Eternally Regressing Knight

Bab 428: Daya Kehendak Impian, dan Keajaiban Seorang Ksatria

3021 Kata

Bab 428: Daya Kehendak Impian, dan Keajaiban Seorang Ksatria

Daya kehendak impian, serta keajaiban seorang ksatria di jajaran Knights, kerap kali meremukkan ambang batas nalar pemikiran umum.

Sebagai contoh, persis menyerupai ksatria dari jajaran Knights asal Kerajaan Azpen yang pernah ditemuinya dulu.

Encrid berdiri memegang mata pedangnya di telapak tangan, tenggelam dalam perenungan mendalam:

‘Bagaimana jika aku sanggup menyaksikan sabetan pedang milik ksatria itu di masa lalu? Bagaimana jika aku sanggup memproyeksikannya terlebih dahulu?’

Bahkan jika aku sanggup memproyeksikannya, apakah aku benar-benar bakal bisa menangkisnya?

Jika ada hal yang sama krusialnya dengan menggerakkan fisiknya, maka itu adalah kurun waktu untuk bermeditasi.

Ia tenggelam ke dalam perenungan lalu melukiskan gambaran di rongga pikirannya.

Ksatria dari jajaran Knights asal Kerajaan Azpen muncul di benak, dan alur lintasan mata pedang yang diayunkannya tergambar secara jernih kasat mata.

‘Itu bukanlah sebuah ilmu pedang yang teramat mengagumkan.’

Ia murni sekadar mengayunkannya!

Hanya saja ayunan itu teramat kuat, terlampau kilat.

Sedemikian rupa hingga Encrid bahkan tak sanggup membayangkan cara menangkisnya, tak peduli apa pun.

Lantas, apakah sabetan gempuran dari seorang ksatria di jajaran Knights memang berciri semacam itu?

Disertai oleh kecepatan dan daya gempur yang tak mungkin sanggup ditangkis bahkan jika kamu menyaksikan kedatangannya kasat mata?!

Apakah bakal mengejutkan menyaksikan seorang ksatria bertarung di dalam pertarungan sejati?

Itu adalah seberkas pemikiran liar yang melintas.

* * *

Apakah itu seorang ksatria di jajaran Knights?

Itu adalah sebutan umum bagi eksistensi yang telah meremukkan ambang batas manusia normal.

Sang Raja dari Timur bukanlah seorang ksatria resmi di jajaran Knights, namun ia adalah seorang pria yang mengantongi tingkatan daya kekuatan yang setara.

Ia mempertontonkan kehebatannya tanpa ada penahanan diri.

Bukan berarti ia mempertontonkan seluruh kemampuan yang dikantonginya, namun berada pada tingkatan yang bakal menderakan rasa terperanjat pada siapa pun yang mengawasinya dari jarak dekat.

Seekor troll mengayunkan kapak batu yang dililit erat oleh akar-akar tanaman.

Pergerakan itu terlampau lambat!

Detik saat bahu troll bergeser, sang raja sudah melepaskan tusukan tombaknya!

Bress!

Mata tombak tak sekadar merobek kepala, melainkan memicu kepala itu meledak hancur!

Sebuah tusukan yang diluncurkan disertai daya tenaga raksasa memicu konklusi tersebut terjadi.

Tombak milik sang raja—usai meremukkan satu kepala—bergeser menyapu ke sisi samping.

Disertai bunyi dentuman keras beruntun, kepala troll mana pun yang tersambar oleh gagang ataupun mata tombak hancur berkeping-keping!

Alur alur untuk menumbangkan seekor troll adalah memotong lehernya atau membakar seisi fisiknya hingga abu.

Memotong leher bermakna memutuskan alur hubungan antara fisik tubuh dan kepala.

Meremukkan kepala mengusung dampak yang serupa.

Tombak milik Anu membuktikannya secara nyata:

Menusuk, menebas, menghantam, serta meremukkan!

Pada beberapa pertama kali, ia bergerak seolah sedang memanaskan fisik, namun hanya dalam kurun waktu menarik satu dua helai napas, tusukan tombaknya melesat kian kilat!

Meski demikian, pergerakannya terbang meluncur secara amat akurat, murni menyasar kepala para troll!

Itu seperti burung layang-layang kilat yang mencengkeram ikan dari permukaan air.

Seekor burung layang-layang yang terlahir mengusung bakat alami berburu!

Tak ada sebutir pun kesalahan, tak pula melewatkan apa pun.

Itu adalah sebutir pertunjukan ketangkasan murni bagi Rem yang sedang mengawasinya.

Anu menumbangkan seluruh 20-an ekor troll satu per satu murni dalam sebutir hantaman tunggal!

Darah hitam memercik menyapu pakaiannya, namun untuk sebuah pembantaian seraksasa ini, insiden itu hampir tak menyisakan jejak cela.

Rem—yang membelah kepala tiga ekor troll menggunakan tangannya sendiri—terpaku berdiri menyaksikan dirinya.

Sang raja—Anu—menarik kembali tombaknya lalu menatap Rem, memiringkan kepalanya tanpa disadarinya sendiri:

‘Bukankah di titik ini dia seharusnya terkagum-kagum?’

Biasanya halnya adalah demikian.

Sudah wajar bagi orang-orang untuk memulainya dari rasa terperanjat lalu diakhiri oleh kekaguman mendalam sewaktu menyaksikan keahlian tombaknya.

Namun sepasang mata Rem mempertontonkan pendar kilatan yang teramat tidak sopan!

Ia tampak dipenuhi rasa ketidakpuasan.

“Menyenangkan sekali mengeksekusi semuanya sendirian?” cemooh Rem menggunakan intonasi yang sama persis seperti biasa.

“Tampaknya itu adalah sebuah kalkulasi yang keliru, wahai Junjunganku,” tutur Asalruhie yang mengawasi seraya melangkah mendekat dan berbisik.

Ia menerima tombak tersebut, mengusap bersih mata dan gagangnya, lalu melilitnya kembali menggunakan kain secara hati-hati.

Sang ajudan sudah menebak secara kasar niatan sang raja:

Itu pasti adalah trik demi memicu lawannya terpukau murni dengan memamerkan ketangkasannya yang amat mengagumkan!

Bukankah itu pemicu kenapa ia nekat mengeluarkan senjata keduanya murni untuk menumpas sekumpulan troll sepele?!

Rem tadinya berniat bersungut-sungut namun menghentikan dirinya sendiri.

Jika seseorang berkehendak pamer, bukankah paling bagus untuk biarkan saja ia bertindak demikian?

“Fisik tubuhku bahkan belum memanas, jadi aku bakal mengeksekusi sedikit lebih banyak sebelum pulang. Mari kita melangkah secara terpisah. Terpisah!” tutur Rem lalu melangkah pergi sendirian menggunakan ayunan langkah lebar.

Sikapnya menyiratkan bahwa ia sama sekali tak peduli bahwa ini adalah Pegunungan Pen-Hanil ataupun tempat lainnya.

Bagi Rem, ini adalah reaksi yang amat alami.

Ia tak peduli apakah orang lain didera kebingungan ataupun tidak.

Jika ia sanggup menemukan keajaiban sorcery yang ditinggalkannya di wilayah barat, ia pun sanggup mengeksekusi hal yang baru diperlihatkan oleh Sang Raja dari Timur!

Tak ada hal yang perlu dicemburui.

Eksistensi yang serupa dengan para ksatria di jajaran Knights menggunakan keajaiban Will, dan meski pola yang digunakannya sedikit berbeda, Rem membatin bahwa itu semua pada dasarnya serupa.

“Aku bakal melayangkan satu pertanyaan padamu,” seru sang raja pada Rem yang telah berbalik badan.

“Tanyakan saja,” sahut Rem.

“Kenapa kamu berada di tempat ini? Kenapa kamu menempel di sisi pria tersebut? Apa yang kamu kehendaki hingga kamu menetap di kota perbatasan ini?”

Rem menjawab seolah-olah tak ada keharusan untuk memikirkannya dalam waktu lama:

“Ini menyenangkan.”

Apakah pemicu kenapa ia melarikan diri dari wilayah barat pada awalnya?

Yakni demi menemukan kenikmatan!

Saat ini, kenikmatan bagi Rem adalah mengawasi ke mana arah tujuan Encrid—pria yang telah merayap naik dari dasar terbawah—bakal berlabuh.

Sewaktu ia merenunginya, itu bukanlah sebuah pemicu yang amat agung.

Ia menetap murni lantaran ia memang ingin menetap, lantaran saat ini hal ini terasa menyenangkan!

Suaranya pun berkesan seolah-olah ia bakal meluncur pergi kapan saja jika ada hal yang jauh lebih menyenangkan menyapa.

Sang raja mendengarkan jawaban tersebut lalu mengangguk paham:

“Begitu rupanya.”

Sebuah gestur yang amat sederhana.

Rem melangkah lurus menuju ke area dalam pegunungan.

Sewaktu sang raja merampungkan perburuannya dan kembali meluncur murni bersama ajudannya, sang pria bermata raksasa—yang suaranya amat menjengkelkan—menyambutnya:

“Apakah Anda baru saja mengubur jasad Rem lalu kembali pulang?! Jika memang demikian, keping emas mungkin tak akan cukup untuk menuntaskannya. Anda mutlak membutuhkan setidaknya batangan emas murni...”

“Dia mengatakan bakal bermain sedikit lebih banyak sendirian lalu kembali pulang,” sela sang raja secara ketus lalu melangkah masuk ke dalam.

Audin tertangkap oleh sepasang matanya.

“Kamu adalah Audin, bukan? Kenapa kamu menetap di tempat ini?” tanya sang raja.

“Sang Bapa menitahkan saya untuk mengeksekusinya,” sahut Audin.

“Sang Bapa?”

Tak ada keharusan untuk menggelar percakapan panjang.

Asalruhie berhati-hati agar tak terdengar seraya berbisik pada sang raja:

“Bukankah pria ini adalah seorang fanatik agama?”

Sang raja pun membatin hal yang serupa.

Tak peduli pertanyaan apa yang dilayangkan, satu-satunya balasan murni bahwa ia sedang mengikut dogmatika Sang Bapa, bahwa ini adalah rancangan takdir Sang Bapa.

Sang raja mengangguk lalu memalingkan pandangan matanya.

Ia menyaksikan Ragna yang tertidur lelap.

Dan juga sang setengah-raksasa yang baru saja melintas di depan kompleks barak prajurit.

“Dan kamu, kenapa kamu menetap di tempat ini?” tanya sang raja pada Teresa.

“Saya berhutang nyawa padanya,” sahut Teresa menggunakan vokal suaranya yang khas bernuansa logam namun amat menyenangkan.

Sebuah gestur yang bersih dari kelakar main-main.

Hutang nyawa... itu adalah sesuatu yang tak akan sanggup dibayar oleh orang lain.

“Hasrat milikku adalah mengeksplorasi the unknown. Lihatlah, betapa memikatnya sosok manusia itu! Dia pun tampan menawan, teramat menyenangkan untuk dipandang. Namun Anda sama sekali tidak berciri demikian, bukan?”

Demikianlah konklusi jawaban dari sang Frokk, Rua Garne.

Sang Raja dari Timur mengantongi kebanggaan atas raut wajahnya sendiri, namun memahami standar estetika kaum Frokk, ia murni mengatakan satu hal:

“Apakah sepasang matamu didera cedera?! Tataplah raut wajahku secara presisi sekali lagi! Wahai kamu Frokk yang mengantongi masalah penglihatan!”

“Apakah tak ada cermin di Benua Timur?” balur Rua Garne tanpa melewatkan sekejap pun.

Berikutnya adalah Dunbakel:

“Jika saya melangkah mundur di tempat ini, saya kemungkinan besar bakal menghabiskan sisa hidup saya murni untuk melarikan diri!”

Penawarannya agar gadis itu menjadi putrinya adalah separuh gurauan dan separuh serius.

Ia sanggup menganugerahkan begitu banyak hal jika gadis itu meluncur ke timur, namun Dunbakel menolak seisi penawarannya.

“Kamu menyadari bahwa aku pun seorang beastman, bukan?” tanya sang raja.

“Saya tak membatin ada orang di tempat ini yang tak mengetahuinya, kecuali pria dungu di sebelah sana,” sahut Dunbakel.

Sosok yang dimaksud Dunbakel adalah Squire Ropode.

Lantaran ia sudah berada di lokasi, sang raja melayangkan pertanyaan pada tiap-tiap orang yang tertangkap matanya:

“Saya melangkah ke mari demi meluruskan pendirian diri saya sendiri. Mana mungkin orang seperti saya nekat meluncur ke lokasi lain?!” tutur Ropode yang salah satu matanya bengkak lebam usai dihantam seseorang.

“Saya adalah seorang Shepherds of the Wasteland. Saya murni berada di sini selama kurun waktu singkat demi urusan pekerjaan,” sahut Pell menyembunyikan niatan sejatinya.

Sang Raja dari Timur menangkap pendar semangat bertarung yang tak bisa ditutupi di sepasang mata Pell.

Sepasang mata sang pendoa gembala terarah lurus tak lain pada sosok Encrid!

Bukan pada Ragna ataupun Rem, melainkan murni pada Encrid.

Ini pun tak biasa, namun bukan berarti tak sanggup dipahami secara nalar.

Pria bernama Encrid tersebut mengantongi kualifikasi yang memicu orang-orang berhasrat bertarung dengannya murni hanya lewat menyaksikannya.

Sang raja pun menyadari hal tersebut.

Sang raja pun menyaksikan gadis Elf bernama Shinar datang berkunjung.

Sehingga ia melayangkan pertanyaan padanya:

“Kami terikat ikatan tunangan pernikahan,” sahut sang gadis Elf.

“Dia sedang bergurau,” tegur vokal suara Encrid yang terdengar tepat setelahnya.

Encrid sekali lagi mengatakan bahwa gurauan bangsa Elf teramat sulit untuk dipahami.

Sang raja tak repot-repot mengikis perasan sejati Shinar.

Bahkan tanpa gadis itu mengatakan alasan presisi, jawabannya sudah cukup baginya untuk mengetahui bahwa gadis Elf itu tak akan pernah mengikutinya.

Sang raja menetap selama beberapa hari dan bermukim serta menemui Jaxon pula:

“Aku sanggup menebak secara kasar asal-usulmu. Ketangkasanmu sedemikian rupa hingga sangat adil untuk menyapamu bertingkat Master!”

Berapa banyak manusia yang mengantongi sepasang mata yang sanggup mengenali apa yang disembunyikannya murni hanya lewat sekali pandang?!

Meski demikian, Jaxon sama sekali tak terperanjat.

Segala macam insiden memang kerap berlangsung sewaktu kamu berada di sisi Encrid.

Bukankah ia sendiri saat ini sedang mengeksekusi sesuatu yang tak pernah terbayangkan?!

Kekasihnya pernah mengatakan:

“Aku tak pernah menyadari bahwa kamu bakal berubah se-jauh ini...”

Deretan kata tersebut memicu dirinya merenungi dirinya secara segar kembali.

‘Apakah aku benar-benar telah berubah?’

Ia tak mengetahuinya.

Namun satu hal mutlak pasti:

Jaxon saat ini telah menemukan lokasi tempat ia berteduh, dan ia merasa bahagia atas hal tersebut.

Sehingga jawabannya atas pertanyaan sang raja—Kenapa kamu berada di sini?—sangatlah sederhana:

“Sebab di sinilah tempatku berlabuh.”

Sang raja tak mempertanyakan apa pun lagi.

Usai melayangkan pertanyaan pada tiap-tiap dari mereka, jawaban-jawaban itu seluruhnya bertolak belakang.

Mereka menetap atas pemicu mereka masing-masing, namun pemicu-pemicu itu seluruhnya mengerucut pada satu sosok manusia!

Kemudian pada pagi harinya, Ragna terbangun lalu melangkah keluar.

Ia tak mengeksekusi apa pun di luar tertidur lelap selama lebih dari tiga hari.

Sang raja memalingkan pandangan matanya.

Ragna melangkah keluar menggunakan irama langkah kakinya yang biasa, namun sang raja mengetahui bahwa pria itu baru saja melompati sejenis tembok rintangan!

Bukan berarti ia serta-merta menjadi seorang ksatria di jajaran Knights.

Tak ada seorang pun yang sanggup menjadi seorang ksatria dalam sekejap mata.

Bukan demikian cara seseorang menjadi seorang ksatria!

Itu menuntut kerja keras tanpa kenal menyerah yang ditumpuk di atas karunia bakat alami dari surga.

Sebuah perombakan aura yang murni hanya sanggup dikenalinya di tempat ini...

‘Tidak... bukan murni diriku seorang yang menyadarinya.’

Bagaimanapun bahkan sewaktu ia mempertontonkan ketangkasannya pada pria bernama Rem, pria itu tak terlalu terperanjat.

pertama, pria bernama Rem itulah yang menyadarinya!

Pria yang tak terperanjat bahkan usai menyaksikan ketangkasannya kini sedang menggertakkan gigi rahangnya.

Raut wajahnya dipenuhi oleh sejenis rasa ketidakpuasan mendalam.

Sosok bernama Audin pun serupa.

Pria yang bertahan bahkan sewaktu sang raja membangkitkan pendar auranya kini menatap pada sosok yang baru saja terbangun, tenggelam ke perenungan mendalam, lalu seketika merapalkan doa keagamaan dalam keheningan!

Ia menangkupkan kedua telapak tangannya, membelakangi lokasi, lalu menundukkan kepalanya.

Pandangan mata sang raja beralih menatap Encrid.

‘Sepasang matanya teramat tajam...’

Encrid pun menyadarinya!

Secara mendadak, ia membatin bahwa Encrid adalah seorang pria yang teramat aneh.

Tak peduli berapa kali kamu menumbangkannya, ia bakal bangkit berdiri kembali lalu menerjang maju, persis menyerupai prajurit skeleton abadi yang tak bisa tewas!

Sang raja pun menyadarinya:

Keparat bernama Ragna itu baru saja menyerap sebuah power baru dan sangat kebelet untuk menggunakannya saat ini juga!

Lantaran ia sanggup menyaksikan segalanya secara kasat mata, sang raja berkata:

“Jika kamu mengikutiku, kamu bakal sanggup menggunakan daya power itu sepuas hatimu!”

Sang raja meluncur lurus ke inti hal.

Deretan katanya bagaikan mata tombak yang menembus jantung musuh dalam sekejap!

Deretan kata yang bakal menggoyahkan siapa pun.

Terutama bagi seseorang yang baru saja melompati tembok rintangan, kata-kata itu mutlak bakal menggerakkan benak hatinya.

Sang raja menatap Ragna seraya bersedekap dada.

Pancaran aura dan wibawa alami menyapu menyebar.

Ini adalah atmosfer yang murni hanya sanggup diperagakan oleh sosok yang memang bertindak sebagai raja dari sebuah negara, serta mengantongi daya kekuatan seorang ksatria di jajaran Knights!

“Tak akan ada banyak lokasi saat kamu bisa menggunakan daya kekuatarmu secara bebas lepas. Datanglah ke tempat saat kamu sanggup memuaskan kebebasan serta kehausan jiwamu! Kerajaan ini tak akan pernah sanggup menampung eksistensialisasimu!”

Itu bermakna ia harus meluncur menuju ke dunia yang jauh lebih raksasa ketimbang terperangkap di dalam kerangka Knights Order.

Encrid—yang sedang mengayunkan pedangnya di satu sisi—pun sedang mengawasi Ragna yang telah berubah.

Rem berdiri di sana, begitu pula Audin, Teresa, dan Dunbakel.

Ropode dan Pell tak hadir lantaran mereka sedang mengemban tugas piket siaga.

Ini adalah pemicu dari ketetapan Encrid bahwa tak peduli apa pemicu mereka menetap, mereka tak boleh melompati kewajiban piket siaga mereka!

Bagaimanapun, tatapan mata semua orang di luar kedua pendekar itu tertuju lurus pada Ragna.

Ragna—mengusung ekspresi raut wajah lesu—menyempitkan matanya di bawah pancaran cahaya matahari pagi lalu mengatakan:

“Terlampau merepotkan.”

Ragna mengatakannya secara cukup sopan, namun bertolak belakang dengan intonasinya, isinya sama sekali tidak demikian!

“...Terlampau merepotkan?!”

Sang raja melupakan wibawanya lalu melayangkan pertanyaan ulang.

Ada begitu banyak orang yang mempertontonkan permusuhan, namun ini adalah kali pertama ada sosok yang mengatakan bahwa hal itu terlampau merepotkan!

“Membayangkan perjalanan meluncur ke Benua Timur saja sudah terlampau merepotkan,” tutur Ragna memperjelas niatannya sekali lagi.

Tak peduli se-gemilang apa dirinya dalam menemukan jalan, perjalanan itu bakal memakan waktu lebih dari setengah tahun!

Normalnya itu adalah jarak yang sanggup ditempuh dalam waktu setengah bulan jika seseorang menunggangi kuda unggul tanpa ada istirahat.

Sang raja melepaskan tawa hampa.

Sang ajudan—Asalruhie—mengamati ekspresi raut wajah sang raja, bertanya-tanya apakah beliau bakal mendadak murka.

Beruntung sang raja tak meledak dalam murka, tak pula berkesan sedang meredam amarah:

“Terlampau merepotkan, katanya...” gumam sang raja murni.

Ragna merasa terlampau repot untuk menguraikan segalanya.

Telah ada sebuah pencerahan, dan usai mengarungi proses menyerapnya ke dalam diri, kepekaan indranya berubah tidak selaras.

Demi menyelaraskannya kembali, ia terpaksa harus mandi keringat deras selama beberapa hari.

Di atas semua itu, Ragna sama sekali tak mengantongi niat sedikit pun untuk mengikut Sang Raja dari Timur!

Ucapan bahwa halnya terlampau merepotkan bukanlah sebuah kebohongan, namun...

‘Jika aku wajib menempatkan satu orang manusia di atasku lalu menerima instruksi pesannya...’

‘Bukankah sudah seharusnya sosok itu adalah orang yang membimbingku sejauh ini?!’

Lihatlah pria gila di sebelah sana, yang menatapku menggunakan hawa panas yang memancar dari sepasang matanya!

Jika bukan lantaran pria itu, Jaxon tak akan pernah merasakan stimulasi motivasi apa pun.

Bahkan saat ini, segalanya serasa merepotkan, namun menatap sepasang mata itu, gejolak motivasiku melambung tinggi!

Aku merasa berhasrat untuk tak tertidur selama tiga hari mengayunkan pedangku demi menyelaraskan kepekaan indraku, lalu meremukkan pedangku menghantam pedang ternama Aker!

Sang raja menatap Ragna selama sekejap sebelum memalingkan kepalanya.

“Sudah saatnya bagi kita untuk kembali pulang,” tutur sang ajudan, dan sang raja mengangguk paham, namun ia tak berkesan mengantongi niat untuk meluncur pergi seketika itu juga.

Dan demikianlah, usai suatu hari lainnya berlalu:

Hujan sempat mengguyur tipis tadi malam dan pagi hari ini, dan saat ini sang surya telah membumbung tinggi, membelah gumpalan awan.

Pancaran cahaya matahari terasa lembut, dan hawa udara terbilang sejuk.

Ini adalah hari yang bertolak belakang dibanding hari-hari musim panas lainnya.

Sore hari usai hujan tidaklah lembap tak pula menyengat panas.

Sebuah hari yang sejuk dan jernih.

Di hari yang semacam itu, sang raja ditahan oleh Encrid hingga senja menyapa!

“Apakah kita sanggup melancarkannya sekali lagi?” tanya Encrid.

“Sangat bisa,” sahut sang raja.

Seolah-olah ia tak pernah didera jenuh, ini adalah sebutir duel tanding lainnya.

Sang raja meraih kemenangan dengan menghantam ulu hati Encrid menggunakan sikutnya.

Ia telah menghantam secara amat keras, namun fisik pria bernama Encrid tersebut teramat tangguh.

Itu bermakna ia sanggup menahannya secara gemilang.

Usai duel tanding merampung tuntas, pandangan mata sang raja beralih menatap angkasa.

Sang surya sudah tenggelam, dan dunia senja mulai terhampar kasat mata.

Pendar senja jingga memenuhi gumpalan awan lalu turun menyapu permukaan bumi.

Di tengah pendar senja yang meluntur sirna, sang raja membuka suaranya:

“Menurutmu, apa yang membentang di Benua Timur? Emas murni? Perak? Besi? Harta karun?! Aku tak mengetahuinya. Tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang berada di sana! Itulah hal yang memicu detak jantungku berpacu kencang!”

Di sudut lapangan latihan tempat pendar senja hinggap, sang raja mengatakan impiannya!

Encrid mendengarkan deretan katanya.

Bulu-bulu halus di sekujur fisik Encrid merinding berdiri berulang kali!

Mengikuti deretan kata sang raja, ia bahkan menyaksikan gambaran visi mengeksplorasi tanah teritorial tak dikenal—sebuah reruntuhan kuno yang dari sana apa pun sanggup muncul keluar!

Ia berkata seraya membakar jiwanya persis seperti yang pernah dieksekusi Krang:

“Menaklukkan tanah-tanah baru: itulah pertarunganku! Itulah daya juang perjuanganku! Bagaimana menurutmu?!”

Sang raja melayangkan pertanyaan, diselimuti oleh gejolak antusiasme mendalam.

Siapa pun pasti bakal mabuk oleh antusiasme tersebut!

Itu adalah sebutir pidato yang memicu dirimu berkehendak menyetujui katat-katanya, menghormati tekad kehendaknya, serta memercayai dan mengikutinya!

Sebuah pidato yang disampaikan murni untuk sepasang pendengar tunggal.

Sosok yang disapa sebagai Sang Raja dari Timur mencurahkan seisi gejolak jiwanya!

Encrid menjawab:

“Apakah Anda hafal dengan lirik lagu yang disapa sebagai Ksatria dari Perang yang Telah Usai?”

Persis bagaikan lawannya yang mengatakan impiannya, Encrid pun mengatakan impian miliknya sendiri!

Itu adalah kisah dari sebutir impian yang diawali dari lagu pengembara biasa—sebuah impian yang telah pudar dan koyak, namun tetap digenggamnya erat dan ditambal kembali.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.