Chapter 233: Mengapa Kau Bertingkah Seperti Itu? (3)
Poros kepala Chung Myung secara perlahan tampak miring ke arah samping secara canggung.
Menyaksikan reaksi kebingungan tersebut, Maeng So menyempitkan sepasang kelopak matanya dan mengernyitkan dahinya pelan.
"Jasad tuaku kembali menegaskan sekali lagi, tuaku menyadari dengan sangat bersih bahwa pengajuan bantuan dagang ini bukanlah sebuah perkara bisnis yang mudah untuk dieksekusi oleh pihak kalian."
Ah, tentu saja urusan dagang ini sama sekali menolak menyandang alur kesederhanaan bagi pedang faksi kami.
Tingkat kesulitannya tersaji sangat ekstrem sekali, hingga sanggup memaksa jasad tuaku tertawa terpingkal-pingkal setengah mati menahan geli siang ini.
Kehehehe.
"Namun tidak peduli seberapa beratnya rintangan yang menghadang, pihak tunggal di bawah langit yang wajib memimpin jalur dagang ini haruslah faksi Gunung Hua kalian."
"Uh..."
Chung Myung memiringkan kepalanya canggung dan membuka mulutnya bertanya.
"Apakah diperbolehkan bagi jasad tuaku murni murni hanya untuk mengajukan beberapa pertanyaan konfirmasi?"
"Silakan suarakan pertanyaan sebanyak yang kau inginkan."
"Pertama-tama... Pihak Anda secara hukum telah menyadari dengan sangat bersih bahwa kondisi ekonomi di Provinsi Yunnan saat ini sedang dideklarasikan berada dalam skala krisis yang memprihatinkan bukan?"
Maeng So melepaskan sebutir suara tawa kecilnya yang terkesan teramat sangat masam sekali di udara.
"Apakah kelayakan batinmu siang ini sedang menyusun asumsi buruk berupa mengklasifikasikan kapasitas mata tuaku setara dengan mata orang buta? Sepasang kelopak mata tuaku ini bersumpah masih berfungsi dengan sangat jernih sekali, sehingga sudah pasti tuaku mengetahui bencana kelaparan yang melanda klan kami."
"Lalu atas dasar alasan hukum apa yang melatarbelakangi mengapa Tuan Istana menolak meluncurkan intervensi atau tindakan operasional apa pun murni untuk menyelesaikannya sampai detik ini?"
Menerima pertanyaan interogasi tersebut disuarakan secara lantang oleh Chung Myung, Maeng So membuka mulutnya bersuara menggunakan raut garis wajah yang memamerkan ekspresi muram yang tebal.
"Sirkulasi logikamu di sepanjang hari kemarin kemungkinan besar memang telah mengunci penilaian buruk berupa menuduh jasad tuaku selaku dalang utama yang bersikeras memblokir seluruh aktivitas perdagangan teh antara Yunnan dan Dataran Tengah bukan?"
"Ah... tidak ada maksud tuduhan sekejam itu..."
"Kau tidak perlu meluncurkan untaian kalimat maaf yang tidak perlu. Kondisi krisis di lapangan pada kenyataannya memang tersaji sekejam itu hingga sangat wajar seandainya sirkulasi otarmu menolak merumuskan kesimpulan lainnya. Namun demikian..."
Maeng So menggelengkan kepala raksasanya pelan dengan ekspresi wajah yang secara bertahap mulai meredup lesu.
"Realitas sejarahnya sama sekali tidak berjalan sekejam asumsi burukmu. Sosok pelaku utama yang meluncurkan keputusan adat memblokir seluruh jalur perdagangan teh antara Dataran Tengah dan Yunnan pada hasil akhirnya sama sekali menolak bersumber dari wewenang jasad tuaku pribadi, melainkan murni merupakan keputusan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh jajaran Tuan Istana pendahulu kami. Seberapa besarnya pun wewenang kepemimpinan yang tuaku sandang selaku pemimpin tertinggi Istana Binatang siang ini, aturan adat klan kami melarang keras jasadku murni murni hanya untuk membatalkan wasiat suci dari para pendahulu secara sepihak sesuka hatiku."
"Mm. Alur penjelasannya memang terdengar cukup masuk akal."
Kekuasaan kepemimpinan yang sejati di dunia persilatan selamanya tidak akan pernah diperbolehkan untuk tegak berdiri murni murni hanya melalui parameter kekuatan fisik semata.
Terlebih lagi di sepanjang area perbatasan Provinsi Yunnan seperti Istana Binatang Barbar Selatan yang sejarah klannya tiada hentinya merawat kebanggaan adat leluhur mereka secara ekstrem, kewibawaan kepemimpinan yang kokoh bersumpah tidak akan pernah bisa ditegakkan di tanah ini seandainya sang pemimpin menolak menunjukkan penghormatan rohani yang setinggi-tingginya kepada wasiat para pendahulu.
Seberapa dahsyat pun tingkat kekuatan fisik yang dimiliki oleh Tuan Istana Binatang, detik pertama ketika bilik mulutnya secara lancang berani menyangkal atau membatalkan wasiat suci leluhurnya sendiri, maka derajat kewibawaan kepemimpinannya di depan mata rakyat dijamin pasti akan langsung runtuh jatuh menyentuh kasta terendah di bumi.
Dan seorang pemimpin yang derajat kewibawaannya telah resmi meredup hancur dipastikan tidak akan pernah lagi diperbolehkan oleh alam untuk memimpin jalannya kelangsungan hidup sekte secara elok.
Menimbang ketebalan porsi krisis pangan yang saat ini sedang menyiksa kelangsungan hidup penduduk Yunnan, siapa sebenarnya pendekar yang sanggup menjamin bencana kemanusiaan sekejam apa lagi yang akan meledak melanda perbatasan seandainya keutuhan internal klan Istana Binatang sampai terguncang goyah akibat hilangnya wibawa kepemimpinannya.
"Dan di sisi lain, kelayakan rohani warga perbatasan Yunnan kita pada kenyataannya juga bersumpah menolak memberikan izin sambutan hangat bagi kedatangan pendekar Dataran Tengah mana pun di perbatasan. Seandainya jasad tuaku nekat mengerahkan wewenang militer murni murni hanya untuk memaksa pembukaan kembali jalur perdagangan teh secara sepihak siang ini, jutaan rakyat perbatasan dijamin pasti akan langsung bangkit merapatkan barisan meluncurkan kudeta massal menuntut lengsernya jasadku dari kursi kepemimpinan. Secara sederhana, sepasang lengan dan kaki tuaku saat ini sedang dalam kondisi terikat erat oleh aturan adat."
"...Bahkan di saat kelangsungan nafas hidup jasad mereka sedang berada dalam ancaman kepunahan akibat bencana kelaparan sekalipun?"
"Derajat kelangsungan hidup seorang ksatria sejati pada kenyataannya selamanya menolak ditopang murni murni hanya melalui butiran beras pangan semata, anak muda. Di bawah langit fana ini, terkadang ada beberapa komponen nilai luhur lainnya yang tingkat urgensinya dinilai puluhan kali lipat jauh lebih penting nan mulia murni murni hanya untuk diselamatkan dibandingkan dengan urusan mengisi perut kosong."
"Mm."
Chung Myung menyempitkan sepasang kelopak matanya pelan, seolah-olah sirkulasi logika di kepala tuanya sedikit mengalami hambatan rohani murni murni hanya untuk mencerna keagungan filsafat hidup perbatasan tersebut.
Mendeteksi kebingungan batin yang menyelimuti garis wajah tamunya, Tuan Istana Binatang kembali membuka mulut bersuara menjabarkan rinciannya secara sabar.
"Rakyat Yunnan kami tidak hanya terpaksa menanggung kepedihan batin akibat aksi pengkhianatan militer yang dilakukan oleh faksi Dataran Tengah di masa lalu saja, melainkan selama ratusan tahun sejarah persilatan fana kami juga tiada hentinya dipaksa menerima penghinaan sosial yang teramat kejam berupa dilabeli menggunakan sebutan kaum barbar liar yang menolak merawat nilai peradaban oleh bilik mulut pendekar Dataran Tengah. Landasan sejarah seburuk itulah yang melahirkan keteguhan batin di dalam dada rakyat kami, berupa seberapa laparnya pun kondisi perut mereka siang ini, martabat klan kami bersumpah dilarang keras meluncurkan gerakan berlutut menundukkan kepala kami memohon bantuan masuk."
"Jasad tuaku meyakini saat ini telah berhasil mencerna arah keprihatinan batin Anda secara jernih."
"Seandainya faksi Dataran Tengah di masa lalu sejak hari pertama bersedia meluangkan waktu mereka murni murni hanya untuk menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada klan kami, maka arah jalannya roda sejarah perbatasan kita dijamin pasti akan bergulir ke arah yang jauh lebih elok... Namun realitasnya, jajaran birokrat kekaisaran di ibukota bersumpah menolak membuang sisa logistik mereka murni murni hanya untuk memedulikan nasib Yunnan, dan di sisi lain, gerombolan manusia munafik dari faksi Sembilan Sekte Besar dan Satu Aliansi—kelompok pendekar yang sewajarnya berdiri paling depan memohon maaf atas pengkhianatan sejarah mereka—bahkan bersumpah menolak memamerkan ujung hidung kotor mereka di perbatasan Yunnan sejak puluhan tahun lalu. Jika situasinya sekaku itu, langkah operasional seperti apa lagi yang sanggup dieksekusi oleh telapak tangan tuaku?"
Segumpal rasa keputusasaan dan sesak batin yang teramat sangat mendalam sekali terasa merambat sangat jelas menyelimuti setiap untaian kalimat yang meluncur keluar dari bibirnya.
"Jasad Anda sepanjang tahun ini dipastikan telah dipaksa menanggung beban kepemimpinan yang teramat sangat berat sekali."
Mendengar bait kalimat kepedulian yang teramat sangat tulus nan hangat meluncur keluar dari bilik mulut Chung Myung tersebut, Tuan Istana Binatang Maeng So melepaskan sebutir desah helaan napas panjang yang teramat mendalam di dadanya.
"Meskipun sasis jasad tuaku secara hukum tata negara sama sekali menolak menyandang jabatan resmi selaku Raja Kekaisaran di Yunnan, namun secara moral tuaku memikul tanggung jawab adat yang teramat besar sekali murni murni hanya untuk menjamin kelangsungan hidup pangan rakyat Yunnan kami. Namun kenyataan ekosistem geografi tanah Yunnan kita terbukti sama sekali menolak memberikan izin bagi tumbuhnya komoditas pangan yang cukup murni untuk menghidupi jutaan jiwa warga. Oleh karena itu, jasad tuaku berkewajiban untuk merancang satu skema dagang murni murni hanya untuk mendatangkan pasokan beras pangan dari wilayah luar dengan cara apa pun. Sampai dengan tahun lalu, sediaan kas klan kami setidaknya masih sanggup menopang jalannya perdagangan darurat melintasi perbatasan Wilayah Barat, namun siang ini, batas kemampuan finansial klan kami secara resmi telah dinyatakan menyentuh batas maksimalnya."
"Hmm."
"Dan tepat di tengah-tengah puncak keputusasaan finansial klan kami tersebut, jasad rombongan kalian secara ajaib meluncur datang menembus gerbang Yunnan."
Chung Myung menganggukkan kepalanya pelan tanda memaklumi.
"Ah, jadi landasan politik itulah yang melatarbelakangi mengapa... Eh, tunggu langkah berpikirmu sejenak."
Sepasang kelopak mata Chung Myung seketika terbelalak sangat lebar menahan terkejut.
'Jadi seluruh kehangatan sambutan diplomatik kemarin murni didorong oleh kalkulasi dagang ini?'
Aktivitas penyambutan megah yang tiada hentinya memuja-muja status sosial jasad mudanya selaku pewaris sah Santo Pedang Bunga Plum sejak menit pertama pendaratan kaki rombongan mereka kemarin siang, dibarengi oleh kelakuan Tuan Istana yang secara tidak masuk akal melepaskan tawa bahagianya dan menolak menjatuhkan hukuman fisik bahkan setelah jasad mudanya secara gila meledakkan hancur bangunan paviliun megah klan mereka tadi pagi...
Di sepanjang hari kemarin ia secara canggung murni hanya menyusun asumsi manis berupa seluruh kelakuan tidak wajar tersebut murni lahir akibat Tuan Istana memiliki sediaan watak asli selaku seorang pria raksasa bodoh yang berhati hangat semata.
"Wah... Tuan Istana, jasad Anda pada kenyataannya memikul kapasitas kecerdasan otak yang teramat sangat mengerikan sekali bagi pedangku."
"Jangan meluncurkan tatapan mata penuh selidik sekejam itu menatap wajah tuaku, anak muda."
Maeng So secara perlahan mengukir seulas senyuman pahit di bibirnya.
"Rancangan taktis yang tuaku eksekusi sepanjang hari ini bersumpah sama sekali menolak diklasifikasikan sebagai sebuah bentuk konspirasi politik berskala masif. Di bawah kondisi normal, siapa saja pendekar yang meluangkan matanya memandang dimensi fisik jasad tuaku atau mendengarkan getaran suara bass-ku dijamin pasti akan langsung mengunci kesimpulan sepihak berupa jasad tuaku menyandang kapasitas otak seorang pria bodoh yang lamban berpikir. Seandainya jasad tuaku dilahirkan ke dunia ini dibekali oleh dimensi ukuran fisik yang sedikit lebih normal nan umum layaknya ras manusia fana lainnya, maka sediaan penilaian di kepalamu saat ini dijamin pasti akan bergulir ke arah yang teramat sangat berbeda jauh sekali bukan?"
"Ucapan Anda memang menyajikan kebenaran fakta yang teramat sangat akurat sekali. Jasad tuaku secara jujur sempat dibuat tersentak tegang menyadarinya."
"Hahahaha."
Maeng So melepaskan tawa kecilnya kembali secara pelan.
Di saat yang sama, guratan serat otot-otot tebal di sepanjang permukaan dadanya tampak menegang kaku bergetar halus.
'Praktisi waras mana di bawah langit yang akan bersedia merapatkan logikanya murni untuk mencurigai kebenaran isi kepala dari sesosok manusia monster raksasa sekejam ini siang ini?'
Tingkat keberhasilan politik yang berhasil diraihnya siang ini membuktikan fakta berupa Maeng So sepanjang hidupnya secara sangat jenius sekali telah berhasil mendayagunakan kelemahan visual dari dimensi fisik raksasanya sebagai sebuah senjata diplomasi terselubung yang paling mematikan.
Di sepanjang daftar master bela diri tingkat tinggi yang sempat ditemui oleh Chung Myung sejak hari pertama ia terbangun kembali di kehidupan barunya di era sekarang, Maeng So secara sah dideklarasikan bertindak selaku sesosok praktisi yang menyandang keunikan watak paling terasing nan menarik perhatian pedangnya.
"Lalu urusan mengenai rentetan bait kalimat pemujian Anda terhadap keagungan Santo Pedang Bunga Plum kemarin?"
"Ah. Tolong kendalikan prasangka kotor di kepalamu mengenai urusan itu. Penghormatan rohani yang dimiliki oleh batin tuaku terhadap keagungan nama Santo Pedang Bunga Plum bersumpah 100% lahir dari ketulusan iman yang bersih tanpa adanya rekayasa politik sedikit pun. Jasad Santo Pedang Bunga Plum di masa jayanya dulu secara nyata memegang peranan selaku pahlawan penyelamat sejati bagi seisi Provinsi Yunnan kami, beliau membantu kelangsungan hidup rakyat perbatasan secara tulus murni tanpa memendam niat keserakahan terselubung sedikit pun bagi kepentingan pribadinya."
"..."
Yah.
Mari kita kunci kebenaran sejarah tersebut secara sepihak siang ini.
Mengingat jasad sang pelaku utama sejarahnya sendiri siang ini sedang duduk diam menyetujui detailnya secara langsung di depannya, pendekar waras mana lagi di dunia fana ini yang memiliki wewenang hukum murni murni hanya untuk menyuarakan bantahan?
"Namun tuaku sama sekali menolak menyangkal fakta berupa terdapat sedikit niat politik terselubung saat tuaku memutuskan untuk memuji jasad kalian berlima sebagai penerus sah dari Santo Pedang Bunga Plum secara megah di depan seluruh rakyat perbatasan kemarin."
"Derajat keliaran otak Anda memang sangat luar biasa sekali."
"Sebab jasad tuaku bersumpah sama sekali menolak mengantongi alternatif jalan keluar lainnya siang ini."
Seulas senyuman pahit yang menyedihkan kembali terukir samar di bibir Maeng So.
"Batin tuaku berkewajiban murni murni hanya untuk menyuguhkan sesosok faksi mitra dagang asing yang kehadirannya menolak melahirkan gerakan penolakan moral bagi batin rakyat perbatasan. Rombongan kami berkewajiban menemukan satu buah justifikasi sejarah yang cukup kuat murni murni hanya agar rakyat perbatasan bersedia merapatkan mulut mereka menolak menyuarakan protes keras di saat gerbang perdagangan teh menuju ke Dataran Tengah resmi dibuka kembali siang ini. Seandainya faksi asing yang bertindak selaku mitra dagangnya adalah Sekte Gunung Hua—gerombolan pendekar suci penerus sah dari jubah Santo Pedang Bunga Plum yang agung—maka rakyat perbatasan di sepanjang Provinsi Yunnan meskipun secara pribadi masih memendam sedikit kecanggungan sosial, namun silsilah rohani mereka bersumpah menolak meluncurkan pembangkangan fisik menentang jalannya perdagangan secara terbuka."
'Pria raksasa di depanku ini pada kenyataannya memikul watak seekor rubah perbatasan yang teramat sangat cerdik sekali, seekor rubah.'
Jasad tuanya di sepanjang hari kemarin sempat menduga bahwa pria raksasa di depannya murni hanya memegang kasta sebagai seekor beruang madu perbatasan biasa yang lamban berpikir, namun realitas siang ini membuktikan fakta berupa ia memikul watak seekor rubah gunung yang teramat sangat licik nan lincah berpikir.
Chung Myung secara tidak sadar melepaskan tawa kecilnya menahan geli dan menganggukkan kepalanya pelan menyetujui.
"Jasad tuaku saat ini secara garis besar telah berhasil mencerna seluruh sirkulasi peta masalahnya."
"Oleh karena itu, jasad tuaku secara pribadi melayangkan permohonan bantuan ini di depan wajahmu."
Maeng So secara luar biasa secara tiba-tiba langsung membungkukkan punggung jasad raksasanya dalam-dalam menghadap lurus ke arah wajah Chung Myung.
"Jasad tuaku mencintai kelangsungan hidup rakyat Yunnan kami melebihi keselamatan jiwaku sendiri. Mereka sepanjang sejarahnya memang dibekali oleh watak keliaran yang teramat kasar sekali, namun di balik kekasarannya mereka menyandang kesederhanaan batin yang teramat bersih nan polos. Sepasang kelopak mata tuaku ini bersumpah sudah tidak lagi sanggup menahan kepedihan batin murni murni hanya untuk menyaksikan jasad mereka berakhir mati kelaparan satu per satu di depan mataku. Seluruh daya operasional yang sanggup dikerahkan oleh telapak tanganku telah resmi dikerahkan secara maksimal, namun siang ini batas kemampuan fisik tuaku telah resmi menyentuh batas akhirnya. Oleh karena itu, jasad tuaku memohon dengan sangat, secepatnya salurkan bantuan pedangmu bagi klan kami. Keputusan dagang ini dijamin pasti sama sekali menolak memberikan kerugian finansial seujung kuku pun bagi kas faksi kalian."
Chung Myung meluncurkan gerakan menyandarkan kembali poros punggung jasad mudanya kokoh di sandaran kursi kayu dan melipat kedua belah tangannya anggun di depan dada.
Namun sangat bertolak belakang dengan bahasa tubuhnya yang memamerkan gestur pertahanan diri yang kaku, seulas senyuman manis nan lebar yang teramat sangat puas sekali seketika mekar menghiasi sela bibirnya siang ini.
'Takdir keberuntungan finansial jenis apa sebenarnya yang baru saja meledak runtuh menghantam jubah tuaku siang ini!'
Jasad rombongan mereka sepanjang hari kemarin sebenarnya tiada hentinya memutar otak merancang ribuan variasi kalimat negosiasi murni murni hanya agar diizinkan memohon dibukanya kembali perdagangan teh Yunnan, namun di luar batas kalkulasinya, pihak klan perbatasan sendiri siang ini secara sukarela justru langsung merentangkan karpet merah memohon faksi mereka bertindak memimpin jalannya monopoli dagang teh tersebut?
Seandainya faksi Gunung Hua secara ajaib berhasil mengamankan hak monopoli eksklusif atas sirkulasi perdagangan komoditas teh Yunnan siang ini, maka kuantitas aliran koin perak yang akan mengalir deras memadati kas keuangan sekte dijamin pasti akan meluncur naik melampaui batas kewajaran imajinasi manusia fana.
Membayangkan visual berupa seluruh sudut kompleks bangunan Sekte Gunung Hua di Shaanxi di masa depan akan secara resmi dibungkus rapat oleh lempengan logam emas murni hasil perdagangan teh Yunnan, bibir mulut Chung Myung secara refleks seketika terayun terbuka lebar menyeringai sangat lebar sekali.
"Keub..."
"Hm? Urusan darurat apa?"
"Ah, sama sekali menolak memendam masalah finansial sedikit pun di kepalaku."
Menolak membiarkan getaran suara tawa bahagianya meledak keluar di udara memecah suasana formal, Chung Myung secara tergesa-gesa langsung menjulurkan telapak tangan kanannya menyumbat rapat bilik mulut mudanya erat.
Namun meneliti perubahan ekspresi wajah miring yang ditunjukkan oleh tamunya tersebut, Maeng So bertanya menggunakan raut garis wajah yang memamerkan kekecewaan batin yang nyata.
"Apakah keputusan dagang tersebut dideklarasikan terlalu sulit untuk direalisasikan oleh faksi kalian?"
"Maaf? Kesulitan yang mana maksud paman raksasa?"
Maeng So mengernyitkan dahinya lesu.
"Tuaku menyadari dengan sangat bersih bahwa kondisi sediaan ekonomi faksi kalian saat ini sedang berada dalam status yang teramat tidak mudah sekali. Sirkulasi telingaku sepanjang minggu ini sempat menyaring desas-desus yang menyatakan bahwa keutuhan finansial sekte Gunung Hua saat ini sedang berada dalam status yang teramat sangat memprihatinkan sekali. Jasad tuaku secara pribadi sama sekali menolak memelihara kepicikan mata murni murni hanya untuk menolak melihat seberapa teramat sangat sulit nan rumit luar biasanya bagi faksi kalian murni murni hanya untuk meluncurkan misi dagang ini sambil tiada hentinya memelihara kewaspadaan menghindari ancaman militer dari gerombolan manusia sombong Keluarga Tang di Sichuan."
Murni dinilai berdasarkan parameter sudut pandang Tuan Istana perbatasan, menyusun alur berasumsi seburuk itu pada kenyataannya memang menyajikan kebenaran logika yang teramat sangat wajar sekali bagi kepalanya.
Sebab fakta sejarah mencatatkan bahwa momentum pertumbuhan kekuatan tempur dan finansial Sekte Gunung Hua baru benar-benar resmi bergulir melesat kencang dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan ini saja.
Keberhasilan pertumbuhan internal tersebut bersumpah bahkan belum sepenuhnya berhasil dideteksi secara meluas oleh jajaran faksi persilatan yang menghuni area pusat Dataran Tengah sekalipun, lalu atas dasar motif keilmuan jenis apa yang membolehkan sepasang lubang telinga Tuan Istana perbatasan yang tinggal menetap di ujung Provinsi Yunnan yang terasing ini murni murni hanya untuk mendeteksi kemakmuran rahasia Gunung Hua?
Tentu saja, Chung Myung kemarin siang baru saja secara luar biasa memamerkan kedahsyatan wibawa kekuatan tempurnya menundukkan Ular Sanca Darah Sisik Tinta di Kolam Suci, namun di sepanjang sejarah persilatan fana, kehebatan individu dari satu orang murid jenius selamanya tidak akan pernah diperbolehkan bertindak sebagai jaminan mutlak yang menyuarakan kemakmuran finansial dari faksi induknya.
Oleh karena itu, bayangan visual Sekte Gunung Hua yang saat ini menghuni sirkulasi otak Tuan Istana perbatasan murni hanya menyajikan potret dari sebuah sekte Taois kuno yang telah hancur lebur tanpa sisa akibat perang masa lalu, dan saat ini sedang berjuang mati-matian menyambung nafas hidupnya di tengah-tengah himpitan kemiskinan yang nyata.
Terlebih lagi, menimbang rumitnya peta konflik regional di sepanjang Provinsi Sichuan, meluncurkan operasi kafilah dagang teh Yunnan di bawah pimpinan faksi Gunung Hua pada hasil akhirnya secara teoritis memukau sepasang matanya sebagai sebuah tindakan bisnis yang tersaji sangat rumit nan membahayakan keselamatan nyawa murid sekte.
Tentu saja hal itu benar adanya...
Chung Myung secara gila langsung menjulurkan telapak tangan kirinya mencubit dan memelintir kasar permukaan kulit paha kanan mudanya sekuat tenaga, murni murni hanya demi menekan getaran tawa kebahagiaan terbesarnya agar menolak meledak keluar merusak suasana siang ini.
"Oh, keputusan dagang ini pada hasil akhirnya memang menyajikan tingkat bahaya dan kesulitan yang teramat sangat gila luar biasa sekali bagi keselamatan jubah rombongan kami, Tuan Istana."
"Mmm. Tuaku memahami beban dadamu."
Heh! Memang sangat sulit sekali alur pengerjaannya!
Meskipun kenyataannya saat ini Sekte Gunung Hua kita sedang berada dalam status kebanjiran pasokan koin perak raksasa setiap detiknya!
Meskipun kenyataannya jasad rombongan kami di sepanjang rute perjalanan ke Yunnan kemarin siang secara luar biasa telah berhasil merampungkan pembentukan aliansi dagang dan pertahanan militer yang teramat sangat kokoh sekali dengan Keluarga Tang Sichuan—faksi militer terkuat yang menyandang status selaku penguasa tunggal tertinggi di tanah Sichuan!
Meskipun kenyataannya seluruh lanskap politik persilatan siang ini secara ajaib telah resmi disiapkan secara sempurna oleh takdir, hingga jasad rombongan kami murni hanya perlu memberikan satu dorongan cilik saja murni murni hanya agar belasan gerobak sapi pengangkut teh Yunnan dapat langsung meluncur bebas melintasi jalan resmi perbatasan layaknya kawanan anjing liar yang berlari gembira! Urusan dagang ini bersumpah tetap dideklarasikan menyajikan tingkat kesulitan yang teramat sangat menyiksa sekali bagi batin kami!
Kikikikiki!
Wahai Kakak Seperguruanku yang agung! Pemimpin Sekte Sahyung-ku yang terhormat di surga sana!
Rimba persilatan memang sering menyebarkan ungkapan luhur yang menyatakan bahwa siapa saja praktisi suci yang sepanjang hidupnya bersedia merawat nilai kebaikan rohani secara ikhlas, maka pintu gerbang surga dijamin pasti akan langsung membukakan jalan kemakmuran baginya! Murni murni hanya karena jasad mudaku tadi pagi bersedia meluangkan belas kasihan menolak memenggal leher seekor ular liar keparat di danau, takdir keberuntungan finansial berskala raksasa siang ini secara ajaib langsung meledak runtuh membanjiri telapak tangan tuaku layaknya guyuran air hujan deras.
Apa tadi detailnya? Butir neidan naga air?
Persetan dengan segala jenis neidan ular tiada guna, Sahyung! Mulai esok hari, jasad adik kecilmu ini secara resmi bersiap menyantap butiran beras pangan yang ditaburi oleh serpihan logam emas murni setiap harinya!
Memandangi seluruh permukaan wajah Chung Myung yang saat ini telah memerah padam menahan getaran, Maeng So melepaskan sebutir desah helaan napas panjang pasrah.
"...Seandainya keputusan dagang ini memang benar-benar menyajikan tingkat kesulitan yang teramat sangat menyiksa sekali bagi faksi kalian, maka tuaku menaruh penyesalan yang mendalam karena terpaksa membatalkan wacana bantuannya siang ini."
"Hei! Paman raksasa! Harap tahan kembali langkah mundurmu itu!"
Melihat Maeng So secara mendadak menunjukkan bahasa tubuh lesu bersiap membatalkan wacana bantuannya secara sepihak, Chung Myung yang seketika tersentak panik langsung melompat naik melesatkan jasad mudanya merangkak di atas meja kayu dengan suara deburan keras.
Seketika itu juga, ia menjulurkan kedua belah telapak tangan mudanya mencengkeram erat pergelangan tangan raksasa milik Tuan Istana secara berapi-api.
Menatap lurus tepat ke arah sepasang kelopak mata Chung Myung yang saat ini mulai memancarkan pendaran air mata haru palsu yang teramat sangat basah nan menyedihkan sekali, jasad raksasa Tuan Istana seketika tersentak kaget dan mencoba menarik mundur telapak tangannya menahan ngeri.
Namun sayang, karena jasad Chung Myung sejak awal telah secara sukses mengunci koordinat telapak tangannya—tidak, lebih tepatnya mengunci koordinat sumber tambang emas barunya—sangat mustahil bagi Tuan Istana murni untuk meloloskan cengkeraman tangannya secepat itu siang ini.
"Seberapa teramat sulit atau berbahayanya rintangan bisnis tersebut bagi keselamatan jasad kami siang ini, menurut sediaan logikamu, apakah variabel sepele sekelas itu menyandang nilai urgensi yang penting untuk diperdebatkan di hadapan hubungan persahabatan kita?! Komponen terpenting yang wajib kita junjung tinggi di bawah langit siang ini murni hanyalah fakta sejarah yang menyatakan bahwa Sekte Gunung Hua dan Istana Binatang Barbar Selatan secara resmi telah bertransformasi menjadi sepasang Sahabat Karat yang abadi!"
"Sahabat Karat?"
"Benar sekali! Rekan seperjuangan sejati!"
Chung Myung menyeringai lebar dari ujung telinga ke ujung telinga.
"Heh! Porsi penderitaan dan kepedihan batin sekejam apa sebenarnya yang sepanjang abad ini telah dipaksa ditanggung oleh klan kalian akibat kelakuan kotor dari gerombolan manusia munafik Sembilan Sekte Besar dan Satu Aliansi tersebut?!"
"Ucapanmu itu memang menyajikan kebenaran yang teramat sangat nyata sekali!"
Detik ketika sebutan kata 'Sembilan Sekte Besar dan Satu Aliansi munafik' selesai dideklarasikan oleh bilik mulut Chung Myung, Maeng So tanpa meluncurkan satu pun pertanyaan keraguan langsung menyuarakan kalimat persetujuan mutlaknya secara berapi-api.
"Seandainya sirkulasi logika dunia dirapikan kembali secara adil, tidak akan pernah ada satu pun faksi persilatan di bawah langit yang sanggup mencerna kepedihan batin Provinsi Yunnan secara jauh lebih mendalam nan bersih jika dibandingkan dengan pemahaman batin sekte Gunung Hua kami. Gerombolan manusia egois di luar sana sewajarnya sudah sejak lama dimasukkan ke dalam kuali logam mendidih murni murni hanya untuk direbus hingga tewas! Jasad rombongan klan kami di masa lalu telah secara nyata mempertaruhkan seluruh sediaan nyawa kami berdiri di garda terdepan memusnahkan invasi Sekte Iblis, namun sebagai balasannya, gerombolan pendekar munafik di luar bahkan bersumpah menolak menunjukkan rasa terima kasih sedikit pun bagi pengorbanan darah kami!"
"Benar, benar sekali! Jasad tuaku memelihara pemahaman emosional yang teramat sangat mendalam nan bersih sekali mengenai rasa pedih pengkhianatan sejenis! Mereka bagaimanapun juga murni hanya merupakan segerombolan bajingan kotor yang sepanjang hidupnya menolak merawat nilai prinsip keadilan persilatan!"
"Jasad rombongan kita pada kenyataannya memang menyandang status sosial selaku sesama korban pengkhianatan sejarah yang senasib sepenanggungan!"
"Benar. Landasan emosional itulah yang melatarbelakangi mengapa jasad tuaku sejak hari pertama sama sekali menolak mendeteksi adanya hawa asing sepele sedikit pun setiap kali sepasang mataku memandang kedatangan jubah murid Gunung Hua."
"Seandainya di sepanjang sisa abad ini jasad rombongan kita menolak saling menyalurkan bantuan pedang satu sama lain, lalu siapa lagi pendekar di bawah langit yang akan bersedia memedulikan nasib faksi kita siang ini?! Istana Binatang dan Gunung Hua secara hukum negara memang bersumpah sama sekali menolak memeluk kaitan hubungan darah sedikit pun, namun silsilah rohani kita siang ini secara sah dideklarasikan telah bertransformasi menjadi sepasang Saudara Kandung laki-laki! Saudara Kandung sejati!"
"Huuuh! Perumusan bait kalimat persaudaraan sebersih itu bersumpah demi langit merupakan jenis untaian kalimat yang teramat sangat dicintai sekali oleh telinga tuaku!"
Pertemuan siang ini secara luar biasa telah resmi bertransformasi menjadi sebuah kawah perjumpaan spiritual yang sangat khidmat sekali, di mana kedua orang pendekar yang faksi induknya sama-sama memikul sejarah kelam dikhianati dan dibuang oleh rimba persilatan Murim secara nyata terlihat saling menyodorkan pelukan hangat murni murni hanya untuk mengobati luka sejarah masing-masing, dibarengi oleh merayapnya rasa solidaritas persahabatan yang teramat tebal sekali di dalam dada.
"Oleh karena itu, paman raksasa sama sekali tidak diperbolehkan murni murni hanya untuk mencemaskan detail logistik dagangnya kembali. Jasad tuaku bersumpah demi kehormatan pedang Gunung Hua akan bertindak menggerakkan seluruh wewenang keuangan dan kekuatan militer sekte kami murni murni hanya untuk menjamin kelancaran penjualan seluruh komoditas daun teh klan kalian di Dataran Tengah siang ini juga."
"Oh, memikirkan bahwa jasad mudamu bersedia meluangkan kebaikan rohani sebersih ini bagi perbatasan kami...!"
Sebungkus luapan keharuan spiritual yang teramat sangat mendalam sekali seketika terpancar sangat nyata di balik sepasang kelopak titik merah delima mata Maeng So.
Apa? Transaksi penipuan dagang terselubung katamu?
Hei! Kalimat fitnah kotor jenis apa sebenarnya yang sedang coba kau bangun di dalam batinmu siang ini!
Sangat tidak masuk akal nan di luar batas etika kemitraan dagang murni murni hanya untuk melabeli sebuah kesepakatan bisnis bilateral yang melahirkan kemakmuran bersama bagi kedua belah pihak klan menggunakan istilah penipuan kotor.
Keputusan operasional siang ini pada kenyataannya secara sah menyandang label kemitraan dagang: Kolaborasi Ekonomi! Kolaborasi Ekonomi yang saling menguntungkan!
Chung Myung tiada hentinya meluncurkan tawa jenakanya kembali sambil merentangkan jari-jemarinya mengguncang-guncang telapak tangan raksasa Maeng So secara berapi-api.
"Oleh karena itu, paman raksasa cukup duduk diam merawat ketenangan batinmu saja di Yunnan ini. Biarkan seluruh kerumitan pengerjaan teknisnya di lapangan diselesaikan secara bersih oleh telapak tangan tuaku."
"Seandainya jasad mudamu benar-benar sanggup merealisasikan mukjizat dagang tersebut siang ini, maka seluruh jasad rakyat perbatasan Yunnan kami berjanji akan secara resmi mengklasifikasikan nama besar Sekte Gunung Hua selaku Pahlawan Penyelamat tertinggi klan kami sepanjang sejarah."
"Urusan pelabelan gelar kehormatan kepahlawanan sepele sekelas itu bersumpah sama sekali menolak memilik nilai guna penting bagi kepentingan pedang tuaku siang ini."
"Hmm?"
"Satu-satunya komponen vital tambahan yang wajib disodorkan oleh tangan Anda siang ini murni hanyalah berupa selembar dokumen bukti tertulis yang sah secara hukum, murni murni hanya ditujukan murni murni hanya untuk menjamin kelangsungan persaudaraan dagang kita agar menolak goyang di masa depan."
"Hmm? Dokumen bukti tertulis jenis apa?"
Chung Myung menggelengkan kepalanya pelan menolak memberikan detail rumit secara langsung.
Setelah meluncurkan satu kali sapuan matanya secara kilat mendeteksi adanya keberadaan sebatang kuas lukis logam beserta selembar kertas dokumen kosong di sudut meja kamar, ia secara luar biasa langsung melesatkan tubuh mudanya menyambar sekaligus membawanya kembali ke atas meja dalam sekejap.
"Hehe. Jalinan persahabatan yang murni ditopang oleh nilai kepercayaan rohani dan ketulusan batin pada kenyataannya memang menyajikan keindahan estetika yang teramat sangat elok sekali bagi mata, namun untuk menjamin kelangsungan persahabatan sebersih itu agar sanggup bertahan kokoh menembus batas abad di perbatasan, maka jasad hukum kita berkewajiban murni murni hanya untuk menyodorkan selembar bukti hukum tertulis yang sah nan dapat diverifikasi secara klinis."
"...Verifikasi hukum tertulis?"
"Benar sekali, paman raksasa. Komponen perjanjian sepele yang sama sekali menolak menyita sediaan tenagamu secara berlebihan murni murni hanya untuk dirancang di kertas dokumen ini... Seperti..."
Chung Myung mengangkat kedua belah bahu jubah bangaunya santai.
"...Seperti sebutir komitmen dagang sepele yang secara hukum bersedia menjatuhkan hak monopoli eksklusif atas sirkulasi perdagangan daun teh Yunnan kepada telapak tangan Sekte Gunung Hua untuk jangka waktu minimal seratus tahun ke depan."
"..."
"Atau dibarengi oleh sebaris maklumat resmi yang menyatakan bahwa di sepanjang durasi seratus tahun tersebut, tidak akan pernah ada satu pun kafilah dagang asing di luar afiliasi Gunung Hua yang secara hukum diperbolehkan murni murni hanya untuk meluncurkan transaksi dagang daun teh di sepanjang Provinsi Yunnan."
"..."
"Maksud tuaku, sudah menjadi kewajiban hukum bagi sasis organisasi kita murni murni hanya untuk mencatatkan detail komitmen sepele sejenis di atas kertas dokumen resmi ini bukan? Dan setelah paman raksasa secara resmi mendaratkan cap ibu jari tangan raksasamu di atas lembarannya nanti, pendekar waras mana lagi di rimba persilatan Murim ini yang akan memiliki keberanian moral murni murni hanya untuk meragukan keutuhan cinta persaudaraan yang terjalin erat di antara Gunung Hua dan Istana Binatang!"
Tuan Istana Binatang Maeng So memiringkan kepala raksasanya canggung menatap wajah Chung Myung.
"Jasad mudamu... di sepanjang detik ini pada kenyataannya tampak memamerkan inisiatif kerja yang teramat sangat agresif nan proaktif sekali bukan?"
"Ahem! Meskipun secara visual luar jasad mudaku saat ini mungkin terlihat sedikit kurang meyakinkan bagi matamu, namun bukankah status sosialku di dunia adalah sebagai seorang praktisi Taois suci? Aturan suci ajaran Taois kami melarang keras jasad tuaku murni murni hanya untuk memelihara sikap ragu nan lamban di saat diperhadapkan dengan jeritan penderitaan dari sesama makhluk hidup fana."
"..."
"..."
Atmosfer Qi di sepanjang ruang kerja tersebut secara mendadak terasa sedang meluncur menyimpang menuju ke arah yang teramat sangat janggal nan miring sekali, namun di bawah tekanan urgensi kemakmuran rakyatnya siang ini, pemimpin tertinggi Istana Binatang Maeng So pada kenyataannya memang bersumpah sama sekali menolak mengantongi sediaan pilihan operasional lainnya siang ini.
"Jadi... satu-satunya tindakan hukum yang wajib dieksekusi oleh telapak tangan tuaku siang ini murni hanyalah menyerahkan hak monopoli eksklusif tersebut kepada sekte kalian?"
"Hehe. Seandainya di kemudian hari nanti sirkulasi otak tuaku mendeteksi adanya komponen tuntutan bisnis tambahan lainnya yang mendesak, jasad tuaku berjanji murni hanya akan bertindak sebatas menyuarakannya secara lisan saja kepadamu secara santai."
"Jasad tuaku bersedia membubuhkan cap tandatangan di atas dokumen ini siang ini murni karena memendam satu buah keyakinan moral yang wajib kau ketahui sebelum kuas ini kuayunkan."
"Ya?"
Tuan Istana Binatang memaku sorot matanya menatap tajam wajah Chung Myung secara teramat sangat serius sekali.
"Rancangan keputusan bisnis ini bersedia tuaku serahkan kepada telapak tangan jasad mudamu siang ini murni karena menimbang seluruh rekor perilakumu sepanjang minggu ini, di mana batin tuaku meyakini dengan sangat bersih bahwa jiwamu sama sekali menolak mengantongi watak keserakahan kotor seorang penjahat. Seandainya di sepanjang jalannya pertempuran di danau tadi pagi sirkulasi keputusannmu memilih opsi murni untuk memenggal mati jasad Ular Sanca Darah Sisik Tinta murni murni hanya demi merampas neidan-nya, maka jasad tuaku bersumpah demi para leluhur menolak melayangkan wacana bantuan teh ini di depan wajahmu siang ini."
"..."
"Oleh karena itu, bersumpahlah di depan wajah tuaku siang ini. Jasad mudamu secara hukum diperbolehkan murni untuk meraup keuntungan koin perak sebanyak yang diinginkan oleh keserakahan kas faksi kalian, namun pastikan jasad jiwamu bersedia bersumpah akan menumpahkan seluruh tenagamu murni murni hanya untuk menuntaskan krisis kelaparan yang menyiksa jasad rakyat Yunnan kami."
Chung Myung juga membalas sorot pandangan mata tersebut menggunakan sepasang kelopak mata yang secara bertahap mulai memancarkan atmosfer keseriusan rohani yang teramat sangat jernih nan mendalam sekali.
"Jasad tuaku bersumpah."
Murni tanpa meluncurkan satu pun kalimat penjelasan tambahan di udara.
"Tuaku menerima sumpahmu."
Mendapatkan konfirmasi sumpah luhur tersebut selesai disuarakan oleh bibir Chung Myung, Tuan Istana Binatang Maeng So murni tanpa meluncurkan satu pun gerakan canggung langsung mengayunkan kuas lukisnya membelah lembar dokumen, mulai merancang draf surat perjanjian kerja sama dagang mereka secara mantap.
Detail untaian kalimat kontrak kerja sama dagang yang ia goreskan di sepanjang kertas dokumen tersebut secara luar biasa terbukti menyajikan struktur kalimat hukum yang teramat sangat kokoh nan bersih dari celah hukum sedikit pun.
Ia bahkan secara sangat teliti sekali terlihat sengaja memasukkan masing-masing klausul perlindungan dagang tambahan secara rapi, sebelum akhirnya mengeluarkan stempel resmi klan, menancapkan cap tintanya kokoh di atas kertas, dan menyodorkan selembar dokumennya ke hadapan wajah Chung Myung.
'Pria raksasa satu ini pada kenyataannya memang menyandang kapasitas kecerdasan otak yang teramat sangat luar biasa jenius sekali.'
Sebuah kesimpulan batin seketika melintas di kepala Chung Myung, berupa detail draf perjanjian dagang sebersih ini kemungkinan besar sebenarnya sudah sejak lama disiapkan nan dikunci secara rapi di dalam sirkulasi ingatan Maeng So sejak tahun lalu, menunggu momentum kedatangan mitra dagang yang tepat.
Sebab sangat tidak masuk akal bagi kapasitas otak manusia biasa murni murni hanya untuk merancang rentetan klausul dagang sedetail dan seaman ini dalam hitungan menit di atas meja secara spontan.
"Apakah masih ada komponen tambahan lainnya yang dibutuhkan oleh kelayakan batinmu?"
"Sama sekali menolak memendam tuntutan tambahan, Tuan Istana. Kertas dokumen ini bersumpah sudah menyajikan jaminan hukum yang tersaji jauh lebih dari kata cukup bagi pedangku."
Chung Myung menyeringai manis memamerkan kepuasan batinnya kembali meneliti lembar dokumen di tangannya.
"Apakah paman raksasa mengizinkan jasad tuaku murni murni hanya untuk memanggil Sasuk-ku meluncur ke mari? Beliau bagaimanapun juga saat ini sedang menyandang status resmi selaku Pemimpin Delegasi sah dari sekte kami."
"Sama sekali tidak memiliki kebutuhan mendesak murni untuk meminta tanda tangannya. Tanda tangan tunggal yang dibutuhkan oleh keabsahan dokumen ini murni hanyalah cap jempol tangan jasad mudamu sendiri."
"Atas dasar motif hukum apa yang membuat Anda bersedia menaruh kepercayaan finansial sekejam ini kepada cap jempol seorang junior sepertiku?"
"Sebab jasad tuaku menaruh keyakinan bahwa nama besar dari sesosok pendekar muda yang di masa depan dijamin pasti akan bertransformasi menjadi sang Pendekar Terkuat Nomor Satu di Bawah Langit bagi generasinya, pada kenyataannya memikul bobot pertimbangan hukum yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih berat nan berwibawa jika disandingkan dengan cap stempel dari seorang Pemimpin Sekte sekalipun. Segera bubuhkan cap jempolmu."
"Hmph."
Chung Myung membasahi permukaan ibu jari tangan kanannya menggunakan lidah canggung dan secara mantap mendaratkan cap sidik jarinya kokoh menghantam kertas kontrak.
Pada hasil akhir penandatanganan dokumen tersebut, masing-masing dari kedua orang pendekar tersebut terlihat sedang memegangi satu lembar salinan kontrak dagang di tangan mereka, sepasang kelopak mata mereka saling menatap wajah satu sama lain menggunakan luapan emosi batin yang teramat sangat kompleks nan miring sekali.
"Apakah seluruh prosesi penandatanganan kesepakatan dagang kita secara resmi telah berakhir siang ini?"
"Benar, Tuan Istana. Namun... seandainya diperbolehkan, jasad tuaku secara pribadi memendam satu buah bantuan tambahan lainnya yang tersaji sangat kecil nan sederhana sekali."
"Bantuan?"
Tuan Istana Binatang menggaruk halus bagian belakang leher raksasanya dengan raut garis wajah yang memamerkan kecanggungan rohani yang teramat tebal sekali.
"Sebuah permohonan bantuan yang secara pribadi menyajikan tingkat rasa malu yang teramat sangat menyiksa sekali bagi martabat tuaku..."
Tuan Istana menghela napas panjang dan mulai menyuarakan detail bantuan pribadinya secara terbata-bata menahan malu.
Detik pertama ketika kalimat penjelasan bantuannya selesai disuarakan oleh bibir raksasanya di udara, seulas senyuman manis nan lebar yang teramat sangat puas sekali seketika terukir indah menghiasi sela bibir Chung Myung.
"Oalah, paman raksasa. Mengapa jasadmu wajib memelihara kecanggungan sosial setebal itu di depan wajah tuaku murni murni hanya untuk mengajukan bantuan sepele sekelas ini? Paman sama sekali tidak diperbolehkan murni murni hanya untuk menumpuk kecemasan finansial di dadamu! Jasad tuaku berjanji akan merampungkan seluruh pengerjaan bantuannya secara teramat sangat sempurna nan elok sekali khusus untukmu siang ini!"
Dan seketika itu juga, ia meledakkan suara tawa kemenangannya yang teramat sangat kencang membahana memenuhi ruangan.
Maeng So bertanya kembali menggunakan getaran nada yang diselimuti oleh kecemasan batin yang nyata.
"Apakah sediaan fisik jasad mudamu memang benar-benar akan baik-baik saja mengeksekusinya siang ini?"
"Hah! Kecemasan jenis apa lagi yang sedang coba kau tumpuk di dadamu itu, paman raksasa! Pendekar yang sedang berdiri tegak di depan wajahmu siang ini tidak lain adalah jasad Chung Myung seorang! Chung Myung sang Naga Ilahi Gunung Hua!"
Chung Myung menepuk-nepuk bidang dada mudanya bangga secara berapi-api.
'Jasad tuaku secara pribadi bersumpah sama sekali menolak mengantongi informasi apakah keputusan menyerahkan bantuan ini merupakan keputusan yang tepat bagi masa depan klan kami ataukah tidak.'
Memandangi keliaran tawa kemenangan yang dipamerkan oleh Chung Myung di atas meja tersebut dengan sasis mental yang setengahnya dipenuhi oleh kecemasan finansial dan setengahnya lagi dipenuhi oleh ketegangan batin yang nyata, Maeng So kembali melepaskan sebutir desah helaan napas panjang yang teramat lelah di dadanya.











