Bab 584
"Apa kau mempekerjakannya begitu keras sampai dia gila?"
"Oh, pekerjaan apa yang dia lakukan dan seberapa banyak? Kenapa dia harus gila? Bahkan aku merasa hal ini cukup konyol sampai ingin tertawa, jadi aku paham perasaannya."
Gadis kecil itu mengatakan hal ini karena pria yang bukan hanya kepala kota, tetapi juga penguasa wilayah Border Guard dan ketua Knight Order, baru saja mengkhianati orang-orang Temple itu.
Menjawab pertanyaan Encrid, Krais menatap Avnaiyer saat membalas.
Mereka tidak bisa memahami perubahan emosi Avnaiyer.
Melihatnya mendadak tertawa seperti itu membuatnya terlihat seperti orang gila.
Setelah membiarkan Encrid masuk, Krais melangkah menuju Avnaiyer.
Bagaimanapun, Encrid bukan tipe orang yang mudah dibujuk, jadi Krais tidak bisa memprotes sang Kapten, tetapi jauh di dalam hatinya, rasa cemas yang kuat mulai bergejolak.
Sama seperti biasanya. Krais adalah tipe orang yang selalu membayangkan skenario terburuk dalam situasi apa pun.
'Jika segalanya berjalan seperti ini…'
Saat kecemasan melonjak, pikiran tajam Krais mulai bekerja lebih cepat.
'Jika Holy Nation tidak menggunakan kekuatan fisik, apa yang bakal mereka lakukan pertama kali?'
Apa yang bisa mereka lakukan untuk mengganggu, menghambat, dan menyusahkan?
Jika dia berada di posisi mereka, Krais bakal melakukan apa saja untuk memengaruhi wilayah ini.
Pikirannya melayang liar membayangkan skenario-skenario terburuk.
Secara bersamaan, Krais juga memikirkan persiapan yang dibutuhkan untuk mengkonfrontasi tindakan semacam itu.
Dia sudah menyusun rencana secara kasar. Tetap saja, bukankah bijak untuk memverifikasinya?
Dalam situasi seperti ini, memiliki ahli strategi yang lebih mahir dari dirinya adalah salah satu hal yang menenangkan.
"Avnaiyer, apa kau mau mendengarkan dan menilai apakah ini sudah benar?"
Krais membagikan rencananya. Dia berbicara tanpa henti, tidak memberi ruang bagi Avnaiyer untuk memotong.
Krais telah menyiapkan berbagai hal, mengantisipasi bahwa Encrid bisa saja memicu kekacauan kapan saja.
Di antaranya adalah rencana bagaimana memberikan dukungan jika mendadak ada demon yang turun dan mereka harus terlibat dalam pertarungan berskala penuh.
Bagaimanapun juga, Encrid bisa saja pergi memprovokasi demon sebelum kembali, kan?
'Bukankah itu mungkin terjadi?'
Meskipun jarang ada demon dari Demon Realm yang menginvasi benua, Krais menganggapnya sebagai sebuah kemungkinan.
Itu adalah salah satu dari sepuluh mimpi buruk terburuk yang pernah dibayangkan Krais.
"Kepingan mimpimu detail sekali, ya?"
Kekasihnya, Nurat, pernah berkomentar bahwa Krais terlalu berlebihan, tetapi meski begitu, Krais tetap melakukan persiapannya.
Konflik dengan Temple relatif lebih sederhana dibandingkan dengan invasi demon.
Ini memang gila.
"Kenapa kau bertanaya padaku kalau kau sudah memutuskan semuanya?"
Ketika Avnaiyer menyela di tengah-tengah penjelasan, Krais menegurnya.
"Fokuslah sedikit. Apa ini terlihat seperti urusan orang lain bagimu? Kita melakukan ini demi kebaikan bersama. Bagaimana kalau Temple memainkan trik di sini, dan semua orang berakhir kelaparan dan menderita? Hmm? Apa itu bagus untuk Azpen?"
"Bukan, aku tidak bermaksud begitu…"
Avnaiyer mencoba membela diri, tetapi Krais terus menegurnya sebelum menghela napas panjang.
"Pokoknya, begitulah cara kita bakal melakukannya."
Avnaiyer mendengarkan rencana Krais secara garis besar, menyimpannya dalam pikiran sebelum mengajukan pertanyaan yang benar-benar ingin dia tanyakan.
"Apa kau tidak merasa kesal padanya?"
Meskipun Krais merasa cemas dan terus melirik ke sekeliling, dia tetap terus bekerja.
Avnaiyer merasa hal itu sangat menarik, heran bagaimana Krais bisa menerimanya dengan santai.
Apakah ada orang di benua ini yang berani berdiri menentang Holy Nation seperti ini?
Bahkan raja di kerajaan selatan tidak bakal berani melakukan hal semacam itu. Mungkin Kaisar Kekaisaran, tapi…
Krais berbicara dengan sikap acuh tak acuh, tidak tersenyum maupun menangis.
"Tidak, aku sudah terbiasa. Malahan, nama asli Knight Order ini adalah 'Troublemaker Squad'."
Bagi Avnaiyer, nama itu terdengar sangat cocok.
Namun, sama seperti julukan 'Order of Madness' yang pasti terdengar aneh saat pertama kali didengar orang-orang, kata 'pembuat masalah' tidak begitu cocok untuk nama sebuah Knight Order.
"Aku bakal mengadakan rapat beberapa hari lagi, jadi kau harus hadir juga, Avnaiyer."
Dengan itu, Krais melangkah pergi dengan cepat, tampak memiliki banyak hal yang harus diurus. Meski ada nada kejengkelan dalam langkahnya, tidak ada rasa dendam—dia hanya terlihat seperti seseorang yang sedang melakukan apa yang harus dilakukan.
Di kota secara keseluruhan, sentimennya terdengar sama.
Banyak orang telah mendengar beritanya, tetapi tingkat kekhawatiran dan kecemasan mereka sangat minim. Sangat minim.
"Dia sudah kembali."
"Apa latihan bakal dimulai lagi besok?"
Beberapa orang khawatir dengan intensitas latihan yang bakal diterapkan oleh Iron Wall Knight sekarang setelah dia kembali.
"Phew, libur, liburlah. Aku rela menjual jiwaku demi sebuah liburan."
Ada juga prajurit yang terlihat setengah seperti ghoul, yang sangat memohon untuk mendapatkan istirahat.
"Tolong, bertandinglah denganku!"
Dan ada orang lain yang dengan berani meminta pertarungan tanding dengan sang Knight Captain yang baru kembali, sosok pahlawan yang bertanggung jawab atas wilayah tersebut.
"Anda telah kembali, Tuan!"
Bahkan sang lord keluar untuk menyambutnya dengan hangat.
Apakah keahlian pria ini baru bersinar di masa tuanya?
Meskipun Junior-Knight jarang terlihat, kini keberadaan mereka lebih umum dijumpai daripada sebelumnya.
Berbagai faksi di seluruh benua mulai menunjukkan kekuatan yang selama ini mereka sembunyikan.
Dunia telah berubah, dan di pusat transformasi ini berdiri sang Iron Wall Knight.
Hal yang mengagumkan adalah bagaimana pertumbuhan sang lord sendiri sangat dipengaruhi oleh kehadiran Encrid.
Keberadaannya saja sudah memotivasi semua orang di sekitarnya, dan mereka yang tidak menyerah atau mundur semuanya mengalami kemajuan.
Dalam beberapa hal, ini adalah keajaiban yang luar biasa, hampir seperti sihir.
Namun ini adalah kenyataan, dan karena semua orang menerimanya secara alami, mungkin insiden ini juga dianggap sebagai hal biasa.
Tidak ada keajaiban yang lebih besar dari ini.
Dan karena hal ini, setiap faksi di seluruh benua berada di ambang untuk menunjukkan kekuatan mereka.
Dalam satu sisi, semua yang telah dilakukan Encrid bagaikan suar sinyal yang mengumumkan bahwa mereka yang sebelumnya menahan diri dari menggunakan kekuatan, kini harus menunjukkan dan bertarung dengannya.
'Dunia baru, ya.'
Saat dinamika benua bergeser, Avnaiyer merasakan hal semacam itu. Angin berembus, mengacak-acak rambutnya.
Dari Azpen ke Naurillia.
Dari seorang tahanan hingga posisinya saat ini.
Angin perubahan sedang berembus.
Secercah gambaran masa depan—masa depan di mana tidak ada yang pasti.
Tenggelam dalam lamunan sejenak, Avnaiyer kembali ke masa kini dan menatap ke depan.
Dia melihat sang lord tua bergerak dengan tekad membara, bersemangat untuk berlatih tanding.
Sebagai seorang lord, dia seharusnya khawatir, bukan?
Namun dia tampak tidak peduli sedikit pun tentang konfliknya dengan Temple.
Meskipun tidak setiap warga kota memiliki perasaan yang sama, dari luar, mereka semua tampak bersatu.
Tidak ada yang mempertanyakan apa yang telah dilakukan Encrid.
Mungkin hanya ada satu alasannya.
Semua yang telah dia tunjukkan hingga saat ini membuktikan nilainya.
"Ah."
Meskipun Avnaiyer telah memahami hal ini secara intelektual sebelumnya, baru sekarang dia merasakannya secara mendalam di dalam hatinya.
Mereka tidak kalah hanya karena kekurangan kekuatan.
Meskipun dia selalu mengetahui hal ini, melihat dan meyakininya secara langsung mengukirnya secara mendalam di dalam hatinya.
'Aku kalah.'
Namun terlepas dari kekalahan itu, dia tidak merasakan keputusasaan maupun kekalahan. Begitulah kondisi pikiran Avnaiyer saat ini.
Jantungnya berdegup kencang, dan dia menantikan hari esok.
***
"Apa yang baru saja kau katakan?"
Begitu kembali, Encrid menyampaikan ucapan Audin kepada semua orang, termasuk Rem dan Ragna. Ini adalah sesuatu yang perlu dia bagikan dengan cepat.
"Audin bilang kalau dia kembali nanti, dia bakal menghajar kalian masing-masing beberapa kali."
Encrid merangkum dan mengulangi apa yang dikatakannya sebelumnya.
"Siapa yang mau menghajar siapa? Si bungsu yang seperti beruang itu mau menghajarku?"
"Kalau kau memanggilnya si bungsu sekali lagi, dia mungkin bakal benar-benar melakukannya."
Mendengar ucapan Encrid, Rem mengambil kapaknya dan menyeringai.
Siapa menghajar siapa?
Bahkan jika bocah itu mendekat dalam pertarungan jarak dekat, dia tidak bakal punya kesempatan.
Bagi seseorang seperti Rem, kontrol jarak adalah keterampilan dasar. Melampaui level seorang master dan bangkit di atas Knight bukanlah main-main.
Mereka yang berada di level ini tidak pernah dengan mudah membiarkan jangkauan bertarung favorit mereka diganggu.
Jadi Audin, si anak beruang itu, tidak punya kesempatan. Dia hanya seekor beruang yang cukup keras hingga rasanya menyebalkan untuk dipukul.
"Kau bicara omong kosong, kan?"
Rem berbicara lagi, tahu betul batas kemampuan Audin dari sesi latihan tanding mereka sebelumnya.
"Kalau dari yang kulihat, pria beruang itu melangkah satu tingkat di atas kalian semua."
Sinar menyela dari samping. Sebenarnya, kau tidak pernah tahu siapa yang bakal menang sampai kau bertarung, tetapi kau sering kali bisa mengukur beberapa hal dari penampilan.
Intensitas Divine Power di dalam tubuhnya dan jumlahnya menjadi dasar penilaian Sinar.
Meskipun kau tidak bisa memprediksi hasil pertarungan hidup-mati, dalam pertarungan tanding? Jika dia tidak bisa mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuh?
Mendengar perkataan sang Fairy, alis Rem terangkat, wajah yang ditunjukkan seseorang saat mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan.
Apakah Fairy itu bakal berbohong? Kemungkinannya kecil.
Terlebih lagi, Encrid bukan tipe orang yang suka bercanda tentang hal semacam ini.
"Benarkah?"
Tanya Rem lagi.
"Benar."
Encrid mengangguk khidmat.
Rem merasa bahwa ini adalah kebenaran.
Terutama karena Encrid sangat serious jika menyangkut ilmu pedang dan seni bela diri.
Dia bukan seseorang yang bakal berbohong tentang hal ini.
Di sampingnya, Ragna, dengan mata yang sedikit lebih lebar dari biasanya, bertanya.
"Siapa?"
"Audin."
Jawab Encrid dengan ramah.
"Siapa?"
Ragna mengulangi kata yang sama dengan nada yang sama.
"Dia bilang dia bakal kembali paling lambat beberapa bulan lagi."
Encrid menjawab dengan tenang, tahu hanya mereka yang perlu mendengarnya yang bakal mendengarkan. Dia juga tahu orang-orang ini tidak mungkin tidak menyadari apa yang telah dia sadari.
Bukankah mereka semua merasa bahwa Audin menyembunyikan sesuatu?
Bahkan Pel dan Lawford pun tahu.
Sebenarnya, mereka semua telah menyadarinya sampai batas tertentu.
Dan untuk menambahkan, mereka tahu Audin lebih baik mati daripada menunjukkan potensi penuhnya.
Mereka telah menyiksanya atas nama latihan tanding cukup sering untuk mengetahui hal ini.
Jadi, apakah dia akhirnya lepas dari cangkangnya?
Bahkan setelah mendengar perkataan Encrid, Lawford, Pel, dan Luagarne tetap tidak terpengaruh.
Hal yang sama berlaku untuk Jaxon. Meskipun dia tidak bisa bilang berhubungan sangat akrab dengan Audin, dia tidak memiliki masalah nyata dengannya.
Mereka berdua menghormati batasan masing-masing dengan cara mereka sendiri.
Namun Rem dan Ragna berbeda.
Mereka menggoda Audin tanpa henti dan menyiksanya. Mereka bahkan membuatnya berperan sebagai adik tertua untuk sementara waktu.
Belakangan ini ada rumor tentang Ragna yang menjadi adik paling bungsu, haus darah, tetapi sampai saat itu, mereka telah menggodanya tanpa ampun sebagai anak beruang bungsu.
Setidaknya dari luar, begitulah kelihatannya.
Rem menggenggam kapaknya dan berdiri. Bukankah dia menjadi sedikit malas dalam latihannya saat menikmati mainan barunya—pasukannya?
Ya, memang benar. Sekarang dia tidak bakal punya waktu untuk itu.
"Jangan cari aku untuk sementara waktu."
Untungnya, keberuntungan berada di sisinya. Belakangan ini dia menemukan jejak monster aneh di Pegunungan Pen-Hanil, makhluk tak berbentuk yang menyerupai roh.
Dia pikir dia mungkin bisa mengubah mereka menjadi mantra.
Dia belum tahu caranya. Itu adalah sesuatu yang harus dia cari tahu mulai sekarang. Namun hal itu mendadak menjadi mendesak.
Awalnya dia berencana santai saja, tetapi sekarang dia tidak sanggup melakukannya.
Di Barat, orang-orang sering mengatakan, "mencoba menangkap sinar matahari saat sedang terbenam."
Itu mirip dengan frasa "api telah menyala di bawah kakimu."
Itu juga disebut "mengejar senja" dalam bentuk yang lebih singkat.
Bagaimanapun juga, itu berarti dia sedang terburu-buru.
"Beri tahu si Mata Besar itu kalau unitku libur untuk sementara waktu!"
Dia biasanya tidak banyak keluar rumah begitu cuaca berubah dingin, tetapi dia menunjukkan tekadnya dengan membungkus dirinya dengan batu pemanas dan kulit di dalam tendanya.
Memperhatikannya, Encrid mengangguk dan bertanya.
"Latihan tanding nanti, kan?"
"Mari kita bertemu beberapa hari lagi."
Bakal gila jika pergi ke Pegunungan Pen-Hanil sendirian, tetapi orang ini adalah Rem.
"Aku bakal mengubur mayatmu dengan layak kalau kau mati."
Encrid mengangkat tangannya dan berkata, dan Rem menyeringai saat membalas.
"Bermain dengan orang-orang religius itu dan sekarang kau membawa berkah juga? Kenapa kau tidak sekalian memanjatkan doa?"
"Kalau kau membutuhkannya, aku bakal melakukan itu juga."
"Ah, pergi saja sana, apa kau tidak lihat aku sedang sibuk?"
Ini kalimat yang kaya berasal dari seseorang yang tadinya mengolesi kapaknya dengan minyak dan menghangatkan diri di dekat api di kamar tempat tinggalnya sebelum Encrid tiba.
Ragna secara diam-diam menggenggam pedangnya, melangkah ke sudut tempat latihan, dan mulai mengayunkannya.
Sring. Swus. Darr.
Setiap ayunan pedangnya menghasilkan suara yang berbeda.
Melihat mereka berdua, Encrid merasakan gelombang motivasi.
Ada hal-hal yang dia sadari dalam perjalanan pulang yang ingin dia coba.
Seperti biasa, dia kembali dan melanjutkan rutinitasnya.
Mengayunkan pedangnya, berlatih, memperkuat dirinya—itulah rutinitasnya.
"Apa kau berencana membawa kembali gadis baru setiap kali kau keluar? Koleksi? Atau karena wajahmu itu?"
Pada satu titik, Esther, yang telah bertransformasi ke bentuk manusianya, mendekatinya dan berbicara.
"Aku merasakan duka dari pria tidak populer yang melonjak naik. Ini bukan karena wajahku, tapi karena anak itu membutuhkan tempat tinggal."
Encrid menjawab dengan cara yang tidak bisa dipahami sepenuhnya oleh Esther.
Meskipun dia pikir dia telah lupa, kata-kata yang diucapkan Seiki membekas jauh di dalam hatinya.
Sejak tiba di Border Guard, Seiki dengan cepat beradaptasi dan kini mengikuti Sinar ke mana-mana.
Terkadang dia bakal meninggalkan saran sederhana untuk berlatih bersama, dan dia tampak bersemangat melihat pemandangan gunung, dataran, dan medan baru.
Apakah semua Highlander seperti Seiki? Apakah menjelajahi dan mempelajari medan baru adalah sesuatu yang mereka nikmati?
Apakah dia spesial, atau apakah semua Highlander memang seperti itu?
Saat dia memasuki kota, dia mengingat kembali perkataan Seiki.
"Aku ingin hidup di pegunungan seumur hidupku. Bukan berarti aku tidak ingin bergaul dengan orang lain, aku cuma suka hidup seperti itu. Berburu, makan makanan enak, terkadang menghitung bintang, berjemur di bawah sinar bulan, minum—hidup seperti itu."
Itu adalah gaya hidup yang dia pelajari dari kakeknya. Dia ingin hidup seperti itu, mengulang pagi dan malam setiap hari sampai dia meninggal karena usia tua.
Bisakah seseorang menyematkan makna besar pada kehidupan seperti itu? Mungkin tidak.
Namun dia bisa merasakan keinginannya yang tulus untuk kehidupan semacam itu.
Apakah benar menganggapnya sederhana atau biasa saja? Jelas tidak. Haruskah setiap mimpi mengubah dunia?
Tentu saja tidak.
Haruskah setiap mimpi disertai dengan cobaan yang sulit?
Jelas tidak.
Haruskah setiap mimpi mengubah hidup seseorang?
Tidak, itu juga tidak perlu.
"Aku tahu keinginanku mungkin bakal berubah. Kakekku berulang kali memberi tahuku bahwa aku tahu terlalu sedikit dan kurang pengalaman. Dia bilang keinginanku untuk hidup sebagai orang gunung mungkin berasal dari masa mudaku dan kurangnya pemahaman. Tapi kalau pemikiranku berubah, bukankah aku harus memikirkannya saat itu nanti? Pokoknya, begitulah caraku ingin hidup. Persis seperti yang kukatakan."
Ini adalah perkataan seorang anak yang mencintai bulan dan bintang, gunung dan batu, air terjun dan aliran sungai, kesegaran musim semi, kehangatan dan sinar matahari musim panas, kesejukan dan kelimpahan musim gugur, serta dinginnya kepingan salju putih murni di musim dingin.


