Eternally Regressing Knight

Bab 429: Pria yang Membawa Impian di Atas Mata Pedangnya

3225 Kata

Bab 429: Pria yang Membawa Impian di Atas Mata Pedangnya

Langit yang ditutupi oleh gumpalan awan berkesan serasa lebih rendah dibanding biasanya.

Tampak seolah-olah gumpalan awan menyentuh bukit kecil yang menjulang di belakang area lapangan latihan dan barak prajurit.

Sewaktu semua orang sibuk dengan tugas kewajiban mereka masing-masing, Sang Raja dan Encrid saling mendiskusikan impian-impian mereka.

Mereka berkata seraya menarik hawa udara dingin dan segar—yang tercipta oleh air hujan yang mengering—mendalam ke rongga paru-paru mereka lalu menghembuskannya.

“Aku berkehendak mengayunkan mata pedang sebagai seorang ksatria di jajaran Knights,” tutur Encrid.

Intonasi suara dan gesturnya teramat lugas dan polos hingga impian tersebut terdengar bagaikan kisah milik orang lain.

Itu adalah hal mengenai seluruh hal yang berkehendak dieksekusinya di seantero benua, dimulai dari menjadi seorang ksatria.

Mendengarkan impian Encrid, Sang Raja membatin di dalam hati:

‘Tak ada putus asa, tak ada keputusasaan.’

Pria ini tak mengatakan cemoohan dari orang lain.

Ia murni hanya bakal melangkah maju dan mewujudkannya, tanpa meragukan lagi!

Pria ini sama sekali tak memikirkan insiden kegagalan.

Masa lalu milik Sang Raja sendiri berkelebat melintas di rongga pikirannya:

“Hentikan omong kosong mengenai mendirikan sebuah negara ini! Apakah Anda benar-benar membatin bahwa hal itu masuk di akal?!”

Demikianlah deretan kata yang meluncur dari adik kandungnya—sosok yang mengikutinya secara paling setia!

Anu tak sanggup menyalahkannya.

Adiknya murni sekadar seorang pria yang menghadapi kenyataan realita.

Adiknya tidaklah keliru.

Dan terdapat sosok-sosok lain yang mengatakan fakta-fakta serupa:

“Hal itu tak mungkin! Anda berkehendak agar saya menginvestasikan dana pada hal seperti itu?!”

“Apakah Anda berusaha menjadi bandit berkuda atau pencuri biasa?! apa yang membentang di Benua Timur?!”

“Kenapa Anda membuang-buang daya kekuatan seraksasa itu?! Mencurahkan daya kekuatan Anda demi membendung tanah iblis, dan saya bakal menganugerahkan apa pun yang Anda hasratkan!”

Sang Raja—Anu—tak mendengarkan deretan kata mereka dan menolak seisi penawaran tersebut.

Tak ada satu pun kata-kata mereka yang memicu detak jantungnya berpacu kencang!

‘Aku murni bakal mengeksekusi apa yang memicu detak jantungku berpacu kencang!’

Dan hal itu adalah mendirikan sebuah negara di Benua Timur.

Pada akhirnya, Anu sanggup mencapainya!

Ia mencurahkan seluruh hidupnya demi memancangkan fondasi dari sebuah negara.

Semua orang mengatakan bahwa hal itu tak mungkin terjadi.

Semua orang mengatakan bahwa hal itu tak mengusung makna apa pun.

Semua orang melemparkan cemoohan pada dirinya.

Anu tak mengantongi waktu untuk cemas memikirkan hal-hal seperti itu.

Murni ada terlampau banyak hal yang mutlak wajib dieksekusinya.

Segala yang sanggup dilancarkannya murni melaju menerjang maju!

Sewaktu ia melangkah dan melangkah, serta menerjang maju kembali:

“Terdengar menyenangkan! Mari kita mengeksekusinya bersama-sama!”

Jumlah sosok manusia yang menetap di sisinya melambung pesat!

“Anda adalah seorang pria yang mengusung begitu banyak celah cela. Saya yang bakal menutupi celah-celah itu untuk Anda!”

Dan demikianlah, di sinilah ia bertahta saat ini!

hal ini belum merampung tuntas.

Ini murni awal mula dari segalanya.

Ia tidak berniat menyematkan tenaga ekstra, namun vokal suara sang raja mengusung bobot wibawa raksasa, dan sepasang matanya menyimpan hawa panas yang meledak membara!

“Kerajaan Benua Timur? Benda itu murni sekadar pos persinggahan! Negara ini murni sekadar fondasi awal. Target impian utamaku adalah menaklukkan seantero Benua Timur secara mutlak!”

Ia bakal mengeksplorasi the unknown, membuka jalan satu per satu, lalu menancapkan panji benderanya di tanah-tanah tersebut!

Sewaktu sang raja berkata, ia mempertontonkan taring-taring giginya.

Itu adalah sebuah ukiran senyum, namun juga merupakan ekspresi raut wajah yang menyingkap semangat bertarungnya!

“Kamu berkehendak menjadi seorang ksatria di jajaran Knights?! Apakah kamu mengatakan Ksatria dari Perang yang Telah Usai?”

“Ya,” sahut Encrid.

“Kamu bakal menghapus perang dari seantero benua?! Jika tanah iblis adalah musuhnya, kamu bakal menghapus tanah iblis; jika para demon menghalangi jalanmu, kamu bakal membantai para demon; dan jika Kekaisaran menghambat langkahmu, kamu bakal merubuhkan Kekaisaran sekalipun?!”

Itu adalah sebuah impian yang bahkan jauh lebih raksasa dibanding impian miliknya sendiri dalam menaklukkan Benua Timur!

Ini adalah sebuah khayalan gila.

Sang Raja amat menghormati impian-impian milik orang lain.

Namun bukankah hal ini terlampau tak masuk di akal?!

Gestur raut wajah Encrid tetap bertahan tak berubah sedikit pun.

Keringat di fisiknya sudah lama mengering sirna.

Hembusan angin meniup menyapu, mengibaskan rambut hitam Encrid yang telah memanjang cukup untuk menggelitik lehernya.

Ia tak mengantongi silsilah garis keturunan agung.

Ia bukanlah anggota keluarga kerajaan.

Bakat alaminya pun tak terbilang amat menonjol.

Ia murni sekadar seorang pria yang melangkah dan menerjang maju murni mengusung sebutir impian tunggal!

“Kamu adalah seorang keparat yang benar-benar amat menarik!”

Anu melontarkan deretan kata yang sama persis seperti yang pernah diucapkan oleh orang-orang yang dulu terkagum-kagum pada dirinya!

Bukankah pria di hadapannya ini adalah sosok manusia yang impiannya berada pada skala yang jauh berbeda?!

“Jika aku nekat memicu perang di seantero benua, kamu bakal bertarung menghantamku pula. Kalau begitu demi masa depan, aku harus membantaimu di tempat ini saat ini juga!”

Bukan berarti ia secara nyata berkehendak membantainya.

Sang Raja baru saja mengingat kembali sesuatu yang telah dilupakannya dari ucapan pria di hadapannya.

Dan untuk kali pertama selama masa tinggalnya di tempat ini, ia menyaksikan Will sejati milik pria tersebut.

Karena itulah.

hal ini mutlak wajib dipandang sebagai sebutir pengajaran yang terselubung oleh deretan kata pembantaian!

Deretan kata 'Aku bakal membantaimu' adalah alasan pembenar demi menutupi seluruh dorongan kehendak impulsifnya—hal yang enggan diuraikannya secara rumit.

Tentu saja tak ada cara untuk mengetahui pemikiran terdalam Sang Raja.

Bukankah ia adalah seorang pria yang memang pada dasarnya impulsif dan bertindak sesuka hati?!

Disertai ucapannya, Sang Raja bangkit berdiri dari posisi terduduknya lalu mengulurkan telapak tangan kirinya ke belakang.

Sang ajudan sempat ragu-ragu selama sekejap.

Ia telah mengabdi mengekor Anu selama lebih dari 20 tahun!

‘Apakah beliau bersungguh-sungguh?!’

Ia ragu lantaran faktor pemicu tersebut, namun ia menyanggupi titah instruksi.

Ia tadinya berniat melemparkan sebilah tombak ke telapak tangan Sang Raja, namun Sang Raja berkata:

“Tombak sang Lembu!”

Sang ajudan tak sekadar ragu; ia terpaku kaku seketika!

Sebuah nama senjata yang tak akan pernah dihunusnya kecuali sewaktu berhadapan melawan musuh yang mutlak wajib dibantai atau lawan yang sepadan dengan dirinya telah diucapkan!

“Junjunganku?!” tanya Asalruhie tanpa disadarinya sendiri.

“Serahkan padaku!” tegas Sang Raja tanpa bantahan.

Sang ajudan mengeluarkan senjata baru yang tersandang di punggungnya lalu membuka lilitan kain yang membungkusnya.

Gagang tombaknya berwarna cokelat pekat—memicu kesulitan untuk menebak material dasarnya—dan mata tombaknya secara tidak biasa terbelah dua!

Mata tombaknya—baik dari aspek material maupun wujud wujudnya—tampak menyerupai sepasang tanduk!

Mata tombak tanduk berwarna abu-abu pekat.

Benda itu berkesan seolah-olah tak akan kasat mata di dalam kegelapan pekat lantaran kehitamannya.

Dua tanduk—mata tombak tersebut—adalah kepala dari seekor lembu, dan gagangnya adalah fisik tubuhnya!

Tekanan intimidasi yang amat raksasa—tidak menyerupai sebelum-sebelumnya—memancar keluar dari Sang Raja yang menggenggam tombak tersebut.

Sebuah tekanan intimidasi yang memicu seseorang berkehendak menundukkan kepala dan bersujud menyembah!

Encrid—yang tadinya terduduk dan mengobrol bersisian dengannya—merasakan tekanan seolah-olah dirinya sedang terperosok ke dalam tanah, namun ia secara kilat mengaktifkan keajaiban Will of rejection miliknya!

Will yang dikantongi Encrid mendorong balik tekanan intimidasi yang dipertontonkan musuhnya dan membuktikan keberadaannya.

Ini adalah penolakan dan perlawanan—lantaran ia tak akan pernah sudi ditekan murni lantaran didorong!

Encrid pun mendorong fisiknya bangkit dari permukaan tanah menggunakan telapak tangannya.

Sekadar tindakan bangkit berdiri itu sendiri begitu mengagumkan hingga Asalruhie mengawasinya menggunakan sepasang mata terperanjat tak percaya!

Bangkit berdiri tanpa ada sebutir pun getaran di hadapan Sang Raja yang menggenggam tombak sang Lembu...

Di atas semua itu, pria tersebut telah ditumbangkan dua kali oleh telapak tangan Sang Raja pada hari ini!

Ia mengantongi seisi pemicu rasional untuk sangat lelah ekstrem.

Benak hatinya mengantongi seisi pemicu untuk goyah.

Namun ia sama sekali tidak demikian!

Encrid berdiri tegap, menggenggam pedang Aker.

Makna sejati dari deretan kata lawannya? Itu sama sekali bukan urusannya!

Sepasang kakinya yang kehilangan tenaga akibat dua sesi duel tanding? hal itu pun bukan urusannya!

Lawannya telah mendengarkan impiannya dan kini mendeklarasikan bakal meremukkannya.

Pria itu secara gamblang menyingkap niat membunuhnya!

Encrid bertindak persis seperti yang selalu dieksekusinya:

Ia memegang pedangnya lalu melancarkan perlawanan!

Ia menambal impian koyaknya persis seperti yang selalu dieksekusinya.

Ia mengambil posisi kuda-kuda bersiap lalu berhadapan lurus melawan musuhnya secara langsung.

Ia melangkah dengan sepasang mata yang terpaku murni pada impiannya, persis seperti yang selalu dieksekusinya.

Ia menyematkan tenaga pada sepasang kakinya dan mengendalikan deru napasnya.

Persis seperti yang selalu dieksekusinya, ia memutuskan untuk hidup di dalam sebuah momen saat kematian tak lagi bermakna apa pun!

Tombak milik Sang Raja mengeksekusi pergerakan!

Dua tanduk menusuk meluncur menuju ke dadanya menggunakan kecepatan yang bahkan memudarkan bayangan sisa keputihan yang samar.

Encrid mengangkat pedang Aker secara diagonal demi menangkis!

Itu adalah sebutir gempuran yang sanggup saja gagal ditangkisnya jika ia didera ketidakberuntungan.

Ting!

Tombak yang mendekat dalam sekejap mata terhenti sewaktu menyerempet mata pedang Aker yang membendung dadanya.

Kemudian, tombak itu menjepit mata pedang di antara dua tanduknya lalu memutarnya ke samping!

Tindakan menghentikan pergerakan adalah sebuah pencapaian yang bahkan jauh lebih mengejutkan dibanding tusukan itu sendiri!

Menusuk secara se-kilat itu, namun sanggup terhenti murni disertai bunyi 'ting', lalu mencoba meremukkan mata pedang dengan menjepitnya di antara sepasang mata tombak!

Krek!

Mata pedang yang terjepit di antara dua tanduk melepaskan jeritan keretakan!

Encrid menggenggam erat pedang yang berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya, bertahan menggunakan teknik Heart of Power dan kekuatan genggaman yang ditempanya di tiap pagi.

Sewaktu mata pedang Encrid tak kunjung patah tak pula terlepas dari tangannya, Sang Raja berkata:

“Tangkislah gempuran ini pula!”

Sang Raja—dipenuhi oleh kelonggaran ketenangan murni—berkata seraya menarik kembali tombaknya lalu memukulkannya keluar kembali!

Di sepasang mata Encrid, tanduk tombak sang Lembu melipatganda menjadi enam!

Tombak yang terbelah menjadi tiga cabang terasa sepenuhnya nyata.

Dan pada kenyataannya memang demikian halnya!

Bagaimanapun kecepatan adalah hal yang relatif.

Di sepasang mata Encrid, ketiga tusukan bercabang tersebut seluruhnya adalah gempuran nyata.

Itu adalah sebuah teknik keajaiban dewa yang diperagakan oleh Sang Raja lewat tusukan dan penarikan tombak secara beruntun kilat!

Tak ada waktu bahkan sekadar untuk melepaskan jeritan perang.

Encrid mengendurkan fisiknya lalu di dalam sekejap memadatkan seisi otot-otot tubuhnya sewaktu ia mengayunkan pedangnya!

Jika ada prajurit yang hadir di lokasi yang sanggup mengenali teknik yang dipadukan ke dalam seni olah pedang Encrid saat ini, pria itu bakal sangat layak untuk menerima pengajaran dari Rua Garne seketika itu juga!

Sabetan pedang—kombinasi dari Preparing Sword dan keajaiban Will of swiftness—berbenturan melawan tanduk tombak sang Lembu.

Tanduk tombak—persis seperti sebelumnya—murni sekadar menyerempet mata pedang lalu menarik diri mundur.

Ting!

Encrid menarik pedang Aker kembali.

Ini adalah waktunya untuk mengatur deru napas.

Entah kenapa, pedang di tangannya serasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.

Tidak, bobot pedang Aker disalurkan lurus ke sepasang lengannya secara jauh lebih kasat mata dibanding kapan pun!

Ia membatin bahwa itu kemungkinan besar lantaran faktor kelelahan fisik.

Sang Raja—alih-alih meluncurkan serangan—membuka suaranya:

“Begitu kamu terbangun pada keajaiban Will, kamu merancang teknik satu per satu, dan sewaktu kamu melompati tingkatan tersebut, kamu bertarung menggunakan Will itu sendiri! Itulah ksatria di jajaran Knights yang kamu ulas.”

Encrid tak mengantongi celah untuk menyahut.

Sang Raja melanjutkan:

“Jika kamu sanggup bertarung menggunakan Will itu sendiri, bukankah kamu membutuhkan senjata yang sepadan?! Konklusi jawabannya teramat kasat mata: tombak sang Lembu adalah senjata semacam itu! Benda yang secara umum disapa oleh mereka sebagai senjata bersurat. Di dalam senjata ini, keajaiban Will milikku tertanam di dalamnya!”

Sewaktu ia berkata, Sang Raja kembali melancarkan sabetan tombaknya!

Teramat tak mungkin untuk menebak kapan pria itu bahkan menarik napasnya!

Encrid mengayunkan pedangnya ke atas kembali.

Ting!

Kali ini pun, mata pedang dan tanduk tombak murni sekadar saling menyerempet satu sama lain.

Encrid bahkan tak sanggup menilai apakah ini adalah momen yang tepat untuk mengeksekusi pergerakan!

Bahkan dengan keajaiban The Eye that Sees One Inch Ahead yang aktif, jalan di hadapannya buram tertutupi seolah-olah oleh kabut tebal!

Ia seharusnya sanggup memproyeksikan pergerakan berikutnya dengan mengawasi pergeseran bahu, perenggangan tumpuan kaki, namun lawannya sama sekali tak mempertontonkan hal-hal tersebut!

Karena itulah halnya berkesan seolah-olah ia sedang berada di tengah-tengah kabut tebal.

Pedang di tangannya serasa kian berat dibanding sebelumnya.

Seolah-olah ada seseorang yang secara terselubung menempelkan sebongkah logam di atasnya di tiap-tiap kali pedang itu berbenturan melawan tombak!

Kabut tebal dan bobot berat tersebut, segalanya terbilang amat mengganggu, namun...

‘Lantas kenapa?!’

Encrid mengacuhkannya, menahan hawa udara di mulutnya, lalu menahan deru napasnya!

Keduanya pipinya mengembung.

Ia bakal mengeksekusi segala hal yang sanggup dilancarkannya!

Persis seperti yang selalu dieksekusinya:

Mata pedang Encrid berkesan seolah sirna dari udara bebas disertai bunyi wuss!

Itu adalah sabetan tusukan yang mengerahkan seluruh hal yang dikantonginya:

Aktivasi keajaiban Will of swiftness.

Sebuah sabetan yang mengerahkan kondisi tanpa napas, Single Point Focus, Heart of Power, dan bahkan keajaiban Sense of Attack!

“Ke mana kamu membatin bakal meluncur melesat?!”

Sang Raja mengulurkan tombaknya, merombak alur lintasan mata pedang Encrid!

Ting!

Suara yang serupa kembali menggelegar bergema.

Encrid menarik kembali pedang yang alur lintasannya baru saja dibelokkan.

Jika murni sekali masih belum cukup, ia bakal mengeksekusinya dua kali, tiga kali, dan jika hal itu pun masih belum cukup, ia bakal mengeksekusinya sepuluh kali!

Jika ia terhenti murni lantaran ada tembok rintangan tanpa batas yang membendung, ia tak akan pernah sanggup melompatinya.

Mata pedang Aker mulai menari di udara bebas, memecah dan meremukkan pancaran cahaya senja!

Sang Raja menepis tiap-tiap sabetan mata pedang tersebut menggunakan tanduk tombak sang Lembu.

Tuk... tuk... Gumpalan awan pekat memuntahkan beberapa helai rintik hujan tipis.

T-t-t-t-ting!

Pedang Aker dan tombak sang Lembu saling bertemu dan berpisah secara tak terhitung kali!

Usai mereka berbenturan dan berpisah dalam kurun waktu yang teramat singkat tersebut, Encrid melangkah terhuyung-huyung mundur ke belakang.

Rintik hujan tipis hinggap di atas mata pedangnya, dan disertai bunyi fiss..., mata pedang itu memuntahkan uap panas!

“Aku benar-benar mutlak wajib membantaimu!” tutur Sang Raja, dan Encrid—meski terhuyung-huyung—tak melonggarkan cengkeramannya pada gagang pedang.

Usai kurun waktu singkat mereka saling menatap tajam sepasang mata:

“Wahai pria kapak, aku tahu kamu berada di belakang sana, jadi tak perlu repot-repot melemparkan apa pun!” seru Sang Raja membuka mulutnya kembali.

“Kepekaan indramu masih teramat kaku, dan jika kamu mengambil jalan yang keliru saat ini, kamu bakal menderita di sisa hidupmu!” lanjut Sang Raja.

“Tampaknya kamu mencoba memangkas jarak pertarungan sewaktu situasi berubah rumit, namun aku sama sekali tak akan mengizinkanmu mengantongi jarak tersebut sejak awal!”

Sang Raja—yang tegakkan tombak sang Lembu—menancapkan gagangnya ke tanah lalu menarik kembali niat membunuhnya.

“Dan aku adalah seorang beastman, dan aku bahkan belum berubah ke wujud sejatiku!”

Seruan pamungkas itu memicu bulu-bulu halus di sekujur kulit semua orang merinding berdiri!

Itu adalah seruan yang diliputi oleh rasa percaya diri yang terlahir bukan dari keangkuhan, melainkan dari pembuktian bertahun-tahun panjang.

Menjelma menjadi seorang raja yang telah hidup dalam kurun waktu amat panjang, kepribadiannya memang sering berubah impulsif sehingga gaya bicaranya serasa tak menentu, namun makna yang terkandung di dalamnya teramat kasat mata.

“Kenapa secara mendadak menghentikannya?” tanya Rua Garne.

Gadis itu pun tadinya sedang mengelus gagang pedang Loop Sword miliknya di satu sisi.

Sang Frokk itu pun berencana menyeruduk masuk jika situasi memburuk!

Sang Raja mengetahuinya namun menyahut seolah-olah tak menyadarinya:

“Ini murni dorongan kehendak impulsifku. Asalruhie!”

“Ya, Junjunganku.”

Sang Raja melemparkan tombak sang Lembu ke belakang.

Asalruhie—yang menangkapnya—mengibaskan tombak yang terasa menyengat panas demi mendinginkan mata tombak tanduk tersebut, lalu melilitnya kembali menggunakan kain.

“Mari meluncur pergi!”

Sang Raja telah mengambil keputusan lalu mulai mengayunkan langkah kakinya.

Itu adalah tindakan yang sama impulsifnya seperti sewaktu ia mendaratkan kaki di tempat ini!

Meski begitu, tak ada seorang pun yang mencoba menghalanginya.

Sewaktu Sang Raja hendak melintasi Encrid—yang berada di ambang pingsan meski tetap berdiri tegap—ia terhenti, membisikkan sesuatu, lalu menepuk bahu Encrid sekali menggunakan telapak tangannya.

Kemudian ia melangkah maju secara gagah.

“Kalau begitu, jika kita mengantongi urusan pekerjaan kembali di masa depan, kita bakal saling bertemu,” tutur Ajudan Asalruhie menoleh ke belakang.

Tak ada seorang pun yang menyahut.

Sepasang mata Asalruhie berbenturan melawan sepasang mata Dunbakel—yang mengawasi dalam kondisi terpaku kaku dari atas dahan pohon.

Ia melayangkan senyuman lembut lalu menarik diri mundur.

Orang-orang di tempat ini seluruhnya adalah sosok yang tadinya sudah bersiap melepaskan gempuran gempur!

Di dekat pintu keluar, Teresa berdiri menggunakan perisainya yang terangkat siaga:

“Selamat jalan,” sahut Asalruhie mengekor Sang Raja keluar persis seperti itu.

* * *

“Kenapa Anda mengeksekusi hal tersebut? Tampaknya mereka bukanlah orang-orang yang bakal meluncur mengabdi ke Benua Timur,” tutur Asalruhie mempercepat irama langkah kakinya, mengekor di belakang Sang Raja yang melangkah gagah.

Ia telah mengabdi mengekor Sang Raja dalam kurun waktu yang teramat panjang.

Ia sempat terperanjat sejenak, namun usai menimbangnya kembali, secara kasar ia memahami niatan sang junjungan.

hal yang dianugerahkan oleh Sang Raja adalah sebutir hadiah!

Termasuk apa yang dibisikkannya di ujung percakapan, ia telah meninggalkan sebutir hadiah untuk Encrid.

“Aku telah menerima sebutir hadiah terlebih dahulu,” sahut sang raja.

“Apakah makna dari ucapan Anda tersebut?” tanya Asalruhie ulang.

Sang raja terkekeh pelan lalu membalas:

“Aku teramat tangguh menggunakan pedang maupun tombak sedari detik pertama aku menggenggam keduanya. Kamu mengetahui hal itu, bukan?”

“Ya, saya mengetahuinya,” sahut Asalruhie.

Beliau adalah seorang raja yang disapa sebagai Sang Raja Tentara Bayaran lantaran karunia bakat alaminya.

Beliau mengantongi bakat fisik alami sekaligus pesona kepribadian yang amat karismatik!

“Terlahir sebagai putra seorang budak, aku membebaskan tak hanya diriku sendiri melainkan pula kedua orang tuaku dari belenggu perbudakan sebelum usiaku menginjak 16 tahun!”

Setelahnya, ia melambungkan namanya lantaran menumbangkan sesosok singa murni menggunakan sebilah tombak tunggal.

“Namun meski demikian...”

Sang Raja menghentikan deretan katanya sejenak.

Hujan singkat sudah merampung tuntas mengering.

Hawa udara terasa dingin namun jernih kasat mata, serupa dengan bentangan angkasa.

Hembusan angin sejuk mengelus permukaan pipinya.

‘Aku sempat membatin bahwa aku mungkin tak akan sanggup mencurahkan seisi hidupku demi penaklukan Benua Timur...’

Sang Raja menelan pemikiran terdalamnya lalu berkata.

Itu adalah harga yang wajib dibayar lantaran terpaan rentang waktu!

Ia sempat melupakan gejolak semangat bertarung yang dikantonginya di masa mudanya dulu.

Ia tadinya membatin bahwa ia membutuhkan orang-orang berbakat alami, namun apakah hal itu benar-benar mutlak diperlukan?! Kenapa ia membatin bahwa ia tak bisa menerjang maju sendirian?! Meski ia sudah mendirikan sebuah kerajaan di Benua Timur, apa alasan pemicu ia membatin bahwa itu semua masih belum cukup?!

Sebab ia telah kehilangan gejolak semangat bertarungnya!

Di dalam kurun waktu singkat—atau mungkin panjang—sekitar sepuluh hari, Sang Raja menyaksikan Encrid dan menyadarinya kembali!

Ia membangkitkan kembali gejolak semangat bertarung yang sempat dilupakannya:

“Kehendak Will yang dipertontonkan oleh seorang keparat yang mengayunkan pedangnya secara kaku justru jauh lebih raksasa dibanding milikku sendiri!”

Asalruhie memiringkan kepalanya lalu secara mendadak melayangkan pertanyaan:

“Apakah Anda meyakini bahwa kawan tersebut bakal menjadi seorang ksatria di jajaran Knights?”

“Aku tak mengetahuinya,” sahut sang raja.

“Itu bukanlah sebuah jalan yang gampang,” tambah Asalruhie.

Asalruhie pun mengantongi sepasang mata.

Pria itu tak akan bisa menjadi seorang ksatria.

Ia tak menyaksikan potensi bakat alami yang mencukupi pada diri Encrid.

Menyimak ucapan sang ajudan, Sang Raja mengulas senyum lalu membuka mulutnya:

“Bakat alaminya memang teramat kerdil! Aku belum pernah menyaksikan seorang keparat yang se-miskin ketangkasan seperti dirinya!”

Dibandingkan orang lain, ia mengantongi hal yang bahkan terlampau memalukan untuk disapa sebagai sebuah bakat alami.

Dari bertarung duel tanding secara langsung dengannya, bakat alami milik musuhnya berada pada tingkatan yang menyedihkan!

Namun meski demikian, Sang Raja membatin bahwa pria itu mutlak bakal menjadi seorang ksatria di jajaran Knights!

“Apakah seseorang sanggup menjadi seorang ksatria murni hanya dengan mengayunkan pedang sepanjang hari?! Ataukah hal itu murni dimungkinkan jika seseorang meluap-luap oleh potensi bakat alami?!”

“Bukankah seseorang membutuhkan keduanya?” sahut Asalruhie.

Kerja keras dan bakat alami—bukankah itu adalah syarat utama yang paling utama?!

Sang Raja berkata menggunakan senyuman yang sama persis.

Ia mengatakannya sewaktu membayangkan sosok pria yang telah membangkitkan kembali apa yang sempat dilupakannya:

“Seorang pria yang membawa impiannya di atas mata pedangnya mutlak bakal sanggup melompati ambang batas kemampuannya!”

Demikianlah sudut pandang yang disaksikan oleh Sang Raja.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.