Eternally Regressing Knight

Bab 453: Apakah Sesuatu Berubah Hanya Karena Hari Ini Singkat? Tidak Ada.

2863 Kata

Bab 453: Apakah Sesuatu Berubah Hanya Karena Hari Ini Singkat? Tidak Ada.

Tugasnya sangat jelas.

Menghentikan ancaman yang mengincar kota.

Encrid segera bergerak.

Tindakan berulang pasti mengarah pada kemahiran yang sempurna.

Bahkan jika ini bukan pengulangan hari ini, tangannya saat bersiap mengenakan perlengkapan sudah berada di tingkatan seorang maestro.

"Apakah sudah jadi adat di sini membangunkan orang dengan jeritan?" Rem terbangun.

"Monster. Pasti sebuah gelombang monster."

Encrid berucap tenang lalu melangkah keluar.

Anggota kelompok yang tersisa bakal menyusul dengan sendirinya.

Ia melewati rombongan prajurit dan kembali menuju dinding benteng.

Alih-alih menaiki dinding benteng tempat Oara berada, ia menunggu sejenak di depan gerbang.

"Biarkan aku keluar!"

Lalu, pria milik Rowena muncul dan berteriak.

Encrid mendaki bagian belakang kepala bajingan itu.

*Plak!*

"...Huh? Apa yang kau lakukan?" tanya Milio terperanjat.

"Kalau kubiarkan dia keluar, dia bakal tewas."

Lebih tepatnya, Milio—yang melangkah keluar untuk mendukung bajingan ini—telah tewas sebelumnya.

"Yah, itu memang benar, tapi..."

"Seorang komandan harus berkepala dingin."

Encrid berpura-pura tenang di luar, tapi batinnya meronta berbeda.

*'Dia tak boleh tewas seperti itu.'*

Saat-saat terakhir Ksatria Oara tak mau beranjak dari pikirannya.

Tak ada keagungan, tak ada kehebatan di dalamnya.

Hal itu terpisah dari pertarungan hebat sebelumnya.

Wanita itu tewas tanpa sanggup memberikan perlawanan yang layak.

Ia bilang harus melindungi kota, tapi ia tak sanggup melakukkannya.

Itu adalah kematian konyol.

Haruskah ia membiarkannya begitu saja?

Tidak. Ia tak mau.

Ia tak bisa membiarkannya terjadi.

Encrid menetapkan sebuah tujuan.

Dan sebuah tawa meletup dari sang Ferryman yang menyaksikan hal ini.

Ada sesuatu yang takkan pernah berubah betapapun Encrid mengubah hal lainnya, dan sang Ferryman melihat bahwa hal itu akan merobek Encrid hingga hancur berkeping-keping.

Meski begitu, sang Ferryman juga mengantisipasi sesuatu.

*'Aku penasaran apa yang bakal dilakukannya.'*

Apa yang bakal didapatkan oleh orang gila itu dengan mengulang hari ini?

Dan apa lagi yang bakal berubah?

Ia tidak tahu.

Dan karena ia tidak tahu, segalanya terasa jauh lebih menyenangkan.

Karena alasan inilah, sebuah tawa meletup dari sang Ferryman.

Bakal jadi tontonan yang sangat indah menyaksikan Encrid berjuang keras mengubah kenyataan, hanya untuk akhirnya terjebak selamanya di hari ini.

***

"Oara!"

Sebuah dorongan semangat terdengar.

Encrid bergerak liar.

Ia bersiap menghadapi panah yang bakal melayang masuk lalu keluar melewati gerbang bahkan sebelum para sandera dikeluarkan.

Ia tidak berhenti sekadar keluar gerbang, melainkan melangkah tanpa rasa takut menuju kegelapan di seberang.

"Apa yang kau pikirkan, mendadak gila begini?"

Rem mengikutinya dari belakang.

"Dan kau sendiri, kenapa mengikutiku?"

"Aku semacam perawat yang sedang menjaga pasien."

"Kalau mau melakukkannya, lakukanlah dengan benar."

Mata Encrid melesat ke segala arah.

Ia mencari apa pun yang sedikit saja di luar kebiasaan.

Rem terkadang menilai kaptennya sangat luar biasa saat bertindak seperti ini.

Seolah-olah ia tahu masa depan.

*'Apakah ini semacam insting yang didapatnya sebagai ganti bakat?'* pikirnya dalam hati.

Jika ia bertanya secara gamblang, pria ini cuma bakal menyemburkan omong kosong aneh lainnya.

Omong kosong seperti, "Saat aku mati, aku mengulang hari ini."

Siapa yang bakal percaya hal semacam itu?

Encrid dengan cepat menemukan tiang pasak dan batu yang bercahaya.

Seekor monster laba-laba menyembunyikan batu bercahaya dan tiang pasak di bawah perutnya.

Itu adalah sekelompok monster yang menunggu untuk menyergap dari satu sisi.

"Rem."

Hanya dengan memanggil namanya, Rem langsung paham maksud Encrid.

Merek berdua secara instan membelah kepala monster tersebut.

Merek telah menyelamatkan para sandera.

Encrid berpikir hal ini memakan waktu lebih singkat dibanding kemarin.

Namun hasilnya tidak sama.

"Di mana Ksatria Oara?"

Saat ia kembali ke depan gerbang, ia melihat Aisha dan bertanya.

"Dia melihat dua bajingan mirip monster lalu masuk ke dalam tanah iblis."

Ia terlambat.

Situasi telah berubah akibat dampak dari tindakannya.

Encrid secara instan mencoba berlari ke dalam tanah iblis, tapi ia juga terlambat untuk hal itu.

*Buug, buug, buug!*

Pemandangannya sama seperti kemarin.

Panah-panah beterbangan, dan gelombang kawanan laba-laba dimulai.

Laba-laba berukuran sebesar pria dewasa berhamburan mencurah masuk.

"Rem, Dunbakel, ayo menerobos!"

"Apakah harus?"

Rua Garne bertanya balik, tapi ia diabaikan.

Encrid mulai membuka jalan menuju tanah iblis, secara khusus menuju tempat Oara pergi.

Hal ini bakal memakan waktu.

Meski begitu, mereka harus menerobos dan melesat maju.

Tak ada seorang pun yang memprotes dan mereka menuruti perintah Encrid.

"Baguslah aku mengasah mata kapakku."

Ujar Rem sambil membiarkan kedua Lengannya menggantung santai.

Lengannya bergoyang lembut, dan di tangannya menggenggam kapak dari baja Lewisan.

Dan Rem menggunakan teknik yang dinamainya Feather Axe.

Ia berlari ke depan, dan kapaknya menggambar busur tebasan tanpa diskriminasi.

Dan laba-laba apa pun yang tertangkap dalam busur tebasan itu berubah menjadi mayat.

Menembus darah hitam yang lengket, Rua Garne memegang cambuk di tangan kanan dan Loop Sword di tangan kiri.

"Jangan halangi aku."

Ujarnya sembari mencambuk dan memotong dengan pedangnya.

Dunbakel juga menghunus dua scimitar miliknya.

Encrid pun serupa.

Dengan Aker dan Spark, ia memotong, menusuk, dan meremukkan jalannya ke depan.

Dan begitu saja, mereka menerobos masuk ke dalam tanah iblis.

***

"Roman-!"

Sebuah jeritan samar terdengar.

Pepohonan tanah iblis menghalangi sebagian suara.

Berkat hal itu, suaranya tak merambat lebih jauh.

Saat masuk ke dalam tanah iblis, ia merasakan sensasi yang tak menyenangkan, tapi ia mengabaikannya.

Mata Encrid melihat tiga kaki laba-laba menembus perut Roman.

Kaki-kaki laba-laba, yang menonjol dari punggungnya seperti tiang pasak, berlumuran darah Roman.

Monster laba-laba itu pun tidak keluar tanpa luka.

Kepala monster laba-laba itu telah hancur oleh greatsword berbentuk pemukul milik Roman.

"Sialan, aku tak bisa pergi sendirian," ujar Roman.

"Di mana Ksatria Oara?"

Encrid bertanya sembari mengalihkan pandangannya.

Jeritan tadi berasal dari ksatria magang berambut pirang pendek.

Ia sedang mencengkeram perutnya di satu sisi, terengah-engah mencari napas.

Melihat ke sekeliling, ia melihat Owlbear-Owlbear yang telah tewas.

*'Bukankah tadinya cuma ada satu?'*

Ada dua monster lagi yang mirip dengan Owlbear.

Bahkan jika kedua monster itu tidak berada di tingkatan ksatria, ini pasti sebuah krisis yang beruntun.

Pertarungan berlumuran darah.

Ia bisa mengetahuinya hanya dengan melihat jejak-jejaknya.

Mereka telah mempertaruhkan nyawa untuk menjatuhkan monster-monster itu.

Tapi tak ada ghoul di sana.

Monster yang disebut fragmen balrog atau apa pun itu juga telah lenyap.

"Bagaimana kau tahu harus datang ke sini?" tanya ksatria magang berambut pirang pendek.

Raut wajahnya juga sangat pucat.

Sulit dikatakan ia berada dalam kondisi normal.

Darah menetes dari perut yang dicengkeramnya.

Itu adalah luka yang sangat parah hingga Encrid tak bisa menjamin ia bakal selamat meski mendapat pertolongan pertama secara instan.

"Master tak bisa bertarung dengan benar gara-gara aku."

Ia berbicara dengan tenang, tapi ada nada melancholic dalam suaranya.

"Bukan begitu, dasar bodoh," sahut Roman sambil tersenyum.

Mata gadis itu tak pernah lepas dari Roman.

Dengan kata-kata terakhir itu, mata Roman mulai berkedip melayu.

Aroma kematian sangat kental di udara.

"Maksudmu monster-monster itu menyiapkan jebakan?" gumam Rua Garne.

Hal itu tepat sekali.

Inilah yang bakal terjadi jika kau masuk ke dalam.

Encrid menyerap situasi lalu bergerak.

Saat ia mengambil satu langkah lebih dalam ke dalam...

"Kau mau pergi menjemput kematianmu?" tanya Rem.

Suaranya terdengar seperti menyuruhnya untuk tidak pergi.

Dan hal itu tepat sekali.

"Siapa pun bisa melihat bahwa ini hal yang mustahil," gumam Dunbakel.

Encrid menoleh menatap mereka berdua.

"Bahkan jika ini adalah akhir bagiku."

Ia tak punya niat untuk membujuk mereka.

Hanya perasaan jujurnya yang tersisa.

Ksatria Oara tak boleh tewas di sana.

Ia tak boleh tewas seperti itu.

Ia tak bisa sekadar berdiri menonton dan membiarkannya terjadi, dengan mengetahuinya.

"Jika aku harus melangkah ke depan, aku akan melangkah."

Encrid menuntaskan kata-katanya.

"Siapa yang melarang?" terkekeh Rem.

Ia melanjutkan dengan bilang tak ada gunanya berbicara dengan seseorang yang kepalanya sudah rusak.

"Kau sendiri siapa sampai bicara begitu?" balas Encrid atas ucapan tersebut.

Terkadang, Rem tampak tidak menyadari kondisinya sendiri.

"Aku orang yang berhak bicara. Cepat gerakkan kakimu."

Bukankah ia sebelumnya bilang harusnya sudah pergi lalu kembali?

"Kau mau pergi ke Barat setelah ini selesai?"

"Tentu saja."

"Baiklah."

Encrid mengangguk lalu bergerak maju.

***

Di dalam, ia melihat bajingan yang disebut fragmen atau remahan balrog.

"Balrog? Bukan, itu adalah sebuah fragmen."

Rua Garne mengutarakan kalimat yang persis sama.

"Fragmen?"

Ia bertanya, karena kali ini ia punya waktu untuk mendengarkan.

"Di tanah iblis, ada monster yang diperlakukan sebagai dewa perang yang gila bertarung. Makhluk itu memegang pedang api di tangan kanan dan cambuk yang tak sanggup diputus oleh apa pun di tangan kiri."

"Kau bicara seolah-olah pernah melihatnya."

"Gaya bertarungku dikembangkan dengan memperhitungkan makhluk itu."

Maksudnya ia pernah melihatnya secara langsung.

"Benda itu tampaknya adalah fragmen darinya. Kurasa aku pernah mendengar bahwa makhluk itu terkadang membelah bagian dari jiwanya dan melakukan hal-hal seperti ini saat merasa bosan."

Encrid mengangguk seadanya lalu melihat ke depan.

Hanya dengan melihat wujud berotot kemerahan itu membuat bahunya terasa pegal.

Ia merasakan tekanan menindih tubuhnya.

Apakah sebuah fragmen berada di tingkatan seorang ksatria?

Jasad Oara juga terlihat di dalam pandangannya.

Ia sudah tewas.

Di sampingnya, ia melihat seekor ghoul dengan kepala terbelah.

Monster yang dinamainya Jerix.

Ia akan tewas.

Tapi apakah itu artinya ia harus diam saja tanpa melakukan apa pun?

Encrid mencengkeram pedangnya.

Ia memegang Aker secara lurus.

"Kau bisa bicara? Apakah ayahmu seorang balrog? Apakah ibumu seekor ghoul?"

Encrid melempar ejekan.

Secara alami, tak ada jawaban dari sang monster.

Rem bilang ini adalah kesialan, bahwa ia datang untuk menepis kesialan tapi malah menabraknya, dan berdiri di sisinya.

Dunbakel sekali lagi tersiram rasa takut.

Kali ini, alih-alih bertarung, wanita itu melarikan diri.

Rua Garne tidak terikat pada nyawanya sendiri.

Sebagai gantinya...

"Sayang sekali aku takkan sempat melihatmu menjadi seorang ksatria."

Ia meninggalkan kata-kata itu padanya.

***

"Aku baru saja hendak mencincang wajah mantan suamiku, tapi apa ini? Sebenarnya berapa banyak kekasih yang kau punya?"

Bahkan di 'hari ini' yang baru, gurauan Ksatria Oara tetap sama.

Itu terjadi saat ia melihat sekelompok troll menghalangi jalan mereka.

"Jika kau pergi sendirian, kau bakal tewas."

Ia mencoba menghentikan Oara agar tidak masuk ke dalam tanah iblis, tapi wanita itu menggeleng.

"Jika aku mundur di sini, takkan ada kesempatan berikutnya."

Tak lama setelah kata-kata Oara berakhir, lima troll yang bergerak dalam kegelapan tanah iblis mulai mendekat perlahan.

Makhluk-makhluk itu adalah yang memimpin para monster.

"Kuserahkan hal itu padamu lalu aku pergi."

Oara masih tersenyum.

Ia memperlihatkan senyum cerah.

Sekali lagi, di 'hari ini' yang baru, ia berkata.

"Kau bilang impianmu adalah menjadi ksatria? Aku bertanya padamu saat itu, untuk menentukan cakupan dari apa yang akan kau lindungi sebagai ksatria. Dan aku memberitahumu apa yang akan kulindungi pula. Untuk melindungi kota, apa yang harus kulakukan?"

Jawabannya tak membutuhkan pemikiran kedua.

"Melenyapkan tanah iblis."

"Tepat sekali. Karena itulah impianku adalah membunuh Jerix."

Ia memberikan nama mantan suaminya pada sang ghoul dan berniat membunuhnya.

Tujuan Oara sangat jelas.

Ia diracuni, dan waktunya terbatas.

Lilinnya telah meleleh, dan hanya tersisa satu inci dari lilin tersebut.

Dalam waktu yang tersisa padanya, ia hanya menginginkan satu hal.

Membunuh monster inti yang menyusun tanah iblis.

Mencincang monster yang memiliki daya tempur setara dengan ksatria.

Tapi ia tidak tahu bahwa Jerix bukanlah sang inti.

"Berapa peluang untuk menang?" tanya Rua Garne.

"Jika kita berhadapan secara langsung, aku takkan pernah kalah," ujar Oara yang tersenyum.

Encrid tahu.

Wanita itu takkan kalah.

Tapi monster lain di tingkatan yang setara dengan ghoul, atau mungkin yang jauh lebih mengerikan, bakal meletup keluar dan menjadi masalah.

*'Bagaimana jika ada satu lagi petarung tingkatan ksatria?'*

Maka hal itu akan mudah.

Tidak, Oara telah lama tahu bahwa kekuatan semacam itu dibutuhkan.

Yang ia butuhkan adalah seorang ksatria.

Melenyapkan tanah iblis adalah urusan sebesar itu.

Maka ia bisa mencapai keinginannya tanpa kerugian besar.

Tapi jika hal itu tidak memungkinkan?

"Bahkan jika aku harus mati, aku bakal membunuh bajingan itu sebelum aku mati."

Itulah impian Ksatria Oara.

Encrid telah melihat akhir dari impian itu berkali-kali.

Tanah iblis tidak berakhir.

Para prajurit tewas.

Roman tewas.

Kota itu hancur.

Gelombang monster tak sanggup dihentikan.

Tanah iblis telah bersiap, tapi manusia tidak.

Hal itu tidak berubah kali ini pula.

Bajingan yang disebut fragmen balrog mendekati Oara yang kelelahan dan terluka.

Secara alami Jerix tergeletak tewas di satu sisi.

Apakah bajingan itu bahkan tahu ia telah diberi nama seperti itu?

"Sialan, benda itu adalah monster."

Rem tahu momen saat melihatnya.

Seperti apa wujud utama balrog, seperti apa yang bukan sekadar fragmen, Encrid merasa penasaran secara aneh soal hal itu.

Bukan berarti ia bisa melihatnya hanya karena ingin tahu sekarang.

Jadi untuk saat ini, ia hanya harus melakukan apa yang ada di depannya.

Menghadapi 'hari ini' yang baru sekali lagi.

Bertemu dengan sang ghoul.

"Apakah kau sudah makan?"

Encrid bertanya tanpa alasan.

"Dia mantan suamiku, aku bakal berterima kasih jika kau membiarkan kami menyelesaikan urusan kami sendiri?"

Oara menyela sambil tersenyum.

Monster itu telah berevolusi dan datang untuk menghadapi seorang ksatria.

Sang ghoul memperlihatkan senyuman Oara yang dicuri lalu mengangkat pedangnya.

*Groooowl.*

Suara yang dibuatnya terasa seperti sebuah tekanan.

Meski begitu, monster itu akan tewas.

Pedang Oara akan memotong, merobek, dan membelahnya.

Setelah itu, Oara akan tewas lagi.

Jika ia ingin kabur, ia bisa melakukkannya.

Oara sanggup melakukkannya.

Ia hanya harus memilih untuk kabur sebelum dijatuhkan oleh fragmen balrog.

Makhluk itu tidak mengejar mereka yang kabur.

Pada kenyataannya, Dunbakel pernah sekali kabur tersiram rasa takut, tapi makhluk itu tidak mengejarnya.

Tapi ia tidak bertanya pada Oara kenapa ia melangkah sejauh ini.

Sebab Encrid sanggup memahami Oara.

"Roman, tunggu. Yang itu milikku."

Oara berkata lalu membunuh sang ghoul.

Ada saat-saat di mana ia sanggup memberikan perlawanan yang bagus melawan fragmen balrog.

Tapi sangat sulit saat ia dalam kondisi kelelahan dan terluka.

Encrid menyaksikan situasi tersebut, merenungkan hari ini, lalu bertarung terus.

Apa yang dibutuhkan saat ini?

Beberapa kali, mereka berhasil mendesak mundur para ghoul dan yang lainnya.

Ia mencoba bertahan, bahkan mengerahkan Aisha untuk bertarung.

Ada satu 'hari ini' di mana mereka bertahan dan Oara tidak tewas.

Tapi apa yang ia lihat setelah menyisir tanah iblis dan kembali adalah sebuah mimpi buruk.

Kelompok itu melihat jumlah monster laba-laba yang tak masuk akal.

Bahkan jika dinding benteng bertahan, tanpa Ksatria Oara, tanpa ksatria magang sekalipun, mereka tak sanggup menahan jumlah tersebut.

Ia melihat monster-monster yang telah memanjat melewati dinding benteng dan menginvasi kota.

Kota tak sanggup menahan gelombang monster.

Momen saat ia melihat para prajurit yang bertarung dikunyah dan dimakan hidup-hidup oleh mulut laba-laba...

"Aaaargh!"

Itu adalah pertama kalinya Encrid melihat Oara kehilangan senyumannya.

Dan tepat pada waktunya, para ghoul dan yang lainnya mencurah keluar dari tanah iblis.

Kali ini, Oara bahkan tak sanggup mengalahkan sang ghoul.

***

Apa yang harus ia lakukan?

Kesimpulannya sangat sederhana.

*'Aku hanya harus menyerah pada kota.'*

Pengorbanan tak bisa dihindari.

Ia bisa membujuk Ksatria Oara untuk kabur dan mengincar hari esok.

Bersiap dengan benar dan menargetkan hanya monster-monster tingkatan atas.

Maka ia bisa menghentikan tanah iblis, menang, dan memenuhi impian Oara.

Tapi kota akan hancur.

Ia harus menyerahkan gerbang yang dipahat kakek wanita itu, serta sebagian besar orang yang mempertahankan tempat ini.

Terlebih lagi, monster-monster akan melewati tempat ini dan menyebar luas.

Maka orang-orang yang tak terhitung jumlahnya di desa-desa sekitar juga akan tewas.

Bahkan jika hasil akhirnya adalah sebuah kemenangan, itu adalah kenyataan yang tak bisa diterima oleh Oara.

Encrid tak punya keyakinan untuk membujuknya.

Dan lebih dari segalanya, Encrid sendiri tak punya niat untuk melakukkannya.

Impiannya adalah menjadi seorang ksatria.

Apakah ksatria dalam lagu-lagu adalah seseorang yang mencampakkan orang-orang di punggungnya demi akhirnya menang?

Yaitu menempuh jalan berduri, dengan tahu betul hal itu konyol.

Bagi Encrid, itulah arti seorang ksatria.

Jadi, ia tidak mempertimbangkan untuk kabur.

***

Di dalam 'hari ini' yang berulang, Encrid berkata.

"Pergilah duluan ke Barat."

"Apakah kepalamu dihantam keras?"

Tepat di sampingnya, Rem menyambut kata-katanya.

Ia tampaknya tak punya niat sedikit pun untuk pergi.

Hal itu sangat alami.

Rem tak pernah sekali pun meninggalkan sisinya.

"Grr, Grrr."

Dunbakel meletupkan erangan lemas.

Ia tersiram oleh rasa takut.

Artinya salah satu petarung mereka bertindak secara konyol.

Ia dalam perjalanan setelah melihat kematian Oara.

Di beberapa hari, wanita itu tidak tewas, hanya hampir tewas, tapi saat fajar menyingsing, ia kehilangan kesadaran.

Itu adalah pengulangan hari ini.

"Nikmati ini. Seperti sebelumnya."

Sang Ferryman berkata.

Dan Encrid membuka matanya lagi.

Ia mengulang hari ini.

"Jika kota ini tidak ada, aku pun tidak ada."

Oara berkata.

Ia mengulang hari ini.

"Bahkan jika akhirnya adalah sebuah jurang, jika aku harus berlari, aku bakal berlari. Karena itulah aku menjadi ksatria."

Oara berkata sambil tersenyum.

"Oara!"

Seorang prajurit meneriaki dorongan semangat.

"Aku pergi sambil tersenyum!"

Roman tewas sambil tersenyum.

Gadis berambut pirang pendek membuang nyawanya.

Monster laba-laba mencurah masuk.

Buntalan panah benang beterbangan.

Saat mereka membersihkan area depan dinding benteng, para prajurit menahannya dengan tubuh mereka.

Empat Squire tewas.

Para prajurit tewas.

Milio tewas.

Bahkan jika ia menyerah pada Rowena, tak ada yang berubah.

Bunga yang mekar di tanah iblis layu dan tewas.

Ini adalah saat bagi frustrasi dan keputusasaan untuk menyusup masuk.

Saat untuk memejamkan mata dan menyerah, seperti yang sering terjadi.

"Kuberikan jawabannya. Lari saja."

Sang Ferryman berkata.

Seperti biasa, itu adalah opsi terbaik.

Itu adalah saran untuk kabur, menyapa 'hari ini' yang baru, dan puas dengan hari yang lumayan.

Sang Ferryman menawarkan bantuan padanya.

Encrid mengangguk mendengar kata-kata sang Ferryman.

***

Setelah total 121 'hari ini' telah berlalu.

"Ini yang kurencanakan untuk kulakukan, bagaimana menurutmu?"

Encrid berkonsultasi dengan sang Ferryman tentang apa yang telah ia renungkan selama ini.

"Sungguh luar biasa."

Sang Ferryman berkata sembari menatap mata Encrid.

Di dalam mata sang Ferryman, ia melihat dua kobaran api biru yang diliputi oleh kegilaan murni.

"Dasar bajingan gila."

Sang Ferryman terkagum-kagum.

Mata yang menyuarakan harapan alih-alih frustrasi dan keputusasaan membuat kata-kata semacam itu keluar dengan sendirinya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.