Return of the Mount Hua Sect

Chapter 232: Mengapa Kau Bertingkah Seperti Itu? (2)

5465 Kata

Chapter 232: Mengapa Kau Bertingkah Seperti Itu? (2)

"Jasad kalian bersumpah dilarang keras meluncurkan pergerakan kaki sedikit pun! Siapa saja praktisi di ruangan ini yang nekat bergerak maju pagi ini, maka jiwanya secara otomatis dideklarasikan sebagai pelaku kriminal!"

"...Bait kalimat omong kosong jenis apa lagi yang sedang coba disuarakan oleh lubang mulutnya saat ini?"

"Harap maklumi kelakuannya, Sasuk. Bukankah sirkulasi kegilaan wataknya ini memang merupakan jenis kelakuan yang tidak hanya baru satu atau dua hari saja menyiksa batin rombongan kita?"

Baek Cheon hanya bisa melepaskan sebutir desah helaan napas panjang yang teramat sangat mendalam di dadanya menyaksikan kelakuan Chung Myung yang tiada hentinya mengeluarkan getaran suara desisan dingin menyerupai seekor ular berbisa yang sedang berada dalam kondisi siaga tempur.

Tepat di balik jasad siluet Chung Myung saat ini, terpampang nyata keberadaan kantung kain berisi Rumput Kayu Ungu.

Detik pertama ketika jasad rombongan mereka secara sukses melangkahkan kaki kembali meniti area markas besar Istana Binatang tadi pagi, Chung Myung secara luar biasa langsung meluncurkan gerakan kilat merampas hak kepemilikan kantung kain tersebut secara sepihak dan mulai memperagakan kelakuan konyol sekejam ini di sudut kamar, bersikeras mengklaim bahwa jasad mudanya memikul tanggung jawab adat murni murni hanya untuk melindungi keutuhan obat tersebut.

"Sangat lucu nan menggemaskan sekali bukan kelakuannya."

"Batin tuaku sangat menyarankan agar Geol menolak menyuarakan kalimat pujian sebersih itu di hadapan wajahnya, bahkan seandainya itu murni hanya ditujukan sebagai lelucon sekalipun. Seandainya sirkulasi otaknya tidak sengaja menyaring kalimatmu tadi sebagai sebuah penilaian serius, ia dijamin pasti akan bertingkah puluhan kali lipat jauh lebih gila."

Baek Cheon melepaskan tawa renyah kecilnya menanggapi getaran tubuh Jo Geol yang tampak merinding ngeri.

Tentu saja, ia secara pribadi sama sekali menolak menyangkal kebenaran fakta yang menyatakan bentuk visual dari kelakuan Chung Myung pagi ini memang menyajikan tingkat kegilaan yang teramat sangat konyol nan luar biasa sekali bagi mata praktisi waras...

'Namun di sisi lain, batin tuaku sebenarnya sangat memaklumi alasan di balik kegilaan perilakunya.'

Fakta berupa rombongan mereka secara luar biasa telah berhasil mengamankan kepemilikan Rumput Kayu Ungu dengan tempo yang tersaji jauh lebih cepat nan mudah dari seluruh estimasi awal mereka bagaimanapun juga sama sekali menolak menyusutkan derajat keagungan nilai obat tersebut bagi masa depan sekte.

Faksi Gunung Hua pada hasil akhirnya memang membutuhkan sediaan Rumput Kayu Ungu tersebut murni murni hanya untuk merampungkan proses pemurnian Pil Asal Mula berikutnya, dan murni melalui cara keberhasilan pemurnian obat dewa tersebut lah, nama besar Sekte Gunung Hua secara otomatis akan kembali meluncur naik merebut kembali keagungan sejarah mereka di rimba persilatan Murim.

Bagi kelangsungan hidup Sekte Gunung Hua saat ini, selembar daun Rumput Kayu Ungu pada kenyataannya menyandang nilai pusaka yang tersaji puluhan kali lipat jauh lebih berharga nan mulia sekali seandainya disandingkan dengan ribuan kepingan logam emas murni.

Sangat wajar nan ilmiah sekali seandainya sirkulasi saraf di kepala Chung Myung saat ini dideklarasikan berada dalam kondisi tegang yang teramat pekat nan sensitif sekali.

"Seandainya komoditas obat tersebut memang menyandang nilai urgensi yang sekejam itu bagi batinmu, maka jasad kita sewajarnya menolak meluangkan sisa waktu kita murni murni hanya untuk memaku posisi berdiri kita menjaga kantungnya di Yunnan ini. Bukankah langkah taktis berikutnya adalah mempercepat kepulangan kita menuju ke Gunung Hua?"

Chung Myung menganggukkan kepalanya mantap menyetujui kebenaran logika tersebut.

"Durasi perjalanan dinas rombongan kita ke Yunnan ini memang terbukti telah bergulir melampaui batas kewajaran waktu yang direncanakan. Jasad leher dari jajaran Tetua sekte kita di Shaanxi saat ini kuyakin sudah resmi tumbuh memanjang satu inci akibat tiada hentinya meluncurkan gerakan mendongak menanti kepulangan jubah kita."

"..."

Membayangkan visual berupa barisan leher para Tetua sekte mereka yang mendadak tumbuh memanjang secara tidak masuk akal layaknya sekumpulan jerapah liar, Baek Cheon secara tergesa-gesa langsung menggelengkan kepalanya kasar murni murni hanya untuk mengusir paksa konseptual visual kotor tersebut keluar dari dalam kepalanya.

'Benar sekali, durasi waktu misi luar rombongan kita kali ini memang telah bergulir terlampau sangat panjang sekali.'

Siapa sebenarnya praktisi fana di bawah langit yang memiliki kapasitas ramalan cukup kuat sejak hari pertama murni murni hanya untuk menduga fakta berupa jasad mereka wajib memeras keringat menghadapi bencana tempur sekejam ini murni murni hanya untuk mengamankan seikat kecil tanaman rumput liar di perbatasan?

Memikirkan kembali seluruh rentetan pengorbanan tempur yang telah mereka tumpahkan di sepanjang jalan, derajat nilai dari kantung kain berisi Rumput Kayu Ungu di depan sepasang matanya saat ini terasa meluncur naik puluhan kali lipat jauh lebih mulia nan berharga sekali bagi batin Baek Cheon sendiri.

Ia memutar arah pandangan matanya memindai keberadaan ketiga murid juniornya dan membuka mulut bersuara.

"Apakah seluruh prosesi persiapan logistik kepulangan kita sudah resmi diselesaikan secara tertib?"

"Sama sekali tidak ada komponen logistik yang rumit murni murni hanya untuk disiapkan oleh tangan kami, Sasuk. Jumlah sediaan barang bawaan jasad rombongan kita sepanjang perjalanan luar ini bagaimanapun juga memeluk kuantitas yang teramat sangat minim sekali bukan?"

"Mm, ucapanmu memang sangat akurat sekali."

Baek Cheon menganggukkan kepalanya pelan tanda memaklumi.

Kemudian ia memalingkan kembali sorot pandangan matanya menatap wajah Chung Myung, volumenya nadanya sengaja diturunkan sedikit lebih pelan nan serius.

"Seandainya situasinya memang sudah matang, mari kita segera melangkahkan kaki menuju ke aula utama murni murni hanya untuk menyampaikan kalimat salam perpisahan adat yang resmi kepada Tuan Istana Binatang Barbar Selatan sebelum akhirnya kita memutar jubah pergi. Beliau sepanjang minggu ini telah secara nyata menyodorkan kemurahan hati yang teramat sangat besar sekali bagi rombongan kita, sudah menjadi kewajiban moral bagi pedang kita murni murni hanya untuk merawat nilai kesopanan dengan menyampaikan salam penghormatan terakhir secara layak."

"Mm, alur kesopanan sejenis memang wajib kita eksekusi."

Chung Myung menganggukkan kepalanya pelan menyetujui.

Seandainya keputusan operasional perjalanan ini murni hanya dikunci oleh dorongan watak pribadinya saja, ia dijamin pasti sudah memilih opsi untuk langsung melesatkan lari cepatnya membelah gerbang Yunnan menuju ke Shaanxi sejak tadi subuh tanpa perlu meluangkan sediaan detiknya murni murni hanya untuk menyuarakan kalimat salam perpisahan sepele, namun kenyataan bisnis di lapangan memaksanya untuk tetap merawat hubungan diplomatik bilateral yang sehat dengan Tuan Istana.

'Sebab komoditas Rumput Kayu Ungu kita di masa depan saat ini secara nyata sedang berstatus sebagai sandera finansial di tangannya.'

Kerutan halus seketika terukir samar di sepanjang dahi Chung Myung menahan kesal.

Semakin ia merapikan kembali sirkulasi logika di kepalanya menimbang perilaku Tuan Istana Binatang Barbar Selatan belakangan ini, semakin ia menyadari fakta politik berupa pria raksasa tersebut pada kenyataannya memikul kapasitas kecerdasan otak yang teramat sangat cerdik nan licik sekali.

Tuan Istana tersebut secara luar biasa telah berhasil mengunci rasa simpati emosional dan utang budi yang teramat tebal di dalam batin faksi Gunung Hua murni murni hanya dengan cara menyerahkan kepemilikan komoditas Rumput Kayu Ungu—sejenis tanaman rumput liar yang bagi kepentingan ekonomi klan perbatasan mereka sama sekali tidak menyandang nilai guna penting sedikit pun—dan bahkan secara spektakuler telah berhasil meletakkan batu fondasi awal bagi terjalinnya jalur kemitraan dagang yang berkelanjutan di masa depan murni murni hanya dengan cara membangun ladang penanaman obat di sekeliling area luar Kolam Suci.

Tentu saja, skema kemitraan dagang sejenis pada hasil akhirnya bagaimanapun juga tetap menyodorkan keuntungan finansial yang teramat sangat melimpah sekali bagi kepentingan faksi Gunung Hua sendiri.

Sebab melalui skema tersebut, faksi mereka tidak hanya berhasil mengamankan kepemilikan Rumput Kayu Ungu siang ini secara cuma-cuma saja, melainkan juga secara resmi telah berhasil mengunci jaminan jalur pasokan obat yang stabil nan aman untuk durasi puluhan tahun ke depan.

Tepat pada detik kontemplasi tersebut bergulir di kepalanya, Yoon Jong dan Jo Geol terlihat sedang meluncurkan langkah kaki merayap mereka mendekati posisi berdiri Chung Myung secara sembunyi-sembunyi.

"Tahan pergerakan kaki kalian! Jasad tuaku bersumpah dilarang keras meluncurkan langkah mendekat satu inci pun!"

"Sediaan akal di kepala kami bersumpah sama sekali menolak memelihara niat kotor murni murni hanya untuk merampas kantung obatmu, bocah gila! Jasad rombongan kami berdua bagaimanapun juga tetap menyandang status resmi sebagai murid sah sekte Gunung Hua yang sama denganmu!"

Jo Geol berteriak lantang dengan raut garis wajah dipenuhi oleh kebingungan terkejut menahan kesal akibat tuduhan sepihak barusan.

Yoon Jong melangkah maju mendampinginya dengan ekspresi garis wajah yang bertransformasi menjadi teramat sangat serius.

"Chung Myung."

"Ada apa?"

"Ada satu buah variabel operasional penting yang wajib tuaku diskusikan secara pribadi dengan kepalamu selama beberapa menit."

"Hm?"

Merasakan ketebalan atmosfer keseriusan yang dipancarkan oleh bahasa tubuh Yoon Jong tersebut, Chung Myung memiringkan kepala mudanya sedikit heran.

"Atas dasar alasan darurat apa yang mewajibkan rombongan kita murni murni hanya untuk mengeksekusi rencana konyol sekejam itu?!"

Volume suara teriakan Chung Myung seketika meledak lantang membelah kesunyian kamar.

Sebaliknya, Yoon Jong yang bertindak selaku pemantik awal diskusi terbukti tetap mempertahankan ketenangan wajahnya secara sangat rileks sekali, seolah-olah sirkulasi otaknya sejak awal memang telah berhasil memprediksi akan lahirnya reaksi penolakan kasar sejenis dari mulut juniornya.

"Harap tenangkan sirkulasi emosimu dan cerna terlebih dahulu rincian penjelasannya secara hati-hati, adikku."

"Rencana perjalanan luar rombongan kita ke Yunnan sepanjang minggu ini pada kenyataannya sama sekali tidak memiliki kaitan hukum murni murni hanya untuk memblokir laju pergerakan gerombolan kafilah dagang luar murni agar menolak melintasi Yunnan, ataupun memaksa mereka meluncurkan pelarian pergi! Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa divisi kafilah dagang luar itu sendiri lah yang sejak awal secara sukarela memilih opsi menolak meluncurkan misi dagang ke perbatasan ini murni karena khawatir dengan keselamatan nyawa mereka, jadi atas dasar motif moral apa yang mewajibkan jasad rombongan kita murni murni hanya untuk bersusah payah membujuk mereka?!"

"Sebab arah keputusan dagang tersebut didukung oleh adanya beberapa variabel krusial lainnya."

Tepat pada detik penjelasan tersebut disuarakan, Jo Geol yang sejak tadi berdiri diam menyimak di samping jubah Yoon Jong, secara cepat mengayunkan telapak tangannya di udara memotong pembicaraan dan menyambung kalimat penjelasan.

"Chung Myung. Seandainya niat awal Sahyung siang ini murni hanya didorong oleh rasa empati dan kasihan sepele semata murni untuk membantu kelangsungan hidup warga perbatasan, jasad tuaku berani bersumpah akan bertindak selaku orang pertama yang akan berdiri menghalangi langkah kakinya bahkan sebelum ia sempat menyuarakan isi kepalanya di depan wajahmu. Namun seandainya sirkulasi logikamu bersedia merapikan kembali kalkulasi ekonominya secara adil, permasalahan dagang perbatasan ini pada kenyataannya sama sekali tidak menyajikan alur kesederhanaan sebersih itu."

Mendengar argumen susulan yang diajukan oleh Jo Geol tersebut, kerutan halus kembali terukir di dahi Chung Myung.

"Lalu?"

"Sebab di balik permasalahan dagang tersebut, tersimpan potensi keuntungan koin perak yang teramat sangat melimpah ruah sekali bagi kas sekte kita."

"Hoh?"

"Koin perak raksasa!"

Sepasang kelopak mata Jo Geol seketika berkilat tajam memancarkan binar keserakahan finansial yang nyata.

Mendengar sebutan kata 'koin perak raksasa' disuarakan secara lantang oleh bilik mulut juniornya, Chung Myung memaku sorot pandangan matanya menatap wajah kedua orang tersebut dengan ekspresi wajah yang teramat sangat aneh nan canggung sekali.

"Jadi arah kesimpulan akhirnya..."

"Biar jasad tuaku menyajikan rincian penjelasannya..."

Namun sebelum bilik mulut Jo Geol sempat meluangkan sediaan detiknya murni murni hanya untuk menyuarakan bait kata pertama dari rincian penjelasannya, Chung Myung secara luar biasa justru langsung meluncurkan rentetan kalimat analisis ekonominya secara sangat lancar nan kilat sekali di udara.

"Karena kondisi sediaan pangan di sepanjang Provinsi Yunnan saat ini sedang dideklarasikan berada dalam skala krisis yang teramat memprihatinkan sekali, seandainya faksi kita memilih opsi murni untuk membeli komoditas pangan dari Dataran Tengah dan menukarkannya secara barter dengan komoditas daun teh perbatasan milik klan Istana Binatang, maka faksi kita secara hukum dijamin pasti akan sanggup meraup keuntungan koin perak yang teramat sangat gila luar biasa sekali bukan?"

"Uh..."

"Tentu saja, fakta sejarah saat ini memang menunjukkan adanya aktivitas kafilah dagang berskala kecil yang masih nekat beroperasi secara sembunyi-sembunyi di perbatasan, namun kuantitas pasokan pangan yang berhasil mereka salurkan ke Yunnan bersumpah tersaji sangat minim sekali nan jauh dari kata memadai. Oleh karena itu, seandainya faksi Gunung Hua kita secara ajaib berhasil mengamankan hak monopoli eksklusif atas jalur perdagangan teh Yunnan siang ini, maka kas keuangan sekte kita dijamin pasti akan bertransformasi menjadi teramat sangat makmur sekali hingga sanggup menyamai derajat kekayaan finansial dari Sepuluh Kelompok Dagang Besar Dataran Tengah?"

"..."

"Dan karena klan keluarga pedagang milik orang tuamu di Sichuan secara geografis dapat bertindak selaku agen distributor tunggal yang bertugas mengelola sirkulasi logistik dagangnya di lapangan, maka keputusan operasional ini secara otomatis dijamin akan membunuh dua ekor burung sekaligus dalam satu kali lemparan batu? Bukankah alur rancangan konspirasi finansial sejenis yang sedang coba kalian bangun di kepala kalian siang ini?"

Jo Geol murni hanya bisa memaku posisinya berdiri tegak menatap kosong ke arah wajah Chung Myung dengan sepasang kelopak mata dipenuhi oleh keheningan yang teramat canggung sekali.

"...Apakah sirkulasi otarmu sebenarnya sudah sejak menit pertama merancang rencana finansial sebersih itu di kepalamu?"

"Apakah kelayakan batinmu siang ini sedang menyusun penilaian buruk berupa mengklasifikasikan kapasitas otak tuaku setara dengan kasta otak manusia bodoh?"

"Benar."

"Apa?"

"Ah, tidak ada apa-apa."

Chung Myung menyeringai manis menyukai kepanikannya.

"Jasad tuaku memahami dengan sangat bersih mengenai apa sebenarnya arah keprihatinan sosial yang sedang berkecamuk di dalam dadamu, Sahyung, namun alur rancangan finansialmu barusan bersumpah murni hanya menyajikan analisis dari satu lembar sisi mata uang logam saja. Variabel terpenting yang wajib diselamatkan oleh pedang faksi kita saat ini sama sekali tidak memiliki kaitan dengan urusan meraup keuntungan koin perak di Yunnan, melainkan murni murni hanya ditujukan murni murni hanya untuk merawat harmonisasi hubungan bilateral bilateral yang sehat dengan Tuan Istana Binatang."

"..."

"Sangat tidak masuk akal nan di luar batas etika kesopanan bagi jasad rombongan kita murni murni hanya untuk memaksakan sebuah keputusan bisnis yang secara adat ditolak keras oleh klan tuan rumah, murni murni hanya atas dasar motif kemanusiaan palsu. Koin perak? Urusan itu tentu saja menyandang nilai kegunaan yang teramat sangat luar biasa sekali bagi kas sekte kita. Namun di sepanjang rimba persilatan fana ini, terdapat beberapa komponen nilai kemanusiaan lainnya yang wajib kita klasifikasikan menyandang derajat kepentingan yang jauh lebih mulia nan tinggi jika disandingkan dengan keagungan kepingan koin perak sepele semata."

Yoon Jong dan Jo Geol secara bersamaan memaku sepasang kelopak mata mereka menatap kosong ke arah wajah Chung Myung secara membisu.

Kemudian secara perlahan, kedua belah kepala mereka bergerak miring saling meluncurkan sorot mata penuh selidik satu sama lain.

'Geol. Bukankah jasadmu kemarin malam tiada hentinya meyakinkan batin tuaku dengan menyatakan bocah iblis pencinta koin perak ini dijamin pasti akan langsung meloncat gila kesenangan detik pertama kita menyodorkan wacana potensi keuntungan koin perak raksasa?'

'Batin tuaku kemarin malam bersumpah juga menaruh keyakinan yang sama, Sahyung! Siapa sebenarnya praktisi waras di dunia ini yang sanggup meramal fakta berupa bait kalimat filsafat moralitas sebersih itu akan dapat meluncur keluar dari celah bibir seorang bocah pelit yang wataknya terkenal teramat sangat mencintai koin perak melebihi keselamatan jiwanya sendiri?'

Chung Myung meluncurkan tatapan mata dipenuhi rasa kasihan yang mendalam menatap wajah kedua rekan seperguruannya tersebut.

"Oleh karena itu, secepatnya hentikan seluruh rancangan konspirasi tidak berguna kalian barusan dan segera selesaikan prosesi packing barang bawaan kalian."

"...Ugh."

Yoon Jong melepaskan sebutir suara erangan lelah di dadanya dan menjatuhkan kepala mudanya tertunduk dalam-dalam menghadap lantai.

"Namun seandainya sirkulasi batinmu berkenan... bukankah setidaknya diperbolehkan bagi jasadmu murni murni hanya untuk melayangkan wacana dagang teh tersebut secara lisan di sela-sela obrolan perpisahanmu dengan Tuan Istana nanti?"

"Haaaah."

Chung Myung meluncurkan tatapan mata dipenuhi oleh kejengkelan batin yang teramat sangat tebal sekali menatap wajah Yoon Jong.

Namun di sisi lain, Yoon Jong tampaknya sama sekali tidak memendam niat spiritual sedikit pun murni murni hanya untuk meluncurkan gerakan menyerah kalah secepat itu siang ini.

"Tuan Istana Binatang Barbar Selatan sepanjang minggu ini secara nyata telah memamerkan derajat kepedulian emosional yang teramat sangat khusus nan tinggi sekali bagi jasad mudamu bukan? Kata-kata yang keluar dari bilik mulutmu dijamin pasti akan menyandang bobot pertimbangan yang sangat kuat bagi telinganya. Terlebih lagi, landasan utama mengapa klan Istana Binatang bersikeras memblokir jalur perdagangan teh selama ini murni hanya dipicu oleh adanya rasa ketidakpercayaan adat mereka terhadap kejujuran moral pendekar Dataran Tengah semata. Seandainya jasad mudamu bersedia berdiri di garda terdepan bertindak selaku jembatan penjaminnya, keputusan dagang ini secara otomatis dijamin pasti akan melahirkan keuntungan kemakmuran yang nyata bagi kelangsungan hidup kedua belah pihak klan bukan?"

Kerutan halus kembali terukir di sepanjang dahi Chung Myung menahan kontemplasi.

Seandainya sirkulasi logika di kepalanya dirapikan kembali secara adil, untaian kalimat analisis yang baru saja diajukan oleh Sahyung-nya barusan pada kenyataannya memang menyajikan kebenaran logika yang cukup masuk akal untuk dicerna...

Setelah meluangkan durasi detiknya memutar sirkulasi logika selama beberapa saat, ia akhirnya membuka bibirnya bersuara pelan.

"Jasad tuaku murni hanya akan bertindak sebatas menyuarakan wacana dagangnya secara lisan saja di sepanjang obrolan nanti, tanpa adanya garansi hukum lanjutan."

"Syukur alhamdulillah! Batin tuaku bersumpah sama sekali tidak akan menuntut sediaan tindakan tambahan darimu."

"Namun!"

"Hm?"

Chung Myung menyeringai manis memamerkan raut wajah jenakanya.

"Terdapat satu buah komponen kelayakan fisik yang wajib dipersiapkan secara rapi oleh sepasang telapak tangan kalian berdua khusus khusus murni untuk menunjang kelancaran misi tuaku siang ini."

"Hm? Urusan kelayakan fisik jenis apa?"

"Komponen sepele yang proses penyediaannya sama sekali tidak akan menyita sediaan tenagamu secara berlebihan."

Chung Myung menyeringai lebar.

"Mari kita klasifikasikan komponen tersebut menggunakan sebutan: Selembar pakaian kelayakan negosiasi yang dijamin pasti akan sangat sanggup murni murni hanya untuk memaksa laju jalannya diplomasi kita di markas Tuan Istana bergulir puluhan kali lipat jauh lebih lancar nan elok."

Segumpal rasa kecemasan batin yang teramat sangat pekat nan dingin seketika merayap menyelimuti garis wajah Yoon Jong dan Jo Geol secara bersamaan.

"..."

Baek Cheon memaku sorot pandangan matanya menatap kosong ke arah jasad Chung Myung dengan sepasang kelopak mata dipenuhi oleh keheningan yang teramat canggung sekali.

"Pakaian itu..."

"Ada apa dengan penampilanku?"

"...Sama sekali menolak memiliki urusan darurat untuk dikomentari."

Arah pandangan matanya secara perlahan kembali menyapu turun dari ujung kepala hingga menyentuh batas kaki jasad Chung Myung secara berulang.

"...Atas dasar kegilaan jenis apa yang sedang coba kau peragakan dari penampilan konyolmu siang ini, Chung Myung?"

"Maksud Sasuk memperagakan kegilaan yang mana?"

"Uggghhh."

Baek Cheon kembali melepaskan desah helaan napas panjang yang teramat lelah di dadanya.

Chung Myung saat ini sedang berdiri tegak dengan mengenakan selembar jubah Jubah Bangau berwarna biru muda yang teramat sangat longgar sekali membungkus jasad mudanya, telapak tangan kanannya menggenggam satu buah kipas tangan yang seluruh bilah sayapnya terbuat dari perpaduan bulu burung berwarna putih bersih.

Secara teoritis, rancangan visual kipas tersebut memang sengaja dibuat murni murni hanya untuk meniru keindahan Kipas Bulu Putih legendaris milik sang Zhuge Liang yang melegenda di masa lalu, namun akibat kasarnya kualitas pengerjaan tangannya di lapangan, visual kipas di tangannya siang ini secara memalukan justru terlihat menyerupai sapu bulu ayam bekas yang teramat tidak layak dipandang mata.

Setelah meluncurkan beberapa kali kibasan kasar Kipas Bulu Putih cacat tersebut di depan wajah mudanya secara santai, Chung Myung menegakkan bahu mudanya tegak memamerkan kebanggaan batin yang nyata.

"Detik ketika seorang pendekar berwibawa merancang rencana untuk meluncurkan diplomasi dagang tingkat tinggi di sepanjang Provinsi Yunnan, maka jasad fisiknya sejak menit pertama sudah sewajarnya diwajibkan oleh etika adat murni murni hanya untuk mengenakan pakaian yang selaras dengan derajat misinya."

Melihat tingkah lakunya yang secara tidak masuk akal meluncurkan langkah kakinya berjalan mondar-mandir di kamar dengan kedua belah telapak tangan terlipat anggun di balik punggung jubahnya, dibarengi oleh gema tawa kecil "huhuhu" yang watak nadanya terkesan teramat sangat miring sekali bagi telinga, Baek Cheon secara refleks langsung merengutkan garis wajah tampannya kasar dan memalingkan kepalanya ke arah samping menolak memandang visualnya kembali.

Namun sayang, detik pertama kepalanya diayunkan berbalik arah ke samping, sepasang kelopak matanya justru dipaksa untuk menyaksikan pemandangan visual lainnya yang menyajikan keprihatinan moral yang tersaji jauh lebih buruk nan menyedihkan.

"Dan kondisi memprihatinkan jenis apa lagi yang sedang menimpa jasad kalian berdua siang ini?"

"..."

Yoon Jong dan Jo Geol secara membisu murni murni hanya memilih opsi untuk menyapu bersih tetesan air mata kesedihan yang merembes membasahi kelopak mata mereka menggunakan ujung lengan jubah mereka secara sunyi.

Sebab pada kenyataannya, keberadaan Kipas Bulu Putih yang saat ini sedang digenggam erat oleh telapak tangan kanan Chung Myung sama sekali tidak didapatkan melalui transaksi pembelian komersil di toko pasar Kunming, melainkan merupakan sebuah produk kerajinan tangan darurat yang diproduksi secara paksa oleh sepasang tangan mereka berdua kemarin siang.

Chung Myung kemarin siang secara gila menjatuhkan instruksi paksa yang menuntut penyerahan selembar Jubah Bangau beserta satu buah Kipas Bulu Putih dari tangan mereka dalam waktu minimal dua puluh empat jam.

Menolak memendam keberanian moral sedikit pun murni murni hanya untuk meluncurkan perjalanan jauh menuju ke pusat kota Kunming murni untuk membelinya di pasar, kedua orang pendekar tersebut terpaksa memilih opsi gila berupa melesatkan tubuh mereka berlari kencang membelah rimbunnya hutan belantara, menggunakan sepasang kaki mereka murni murni hanya untuk berburu mengejar kawanan burung liar perbatasan yang memiliki bulu ekor panjang.

Sebagai hasil akhir dari operasi perburuan burung liar tersebut, seluruh permukaan kulit tubuh mereka saat ini telah resmi dipenuhi secara rapat oleh belasan luka goresan ranting pohon berduri, ruam gatal akibat tersengat tanaman beracun hutan, serta robekan luka cakar dari cakar burung liar perbatasan yang teramat sangat menyiksa sekali bagi fisik mereka.

'Bocah gila keparat tiada guna.'

'Jasad iblis cilik sekejam dirinya bersumpah bahkan tidak layak murni murni hanya untuk dijadikan sebagai pakan bagi seekor anjing liar sekalipun!'

Namun berkat seluruh curahan cucuran air mata dan kesedihan batin yang mereka tumpahkan di sepanjang jalan perburuan tadi, seikat Kipas Bulu Putih yang secara visual setidaknya masih layak untuk dilabeli sebagai sejenis kipas tangan pada hasil akhirnya secara ajaib berhasil mereka rampungkan tepat sebelum batas waktu habis.

Dan wujud dari produk air mata duka tersebut siang ini sedang digenggam erat di tangan Chung Myung secara rileks.

"Huhu. Sirkulasi sejarah dunia pada hasil akhirnya bagaimanapun juga dipastikan akan selalu meluncurkan putaran pengulangan sejarah yang sama! Berdiri tegak dengan mengenakan jubah kebesaran akademis sebersih ini di depan matanya, Tuan Istana Binatang siang ini dijamin pasti akan langsung membungkam mulut besarnya secara patuh nan tunduk menyetujui seluruh usulan diplomasi dagangku bukan? Kkkkkkk."

Menyaksikan kelakuan Chung Myung yang tiada hentinya meluncurkan suara tawa kecil miringnya secara mandiri, Baek Cheon membuka bibirnya bersuara dengan getaran nada yang teramat sangat serius.

"...Semua junior, harap pasang pendengaran kalian dengan sangat baik nan rapat."

"Baik, Sasuk."

"Detik pertama ketika jasad rombongan kita secara sukses melintasi gerbang perbatasan Shaanxi dan melangkah masuk kembali ke Dataran Tengah nanti, seluruh variabel kejadian konyol yang melibatkan jubah bangau konyol ini dideklarasikan berstatus sebagai Rahasia Militer tingkat tinggi yang dilarang keras untuk disuarakan kembali seujung kata pun di depan umum. Seandainya desas-desus mengenai kebodohan visual ini sampai terendus oleh telinga klan Keluarga Zhuge di luar, jajaran pendekar klan mereka dijamin pasti akan langsung melesatkan jasad mereka menuju ke Gunung Hua murni murni hanya untuk memenggal kepala kita menggunakan parang pertempuran."

"...Jasad rombongan kami telah mencatat instruksi hukum tersebut secara bersih di dalam kepala, Sasuk."

Seluruh murid Gunung Hua secara bersamaan melepaskan sebutir desah helaan napas panjang yang teramat lelah secara beruntun.

Terlepas dari seluruh keprihatinan moral dan kesedihan batin yang menyelimuti jajaran rekannya, Chung Myung secara luar biasa tampak tetap memelihara kepuasan batin yang teramat sangat tinggi sekali atas kelayakan jubah bangau barunya siang ini, terbukti dari keputusannya yang tiada hentinya meregangkan kedua belah lengan jubahnya lebar-lebar ke kiri dan ke kanan, dibarengi oleh suara dehaman "ehem" kecil yang disengajakan dari bibirnya.

"Bagus, mari kita segera langkahkan kaki menuju ke aula utama murni untuk menemui Tuan Istana..."

Dan tepat pada detik kalimat tersebut disuarakan!

"Apakah kebetulan diperbolehkan bagi jasad pelayan murni murni hanya untuk meluncurkan ketukan di balik pintu kamar?"

"Hm?"

Mendengar getaran suara panggilan dari arah koridor luar pintu, Chung Myung mengayunkan daun pintu kayu terbuka lebar.

Sesosok prajurit Pelindung Istana tampak sedang memaku posisinya berdiri tegak menanti di koridor luar.

"Tuan Istana yang agung saat ini sedang melayangkan wewenang hukum klan menuntut kehadiran jasad Pendekar Taois Chung Myung di dalam aula utama sekarang juga."

"Eh?"

Chung Myung memiringkan kepala mudanya sedikit heran.

"Alasan darurat apa yang melatarbelakangi pemanggilan fisiku siang ini?"

"Jasad pelayan secara adat sama sekali menolak dibekali informasi mengenai detail urusan pribadinya. Beliau murni hanya menitipkan pesan lisan yang menuntut kehadiran jasad Anda di dalam ruang kerja pribadi Tuan Istana secepatnya setelah jasad Anda menyelesaikan seluruh kesibukan pribadi Anda."

"Apakah situasinya memang tersaji demikian?"

Chung Myung menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.

Sirkulasi otaknya sejak tadi pagi sebenarnya memang sedang merancang rencana murni murni hanya untuk mencari momentum pertemuan diplomatik yang tepat dengan Tuan Istana, oleh karena itu pemanggilan spontan ini secara luar biasa menyajikan momentum yang teramat sangat pas nan menguntungkan sekali bagi pedangnya.

"Baiklah, jasad tuaku akan segera meluncur menuju ke sana sekarang juga."

"Umm... Chung Myung..."

"Sasuk tidak perlu menumpuk kecemasan finansial di dadamu. Jasad tuaku berjanji akan merampungkan seluruh sesi diplomasi dagangnya secara teramat sangat elok nan mulus sekali siang ini. Meskipun secara visual luar penampilanku siang ini mungkin terlihat sedikit unik bagi matamu, namun sediaan memori di kepalaku menyimpan fakta sejarah berupa jasad tuaku di masa kehidupan lalunya dulu sempat menyandang gelar kepahlawanan sebagai sang Zhuge Chung Myung yang legendaris di bawah langit."

"...Zhuge Chung Myung pantasmu, bocah gila."

"Ehem!"

Memandangi bayangan siluet punggung Jubah Bangau milik Chung Myung yang berjalan menjauh membelah koridor halaman dengan kedua tangan terlipat anggun di balik punggungnya, Baek Cheon bersuara dengan ekspresi wajah yang teramat sangat dingin nan menegang kaku.

"Semuanya."

"Baik, Senior Brother!"

"Segera rampungkan seluruh aktivitas packing barang bawaan kalian dalam hitungan menit."

"Maaf?"

"Pastikan seluruh buntelan kain bawaan kalian telah terikat erat nan rapi di pundak masing-masing, murni murni hanya agar jasad rombongan kita akan langsung sanggup meluncurkan lari cepat melarikan diri dari Yunnan ini secepat badai di setiap detiknya setiap kali bencana kemarahan klan meledak datang nanti."

"...Baik, Sasuk."

Baek Cheon memaku sorot pandangan matanya menatap cemas ke arah bayangan jubah Chung Myung yang perlahan menghilang di balik tikungan koridor.

'Kami memohon dengan sangat kepadamu, tolong kendalikan keliaran watak bertarungmu siang ini, Chung Myung.'

Kami memohon kepadamu.

* * *

"Jasad mudamu akhirnya resmi meluncur datang?"

"Benar, Tuan Istana. Apakah kelangsungan tidur malam Anda sepanjang malam kemarin terbukti berjalan secara elok nan damai tanpa gangguan?"

"Variabel darurat jenis apa sebenarnya yang dijamin pasti akan sanggup murni murni hanya untuk mengganggu kenyamanan tidur jasad tuaku... Namun terlepas dari urusan tidur tersebut, ornamen pakaian unik jenis apa lagi yang sedang coba kau pamerkan di depan mataku siang ini, anak muda?"

"Jasad tuaku siang ini murni hanya meluangkan sedikit sediaan tenagaku murni murni hanya untuk merapikan sedikit penampilan fisik luar jasadku."

"Hahahahahahahahat! Perwujudan dari penampilan seorang cendekiawan suci yang teramat sangat anggun sekali!"

"Analisis penilaian Anda memang menyajikan keakuratan 100% bukan? Hehet!"

Chung Myung meregangkan sedikit kedua belah lengan Jubah Bangau sutranya lebar-lebar, meluncurkan langkah kaki kecilnya berjalan rileks mendekat, dan secara anggun menjatuhkan pantat mudanya duduk bersila tepat di hadapan meja kerja Tuan Istana Binatang Barbar Selatan.

"Jasad tuaku meluncur datang siang ini murni karena memenuhi panggilan wewenang dari pihak Anda."

"Mm, benar sekali. Tuaku sengaja melayangkan pemanggilan fisik ini karena memendam satu buah variabel urusan penting yang wajib tuaku diskusikan secara langsung dengan kepalamu."

"Baik, harap suarakan detail urusannya sekarang juga."

Tuan Istana Binatang memaku sorot sepasang kelopak titik merah delima matanya yang berkilau tajam menusuk meneliti detail wajah Chung Myung secara mendalam selama beberapa saat.

"Urusan ini sebenarnya menyajikan tingkat kecanggungan sosial yang teramat sangat tebal sekali murni murni hanya untuk disuarakan oleh sepasang bibir tuaku, namun bukankah klan Istana Binatang kami sepanjang minggu ini telah secara nyata menyodorkan kemurahan hati diplomatik yang teramat sangat besar sekali bagi kelangsungan misi faksi Gunung Hua kalian?"

"Keh, kebaikan rohani dari klan Anda bersumpah telah terukir secara abadi nan mendalam sekali di dalam batin tuaku."

Bait kalimat ucapan terima kasih yang baru saja dilepaskan oleh bilik mulutnya siang ini bersumpah 100% lahir dari ketulusan hatinya yang terdalam.

Meskipun keagungan jasa Santo Pedang Bunga Plum di masa kehidupan lalunya dulu secara nyata diakui bertindak selaku juru selamat yang menyelamatkan Provinsi Yunnan dari kehancuran perang, namun menyajikan tingkat penerimaan diplomatik dan kemurahan hati sekejam ini murni murni hanya karena menghormati status sosial jasad penerusnya—yang secara hukum dinilai murni hanyalah merupakan sesosok pemuda asing asing biasa yang menolak memeluk status selaku pelaku sejarahnya secara langsung—pada kenyataannya sama sekali bukan merupakan sebuah perkara diplomasi yang mudah untuk direalisasikan oleh klan perbatasan mana pun di dunia.

Oleh karena itu, batin Chung Myung secara jujur memendam rasa terima kasih yang teramat mendalam sekali atas kebaikan rohaninya.

Namun di luar batas kewajaran watak aslinya yang terkenal blak-blakan nan meledak-ledak, Tuan Istana Binatang siang ini secara luar biasa justru terlihat sedang menyuarakan kalimatnya menggunakan raut garis wajah yang memamerkan kecanggungan batin yang nyata.

"Tuaku meluncurkan pemanggilan ini sebenarnya sama sekali menolak ditujukan murni murni hanya untuk menuntut balas budi atas penyerahan obat kemarin, namun..."

"Ya?"

Menyaksikan garis siluet wajah kokoh raksasa di depannya saat ini sedang menyajikan impresi canggung yang teramat sangat memprihatinkan sekali bagi mata manusia, Chung Myung secara tidak sadar ikut merasakan hawa kecanggungan fisik yang nyata merayap menyelimuti jasad mudanya.

"Jasad tuaku memendam satu buah permohonan bantuan yang teramat sangat krusial sekali murni murni hanya untuk diajukan di hadapan wajahmu."

"Bantuan?"

"Benar."

Tuan Istana melepaskan sebutir desah helaan napas panjang lelah di dadanya dan menatap lurus ke arah wajah Chung Myung.

"Urusan bantuan ini berstatus sebagai sebuah bentuk permohonan resmi dari pihak Istana Binatang Barbar Selatan kepada pihak faksi Gunung Hua, dan di sisi lain juga menyandang status sebagai permohonan pribadi dari jasad tuaku sendiri selaku Maeng So, sang Tuan Istana..."

"Tahan pergerakan bibir Anda sejenak."

"Hm?"

"Apakah sediaan nama asli yang disematkan pada status sosial jasad raksasamu sejak lahir adalah Maeng So?"

"Analisis nama lahirmu itu memang 100% benar adanya."

"Nama belakang Maeng dengan menggunakan kata 'So' (kecil) yang berarti kecil bagi kamus bahasa?"

Tuan Istana Binatang menganggukkan kepala raksasanya mantap.

"Jasad tuaku sepanjang hidup pernah mendengarkan cerita sejarah dari bibir ibu kandung tuaku yang menyatakan bahwa pada detik pertama tuaku dilahirkan ke dunia dulu, ukuran fisik jasad bayiku terbukti tersaji sangat mungil nan kerdil sekali, sehingga ayah kandung tuaku secara sepihak langsung menjatuhkan keputusan adat murni murni hanya untuk menyematkan nama tersebut bagi kelangsungan hidup tuaku."

"..."

Tidak.

Bagaimana caranya sesosok bayi mungil yang ukuran fisiknya terbukti tersaji sangat kerdil sekali di masa lahirnya dulu, dapat secara biologis bertransformasi tumbuh menjadi sesosok manusia monster raksasa sekejam ini di masa dewasa?

Apakah di masa balita dulu silsilah keluargamu sengaja mencekokimu menggunakan daging sup Ular Sanca Darah Sisik Tinta hangat sebagai menu hidangan makanan pendamping ASI harianmu?

"Ehem, persetan dengan segala jenis detail sejarah pertumbuhan fisik tuaku!"

Tuan Istana Binatang Maeng So menyemburkan suara dehaman keras murni murni hanya untuk mengusir paksa rona merah kecanggungan di wajah raksasanya dan kembali bersuara.

"Urusan ini menyandang status resmi sebagai permohonan resmi dari jasad tuaku pribadi selaku Maeng So, pemimpin tertinggi Istana Binatang, kepada jasad Pendekar Taois Chung Myung selaku perwakilan sah dari sekte Gunung Hua."

Chung Myung seketika menegakkan kembali poros tulang belakang jasad mudanya kokoh di atas lantai.

Melihat tingkat formalitas diplomatik yang sengaja dihadirkan di sepanjang kalimat pembukanya barusan, arah kesimpulan akhirnya secara tidak langsung menyuarakan konfirmasi berupa detail bantuan yang akan diajukan siang ini dipastikan menyandang tingkat keseriusan yang teramat sangat tinggi sekali bagi kelangsungan hidup klan.

Seseorang yang sepanjang minggu ini tiada hentinya menyodorkan kebaikan rohani yang tulus bagi pedangnya, secara hukum adat persilatan sudah sewajarnya menerima porsi perlakuan penghormatan yang selaras dari kedua belah telapak tangannya siang ini.

Chung Myung secara luar biasa secara tiba-tiba langsung mengunci rapat seluruh ekspresi wajah jenakanya dan bertransformasi menjadi teramat sangat serius.

"Harap suarakan detail bantuannya sekarang juga, Tuan Istana."

"Detail urusannya adalah mengenai..."

Maeng So tampak memiringkan kepalanya sejenak murni murni hanya untuk memilah kata yang paling halus nan sopan bagi telinga tamunya, bibirnya terlihat mulas bergumam beberapa kali sebelum akhirnya melepaskan sebutir desah helaan napas panjang dan bersuara jujur.

"Jasad tuaku menyadari dengan sangat bersih bahwa pengajuan bantuan ini menyajikan tingkat kesulitan yang teramat sangat tinggi sekali bagi pihak kalian... Namun seandainya sirkulasi batin kalian berkenan, apakah diperbolehkan bagi faksi Gunung Hua murni murni hanya untuk berdiri di garda terdepan bertindak memimpin jalannya sirkulasi perdagangan kafilah dagang di Provinsi Yunnan kita siang ini?"

"...Maaf?"

"Maksud tuaku adalah mengelola perdagangan..."

"Ya?"

"Monopolisasi jalur perdagangan teh Yunnan..."

"...Maaf, Tuan Istana?"

"Tentu saja, jasad tuaku menyadari dengan sangat bersih bahwa porsi tuntutan bisnis sekejam ini menyajikan tingkat kerumitan yang luar biasa, namun..."

Chung Myung bertanya balik dengan ekspresi wajah yang teramat sangat datar nan kosong melompong menatap wajah raksasa Maeng So.

"Apakah kelayakan batin Anda siang ini sedang merancang permohonan resmi yang menuntut faksi Gunung Hua kami murni murni hanya untuk mengelola jalur perdagangan teh Yunnan?"

"Analisis dugaanmu itu memang 100% benar adanya."

"Gunung Hua kami?"

"Benar sekali."

"..."

Chung Myung murni hanya bisa memaku sepasang kelopak matanya menatap kosong ke arah wajah raksasa Maeng So dengan ekspresi wajah yang teramat linglung nan bingung setengah mati.

'Tidak. Atas dasar hukum alam mana yang membolehkan sepasang bibir raksasa kotor milikmu bertindak selaku orang pertama yang menyuarakan pengajuan bisnis teh tersebut siang ini?'

Sebab sediaan kalimat pengajuan bisnis teh sejenis pada kenyataannya merupakan sebaris kalimat proposal dagang yang sejak tadi pagi telah secara rapi dirancang di dalam kepalaku murni murni hanya untuk diajukan di hadapan hidungmu siang ini.

Bagaimana caranya laju sirkulasi takdir persilatan siang ini dapat secara ajaib berputar terbalik memutar haluan sekejam ini menghantam batin tuaku?

Chung Myung

Chung Myung

Karakter Utama
Baek Cheon

Baek Cheon

Pendukung
Yu Iseol

Yu Iseol

Heroine
Yoon Jong

Yoon Jong

Pendukung
Jo Gul

Jo Gul

Pendukung
Tang Gunak

Tang Gunak

Pendukung
Hyeyeon

Hyeyeon

Pendukung
Lim Sobyeong

Lim Sobyeong

Pendukung
Jang Ilso

Jang Ilso

Antagonis
Hyun Jong

Hyun Jong

Pendukung
Hyun Young

Hyun Young

Pendukung
Tang Soso

Tang Soso

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.