Bab 737: Aroma Kelicikan Manusia
Dua ekor Spotted Leopard Beasts melesat memisahkan diri, berpencar ke kiri dan ke kanan.
Urat-urat merah yang membengkak menonjol di atas sepasang kaki belakang mereka yang kokoh, dan saat cakar mereka menghantam tanah, kecepatan lari mereka meninggalkan bayang-bayang semu di udara malam.
Meski begitu, kecepatan lari monster-monster itu sama sekali bukan kecepatan yang mustahil untuk dikejar.
Jaraknya memang tipis, namun Encrid sangat yakin ia sanggup menjerat setidaknya satu ekor di antaranya.
Dengan tekad yang bulat, Encrid memutuskan untuk mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya lalu melontarkan tubuhnya menerjang ke depan memanfaatkan dorongan Will.
Ia menanggalkan seluruh kehati-hatian, membuang taktik siluman demi menukar segalanya dengan kecepatan murni.
Pada detik itu, kesadaran otaknya yang terakselerasi membaca setiap detail kecil dalam sepersekian detik.
KREK, PRAKKKâCZZZZT!
Kerikil tajam di bawah pijakan kaki Encrid remuk berhamburan, ranting-ranting pohon patah dan terhujam begitu dalam ke tanah hingga menancap tegak lurus. Punggung kakinya membenam separuh ke dalam tanah liat, mengikis parit kecil sehingga tanah di sekelilingnya terpadatkan dan mengeras di bawah tekanan daya tolak tubuhnya. Kaki kanannya menancap kokoh, sementara jari-jari kaki kirinyaâjempol, telunjuk, dan jari tengahâmenegang siaga melesat maju kapan saja.
Hal yang perlu ia lakukan hanyalah mengejar lalu menghunjamkan pedangnya ke arah mereka. Bahkan jika terjadi variabel tak terduga sekalipun, ia setidaknya sanggup memenggal ekor dari salah satu binatang iblis tersebut.
Ekor mereka yang kini mengeras menyerupai lempengan logam memantulkan bias cahaya rembulan di dalam kegelapan malam.
Siapa pun yang melihatnya pasti paham bahwa ekor itu berfungsi sebagai senjata mematikan yang setajam bilah pedang.
Jika ia sanggup menebas putus ekor tersebut, separuh dari pertempuran ini telah ia menangkan.
Ekor itu kemungkinan besar juga merupakan salah satu organ vital dalam metode serangan sang macan tutul iblis.
Bagaimanapun juga, ekor binatang buas berfungsi sebagai penyeimbang bobot badan saat bermanuver.
Dengan kata lain, jika kau memotong ekornya, keseimbangan tubuhnya akan hancur dan kelincahan larinya akan merosot drastis. Menangkap dan membantainya setelah itu akan semudah membalikkan telapak tangan.
Ia menyadari seluruh kalkulasi taktis ini secara intuitif dan instingtif. Ekor itu sendiri sama sekali bukan ancaman baginya.
Bahkan andai kedua ekor binatang iblis yang sedang melarikan diri ini mendadak berlipat ganda menjadi sepuluh ekor sekalipun, mereka tetap bukan ancaman yang berbahaya bagi Encrid.
Jika ia menyiapkan jebakan, ia sangat percaya diri sanggup membantai mereka semua. Jika situasi memburuk, ia selalu bisa melangkah mundur untuk mengatur napas.
Bagaimanapun juga, gelar seorang Knight sebagai sebuah Bencana Alam berjalan bukan sekadar berarti malapetaka bagi umat manusia.
Seorang Knight sejati adalah bencana mutlak bagi siapa pun yang berani beradu senjata melawan mereka.
Dalam konteks ini, itu berarti ia adalah bencana kehancuran bagi makhluk apa pun yang berani menerjang ke arahnya mengandalkan cakar, kuku tajam, atau taring beracun.
Singkatnya, tak ada seekor binatang iblis pun yang sanggup menahan tebasan pedang Encrid.
Namun di luar dugaan, sebuah sensasi ganjil mendadak merayap di benaknya, membuatnya ragu melangkah.
Insting batin dan intuisi tempur murninya seolah menarik pergelangan kaki Encrid, menahan laju tubuhnya agar tidak mengejar lebih jauh.
Rasa tidak nyaman itu menggelayuti gerakannya layaknya belenggu rantai besi yang teramat berat, menahannya di tempat.
KREK.
Otot-otot betisnya yang menegang keras perlahan melemas kembali.
Ia menurunkan tangannya dengan santai lalu memandang lurus ke depanâia menyaksikan bahwa kedua ekor Spotted Leopard Beasts yang tadinya melesat kabur mendadak berhenti berlari lalu memutar kepala mereka menatap balik ke arahnya.
Berdiri mematung di balik bayang-bayang pepohonan liar, sepasang mata mereka berpendar merah menyala.
Tepat pada detik Encrid mengendurkan momentum serbuannya, kedua monster buas itu serempak berhenti seketika.
Apakah monster-monster itu merasakan getaran halus di udara menggunakan saraf-saraf mereka yang sensitif? Ataukah itu murni insting hewani yang unik milik ras mereka? Apa pun alasannya, makhluk-makhluk terkutuk di depannya ini jelas tak bisa disebut sebagai binatang iblis biasa.
"Spesimen mutan yang sangat tidak biasa."
Encrid memutar tubuhnya. Begitu sebuah keputusan taktis telah diambil, tak ada alasan baginya untuk ragu-ragu lebih jauh. Waktu yang telah bergulir takkan pernah bisa diputar kembali. Meskipun ada banyak cabang jalan di depan mata, kau hanya bisa menapaki satu jalan yang kau pilih.
Itulah sebabnya jika kau telah menetapkan pilihanmu, tak ada ruang untuk penyesalan. Tentu saja, jika ada orang yang menanyakan kenapa ia membatalkan pengejaran itu, satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan adalah karena firasat batinnya merasa sangat tidak nyaman.
Encrid berbalik tegas, memperlihatkan punggungnya tanpa pertahanan. Tak ada binatang iblis lain yang berani menerjang menyerangnya.
Ia melangkah lurus kembali menuju ke arah pemukiman tersembunyi. Setibanya di sana, ia melihat Hartvent masih berdiri mematung kaku, menggenggam tombak kasarnya dalam keheningan total tanpa sanggup berkata-kata.
"Kalau bangkai ini tidak segera kita bereskan, baunya pasti akan sangat busuk menyengat."
Encrid menyenggol bangkai raksasa sang Bear Beast menggunakan ujung sepatunya. Hartvent menatapnya dengan sepasang mata yang diliputi kecemasan yang mendalam.
Binatang-binatang iblis itu memang sangat berbahayaânamun pria itu mendadak tersadar kembali bahwa pria berambut hitam yang berdiri santai di hadapannya ini jauh lebih berbahaya dan mengerikan daripada monster mana pun.
Encrid membalas tatapan mata Hartvent dengan tenang.
*'Pasti ada begitu banyak kekhawatiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.'*
Ia tak bisa menebak secara sempurna apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan Hartvent di lubuk hatinya, namun ia kurang lebih bisa menangkap garis besarnya.
Bukannya ada hal khusus yang ingin ia sampaikan.
Kata-kata penghiburan sebanyak apa pun takkan sanggup melenyapkan kecemasan batin pria malang tersebut.
Hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini adalahâ
*'Hal terbaik adalah membasmi seluruh binatang iblis di hutan ini secepat mungkin lalu segera angkat kaki dari sini.'*
Namun andai hal itu benar-benar menjadi satu-satunya tujuannya sejak awal, seharusnya ia mengejar dan membantai kedua ekor macan tutul iblis tadi tanpa ragu.
Dan kenyataannya, Encrid memilih untuk tidak melakukannya.
"Apa ada persediaan air bersih untuk membasuh diri?" tanya Encrid pelan.
"Tentu saja ada."
Hartvent telah menimba air bersih dari sumber mata air di bawah lereng desa lalu menyisihkannya di dalam tempayan kayu.
Entah air itu semula diperuntukkan untuk air minum atau keperluan lain sama sekali tidak masalah; Encrid menggunakan separuh dari air yang diambil untuk membersihkan tubuhnya dari noda darah.
Terlepas dari ketakutan apa pun yang disembunyikannya di dalam hati, pemuda ini telah menyelamatkan seluruh nyawa penduduk desa dari kepunahan.
Sangatlah wajar bagi Hartvent untuk menunjukkan setidaknya sedikit keramahan semacam ini kepadanya.
Batin pria perkasa itu pun diliputi ketegangan yang teramat sangat.
Bagaimana jika pendekar pedang sakti ini mendadak murka dan membantai mereka semua hanya gara-gara tidak ada air bersih untuk mencuci tangan?
Kecemasan yang mencekik itu membuat perutnya terasa perih melilit.
Nasib kelangsungan hidup seluruh penduduk desa kini sepenuhnya bergantung pada suasana hati pemuda asing ini.
Sejujurnya, rasanya pasti akan jauh lebih menenangkan bagi jiwa mereka andai pemuda ini segera melangkah pergi meninggalkan hutan, membiarkan mereka kembali berjuang sendirian bertaruh nyawa menghadapi binatang-binatang iblis seperti biasa.
"Kalau begitu, aku tidur dulu."
Setelah membersihkan diri dengan cepat, Encrid mempertahankan sikap tenangnya yang ramah kepada Hartvent lalu melangkah masuk ke dalam liang tanah untuk beristirahat.
Malam bergulir dengan sangat cepat.
Tepat saat fajar menyingsing di ufuk timur, Encrid membuka matanya lalu mulai menyusuri hutan di sekitar pemukiman. Sama sekali tidak sulit baginya untuk menemukan jejak-jejak pergerakan binatang iblis.
*'Jaraknya sangat jauh.'*
Ia semula memperhitungkan bahwa jika kawanan monster itu memang mengincar penduduk desa, mereka pasti akan mengintai mengendap-endap di dekat perimeter pemukiman.
Namun jejak mereka sama sekali tidak berada di dekat desa. Jika ia berniat melacak kawanan itu hingga ke sarangnya, ia terpaksa harus menjelajah sangat jauh masuk ke pedalaman pegunungan.
Jika memang begitu kondisinya, maka itulah hal yang wajib ia lakukan.
Meski begitu, sebuah rasa enggan yang ganjil kembali menggelayuti benaknya.
Encrid mengikuti jejak-jejak kaki itu dengan kecepatan lari yang tidak terlalu cepat namun juga tidak lambat.
*'Aroma amis yang sangat menyengat.'*
Aroma khas yang amis, apek, dan berlumuran bau getah pohon yang unik pada binatang iblis mengambang pekat di udara pagi.
*'Apa sebenarnya nama buah wewangian itu tempo hari?'*
Saat pertama kali ia melangkah masuk ke dalam rumah semi-basement kemarin, aroma tajam menusuk sempat menyapa hidungnya.
Setelah menanyakan perihal aroma unik tersebut, ia baru mengetahui bahwa aroma itu berasal dari buah tanaman liar lokal yang hanya tumbuh di pedalaman pegunungan ini.
Jika buah itu dicampurkan ke dalam masakan, aromanya sanggup melenyapkan seluruh bau amis memualkan dari daging binatang iblis dan berfungsi sebagai bumbu rempah penyedap.
Berkat buah ajaib itulah, ia mendengar cerita bahwa para penduduk desa terkadang memasak daging binatang iblis dan daging Monster demi menyambung nyawa.
Tentu saja rasanya sama sekali jauh dari kata lezatâsehingga mereka hanya mengonsumsinya saat mereka benar-benar berada dalam kondisi darurat tanpa pilihan lain.
Fakta kuliner itu sempat dijelaskan oleh Brunhild saat gadis kecil itu berdiri memegang tombak kayunya, disusul oleh beberapa anak kecil lain yang ikut berkumpul mengerubunginya. Secara khusus, seorang bocah laki-laki yang berotak cerdas sempat menceritakan kisah tersebut dengan sangat bersemangat.
*'Itu adalah kali pertama hidungku mencium aroma rempah tersebut.'*
Namun aroma yang kini sedang dideteksi oleh indra penciumannyaâia mengenali bau busuk ini dengan sangat jelas.
Sebuah bau busuk yang teramat memualkan bercampur dengan aroma amis darah dan bau apek binatang buas.
Itu adalah aroma kelicikan yang sarat dengan kecerdasan mirip manusiaâsebuah bau taktik yang sama sekali tak pernah ia duga akan terpancar dari sekawanan binatang iblis!
Ia tidak sedang menciumnya secara harfiah dengan hidungnya, melainkan seluruh serat inderanya sanggup merasakannya dengan teramat jelas.
Umat manusia, dengan akal budi dan kecerdasannya, menyematkan strategi ke dalam medan pertempuran.
Menyebutnya sebagai taktik perang adalah bahasa yang halus.
Jika diutarakan secara kasar dan telanjang, itu adalah kelicikan yang dikembangkan murni demi meraih kemenangan sembari meminimalkan korban di pihak sendiri.
Dan dari jejak-jejak pergerakan yang ditinggalkan oleh kawanan binatang iblis di depannya saat ini, Encrid merasakan kelicikan dan kepicikan yang hanya biasa kau temukan pada diri manusia!
Encrid menghentikan langkah kakinya seketika.
Seolah-olah hendak membuktikan kebenaran hipotesis taktisnya, kawanan binatang iblis tiba-tiba menampakkan diri dari balik semak belukar liar, aroma amis mereka seketika membanjiri udara saat mereka merayap mendekat.
Tanpa mengeluarkan raungan atau geraman sedikit pun, mereka merendahkan tubuh mereka rapat ke atas tanah, menyatu padu dengan hamparan rumput liar seolah-olah mereka adalah bagian dari alam, menatap lurus ke arahnya dengan sepasang mata yang merah berdarah.
*'Mereka sengaja memanfaatkan arah angin haluan.'*
Monster-monster itu sengaja memanfaatkan arah hembusan angin demi menyamarkan aroma tubuh mereka dan menyembunyikan hawa keberadaan mereka saat melancarkan penyergapan!
Dengan kata lain, mereka sengaja meninggalkan jejak kaki di sepanjang jalan murni demi memancing Encrid masuk ke dalam perangkap mereka!
Dengan sengaja meninggalkan kotoran dan tetesan darah segar, mereka dengan cerdik menciptakan jalur umpan beraroma amis.
Ia bahkan sanggup membayangkan kawanan binatang buas ini sengaja menyabetkan cakar mereka, melukai kaki mereka sendiri atau mencakar kawan sekawanan mereka demi meninggalkan jejak darah yang meyakinkan.
Kini kawanan predator yang muncul mengepungnya adalah Wolf Beastsâkawanan serigala iblis bertaring panjang.
Bahkan hanya dalam sekali pandang, ada puluhan ekor serigala yang sedang merayap mengepungnya.
Membentuk formasi setengah lingkaran demi mengurungnya sama sekali tidak lagi mengejutkan akal sehat Encrid.
Sebuah penyergapan terorganisir dan pengepungan taktisâia memang sudah memperkirakan manuver semacam ini.
*'Jadi kawanan anjing liar kemarin hanyalah pasukan perintis pengumpan?'*
Encrid tahu betul apa sebutan militer untuk taktik yang sedang diterapkan oleh para binatang iblis ini.
"Ini adalah taktik pengalihan."
Itu artinya ia pun tahu persis ke mana ia harus segera melangkahkan kakinya saat ini juga.
Ia memutar tubuhnya dan melesat berlari kembali menuju ke arah pemukiman warga. Sensasi firasat batin yang masih terikat di pergelangan kakinya membisikkan bahwa ia masih sanggup tiba tepat waktu.
GUK!
Saat sang Wolf Beast yang berdiri di posisi komando tengah menggonggong tajam, kawanan serigala lainnya serempak bergeser cepat, merapatkan formasi setengah lingkaran mereka menjadi sebuah lingkaran kepungan rapat yang sempurna, mengunci rapat jalur mundur di belakang punggung Encrid!
Encrid menghitung jumlah binatang iblis yang menghadang jalurnya dalam sepersekian detik.
"Ada sembilan ekor."
Serigala ketiga dari sebelah kiri memiliki postur tubuh yang paling tinggi dan kekar, sementara serigala kedua dari kanan merendahkan tubuhnya paling rapat ke tanah, dalam posisi siaga melompat menerkam kapan saja.
Tak ada suara bilah Samcheol yang terhunusâkarena sejak awal ia memang telah menggenggam pedang pusaka itu dalam kondisi terhunus di tangannya.
Encrid mengubah setiap kepala dari kesembilan binatang iblis itu menjadi titik-titik sasaran di dalam benaknya, menggambar garis lintasan imajiner yang menghubungkan titik-titik tersebut.
Sejak detik itu, ia menyerahkan separuh dari gerakan fisiknya kepada insting bertarung murni. Energi Will meledak membara di dalam jiwanya, mendorong tubuhnya melesat jauh lebih cepat melampaui batas kecepatan suara!
Encrid merentangkan bilah Samcheol ke arah kiri, lalu menyabetkannya ke kananâsebuah tebasan kilat yang meliuk dalam jalur zigzag yang sempurna!
Ini adalah variasi dari tebasan kilatan cahaya yang telah ia asah melalui alur pemikiran yang teroptimalkan sempurna.
Sebuah kilatan tebasan berkesinambungan.
Pemikiran yang teroptimalkan membisikkan secara presisi ke mana ia harus menusukkan dan menyabetkan bilah pedangnya.
Wujud sempurna dari teknik itu menjelma menjadi sebuah bencana alam berupa kilatan cahaya putih yang meliuk-liuk zigzag membelah ruang!
*"Petir."*
KREK-KREK-KREK-KREKKK!
Pemandangannya tampak seolah-olah kepala dari kesembilan ekor serigala iblis itu meledak terbelah secara serentak pada detik yang sama persis!
Tentu saja ada selisih waktu mikroskopis di antara setiap tebasan maut tersebut, namun kecuali jika kau adalah seorang Knight sejatiâdan bukan sembarang ksatria, melainkan sosok pendekar yang berada di tingkatan tertinggiâkau takkan pernah sanggup melihat jeda waktu tersebut.
Itu adalah pertunjukan seni pedang yang sangat akrobatik, dicapai murni melalui pelepasan garis tebasan eksplosif yang ia serap dari Alexandra, dipadukan dengan optimasi alur pemikiran taktis.
Dari luar, jurus itu tampak tak lebih dari sekadar tebasan kilat yang sederhana, namun jika diteliti lebih dalam, cara Encrid mengendalikan dan memanipulasi Will miliknya benar-benar teramat akrobatik dan presisi.
Kepala kesembilan ekor Wolf Beasts itu meledak hancur berkeping-keping tanpa perlawanan, dan mereka mati seketika.
Kini tak ada lagi rintangan yang sanggup menghalangi jalur lari Encrid.
Melompat menerjang maju menembus hutan, ia seketika menangkap siluet seekor Serpent raksasa di depan gerbang pemukimanâseekor ular iblis raksasa yang ukurannya sanggup menelan seorang anak seukuran Brunhild bulat-bulat hanya dalam sekali telan!
BRAKKK!
Ular raksasa itu membelitkan tubuhnya yang luar biasa besar ke sebatang pohon purba, meremukkannya hingga patah menjadi dua, lalu melepaskan desisan lolongan panjang yang memekakkan telinga. Desisan beracun itu, yang disuntik dengan kekuatan gaib demi menanamkan teror ke dalam jiwa mangsanya, memancar begitu pekat.
"Aku yang akan menahannya!"
Teriakan itu terdengar dari pinggiran pemukiman warga. Hartvent berdiri seorang diri, menghadang sang ular raksasa hanya berbekal sebatang tombak kasarnya.
Di suatu titik pertempuran, lengan bawah pria itu telah terluka robek dan darah segar menetes deras membasahi tanah liat di bawah kakinya dengan warna merah yang jauh lebih pekat dan cerah daripada darah monster.
Tepat pada detik Encrid melihat sosok Hartvent, ia langsung memahami rencana taktis pria itu.
Sebuah perangkap.
Hartvent pasti sedang berusaha memancing sang ular iblis masuk ke dalam perangkap lubang galiannya. Satu-satunya alasan kenapa pria itu sempat terdesak oleh kawanan anjing liar tempo hari adalah murni karena mereka menyerbu dari sudut buta secara tiba-tibaâjika tidak, ia yakin sanggup membantai mereka semua menggunakan jebakan.
Namun sang Serpent raksasa ini berada di tingkatan yang sama sekali berbeda.
Mustahil monster raksasa sekelas ini bisa dibunuh hanya mengandalkan lubang jebakan tanah yang dangkal!
Encrid tidak ragu sedetik pun.
Ia melesat menerjang ke depan dengan kepastian mutlak seraya menyentakkan pedangnya.
Tanpa perlu menoleh ke belakang, sang ular iblis mengayunkan sebatang kayu gelondongan raksasa yang dicengkeram oleh ekornya, melepaskan raungan gemuruh yang membelah udara.
Bilah Penna meluncur turun dalam gerakan yang teramat halus dan anggun lalu membelah batang kayu raksasa itu menjadi dua bagian!
SREKKK!
Dalam urusan daya potong murni, bilah Penna bahkan melampaui ketajaman Samcheol.
Permukaan belahan dari kayu yang terpotong tampak begitu rata dan bersih tanpa cela. Suara yang tercipta pun sangat lembut, bagaikan memotong sepotong daging empuk.
Encrid melesat menerjang ke depan, seolah-olah menyelam menembus celah di antara kedua belahan kayu yang baru saja terbelah. Ia telah menyarungkan kembali bilah Penna dan kini mencengkeram gagang Samcheol menggunakan kedua belah tangannya.
Tanpa memperlambat laju larinya sedikit pun, ia menghunjamkan bilah pedangnya lurus ke bawah tepat menembus kepala sang ular raksasa!
WUSHHH-KLEK!
Bilah baja itu mengukir garis tebasan yang melesat melampaui batas persepsi indra siapa pun.
Pedang itu menyayat menembus kepala sang Serpent raksasa bahkan sebelum suara tebasan sempat menyusul di belakangnya!
Dari sudut pandang Hartvent yang berdiri hanya beberapa langkah di depannya, yang disaksikan pria itu hanyalah sosok Encrid yang mendadak muncul dari udara kosong, batang kayu terbelah dua, lalu hanya kilatan seutas garis putih yang menyilaukan mata.
Kepala sang Serpent raksasa terbelah rapi menjadi dua bagian mengikuti garis tebasan tersebut.
Tengkoraknya yang sekeras baja, bersama dengan cairan otak hitam di dalamnya, menyembur tumpah ke atas tanah.
Pedang itu bergerak begitu secepat kilat hingga suara pemenggalan bahkan tidak sempat terdengar; sesaat, bahkan tak ada setetes darah pun yang merembes keluar dari permukaan potongan yang terbelah sempurna itu.
Ini adalah keahlian pedang yang bukan sekadar melampaui definisi kerapianâmelainkan telah berada jauh melampaui batas apa yang sanggup dicapai oleh seorang manusia biasa!
Encrid telah menjejakkan kakinya ke dalam ranah yang disebut sebagai Knight, atau bahkan sebuah Bencana Alam.
Secara alami, ia sanggup mengayunkan pedangnya menembus batas-batas biologis spesiesnya.
Kekuatan luar biasa mutlak yang tidak tampak saat ia bertarung melawan ksatria elit lainnya kini terpampang nyata tanpa sisa di hadapan kawanan binatang iblis.
TAP. DUGH.
Encrid yang menghunjamkan pedangnya saat masih melayang di udara menjejakkan kakinya ke tanah terlebih dahulu dengan anggun.
Baru setelah itu, bangkai raksasa sang Serpent roboh menghantam bumi.
Bumi berguncang hebat, seolah-olah baru saja dihantam gempa bumi lokal.
Encrid seketika mengangkat kepalanya, mendengarkan desau kebisingan dan merasakan getaran udara di sekeliling pemukiman.
Bangkai ular raksasa ini bukanlah akhir dari pertempuran.
Beberapa ekor Deer Beastsârusa iblis yang taring-taring tajamnya mencuat jauh lebih panjang dan mengerikan daripada taring serigalaâmelompat menerobos masuk ke dalam pemukiman warga! Di atas dahan-dahan pepohonan tinggi, kawanan Fox Beasts menatap tajam ke bawah dengan sepasang mata yang berpendar merah menyala.
"Keparat, Hartvent!"
Seseorang berteriak panik memanggil sang pemimpin desa.
Perangkap maut yang digali para penduduk desa berupa lubang-lubang galian tanah yang ditancapkan pasak-pasak kayu runcing di dasarnya. Seluruh perangkap itu digali di perimeter garis depan pemukiman.
Namun kawanan binatang iblis saat ini justru menyerbu masuk menerobos dari sisi-sisi sayap pemukiman!
Mereka mengetahui posisi lubang-lubang perangkap tersebut sejak awal!
Kawanan anjing liar iblis kemarin melancarkan taktik penundaan; sang Bear Beast sengaja memancing perhatian dan memancing Encrid keluar; dan kawanan serigala tadi bertugas mengulur waktu agar ia tidak bisa kembali dengan cepat!
Mereka sengaja berusaha memancingku keluar dari desa!
Kini fakta itu menjadi kepastian mutlak.
Kawanan binatang iblis ini sanggup menggunakan otak dan strategi perang!
Mereka begitu cerdik dan licik hingga sanggup memandang remeh mayoritas manusia biasa!
"En-Ki!"
Di tengah kekacauan yang mencekam, suara teriakan Brunhild terdengar memanggil.
Pada momen genting seperti ini, sangatlah alami bagi gadis kecil itu untuk memanggil namanya, alih-alih memanggil nama ayahnya.
Sosok yang sanggup menariknya keluar dari cengkeraman maut ini adalah sang pendekar pedang dari luar desa.
Encrid seketika meledakkan pergerakannya.
Ia menghentak tanah, melesat berlari di atas dahan-dahan pepohonan purba, lalu menebas putus leher seekor rusa iblis bertaring panjang yang sedang menerjang liar ke arah anak-anak.
Bersamaan dengan kilatan bayangan Samcheol, kepala rusa iblis itu melayang berputar di udara lalu jatuh berdentang menghantam tanah.
Ia melompat turun dari atas pohon, menstabilkan kuda-kudanya, melontarkan tombak mekanisnya, danâsembari menarik senjatanya kembali tanpa jedaâmelemparkan Horn Trumpet Dagger miliknya sembari meliuk menghindar ke samping!
SYUUUTâBLARRR!
Kekuatan fisik seorang ksatria sejati pantas disebut sebagai kekuatan manusia super.
Terisi penuh oleh daya ledak tersebut, belati terompet itu menembus lurus tengkorak kepala sang rusa iblis hingga tembus ke belakang!
DUARRR!
Kepala sang Deer Beast meledak hancur layaknya buah labu matang yang dihantam martil godam.
Sembari terus bergerak membantai, mata Encrid seketika menangkap siluet seekor rubah putih berekor dua yang sedang mengintai di kejauhan.
Makhluk itu teramat sangat licik.
Setelah mengamati bagaimana Encrid membantai habis beberapa ekor binatang iblis dalam sekejap mata, rubah putih itu sengaja menjaga jarak aman.
Jika kau mengamatinya dari dekat, kau akan melihat monster itu bertengger anggun di atas puncak pohon purba yang begitu tinggi hingga pucuknya nyaris tak terlihat, berdiri tegak lurus layaknya sebatang tiang bendera.
Sang rubah berekor dua melangkah ringan di atas dahan-dahan tipis.
Sikapnya tampak seolah-olah seluruh pembantaian berdarah ini hanyalah sebuah ujian taktis biasa.
Seolah-olah ia sedang memamerkan bahwa ia masih memiliki segudang pasukan monster lain yang siap diterjunkan kapan saja.
Encrid mengalihkan fokusnya dari sang Fox Beast berekor dua yang sempat mencuri perhatiannya lalu kembali merangsek maju membersihkan area desa.
Bahkan berhenti demi menarik napas selama satu detik saja bisa berarti hilangnya satu nyawa manusia tak berdosa. Ia pantang membiarkan tragedi semacam itu terjadi.
Di luar sang ular raksasa, ada kurang dari dua puluh ekor binatang iblis yang berhasil menyusup masuk ke dalam pemukiman.
Namun andai bukan karena kehadiran Encrid di sini, seluruh penduduk desa pasti sudah tewas terbantai tanpa sisa.
Brunhild yang sedang mengatur napasnya yang terengah-engah di samping dinding liang tanah tersenyum bangga seraya mengangkat tombak kayunya tinggi-tinggi.
"Aku berhasil membunuh satu ekor!"
Bahkan di tengah kekacauan perang yang mengerikan itu, gadis kecil yang luar biasa berbakat ini berhasil menusuk mati seekor Fox Beast seorang diri!
Sebagai konsekuensinya, batang kayu tombaknya yang rapuh kini telah retak terbelah menjadi dua di bagian tengah.
***
"Kita harus segera mengadakan rapat desa," ucap Hartvent seraya memandang ke sekeliling dengan napas berat.
Tak ada satu pun penduduk yang tewas dalam pertempuran ini, namun fakta membahagiakan itu sama sekali tidak sanggup meredam rasa cemas yang mencekik di dalam dadanya.











