Eternally Regressing Knight

Bab 451: Monster Itu Bahkan Mencuri Senyuman Oara

2319 Kata

Bab 451: Monster Itu Bahkan Mencuri Senyuman Oara

Encrid bereaksi.

Dunbakel dan Rem ikut bergerak.

Anak-anak panah beterbangan satu demi satu, membelah langit malam yang pekat.

Beberapa tiang pasak tumbang ke tanah.

Seluruh situasi terhampar seperti sebuah lukisan di dalam benak Encrid.

Di tengah situasi yang mendesak, insting Encrid bersinar dengan kejernihan sedingin es.

Bilah intuisinya memotong kegelapan.

*'Selamatkan separuhnya.'*

Beberapa sandera yang terikat di tiang pasak sudah berada di ambang kematian.

Giant spider tampak tak punya niat membiarkan para sandera di tiang pasak tetap hidup.

Niatnya murni untuk meremukkan moral pasukan musuh.

Seekor monster berpikir seperti ini?

Hal itu mengejutkan, tapi bukan sesuatu yang perlu dipusingkan saat ini.

Yang terpenting adalah berapa banyak orang yang sanggup ia selamatkan.

Ia tak bisa menyelamatkan mereka semua.

Di bawah batu bercahaya biru pucat, giant spider yang berdiri di atas kaki-kakinya yang tajam mengulurkan salah satu kakinya.

Kaki itu begitu panjang dan tajam hingga pantas disebut sebagai tombak.

*'Tepat separuhnya.'*

Ia bisa membunuhnya dengan melemparkan sesuatu, tapi cara itu takkan menyelamatkan siapa pun.

Will miliknya aktif.

The Eye that Sees One Inch Ahead memperluas prediksinya, memperlihatkan kepingan masa depan padanya.

Itu adalah masa depan yang terlihat di ranah intuisi.

Meski begitu, tak ada yang bisa ia ubah.

Dalam waktu singkat itu, Rem dan Dunbakel membunuh dua ekor laba-laba.

Kapak dan scimitar membelah kepala monster-monster tersebut.

Encrid juga mencapai satu ekor dan menusuk menggunakan Spark.

Ia menghentak tanah dan memangkas jarak, tusukan cepat menembus kepala sang monster.

Ia menusuk, menarik kembali bilahnya, lalu secara instan mengencangkan otot-otot kakinya.

Hanya karena melihat masa depan yang tak berubah, apakah ia harus menyerah?

Encrid takkan menyerah.

Entah berhasil atau tidak, ia akan mengambil langkah berikutnya.

Ada sembilan tiang pasak secara keseluruhan.

Bahkan jika ia berlari, para sandera di tiang itu akan tewas.

Itulah gambaran yang terlukis di atas kanvas masa depan yang dilihat Encrid.

Meski begitu, ia takkan berhenti.

Dan kemudian, secercah cahaya perak membelah kanvas tersebut.

Cahaya itu melesat maju dan memotong bersih kaki laba-laba yang hendak menusuk seorang sandera.

Encrid menghentikan kaki yang hendak meluncur menerjang.

Ia lupa bernapas.

Apakah ia sebelumnya mengira pernah melihat pedang seorang ksatria?

Ia telah keliru.

Apa artinya membantai seribu musuh seorang diri?

Di mana letak alasan orang-orang menyebutnya sebagai sebuah bencana?

Mercenary King yang menusukkan tombaknya dari sudut yang tak masuk akal.

Petir Ragna yang menyambar turun dengan kekuatan yang tak masuk akal.

Pedang Shinar yang terwujud dalam bentuk yang tak masuk akal.

Dan sekarang, hal ini.

Oara bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal, mengubah gambaran di atas kanvas menggunakan kuas yang berupa pedangnya.

Tempat wanita itu berdiri sebelumnya berada lebih jauh dibanding Encrid, tapi kini Oara berada di mana-mana.

Ada enam tiang pasak berisi sandera—enam sandera yang sebelumnya telah dilepaskan oleh Encrid—dan di sana ada enam bayangan Oara.

Sebuah teknik ilahi yang lahir dari kecepatan dahsyat terhampar di depan matanya.

Jika sebelumnya ia merasakan sensasi luar biasa dari satu ayunan pedang, kini rasa takjub memenuhi sekujur tubuhnya.

Ia pernah ingin melakukan hal seperti ini.

Ia pernah ingin melihat hal seperti ini.

Inilah sosok seorang ksatria.

Oara dari Red Cloak Knights menggerakkan pedangnya dan mulai mengamuk di antara para monster.

Pedangnya menjadi hujan yang dipanggil bencana, mencurah turun menghantam monster-monster laba-laba.

"Boleh juga," puji Rem kagum.

"Ah..."

Mata Dunbakel terperanjat.

Mata Encrid sibuk mengejar bayangan pedang Oara.

"Hahaha!"

Oara tertawa nyaring.

Hanya dengan sebilah longsword biasa, ia membunuh laba-laba demi laba-laba yang masing-masing memiliki kepala sebesar ukuran manusia.

Itu adalah rangkaian gerakan yang sederhana.

Persis seperti yang pernah ia ajarkan.

*'Kau tak butuh ilmu pedang yang indah berbunga-bunga.'*

Kata-katanya seolah bergema di telinganya.

Ia menusuk, memotong, menebas, dan menghantam.

Hanya itu saja sudah lebih dari cukup.

Diiringi tawa nyaringnya, pedang Oara makin ganas, tendangannya seperti hantaman gada, dan kecepatannya makin melonjak.

Seekor monster laba-laba membuka mulutnya dan menyemburkan sebuntal benang sutra.

Buntalan itu lebih besar dari kepalanya sendiri.

Pedang Oara memotong buntalan itu pula.

*Pik!* Dari dalam buntalan benang sutra yang terbelah, puluhan anak laba-laba meletup keluar.

Kelihatannya ada lebih dari seratus anak laba-laba mencurah turun tepat dari atas kepalanya.

Anak-anak laba-laba itu sangat kecil, masing-masing hanya berukuran sebesar jari tangan.

Hal itu pun bukan masalah.

Encrid tak bisa melihatnya secara jelas, tapi ia menduga Oara sempat mendengus menghina.

Dalam sekejap mata, pedangnya menciptakan sekelopak bunga.

Setangkai bunga dari sautan bayangan yang tercipta dari puluhan tusukan.

*Psh-sh-sh-sh-shk!*

Belasan anak laba-laba tewas seketika.

Ia melakukannya hanya dengan pedangnya.

***

Meski Encrid menontonnya dari tadi, hal itu terjadi tidak lama.

Jadi bisa dibilang perubahan di medan perang terjadi dalam waktu singkat.

Kemunculan para sandera, Oara yang mengeluarkan kekuatan seorang ksatria—semuanya terjadi hanya dalam hitungan beberapa helaan napas.

Oara berhenti di sana, membiarkan pedangnya menggantung rendah, membusungkan dadanya, lalu berteriak.

"Seluruh pasukan! Pertahankan posisi kalian!"

Mendengar kata-katanya, Encrid mengumpulkan para sandera satu per satu lalu melempar mereka ke belakang.

Rem menangkap mereka lalu meneruskannya lebih jauh ke belakang.

"Sialan, Oara!"

Pria milik Rowena berteriak sembari menggendong seorang sandera di punggungnya.

Itu adalah Rowena.

Prajurit lain juga mulai berlari kembali, masing-masing menggendong satu sandera.

"Tutup gerbang benteng!"

Pandangan Encrid melirik ke belakang.

Ia melihat jasad Milio yang sudah tewas serta beberapa prajurit.

Jika Milio merespons teriakan sebelumnya, ia mungkin masih hidup, tapi pria itu melempar tubuhnya untuk melindungi bawahannya.

Itu pasti bukan gerakan yang terencana.

Itu murni insting, tubuhnya bergerak sendiri.

Sungguh sangat disayangkan.

Ia takkan pernah sanggup mengejar impiannya lagi sekarang.

Impiannya untuk menjadikan Oara sebagai istrinya telah berakhir.

Orang mati tak bisa bersanding dengan orang hidup.

Sebagai gantinya, Rowena selamat.

"Jangan mati, aku di sini sekarang!"

Prajurit yang menggendong Rowena berteriak berulang kali sembari berlari.

Apakah bunga bisa mekar bahkan di tanah iblis?

Ada ungkapan seperti itu di kota ini.

Di sini, ada orang-orang yang hidup dan mencintai.

Inilah hal-hal yang ingin dilindungi oleh Oara.

"Kapten, kau cuma mau menonton saja?" tanya Rem.

Kondisinya berbeda dari sebelumnya.

Sejumlah besar monster dalam skala yang berbeda dari apa yang mereka lihat dari atas dinding benteng mulai merangkak keluar.

Jumlah mereka sangat mengerikan.

Dan bukan cuma itu.

Di depan Oara, bayangan hitam pekat melesat keluar dan mengayunkan pedangnya menukik jatuh.

Mata Encrid menangkapnya.

Bukan satu pedang, melainkan banyak pedang sekaligus.

Tebasan pedang itu sangat cepat hingga kelihatan seperti puluhan bayangan sautan.

*Clang-clang-clang-clang-clang!*

Pedang Oara bergerak dan menangkis semuanya.

Ia membalas setiap tebasan, bahkan menambahkan satu tusukan susulan.

Namun iblis yang mengayunkan pedang-pedang itu mundur dan menghindar.

Encrid kini bisa melihat wujud sang lawan.

Wujudnya sangat tidak biasa.

Itu adalah monster laba-laba mengerikan dengan delapan kaki, berdiri di atas dua kakinya sementara sisanya menggantung meliuk seperti lengan.

"Itu jenis mutan," ujar Rua Garne sembari mengeluarkan cambuknya.

Wajah monster laba-laba berpedang delapan itu menyerupai wajah manusia.

Kulitnya pucat, dan di tempat yang seharusnya berisi mata terdapat mata mejemuk serangga.

Ada satu lubang bulat untuk hidung dan tidak memiliki mulut.

Di delapan kakinya, monster itu memegang delapan bilah pedang putih bersih.

Bukan, pedang-pedang itu menyatu dengan kakinya.

Kaki-kaki itu sendiri adalah bilah pedang.

"Wah, wah, Jerix bajingan. Apakah ini kekasih baru yang kau siapkan untukku?" ujar Oara sambil tersenyum.

Bahkan jika tak ada hal yang menyenangkan, ia tetap tersenyum.

Itulah Oara sang ksatria tersenyum.

"Master!"

Itu adalah Roman yang berteriak saat muncul dari balik Oara.

"Kalian monster-monster anak haram jadah."

Di sisi lain, ksatria magang berambut pirang pendek melangkah maju, dan empat Squire mundur menepi.

Pada saat itu, anak-anak panah kembali beterbangan dari dalam hutan kelabu.

Bahkan sebelum mereka sempat mengambil jasad Milio.

Encrid mengangkat perisainya untuk menangkis, dan anggota tim lainnya membalas serta menangkis sesuai kebutuhan.

Tak ada panah yang melayang di dekat Oara dan para ksatria magang.

Konfrontasi antara Oara dan laba-laba berkaki delapan berlengan pedang terus berlanjut.

*'Monster sekelas ksatria.'*

Kenapa dunia tanpa monster hanya sekadar impian, bahkan dengan keberadaan para ksatria sekalipun?

Secara alami, hal itu karena ada monster-monster yang sanggup menghadapi ksatria.

Ini adalah salah satunya.

Mata majemuk merah milik monster berkaki delapan itu berpendar.

"Kieuk."

Di telinga Encrid, suara itu terdengar seolah sang iblis sedang tertawa.

"Menyenangkan bertaruh dengan wanita lain?!"

Oara melempar gurauan.

Ia memiliki ketabahan yang luar biasa.

Laba-laba dengan delapan lengan berpedang itu memancarkan tekanan yang membuat pening hanya dengan keberadaannya, tapi Oara tidak memedulikannya.

Ia mengangkat pedangnya, dan sang laba-laba menggeser tubuhnya menepi.

Dari baliknya, seekor Owlbear muncul.

Kepala burung hantu di atas tubuh beruang, dengan dua tangan yang besar secara tidak normal.

Saat mengepalkan tinjunya, tinju itu tampak seperti dua bongkahan batu besar yang terikat di ujung tangannya.

Bulu-bulunya yang mengembang membuat tubuh dan kepalan tangannya kelihatan makin raksasa.

"Oh? Yang itu kelihatan tidak gampang juga, ya?" sahut Rem.

Encrid merasakan hal yang sama.

Ia merasa pening momen saat melihatnya.

Jantungnya juga berdegup kencang.

Itu adalah monster yang sangat kuat, jelas tidak berada di tingkatan pasaran.

"Kalian benar-benar merencanakan ini, ya?"

Mulut Oara terbuka.

Kedua monster itu menerjang.

Pedang sang ksatria dan senjata monster-monster itu berbenturan.

Kecepatan yang melampaui batas menciptakan lintasan panjang menyerupai percikan api di udara.

Lintasan-lintasan itu saling bertumpuk, melukis gambaran cahaya yang berhamburan.

*Clang-clang-clang-clang! Kzzt! Kzzt!*

Suara ledakan bercampur di setiap momennya.

Kedua ksatria magang hanya menonton mencari celah untuk melompat masuk.

Sangat sulit untuk menyela secara sembarangan.

Ini adalah pertarungan dua lawan satu, tapi sulit dikatakan bahwa Oara mendominasi mereka.

Ini belum berakhir pula.

*Dadadadadak!*

Ada monster-monster yang menembakkan anak panah.

Dari sebalik tanah iblis, monster-monster mulai merangkak keluar.

Itu adalah sebuah gelombang.

Gelombang yang selama ini ditahan oleh Ksatria Oara kini menyapu Ordo Thousand Bricks.

Oara mengayunkan pedangnya dalam busur horizontal yang lebar, mendorong kedua monster mundur sedikit, lalu berteriak.

"Enki, Aisha, lindungi kota!"

Ia akan menangani sisa pertarungan ini.

Kedua ksatria magang yang melindunginya menempel rapat di belakangnya.

Aisha tak kelihatan di mana-mana; wanita itu sudah melesat pergi untuk menangani kelompok monster penembak panah.

"Ini membuat pusing," ujar Rem sembari mengeluarkan kapaknya.

Melihat kawanan iblis yang berhamburan, ini bukan jumlah yang sanggup ia atasi dengan peluru batu.

Encrid juga menghunus pedang-pedangnya.

Aker di tangan kanan, Spark di tangan kiri.

Apakah Oara terdesak mundur? Kelihatannya tidak demikian.

Ia dengan mahir menangkis delapan lengan berpedang milik laba-laba serta tinju Owlbear.

*'Kalau itu aku?'*

Aku takkan pernah sanggup melakukkannya semudah itu.

Kedua monster itu dengan sangat ahli menutupi celah satu sama lain.

Bagaimana cara menembus pertahanan itu?

*'Petir Hitam Ragna.'*

Serangan itu bakal sanggup menembusnya.

Bisakah petir putih milikku melakukan hal serupa?

Mustahil.

Ia mengetahuinya momen saat melihat mereka.

Encrid mengalihkan matanya dari pertarungan Oara.

Saat wanita itu bertarung, ia memiliki tugasnya sendiri untuk dilakukan.

*Kiririk.*

Jeritan aneh dan suara derap langkah beruntun—*dadadadak*—di atas tanah terdengar membahana.

Kawanan laba-laba yang mendekat melalui kegelapan adalah pemandangan yang mengerikan.

Encrid memutuskan untuk menebas keriuhan itu dengan pedangnya.

*Jleb, Krak.*

Bilah Aker menukik lurus ke bawah, membelah kepala laba-laba yang tingginya mencapai ulu hatinya.

Rem membantu dari sisi samping.

Kapaknya melakukan tugas yang serupa.

Rua Garne mengukur situasi lalu berkata, "Kita hanya perlu bertahan."

Mendengar kata-kata itu, Dunbakel kelihatan sangat lega.

Bahkan saat korban berjatuhan akibat anak panah yang melayang masuk, Encrid mendengar teriakan para prajurit yang menganggap hal ini sebagai rutinitas.

"Oa!"

Itu adalah apa yang ia dengar dari Roman tadi malam.

Teriakan itu adalah 'Oa' milik Oara.

Mereka adalah orang-orang yang dilindungi oleh Ksatria Oara.

Mereka adalah pemilik kota yang diresapi oleh keyakinannya.

Jika Ksatria Oara bertarung demi mereka...

Mereka pun bertarung demi Oara.

Dan mereka bertarung demi kota mereka.

***

Setelah menebas empat monster, Encrid secara singkat mengarahkan pandangannya ke depan.

Ia sekadar mengikuti perasaannya.

Intuisinya.

Seolah-olah ada seseorang yang menyuruhnya melihat ke depan.

Posisinya berada di dalam hutan.

Dari sana, seekor monster dengan wujud yang berbeda dari laba-laba melangkah keluar.

Di antara pepohonan kelabu tanah iblis, seekor iblis melangkah maju, memijak tanah hitam.

"Jerix, kau menyiapkan banyak hal ya."

Oara berkata saat melihatnya.

Itu terjadi di sela-sela celah singkat yang ia ciptakan dengan menangkis dan membelengkokkan serangan laba-laba delapan lengan dan Owlbear.

Kedua monster mutan itu juga secara singkat mundur dan berhenti.

"Apakah kau bertaruh untuk mengincar nyawaku?" tanya Oara.

Sang ghoul tidak berniat menjawab.

Dan Oara tersenyum.

Encrid tidak memahami seluruh situasi, tapi ia paham satu hal.

Mereka berada di posisi yang tidak menguntungkan.

Jerix, mantan suaminya, monster yang saat ini mempertahankan tanah iblis tersebut.

Monster yang paling ingin dibunuh oleh Oara.

Jika mereka membunuhnya, tanah iblis akan kehilangan kekuatannya.

Wanita itu pernah bilang tanah iblis mirip seperti koloni yang sangat besar.

Meski begitu, monster itu melangkah keluar.

Monster itu mempertaruhkan segalanya di pertarungan ini.

Saat kebetulan bertumpuk, hal itu menjadi sebuah kepastian.

Fakta bahwa Oara telah mengamuk di tanah iblis berkali-kali.

Monster yang tahu cara menggunakan kepalanya.

Dua bulan merah.

Jumlah monster yang berkumpul.

Dari sudut pandang para monster, hanya ada satu cara untuk mengakhiri ancaman ini.

Membunuh Oara.

Seluruh kebetulan telah menciptakan hari ini.

Akhirnya, pandangan Encrid tertuju pada sang ghoul.

Kulit biru, mulut yang robek, lubang di tempat tulang hidung seharusnya berada, dan mata hitam pekat tanpa pupil.

Dan dua lengannya yang menggantung, dengan kuku yang tumbuh hingga separuh jengkal tangan, kulit di lengannya kelihatan sangat keras.

Kelihatannya seolah-olah monster itu sedang memegang pedang.

Sikap sang ghoul menangkap matanya.

Cara jalannya berbeda, dan kelihatannya ia bakal menggunakan kedua lengannya seperti bilah pedang.

Terlebih lagi, ujung kuku-kuku itu dilapisi racun yang sanggup membunuh seorang ksatria hanya dengan sebuah goresan tipis.

Kuku-kukunya berwarna gelap, berbeda dari kulitnya, seolah-olah diliputi jelaga.

Warna mereka hitam, seolah-olah menyerap cahaya dari dua bulan merah.

Kesimpulannya, sikap sang iblis kelihatan seolah-olah ia telah mempelajari ilmu pedang.

"Tanah iblis membuat monster berevolusi."

Rua Garne pernah berkata.

Encrid tak bisa mengetahui alasan pastinya, tapi melihat hasil di depannya, ia bisa menebak apa yang telah terjadi.

Seekor ghoul lahir di tanah iblis.

Ia mengamati manusia, memantik pertarungan, dan hampir tidak selamat.

Bukankah Oara bilang ia membiarkan Jerix lolos tiga kali?

Setiap kali lolos, sang iblis bertambah kuat.

Setiap kali, ia makin licik.

Puncak dari hal itu adalah saat ini.

*'Monster yang berevolusi.'*

Monster yang melatih dan menempa dirinya sendiri.

Sudut mulut sang ghoul memuntir ke atas.

Iblis itu bahkan telah mencuri senyuman Oara.

*Guuuuuuuuh!*

Iblis itu meletupkan gelak tawa.

Begitulah suaranya terdengar di telinga Encrid.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.