**Bab 83. Mamorota**
***
Berikutnya, satu per satu unit mesin *trebuchet* di barisan depan mulai dihancurkan oleh musuh. Beberapa unit tampak hancur berkeping-keping akibat dihantam gada besi besar, sedangkan unit lainnya dibakar menggunakan kobaran api.
Para tentara bayaran telah bertarung dengan sangat gigih untuk mempertahankan posisi, namun kualitas kekuatan fisik mereka sama sekali tidak mampu mengimbangi kebuasan serangan musuh.
*Sret.*
“Uh!”
Bahkan di tengah-tengah kekacauan pembantaian massal tersebut sekalipun, Dong Bong-su secara konsisten terus melenyapkan nyawa jajaran prajurit Pasukan Serigala Abu-Abu satu per satu.
Setiap kali pedang *Wanderer's Sword* miliknya bergerak mengayun sekali, dua buah jasad mayat musuh dipastikan akan langsung menggelinding tewas di tanah pasir.
*Sret. Sret.*
`[1, 2, 3, 4, 5]` `[Pemain berhasil mendaratkan 5 kali tebasan beruntun Chain Slash, seluruh status statistik fisik meningkat sebesar +5%.]`
`[6, 7, 8, 9, 10]` `[Pemain berhasil mendaratkan 10 kali tebasan beruntun Chain Slash, seluruh status statistik fisik meningkat sebesar +10%.]`
Tidak dibutuhkan waktu yang lama bagi dirinya untuk memicu keaktifan keahlian pasif `[Chain Slash Lv. 2]` miliknya di medan pertempuran.
Di sepanjang barisan divisi Pasukan Serigala Abu-Abu saat itu, tidak ada satu pun prajurit yang memiliki kemampuan bertarung fisik untuk bisa membendung tebasan pedang Dong Bong-su.
*Sret! Brak!*
Sekali lagi, jasad dari dua orang prajurit Pasukan Serigala Abu-Abu beserta serigala tunggangannya tampak menyemburkan darah pekat, isi otak, beserta organ dalam secara bersamaan begitu tebasan maut pedangnya meluncur menyapu tubuh mereka.
Di sela-sela durasi pembantaian tersebut, puluhan tentara bayaran beserta ratusan prajurit operator pelontar batu kekaisaran juga dilaporkan telah tewas gugur. Karena unit operator pelontar batu sejak awal memang bukan merupakan unit militer kombatan sejati, sangat wajar jika mereka langsung dibantai tanpa daya di depan terkaman kawanan serigala abu-abu. Skenario pertahanan terbaik mereka hanya terjadi di saat jajaran tameng kayu pelindung sesekali berhasil menangkis terkaman cakar serigala.
Secara alami, unit mesin *trebuchet* yang mereka bentengi satu per satu mulai ikut bertumbangan hancur. Sebagian besar mesin tampak dibakar habis oleh obor api musuh, sedangkan sebagian kecil lainnya hancur berkeping-keping akibat dihantam gada besi besar.
Bahkan di dalam situasi kekacauan taktis sedahsyat itu sekalipun, Dong Bong-su tetap mempertahankan posisinya di lapangan dan secara konstan terus menghalau laju terkaman musuh.
Dong Bong-su, jika seluruh unit mesin *trebuchet* tersebut pada akhirnya berakhir hancur terbakar…… tindakan apa lagi yang bersiap kau ambil setelahnya?
‘Jika semuanya berakhir hancur terbakar……?’
Tindakan apa lagi? Aku hanya perlu merakitnya kembali dari awal.
Namun sesaat kemudian!
Tepat di saat Dong Bong-su sedang merumuskan rencana pemikiran tersebut di kepalanya.
Dari arah barisan lereng bukit yang membentang sangat luas di kedua sisi Benteng Guisui di kejauhan, kobaran api raksasa seketika menyembur naik ke langit malam.
“……!”
Seolah-olah sedang menertawakan rencana pemikiran Dong Bong-su, Timur Khan sengaja meluncurkan aksi pembakaran hutan di lereng gunung di saat yang sangat tepat.
Di tengah kondisi musim gugur di padang rumput perbatasan utara yang sangat kering saat ini.
Meskipun tanpa bantuan tiupan angin kencang sekalipun, kobaran api raksasa tersebut dengan sangat cepat menyebar luas melahap seluruh penjuru hutan di lereng gunung.
Di sela ekspresi wajah Dong Bong-su yang biasanya selalu datar tanpa emosi, sesosok senyuman tipis yang terlihat sangat mengerikan seketika mengembang tipis menyelimuti wajahnya.
Awalnya pengerahan unit militer bertarung menggunakan serigala raksasa, dan kini musuh bahkan meluncurkan aksi pembakaran hutan untuk memotong suplai kayunya.
Pihak musuh seolah-olah secara konstan terus mengambil langkah lebih cepat untuk memotong rencana gerakannya sembari melayangkan cibiran maut. Dong Bong-su justru sangat menyukai detail tekanan bertarung tersebut. Ia memang memiliki persentase peluang untuk tewas akibat rangkaian kemunduran ini, namun setidaknya pada detik ini sekalipun, bukankah aktivitas bertaruh nyawa ini dirasa sangat menyenangkan bagi dirinya?
Menghadapi terkaman predator puncak persilatan……
*Sret.*
*Ting.*
Selalu bertransformasi menjadi sesosok hiburan yang sangat menyenangkan bagi batinnya.
Dong Bong-su melayangkan pandangan matanya secara datar dan secara mekanis terus mengayunkan bilah pedangnya meluncur menebas musuh.
Di saat yang sama, gada besi besar milik Mamorota juga terus berputar kencang membelah udara, menghancurkan tubuh jajaran prajurit tentara bayaran menjadi kepingan daging cincang yang berhamburan.
Kedua orang master tersebut tercatat tidak saling membenturkan senjata mereka saat itu, melainkan secara konstan terus sibuk menyapu bersih barisan prajurit di sekeliling lawan mereka masing-masing. Namun kondisi taktis di pihak Dong Bong-su jelas berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Dong Bong-su bertarung seorang diri, sedangkan di pihak Pasukan Serigala Abu-Abu tidak hanya menyisakan keberadaan Mamorota saja, melainkan jajaran pendekar penunggang serigala lainnya saat itu sedang berada dalam kondisi mental yang sangat haus darah akibat dipicu hasrat bertarung.
Tenaga fisik Dong Bong-su seorang diri dipastikan tidak akan cukup untuk melindungi sisa mesinnya. Ratusan pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu merupakan unit tempur elite yang masing-masing personelnya dibekali oleh kemampuan bertarung setara dengan kekuatan seratus orang prajurit biasa, membuat jajaran tentara bayarannya sama sekali tidak layak untuk dijadikan tandingan bagi mereka. Terlebih lagi bagi unit operator pelontar batu beserta prajurit pengangkut jasad mayat. Kualitas bertarung mereka memang tidak bisa dibilang sangat buruk, namun jika diadu dengan kedahsyatan Pasukan Serigala Abu-Abu, mereka tidak lebih dari sekadar gerombolan prajurit pengacau yang tidak teratur.
Hingga pada akhirnya, barisan belakang mesin *trebuchet* juga tidak mampu menahan terkaman musuh dan runtuh terbakar satu per satu. Kini, sisa unit mesin *trebuchet* yang masih berdiri kokoh di lapangan dilaporkan hanya tersisa kurang dari lima unit saja. Dan seluruh sisa mesin tersebut merupakan unit mesin yang posisinya bersiap di sekeliling tempat berdiri Dong Bong-su saat ini.
Meskipun memiliki kuantitas jumlah prajurit yang melimpah sejak awal, barisan tentara bayaran beserta operator pelontar batu saat itu justru berbalik terkepung rapat oleh pergerakan melingkar Pasukan Serigala Abu-Abu. Mereka bergerak mengitari perkemahan sembari terus meluncurkan pembantaian massal ke arah pasukan kekaisaran.
“Habisi bajingan itu! Selama kita berhasil melenyapkan nyawa pemuda itu, pertempuran ini dipastikan akan selesai saat itu juga!”
Setelah kondisi pembantaian sepihak tersebut berlangsung beberapa saat lagi, posisi Dong Bong-su beserta sisa prajuritnya akhirnya terisolasi sepenuhnya di satu titik area sempit. Secara alami, Dong Bong-su saat itu telah dikepung rapat dari segala penjuru oleh pergerakan Pasukan Serigala Abu-Abu.
Taktik penyerangan yang disusun oleh Timur Khan terbukti sukses menghantam sasaran secara presisi. Hanya berbekal pengerahan divisi Pasukan Serigala Abu-Abu tanpa perlu repot-repot membuka pintu gerbang utama benteng pertahanannya, ia berhasil melenyapkan hampir seluruh konstruksi mesin kepung *trebuchet* milik kekaisaran di lapangan. Meskipun masih ada beberapa unit mesin yang tersisa tegak, memusnahkan sisa unit tersebut murni hanya merupakan perkara durasi waktu saja saat ini.
*Sret. Sret.*
Dong Bong-su kembali mengayunkan pedangnya memotong leher dari dua orang pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu hingga tewas menggelinding.
Di saat yang sama, beberapa orang prajurit Pasukan Serigala Abu-Abu tampak mengayunkan gada besi mereka menghantam sisa unit mesin *trebuchet* di sekelilingnya.
Dong Bong-su hanya dibekali oleh satu batang tubuh fisik dengan sepasang tangan dan kaki. Sebaliknya, pihak musuh memiliki ratusan tubuh dengan ribuan pasang tangan dan kaki yang bergerak aktif secara bersamaan di lapangan. Mustahil bagi fisiknya untuk bisa menghalau seluruh pergerakan serangan musuh secara presisi.
Ia berlari melesat ke segala penjuru arah. Namun fisiknya terbentur oleh kalahnya kuantitas jumlah.
Satu unit mesin *trebuchet* kembali runtuh hancur berkeping-keping.
Jajaran pendekar musuh menganalisis bahwa sangat sulit untuk bisa melenyapkan nyawa Dong Bong-su secara langsung di pertempuran, sehingga mereka memilih memfokuskan seluruh serangan mereka untuk menghancurkan sisa unit *trebuchet* di lapangan.
Pertarungan fisik meletus sangat sengit di lapangan, hingga pada titik waktu tersebut di arah kejauhan hamparan awan debu tanah pasir yang membubung tinggi menandakan kedatangan pasukan utama di bawah komando Lee Ja-song mulai menampakkan dirinya di garis cakrawala.
‘Jika aku mampu mempertahankan posisi beberapa saat lagi……’
Apakah aku setidaknya akan mampu mengamankan minimal satu unit mesin *trebuchet* di lapangan?
Lalu kegunaan apa yang bisa dihasilkan murni mengandalkan satu unit mesin saja?
Detail kegunaan taktis tersebut merupakan perkara tidak penting yang bisa dipikirkan nanti.
‘Untuk saat ini, tugas fisikku hanyalah melindunginya.’
*Sret.*
Bilah pedang Dong Bong-su kembali bergerak mengayun memutus leher seekor serigala abu-abu tanpa menghasilkan gema suara gesekan udara sedikit pun. Meskipun target tebasannya berupa seekor serigala spiritual, bagi bilah pedangnya tidak ada perbedaan kualitas dengan jasad manusia biasa. Tanpa sempat melepaskan satu pun lolongan kesakitan, tubuh serigala tersebut seketika meluncur jatuh menuju gerbang kematian di bawah tebasan pedang Dong Bong-su.
*Brak!*
Di saat yang sama, gada besi besar milik Mamorota menghantam keras konstruksi unit mesin *trebuchet* ke-31 hingga runtuh berantakan.
Sesaat setelah runtuh, jajaran pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu yang membawa obor api segera melompat melemparkan api membakar runtuhan kayu mesin.
Setelah meruntuhkan mesin ke-31, Mamorota melayangkan pandangan matanya menatap ke arah datangnya kepulan debu pasukan utama Lee Ja-song di kejauhan, baru kemudian melepaskan teriakan perintah.
“Sisa waktu kita sudah sangat sempit! Segera selesaikan tugas pembersihan ini dan buru-buru kembali ke dalam benteng!”
Namun Dong Bong-su secara konstan terus meluncurkan tebasan maut menghalau pergerakan divisi Pasukan Serigala Abu-Abu dengan sangat gigih. Tanpa memedulikan apa yang dipikirkan oleh jajaran prajurit di sekelilingnya saat itu, bagi mental musuh di lapangan sosok pemuda di hadapan mereka saat ini benar-benar layak disamakan dengan sosok jenderal tempur legendaris yang memiliki kekuatan setara dengan sepuluh ribu prajurit sejati.
Mamorota awalnya memang tidak memiliki rencana untuk meluncurkan duel fisik secara pribadi melawan pemuda itu di pertempuran hari ini. Ia mengetahui jajaran pendekar bawahannya dipastikan akan mampu membereskan sisa prajurit kekaisaran secara mandiri, dan lagipula target serangan mereka hari ini bukan bertujuan untuk melenyapkan seluruh nyawa musuh secara mutlak.
Target serangan mereka hanya ada satu saja.
Yaitu pemusnahan secara total dari seluruh unit mesin pelontar batu tuas penyeimbang *trebuchet* di lapangan.
Namun, menyaksikan kelihaian bertarung Dong Bong-su di depannya seketika memicu letupan hasrat bertarung yang sangat membara di dalam dada Mamorota.
‘Bagaimana cara logikanya bergerak meluncurkan serangan sepresisi itu?’
Ia telah menjelajahi ratusan medan pertempuran maut sepanjang puluhan tahun hidupnya, dan telah berduel serta menebas leher ratusan jenderal perang persilatan yang tangguh. Di sela-sela jajaran jenderal tersebut, jajaran jenderal asal Dataran Tengah merupakan sosok yang paling banyak ia bantai sepanjang karier militernya.
Desain teknik pedang mereka biasanya selalu dipenuhi oleh visual gerakan yang terlampau indah dan penuh dengan formalitas gerakan formal. Istilah halusnya, teknik pedang mereka terlihat sangat artistik menyerupai tarian; namun istilah kasarnya, teknik pedang mereka terlampau terikat oleh pakem jurus dan postur gerakan formal—no, sebuah tebasan pedang yang tidak lebih dari sekadar pameran jurus kosong semata. Singkatnya, jurus pedang mereka merupakan tipe jurus mati yang tidak fleksibel untuk digunakan di pertempuran maut yang dinamis.
Namun pemuda di hadapannya saat ini memiliki karakteristik bertarung yang sepenuhnya berbeda. Sangat, sangat jauh berbeda. Sebuah perbedaan ekstrem yang bahkan membuat otaknya ingin mengklasifikasikan jurus pedang pemuda itu sebagai sebuah anomali bela diri.
Meskipun gerakan pedangnya terlihat memiliki konstruksi jurus dan pakem tertentu, namun secara esensial tidak ada pakem formal yang mengunci pergerakannya. Dan di balik kelihaian gerakannya tersebut, tidak ada satu pun kedutan otot tubuh yang terbuang sia-sia. Di saat ia menusuk, gerakan tangannya murni hanya berupa tusukan maut saja; di saat ia menebas, ayunan pedangnya murni hanya berupa tebasan maut saja. Sekilas gerakannya terlihat sangat sederhana dan sangat sepele, namun efisiensi gerakan tersebut merupakan sebuah tingkatan alam bela diri yang sangat sulit untuk bisa dicapai oleh pendekar biasa.
Ini bukan merupakan tingkatan alam bela diri yang akan bisa dikuasai murni mengandalkan durasi waktu latihan pedang yang lama semata.
‘Apakah ia…… sedang mengincar celah meridians vital musuh?’
Entah mengapa, di setiap jengkal pergerakan pedang pemuda itu tersimpan sebuah “alasan” taktis yang sangat presisi. Di saat bilah pedangnya pertama kali meluncur menusuk keluar, kau tidak akan mampu menebak ke arah mana sasarannya, namun di saat bilah pedangnya mencapai batas akhir tebasan, tebasan tersebut dipastikan akan menghantarkan sesosok “kesimpulan” maut yang nyata bagi musuhnya.
Sebuah tebasan yang secara presisi menusuk celah pertahanan kosong musuh, atau langsung memutuskan urat nadi leher mereka.
Mamorota menyadari fisiknya sendiri tidak akan mampu mengeksekusi gerakan sepresisi itu. Tidak, tidak ada seorang pendekar pun di sepanjang Padang Rumput Utara yang memiliki kemampuan untuk mengeksekusi keajaiban tersebut. Ini bukan lagi merupakan perkara apakah seseorang akan mampu memenangkan duel pertarungan fisik atau tidak jika berhadapan dengannya.
Melainkan merupakan perkara apakah fisik seseorang secara biologis dibekali kemampuan untuk bisa mengeksekusi gerakan tingkat itu atau tidak.
Dan detail analisis tersebut menggiring batinnya untuk memikirkan apakah jika teknik pedang tersebut terus dikembangkan di masa depan nanti, ia akan tetap mampu keluar sebagai pemenang akhir jika berduel dengannya.
Namun……
‘Apakah aku memiliki sisa waktu untuk memicu duel maut dengannya sekarang?’
Pandangan mata Mamorota sempat beralih sejenak menatap ke arah datangnya pasukan utama Lee Ja-song di kejauhan. Visual prajurit musuh saat itu masih terlihat sangat kecil menyerupai ukuran mata nyamuk. Jarak tempuh mereka untuk bisa mencapai tempat kejadian ini dipastikan masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Pandangan matanya kembali tertuju lurus menatap ke arah Dong Bong-su.
Ia mengibaskan sisa noda darah yang menempel di tubuhnya, baru kemudian meregangkan otot-otot fisiknya secara kasar.
“Aku menganalisis sisa waktu yang tersedia saat ini masih cukup untuk mencabik satu atau dua keping daging di tubuhnya.”
*Grrrr—!*
Seolah-olah mampu membaca hasrat bertarung dari majikannya, serigala raksasa Kaiji di bawahnya sudah mulai memamerkan deretan taring tajamnya secara buas.
Mamorota mengelus permukaan bagian belakang leher Kaiji.
‘Hm?’
Bulu-bulu tubuhnya……?
Helai bulu di tubuh serigalanya tampak berdiri tegak secara bersamaan, persis seperti kejadian aneh di bawah tembok benteng tadi—no, bahkan kali ini terlihat jauh lebih tegak dan jauh lebih kaku dibandingkan sebelumnya.
Di arah titik bidik pandangan mata Kaiji tertuju saat ini, sesosok pemuda yang sekujur tubuhnya telah basah kuyup berlumuran darah merah pekat sedang berdiri tegak menghadang jalur mereka.
Kaiji terbukti secara mutlak!
Sedang menatap lekat lurus ke arah posisi Dong Bong-su saat ini.
Barulah pada detik itu Mamorota menyadari kebenaran dari anomali serigalanya baru saja. Sosok target maut yang memicu letupan hasrat ketakutan ekstrem dari dalam diri Kaiji di bawah tembok benteng tadi bukanlah monster hitam sampar, melainkan sosok pemuda Dong Bong-su ini.
‘Jadi kebenarannya seperti itu……?’
Analisis dugaannya tepat. Ya. Aku mengerti sekarang.
Pergeseran dari rasa ragu menuju ke arah keyakinan batin yang mutlak hanya membutuhkan kurun waktu satu detik saja di dalam kepalanya.
Tekanan aura bertarung yang sangat dahsyat seketika menyembur keluar dari dalam tubuh kekar Mamorota.
Dan sesaat setelahnya.
Menyelaraskan hasrat bertarung dari tuannya, serigala raksasa Kaiji meluncur menerjang lurus ke arah posisi Dong Bong-su dengan kecepatan yang sangat luar biasa cepat menyerupai sambaran kilat di langit.
Dong Bong-su sebenarnya telah menyadari sejak awal bahwa Mamorota beserta serigala Kaiji sedang memusatkan pandangan mata maut mereka ke arah tubuhnya.
‘Datanglah.’
Kenyataannya, ia memang sengaja menanti datangnya terkaman maut tersebut sejak tadi. Bagi logika Dong Bong-su, sosok Mamorota merupakan objek pengumpul kepingan poin pengalaman (*EXP*) terbesar yang eksis di sepanjang medan pertempuran hari ini.
*Wusss—.*
Sesosok riak energi misterius yang menyerupai kabut panas berkilau menyelimuti permukaan pedang *Wanderer's Sword* miliknya. Itu merupakan keaktifan dari keahlian aktif `[Sword Energy]`. Tidak berhenti di situ saja, ia juga ikut memicu keaktifan keahlian aktif `[Circulating Energy and Performing the Technique]` yang sejak tadi sengaja ia simpan kegunaannya.
*Klang—!*
Pedang *Wanderer's Sword* milik Dong Bong-su berbenturan sangat keras dengan gada besi besar milik Mamorota di udara, menghantarkan gema suara ledakan energi yang sangat dahsyat menyapu ke sekeliling. Efek getaran benturan yang dihasilkan sangatlah luar biasa besar hingga memicu terciptanya gelombang kejut melingkar yang mementalkan tubuh pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu di sekeliling mereka sejauh beberapa zhang ke belakang, dengan unit mesin *trebuchet* terakhir yang bersiap di belakang tubuh Dong Bong-su ikut bergoyang miring akibat gelombang kejut tersebut.
Meskipun itu baru merupakan bentrokan pembuka pertama mereka di lapangan, Dong Bong-su sudah bisa mendapatkan kepastian analisis datanya. Tingkat kekuatan fisik Mamorota diakui berada satu tingkat kelas jauh lebih tangguh dibandingkan tingkat kekuatan Paitan, pemimpin tertinggi faksi *North Ghost Group* yang ia tebas mati beberapa hari yang lalu.
*Ting—.*
Sembari bilah pedang dan gada besi besar mereka saling bergesekan kasar satu sama lain, gema suara decitan logam yang sangat kasar menusuk lubang telinga dari kedua orang master tersebut.
Mamorota membuka mulutnya lebar-lebar, memamerkan deretan gigi kuningnya yang kotor sembari bersuara.
“Mamorota. Nama?”
Sebuah kalimat bahasa Dataran Tengah yang terdengar sangat kaku dengan pemangkasan struktur kalimat di sana-sini, namun detail kosakata tersebut sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan maksud dari pertanyaannya.
“*Ear Ghost*.”
Itu bukan merupakan nama asli dari identitas dirinya, namun penggunaan julukan tersebut dinilai sudah sangat cukup untuk menjawab rasa penasaran musuh.
“Nama?”
Dong Bong-su melayangkan pertanyaan balik yang serupa ke arah Mamorota. Kali ini, pandangan matanya tampak terarah lurus menatap ke arah bagian bawah tubuh musuhnya.
“Kaiji.”
Mamorota dengan sangat cepat menangkap arah pertanyaan tersebut dan melayangkan jawaban.
“Kaiji, ya……”
Dong Bong-su menggumamkan kembali lafal nama serigala tersebut secara perlahan.
Sosok Dong Bong-su yang asli dipastikan tidak akan meluangkan energinya untuk menyuarakan kalimat gumaman yang tidak memiliki nilai guna praktis seperti itu. Jika ia sampai membuka mulutnya menyuarakan kosakata tertentu, detail tersebut dipastikan selalu menyimpan nilai guna yang nyata bagi logikanya.
Alasan ia sengaja melafalkan kembali nama “Kaiji” secara lurus di mulutnya murni karena rangkaian "error sistem" yang sempat mengacaukan visual menu sistem di kepalanya baru saja saat ini telah resmi diselesaikan oleh sistem game.
Menu hologram sistem, yang sejak tadi secara konstan terus memaparkan baris notifikasi error mekanis merah, saat ini telah resmi bergeser menampilkan baris notifikasi yang baru.
`[Pemain berhasil menemukan keberadaan binatang spiritual ???.]`
`[Quest binatang spiritual telah resmi diaktifkan oleh sistem.]`


