Bab 413: Penobatan yang Megah
Mungkin karena aura dari roh terakhir yang dipanggil sang Count, Encrid menyadari bau apak yang menyengat menempel di tubuhnya.
“Aku ingin mandi air hangat. Tidak usah ada pelayan,” pintanya.
Setibanya di istana kerajaan, Encrid langsung mandi, menyantap makanan, lalu tertidur lelap.
Nasib yang tak jauh berbeda dialami oleh Rem, Ragna, Audin, maupun Jaxon.
Mereka baru terbangun setelah menikmati tidur yang teramat nyenyak.
Di tengah kelelahan itu, seorang tabib sempat datang mendekat berniat mengobati luka tubuh mereka, namun semuanya menolak tegas.
“Aku paling tahu kondisi tubuhku sendiri,” tukas Rem menepis sang tabib.
“Ini adalah hukuman penembusan yang dianugerahkan padaku,” timpal Audin yang tak jauh berbeda.
Ragna hanya mengibaskan tangannya menolak, sementara Jaxon berpura-pura sama sekali tak menderita luka.
Sang tabib bergumam gusar bahwa ia belum pernah menemui pasien yang begitu keras kepala, lalu berbalik pergi.
Namun tepat sebelum melangkah pergi, sang tabib membungkukkan kepalanya secara khidmat di hadapan Encrid.
“Terima kasih banyak.”
Sebuah ucapan yang tak terduga.
Meski begitu, nada bicaranya teramat tulus dari lubuk hati.
Encrid sendiri belum sepenuhnya menyadari dampak besar dari apa yang telah diperbuatnya.
Jadwal yang padat dan melelahkan membuat pikirannya belum sempat memproses hal itu.
Bukan berarti usainya pertempuran menandakan tak ada lagi pekerjaan yang harus diselesaikan.
Pada dasarnya, persiapan perang adalah tugas besar, dan pembersihan pasca-perang adalah tugas yang jauh lebih raksasa.
Konon, seorang jenderal yang pandai bertarung mampu memenangkan pertempuran, dan seorang jenderal yang pandai bersiap mampu memenangkan kampanye militer.
Namun seorang jenderal yang sanggup menuntaskan pembersihan pasca-perang dengan sempurna dialah yang memenangkan seluruh peperangan.
Begitu krusialnya proses penataan ulang usai bentrokan senjata.
Hal serupa berlaku saat ini.
Menangani sisa-sisa pasukan sang Count menjadi persoalan rumit, persenjataan yang bergelimpangan harus dikumpulkan, dan perkemahan perang wajib dibongkar.
Usai semua urusan itu beres, pawai kepulangan telah menanti.
Bagaimanapun, mereka harus kembali ke istana kerajaan.
Meski diselimuti euforia kemenangan, sanggup menuntaskan seluruh proses raksasa ini hanya dalam kurun tiga hari adalah hal yang luar biasa.
Encrid mungkin tak paham betul soal komando taktis medan perang, tetapi dalam urusan logistik dan penataan ulang ini, kontribusi Marcus sungguh menonjol.
Pria itu menuntaskan segalanya dengan amat gemilang.
Semua ini juga dimungkinkan karena Krang menolak melontarkan pidato kemenangan yang tak berguna.
“Kurasa inilah saatnya bagi semua orang untuk beristirahat. Apakah mendengarkan pidato dari pria yang hanya menonton dari barisan belakang sungguh krusial saat ini? Ketimbang membuang waktu untuk omong kosong semacam itu, bukankah jauh lebih berguna membebat perban di lengan prajurit yang terluka?” cetus Krang.
Faktanya, Krang terjun langsung merawat prajurit yang terluka tanpa berniat menyembunyikan raut wajahnya.
Ia bersikap begitu terbuka hingga tak banyak prajurit yang menyadari bahwa sosok yang membebat luka mereka adalah calon raja berikutnya.
Sebenarnya, tak banyak prajurit biasa yang hafal dengan paras tampan Krang.
Meski ia dianugerahi bakat alami untuk membakar moral dan gelora prajurit lewat pidato jika diperlukan, pendiriannya menegaskan bahwa hal semacam itu bukan hal utama saat ini.
Krang adalah tipe pria yang membuktikan kata-katanya lewat tindakan nyata.
Barulah usai pembersihan medan perang tuntas, Encrid dan rekan-rekannya melangkah pulang.
Saat menerima ucapan terima kasih dari sang tabib, Encrid bertanya seraya dibayang-bayangi berbagai pemikiran:
“Apakah kamu mengenalku?”
“Putraku ikut dikirim ke medan perang,” tutur sang tabib dengan langkah pincang. “Jika bukan karena kakiku yang cacat ini, aku pun pasti sudah ikut bertempur.”
Usai melontarkan kalimat itu, sang tabib berbalik melangkah pergi.
Ucapan itu bukan bentuk terima kasih karena telah menyelamatkan putranya.
Sebab, putranya telah tewas di medan laga.
Sebagus apa pun kata-kata yang diucapkan, mereka yang telah gugur tak akan pernah kembali, dan hati sang tabib terasa seolah terkoyak hancur.
Namun, mungkinkah ini bisa disebut hiburan kecil?
Seandainya pertempuran ini berakhir dengan kekalahan, kematian putranya akan menjadi hal yang sia-sia tanpa arti.
Fakta bahwa perang ini dimenangkan adalah satu-satunya penghibur kecil bagi jiwanya.
Semua orang mabuk oleh euforia kemenangan dan sukacita.
Kemenangan dalam perang saudara, kepulangan dari pertempuran yang mustahil, serta kebahagiaan mereka yang selamat dari maut.
Hal-hal semacam itu memenuhi seluruh sudut istana kerajaan dan ibu kota.
Desas-desus mengenai upacara penobatan raja baru pun mulai marak terdengar.
Para pengrajin dan tukang batu berkumpul di pusat ibu kota demi membangun monumen penghormatan.
Tak lama lagi, festival akbar akan digelar, dan begitu situasi benar-benar terkendali, pesta prapembagian tanda jasa akan berlangsung berhari-hari.
Meski begitu, tetap ada mereka yang dirundung duka akibat kehilangan anggota keluarga dan kekasih tercinta.
‘Semoga kamu beristirahat dalam damai...’
Sang tabib membisikkan doa itu untuk putranya seraya melangkah pergi, dan Encrid mengawasi punggung pria itu sebelum melangkah menuju peraduannya.
Bisikan kata-kata bahwa putra pria itu telah tewas di medan perang terus bergaung di telinganya.
Esther pun tampaknya teramat kelelahan; ia tetap bertahan di dalam pelukan Encrid dalam wujud macan tutulnya dan enggan bergeming.
Encrid tidur dengan sangat nyenyak, dan begitu terbangun, ia merenggangkan otot-otot tubuhnya memfungsikan jurus Technique of Isolation seperti biasa.
Bahkan untuk urusan pembagian tanda jasa sekalipun, situasi di sekeliling wajib dikondisikan terlebih dahulu.
Hal itu membutuhkan waktu setidaknya sepuluh hari.
Encrid melanjutkan rutinitas hariannya seperti biasa.
Ia mengunjungi Odd-eye, memberinya pakan khusus berbaur daging dan sayuran segar ketimbang sekadar jerami biasa, lalu melangkah menemui Andrew dan para murid latihannya.
Jumlah murid latihan kini menyusut dari lima menjadi empat orang.
“Bagaimana dengan satu orang lagi?” tanya Encrid.
“Ia kehilangan sebelah kakinya. Bahkan divine power sekalipun tak sanggup menumbuhkan kembali kaki yang telah putus.”
Seorang murid latihan telah kehilangan kakinya.
Pertempuran itu memang sedahsyat itu.
Di saat Encrid membantai gelombang prajurit roh, para prajurit lain pun tak tinggal diam menopang dagu.
Encrid menganggukkan kepalanya.
Merekalah orang-orang yang melangkah ke medan laga atas kehendak mereka sendiri.
Sudah sepantasnya pilihan hidup itu dihormati.
“Dia sempat berucap bahwa ia berharap dirinya adalah Frokk,” tambah Andrew datar.
Encrid maupun Andrew telah kenyang menjalani kehidupan yang terlalu keras untuk sekadar terguncang oleh musibah semacam ini.
“Tak akan pernah terjadi lagi,” tutur Andrew datar seraya menatap ke udara kosong.
Usai melontarkan kalimat singkat itu, Andrew melanjutkan dengan intonasi seolah merapalkan ikrar suci.
Bukan sebuah ucapan yang ditujukan untuk Encrid, melainkan janji pada dirinya sendiri.
“Aku tak akan lagi tinggal diam menyaksikan orang-orangku menderita luka.”
Encrid mengangguk paham.
Ia juga diberitahu bahwa murid yang kehilangan kakinya telah dicalonkan menjadi kandidat juru minum/pelayan istana.
Pemuda itu sama sekali tak berwajah muram.
“Kurasa aku bakal baik-baik saja memfungsikan kaki palsu begitu terbiasa. Menurutku ini jauh lebih mending ketimbang menjemput maut.”
Seorang pemuda bermoral teguh.
Encrid menepuk bahu pemuda itu sekali lalu berbalik melangkah.
“Berkat Anda... berkat Anda saya sanggup bertahan hidup,” bisik murid itu tulus.
“Kamu selamat karena kamu bertarung dengan sangat baik,” sahut Encrid datar menanggapi ucapan muridnya.
Ia mengucapkannya dengan tulus dari lubuk hati.
Ia yakin pria itu telah menyelamatkan nyawanya sendiri lewat usaha keras tangannya.
Ia juga diberitahu bahwa murid itu memiliki seorang tunangan.
Encrid sempat melirik sosok sang tunangan, dan gadis itu tampak begitu bersemangat.
“Memangnya kenapa kalau dia kehilangan sebelah kaki?! Aku bisa bekerja menopang hidupnya!”
Gadis yang sungguh tangguh.
Krang begitu sibuk hingga batang hidungnya tak kunjung kelihatan.
Marcus pun tak bisa ditemui di mana-mana.
Beberapa hari berselang, Aisha datang berkunjung, namun Encrid sedang tidak dalam kondisi fisiknya untuk menjalani duel tanding serius.
Saat Encrid mengungkapkan hal itu secara hati-hati, “...Apakah bertarung adalah satu-satunya hal di otakmu?” Aisha dibuat geleng-geleng kepala.
Encrid mengalihkan topik pembicaraan.
“Tidak ada kekacauan lain di istana kerajaan?”
“Kekacauan apa lagi? Istana kini dipenuhi oleh faksi pengikutnya sendiri, jadi tak ada yang berani memprotes. Memang ada beberapa bangsawan bodoh, tetapi mereka bisa menanganinya sendiri. Yang lebih krusial, orang-orang sedang sibuk menyiapkan upacara penobatan, mereka bilang penobatan ini harus menjadi yang paling megah sepanjang sejarah.”
Krang yang dikenal Encrid adalah sosok yang berwawasan luas dan berjiwa agung.
Namun manusia selalu bisa berubah.
Apakah Encrid belum pernah menyaksikan perubahan karakter manusia sebelumnya?
Ia pernah melihat seorang tentara bayaran yang sudi mempertaruhkan nyawa demi sahabatnya, mendadak menancapkan belati ke punggung kawannya hanya demi sekeping koin emas.
Ia pernah menyaksikan seorang ayah yang demi bertahan hidup, nekat melemparkan anak angkatnya ke hadapan kawanan monster.
Pria itu awalnya adalah sosok yang baik hati.
Ia baru berubah drastis sewaktu terdesak di sudut jurang maut.
Bukankah orang-orang bilang hal itu bisa terjadi jika kamu bertahan selama dua puluh hari terkepung monster?
Encrid sempat menantang pria itu dalam duel tanding.
Ia sempat kalah, tetapi pada akhirnya ia berhasil membunuhnya.
Kejadian-kejadian kelam semacam itu pernah disaksikannya.
Maka, Krang pun bisa saja berubah.
Upacara penobatan yang megah.
Memang sudah saatnya hal itu digelar.
Merekalah yang memenangkan perang dan menyebarkan maklumat kemenangan.
Dengan Kemenangan dalam perang saudara, Krang resmi menjadi pewaris sah takhta kerajaan.
Encrid mendadak merasakan kerinduan untuk kembali ke Penjaga Perbatasan.
Langit kian meredup gelap.
Tampaknya hujan akan kembali mencurah.
“Bagaimana kondisi tubuhmu?” tanya Aisha.
“Sudah lumayan pulih. Aku belum sanggup mempertaruhkan separuh nyawaku, tetapi duel tanding ringan rasanya boleh juga.”
Duel tanding sungguhan mungkin masih berat, tetapi sekadar adu ketangkasan ringan rasanya tak masalah.
Harusnya ia beristirahat, namun saat ini fisiknya justru berhasrat untuk lebih banyak bergerak.
Aisha mengangguk paham lalu mencabut sebilah pedang kayu.
“Katamu duel tanding ringan?” celetuk Encrid sewaktu melihat pedang kayu itu, sementara Aisha memiringkan kepalanya bingung.
Bukankah pedang kayu ini sudah sangat ringan?
“Duel tanding ringan,” ulang Encrid seraya mencabut sebilah longsword yang dipungutnya secara kasar demi menggantikan pedang Silver yang hancur.
Sebuah pedang yang dihabiskannya waktu dua hari untuk mengasahnya hingga tajam.
“Bagian mana dari pedang tajam itu yang kau sebut 'ringan'?!” protes Aisha menudingkan pedang kayunya, sementara Rem, Ragna, Audin, Jaxon, dan Pell mengawasi dari samping.
Pemuda bernama Pell itu secara mendadak memperkenalkan dirinya tepat usai pertempuran tuntas lalu menyusupkan dirinya ke dalam kelompok mereka.
“Namaku Pell, sang Shepherd of the Wasteland,” akunya.
Berambut cokelat terang, dengan perawakan sedikit lebih tinggi dibanding Krais, serta postur tubuh yang tertempa mantap.
“Aku mengamati dengan cermat aksi hebat kalian di medan perang,” lanjutnya.
Meski semua orang menatapnya dengan tatapan 'Lantas kenapa?', Pell dianugerahi kulit tebal yang tak mudah goyah.
Para pendoa umumnya memang tak tahu malu, tetapi di antara para Shepherd of the Wasteland, Pell-lah yang paling keras kepala menekuni jalan pedang.
“Izinkan aku mengamati sebentar,” tutur Pell penuh percaya diri.
Encrid yang mengenali sosok Pell sempat sedikit terperanjat, namun mengangguk santai seolah bukan masalah besar.
Jujur saja, Encrid merasa tertarik.
‘Pendoa gembala yang waktu itu...’
Kuda-kudanya terasa berbeda dibanding masa lalu.
Aura yang dipancarkannya pun telah bertransformasi drastis.
Itu adalah bukti nyata bahwa kemampuannya telah berkembang pesat.
Maka, dengan Pell yang ikut menyaksikan dari samping, duel tanding ringan itu pun berakhir.
Pell sudah menyaksikannya sendiri di medan perang.
‘Luar biasa...’
Pell sejujurnya sempat ragu apakah ada orang yang dianugerahi bakat lebih tinggi dibanding dirinya.
Di masa lalu, sewaktu ia berkunjung malam itu dan bertarung tanding, meski pada akhirnya ia terdesak mundur, ia mengira dirinya saat ini pasti sudah sanggup mengejar ketertinggalan.
Namun pedang lawannya kini menjelma jauh lebih kokoh dan tajam dibanding sebelumnya.
Ke tingkat yang tak sanggup dibandingkan dengan masa lalu.
Pria itu telah berkembang jauh melampaui momen saat mereka bertarung dulu.
Terlebih lagi, hanya dengan menyaksikan tebasan pedang pria itu, darah di sekujur tubuh Pell serasa membara.
Dasarnya ia memang tipe pria yang gemar bertarung, namun kali ini rasanya berada di tingkatan yang berbeda.
Hingga di titik jemari tangannya melayang di dekat hulu pedang, berhasrat untuk bertarung saat ini juga.
“...Kapan kondisi tubuhmu bakal pulih total?” tanya Pell.
“Kamu antrean paling terakhir, Bocah,” potong Rem.
“Hoho, Saudara. Kamu wajib mematuhi urutan antrean. Tak ada urutan saat menghadap Sang Bapa, tetapi di sini ada aturan mainnya,” timpal Audin.
“Pergilah minum susu kambing lebih banyak lalu kembalilah ke sini,” tukas Ragna miring.
“...”
“Kamu harus melewati diriku dulu sebelum menantangnya, bukan?” tambah Dunbakel.
Urutan antrean duel berturut-turut adalah Rem, Audin, Ragna, Jaxon, dan Dunbakel.
Teresa sibuk menyerap setiap jengkal pergerakan Encrid lewat sepasang matanya.
Jaxon di sela-sela obrolan tetap bungkam, namun tak lupa melontarkan tatapan tajam sekali ke arah Pell.
“...Baiklah, mari kita lakukan itu,” sahut Pell tak sanggup memprotes lebih jauh.
Tiap-tiap orang yang melontarkan kalimat padanya memiliki ketangguhan yang luar biasa.
Bahkan sulit untuk mengkalkulasi sejauh mana kemampuan pria keturunan beastman bernama Dunbakel tersebut.
Lantas apakah ia bakal kalah? Pemikiran akan menelan kekalahan sama sekali tak melintas di benaknya.
Hidangan paling lezat memang selalu disajikan paling terakhir.
Bukan hal buruk jika ia menumbangkan mereka semua lebih dulu sebelum menghadapi Encrid.
Pell amat meyakini bakat alaminya.
Ia yakin paling lambat dalam kurun setengah tahun, ia bakal sanggup mengejar ketertinggalan dari mereka semua.
Semua orang pasti bisa membuat kekeliruan kalkulasi.
Di akhir duel tanding ringannya bersama Aisha, Encrid merasakan sendi-sendi tubuhnya berderit di sana-sini.
Fisiknya memang pulih cepat, namun belum kembali ke performa puncak.
Hingga suatu hari, lima hari berselang, sewaktu kondisi tubuhnya sudah pulih secara signifikan...
Sebuah panggilan dari istana kerajaan dilayangkan.
“Anda wajib menghadiri upacara ini,” seru Marquis of the Fertile Plains yang datang sendiri menyampaikan maklumat.
“Apakah Anda tidak sibuk? Sampai-sampai datang jauh-jauh ke sini hanya demi menyampaikannya padaku?” tanya Encrid.
Marquis of the Fertile Plains dibuat terhenyak lantaran pria di hadapannya tampaknya sama sekali tak menyadari bobot posisinya saat ini.
“Anda harus menyadari betapa tingginya posisi Anda saat ini.”
Encrid kini telah menjelma menjadi sosok yang bahkan seorang marquis sekalipun tak berani menyapanya secara sembarangan.
Seandainya ada yang diminta menyebutkan satu nama pahlawan yang memimpin kemenangan perang saudara, siapa orangnya?
Semua orang tanpa ragu bakal menyuarakan nama Encrid.
Sesosok entitas yang melampaui julukan pahlawan penyelamat negara dan kini disanjung sebagai sang Demon Slayer.
Pria yang disapa sebagai sahabat oleh sang raja sendiri, serta menguasai seni olah pedang yang melampaui siapa pun di jajaran Knights.
Terlebih lagi, bagaimana dengan rekan-rekan peleton di bawah komandonya?
‘Masing-masing dari mereka memiliki ketangguhan yang mengerikan.’
Bukankah orang-orang sehebat itu harusnya menjadi bagian dari Knights?
Namun mereka semua terhubung erat murni pada sosok pria satu ini: Encrid.
Marquis of the Fertile Plains, dengan insting politiknya yang amat tajam, paham betul satu hal:
Jika mereka sampai kehilangan Encrid, mereka bakal kehilangan seluruh pendekar hebat itu sekalian.
Ia juga tahu bahwa beberapa bangsawan telah mencoba mendekati mereka secara di bawah tangan.
Tentu saja, para bangsawan itu hanya mengejar mimpi di siang bolong.
“Apakah sekarang kamu menyuruhku mengambil emasmu lalu mengayunkan kapakku? Apakah kamu masih belum tahu julukanku? Pergi dan carilah tahu sendiri!”
Rem, sang pembantai bangsawan.
Ia secara terang-terangan mendeklarasikan dirinya sebagai pria yang sanggup menebas leher para bangsawan, menyebarkan kegentaran mendalam bagi setiap bangsawan.
Seorang keparat yang benar-benar gila.
Jaxon sama sekali tak bisa didekati.
Audin hanya mengulas senyum ramah lalu mengelak dengan berucap bahwa ia murni hanya mematuhi petunjuk Sang Bapa.
Sementara Ragna secara anggun mengabaikan seluruh surat undangan.
Bisa dibilang, hanya Rem dan Audin yang mau menemui para utusan tersebut.
“Tetapi kenapa tak ada seorang pun yang pernah mengundangnya?” cetus Dunbakel menyuarakan pertanyaan kecil, namun tak ada yang sudi memberi jawaban.
Marquis of the Fertile Plains bukannya tak memiliki ketamakan politik, namun...
‘Tak ada gunanya memicu kesan buruk dengan memprovokasi mereka secara tidak perlu.’
Sang marquis bertindak bijak.
Encrid sendiri pada kenyataannya tak mengacuhkan semua desas-desus itu.
“Upacara penobatan bakal segera digelar,” tutur sang marquis, dan Encrid mengangguk paham.
Apakah sahabatnya telah berubah?
Apakah sahabat yang tadinya menatap melampaui takhta demi tujuan yang lebih agung kini terbuai oleh kemilau takhta dan mahkota?
Ia mendadak teringat pada sang tabib yang kehilangan putranya.
Lima hari berselang, Encrid berdiri bukan di dalam aula pesta istana kerajaan, melainkan di atas panggung mimbar yang dibangun tepat di pusat ibu kota.
Sebuah menara peringatan berukuran kecil telah didirikan di atas mimbar tersebut.
Krang berdiri di atas mimbar seraya mengulas senyum ramah.
Ia pasti didera tumpukan tugas yang teramat padat.
Upacara penobatan, pembagian tanda jasa, penataan masa depan, peninggalan sihir yang dilepaskan sang Count, kasus chimera, hingga kekacauan di wilayah iblis.
Tak satu pun dari perkara itu yang bisa diabaikan, tetapi inilah langkah pertama yang diputuskan Krang untuk dieksekusi.
Ia mendirikan menara peringatan dan mengukir nama-nama rakyat serta prajurit yang telah gugur.
Sekadar melacak tiap-tiap nama prajurit saja sudah merupakan tugas raksasa tersendiri.
Pasti ada pihak bangsawan yang menolak eksekusi acara peringatan ini.
Meski begitu, Krang tetap mengeksekusinya tanpa ragu.
“Maukah kamu menyampaikan sepatah kata sebelum aku?” tanya Krang.
Sebuah alat sihir pengeras suara tampak terpasang di depan monumen peringatan.
Krang mengundang Encrid untuk melangkah maju.
Encrid melangkah naik ke atas mimbar.
Berdiri di hadapan alat pengeras suara, Encrid sempat mencoba memilih kata-kata yang tepat, lalu membatalkannya.
Sang tabib telah kehilangan putranya.
Apakah pengorbanan putranya merupakan hal yang sia-sia?
Ia belum mengetahuinya.
Sebab tak ada seorang pun yang sanggup meramal masa depan.
Namun demi harapan bahwa itu adalah tindakan yang bermakna bagi sang putra itu sendiri...
“Bagi seluruh rakyat...” desah Encrid menarik napas, lalu melanjutkan, “Demi mengenang mereka yang gugur demi melindungi persahabatan, keluarga, kekasih tercinta, serta segala hal yang berada di belakang mereka.”
Di antara kerumunan rakyat ibu kota, beberapa meneteskan air mata, sementara sebagian lainnya mengulas senyum tulus.
Krang melangkah maju menyusulnya.
“Demi mengenang mereka yang telah gugur menggantikan diriku.”
Ia mulai membacakan nama-nama yang terukir di monumen peringatan.
“Vin, Roctine, Raksan...”
Bait penghormatan itu mengalun panjang.
Di penghujung seluruh kata-kata tersebut, Krang secara tenang mendeklarasikan bahwa dirinya telah resmi menjadi raja baru.
“Menjunjung tinggi kehendak dan niat yang luhur, aku mendeklarasikan bahwa aku telah resmi menjadi raja baru Naurilia. Akulah Kdianat Langdiers Nauril.”
Sang Ratu menyaksikan tanpa mengacuhkan sepatah kata pun, lalu menyematkan mahkota kerajaan di atas kepalanya.
Gemuruh tepuk tangan membahana.
Tak ada sorak-sorai euforia.
Bagaimana seseorang harus menyebut acara ini?
Ini adalah sebuah upacara penobatan penuh penghormatan.
Demikianlah Krang mewarisi mahkota kerajaan seraya memuliakan mereka yang telah gugur.
Sedari awal upacara digelar, rintik-rintik hujan tipis mulai mencurah jatuh.
Krang basah kuyup tersiram hujan.
Persis seperti di medan perang, hujan begitu sering mencurah jatuh.
Syuuuuh!
Curahan air hujan menyelimuti bahu mereka yang telah kehilangan anggota keluarga, kekasih tercinta, dan sahabat dekat.











