Murim Psychopath

Chapter 87

2799 Kata

**Bab 87. Terbang Lepas Landas**

***

Sepasang mata biru terang milik Timur Khan tampak berkilat tajam. Mamorota dilaporkan telah tewas. Meskipun ia sejak awal memang telah memutuskan untuk membuang eksistensinya, tewasnya sang adik tetap dideteksi sebagai tewasnya sesosok saudara angkat yang terikat sumpah darah.

Timur Khan telah menyaksikan jalannya bentrokan maut antara kawanan Pasukan Serigala Abu-Abu melawan pihak musuh sejak awal hingga akhir pertempuran. Riak keterkejutan yang sangat hebat seketika mengguncang lubang hatinya. Itu merupakan sebuah gaya pertempuran gila yang mustahil untuk ia percayai jika ia tidak menyaksikannya secara langsung berbekal sepasang matanya sendiri. Jarak pertahanan mereka memang terlampau jauh untuk bisa menangkap detail pergerakannya secara jelas, namun gerakannya dipastikan sangatlah aneh. Dan kemenangan akhir dari pertempuran tersebut secara mutlak resmi direngkut oleh pemuda yang menebas mati Mamorota, Dong Bong-su.

Meskipun demikian, kemenangan taktis secara makro perang diakui tetap berada di bawah genggaman Timur Khan, di bawah kendali dirinya.

Berkat adanya pengerahan “pengorbanan” dari Pasukan Serigala Abu-Abu baru saja, unit operator pelontar batu kekaisaran saat ini telah resmi disapu bersih tanpa sisa, dengan sisa tentara bayaran kekaisaran yang bertahan hidup dilaporkan telah tercerai-berai sepenuhnya di padang rumput. Ditopang oleh hasil pencapaian tempur segemilang itu, bukankah keputusan mengorbankan seluruh divisi Pasukan Serigala Abu-Abu dinilai sangatlah sepadan?

Timur Khan memicu keaktifan indera penglihatannya lebih tajam lagi dan secara konstan terus mengawasi jalannya pergerakan Dong Bong-su, kondisi di sekelilingnya, serta jalannya peta pertempuran secara bulat.

Dong Bong-su tampak sedang berjongkok memeriksa kondisi fisik serigala raksasa Kaiji untuk memastikan apakah serigala tersebut masih hidup atau tidak, sedangkan sesosok prajurit Pasukan Serigala Abu-Abu yang identitasnya tidak diketahui tampak tetap bertahan di kejauhan mengawasi visual kejadian tersebut.

Di sela durasi mengawasi tersebut, sisa pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu lainnya terlihat sedang bergerak melarikan diri kencang menuju ke arah pintu gerbang Benteng Guisui, dengan pergerakan pasukan utama kekaisaran di bawah komando Lee Ja-song tampak terus meluncur kencang memotong jalur pelarian mereka.

Timur Khan segera menghentikan fokusnya meneliti pergerakan Dong Bong-su beserta sisa unit pelontar batu di kejauhan. Manfaat apa lagi yang bisa didapatkan oleh otaknya dengan terus mengawasi satu unit lokasi perkemahan yang kondisi fisiknya telah resmi luluh lantak menjadi abu? Memang benar ia sempat mendeteksi keberadaan satu unit mesin pelontar batu tuas penyeimbang *trebuchet* yang tersisa tegak di tanah pasir, namun…… hanya berbekal satu unit mesin kepung yang rusak seperti itu, mustahil bagi musuh untuk bisa membalikkan hasil akhir dari kelangsungan perang hari ini.

Selesai menetapkan kesimpulan taktis tersebut di kepalanya, ia memindahkan seluruh fokus pandangan matanya memantau pergerakan pasukan utama Lee Ja-song di padang rumput.

“Lepaskan tembakan busur panah besar.”

Instruksi perintah baru dari Timur Khan seketika menggema menyapu seluruh jajaran prajurit pertahanan benteng yang bersiap di atas tembok.

“Jenderal memerintahkan pelepasan tembakan busur panah besar sekarang juga!”

Jajaran operator busur panah besar secara bersamaan melepaskan tembakan salvo raksasa mereka membidik langsung ke arah barisan terdepan pasukan utama Lee Ja-song. Di saat yang sama, divisi pemanah benteng yang sejak tadi sudah menarik tali busur panah mereka kencang-kencang ikut melepaskan anak panah mereka menyelaraskan laju salvo busur besar.

*Wusss! Sret! Jleg!*

Disertai gema suara robekan angin malam yang sangat tajam, puluhan prajurit berkuda yang meluncur di posisi terdepan barisan Lee Ja-song seketika jatuh terkapar tewas menggelinding di tanah. Secara alami, akselerasi laju penyerangan pasukan utama Lee Ja-song langsung merosot turun dalam sekejap.

Lee Ja-song, yang menyadari dengan sangat baik fakta taktis bahwa pada jarak sedekat ini Timur Khan dipastikan tidak akan memiliki keberanian untuk membuka pintu gerbang utama benteng, memilih tidak memaksakan pergerakan pasukannya meluncur maju lebih jauh lagi. Tidak peduli seberapa kokohnya konstruksi pertahanan dari pintu gerbang besi Benteng Guisui, ia mengetahui dengan sangat baik bahwa kelenturan untuk membuka dan menutup gerbang besi tersebut tercatat sangat lamban dan tidak sebanding dengan kualitas pertahanannya.

Ketegangan taktis terus terulur antara Lee Ja-song yang sedang bersiap menanti adanya celah dibukanya gerbang benteng, melawan Timur Khan yang sama sekali tidak menaruh rencana untuk membuka gerbang benteng sedikit pun. Namun Lee Ja-song juga sangat memahami bahwa Timur Khan dipastikan tidak memiliki niat untuk membuka pintu gerbang. Jika ia memaksakan gerbang dibuka pada jarak sedekat ini, detail tersebut dipastikan hanya akan memberikan peluang emas bagi pasukan utama kekaisaran untuk bisa merangsek masuk ke dalam benteng secara massal.

Sejak awal, Timur Khan memang tidak pernah berniat untuk membiarkan Pasukan Serigala Abu-Abu masuk kembali ke dalam benteng di saat ia memerintahkan mobilisasi serangan kilat mereka tadi. Peran tempur mereka telah resmi diselesaikan begitu seluruh unit mesin pelontar kekaisaran dipastikan hancur terbakar di perkemahan. Begitu ia meluncurkan mereka keluar menuju padang rumput yang dipenuhi oleh monster penyakit sampar pes, nilai guna mereka telah resmi habis, dan hanya menyisakan kewajiban bagi mereka untuk tewas sebagai martir benteng.

*Wusss! Wusss!*

Persis seperti analisanya, pasukan utama Lee Ja-song segera melepaskan tembakan hujan panah massal ke arah sisa pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu yang saat itu sedang dalam kondisi terjebak tak berdaya tepat di depan gerbang Benteng Guisui yang tertutup rapat tanpa memiliki arah pelarian. Timur Khan memanfaatkan momentum pembantaian tersebut untuk memfokuskan serangan panah besarnya guna menghasilkan kerusakan sebanyak mungkin ke arah pasukan utama Lee Ja-song. Langkah ini sengaja ia lakukan untuk memangkas nominal kuantitas pasukan musuh sebanyak mungkin di saat mereka memaksakan diri mendekati benteng.

Di saat Timur Khan menyapu bersih barisan terdepan Lee Ja-song murni mengandalkan tembakan busur panah besar dari atas tembok, Lee Ja-song membalasnya dengan meluncurkan pembantaian massal ke arah kawanan Pasukan Serigala Abu-Abu di bawah tembok benteng, memaksa kawanan serigala yang telah kehilangan jalur penyelamatan diri tersebut tewas menggelinding tanpa sisa.

*Sret! Sret!*

“Akh! U-Ukh!”

Ini merupakan sesosok medan pertempuran maut yang sepenuhnya tidak menyisakan ruang bagi keindahan seni bela diri. Di dalam jalannya pertempuran sejati, benturan bilah pedang beserta semburan darah merah segar seharusnya menjadi ornamen utama yang memancarkan keindahan perang……

Namun kenyataannya ini merupakan visual dari peperangan nyata. Selama kau memiliki kapasitas untuk bisa melenyapkan nyawa musuh tanpa perlu memamerkan fisiknya di hadapan mereka, kau dipastikan akan melakukannya; dan jika peluang tersebut tidak eksis, kau dipastikan akan menyapu bersih musuh sembari sebisa mungkin menghindari kontak fisik secara langsung di lapangan. Di dalam peperangan maut, memenangkan pertempuran merupakan satu-satunya variabel terpenting, bukan perkara keindahan visual gerakan jurus.

Baik Timur Khan maupun Lee Ja-song secara konstan terus meluncurkan taktik perang murni ditopang oleh hukum kebenaran sederhana tersebut.

*Brak! Jleg!*

“Akh—!”

Meskipun kuantitas korban jiwa terus merangkak naik secara signifikan di kedua belah faksi, ekspresi wajah Lee Ja-song tampak berkerut tidak senang sebaliknya di bibir Timur Khan tampak mengembang senyuman gembira yang sangat pekat.

Meskipun ia terpaksa harus kehilangan seluruh divisi Pasukan Serigala Abu-Abu miliknya hari ini, sebagai gantinya posisi unit pelontar batu milik musuh telah resmi dimusnahkan seutuhnya, dan musuh dipastikan akan kesulitan mencari suplai material kayu baru untuk merakitnya kembali dari awal. Terlebih lagi, jajaran prajurit operator pelontar batu kekaisaran telah disapu bersih tanpa sisa di lapangan. Dengan kata lain, bahkan jika musuh terbukti memiliki suplai material kayu baru sekalipun, tidak ada lagi personel ahli yang dibekali kemampuan untuk merakit mesin tersebut.

Selama ia mampu mengunci gerbang benteng dengan rapat saat ini, pasukan musuh dipastikan akan tumbang dengan sendirinya akibat infeksi penyakit sampar pes. Berkat kesuksesan taktis pertempuran hari ini, Timur Khan tumbuh menjadi semakin yakin akan kemenangan mutlak bentengnya di masa depan.

Kobaran api raksasa yang melahap area barisan Pegunungan Yinshan terdeteksi merembes semakin membara dari waktu ke waktu.

Di sisi lain, kuantitas jumlah sisa kawanan Pasukan Serigala Abu-Abu yang bertahan hidup di bawah benteng merosot turun dengan sangat cepat. Kini, kemusnahan total dari seluruh sisa divisi tempurnya murni hanya merupakan perkara durasi beberapa menit saja.

‘Kini setelah Kaiji juga dipastikan ikut tewas, membentuk kembali divisi Pasukan Serigala Abu-Abu yang baru di masa depan dipastikan akan menjadi sangat sulit.’

Hanya penyesalan taktis itulah yang tersisa di dalam kepala Timur Khan menyangkut jalannya bentrokan maut hari ini. Ia telah melupakan seutuhnya mengenai pengorbanan nyawa yang ia paksakan terhadap para bawahannya baru saja, dan murni hanya meratapi kenyataan bahwa ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk bisa menyusun kembali divisi kavaleri serigala andalannya di masa depan.

Lebih tepatnya, mengenai kematian serigala raksasa Kaiji. Kematian makhluk tersebut dirasa sangat disayangkan oleh batinnya. Murni karena adanya eksistensi raja serigala abu-abu Kaiji itulah, ia selama ini mampu memberikan instruksi perintah secara mudah kepada kawanan serigala liar lainnya yang secara biologis mustahil untuk bisa dijinakkan oleh manusia biasa.

Serigala Kaiji telah tewas, dan jasad tubuh raksasanya dipastikan sedang terbaring kaku di tanah pasir berdampingan dengan jasad mayat Mamorota……!?

Tepat di saat ia sedang merenungkan akhir hayat dari Kaiji beserta Mamorota tersebut, Timur Khan menyapu pandangan matanya sekali lagi menatap ke arah tenggara, lokasi di mana titik koordinat Dong Bong-su berada.

Namun untuk beberapa saat, posisi kepalanya yang sempat menoleh menatap ke arah tersebut terbukti tidak bergeser kembali ke posisi semula. Fisiknya terpaku kaku di tempat.

Sebab sesosok objek berwarna abu-abu raksasa saat itu terdeteksi sedang meluncur terbang dengan sangat kencang ke arah posisinya!

‘Serigala Kaiji?’

Sebuah fenomena yang sepenuhnya melabrak akal sehat. Bagaimana metode logis yang bisa menjelaskan serigala yang telah dipastikan tewas di tanah pasir mendadak bisa menampakkan dirinya di tempat ini? Terlebih lagi meluncur terbang di atas langit?

Namun, anomali gila yang sepenuhnya tidak masuk akal tersebut secara faktual terbukti benar-benar sedang berlangsung saat ini.

Serigala raksasa Kaiji meluncur terbang menembus langit padang rumput mengincar langsung dinding pertahanan Benteng Guisui.

Dan di atas punggung raksasanya!

Sesosok pemuda bernama Dong Bong-su sedang duduk menunggangi dengan sangat santai.

“B-Bagaimana…… bagaimana metode gila yang ia gunakan……?”

Bahkan di saat ia belum selesai menyuarakan kalimat herannya tersebut, jarak jangkauan penerbangan fisik serigala raksasa di depannya terdeteksi merapat sangat cepat menyapu udara.

“Tembak!”

Karena posisi moncong dari mesin busur panah besar sejak awal memang difokuskan menghadap ke bawah membidik pasukan utama Lee Ja-song, sangat sulit bagi operator untuk mengubah arah bidikan ke arah jalur penerbangan Kaiji dalam sekejap, sehingga hanya divisi pemanah biasa yang mampu memutar arah bidikan mereka kencang dan melepaskan tembakan hujan anak panah massal ke arah Kaiji beserta Dong Bong-su di udara. Timur Khan tidak mengetahui metode apa sebenarnya yang digunakan pemuda itu hingga tubuh serigala raksasa tersebut bisa terbang melayang di langit, maupun bagaimana metode menjinakkan Kaiji dalam waktu singkat, namun ia menganalisis mustahil bagi tubuh mereka untuk bisa menghindari serbuan hujan anak panah yang sangat rapat tersebut di udara.

Namun analisis perkiraan di kepala manusia tidak selamanya mewakili hasil akhir di lapangan. Khususnya di saat rangkaian kondisi taktis sejak awal memang sudah terlanjur melenceng dari jalurnya, detail masalah biasanya hanya akan berujung semakin kacau dan semakin berantakan.

Dong Bong-su, yang tadinya memosisikan tubuhnya tiarap rapat di atas punggung serigala Kaiji, mendadak menegakkan kembali posisi punggungnya tegak lurus baru kemudian mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan udara.

Seketika itu juga, sesosok objek berwarna hitam pekat secara misterius mendadak menampakkan dirinya tergenggam di tangannya.

Sebuah jasad mayat manusia!

Dan itu merupakan jasad mayat yang kondisi fisiknya telah terkontaminasi penuh oleh bakteri penyakit sampar pes sampar hitam!

Dong Bong-su melemparkan jasad mayat hitam tersebut ke arah datangnya hujan anak panah musuh. Baru kemudian ia mengeluarkan jasad mayat lainnya dan kembali melemparkannya deras. Ia secara konstan terus meluncurkan jasad mayat hitam keluar dari inventarisnya tanpa jeda.

“……!”

Tidak ada satu pun prajurit pertahanan benteng yang mampu merumuskan metode magis dari mana sebenarnya asal-usul datangnya tumpukan jasad mayat tersebut, namun jasad mayat hitam terdeteksi secara konsisten terus menyembur keluar dari telapak tangan pemuda itu. Jajaran jasad mayat tersebut bertindak layaknya tameng pelindung fisik yang menangkis seluruh serbuan anak panah di depan tubuh Dong Bong-su beserta Kaiji sembari terus meluncur deras jatuh menghujani dinding pertahanan benteng.

Timur Khan menarik bilah goloknya dan mengayunkannya deras menebas jasad-jasad mayat yang meluncur ke arahnya. Namun nominal kuantitas jasad mayat hitam yang dilemparkan oleh Dong Bong-su terbukti tidak hanya terbatas pada satu atau dua buah jasad saja.

Dilanda kecemasan maut, ia mencengkeram paksa tubuh prajurit pemanah maupun operator busur panah di sekelilingnya yang sedang bersiap dan melemparkan tubuh mereka ke udara demi bisa membentur dan menghalau laju jatuhnya jasad mayat hitam musuh.

*Brak!*

*Jleg!*

“Akh—!”

Gema benturan yang sangat tumpul meletus di udara tepat di saat tubuh prajurit yang masih hidup berbenturan keras dengan jasad mayat hitam yang membusuk di udara.

Sesaat setelah berbenturan di udara, tubuh prajurit pertahanan benteng yang tadinya masih hidup sehat tersebut seketika ikut meluncur jatuh bebas ke bawah tembok benteng dan berubah menjadi jasad mayat tambahan di tanah.

Bagi mental Timur Khan saat ini, kehilangan nyawa satu atau dua orang prajurit bawahannya sama sekali bukan merupakan perkara penting yang patut dipedulikan. Bagaimanapun caranya, ia diwajibkan untuk menahan agar tidak ada satu pun jasad mayat hitam sampar tersebut yang berhasil melintasi dinding pertahanan masuk mengotori Benteng Guisui. Ia bahkan rela mengorbankan nyawa Mamorota beserta divisi Pasukan Serigala Abu-Abu demi bisa menahan penularan wabah tersebut, lalu apa artinya kehilangan nyawa satu atau dua orang prajurit pemanah biasa?

Pada akhirnya, seluruh jasad mayat hitam yang dilontarkan berhasil ia halau di udara tembok benteng. Namun sosok Dong Bong-su beserta serigala raksasa Kaiji dideteksi masih terus meluncur terbang lurus ke arah posisinya di atas tembok benteng. Ia diwajibkan untuk melumpuhkan pergerakan fisik mereka berdua saat masih melayang di udara saat ini juga.

*Set!*

Timur Khan melompat melesat ke depan menyongsong arah datangnya Dong Bong-su yang sedang meluncur kencang menembus langit menuju ke dalam benteng dengan akselerasi kecepatan yang sangat dahsyat. Kini, selama ia sukses melenyapkan nyawa pemuda itu dan mementalkan tubuhnya ke luar dari area benteng, seluruh ancaman taktis peperangan hari ini dipastikan akan selesai saat itu juga.

Ia sama sekali tidak menaruh pemikiran bahwa usahanya meluncurkan serangan gerilya ini akan berujung pada kegagalan. Meskipun ia menyadari pemuda di depannya telah berhasil melumpuhkan kekuatan Mamorota baru saja, ia meyakini pemuda itu dipastikan tidak akan memiliki kemampuan fisik untuk menangkis tebasan pedang maut miliknya di udara. Di sepanjang medan pertempuran hari ini, satu-satunya variabel bahaya yang dideteksi mampu mengancam keselamatan nyawanya hanyalah bakteri penyakit sampar pes sampar hitam saja.

*Wusss—!*

Apakah laju anak panah yang melesat dari busurnya bisa dideteksi lebih cepat dibandingkan dengan akselerasi laju lompatan fisiknya saat ini?

Timur Khan meluncur deras di atas langit menuju ke arah Dong Bong-su beserta Kaiji dengan akselerasi kecepatan yang sangat luar biasa cepat dan sangat mengerikan.

Ia memosisikan kedua belah tangannya rapat menghadap ke bawah untuk meminimalisir hambatan angin di udara udara.

Lalu, tepat di saat lompatan fisiknya telah terangkat mencapai titik koordinat di mana bagian perut serigala Kaiji berada dekat dalam jangkauan pandangan matanya, ia mengangkat kembali kedua belah tangannya yang tiarap tadi sekuat tenaga mengayun ke atas. Sesaat lagi, ujung bilah pedangnya dipastikan akan menusuk tembus bagian perut Kaiji, mencabik-cabik seluruh organ dalam serigala, baru kemudian menyembur keluar menembus punggung dan menusuk kemaluan bagian bawah Dong Bong-su secara presisi. Detail serangan tebasan tunggal tersebut dipastikan akan menyelesaikan seluruh kekacauan ini secara mutlak.

Namun tepat pada detik kritis di saat ujung bilah pedangnya sudah hampir menyentuh permukaan kulit perut serigala Kaiji.

Secara mendadak!

Tubuh serigala raksasa Kaiji beserta Dong Bong-su mendadak lenyap menguap dari udara.

“……!”

Tebasan pedang mautnya murni hanya berakhir menebas udara kosong secara sia-sia, dengan tubuh kekarnya yang terdorong oleh sisa gaya inersia peluncuran tadi terpaksa harus tetap meluncur kencang membelah langit terbang melambung semakin tinggi ke atas udara. Merasakan anomali tersebut, Timur Khan buru-buru memutar arah tubuhnya di udara untuk mengerem laju peluncurannya, namun karena sisa tenaga peluncuran awal ditambah daya tebasan pedangnya terlampau besar, ia terpaksa harus tetap melayang sejauh beberapa zhang lagi ke atas sebelum akhirnya bisa turun.

“Kkeuaaaak!”

Di sela durasi Timur Khan melayang tak berdaya di atas langit udara baru saja, sosok Dong Bong-su yang telah mendarat dengan sangat aman di atas tembok benteng segera meluncurkan pembantaian massal membantai jajaran prajurit pemanah beserta operator busur panah secara membabi buta. Satu hal yang paling aneh dari visual kejadian tersebut adalah bagaimana cara serigala raksasa Kaiji bergerak menyelaraskan serangannya mendampingi Dong Bong-su seolah-olah pemuda tersebut merupakan majikan aslinya sejak awal.

Koordinasi bertarung Metode Pembantaian Manusia-Serigala yang ditunjukkan oleh Dong Bong-su saat ini bahkan terlihat jauh lebih matang dan jauh lebih lihai dibandingkan dengan koordinasi tempur milik Mamorota yang telah melatihnya selama belasan tahun di padang rumput, dan secara faktual memang seperti itulah kebenarannya.

Serigala Kaiji mencabik-cabik leher dari setiap prajurit nomaden yang berani menggeser langkah menghalangi jalur pergerakan Dong Bong-su hingga tewas di tempat.

Di sela durasi pembantaian tersebut berjalan, Dong Bong-su secara konstan terus menarik keluar jasad mayat hitam sampar dari dalam inventaris sistemnya dan melemparkannya secara membabi buta ke arah area pemukiman warga sipil beserta barak prajurit di dalam Benteng Guisui di bawah tembok benteng.

Barulah setelah berhasil mengerem laju tubuhnya memanfaatkan tiang kayu penyangga benteng dan meluncur turun kembali ke bawah, Timur Khan menyaksikan visual malapetaka biologis tersebut berlangsung secara nyata di depan sepasang matanya sendiri. Seluruh pertahanan keras yang telah ia perjuangkan setengah mati sepanjang hari ini seketika hancur sia-sia.

Hingga pada akhirnya, hujan jasad mayat hitam pembawa wabah pes sampar Kematian Hitam resmi menghujani seluruh penjuru bagian dalam Benteng Guisui bagaikan air bah yang menyapu pemukiman.

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar