Eternally Regressing Knight

Bab 452: Mari Mati Sambil Tersenyum

2746 Kata

Bab 452: Mari Mati Sambil Tersenyum

Encrid mengangkat Aker secara vertikal lalu membenamkannya ke kepala laba-laba yang mendekat.

Bilah pedang menembus kepala monster itu dan tertancap sedalam satu jengkal ke dalam tanah.

Ia memijak punggung laba-laba dengan kakinya lalu menarik keluar pedangnya, darah hitam mengalir di sepanjang bilah.

*'Jumlahnya banyak sekali.'*

Di kejauhan, ia bisa melihat laba-laba yang tak terhitung jumlahnya.

Merek terus mencurah keluar tanpa henti.

Namun untuk saat ini, jumlah yang berada di sekitar mereka tidak terlalu banyak.

Ini adalah medan perang di mana lebih menguntungkan untuk membalas ketimbang langsung menerjang.

Intuisinya memberitahu demikian.

Oleh karena itu, tak apa jika ia mengalihkan pandangannya sejenak.

Pandangan Encrid tertuju pada area di depan Oara, di mana monster-monster berkumpul.

***

Laba-laba delapan lengan mengayunkan lengan-lengannya.

*Wuuuusssh!*

Diiringi suara desingan mata pisau yang membelah udara, hembusan angin mencurah ke depan, dan putaran serta pergerakan mata pisau menciptakan benteng pelindung melingkar di depan Oara.

Bentuknya mirip cakram yang dibuat Rem menggunakan sling miliknya.

Laba-laba itu melangkah maju satu demi satu alih-alih menerjang sekaligus.

Langkahnya seirama langkah berjalan biasa.

Untuk menyamai kecepatan itu, perisai dari bilah-bilah pedang mulai mendekati Oara.

Menyaksikan hal ini, Encrid berpikir.

*'Apa yang akan kubuat jika aku di posisinya?'*

Ini adalah gaya bertarung yang berbeda dari sebelumnya.

Haruskah aku menusukkan pedangku begitu saja? Tak bisa.

Bukan, lebih tepat jika dikatakan tak boleh.

*'Aku tak melihat ada celah.'*

Menusukkan pedang begitu saja dengan mengandalkan keberuntungan bukanlah usaha untuk menang, melainkan sebuah kepasrahan.

Dan laba-laba itu bukanlah akhir dari ancaman.

Owlbear mulai bergerak.

Langkah kakinya sangat senyap, gerakannya memudarkan keberadaannya sendiri.

Meski kegelapan telah jatuh, bulan merah telah terbit.

Cahaya ini sudah cukup untuk melihat tanpa masalah.

Namun tubuh besar Owlbear membayang seolah menyatu dengan kegelapan.

Pemandangan itu seperti melihat Jaxon lenyap di depan matanya.

Mata pisau yang bersembunyi dan menunggu celah.

Rasanya mirip dengan No-Killing Thrust.

Seekor ghoul melangkah keluar dengan santai dari balik laba-laba, berputar menuju sisi samping.

Lengannya menggantung rendah, dan kuku-kuku panjang di ujungnya bakal berakibat fatal hanya dengan satu goresan tipis.

Ini benar-benar menyebalkan.

Itulah perasaan jujurnya.

Encrid menukar posisinya dengan Oara di dalam pikiran.

*Aku bakal tewas.*

*Ini adalah sebuah tembok.*

Meski begitu, jika ia berdiri di sana, apa yang harus ia lakukan?

Ia melihat punggung Oara.

Jubah merahnya berkibar dihempas angin yang bertiup, ujung pedangnya menengadah miring ke arah langit.

Ia memegang pedang dengan kedua belah tangannya.

"Ini menyenangkan."

Ia mendengar bisikan Oara saat itu.

Meski ia hanya bisa melihat punggungnya, Encrid merasa tahu ekspresi apa yang sedang dibuat wanita itu.

Ia pasti sedang tersenyum.

Ia pasti tersenyum sangat cerah hingga tak bisa dibandingkan dengan jenis senyuman yang dicuri oleh sang ghoul.

Oara sang ksatria tersenyum.

Bagaimana seorang ksatria mendapatkan julukannya?

Julukan itu didapat dengan membuktikan diri sendiri.

Sebuah julukan adalah sesuatu yang lahir dari memperlihatkan dan mempraktikkannya melalui tindakan nyata.

"Kalian semua, perhatikan baik-baik. Akan kutunjukkan pada kalian apa itu pertarungan seorang ksatria."

Suara Oara terdengar dengan volume sedang.

Persiapan untuk menghadapi seorang ksatria, jebakan, monster khusus.

Segalanya adalah sebuah ancaman.

Bahkan bisa disebut sebagai sebuah krisis.

"Bahkan aku tak sanggup menangani itu," ujar Rem.

Lebih tepatnya, ia bermaksud bilang tak sanggup menanggapinya saat ini, tapi apa gunanya membicarakan sesuatu yang belum dimilikinya saat ini.

Ia menyimpan pikiran terakhir itu untuk dirinya sendiri.

Oara terus berbicara melalui punggung dan pedangnya.

Mulai sekarang, kunyah saja daging asap kering itu dan tontonlah.

Encrid melakukan hal persis seperti itu.

Alih-alih mengunyah daging asap, ia mengayunkan pedang yang telah dihunusnya.

Dua laba-laba yang mendekat di saat bersamaan tertangkap oleh pedangnya, kepala mereka terbelah.

Saat ia menarik kembali pedangnya dalam tebasan snapping cut, Oara bergerak.

Untuk sekejap, Encrid kehilangan jejak pergerakannya.

Saat seseorang menjadi ksatria, tingkatan refleks dan kemampuan fisik mereka berubah.

Mereka menebas dari sudut yang tak masuk akal.

Mereka bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal.

Bahkan jika kau mencoba menontonnya, sangat sulit untuk melihatnya dengan benar.

Encrid mengetahuinya dari pengalaman.

Bukankah ia sudah pernah berhadapan dengan kemahiran bertarung tingkat ksatria?

"Jika kau mencoba melihatnya sebagai titik, kau takkan melihatnya bagaimanapun juga."

Ucapan Rua Garne melintas di benaknya.

Encrid tidak menonton gerakannya, melainkan alirannya.

Baru pada saat itulah adegan pertarungan samar-samar terfokus di matanya.

***

Pedang Oara menghantam perisai laba-laba.

Sebuah tebasan lurus nan agung menghantam benteng pertahanan itu.

*Cladadadadang!*

Menembus kegelapan pekat, cahaya bulan merah yang samar mencurah jatuh.

Percikan api keemasan mendesak mundur kegelapan dan cahaya bulan merah.

"Nama pedangku adalah Laughter."

Itulah yang dikatakan Oara saat sesi adu tanding.

Seorang ksatria memiliki senjata berenchantment.

Senjata berenchantment adalah senjata yang diresapi Will oleh seorang ksatria.

Seorang pengrajin luar biasa, logam langka, dan Will milik seorang ksatria.

Senjata yang hanya bisa kau harapkan untuk dilihat saat ketiga hal ini menyatu; disebut inscribed weapon karena diciptakan dengan mengukirkan Will.

"Pedangku takkan pernah patah selama aku tertawa."

Itulah yang didengar Encrid.

Itu adalah senjata yang diresapi Will, yang rasanya persis seperti bagian dari tubuh sendiri.

Pedangnya memang seperti itu.

Bercampur dengan percikan api keemasan, sesuatu yang mirip bubuk putih berhamburan.

Pedangnya memotong benteng pertahanan yang dibuat oleh lengan dan bilah pedang laba-laba, lalu kembali.

Tentu saja pedangnya, *Laughter*, sama sekali tidak rusak.

"Mari kita lihat berapa lama kau sanggup menangkis!"

Teriakan Oara meletup nyaring.

Bubuk putih itu adalah fragmen dari bilah-bilah pedang milik sang laba-laba.

Laughter milik Oara mulai mengikis lengan laba-laba yang telah berubah menjadi pedang.

Tepat saat itu, Owlbear menerjang dari belakangnya.

Karena menonton dari kejauhan, Encrid tidak melewatkannya.

Tapi jika ia berada tepat di depannya?

Hal itu bakal terasa seperti berhadapan dengan Jaxon.

Bukankah keahliannya adalah mata pisau yang mendadak melesat dan terbang ke arahmu?

Owlbear mengayunkan tinjunya alih-alih mata pisau.

Tinju yang terbuat dari bulu menghantam punggung Oara.

Tidak, momen saat kelihatan menghantam, tubuh Oara membengkok dengan lembut.

Tubuhnya bergoyang bagai kain dihempas angin, bergeser ke sisi samping.

Itu adalah tingkatan refleks yang luar biasa.

Bagi Encrid, hal itu kelihatan seperti gerakan yang telah dilatih secara sempurna.

Tinju Owlbear menghantam udara kosong.

*Pop!* Suara udara yang pecah terdengar nyaring.

Itu adalah ledakan yang membuatmu merasakan kekuatan dahsyat di balik tinju tersebut.

Sebuah tinju yang membelah suara.

Pada saat yang sama, wajah Oara terlihat.

Kakinya terlihat.

Tangannya terlihat.

Senyum lembut, kaki yang melesat maju, pergelangan tangan yang membengkok, bilah pedang yang melengkung.

Bilah pedang membidik leher Owlbear.

Cahaya putih menghantam leher sang monster.

Owlbear menundukkan kepalanya seolah mengangkat bahunya.

Bulu-bulu di sekitar lehernya berdiri tegak, menangkis pedang Oara.

*Kagagagak!*

Tampak seolah bilah pedang bakal memotong bulu-bulu itu dan menebas lehernya.

Darah hitam menciprat dalam titik-titik.

Bulu-bulu yang tergerus oleh bilah pedang robek hancur dan membal bagai pecahan logam.

Kemudian sang laba-laba melepaskan perisainya, melangkah lebar ke depan, dan mengayunkan delapan kakinya.

Dua lengan menukik jatuh dari atas, sementara dua lengan lainnya menebas secara diagonal.

Dua lengan lagi membidik pahanya dalam tusukan, dan dua sisanya membidik untuk meremukkan punggung kakinya.

Delapan lengan berpedang melakukan tugasnya masing-masing.

Oara berhenti memotong leher Owlbear lalu menarik kembali pedangnya, memperlihatkan delapan bayangan sautan.

Pedangnya menangkis setiap pedang milik sang laba-laba.

Encrid merasakan indranya menjadi sangat amat tajam.

Telinganya menangkap delapan suara yang berbeda.

*Pak, peok, jjik, pik, jjijik, seokduk, kwak!*

Ini adalah pertarungan yang hanya bisa ia tonton dengan mengerahkan Single Point Focus, Sensory Skill, dan segala yang dimilikinya.

Oara menangkis lima dari delapan kaki, lalu memotong, merobek, dan meremukkan tiga kaki lainnya.

Sangat mustahil untuk melihat segalanya.

Namun sangat mungkin untuk melihat hasilnya dan mengaitkan prosesnya.

Kepalanya berputar kencang.

*'Dia membengkokkan pergelangan tangannya untuk memotong, menusuk, dan menghantam.'*

Apakah hal seperti itu memungkinkan hanya dengan gerakan pergelangan tangan?

Dia adalah seorang ksatria, jadi hal itu memungkinkan.

Dengan menusukkan dan memuntir pedangnya seperti itu, ia merobek salah satu lengan laba-laba hingga hancur, dan setelah menariknya keluar, ia mengayunkan pedang untuk memotong kaki kedua dengan dahsyat, lalu menghantam kaki terakhir dengan bagian datar bilah pedang hingga terlipat dua.

Lengan laba-laba yang patah terkulai lemas.

Bagaimana ia bisa bergerak seperti itu?

Ia tidak tahu.

Ia tidak bisa memahaminya.

Tapi itulah tempat yang ingin ia capai, jalan yang ingin ia tempuh.

Ragna, Shinar, Mercenary King, bahkan ksatria Azpen.

Apa yang bakal terjadi jika keempat orang itu bertarung dengan segenap kemampuan mereka?

Oara sedang memperlihatkannya padanya saat ini.

Seorang pendekar pedang biasa mendiskusikan kemahakuasaan.

Itulah wujud seorang ksatria.

*'Ah.'*

Diiringi helaan napas, pandangannya tercuri.

Hal itu tak bisa dihindari.

"Kau gila ya?"

Rem melempar cemoohan dari samping.

"Jumlah monsternya terlalu banyak. Jumlah yang tidak alami," ujar Rua Garne merasakan firasat buruk.

Bagi bangsa Frokk yang lambat untuk mengutarakan hal ini, situasinya memang sangat serius.

Dunbakel mulai gemetar di sampingnya.

Meski begitu, Encrid tetap menatap Oara yang sedang tersenyum.

Seluruh sarafnya, pandangannya, tercuri oleh wanita itu.

***

"Oa!"

Seorang prajurit meneriaki dorongan semangat.

Oara merespons sorakan tersebut.

Ghoul yang telah bergabung dalam pertarungan baru saja menusukkan lengannya ke arah wanita itu.

Hanya dengan melihat kecepatan dan sudutnya, ia bisa tahu.

*'Seorang ksatria.'*

Monster itu bertarung seperti seorang ksatria.

Oara, dengan pedang di tangan kanannya, menghantam tinju Owlbear, lalu mengayunkan lengan kirinya untuk menangkis kuku sang ghoul.

Itu adalah sebuah pencapaian luar biasa.

Ia menangkis kuku-kuku itu dengan zirah pelindung lengan di lengan kirinya lalu memuntir sudutnya.

*Kakak!*

Bekas goresan kuku muncul di zirah pelindung lengan.

Dalam waktu singkat itu, pedang lengan milik laba-laba menghantam batang tubuh Oara.

Oara bertahan.

*Peok!*

Ia dengan mahir memuntir tubuhnya untuk membelengkokkan dampak serangan.

Ia tidak berhenti di sana.

Pedang yang telah menangkis tinju Owlbear kini terbenam di kepala sang laba-laba.

*'Aku melewatkannya.'*

Ia benar-benar tidak melihat serangan tersebut.

Laba-laba itu tewas.

Owlbear kembali menyembunyikan diri dalam kegelapan, dan sang ghoul menusuk dengan kedua tangannya secara bergantian.

Kepala, dada, perut, paha.

Incarannya sangat jelas.

Biarkan satu serangan saja berhasil mendarat.

Oara menangkis dengan menggerakkan pedang dan zirah pelindung lengannya secara bergantian.

Dalam waktu singkat itu, Owlbear mengayunkan lengannya secara lebar dari belakang.

*Hwak!*

Meski tidak berada di sana, rasanya seolah angin menampar wajahnya.

Itu adalah ayunan sejajar dengan tanah.

Area dampaknya terlalu luas.

Alih-alih menangkisnya, Oara melompat lurus ke atas dari tempatnya berdiri, menghentak lengan Owlbear yang sedang mengayun dengan telapak kakinya, lalu melesat tinggi ke langit.

Memuntir tubuhnya di udara, Oara membawa pedangnya menukik jatuh dari atas.

Bilah pedang yang membentuk busur kelihatan seperti tiga tebasan terpisah.

Itu adalah keharmonisan dari kekuatan dahsyat dan kecepatan.

Sang ghoul menggerakkan kedua lengannya.

Itu adalah gerakan yang kelihatan meniru cara Oara menggunakan zirah pelindung lengan untuk menangkis.

Sebuah adu serangan dan pertahanan yang ilahi terjadi.

Itu adalah pertarungan di mana salah satu pihak sanggup menang.

Dan...

*Peok!*

*Jleb!*

Pedang Oara membelah kepala sang ghoul.

Pada saat yang sama, kuku sang ghoul menusuk pinggang Oara.

"Aku menang. Dasar bajingan menjijikkan," ujar Oara.

Dengan senyum biasanya.

Jubah merahnya yang robek separuh berkibar dihempas angin.

Di tangan Owlbear, yang separuh wajahnya telah lama terpotong, menggenggam sepotong jubah yang robek.

Ghoul itu, Jerix, yang kepalanya terbelah secara vertikal, jatuh ke tanah dengan bunyi *buug*.

"Uwaaaaaaaah!"

Roman meletupkan raungan nyaring.

Itu adalah sorakan kemenangan.

***

"Jumlah mereka terlalu banyak. Pasti ada seseorang yang menyemburkan mereka keluar," ujar Rua Garne.

Monster-monster laba-laba masih terus bermunculan.

"Kelihatannya begitu."

Meski Aisha telah masuk ke dalam, masalah belum terselesaikan.

Apakah ini sudah berakhir sekarang? Setidaknya mereka telah membeli waktu untuk bernapas sejenak.

Itulah penilaian Encrid.

Dunbakel terperanjat, merasakan seluruh otot di tubuhnya mengencang.

Alasannya? Ia tidak tahu.

Rasa takut terkadang membuat seseorang melampaui batas intuisi mereka.

Hal itu berlaku untuk Dunbakel.

Ia merasakannya, dan berkata, "Ada sesuatu yang datang."

Saat ia berbicara, pandangan Dunbakel beralih ke satu sisi.

Pandangan Oara juga beralih ke arah tersebut.

Encrid sedikit terlambat untuk menoleh.

*Kwak!*

Posisinya berada di depan Oara yang baru saja membunuh tiga monster.

Ia melihat seekor monster yang dilapisi otot-otot kemerahan.

Dua kaki, dua lengan, sayap yang menyerupai membran kelelawar, dan sebuah tanduk patah yang menonjol dari dahinya.

Di antara monster-monster, ada monster-monster yang sangat khusus, yang di Benua terkadang dijuluki sebagai makhluk iblis.

Itu adalah jenis makhluk yang hanya bisa kau harapkan untuk dilihat di tempat bernama tanah iblis besar.

Dunbakel mencium bau belerang.

Monster itu, yang kelihatan seolah baru datang dari neraka, menerjang maju bagai garis panjang momen setelah muncul lalu menekan Oara.

Binatang itu menekan Oara yang telah menguras sisa-sisa kekuatannya.

Hampir menangkis serangan tersebut, Oara, memegang bilah pedang dengan tangan kirinya dan cengkeraman pedang dengan tangan kanannya, menangkis bilah tangan sang makhluk lalu berkata.

"...Semua orang, lari."

Ujar Oara.

"Sialan, lari!" sahut Rem pula.

"Balrog? Bukan, lebih mirip fragmen dari balrog."

Rua Garne mengenali sang lawan.

Momen saat makhluk itu muncul, ia mendominasi area di sekitarnya.

Keberadaan sang monster menguasai seluruh medan perang.

Seolah-olah makhluk itu sedang memberitahu mereka apa arti tekanan yang sesungguhnya.

Setiap kaki prajurit membeku di tempat.

*Kwajik!*

Dalam waktu singkat itu, seorang prajurit tewas oleh kaki laba-laba.

Ada pula prajurit-prajurit yang berdiri dengan mulut menganga, tak sanggup berkata-kata.

Dunbakel tersiram rasa takut yang amat sangat.

Mata beastman miliknya membuatnya sanggup melihat situasi saat ini secara lebih jelas dibanding siapa pun.

Ia melihat lengan Oara gemetar hebat, dan hatinya terasa seperti menciut oleh tekanan dahsyat yang dipancarkan sang monster.

Ia harus lari saat ini juga, tanpa menoleh ke belakang.

Rasa takut meremukkan batinnya.

Tanpa menyadarinya, Dunbakel berlari maju.

Ia berlari dan mengayunkan scimitar miliknya menukik jatuh ke arah monster yang baru muncul tersebut.

Sang monster, dengan tetap menempelkan bilah tangannya pada Oara, menghantam kepala Dunbakel dengan sebuah tendangan tinggi.

*Pow!*

Tengkoraknya hancur berkeping-keping, dan darah menyembur deras.

"Dunbakel!" teriak Encrid.

Will penolakan miliknya aktif.

Tubuhnya bergerak.

"Sudah kubilang lari!" gumam Oara lalu bergerak.

Ia mendorong balik bilah tangan yang menekan dirinya menggunakan kedua belah tangan.

Beberapa pertukaran serangan terjadi, tapi hasilnya tidak terlalu bagus.

*Pak!*

Oara dihantam di bagian kepala, dan tulang lehernya patah.

Apakah karena sang ghoul telah menusuk pinggangnya sebelumnya?

Tidak, bahkan tanpa hal itu pun, ia telah menguras seluruh kekuatannya.

Ia telah diracuni oleh racun yang mengerikan, jadi tubuhnya tak sanggup bertarung lama.

Jadi, monster ini telah menyiapkan panggung untuk mencegah pertarungan yang layak sebelum menyerang.

Monster yang sangat licik.

Bajingan yang kejam.

Encrid melangkah maju dengan pedangnya, tahu betul ini adalah kematian yang konyol.

Namun tubuhnya tak mau mendengarkan.

Bukan cuma dia seorang.

Momen saat mereka melihat Oara tewas...

"Mari mati sambil tersenyum!" teriak Roman.

"Mari mati sambil tersenyum!"

"Oa!"

"Oa!"

*Oa* adalah sorakan yang dinamai sesuai namanyanya.

Kota ini adalah kota milik Oara.

Kota yang dilindungi oleh Ksatria Oara.

Rasa kebangkitan membumbung tinggi.

Sebelumnya, siapa pun yang menerjang maju dengan tahu bakal tewas seperti ini akan dijuluki orang gila, tapi tempat ini dipenuhi oleh orang-orang gila semacam itu.

Fragmen dari balrog atau apa pun itu berada di tingkatan yang setara dengan seorang ksatria.

*'Tiga monster sebelumnya lebih lemah darinya.'*

Perbedaan kekuatan yang sangat jelas.

Monster-monster laba-laba terus menerjang tanpa henti, dan panah-panah yang terbuat dari sutra masih beterbangan dari atas.

Panah-panah sama yang telah membunuh Milio.

Encrid bertukar lima tebasan pedang dengan monster bernama fragmen balrog tersebut.

Bahkan hal itu adalah sebuah pencapaian ilmu pedang dan pergerakan yang hampir ilahi, namun pada akhirnya ia ditendang di bagian pinggang dan terpental melayang.

Dan ia melihat Roman yang telah tewas.

Ia mendengar Rem, yang terguling di sampingnya memuntahkan darah, bergumam saat terbaring jatuh.

"Harusnya aku pergi lebih cepat..."

Dimulai dari Dunbakel, semua orang tewas.

Itu adalah sebuah pembantaian massal.

Kota yang coba dilindungi Oara sedang melenyap.

Encrid menyerap segalanya dengan matanya.

Saat makin sulit untuk bernapas, sekelilingnya secara perlahan mulai gelap.

Ia telah tewas berkali-kali hingga tahu secara kasar apa yang sedang terjadi.

*'Aku dihantam parah.'*

Dampak serangan yang bahkan tak sanggup ditahan oleh zirah berbalut perban telah menggoncang organ dalamnya.

Tulang rusuk yang patah telah menusuk dan merobek organ dalam.

"Uhuk."

Batuk keluar.

Darah menyembur deras.

Ia akan tewas.

Tepat sebelum memejamkan matanya, Encrid melihat monster bernama fragmen balrog membantai para prajurit.

Dengan satu ayunan gadanya, dua atau tiga prajurit tewas seketika.

Monster itu mengambil senjata milik Roman yang telah dibunuhnya.

*Pow! Peok!*

Mereka meletup, hancur, dan melayang terpental.

"Uwaaack!"

"Mari mati sambil tersenyum!"

Seorang prajurit berteriak tepat sebelum tewas.

Ia tak tahu namanya, tapi itu adalah wajah yang familiar.

Segalanya yang coba dilindungi Oara sedang runtuh berkeping-keping.

Encrid memejamkan matanya.

***

Setelah melewati terowongan kegelapan yang singkat namun terasa panjang.

*Slosh.*

Perahu berombang-ambing mengikuti gerakan gelombang air.

Saat ia membuka matanya lagi, ia melihat sebuah lentera berwarna ungu.

"Kau bakal sangat senang dengan dinding ini."

Sang Ferryman berkata dengan penuh kegembiraan.

Tanpa sempat menjawab, Encrid memejamkan matanya lalu membuka matanya kembali.

*Kiaaaaaak!*

Itu adalah 'hari ini' yang berulang, di mana ia kini tahu jeritan tersebut milik shrieking spider.

Ia terbangun sebelum tengah malam, tapi harinya tidak dimulai di waktu pagi.

Awal hari ini dimulai dari momen ia terbangun.

Oleh karena itu, 'hari ini' terasa sangat singkat.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.