Bab 430: Anggota Peleton, Tunangan, dan Penyihir
Sudah berapa lama berlalu sejak pedang di tangannya serasa se-berat ini?
Sekitar satu tahun usai ia pertama kali memegang pedang, benda itu selalu terasa amat berat.
Sekadar beberapa sabetan ayunan dari bilah besi berat bakal memicu otot-otot tangannya gemetar hebat, dan rasa sakit menyengat bakal bersarang sepanjang hari di kulit antara ibu jari dan jari telunjuknya.
Itu adalah masa-masa sewaktu pedang kayu sekalipun serasa teramat berat!
Dan saat ini, halnya berlipat-lipat kali jauh lebih sulit dibanding kurun waktu tersebut.
‘Berat...’
Rasanya seolah-olah puluhan pemberat besi diikatkan pada mata pedang!
Jika ia melonggarkan cengkeramannya walau sedikit saja, mata pedang itu terkesan bakal jatuh terperosok menghantam tanah.
Otot-otot di kedua lengannya gemetar hebat.
Ini adalah hal yang tak terbayangkan!
Usai seisi latihan kerasnya bersama Audin, ia jarang sekali merasakan daya kekuatan fisiknya tidak mencukupi.
Namun saat ini, tak ada waktu untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
Ia begitu terfokus menahan bobot pedang hingga tak ada pemikiran lain yang sanggup merayap masuk ke dalam benaknya.
‘Teramat berat...’
Ia merasa seolah bakal menjatuhkan pedang di tangannya kapan saja.
Bahkan mengangkat ujung mata pedang sedikit saja terasa se-menyiksa seperti melintasi pegunungan di tengah musim dingin membeku murni menggunakan raga telanjang!
Hujan yang sempat membasahinya sudah lama menguap akibat hawa panas pertarungan, namun tak lama kemudian, peluh keringat mulai memancur deras, dan sekujur fisik Encrid secara kilat basah kuyup kembali!
Keringat menetes dalam alir-aliran.
Bulir-bulir keringat meluncur turun di dagunya lalu melompat menghantam permukaan tanah tanpa ada henti.
‘Ini terlampau berat...’
Jika dibiarkan dalam kondisi ini, ia secara alami bakal menjatuhkan pedangnya.
Sebuah keajaiban ia sanggup bertarung sedemikian lama seraya menggenggam sesuatu yang se-berat ini!
Ia tak mengantongi sekejap pun waktu untuk mengatur deru napas yang membumbung tinggi di dadanya.
Ia menderita terengah-engah seolah-olah ia telah berlari sepanjang hari tanpa istirahat.
Keringat mengalir makin deras, membasahi sekujur tubuhnya.
Seolah-olah ia baru saja melangkah keluar dari bak mandi dalam kondisi berpakaian utuh!
Namun meski demikian, bagian paling menyiksa murni tetap sebongkah besi di tangannya.
Pedang ternama Aker—yang tadinya begitu pas dan presisi di tangannya—kini serasa bagaikan seekor ular yang menggeliat berusaha melarikan diri dari cengkeramannya!
‘Kenapa benda ini se-berat ini?!’
Ia tak mengetahui pemicunya.
Ia murni sekadar memukul mata tombak milik lawannya.
Sekitar saat itulah Anu melangkah mendekati Encrid—yang sedang mencurahkan daya tahan stamina dan energi jiwanya murni demi bertahan—lalu berbisik padanya.
Kurun waktu yang dirasakan Encrid saat menggenggam pedang serasa amat panjang, namun pada kenyataannya itu murni sekadar sekejap mata.
Murni sebatas waktu yang mencukupi untuk bertukar beberapa kata:
“Apakah kamu sanggup melompati bobot berat ini? Tombak sang Lembu adalah sosok yang amat menyukai melimpahkan bebannya pada orang lain.”
Encrid tak sanggup memahami seisi makna di balik kata-kata pria itu, namun ia menyadari satu hal.
“Jika kamu melepaskannya, maka di situlah ambang batas kemampuanmu. Kalau begitu, bahkan dalam kematian sekalipun, kamu tak akan pernah sanggup mencapai hal yang kamu dambakan!”
berkata bahwa seseorang mutlak wajib tewas bermakna orang tersebut wajib berlari disertai kematian di sisinya.
Bahkan tanpa mendengarkan deretan kata sang raja, Encrid sudah merasakannya terlebih dahulu.
Ia tak boleh melonggarkan apa yang berada di tangannya!
Murni satu hal yang pasti:
Encrid sempat membatin ia bisa saja menjatuhkan pedang di tangannya, namun sebaliknya, ia pun mengetahui ia tak akan pernah melancarkannya.
‘Jika aku nekat melepaskannya murni lantaran ini terasa berat...’
Sedari awal ia tak akan pernah bisa mengayunkan sebutir langkah menuju ke impian tak mungkin miliknya!
“Apakah kamu berkehendak menjadi seorang ksatria di jajaran Knights?! Kalau begitu saksikanlah begitu banyak hal, rasakanlah begitu banyak pengalaman, lalu tumpuklah segalanya di atas dirimu. Seluruh hal itu bakal membantumu di jalanmu!”
Sang raja terus berkata kata.
Deretan katanya terbilang samar.
Setidaknya demikianlah suaranya di telinga Encrid saat ini.
Namun intonasi vokal Anu murni dipenuhi oleh niat baik mendalam.
“Jika kamu tak melupakan hal yang dibawa oleh pedangmu, maka jalan bakal terbuka lebar.”
Deretan kata singkat tersebut bersarang di benak pikiran Encrid.
Deretan kata itu tetap bertahan bahkan sewaktu peluh keringat memancur deras dan ujung mata pedangnya bergetar goyah.
“Aku berhutang padamu,” tutur sang raja.
Usai memberikan tepukan terakhir di bahunya, sang raja melangkah pergi.
Encrid menyaksikan ujung mata pedangnya terkulai sedikit di batas pandangannya.
Keajaiban Will of rejection, Heart of Power, Heart of the Beast, Single Point Focus, keahlian Sensory Skill, dan bahkan raga tubuh yang ditempa oleh Technique of Isolation...
Mengerahkan seluruh hal yang dimilikinya sama sekali tak membantu untuk menggenggam pedang ini saat ini!
Tombak sang Lembu milik sang raja memicu senjata di tangan lawannya terasa jauh lebih berat dibanding kapan pun.
Itu adalah sebuah keajaiban yang dipahat oleh Will.
Encrid menyadarinya, namun meski demikian, ia menegakkan ujung mata pedangnya!
Murni lantaran semua hal yang dipelajarinya tak berguna bukan berarti tekad Will yang ditancapkannya di dalam dirinya bakal retak hancur.
Jika ia berkehendak menyerah pasrah, sedari awal ia tak akan memulainya!
Ujung mata pedang merayap tegak naik secara perlahan.
Pada akhirnya, sewaktu Encrid menegakkan pedangnya secara presisi, ia secara sekejap melupakan bobot beratnya.
Bobot berat yang dilimpahkan oleh tombak sang Lembu milik sang raja telah meluntur sirna!
Baru pada detik itulah Encrid menyadari bahwa telapak tangannya telah robek merobek, untuk kali pertama dalam waktu yang teramat panjang.
Cairan merah merayap menetes dari telapak tangan yang menggenggam pedang.
Lilitan kulit yang membungkus gagang Aker basah kuyup oleh darah, warnanya berubah kusam.
Itu adalah luka dari sewaktu tanduk sang Lembu pertama menjepit mata pedang Aker, memutarnya dan berusaha melucutinya dari tangannya, dan ia berhasil menahannya!
Hal itu sanggup disapa sebagai harga yang wajib dibayar demi bertahan dari upaya seorang ksatria di jajaran Knights yang berusaha melucuti senjatanya.
Sewaktu ia menyadari hal tersebut, Encrid terhuyung-huyung lalu tumbang roboh.
“Betapa dungunya,” desis vokal suara seseorang sewaktu menyambar raga tubuhnya.
Itu adalah suara Esther!
Disertai hal tersebut, Encrid kehilangan kesadarannya.
* * *
Encrid mengarungi sebutir mimpi.
Apakah ia harus menyapanya kurun waktu yang panjang? Itu bukanlah mimpi bersama Sang Ferryman, melainkan sebuah mimpi sejati.
“Kamu membatin kamu sanggup mencari makan menggunakan pedang?! Urungkan niatmu! Kamu bakal tewas di usia muda!”
“Bahkan para keparat berbakat alami sekalipun teramat sulit bertahan hidup melampaui usia 50 tahun di bisnis tentara bayaran!”
Ini adalah kurun waktu sebelum ia bahkan secara resmi berkata impiannya.
Ini adalah deretan kata yang ditinggalkan oleh orang-orang yang menginstruksikannya untuk membuang perahu kecil yang bakal digunakannya mengarungi lautan impiannya.
Perahu kecil itu mengantongi lubang di dasarnya.
Kamu tak akan bisa melaju maju!
Dayung milikmu sudah patah dan lapuk.
Kamu pun tak akan bisa melaju maju!
Perahu yang kamu naiki terbuat dari dedaunan gugur.
Kamu tak bisa melaut ke lautan luas menggunakan benda semacam itu! Benda itu bakal tenggelam bahkan di atas danau ataupun sungai.
Jadi, kamu tak akan pernah bisa melaju maju!
Semua orang berkata kisah yang sama persis.
Di luar para anggota peletonnya, Encrid murni hanya pernah menyaksikan dua sosok manusia lainnya yang mendengarkan impiannya secara serius dan melepaskan reaksi.
Bukan pula Frokk Rua Garne.
Gadis itu tadinya menilai bahwa Encrid tak akan sukses dan murni merasakan sensasi keajaiban sewaktu menyaksikan Encrid mencapainya.
‘Krang...’
Salah satunya adalah temannya yang bertahta di atas takhta Naurilia.
Ia berkata bahwa ia telah menemukan jalannya sendiri usai mendengarkan impian Encrid.
Dan sosok lainnya adalah Sang Raja dari Timur.
Meski murni dalam kurun waktu singkat, Encrid sanggup mengasah hal yang dimilikinya melalui duel tanding bersamanya.
yang aneh adalah, ia tadinya memperkirakan bakal mendengarkan berulang kali bahwa ia tak mengantongi bakat alami sewaktu berduel tanding, namun Sang Raja dari Timur tak pernah berkata hal semacam itu!
Dulu sewaktu ia belum mengantongi ketangkasan untuk menundukkan musuh-musuhnya seperti saat ini, sebagian besar orang yang mendatangi dirinya usai mendengarkan impiannya sibuk mendiskusikan potensi bakat alaminya.
Mata mereka tak bisa melancarkan hal itu saat ini lantaran seni olah pedang Encrid sudah membumbung tinggi di atas mereka.
Namun sang raja adalah seorang pria dari takhta dan ketangkasan saat ia sanggup berkata secara gampang bahwa Encrid tak mengantongi bakat alami.
Ia bisa saja meratapi ketiadaan bakat alaminya atau terperanjat oleh hal tersebut, namun ia terbilang amat tenang.
Sebagai gantinya, sebelum pergi, ia telah berkata: ‘Jangan lupakan hal yang dibawa oleh pedangmu, dan menerjang majulah! jalan bakal terbuka lebar.’
Itu adalah dorongan semangat sekaligus sebutir keyakinan mendalam!
Encrid mengacuhkan seisi kata-kata dari mereka yang bahkan tak sudi mempertontonkan raut wajah dari balik tirai terselubung!
Perahu kecil dari dedaunan gugur dan dayung dari tangkai lapuk kini telah menjadi sebuah kapal caravel kokoh dari kayu ek pilihan yang tak sanggup ditembus air, dan dayung dari tangkai lapuk telah menjadi sebilah dayung dari papan kayu tebal yang diketam secara halus!
Mengusung perahu dan dayungnya, Encrid menyaksikan papan petunjuk jalan dan alur lintasannya.
‘apa yang mutlak wajib kuelakkan demi menjadi seorang ksatria di jajaran Knights?’
Sekelilingnya mengabur sirna, dan ksatria dari jajaran Knights asal Kerajaan Azpen muncul kasat mata:
“Tangkislah sabetannya murni sekali, dan aku bakal membiarkanmu hidup!”
Apakah ksatria itu berkata kata-kata itu? Rasanya tidak demikian, namun ini adalah sebutir mimpi.
Kata-kata musuh tidaklah krusial, maknanyalah yang utama:
Yakni ia murni wajib menangkisnya sekali!
Ksatria Azpen mengayunkan pedangnya.
Itu adalah pedang bertumpukan kecepatan murni dan daya tenaga raksasa.
Lantaran menangkisnya terbilang tidak mungkin, Encrid memilih melepaskan gempuran terlebih dahulu.
Ksatria itu menarik diri mundur demi menjaga kebanggaan kehormatannya.
Encrid menjadikan sabetan gempuran tersebut sebagai standar lalu mengasah berbagai teknik—seperti sabetan ke bawah, tusukan, dan tebasan ayunan!
Setelahnya, Encrid pun menyaksikan berbagai teknik yang dipamerkan oleh tombak sang Lembu milik Anu.
Sang Raja dari Timur mempertontonkan seni olah menggunakan keajaiban Will padanya.
Jika ia berkehendak, ia sanggup saja membantai orang seperti Encrid dalam sekejap mata.
Encrid tak mengantongi niat untuk tewas secara gampang dan bakal melepaskan perlawanan hingga detik pamungkas, namun itulah kenyataan realitanya.
Ia sudah lama melupakan tentang hari berulang yang menyapa bersama kematian.
“Keparat ini...” cemooh Sang Ferryman merobek sudut mimpi lalu menerobos masuk.
Ia pun merupakan bagian dari mimpi tersebut.
Encrid mengacuhkan Sang Ferryman lalu tenggelam ke dalam perenungan, meraih sebuah pencerahan kecil.
Itu adalah sebuah papan petunjuk jalan—betapa pun samarnya—yang memperlihatkan jalan padanya:
‘Mereka bertolak belakang...’
jalan yang diarungi oleh Sang Raja dari Timur bertolak belakang dibanding ksatria dari Azpen, dan lintasan teknik-teknik mereka bertolak belakang secara kasat mata.
Kedua eksistensi tersebut terbilang amat berbeda.
Teramat sangat berbeda!
Di penghujung perenungan tersebut, Encrid membuka sepasang matanya.
Ia merasakan rasa nyeri tumpul di sekujur fisiknya, dan telapak tangannya berdenyut-denyut.
Sewaktu ia mengangkat tangannya, ia menyaksikan tangannya terbalut erat oleh perban kain.
Ia sanggup menyaksikan suasana remang di luar dan pancaran lampu minyak, dan ia pun menyaksikan seseorang duduk di atas kursi tepat di samping tempat tidur.
“Shinar?”
“Kamu telah memanggil namaku, jadi saat ini yang perlu kita eksekusi murni menggelar upacara pernikahan,” tutur gadis Elf itu.
Gurauan bergaya bangsa Elf mengiang di telinganya.
Alih-alih tertawa, Encrid melayangkan pertanyaan.
Teramat sulit untuk tertawa secara gampang pada gurauan bangsa Elf!
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Encrid.
“Mengkagumi,” sahut Shinar.
Tak ada keharusan untuk mempertanyakan apa yang sedang dikaguminya.
Gadis itu sedang menatapnya seraya menyilangkan satu kakinya, sikut tangannya bertumpu di atas lutut dan dagunya ditopang oleh telapak tangannya.
“Kamu bertarung murni karena urusan sepele lalu mendadak ambruk,” lanjut Shinar.
Encrid mengibaskan bahunya seolah-olah hal itu bukan masalah besar.
“Sewaktu kamu bangkit berdiri, aku bakal sanggup memperlihatkan sesuatu yang amat menarik padamu.”
“Apa yang sedang kamu bicarakan?” tanya Encrid.
Dari posisi terduduknya, Shinar mempertontonkan sebuah ukiran senyum samar yang tak pernah diperlihatkannya pada siapa pun sebelumnya.
Bersamaan dengan ukiran senyum tersebut:
Usai meluruskan kakinya dan menurunkan lengannya, gadis Elf itu menghunus pedangnya lalu melepaskan tusukan!
Itu adalah kecepatan dan sudut tebasan yang tidak mungkin sanggup dipahami oleh nalar manusia!
Pedang Naidel menembus jantung Encrid dari luar jangkauan persepsinya!
Encrid merasa seolah ia harus memuntahkan darah segar.
Seisi otot di fisiknya memadat tegang, memicu dirinya melupakan rasa nyeri otot secara sekejap.
Kematian membentang tepat di hadapan matanya.
Apakah ia bakal memejamkan mata lalu tewas persis seperti ini?! Sama sekali tidak!
“Bagaimana kesan rasanya?” tanya Shinar.
Disertai deretan kata Shinar, pedang yang menembus jantungnya sirna bagaikan butiran pasir!
Segala hal yang dilakukannya murni meluruskan kakinya dan duduk seraya kedua lengannya menggantung rileks.
Itu seluruhnya adalah sebuah ilusi!
Tidak, itu adalah kenyataan realita yang sanggup saja berlangsung, yang dipertontonkan oleh aura miliknya!
“hal ini adalah...?”
“Apakah kamu membatin aku meninggalkan sisimu dalam kurun waktu se-panjang ini tanpa ada alasan pemicu?” sahut Shinar.
Meski didera gurauan sang Elf, Encrid secara kilat menyadari beberapa hal:
Usai mengarungi daya kekuatan seorang ksatria di jajaran Knights sebanyak dua kali, kini jauh lebih gampang untuk memahaminya!
Hal yang baru saja diperlihatkan oleh Shinar padanya adalah daya kekuatan seorang ksatria di jajaran Knights!
Sang macan tutul hitam—yang mengawasi dari sisi samping—melangkah mendekat lalu menyusup nyaman ke dalam dekapan lengan Encrid.
Benda itu berkesan seolah melepaskan protes, berkata pada Shinar bahwa itu sudah cukup dan meminta gadis itu mundur!
“Aku bakal menantimu pulih sepenuhnya,” tutur Shinar.
Detak jantung Encrid berpacu kencang!
Ia berkehendak mengacuhkan rasa nyeri otot yang menyiksa fisiknya, bangkit berdiri, lalu menyambar pedangnya!
Hasrat untuk berhadapan melawan pedang sejati Shinar membumbung tinggi di dalam dirinya.
Puk!
Esther menepuk dada Encrid menggunakan cakar depannya.
Tindakan itu berkesan seolah menginstruksikannya untuk bersabar.
“Aku mengetahuinya,” sahut Encrid.
Ia pun menyadarinya.
Dalam kondisi fisik semacam ini, ia tak akan bisa bertarung secara benar.
Berduel tanding pun tidak dimungkinkan.
Sehingga memang benar untuk menahan diri!
Sebagai gantinya, ia bakal berfokus pada pemulihan fisik, dan begitu ia sanggup berdiri tegap dan memegang pedangnya, ia bakal menarik Shinar lalu mengayunkan mata pedangnya!
“Bagaimana kesan rasanya? Tunanganmu ini,” tanya Shinar—ukiran senyumnya kini meluntur sirna—dan Encrid tak mengantongi pilihan di luar menjawab:
“Paling luar biasa hebat.”
“Baguslah jika kamu menyadarinya,” sahut Shinar.
Gadis Elf itu bangkit berdiri secara hening.
Mengusung pergerakan yang tetap samar dari kehadiran, ia melangkah menuju ke luar barak.
Keretakan engsel pintu mengumumkan kepergiannya.
“Tak tidur? Kamu pingsan lalu mendadak memicu keributan begitu terbangun,” cemooh Rem.
“Ugh, hal apa ini? Sudah lama aku tak tertidur di dalam barak,” desah Krais.
“Berdóalah! Maka proses pemulihanmu bakal berlangsung amat kilat!” tutur Audin.
Krrroooh...
Rem, Krais, dan Audin berkata kata, dan suara pamungkas murni dengkuran Ragna.
Ragna adalah seseorang yang tak akan pernah mendengkur kecuali jika ia sangat lelah ekstrem, namun entah kenapa ia menyajikan dengkuran alih-alih lagu pengantar tidur!
“Sudah berapa lama aku pingsan?” tanya Encrid.
“Tepat setengah hari,” sahut Rem.
“Anda harus memanjakan diri dengan tidur lebih banyak! Anda tak boleh mengacuhkan sinyal bahaya yang dipancarkan oleh fisik raga Anda, Kawan. Karena itulah silakan tidur dan tenangkan diri Anda!” tambah Audin memberikan dukungan.
Puk! Esther kembali menepuk dadanya menggunakan cakar.
Itu bermakna ia harus beristirahat.
hal itu tidaklah keliru.
Encrid merenungkannya sewaktu ia memejamkan sepasang matanya.
Rasanya ia bakal sanggup tertidur lelap secara amat kilat.
Rasa kantuk menyapu membelainya.
Ia merasakan Jaxon—yang mengawasi secara hening dari sisi samping—menempatkan sebuah wadah salep kecil di samping tempat tidur:
“Obat,” tutur Jaxon lalu kembali melangkah ke posisinya semula.
Encrid bertanya-tanya pemicu apa yang memboyong Jaxon kembali ke barak pada hari ini.
Dunbakel, Teresa, Pell, dan Ropode mengantongi tempat tinggal yang berbeda, namun keempat pendekar tersebut berdiri tegap di depan kompleks barak seolah-olah sedang mengemban tugas siaga menjaga.
Tanpa menyadari hal tersebut, Encrid kembali terlelap tidur.
* * *
Usai bergabung bersama Penjaga Perbatasan, Esther kerap pergi meninggalkan barak.
Jika Encrid menyematkan kepekaan perhatian lebih besar, ia mungkin bakal menyadarinya, namun pria itu tenggelam sepenuhnya dalam mengayunkan pedang miliknya.
Seseorang sanggup berkata bahwa hal itu persis menyerupai biasanya.
Dan demikianlah, Esther melanglang buana menyusuri Sungai Pen-Hanil serta danau-danau, pegunungan, dan hutan-hutan di sekitarnya.
Hal ini dilakukan demi memulihkan alam sorcery yang sempat mengalami kerusakan sewaktu bertarung menumbangkan sang count.
Sewaktu ia melakukannya, ia pun mengutak-atik sosok Bonehead yang didapatkannya, serta mencoba memanggil beberapa spirit ghaib yang pernah terikat ikatan kontrak dengannya di masa lalu.
“Wahai ghoul, apakah aku berkesan menyerupai mangsa di sepasang matamu?!” gertak Esther.
Ia pun berpapasan melawan kawanan ghoul beberapa kali.
Menara-menara pengawas dan langkah pengamanan lokal yang didorong oleh Krais pun mengusung kekurangan berupa memicu monster-monster yang tadinya tersebar untuk berkumpul menjadi satu.
Monster-monster yang bergerak dalam jumlah kerdil tak lagi sanggup bertahan hidup, sehingga teramat alami bagi mereka yang mengantongi naluri bertahan hidup untuk bersekutu membentuk kawanan!
Ini adalah salah satu kawanan ghoul semacam itu.
Sesosok monster yang sebelumnya tak akan pernah berani bertatapan mata dengannya kini secara tanpa rasa takut mempertontonkan taring-taring giginya yang buruk rupa.
Meskipun Esther tidak mempelajari keajaiban necromancy, tak akan sulit baginya untuk menjadikan beberapa ekor ghoul semacam ini sebagai familiar, namun tak ada keharusan untuk melakukannya.
Pada kenyataannya, itu adalah hal yang tak boleh dilancarkannya!
‘Hal itu bukannya menaikkan standarku, melainkan justru memerosotkannya!’
Begitu pemikiran tersebut melintas, Esther memanggil pendar kobaran api menggunakan sebutir gestur tangan lalu memanggang enam ekor ghoul tersebut hingga hangus!
Groooaar!
Para ghoul—yang fisiknya dilalap kobaran api sewaktu tewas—segera menjadi sebongkah daging hangus yang berbau busuk menyengat.
‘Aku sendiri bekerja teramat keras...’
Esther mengetahui pemicunya.
Pria di sisinya terus-menerus berjuang dan menerjang maju!
Ia menyadari bahwa berdiri berteduh di sisi sosok manusia semacam itu terbilang amat sulit jika murni mengusung tekad kehendak setengah-setengah.
‘Jika aku terhenti murni pada memulihkan kekuatan masalalku, maka sebutan Witch of Conflict bakal menangis meratapi!’
Karena itulah, ia pun harus melangkah maju kian jauh!
Dan terdapat sebuah peluang yang amat gemilang.
Jika ia melanglang buana memburu reruntuhan terselubung atau monster-monster di kedalaman Pegunungan Pen-Hanil, mengasah hal yang dimilikinya, ia yakin bakal memetik sebuah pencerahan mendalam.
Jika Ragna adalah seorang genius seni olah pedang, maka Esther adalah seorang genius keajaiban sihir!
Gadis itu mengetahui jalan yang mutlak wajib ditempuhnya, dan sanggup membedakan apa hal yang krusial serta apa yang tidak pada detik pertama ia menyaksikannya.
Ia pun mengetahui ia sanggup menerjang maju kian jauh menggunakan hal tersebut.
‘Ah, pria dungu itu...’
Esther bergumam di dalam batin sewaktu mengingat kembali Encrid yang tumbang pingsan di hadapan pria yang disapa sebagai Sang Raja dari Timur.
Encrid mutlak bakal menerjang maju kian jauh!
Teramat kasat mata bahwa ia bakal terus-menerus terjerat bersama demon-demon setengah matang ataupun penyihir-penyihir gila seperti sang count.
Sebab itulah jalan yang ditempuhnya!
Ia yang bakal menyapu bersih mereka yang menggunakan sihir demi melancarkan trik-trik kotor di hadapan Encrid di jalan tersebut!
Lewat cara ini, Esther berusaha memuaskan harga diri kebanggaannya murni dengan membuktikan eksistensi dirinya.
Eksistensi sosok agung Witch of Conflict sendiri telah mempercayakan raga tubuhnya pada Encrid, namun ia sama sekali tak berguna?!
‘hal itu adalah hal yang tak akan pernah bisa kuizinkan!’
Ini adalah masalah nilai keabstrakan eksistensi dirinya!
Sewaktu melakukan hal tersebut, Esther pun bertanya-tanya apakah Encrid sanggup meraih apa yang didambakannya.
jalan macam apa yang sedang ditempuh oleh pria itu? Di mana alur itu bakal bermuara? Ini adalah hal-hal yang tak pernah dipertanyakan oleh dirinya sewaktu mengawasi Sang Raja dari Timur.
Insiden ini berlangsung usai Esther mengasah sihirnya sewaktu melintas keluar masuk dari pegunungan dan telah memilah hal-hal berguna dari enam mazhab sihir yang dipelajarinya di menara sihir sewaktu masih kecil.
Dalam jalan kembali menuju peleton, sesosok prajurit menarik perhatian matanya.
Ia tak mengetahui nama prajurit tersebut.
Namun prajurit itu sedang mengocok dadu dan—tanpa disadarinya sendiri—menggerakkan mana!
Itu adalah bakat alami sihir mendalam.
Esther tadinya berniat melintas secara acuh tak acuh, namun ia merombak pikirannya lalu melangkah mendekati prajurit tersebut.
“Kamu bakal mengikutiku,” tutur Esther.
Rasa tertarik? Bukan.
Ini murni demi dirinya sendiri.
‘Terdapat hal-hal yang sanggup dipelajari murni lewat mengajar.’
Deretan kata gurunya pernah berkata demikian, dan pengalamannya sendiri mengonfirmasinya!
Karena itulah.
Prajurit yang dimaksud—sang penjudi nomor satu di Penjaga Perbatasan—murni sanggup mengedipkan matanya penuh kebingungan:
“Hah?”
“Jika kamu tak sudi datang, aku bakal menganugerahkan penderitaan yang jauh lebih buruk dibanding kematian pada dirimu,” ancam Esther.
Esther bertindak persis seperti yang selalu dilakukannya, dan sang prajurit—mengetahui bahwa musuhnya adalah sang penyihir wanita yang dijuluki kekasih Encrid—tak memberikan perlawanan yang sia-sia.
Perombakan penugasan sesosok prajurit tunggal adalah urusan pekerjaan bagi Graham—sosok yang memang secara de facto memegang komando pasukan Penjaga Perbatasan—demi diselesaikan.
Dan Komandan Batalyon Graham memang merampungkannya lewat pola semacam itu:
“Sesosok prajurit? Seorang Komandan Regu? Dia memboyong satu prajurit berpangkat rendah?! Biarkan saja, dia yang bakal mengurusnya sendiri!”
Demikianlah deretan kata sang komandan batalyon sewaktu mendengarkan bahwa Esther—sang macan tutul hitam—telah memboyong seorang prajurit.











