Eternally Regressing Knight

Bab 544: Pidato Berapi-api

2925 Kata

Bab 544: Pidato Berapi-api

*Krak!*

Di samping sebuah api unggun besar, kursi-kursi ditata secara rapi dengan keahlian seorang perajin.

Di atas salah satu dari dua kursi duduk seorang pria paruh baya, dan di belakangnya berdiri seorang pemuda yang mengenakan zirah kulit tipis, seorang wanita paruh baya, seorang pria yang tampak beberapa tahun lebih muda darinya, dan seorang Frokk.

Itu adalah Frokk yang sama persis dengan yang sempat diampuni oleh Encrid dan dikirim kembali.

Saat Encrid menyapanya lewat sekilas tatapan, sang Frokk mengangguk pelan.

Cahaya api unggun jatuh menimpa pria paruh baya yang duduk di atas kursi.

Ia adalah Raja Azpen.

Saat Encrid mendekat, matanya menyapu seluruh bentuk raga sang raja.

Meskipun ada sedikit kelembutan pada bentuk fisiknya, tubuhnya menanggung jejak-jejak latihan yang gigih.

Urat-urat menonjol di punggung tangannya, dan kemeja tipisnya memperlihatkan otot-otot dada yang terbangun dengan baik.

Wajahnya tak memberikan kesan kasar atau sulit dijangkau, namun pipinya agak tirus, memberinya penampilan yang ramping.

Encrid berpikir sang raja mengingatkannya sedikit pada saat pertama kali ia melihat Count Molsen—bukan dalam hal penampilan melainkan dalam cara keduanya memiliki fisik yang secara jelas telah ditempa oleh waktu, meskipun tak seperti orang gila itu, raja ini tak tampak seperti seseorang yang bakal melakukan hal yang tidak masuk akal.

Apakah ada sedikit hawa tajam di sekitarnya?

Lagipula, seorang mania perang tak selalu memiliki penampilan yang baku.

Sang raja mengangkat sebuah tempat minum dari kulit lalu berucap.

"Aku membawa beberapa minuman. Apakah kau ingin minum?"

Nadanya tidak secara khusus ramah.

Suaranya ibarat kerikil keras, namun tak pula memperlihatkan rasa benci atau permusuhan.

"Aku dengan senang hati menyambutnya," sahut Krang.

Tanpa ragu sedikit pun, namun tanpa rasa antusias berlebihan, ia melangkah maju dengan suara bantalan langkah yang lembut, mendudukkan dirinya secara alami di atas kursi, lalu menerima minuman tersebut.

Ia merentangkan satu tangan dan menopang pergelangan tangan lainnya menggunakan tangan kiri—sebuah gestur kesopanan—dan di dalam seluruh pergerakannya ada hawa ketenangan.

Lalu ia menelan tegukan besar.

menyaksikan pemandangan ini, Encrid sempat bertanya-tanya sejenak apakah aman untuk meminum hal itu, namun tak ada cara baginya untuk menghentikannya.

Sembari ia menyaksikan, percakapan yang sempat mereka bagikan di dalam kereta kuda di sepanjang jalan menuju ke sini secara alami mengapung di dalam benaknya.

"Apakah kau tak penasaran mengapa aku pergi sejauh ini?"

Krang telah bertanya padanya di sepanjang jalan.

Encrid telah mengedipkan matanya secara perlahan dua kali sebelum menjawab.

"Jika aku mencoba menahan pasukan, apakah Anda akan menghentikanku?"

"Tidak."

"Mengapa?"

"Karena kau bakal menanganinya sendiri."

Itulah rasa percaya.

"Hal yang sama berlaku bagi Anda, kurasa," sahut Encrid, menyatakan rasa percayanya pada raja dan sahabatnya.

Hanya itu saja.

Jaxon, di sisinya, tak memperlihatkan sedikit pun rasa penasaran, dan Shinar sama sekali tak tertarik.

Jika Andrew berada di dalam kereta kuda, ia mungkin bakal bergumam, *’Orang-orang ini semuanya gila’*, namun ia kemungkinan besar berada di luar, mendengarkan derap ritmis langkah kuda dan putaran roda, meresapi pemandangan malam.

Bahkan jika ia menyimaknya sekalipun, ia mungkin takkan menyela.

Atau mungkin ia bakal melakukannya, jika bukan karena hal itu.

Usai Krang bertanya bagaimana ia berhasil menahan pasukan lalu muncul, mata Andrew telah melangkah melampaui rasa terkejut dan bingung hingga menyerupai milik seorang ghoul—sebuah ekspresi yang sama sekali tak mengandung pikiran.

"Aku akan mencoba berbicara dan membujuk Raja Azpen," lanjut Krang, namun Encrid hanya memberinya tatapan yang berucap, *Aku percaya Anda bakal membereskannya.*

"Apakah hal ini membosankan bagimu?" tanya Krang.

Memang benar, bagi raja dari sebuah negara, bahkan daya pengenalan wawasannya membawa keagungan seorang penguasa.

"Tidak," Encrid membantah, memakai keahlian umum mengelak dari poin utama.

"Bagus, mari kita tinggalkan hal itu."

Dan lalu mereka hanya saling bertukar celotehan santai: perjalanan Dunbakel ke timur, peristiwa-peristiwa di medan perang ini, pembantaian ksatria musuh, renovasi arena latihan istana, dan sebagainya.

Saat topik beralih ke pertempuran, Jaxon menyebutkan tentang keberhasilannya membantai mereka yang dipanggil Moonlight Elves, namun Shinar tetap tak tergoyahkan.

Manusia membagi diri mereka ke dalam faksi-faksi, jadi mengapa Elf harus berbeda?

Merekapun sama saja.

Dan Shinar tahu betul bahwa di medan perang hidup dan mati, sosok yang melakukan pembantaian tak selalu merupakan pihak yang jahat.

"Setiap orang hidup menuruti tekad mereka sendiri, dan jika istirahat menanti di ujungnya, maka hal itu bukanlah hal yang buruk," ujar Shinar.

Mendengar ucapan tersebut, Krang sempat hendak mengucapkan sesuatu padanya namun lalu mengatupkan mulutnya.

Encrid merasakan bahwa Krang telah menebak topik apa yang hendak diangkatnya, dan di saat bersamaan merasa bahwa ia tak ingin topik tersebut diangkat, jadi ia tak menekan lebih jauh.

"Kerajaan besar di selatan telah memicu kegaduhan, dan Negara Suci juga telah melakukan pergerakan, namun pada akhirnya, kelihatannya mereka semua telah melemparkan dukungan di belakang Azpen. Jadi aku berpikir: apa yang harus kulakukan di sini? Haruskah aku memicu perkelahian dan berdebat? Hal itu tampaknya tidak tepat."

Di tengah lelucon-lelucon santai tersebut, Krang merapikan pikiran-pikirannya sembari ia berbicara.

Encrid telah mendengarkan, memberikan tanggapan-tanggapan yang sesuai.

Ia tidak dungu, namun politik adalah sebuah ranah yang sangat berbeda.

Bahkan sebelum menjadi seorang ksatria sejati, ia tak memiliki niat untuk berkecimpung di dalam ranah tersebut, dan usai menjadi ksatria, ia hanya terlampau sibuk mendorong maju ke depan.

Pedang, Ksatria, impian—ke arah mana seseorang harus berjuang, dan demi apa seseorang harus mengayunkan bilah pedang?

Ia berada di atas jalur perenungan dan pemikiran, tak menyisakan ruang bagi politik atau hal lainnya untuk menyusup masuk.

Bagaimanapun juga, usai tiba di tempat ini, Raja Azpen hanya menatap Krang memakai ekspresi yang menyiratkan bahwa bahkan setetes darah pun takkan keluar jika kau memotongnya.

Keberaniannya dalam meneguk minuman seolah-olah berucap, *’Masalah besar apa yang ada?’*

Encrid merasakan sebuah tatapan tajam menimpa dirinya dan mendongak untuk melihat pemuda itu menatap lurus ke arahnya.

Untuk menyebutnya melotot adalah tidak tepat; matanya sangat jernih dan tatapannya sangat lurus.

Tak peduli apakah karena tatapan itu atau bukan, Jaxon merasa tersinggung dan melempar sebuah komentar yang tenang dan terukur: "Di unit kami, ada seekor macan kumbang yang mencabut mata siapa pun yang menatap orang-orang secara sembarangan. Dan aku menyetujui tindakan macan kumbang tersebut."

Sembari meneriakkan sesuatu seperti *’Aku akan merobek matamu’* atau *’Aku akan menarik keluar organ dalammu lalu mencekikmu memakainya’* mungkin bisa mengancam seorang musuh, ada momen-momen di mana berbicara secara tenang, tanpa ada sekelumit pun hawa membunuh, memiliki efek yang jauh lebih besar—terutama di tempat seperti ini, sebuah pertemuan rahasia usai kemenangan telak dalam perang?

"Aku tak berniat buruk," sang pemuda berbicara bahkan sebelum kedua raja sempat bertukar kata.

Terlepas dari ancaman Jaxon, suaranya sangat jernih dan stabil.

Apakah itu adalah tekad dari seseorang yang akan mengucapkan kata-kata terakhirnya bahkan jika ia bakal tewas di sini?

Atau apakah ini adalah kepulan darah muda yang buta akan konsekuensi?

Sangat tak mungkin mereka membawa seorang pendekar pedang yang impulsif ke tempat seperti ini, jadi kemungkinan besar adalah hal yang pertama.

Wanita paruh baya itu mengerutkan dahi, merasa tak senang sang pemuda telah melangkah maju.

Sang Frokk sama sekali tak memperlihatkan emosi apa pun.

Pria yang tersisa, dengan penampilannya yang rapi, tersenyum hanya menggunakan matanya lalu berujar, "Bakal lebih baik untuk bertahan."

Sang pemuda melanjutkan, tatapannya masih terpatri pada Encrid.

"Aku hanya ingin berbicara."

Sebelum ada orang yang sanggup menghentikannya, ia bertanya, "Apakah Anda sang Knight of the Iron Wall?"

Encrid menatapnya secara stabil.

Ia bukanlah wajah yang dikenal, tak pula menyerupai siapa pun yang ia tahu.

Namun apakah *'Knight of the Iron Wall'* dan bukan *'Sword of the Iron Wall'*?

Tampaknya di Azpen, nama tersebut telah menyebar sebagai Ksatria Dinding Besi.

"Saat aku masih muda, orang pertama yang mengajariku ilmu pedang adalah sepupuku. Namanya adalah Mitch Hurrier."

Nama tersebut tetap binar di dalam ingatan Encrid.

Mitch Hurrier—seorang musuh yang pernah dihadapinya dua kali.

"Berkat keberuntungan yang bagus, aku secara cepat melampaui kemampuan sepupuku, dan lalu aku memperoleh seorang ayah angkat."

"Ayah angkat?"

"Aku adalah putra angkat Barnas Hurrier, Ylode Hurrier."

Ayah angkatnya telah tewas di tangan Ragna, dan sepupu yang pertama kali mengajarinya ilmu pedang telah tewas di tangan Encrid.

Bagi pemuda bernama Ylode ini, Encrid adalah sesuatu seperti seorang musuh bebuyutan.

Meski begitu tak ada rasa dendam atau kebencian di matanya.

Meski begitu, ia menundukkan kepalanya lalu berujar, "Pertama-tama, aku menyampaikan salamku—dan rasa terima kasihku."

Menepis permusuhan pribadi, Ylode telah mempertimbangkan gambaran yang jauh lebih besar.

Ia tahu bahwa pria di hadapannya telah mencegah pembantaian tak bermakna dari ribuan prajurit.

Avnaiyer telah memberi tahunya hal itu, dan ia telah mengonfirmasinya sendiri.

Encrid, yang telah menahan pasukan, layak menerima rasa hormat terlepas dari permusuhan pribadi apa pun.

Maka ia ingin menyampaikan rasa terima kasihnya.

Rajanya telah mengizinkannya berada di sini, dan meskipun posisinya mungkin menjadi rumit usai kepulangannya, ada hal-hal yang harus ia ucapkan.

Pria di hadapannya telah membunuh sepupunya dan ayah angkatnya, namun sebagai gantinya, ia telah menyelamatkan ribuan prajurit.

Dan meskipun ia adalah putra angkat Barnas, pria itu memiliki lebih dari seratus anak palsu, dan kenyataan bahwa Mitch Hurrier telah menyiksanya di masa muda mungkin juga menjadi alasan mengapa ia tak menaruh dendam emosional.

Pada kenyataannya, Ylode hanya melakukan apa yang ia rasa benar.

"Saat aku menjadi cukup terampil nanti, aku akan datang untuk meminta sebuah duel."

Dengan itu, Ylode mengucapkan segala hal yang hendak disampaikannya.

Ia adalah seorang pria yang sangat kaku dalam rasa benar dan salahnya hingga ia takkan bisa beristirahat sampai berhasil membereskan masalah.

Karena hal itu, ia takkan mudah jatuh ke dalam korupsi atau ternoda oleh warna-warna lain.

"Lakukan sesukamu," ujar Encrid sembari mengangguk pelan.

Ia tak bisa secara penuh membaca pikiran terdalam orang lain, namun setidaknya, ia tahu bahwa Ylode ini tidak berbicara out of malice.

Di atas semua itu, ada ketulusan sejati di dalam kata-katanya.

Terlebih lagi, ia menilainya sebagai pria yang menyenangkan—seseorang yang menetapkan tekadnya dan bertindak sesuai dengannya, sangat mirip dengan bagaimana Encrid sendiri hidup.

Meskipun mungkin kurang jeli ketimbang Encrid.

"Apakah kau sudah hilang akal?"

Wanita paruh baya di sampingnya melotot ke arah Ylode sembari membentak, memperjelas bahwa ini bukanlah sebuah pergerakan yang diatur sebelumnya.

Bahkan saat ia berbicara, ia mencuri pandang ke arah Encrid, kemungkinan besar takut bahwa jika segala hal memburuk dan pedang ditarik, ia tak memiliki cara untuk menghentikan mereka.

Ylode sendiri tetap tenang, yang kelihatannya membuat sang wanita semakin jengkel; sebuah kerutan terbentuk di antara alisnya.

Bagaimanapun juga, pertukaran mereka berakhir di sana.

Ylode meluruskan tatapannya, dan tangan Jaxon menyelip keluar dari belati yang tadinya ia mainkan secara santai.

Dari kedua raja, Krang telah mendengarkan dengan penuh rasa tertarik, sementara Raja Azpen tetap tanpa ekspresi.

"Pria yang menarik," komentar Krang.

"Seorang pria yang tak tahu cara menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya," sahut yang lain.

Mereka bertukar sepatah kata masing-masing dan membagi seteguk minuman dari tempat minum kulit.

Bagi sebuah pertemuan di antara para raja, latarnya sangat kasar—tak ada gelas kristal indah, tak ada makanan langka—namun kenyataan bahwa seorang raja telah datang ke sini saja adalah sebuah kegilaan tersendiri.

Di era ini, bagi dua raja untuk bertemu dan berbincang adalah sebuah keajaiban.

Tanpa kota-kota dan dinding benteng, seseorang terekspos pada ancaman binatang buas dan monster, dan melindungi lahan pertanian menuntut pengerahan pasukan secara masal.

Di dalam dunia semacam itu, bagi seorang raja untuk menyeberangi perbatasan dan melakukan pembicaraan bersama raja asing adalah sebuah petualangan tersendiri—terlebih lagi bagi pertemuan langsung di antara dua penguasa.

Karena tak ada konsep tanah netral, proposal untuk bertemu kerap dihempaskan oleh kecurigaan bersama.

Dan bahkan jika mereka pada akhirnya bertemu sekalipun, mereka harus membawa para ksatria dan membuat segala macam persiapan untuk perlindungan, yang mengonsumsi begitu banyak waktu dan tenaga hingga kerap tak ada alasan untuk bertemu sama sekali.

Namun Krang telah sengaja mengatur pertemuan ini terlepas dari semua hal tersebut.

Setelah itu, Encrid berdiri di dekat sana, bertindak sebagai seorang pengawal.

Ia tak merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya—tak ada tanda-tanda atau aura buruk sama sekali.

Krais telah berucap bahwa tak perlu bagi sang raja untuk hadir secara pribadi, namun juga bahwa takkan ada bahaya besar—meskipun dalam gaya khas Krais, ia masih mempertanyakan mengapa sang raja pergi.

Ia merasa frustrasi bahwa Krang memicu bahaya, namun Krang hanya tersenyum lembut dan menepisnya dengan, "Karena hal ini menyenangkan."

Jujur saja, bahkan jika Raja Azpen mencoba semacam trik sekalipun, hal itu takkan menjadi masalah.

Itulah alasan mengapa Jaxon dan Shinar ikut serta.

Saat Encrid berdiri di sana menyaksikan, percakapan di antara kedua raja dimulai.

Dan pembicaraan yang menyusul mengambil belokan yang jauh melampaui ekspektasi siapa pun.

* * *

Raja Azpen memperkirakan Krang bakal menuntut pertanggungjawaban.

Artinya, ia mengantisipasi diminta untuk membayar harga atas pelanggaran perjanjian tidak saling menyerang, atau menyerah secara tanpa syarat, atau mungkin hal lainnya.

*’Atau mungkin menjadi negara pembantu?’*

Ia bersiap untuk menanggung hal tersebut.

Jujur saja, permintaan untuk bertemu di sini sangatlah aneh.

*’Untuk membunuhku? Apakah dia melalui semua ini hanya untuk membunuhku?’*

Jika demikian, bukankah ia bakal memakai metode yang lebih halus?

Hal itu tampaknya tidak mungkin.

Maka apa yang diinginkan pihak lain adalah penyerahan diri.

Ia ingin mempermalukannya.

Untuk berucap, *’Jika aku bilang datang, kau harus datang—ketahuilah posisimu.’*

Raja Azpen tak bisa hanya berdiri menyaksikan para prajurit dan rakyat tewas hanya demi melindungi harga dirinya sendiri.

Meskipun tidak cemerlang, ia tahu apa yang harus ia tegakkan.

Namun hal itu tak berarti ia bakal dituntun secara penuh pada hidungnya oleh Raja Naurilia, jadi ia berbicara lebih dulu.

"Bagaimana jika aku membawa pasukan tersembunyi untuk menyerangmu? Mengapa kau meminta pertemuan ini?"

Itu adalah sebuah deklarasi bahwa meskipun ia mungkin dipaksa untuk tunduk dan membungkuk, ia takkan berlutut secara mudah.

Mendengar hal itu, Krang tersenyum lalu bertanya balik, "Apakah kau memiliki pasukan tersembunyi?"

Ia tahu ksatria sejati mereka semuanya telah tewas—apakah itu dimaksudkan sebagai sebuah ancaman?

Raja Naurilia tampaknya memiliki lidah seorang iblis.

Di mata Raja Azpen, kelihatannya seolah-olah seorang iblis telah menghuni wajah pria itu.

Seberapa banyak ia pasti telah mencemoohnya di belakang punggungnya sebelum datang ke sini?

Di balik senyuman itu, apakah ada rasa kemenangan?

Baiklah.

Apakah ia ingin bersukacita dalam sensasi kemenangan yang rendah itu?

Biarlah begitu—biarkan ia melakukannya.

Aku akan berlutut dan menundukkan kepalaku jika memang harus.

Namun hal itu takkan bertahan selamanya.

Sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun—jika diberi waktu, Azpen bakal bangkit kembali.

Usai aku tewas, putraku, para ksatria yang dipimpinnya, mereka yang membawa tekad baru—mereka akan bangkit sekali lagi.

Meskipun ia merasa seolah-olah sedang memuntahkan darah, sang raja menekan dorongannya untuk melotot ke arah Krang.

Ketenangan dan kesabaran sangat dibutuhkan saat ini.

Tampaknya Azpen yang memulai pertarungan ini, namun pada kenyataannya, konflik di antara kedua negara adalah sebuah perjuangan atas Green Pearl.

Azpen bermimpi menimbun makanan memakai Green Pearl sebagai basis, sementara Naurilia takut negara tetangga membangun kekuatan militernya.

Menimbun makanan tak ada bedanya dengan meningkatkan kekuatan militer.

Dan jika mereka bukan cuma memberi makan rakyat mereka dengan baik namun juga menjual sisa panen, hal itu bakal mentranslasikan secara langsung menjadi dana militer.

Green Pearl adalah sebuah daratan dengan potensi semacam itu.

Sekarang, tereduksi menjadi negara pembantu, perbatasan mereka bakal terdorong mundur juga.

Meskipun Raja Azpen telah menyiapkan dirinya, ia bertekad untuk tak menyerahkan segalanya secara mudah.

Dan Krang secara sederhana berucap, "Jika hal itu adalah takdirku, aku harus menerimanya."

Kata-kata itu jatuh bak sebutir batu.

Raja Azpen terhenti untuk berpikir.

Pertanyaannya tadi adalah tentang apa yang bakal dilakukannya jika ada pasukan tersembunyi—apa yang bakal terjadi jika ia diancam.

Jawaban tersebut menentang ekspektasinya, dan untuk sejenak, ia tenggelam dalam pikiran.

Lalu Krang berbicara lagi, suaranya jernih dan binar.

"Hidup dan mati—aku berjuang untuk bertahan hidup, namun sekadar bertahan hidup saja kerap gagal memuaskan sesuatu di dalam raga. Namun bagaimana jika langit, jika Tuhan, memutuskan bahwa karena Dia tak lagi menyukaiku, karena aku telah menjadi membosankan, aku harus mati begitu saja? Apa yang bisa kulakukan? Tanpa kekuatan seperti diriku, aku harus mati."

Sembari berbicara, Krang mengangkat jari telunjuk kanannya ke arah langit.

Terasa hampir seolah-olah langit malam, yang tersulam oleh dua bulan dan bintang-bintang di atas kanvas hitam, bakal menyentuh ujung jarinya.

Raja Azpen tahu, secara rasional, bahwa setiap kata yang diucapkan Krang adalah terhitung.

Ia mengetahuinya dengan sangat amat baik.

Ia telah membawa para ksatria sejati bersamanya, dan Azpen tak memiliki kekuatan untuk menghentikan ketiga ksatria tersebut.

Upaya pembunuhan atau penyergapan kikuk apa pun hanya bakal membuat segala hal menjadi semakin buruk.

Dan siapa pun yang terlampau dungu untuk tak memahami konsekuensi dari tindakan semacam itu bakal lebih baik jika kepalanya dipenggal dan ditendang-tendang demi kesenangan.

Namun meski begitu, ia mendapati dirinya sulit memalingkan matanya dari Krang saat pria itu berbicara.

"Apakah kau sedang mencemoohku?" tanya Raja Azpen.

"Jika aku berniat mencemoohmu, aku takkan datang sejauh ini secara rahasia sembari mengeluhkan rasa sakit. Apakah kau memiliki sebuah impian? Aku memiliki sebuah impian kecil namun sangat memenuhi rasa bangga."

Krang bangkit dari kursinya secara perlahan dan anggun sama seperti saat ia duduk.

Dari empat orang yang berdiri di belakang Raja Azpen, tiga orang selain sang Frokk terperanjat, namun pihak Naurilia tak tergoyahkan.

Mereka hanya mengikuti Krang memakai mata mereka.

Di bawah langit malam, menyala hanya oleh sinar bulan dan api unggun, Krang seorang diri tampak memancar binar.

"Menghapus seluruh daratan iblis dari dunia ini, memusnahkan para pemuja sekte, menggantung setiap orang terakhir yang melakukan kekejaman konyol semacam itu di tiang gantungan, dan lalu, di hadapan pertemuan yang berkumpul, secara sederhana berucap: mari kita berhenti bertempur."

Omong kosong apa ini.

Binatang buas iblis bisa dihalau, namun daratan iblis berada di luar kendali.

Dan berucap, *’Mari kita berhenti bertempur’*?

Semuanya adalah Sofisme konyol.

Namun meski begitu, ada sebuah keajaiban di dalam kata-kata dan gestur Krang.

Merentangkan tangannya, ia melanjutkan, "Kita—manusia dan seluruh ras lainnya—tak pernah sekali pun menyatukan kekuatan. Bukankah begitu? Hal yang sama berlaku bagi Naurilia dan Azpen."

Setiap mata terpatri pada kata-katanya dan gesturnya.

Menghadapi kesunyian malam, Krang menumpahkan pidatonya yang berapi-api.

"Konyol!"

Raja Azpen berteriak, wajahnya memerah.

Dari letupan tersebut, Encrid berpikir pihak lain sudah separuh melangkah menyeberang.

Sebab itu adalah sebuah reaksi yang takkan datang kecuali ia telah mendengarkan secara sungguh-sungguh.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.