Murim Psychopath

Chapter 97

3185 Kata

**Bab 97. Gelombang**

***

Itu merupakan sebuah baris kalimat deklarasi yang tergolong sangat sombong. Terlebih lagi, menyuarakan kalimat pembangkangan tersebut di hadapan Ketua Aliansi Beladiri yang sedang bersiap membuka kembali segel Sekte Zhongnan dinilai sangat tidak sopan. Sepasang alis putih tebal Dewa Sejati Hyeon-cheon tampak kembali berkedut halus selama beberapa saat. Namun riak keterkejutan batin tersebut dengan sangat cepat berhasil ia padamkan.

Dewa Sejati Hyeon-cheon mengangkat telapak tangannya, menurunkannya mendekati dada baru kemudian mengusap janggut putih panjangnya perlahan sembari bersuara.

“Jika kenyataannya memang seperti itu, maka tidak ada alasan penting yang menuntut dirimu untuk bersusah payah melangkah mengunjungi markas Aliansi Beladiri hari ini, bukan?”

“Sebab petuah terakhir…… menuntutnya. Petuah mendiang guruku……”

Ia menapakkan kakinya di Aliansi Beladiri murni demi menyukseskan petuah terakhir dari master Pedang Tunggal Zhongnan.

Dan dirinya merupakan satu-satunya murid asuhan dari master Pedang Tunggal Zhongnan saat ini……

Sebenarnya, bahkan di saat Dewa Sejati Hyeon-cheon mengirimkan surat undangan resmi menuju ke hadapan master Pedang Tunggal Zhongnan kemarin, ia tidak menaruh ekspektasi yang terlampau besar. Pendekar tua tersebut dianalisis telah membuang pedangnya sejak lama, sesosok nama yang telah resmi dilupakan oleh masyarakat persilatan. Dan sesosok master yang seluruh dendam kesumat beserta rantai hubungannya telah terkunci rapat di balik segel isolasi pegunungan.

Dewa Sejati Hyeon-cheon menempelkan sela cangkir tehnya yang telah kosong tak bersisa tersebut ke bibirnya sejenak baru kemudian melanjutkan kalimatnya.

“Rencana apa yang bersiap kau eksekusi setelah hari ini?”

Ia melayangkan pertanyaan tersebut guna memetakan detail wasiat apa sebenarnya yang ditinggalkan oleh master Pedang Tunggal Zhongnan. Selama identitas pendekar itu merupakan sosok Pedang Tunggal Zhongnan yang ia kenal di masa lalu, ia dipastikan bukan tipe pendekar yang murni hanya mengutus muridnya meluncur ke aliansi untuk menyerahkan surat kunjungan semata lalu selesai.

Ditopang oleh statusnya sebagai Ketua Aliansi, ia menolak mengajukan pertanyaan secara frontal di depan tamu melainkan memilih menyuarakannya memanfaatkan metode analogi tidak langsung.

“………”

Untuk sepersekian detik yang sangat singkat, sesosok kilatan cahaya tajam tampak meletus menyelimuti sepasang mata transparan Zhong Zhihang.

Apakah ia memang sejak awal sedang berdiri menanti datangnya pertanyaan kritis tersebut? Dewa Sejati Hyeon-cheon menganalisis bahwa kemungkinan besar pertanyaan yang ia layangkan baru saja memang telah dimasukkan sebagai bagian dari petuah terakhir gurunya.

“………Aku bersiap melangkah kembali…… menyusuri jalur jalan…… yang sempat dilalui oleh guruku dulu……”

“……!”

*Set.*

Ternyata detail itulah rencana gerakannya……? Wasiat terakhir dari mendiang gurunya?

Hyeon-cheon bukannya tidak memikirkan persentase bahaya tersebut di saat ia memutuskan membuka kembali segel Zhongnan kemarin. Meski begitu, alasan yang mendasari keputusannya sebagai Ketua Aliansi Beladiri murni didorong oleh penilaian taktisnya bahwa dunia persilatan Dataran Tengah saat ini sangat menuntut lahirnya satu orang master puncak tangguh tambahan di lapangan.

Dewa Sejati Hyeon-cheon meletakkan cangkir kosongnya kembali ke atas meja hingga memicu gema suara benturan halus baru kemudian menatap lekat sepasang mata Zhong Zhihang. Kilatan cahaya tajam di sepasang matanya tadi dilaporkan telah resmi menguap tak berbekas saat ini. Yang tertinggal di sela pupil matanya murni hanya menyisakan kedalaman danau yang sangat jernih dan transparan.

Hyeon-cheon akhirnya mengurungkan energinya untuk membaca isi kepala pemuda di hadapannya, baru kemudian melepaskan desah napas panjang yang sangat berat.

“Hah…… tumpukan dendam kesumat yang sangat mengerikan dipastikan akan kembali menumpuk menyelimuti tubuhmu kelak. Persis seperti nasib menyedihkan yang melanda gurumu dulu.”

Zhong Zhihang mengusap permukaan sarung Pedang Baja Surgawi Agung di tangan kirinya sekali baru kemudian bersuara kaku.

“Guruku…… sempat menyuarakan…… kalimat petuah ini……”

“………”

“Ia mengklaim dirinya…… menarik pedang…… secara sembarangan di masa mudanya…… mengklaim dirinya bahkan tidak dibekali kemampuan untuk menebas sasaran…… secara presisi…… Namun meski begitu……”

Meskipun susunan kosakatanya terdengar sangat kacau dan berantakan, Dewa Sejati Hyeon-cheon dibekali kapasitas batin untuk memahami esensi pesannya seutuhnya. Dan otaknya seketika memicu kembali potongan kalimat yang sempat ia dengar dari mulut master Pedang Tunggal Zhongnan di masa lalu.

`[Jika kau menolak mengayunkan pedangmu membelah musuh, untuk apa kau bersusah payah mempelajari seni pedang menanggung sengsara sejak awal? Selama kau telah selesai mempelajarinya, kau diwajibkan mengayunkannya secara mutlak membantai lawan! Hahaha!]`

Tepat di saat Hyeon-cheon sedang terhanyut mengenang potongan memori masa lalu tersebut, deru suara berat Zhong Zhihang kembali merayap memenuhi lubang telinganya.

“Oleh karena kegagalan tebasan pedang itulah…… ia berakhir menyandang gelar sebagai Pedang Tunggal……”

“Jika kau bersikeras menyusuri jalur jalan yang sejajar dengan langkahnya, kau dipastikan murni hanya akan berakhir bertransformasi menjadi sosok Pedang Tunggal kedua di dunia persilatan.”

“Aku…… menolak memperagakan jalur yang sama…… tidak akan seperti itu……”

“………”

“Aku…… tidak akan mencabut pedang…… secara sembarangan, namun…… di saat aku memutuskan menarik bilahnya dari sarung…… aku dipastikan…… akan menebas sasaranku secara mutlak seutuhnya…… Dan jika gerakan itu telah dieksekusi kelak…… seluruh barisan gunung, aliran sungai, dedaunan, beserta pepohonan dipastikan…… akan gemetar ketakutan, dipadu dengan kawanan pendekar persilatan…… yang dipaksa mengompol celananya karena ngeri……”

“…… Apakah detail kalimat tersebut merupakan petuah terakhir dari mendiang gurumu?”

Menyambut pertanyaan berat yang disuarakan oleh Dewa Sejati Hyeon-cheon tersebut, Zhong Zhihang melayangkan gelengan kepalanya perlahan. Petuah terakhir yang sesungguhnya dideteksi menyimpan esensi yang sepenuhnya berbeda dengan kalimat barusan. Kemungkinan besar karena motif rahasia itulah ia sengaja mengutus murid tunggalnya meluncur mengunjungi markas Aliansi Beladiri bahkan setelah raganya tewas mati. Rencana analisis itulah yang tergambar di dalam kepala Dewa Sejati Hyeon-cheon saat itu.

Zhong Zhihang bangkit berdiri dari kursi kayunya. Bilah Pedang Baja Surgawi Agung di genggaman tangan kirinya terdeteksi bergetar kasar menyapu udara. Persis seperti fenomena getaran pedang yang kerap ditunjukkan oleh mendiang gurunya dulu. Tidak, bahkan riak getaran pedang pemuda ini dideteksi berkali-kali lipat jauh lebih mentah dan lebih kasar dibandingkan dengan getaran pedang gurunya.

“Ia menginstruksikan diriku untuk menjelma…… menjadi sebilah Pedang Ilahi (`Divine Sword`)……”

“……!”

Apakah petuah tersebut bermaksud menginstruksikannya untuk menyusun ulang lembaran sejarah persilatan menggunakan tebasan pedang yang telah menyentuh tingkatan alam Ilahi sejati? Rencana tersebut dideteksi sangat logis untuk menjadi kenyataan. Selama identitas pendekar itu merupakan sosok master Pedang Tunggal Zhongnan yang ia kenal, pendekar tua tersebut diakui sangat mampu untuk merumuskan wasiat gila seperti itu di akhir hidupnya.

Dan.

Ia dikenal sebagai tipe pendekar yang menolak menyuarakan omong kosong sepanjang hidupnya.

‘Apakah detail tersebut menandakan pemuda compang-camping di hadapanku saat ini memendam bakat bertarung yang mumpuni untuk mencapainya?’

Selesai menyuarakan baris wasiat terakhir gurunya, Zhong Zhihang memutar arah tubuhnya baru kemudian melangkah kaki santai menuju ke arah pintu keluar ruangan.

Selesai melunasi seluruh kewajiban bersuara yang ia miliki, ia memutuskan untuk segera melangkah pergi meninggalkan kompleks aula.

Namun tepat pada detik pergerakan langkah kakinya bersiap membuka pintu, gema suara Dewa Sejati Hyeon-cheon kembali menahan pergerakan kakinya di tempat.

“Apakah kesepakatan kesetiaan (`pact`) yang terjalin di antara Sekte Zhongnan dengan Aliansi Beladiri terhitung masih berlaku aktif saat ini?”

Langkah kakinya seketika terhenti kaku.

Zhong Zhihang menghentikan pergeseran kakinya baru kemudian menundukkan kepalanya sejenak, tenggelam merumuskan jawaban di sela otaknya. Menyaksikan gestur keheningan tersebut, Dewa Sejati Hyeon-cheon mengamankan keyakinan batinnya bahwa pemuda di depannya secara faktual dibekali informasi mengenai eksistensi kesepakatan rahasia tersebut. Mengingat master Pedang Tunggal Zhongnan saat ini telah wafat, keputusan untuk melunasi kesepakatan tersebut atau membuangnya ke tempat sampah murni berada di bawah wewenang mutlak pemuda itu sendiri saat ini.

“Hal tersebut…… benar adanya……”

Sesosok senyuman tipis seketika mengembang menghiasi wajah Dewa Sejati Hyeon-cheon.

Ia memang tercatat gagal mengamankan aliansi tempur bersama master Pedang Tunggal Zhongnan di turnamen kali ini, namun sebagai gantinya ia secara tidak sengaja berhasil mengamankan kepemilikan atas sebilah Pedang Ilahi yang tangguh. Meskipun ia belum pernah menyaksikan secara langsung tingkat ketajaman tebasan pedang pemuda tersebut di arena pertarungan nyata, dan bilah pedang panjang tersebut sewaktu-waktu berisiko bertransformasi menjadi pedang bermata dua yang membahayakan nyawanya sendiri di masa depan kelak, namun hasil akhirnya dipastikan murni bergantung pada tingkat kelihaian dari sang pengguna pedang itu sendiri, bukan?

*Tap.*

Zhong Zhihang melangkah pergi keluar ruangan, menyisakan hawa keheningan yang kembali merayap memenuhi seisi ruangan kerja. Kini, murni hanya menyisakan sosok Dewa Sejati Hyeon-cheon seorang diri yang duduk terdiam sembari mengusap permukaan cangkir tehnya yang telah kosong tak bersisa.

***

*Tap.*

Kapal feri penyeberangan berikutnya dilaporkan telah resmi merapat di dermaga pelabuhan kota Zhengzhou.

Dong Bong-su beserta Eulji Tae memilih bersiap menanti hingga seluruh penumpang kapal lainnya telah selesai turun terlebih dahulu, baru kemudian keduanya melangkah kaki menapakkan kaki di atas tanah pasir Zhengzhou.

Tepat di jalur jalan depan mereka, rombongan murid Sekte Kunlin beserta Sekte Huashan yang menderita kekalahan memalukan di tangan Zhong Zhihang tadi tampak melangkah kaki lemas mengarah ke selatan dengan ekspresi wajah yang sangat muram. Mengarah lurus ke titik koordinat di mana markas Aliansi Beladiri bersiap berdiri. Tidak hanya rombongan murid sekte tersebut saja, melainkan sebagian besar penumpang kapal feri yang meluncur bersamanya hari ini dilaporkan langsung memandu pergerakan kaki mereka menuju ke arah aliansi sesaat setelah turun dari kapal.

Rombongan penumpang yang baru saja meluncur turun dari kapal penyeberangan lainnya yang merapat dari arah berlawanan juga mayoritas memandu pergerakan kaki mereka ke arah koordinat yang sejajar…… tidak berlebihan jika ia merumuskan visualnya sebagai sesosok air bah manusia yang sedang meluap membanjiri kota Zhengzhou hari ini.

“Alasan apa menurut analisamu yang memicu jajaran pendekar tersebut berhimpun memenuhi kota ini secara massal?”

Eulji Tae bersuara perlahan sembari matanya menatap tenang ke arah rombongan manusia yang saling sikut berebut jalan di hadapannya.

Pendekar mana pun yang mengenali reputasi namanya dipastikan akan terkejut setengah mati menyaksikan kejadian ini. Sejak kapan pendekar bergelar *Golok Lengket Pembelah Langit* (Heaven-Splitting Sticky Blade) dibekali watak sosial untuk bersedia meluncurkan kalimat tanya terlebih dahulu seperti ini? Dan terlebih lagi pertanyaan tersebut dilayangkan ke hadapan seorang pemuda yang durasi perkenalannya bahkan belum genap berusia satu bulan.

Pada kondisi normal biasa, ia menyandang reputasi sebagai pendekar dingin yang menolak bersuara kecuali faksi lawan melayangkan kalimat tanya terlebih dahulu ke hadapannya. Namun pemuda Dong Bong-su secara konstan telah berulang kali memicu logikanya untuk meluncurkan kalimat tanya terlebih dahulu. Kasus aneh bagi logikanya, namun ia menolak menaruh rasa benci menyikapi anomali sosial tersebut.

Meniru reaksi Eulji Tae, Dong Bong-su melayangkan pandangan matanya menatap tenang antrean panjang manusia di hadapannya baru kemudian bersuara datar seolah sedang melempar kalimat sepele di udara.

“Sebab detik ini dideteksi bukan sebagai era perdamaian agung.”

Jawaban di luar ekspektasi. Sebuah baris kalimat tanggapan yang sepenuhnya melabrak perkiraan awal di kepalanya. Benar. Karakteristik jawaban seperti inilah yang secara konstan terus memicu rasa penasaran batinnya hingga terpaksa menyuarakan kalimat tanya terlebih dahulu.

Eulji Tae melayangkan senyuman tipis yang dibalut hawa dingin khas miliknya baru kemudian bersuara bertanya kembali.

“Detail penjelasan seperti apa yang terkandung di balik kosakatamu tersebut?”

“Kau baru saja melayangkan pertanyaan menyangkut alasan apa yang memicu mereka berhimpun memenuhi kota Zhengzhou hari ini.”

“Benar, aku melakukannya.”

“Mereka berhimpun memenuhi kota murni didorong oleh ambisi pribadi untuk bisa keluar menyandang gelar sebagai sesosok pahlawan perang sejati (`heroes`) maupun sebagai master agung bela diri yang disegani dunia persilatan.”

Analisis tersebut diakui tepat. Itu merupakan baris jawaban pakem standar serta merupakan esensi jawaban langsung yang ingin didengar oleh lubang telinga Eulji Tae sejak awal. Namun faktor korelasi apa sebenarnya yang membatasi antara era perdamaian agung dengan ambisi kepahlawanan mereka? Bukankah kedua variabel tersebut dideteksi berdiri terpisah tanpa kaitan?

Dong Bong-su melanjutkan kalimat penjelasannya datar.

“Sesosok pahlawan perang sejati tidak akan pernah menampakkan dirinya di sela-sela era perdamaian agung yang tenang. Di sela suburnya era perdamaian, masyarakat sipil sama sekali tidak memiliki kebutuhan praktis akan hadirnya sosok pahlawan perang maupun master agung bela diri, dan logika mereka bahkan menolak mendeteksi eksistensi keberadaan nama tersebut di sekeliling mereka.”

“………”

“Persis seperti visual kehidupan masyarakat sipil di era kepemimpinan kaisar legendaris **Yao dan Shun**, di mana rakyat sipil bahkan tidak menaruh kepedulian batin sedikit pun untuk mengetahui siapa sebenarnya identitas raja yang sedang memimpin mereka saat itu.”

Era kekacauan perang. Serta sosok pahlawan perang yang lahir membelah era kekacauan tersebut.

Dong Bong-su secara mutlak sedang merumuskan filosofi mengenai sosok pahlawan perang sejati di era kekacauan. Ia sama sekali tidak sedang menyuarakan definisi pahlawan bela diri kelas teri yang bersiap di dalam parameter pemikiran Eulji Tae sejak awal.

Apakah detail penjelasan tersebut menandakan adanya jurang pemisah yang sangat dalam antara definisi pahlawan sejati dengan definisi master bela diri biasa?

Mendengar baris jawaban yang sangat unik dari mulut Dong Bong-su tersebut, Eulji Tae mendapati rasa penasaran batinnya menyangkut karakteristik asli pemuda di depannya tumbuh menjadi berkali-kali lipat jauh lebih pekat dibandingkan sebelumnya.

“Lalu menyangkut karakteristik dirimu sendiri? Apakah kau juga memendam ambisi bertarung yang sejajar dengan kawanan pendekar di depan kita saat ini?”

“………”

Dong Bong-su sempat menghentikan laju kalimatnya mendengar pertanyaan dari mulut Eulji Tae baru kemudian terdiam mematangkan alur simulasi taktis di sela otaknya.

Sesosok “bibit ternak istimewa” (Zhong Zhihang) dilaporkan telah menampakkan wujud fisiknya di tempat ini. Dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupnya menapakkan kaki di dunia game ini, ia secara tidak sengaja berhasil mengamankan sesosok tujuan petualangan baru yang ia klasifikasikan sebagai “target perburuan unik”. Kedua variabel tersebut dideteksi menyandang tingkat kesulitan yang sangat ekstrem di lapangan, menyelaraskan karakteristik keunikan status yang mereka sandang. Mengingat detail ini merupakan kasus pertama yang ia hadapi, kosakata “tantangan bertarung” (`challenge`) dirasa sangat pas untuk merangkum isi dadanya saat ini.

Tantangan bertarung.

Itu merupakan sebaris kosakata asing yang sebelumnya tidak pernah singgah di kepalanya namun entah mengapa memancarkan daya pikat yang sangat kuat bagi logikanya saat ini. Dan fisiknya saat ini telah resmi merapat di kota Zhengzhou.

Secara mendadak, sesosok kalimat gurauan yang kerap ia dengar di Bumi dulu melintas memenuhi sel otaknya.

*`[Bertaruhlah besar atau pulang saja]` (Go big or go home).*

Sebuah kosakata kasino judi yang sangat populer. Jika ia terpaksa harus menerjemahkan padanan kosakatanya menggunakan tata bahasa dunia persilatan ini, ia dipastikan akan merujuk ke arah papan meja judi taruhan maut. Itu merupakan sebaris petuah yang murni hanya pas disuarakan di meja judi kasino, namun…… esensi kalimatnya dirasa sangat presisi menyelaraskan isi kepalanya saat ini.

Benar sekali. Ia dipastikan akan terus melangkah maju ke depan. Menyelaraskan seluruh alur pergerakan fisik yang secara konstan selalu ia peragakan sejak dulu.

“Aliran gelombang manusia saat ini dilaporkan sedang bergejolak dahsyat.”

Suara Dong Bong-su terdengar sangat datar.

Tepat di saat Eulji Tae melayangkan pandangan matanya meneliti jalan depan, menyelaraskan kalimat Dong Bong-su baru saja, barisan kepala jajaran pendekar yang saling dorong berebut jalan ke depan secara visual memaparkan kemiripan bentuk yang sejajar dengan gulungan ombak sungai.

“Jika kau telah terlanjur melemparkan wujud fisikmu menyelam ke dalam luasnya samudra maut, apakah menurut analisamu masih tersisa opsi taktis bagi tubuhmu untuk bisa meloloskan diri menghindari gulungan ombak?”

“………”

Jika ia memosisikan dirinya sebagai sosok Dong Bong-su yang asli di masa lalu, ia dipastikan akan menolak membuang energinya secara sia-sia murni hanya untuk menyuarakan kalimat panjang tanpa manfaat praktis seperti baru saja.

Namun.

Selama raganya secara faktual telah resmi tersapu masuk ke dalam pusaran air bah raksasa yang diistilahkan sebagai era kekacauan persilatan saat ini, bukankah dinilai tidak buruk bagi logikanya untuk mencoba mengenakan topeng pahlawan perang palsu tersebut sekali saja? Dan topeng pahlawan yang sedang diharapkan oleh Eulji Tae saat ini dipasang di wajahnya dideteksi sangat menuntut penggunaan gaya bicara seperti baru saja. Dan di beberapa aspek, baris kalimat analogi tersebut secara esensial memang mewakili isi dadanya saat ini.

“Jika ragamu telah terlanjur dihantam oleh gulungan ombak raksasa, bukankah tidak tersisa opsi pertahanan selain membiarkan tubuhmu mengikuti derasnya arus gelombang baru kemudian mendaratkan kakimu dengan aman di atas tanah kering nanti?”

Kemungkinan besar karena ia menaruh rasa suka yang cukup padat menyikapi baris jawaban Dong Bong-su baru saja, Eulji Tae tampak berusaha meredam senyuman aneh yang mendadak meletus di sela bibirnya, melepaskan suara batuk kecilnya perlahan baru kemudian bersuara santai.

“Ehem. Begitu rupanya. Kalau begitu mari kita gerakkan langkah kaki kita sekarang. Mengingat pada akhirnya kita diwajibkan meluncur menuju ke lokasi yang sama, bukankah akan jauh lebih baik jika kita menempuh perjalanannya dengan akselerasi kecepatan yang jauh lebih lincah?”

Dong Bong-su beserta Eulji Tae. Kedua orang pendekar tersebut resmi menyudahi sesi obrolan hening mereka baru kemudian melangkahkan kaki menyelam ke dalam kerumunan lautan manusia di depannya, tersapu derasnya arus gelombang menuju ke kompleks Aliansi Beladiri.

***

Persis seperti alur hilangnya wujud fisik dari Zhong Zhihang beserta Dong Bong-su dari dermaga baru saja, kapal feri penyeberangan yang sebelumnya mereka tumpangi dilaporkan telah kembali memutar arah dan berlayar pergi meninggalkan pelabuhan.

Sesaat setelah kepergian perahu feri tersebut, sesosok perahu feri baru lainnya yang merapat dari arah berlawanan tampak meluncur mengisi kekosongan slot dermaga pelabuhan. Di sela kabin penumpang perahu feri baru tersebut, menyalin alur perilaku yang diperagakan oleh dua orang pendekar misterius sebelumnya, terdapat satu orang penumpang yang sengaja memilih bersiap di posisinya menanti hingga seluruh penumpang kapal lainnya selesai turun terlebih dahulu, baru kemudian telapak kakinya menapakkan kaki di atas tanah Zhengzhou.

Postur tinggi tubuhnya dideteksi berada di tingkatan sedang. Mengenakan baju zirah ringan berwarna hitam legam (`black light armor`). Helaian rambut di kepalanya dipangkas dalam gaya potongan pendek rapi (`short-cut hair`). Sebilah pedang pusaka tampak tersampir miring di bagian punggungnya. Serta sesosok bekas luka parut yang sangat mencolok terlihat terukir menyilang menyelimuti permukaan kulit pipi sebelah kirinya.

Visual pakaian jubah yang ia kenakan dideteksi tidak menyajikan perbedaan kosmetik apa pun dengan gaya pakaian yang melekat di tubuh jajaran pendekar persilatan di sekitarnya. Kecuali keberadaan bekas luka parut di pipi kirinya.

Menyalin visual dari ratusan pendekar di sekelilingnya, ia melangkahkan kakinya membaur ke dalam kerumunan arus manusia, melewati bisingnya jalanan raya kota, baru kemudian melangkah kaki santai mengarah ke selatan selama beberapa saat. Jalur jalan yang ia lalui dilaporkan selaras dengan jalur jalan yang sebelumnya ditempuh oleh pergerakan kaki Dong Bong-su beserta rombongan murid sekte tadi. Titik koordinat arah yang menuntun lurus menuju ke lokasi markas Aliansi Beladiri.

Apakah ia juga diklasifikasikan sebagai salah satu bagian dari rombongan pendekar luar daerah yang meluncur demi bisa mengunjungi markas Aliansi Beladiri hari ini?

Selesai menempuh durasi berjalan kaki yang cukup panjang membelah padatnya jalan raya kota Zhengzhou, sebuah kompleks kediaman berskala sangat raksasa yang kemegahannya menyerupai kediaman Istana Kekaisaran akhirnya menampakkan wujudnya di depan jalan. Lokasi tersebut merupakan kompleks Aliansi Beladiri. Persis seperti yang telah ia perkirakan, area bagian depan pintu gerbang kompleks dilaporkan telah dipadati oleh lautan manusia.

Jajaran pendekar yang dibekali oleh kepemilikan surat undangan resmi tampak melangkah kaki memasuki kompleks Aliansi Beladiri melintasi kolong Gerbang Muhwa, sedangkan sisa pendekar lainnya yang menolak memiliki undangan murni hanya berdiri terdiam mendongakkan kepala mereka menatap takjub ke arah kompleks pemimpin dunia persilatan yang baru pertama kali mereka saksikan sepanjang hidup mereka.

Pemuda misterius tersebut tampak memandu langkah kakinya melebur ke dalam golongan pendekar tanpa undangan kedua baru kemudian berdiri tegak terdiam di satu titik lokasi selama beberapa saat. Hingga tidak lama setelah itu ia memutar arah tubuhnya baru kemudian melangkah pergi meninggalkan lokasi gerbang.

Hanya gerakan diam itulah yang ia peragakan. Satu-satunya aktivitas fisik yang ia laksanakan sesampainya di hadapan Gerbang Muhwa kompleks Aliansi Beladiri saat itu murni hanya sebatas itu saja……

Namun tepat di atas tanah pasir titik koordinat bekas tempatnya berdiri tegak terdiam tadi, secara misterius menyisakan keberadaan sebuah cetakan simbol berukuran sangat kecil. Hanya dalam sekali sapuan mata biasa, visual cetakan kecil tersebut dipastikan akan disimpulkan oleh orang lain sebagai sebutir pasir biasa yang menggelinding ditiup angin. Namun jika kau meluncurkan pemeriksaan secara lebih mendalam menggunakan indera penguji sistem, fakta bahwa cetakan pasir tersebut menolak bergeser ditiup angin membuktikan kebenaran bahwa ia secara mekanis merupakan sebuah bentuk simbol khusus yang sengaja dicetak menempel kuat di atas tanah. Seolah-olah ada seorang penganut sistem tertentu yang sengaja menghentakkan kakinya dan mencetak simbol tersebut di tempat itu seutuhnya…….

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar