau memegang senjata penangkalnya, membantainya adalah perkara mudah.
Dua orang prajurit melangkah maju memancing perhatiannya, sementara tiga orang lainnya bergerak menyusup ke arah belakang.
Sisanya membentuk formasi lingkaran longgar untuk mengurung ruang geraknya.
Dan dengan begitu, perburuan monster pun resmi dimulai.
Saat kapak tempur menghantam cakar makhluk buas yang tengah menerjang, suara benturan keras berdentang diiringi percikan lidah api yang menyembur hebat.
Prajurit yang mengayunkan kapak langsung melompat mundur gesit sesaat setelah serangannya mendarat, menghindar dari sambaran api dengan mulus.
"Hei, kalau rambutmu sampai hangus terbakar, mukamu yang sudah jelek itu bakal kelihatan dua kali lipat lebih seram."
"Kaca mana yang kau pakai untuk mengaca, hah?"
Lelucon kasar pun saling bersahutan di tengah pertempuran.
Mereka bukanlah tipe prajurit amatir yang bertarung sembari menciut ketakutan oleh ketegangan.
Prajurit yang wajahnya diejek bakal tampak dua kali lipat lebih seram itu sebenarnya memiliki rambut yang tumbuh rapi meski kulit wajahnya bopeng, sedangkan rekannya yang melontarkan ejekan adalah seorang pria berkepala plontos licin tanpa sehelai rambut pun.
Melihat kepalanya yang botak mengilap dipamerkan di tengah pertarungan, beberapa prajurit di sekitarnya tertawa terkekeh.
Perburuan itu tidak berlangsung lama.
Binatang monster berkobar api itu dengan cepat dihujani hantaman bertubi-tubi.
Hanya dengan enam tebasan kapak sihir yang terarah, tubuh apinya terbelah berkeping-keping, buyar berhamburan, lalu lenyap tanpa sisa.
"Kalian belum pernah melihat makhluk semacam ini sebelumnya, kan?"
"Ya, betapa pun kayanya pegunungan ini akan sarang monster, makhluk api begini rasanya terlalu aneh."
Pegunungan Pen-Hanil memang merupakan kawasan berbahaya di mana monster dan binatang buas bermunculan tanpa henti, hingga mendapat julukan Treasure Trove of Monsters.
Mereka segera berbalik arah untuk melaporkan penemuan ganjil tersebut ke markas.
Dan selain unit mereka, ada kelompok lain yang juga tengah beroperasi di belantara pegunungan tersebut.
Tepatnya, itu adalah pasukan reguler Border Guard yang tengah menjalankan misi pengawalan berbayar melalui perantara kekasih Krais, Nurat.
Sistem prajurit sewaan masih menjadi salah satu tambang penghasil keping Krona yang sangat menggiurkan, dan Krais sangat mendorong pelaksanaan misi-misi semacam itu.
Rombongan pengawal itu rupanya turut berpapasan dengan lawan yang serupa.
Kali ini, musuh yang mereka hadapi adalah monster yang seluruh raganya terbuat dari api membara, namun memiliki leher yang panjang menjulang.
"Ada yang membawa senjata sihir?"
Jika Vengeance adalah kapten dari pasukan keamanan kota, maka pemimpin dari kelompok pengintai yang bertugas menyisir belantara pegunungan adalah Finn.
Gadis itu dulunya pernah menjalankan misi pengintaian bersama Encrid, dan lewat tempaan latihan keras tanpa henti sejak saat itu, kini dia telah resmi menjabat sebagai kapten dari divisi Rangers.
Merespons pertanyaannya, empat orang prajurit yang mengenakan peluncur panah di pergelangan tangan mereka langsung melangkah maju ke depan.
Kelompok pemanah ini dibekali anak panah khusus yang mengandung mantra sihir sekali pakai pada mata panahnya.
Itu adalah hasil karya ciptaan Anne.
Mata panah yang telah direndam ke dalam cairan kimia khusus tersebut dirancang khusus untuk membasmi monster-monster berjenis roh jahat.
"Tembak."
Wuuush!
Raga monster yang terbuat dari jilatan api itu mendadak meledak hancur, menghamburkan percikan bara api ke segala penjuru mata angin.
'Daya rusaknya lumayan juga.'
Finn bahkan tak sanggup mengingat jenis monster yang memiliki wujud serupa.
Dia memilih menjaga jarak aman dan melumpuhkan makhluk itu sepenuhnya menggunakan serangan jarak jauh.
Makhluk api yang sempat bertahan hingga detik-detik terakhir itu akhirnya roboh lemas setelah lima bilah belati lempar menancap telak di kepalanya, lalu lenyap menguap sembari meninggalkan jejak tanah yang hangus menghitam.
"Rumputnya mulai terbakar. Cepat padamkan apinya."
Mendengar instruksi Finn, beberapa prajurit langsung menginjak-injak bara api dengan sepatu bot mereka dan menyiramkan air.
Pada saat yang sama, mereka bergerak cepat menyingkirkan dedaunan kering yang mudah terbakar sebelum lidah api sempat menjalar liar.
Mereka adalah pasukan Pen-Hanil Rangers yang sudah sangat terbiasa menangani kondisi darurat semacam ini di tengah hutan.
Respons mereka sangat cekatan dan profesional.
Setelah situasi kembali terkendali, Finn membuka suara.
"Kita tidak bisa melangkah lebih jauh lagi ke dalam."
"Aku juga tidak berniat memaksamu masuk lebih dalam," sahut sang klien sembari menggelengkan kepalanya pasrah.
Pria yang mereka kawal itu bertanya dengan raut wajah jengah.
"Bukankah tempo hari kau bilang jumlah monster di kawasan pegunungan ini sudah menurun drastis?"
"Dulu memang sempat menurun."
"Dulu?"
"Tampaknya sekarang situasinya sudah berubah."
Itu adalah anomali yang bahkan tak sanggup dijelaskan oleh Finn sendiri.
Sang klien adalah sosok pria dengan wawasan sejarah yang teramat luas.
Dia tahu betul bahwa monster kobaran api yang baru saja mereka bereskan bukanlah makhluk sembarangan.
Nama pria itu adalah Garrett Guiro, mantan komandan batalion dari pasukan cadangan Green Pearl yang kini banting setir mengejar impian menjadi seorang penyair keliling.
Belakangan ini dirinya tengah dilanda kebuntuan dalam merangkai melodi lagu baru, sehingga dia nekat mengambil risiko berbahaya ini demi berburu secercah inspirasi seni di tengah belantara.
"Kau nekat menerobos masuk ke dalam pegunungan sarang monster hanya demi menggubah lagu?"
Orang awam mungkin akan mencibir keputusannya itu, namun siapa yang sanggup memahami derita batin seorang seniman sejati?
Jika itu demi melahirkan sebuah mahakarya lagu yang abadi, dia bahkan rela menggadaikan sekerat jiwanya.
Tentu saja, Garrett menaruh kepercayaan penuh pada kehebatan pasukan reguler Border Guard yang mengawalnya.
Itu berarti dia tidak benar-benar berniat bunuh diri menyia-nyiakan nyawanya.
Dia hanya berusaha memancing inspirasi secukupnya melalui kadar bahaya yang masih bisa ditoleransi.
Bagaimanapun juga, profesi seorang bard menuntutnya untuk terus menjelajahi daratan benua, dan Garrett adalah pria yang sangat tergila-gila pada cerita-cerita legenda kuno.
"Monster yang bernapas dengan api."
Garrett bergumam lirih, tenggelam dalam lamunan panjang.
Di masa lampau, pernah ada sesosok monster legendaris yang membakar hangus sebagian besar daratan benua ini.
Sebuah malapetaka purba yang dipanggil oleh sekte sesat Demon Realm Holy Land Cult, bencana alam terburuk yang pernah dibangkitkan oleh kebodohan tangan manusia.
Garrett kembali bergumam sendiri dengan nada gentar.
"Salamander?"
Itu adalah nama dari monster kadal raksasa yang seluruh raganya tersusun dari api abadi.
Ukurannya melampaui sepuluh kali lipat tubuh manusia dewasa, dan makhluk itu kebal terhadap hampir sebagian besar senjata sihir biasa.
Satu-satunya cara menghadapi monster itu di masa lalu adalah bertahan hidup sekuat tenaga hingga energi api makhluk tersebut terkuras habis dan lenyap dengan sendirinya.
Segala hal yang diketahui Garrett bersumber dari kisah-kisah tutur yang pernah dia dengar.
Sebagian lagi berasal dari manuskrip kuno yang pernah dia baca, namun semuanya tetaplah bersumber dari lembaran sejarah masa lalu.
Para bajingan sekte Demon Realm Holy Land Cult itu memang sudah menjadi biang malapetaka sejak zaman dahulu kala.
Sebagai seorang penyair yang bertugas meneruskan kisah-kisah sejarah, menggali dan menyelidiki cerita kuno adalah hobi sekaligus keahlian utama Garrett.
Dia menilai bahwa dirinya baru saja melihat jejak-jejak purba itu pada monster api yang baru saja binasa.
Mustahil, mungkinkah, ah, tidak mungkin.
Apakah ini masalah sepele yang bisa diabaikan begitu saja hanya karena keraguan semacam itu?
Sikap berpuas diri dan meremehkan keadaan bukanlah sifat yang baik bagi seorang prajurit.
Dan meskipun kini dirinya adalah seorang penyair, Garrett dulunya adalah seorang perwira militer yang andal.
Dia tahu lebih baik memilih rasa repot dibanding terjebak dalam kelengahan, dan cukup bijak untuk memilih ditegur daripada kecolongan bahaya besar.
"...Bisakah kita melangkah sedikit lebih dalam lagi?" tanya Garrett ragu-ragu.
Finn sempat menimbang-nimbang apakah dirinya harus mematahkan kaki mantan komandan batalion yang tengah terjangkit penyakit seniman gila ini.
Pria ini tampak seperti tipe orang yang baru akan tersadar dan menyesal setelah kakinya benar-benar patah terinjak monster.
"Ini bukan lagi soal mencari inspirasi lagu, firasatku benar-benar terasa sangat buruk."
Raut wajah Garrett tampak sangat serius.
Alih-alih menendang pergelangan kaki pria itu, Finn menoleh lalu memberikan instruksi tegas kepada dua orang prajuritnya.
"Kembalilah ke markas unit dan laporkan situasi anomali ini."
Jika situasinya memang dinilai berbahaya, mengamankan jalur mundur bukanlah hal yang sulit bagi mereka.
Finn pun telah menjelajahi belantara pegunungan ini layaknya pekarangan rumahnya sendiri.
Tentu saja, jika dia benar-benar menganggap hutan belantara ini sebagai rumah lalu berbaring tidur sembarangan, dia pasti sudah terlahir kembali menjadi kotoran monster sejak dulu.
'Aku masih bisa masuk sedikit lebih jauh.'
Finn tahu betul batas kemampuan dirinya.
Dia tidak pernah bermimpi muluk untuk menjadi seorang ksatria perkasa.
Lalu kontribusi apa yang sanggup dia berikan?
Dia telah menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut di tengah belantara pegunungan ini.
Dia memanfaatkan keahlian khususnya untuk menghafal setiap jengkal kontur medan dan mempelajari segala teknik bertahan hidup yang diperlukan.
Mantan orang suci, Seiki, dulunya adalah seorang anak gunung yang makan, tidur, dan bernapas di tengah belantara, dan Finn sempat mengikuti anak itu berkelana sembari menyerap gaya hidup orang-orang gunung.
Itulah fondasi berdirinya divisi Pen-Hanil Rangers hari ini.
Keputusannya untuk melangkah lebih dalam saat ini adalah hasil pertimbangan matang yang lahir dari tumpukan waktu dan pengalaman nyata yang telah dia lalui.
"Apa alasanmu?"
Nada bicara Finn memendek tajam.
Hanya orang dungu yang sudi melangkahkan kaki ke tempat yang sudah diprediksi menyimpan bahaya maut.
Namun jika mereka memang harus melangkah maju, harus ada alasan kuat di baliknya.
Garrett menilai Finn sebagai seorang perwira pengintai yang sangat cakap, sehingga dia menjawab tanpa ragu meski gaya bicara gadis itu terdengar agak ketus.
"Kuharap ini hanya ketakutan tak berdasarku semata, tapi apa kau tahu di mana monster Salamander itu terakhir kali lenyap ditelan bumi?"
Sebelum dataran Green Pearl menyandang namanya yang sekarang, sebuah kebakaran hebat pernah berkobar melalap seluruh tanah tersebut hingga hangus tak bersisa.
Hamparan padang rumput hijau yang kini tumbuh subur di atas tanah bekas kebakaran purba itulah yang kini dikenal sebagai Green Pearl.
Kisah itu tercatat dengan sangat jelas di dalam lembaran buku sejarah.
Sebelum dinamai Green Pearl, wilayah luas ini dulunya dijuluki sebagai Ash Field, padang abu kelabu di mana lapisan abu tebal mengendap menutupi permukaan bumi.
"Ada banyak hipotesis mengenai kemunculan awalnya, namun semua sarjana sepakat perihal lokasi di mana makhluk itu terakhir kali menghilang. Bahkan beberapa cendekiawan mengajukan spekulasi bahwa monster itu sebenarnya hanya tertidur lelap layaknya seekor beruang yang tengah berhibernasi."
Tempat yang ditunjuk oleh seluruh sarjana sejarah adalah puncak tertinggi Pegunungan Pen-Hanil.
Di dalam kawasan puncak itu terbentang sebuah cekungan kawah luas yang dipenuhi batuan hitam mengeras dari lelehan abu purba.
Kawasan terisolasi itu konon hanya dihuni oleh spesies monster reptil raksasa bernama Drakes, yang kerap dijuluki sebagai naga rendah.
Penjelasan ringkas itu meluncur dari bibir Garrett, dan Finn mengangguk paham.
"Baik, aku mengerti."
Itu berarti kecurigaan perihal kemungkinan terburuk telah menyeruak ke permukaan dan membutuhkan konfirmasi visual secara langsung.
Finn memimpin jalan dan rombongan kecil itu kembali bergerak maju.
Mereka mulai menyusuri lereng tepat saat matahari terbit, dan pertarungan melawan monster api tadi terjadi pada pagi hari.
Kurang dari tiga jam berselang, Finn mendadak menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.
Dia baru saja menemukan bekas parit raksasa di atas tanah yang tampak bagaikan dikeruk oleh sebilah mata pedang raksasa yang teramat tebal.
Masalahnya, kedalaman parit hangus itu tak sanggup diukur oleh mata telanjang, dan panjang bentangannya, bahkan jika ditaksir secara kasar sekalipun, setara dengan sebatang pohon purba raksasa yang tumbang melintang.
Aroma hangus terbakar yang menyengat hidung menguar pekat dari dalam parit tersebut.
Dan yang paling mengerikan, suhu udara di sekitar lokasi itu mendadak melonjak panas secara ekstrem.
"Sebuah jejak kehancuran yang mustahil bisa ditiru oleh monster biasa."
Raut wajah Garrett tampak jauh lebih tegang dibanding sebelumnya.
Jumlah korban jiwa yang tewas akibat amukan Salamander di masa lalu bahkan tak pernah bisa dihitung secara pasti.
Bahkan seluruh kota metropolitan di dekat wilayah itu luluh lantak terbakar habis menjadi abu.
Terlebih lagi.
"Kapten."
Seorang prajurit pengintai yang memiliki ketajaman mata dan kepekaan indra luar biasa mendadak memanggilnya sembari menunjuk ke satu arah lereng bukit.
'Masih ada lagi.'
Sosok monster yang seluruh raganya menyala dikobarkan lidah api.
Di kejauhan, tampak tiga ekor monster api tengah mendongakkan kepala mereka sembari memancarkan gelombang hawa panas yang berpendar menyilaukan mata.
Postur tubuh mereka jauh lebih masif dan kekar dibanding fisik milik Audin.
Itu berarti ukuran tubuh mereka setara dengan seekor monster beruang raksasa.
Untungnya, karena jarak yang terbentang cukup jauh, monster-monster tersebut belum menyadari keberadaan regu pengintai.
"Kita mundur sekarang."
Finn memutuskan untuk menghindari kontak senjata secara langsung. Dia segera memimpin pasukannya kembali ke markas garnisun dan melaporkan situasi genting tersebut, yang kemudian diteruskan langsung ke meja komando Encrid.
Mendengar laporan tersebut, sepasang mata biru milik Encrid mendadak berbinar cerah penuh gairah.
"Komandan Batalion Garrett?"
"Rasanya lebih tepat kalau kau memanggilku Garrett saja sekarang, Sir Encrid."
"Kau bilang makhluk apa tadi yang menampakkan diri?"
"Belum ada yang pasti. Seekor Salamander."
Penjelasan panjang yang sebelumnya disampaikan kepada Finn kini dirangkum menjadi kalimat yang jauh lebih padat.
Encrid berucap sembari menyunggingkan senyuman dengan mata yang berbinar terang.
"Katakan saja pada mereka yang datang nanti kalau aku sudah berangkat lebih dulu."
"...Eh? Apa? Maksudmu, aku yang harus menyampaikan pesan itu?"
Garrett mendadak gelagapan bingung.
"Sampaikan pada siapa pun di antara mereka yang datang mencariku."
Encrid menyeka peluh di dahinya dengan kasar, mengenakan seluruh perlengkapan zirahnya, lalu melangkah mantap keluar ruangan.
"Kau mau pergi ke mana?"
Dalam kepanikannya, gaya bicara lama Garrett saat masih berdinas di militer mendadak meluncur keluar tanpa sadar.
Namun sebenarnya, dia tak perlu repot-repot bertanya.
"Jalan-jalan santai."
Jalan-jalan santai bagaimana maksudnya.
Melihat sang ksatria melangkah pergi dengan persenjataan tempur lengkap dari ujung kepala hingga kaki, sudah sangat jelas bahwa pria itu tengah melesat maju menyongsong sang Salamander.
"Kapten, laporan terbaru menyebutkan bahwa monster-monster api mulai bermunculan di berbagai sudut pegunungan," seru Finn yang bergegas mengejar di belakang langkah lebarnya.
Itu adalah informasi darurat yang baru saja dia dengar di sepanjang perjalanan turun gunung tadi.
Dia sempat berpapasan dengan regu penyerbu milik Rem, dan turut menyambangi pos pengamanan jalur aman di dekat kaki pegunungan.
"Temui Krais dan beritahukan hal ini padanya."
Encrid tidak tampak terlalu memusingkan kabar tersebut.
Ada dua alasan mendasar di balik ketenangannya.
Pertama, dia memiliki rasa percaya diri yang tinggi terhadap pasukannya.
Para prajurit reguler telah ditempa lewat pelatihan yang teramat keras.
Mereka pasti sanggup membereskan monster-monster sekelas itu dengan kemampuan mereka sendiri.
Alasan keduanya adalah karena Encrid tahu betul apa yang telah dilakukan oleh seorang Krais yang selalu dirundung rasa cemas.
Saat ini, di jajaran unit khusus dan para perwira komandan di lingkungan pasukan reguler Border Guard, sangat langka menemukan sosok prajurit yang tidak dibekali senjata sihir di pinggang mereka.
Setiap prajurit setidaknya mengantongi selembar gulungan mantra sihir darurat di dalam saku zirah mereka.
Mustahil pasukan tangguh semacam itu bisa ditumbangkan begitu saja hanya oleh segelintir gumpalan api liar.











