Eternally Regressing Knight

Bab 414: Sang Demon Slayer, Pahlawan Penyelamat Negara, Pelindung Penjaga Perbatasan, Sahabat Raja, yang Bermimpi Menjadi Ksatria Bebas

2596 Kata

Bab 414: Sang Demon Slayer, Pahlawan Penyelamat Negara, Pelindung Penjaga Perbatasan, Sahabat Raja, yang Bermimpi Menjadi Ksatria Bebas

“Pesta perayaan? Suruh mereka memfungsikan waktu itu untuk menyelesaikan satu dokumen lagi!”

Takhta seperti apa sebenarnya takhta kerajaan itu?

Apa sejatinya makna sebutir mahkota?

Kini, Krang sanggup menjawab pertanyaan itu dengan kepastian mutlak:

‘Ini adalah kursi paling sempurna untuk tewas akibat kerja paksa berlebihan.’

Tumpukan pekerjaan begitu menggunung.

Begitu banyaknya.

Cukup untuk membuat tempurung kepalanya meledak jika ia nekat menanganinya sendirian.

Meski begitu, semua urusan itu wajib dituntaskan.

Krang memangkas waktu tidurnya, dan alhasil menyusahkan koki istana kerajaan.

“Bukankah Anda harus menyantap makanan dengan benar?” tegur Marcus dari samping.

Mengunyah sepotong sandwich, Krang membelalakkan matanya menatap Marcus.

Ia berucap lewat pandangan mata ketimbang melalui mulutnya:

‘Dengan tumpukan dokumen setinggi ini, kamu menyuruhku santai menyalakan lilin, memegang pisau dan garpu, memotong daging, lalu membuang waktu mengobrol bersama para bangsawan?!’

“...Lupakan saja.”

Marcus menyaksikan sisi baru dari sosok Krang.

Pria ini benar-benar seorang gila kerja.

Tentu saja, ia pasti memiliki alasan kuat di balik aksinya.

Meski begitu, hal yang wajib disampaikan tetap harus dilontarkan.

“Beberapa bangsawan sedang mencoba mendekati Encrid,” tutur Marcus.

Krang, yang tadinya tenggelam di balik tumpukan dokumen dengan sandwich tersumbat di mulutnya, mendongakkan kepalanya kembali.

Marcus melanjutkan kalimatnya dengan tenang:

“Tampaknya mereka berniat menarik sang pahlawan penyelamat negara ke kubu mereka.”

Bahkan usai memangkas sebanyak mungkin bangsawan busuk, berapa banyak bangsawan yang masih tersisa di ibu kota?

Jumlahnya mencapai jauh di atas seratus orang, berdasarkan kalkulasi kasar.

Apalagi jika memperhitungkan bangsawan yang bermarkas di wilayah-wilayah lain?

Tak semua dari mereka dianugerahi otak cerdas dan tanggap situasi.

Pasti ada saja bangsawan yang walau setia, berusaha menuntut bagian kekuasaan begitu perang saudara tuntas.

Dan di antara mereka, apa opsi terbaik demi mengklaim porsi terbesar?

Mendapatkan sang pahlawan penyelamat negara—pria yang disapa sebagai sahabat oleh sang raja sendiri, sosok yang diberi kesempatan bicara saat upacara penobatan peringatan!

Bagaimana jika mereka sanggup membawa orang sehebat itu ke wilayah kekuasaan mereka? Bagaimana jika menempatkannya di bawah komando faksi mereka? Apalagi status afiliasi pria itu terbilang sangat samar.

Ia murni hanyalah seorang komandan kompi biasa di Penjaga Perbatasan.

Maka para bangsawan itu akan memfungsikan segala trik yang ada, dimulai dari bujuk rayu emas dan kekuasaan.

“Manusia selalu bisa berubah,” tambah Marcus.

Krang menelan gigitan sandwich-nya lalu menatap mata Marcus sejenak.

Kedua pria itu—yang sama-sama memiliki lingkaran hitam tebal di bawah mata mereka—saling bertatapan lalu mendadak meledak tertawa di saat bersamaan.

“Hahaha!”

“Puhuhuhu!”

Beberapa orang memang bisa berubah.

Namun Encrid sama sekali bukan tipe orang semacam itu.

“Biarkan saja para bangsawan itu bersusah payah. Encrid sendiri yang bakal menuntaskan mereka,” tutur Krang acuh tak acuh.

Krang tak mengacuhkan para bangsawan yang mengganggu Encrid.

Yang lebih krusial, ada satu hal yang berniat ditanyakannya pada Marcus.

“Tetapi apakah kamu benar-benar tak keberatan dengan hal ini?”

“Pardon? Ah, maksud Anda soal gelar kebangsawaan? Ya, saya sama sekali tak masalah.”

“Hmm.”

Krang mengangguk paham.

“Tampaknya Marquis Vaisar juga sempat melangkah menemui Encrid.”

“Insting politiknya pun tampaknya sudah sedikit tumpul.”

Krang pada kenyataannya memang tak peduli.

Wajar saja.

Siapa pun yang pernah berguling di lumpur pertempuran bersama Encrid pasti merasakan hal serupa.

“Lalu, soal para bangsawan yang bilang berniat menggelar pesta perayaan...”

Saat Marcus berucap, Krang langsung memotong kalimatnya:

“Bolehkah aku menyita sebagian aset milik keparat-keparat itu?”

“Secara paksa?”

“Ya.”

“Apakah cita-cita mendesak Anda saat ini adalah menjelma menjadi raja yang lalim?”

Memangnya kenapa jika dirinya menjadi tyrant? Krang sempat tergoda sejenak.

‘Kenapa kas istana kerajaan begitu miskin?!’

Tepat usai menyerahkan mahkota takhta, sang Ratu menguncapkan salam perpisahan lalu melangkah pergi begitu saja.

Beliau bahkan memboyong penyihir istana sekalian.

Krang akhirnya memutuskan untuk menganggap sang Ratu sebagai sosok yang tak pernah ada sedari awal.

Kekhawatiran terbesar Krang belakangan ini adalah bagaimana cara mengumpulkan uang.

Seandainya ia mengenal Krais secara dekat di masa lalu, ia pasti berniat menunjuk pria itu menjadi menteri keuangan saat ini juga.

Tentu saja, kesulitan finansial ini adalah lubang yang digalinya sendiri.

Bagaimanapun, Krang telah mengeksekusi reformasi kebijakan secara ekstrem dan radikal.

Isu paling krusial adalah perombakan total pengawal pribadi raja.

Krang memulainya dengan mengganti jajaran Guardian Knight.

“Kudengar kamu mempertahankan status knighthood-mu dengan syarat tak boleh melangkah keluar dari istana kerajaan seumur hidupmu. Apakah kamu mengeksekusinya karena kamu memang menginginkannya?”

Sang Guardian Knight—yang mempertahankan posisinya memfungsikan sihir dan keajaiban Will—harus memproses makna terdalam di balik kata-kata sang raja.

Ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya diucapkan pemuda ini.

Ia adalah generasi ketiga yang mengawal sisi sang raja.

Kakek dan ayahnya telah menapaki takdir serupa.

Mantra yang membelit garis keturunannya adalah belenggu sekaligus ikatan ikrar.

“Apakah Anda menanyakannya secara bersungguh-sungguh?”

Menanggapi pertanyaan sang Guardian Knight, Krang melepas belenggu gaib tersebut.

Ia menganugerahkan kebebasan murni bagi pria itu untuk melangkah ke mana pun ia suka.

Sebagai penggantinya, ia memfungsikan jajaran bekas Royal Guard.

Pria dengan helm abu-abu berlutut bahkan hingga meneteskan air mata:

“Saya akan melindungi Anda dengan nyawa saya. Bahkan dalam maut sekalipun, saya akan menjaga Anda.”

Termasuk Matthew dan prajurit lain yang setia berdiri di sisi Krang, ia secara praktis mendirikan kembali pengawal pribadi raja.

Ia menambah jumlah prajurit pengawal dan menaikkan gaji mereka secara signifikan.

Di atas semua itu, ia mencoba memperkuat fasilitas pertahanan istana yang lapuk di berbagai sudut.

‘Pantas saja koin emas tak kunjung cukup!’

Kondisinya tetap krisis bahkan usai menguras sebagian perbendaharaan negara.

Krang tak pernah menoleh ke belakang.

Bahkan waktu untuk menyesali keadaan adalah sebuah pemborosan.

Itu adalah pelajaran yang dipetiknya hanya dengan mengamati cara hidup Encrid.

‘Mari eksekusi apa yang wajib dituntaskan saat ini.’

Encrid adalah tipe pria yang bakal tetap berlatih mengayunkan pedangnya bahkan jika hari kiamat mendadak menghantam benua besok.

Jika dengan menguras perbendaharaan negara sedikit sanggup membantu rakyat menyantap makanan dan hidup layak, apa masalahnya?

Sebuah gagasan dan tekad yang amat radikal.

Dan tak ada seorang pun yang sanggup menghentikan langkahnya.

Berkat hal tersebut, upacara pembagian tanda jasa dan penganugerahan hadiah terpaksa tertunda.

Itulah pemicu utama kenapa Encrid masih bertahan menetap di ibu kota.

* * *

Rem menyadari betul perbedaan drastis antara dirinya di masa lalu—sewaktu pertama kali bergabung dengan peleton prajurit pengacau—dan dirinya saat ini.

‘Bagaimana bisa menjadi seperti ini?’

Kemampuannya bertarung, yang tadinya stagnan sewaktu melanglang buana di benua, kini berkembang pesat.

Ada beberapa pemicu utama, namun tiga di antaranya adalah Ragna, Jaxon, dan Audin.

Kemampuannya mengasah tajam karena ia enggan menelan kekalahan saat bertarung tanding melawan keparat-keparat itu berulang kali.

“Situasi yang sungguh sialan.”

Saat ia merenungi hal itu seraya mengawasi di samping, sepasang matanya berbenturan dengan Ragna yang sedang mengayunkan pedangnya tanpa mengenakan baju.

“Apa yang kamu lihat, wahai barbarian cacat yang bahkan tak sanggup berjalan sendiri?” tukas Ragna miring.

Seketika itu juga, Rem mengutuk pikirannya sendiri yang sempat menganggap bahwa ia memiliki utang budi pada keparat-keparat itu.

Pada kenyataannya, lebih tepat untuk menyimpulkan bahwa alasan terbesar adalah keberadaan sosok Encrid.

Rem belajar sewaktu mengajari, dan menyaksikan perkembangan pesat Encrid, ia tak boleh membiarkan dirinya bersantai.

“Cari masalah denganku dan kamu bakal tewas,” cetus Rem kasar pada Ragna lalu mulai melakukan pemanasan fisik.

Ia sempat mengira bakal terbaring di atas ranjang selama sebulan usai memfungsikan sorcery berat semacam itu, namun fisiknya pulih amat cepat.

Itu karena wadah kapasitas tubuhnya makin membesar seiring perkembangan ketangkasannya.

Bagaimanapun, sorcery berlandaskan pada kondisi fisik.

Menyimak obrolan ramah mereka, Encrid sedang sibuk memeriksa dan mengulang kembali kemampuan yang dimilikinya.

Menyaksikan hal itu, Rem melangkah mendekat.

“Katamu itu adalah manifestasi Will baru? Coba peragakan padaku,” seru Rem.

Fisiknya kini sudah sanggup digerakkan sampai batas tertentu, jadi duel tanding ringan sangat memungkinkan.

Encrid mengangkat pedangnya, merasa bahwa hari inilah saatnya.

Sewaktu ia mengunjungi pandai besi meminta mereka memperbaiki pedang Silver yang hancur, ia diberitahu bahwa hal itu mustahil dilakukan.

Inti logamnya telah hancur total.

Maka ia meminta mereka meleburnya saja, lalu menggenggam sebilah longsword biasa.

Ia tak berniat menyalahkan kualitas senjata, tetapi ia memang merindukan sebilah pedang setingkat kualitas Silver.

“Serang secara serius,” tegas Rem.

Encrid mengeksekusinya.

Ia menginfuskan sepasang matanya dengan Will lalu mempertahankannya.

Itulah wujud dari ‘The Eye that Sees One Inch Ahead’.

Sebuah manifestasi Will yang menyatu sempurna dengan teknik Captivating Sword.

Encrid menangkap kilatan gambaran masa depan.

Deru napas, gerakan bahu, serta posisi tangan dan kaki Rem tertangkap jelas.

Rem bakal mengayunkan palu di tangan kirinya seolah melemparkannya.

Lalu dilanjutkan sabetan kapaknya secara diagonal.

Hantaman palu pertama bergerak dalam kecepatan normal, sementara sabetan kapak berikutnya meluncur setengah ketukan lebih cepat.

Sebuah manuver yang hanya dimungkinkan karena ia menguasai penggunaan senjata di kedua tangannya secara sempurna.

Gambaran masa depan yang ditangkapnya secara singkat mendadak terhampar persis seperti yang disaksikannya.

Palu di tangan Rem meluncur mengincarnya.

Encrid melangkah maju ke depan, meski pedangnya lebih panjang.

Ia menyilangkan pergelangan tangannya lalu mengangkat pedangnya.

Dengan gerakan ini, ia berniat membendung pergelangan tangan penahan palu, menghentak kaki lawan, serta menghantamkan lututnya ke area kemaluan sekaligus.

Jika ia merapat serapat ini, sabetan kapak di tangan sebelah memang menjadi ancaman, namun paling banter Rem hanya sanggup melepaskan tinju seraya tetap menggenggam kapaknya.

Encrid bakal memangkas jarak sedemikian rapat hingga tinju adalah satu-satunya opsi musuh.

‘Aku sanggup menahan tinjuan itu.’

Sebuah taktik mengorbankan kulit demi mematahkan tulang lawan.

Sebelum satu tarikan napas sempat terlepas, senjata, tangan, dan kaki mereka saling berbenturan.

Buk! Brak! Duar!

Usai bentrokan sekali terjadi, Encrid melangkah mundur lalu menatap Rem.

“Bagaimana kamu sanggup mengeksekusinya?”

“Hmph, kamu pikir jurusmu itu tak punya cela?” sahut Rem miring.

Sebuah insting dan manuver balasan bagaikan seekor binatang liar.

Encrid kembali menyadari satu hal:

Keparat ini memang gila, namun kemampuannya sungguh luar biasa.

Captivating Sword adalah variasi dari Righteous Sword.

Sebuah gaya bertarung yang menggiring pertarungan persepsi dengan musuh ke arah yang didambakannya.

Dan jurus ini berharmonisasi sempurna dengan The Eye that Sees One Inch Ahead.

Namun, Rem menghentikan pergerakannya persis sebelum kalkulasi Encrid tuntas lalu merombak manuvernya.

Alih-alih mengayunkan kapak, ia melepas cengkeramannya, menangkis hantaman lutut Encrid dengan telapak tangan, lalu menghantamkan dahi kepalanya ke depan.

Encrid tak punya pilihan selain membalas secara spontan lewat refleks fisiknya.

Benturan duar terakhir adalah suara jidat mereka yang saling beradu keras.

Benjolan merah menyeruak tepat di tengah-tengah dahi mereka berdua.

Tampak jelas benjolan bengkak bakal segera menyembul.

Jika seseorang bergerak secara spontan sebelum intuisinya sanggup membaca dan menangkap niat lawan, bagaimana mungkin ia sanggup memprediksinya?

Dari titik itu, ia murni mengandalkan refleks fisik yang tertanam di tubuhnya.

Dalam hati, Rem sebenarnya sangat mengagumi balasan spontan Encrid yang menghantamkan kepalanya hingga memicu adu jidat, namun ia memilih bungkam.

Ia telah menghabiskan beberapa hari terakhir mencari cara menembus Will baru yang dibangkitkan Encrid.

Ia enggan menunjukkan sedikit pun kesan bahwa ia sempat pusing memikirkannya.

Jika ia memujinya terlalu gampang, Encrid mungkin bakal kehilangan ambisinya untuk terus berkembang.

Tentu saja hal itu tak akan pernah terjadi, namun Rem mencari pembenaran sendiri sebelum membuka suara:

“Lihat, jurusmu bisa dipatahkan seperti ini. Jadi jangan asal menggunakannya secara sembarangan.”

Berikutnya giliran Audin.

“Haha, Kakak. Setiap teknik pasti memiliki kelemahan.”

Ia mematahkan Will milik Encrid lewat metode yang lebih sederhana namun jauh lebih kasar.

Ia secara mendadak memangkas jarak lalu melancarkan pertarungan jarak dekat ekstrem.

Kekuatan fisik mentah sang beruang bahkan jauh melampaui kekuatan Encrid yang disokong Heart of Power.

Ia secara luwes mengeksekusi kuncian sendi, berniat menggeser tulang bahu Encrid, dan Encrid yang memfungsikan pelajaran yang dipetiknya melengkungkan jemarinya lalu menghantamkan telapak tangannya ke atas demi melepaskan diri.

Duel tanding mereka berlanjut dalam pola serupa.

Keduanya pada akhirnya terjerembel telentang di tanah, berbalur debu.

Pada akhirnya, Encrid menelan kekalahan.

“Apa yang bakal kamu lakukan jika aku merapat menempel tubuhmu seperti ini?” cetus Audin dengan sebelah mata yang membengkak akibat pukulan di tulang pipi.

Lutut Encrid yang terkunci pun berada di ambang kehancuran.

Jika Audin menambah tenaganya sedikit lagi, tulang lututnya pasti bakal patah.

Maka ia telah kalah.

Sebagai imbalannya, ia sukses membuat sepasang mata dan pipi Audin lebam kebiruan.

“Mm.”

Encrid mengangguk paham.

Masih banyak ilmu yang harus diserapnya.

Ragna pun melangkah maju menyusul.

Ragna memfungsikan metode yang jauh lebih sederhana:

Sebuah sabetan yang tak sanggup ditangkis bahkan jika kamu melihat dan tahu arah kedatangannya sedari awal!

Secara jujur, sabetan itu jauh lebih brutal dibanding teknik olah pedang yang diperagakan Lierbart.

“Apakah kamu berniat mengantarkannya ke sisi Sang Bapa?!” seru Audin terkagum-kagum.

“Keparat itu benar-benar seorang gila sejati,” umpat Rem, berucap bahwa isi kepala Ragna jauh lebih rusak dibanding miliknya.

“Selama dia tidak tewas, itu bukan masalah,” sahut Ragna datar.

Encrid mengusap keringat dingin di lehernya dengan tangan.

Jika ia melakukan kesalahan kecil saja tadi, ia mungkin sudah harus mengulang hari kembali.

Ia telah mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun sebaliknya, mata pedang Ragna justru menancap separuh ke dadanya.

Jika bukan karena pelindung zirah berbalut perban yang dikenakannya untuk berjaga-jaga, ia pasti sudah mandi darah.

Meski begitu, ia tak berniat memprotes.

Ia paham betul pesan yang berniat disampaikan oleh rekan-rekannya:

‘Setiap teknik harus difungsikan secara terus-menerus tanpa henti hingga menyatu menjadi bagian dari dirimu.’

Pada kenyataannya, ketiga orang itu hanya sibuk membuktikan bahwa mereka belum ketinggalan zaman dibanding Encrid, namun Encrid menanggapinya secara positif.

Seperti kata pepatah, penafsiran yang baik jauh lebih bermakna dibanding mimpi itu sendiri.

Sewaktu ia sedang terhanyut dalam latihan, seorang pemuda pelayan istana yang celingukan penuh kehati-hatian melangkah masuk.

“Permisi... apakah Anda Sir Encrid sang Demon Slayer, Pahlawan Penyelamat Negara, Pelindung Penjaga Perbatasan, Sahabat Raja, yang Bermimpi Menjadi Ksatria Bebas?”

Encrid sempat meragukan pendengarannya sejenak.

Bukankah ada begitu banyak julukan aneh yang menempel pada sebutan itu?

Ia memang mendengar desas-desus bahwa pujian setinggi langit untuk dirinya beredar luas pasca-pertempuran, namun ia merasa jauh lebih berguna berlatih pedang ketimbang memedulikan tiap rincian pujian tersebut.

“Kenapa mereka hanya menyapaku sebagai sang Undying Axe?” protes Rem.

Julukan 'pembantai bangsawan' pun beredar luas mengenai sosok Rem.

Penyebabnya adalah karena ia berucap teramat brutal pada para bangsawan yang mengganggunya.

Julukan 'Pengawal yang Berjalan di Atas Bayangan' melekat pada Jaxon.

Ada pula Dunbakel yang dijuluki 'Monster Singa Putih'.

Meski ia keturunan beastman, ia memperoleh julukan itu lantaran perawakannya yang menyerupai singa tangguh, dan ajaibnya Dunbakel menyukai julukan tersebut.

Sementara Ragna disapa sebagai 'Ruthless Sword'.

Tentu saja, ia tak terlalu memusingkannya.

“Bukankah julukan 'Ragna sang Pemandu' jauh lebih cocok untukku?” tukas Ragna.

Namun dengan menanyakan hal itu, ia justru membuat orang-orang menganggap dirinya jauh lebih gila dibanding Rem.

Audin dianugerahi julukan yang mirip dengan julukan lamanya.

Kalau tidak salah 'Giant Bear'.

Orang-orang bilang dari kejauhan perawakannya tampak menyerupai beruang raksasa.

Audin hanya mengulas senyum dalam keheningan, namun raut wajahnya sama sekali tak berkesan gembira.

Encrid menatap pelayan muda yang memanggilnya tadi:

“Kurasa sekadar sapaan Encrid atau Komandan Kompi Madmen jauh lebih akurat.”

Nama resminya adalah Kompi Tempur Independen Penjaga Perbatasan, namun saat ini bahkan Encrid sendiri menyebut unitnya sebagai Kompi Madmen.

Bukankah seluruh prajurit di bawah komandonya memang berisi orang-orang gila?

Itu adalah fakta yang tak bisa dibantah hanya karena dirinya merasa sebagai satu-satunya orang waras di sana.

Pemuda yang mendekat berucap dengan gestur yang teramat gugup:

“Tuan saya bermaksud menemui Anda, jadi jika Anda memiliki waktu... Ah, jika Anda keberatan, saya bisa kembali saat Anda punya waktu, ah, jika Anda mungkin bisa memberi tahu kapan Anda memiliki waktu...”

Encrid tak berniat menyusahkan pelayan muda itu.

Ia meletakkan tangannya secara halus di atas bahu pemuda yang terus gagap berucap 'mungkin' tersebut, lalu bertanya: “Siapa tuanmu?”

“Ah, beliau adalah Baron Somerset.”

Sebuah nama yang belum pernah didengarnya seumur hidup.

Penasaran ada urusan apa, Encrid menganggukkan kepalanya.

Ia memang tak berniat membuat pelayan muda itu makin panik.

Pemuda itu melangkah memandu dengan sepasang mata penuh kebanggaan dan sepasang kaki yang gemetar menahan ketegangan.

Encrid melangkah menyusul di belakangnya.

“Bangsawan lain lagi?” celetuk Rem dari belakang.

Encrid mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar Rem tak perlu ikut.

Jauh lebih mending bagi dirinya untuk berbicara secara dingin menolak sang bangsawan ketimbang menyaksikan Rem memicu kekacauan.

Bagaimanapun, tamu itu datang berniat menemui dirinya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.