Murim Psychopath

Chapter 80

2618 Kata

**Bab 80. Kematian Hitam (3)**

***

Lee Ja-song segera mengeksekusi seluruh rangkaian instruksi yang disampaikan oleh Dong Bong-su tanpa ada penundaan sedikit pun.

Ia menyerahkan kendali penuh atas seratus lebih mesin pelontar batu puting beliung kepada Dong Bong-su, menggeser posisi tenda perkemahan mundur mendekati aliran Sungai Kuning, serta menginstruksikan pemindahan seluruh jasad mayat prajurit yang tewas akibat penyakit pes secara massal ke satu titik area di depan Benteng Guisui, tempat di mana unit operator pelontar batu bersiaga di bawah pengawasan Dong Bong-su.

Ia meluncurkan aksi pembasmian tikus liar yang bersembunyi di dalam gudang logistik dan dengan sangat tega mengeksekusi mati para prajurit yang terdeteksi menunjukkan gejala klinis infeksi penyakit pes sampar. Serta, ia memerintahkan seluruh prajurit yang tersisa sehat untuk segera membersihkan tubuh mereka menggunakan air sungai.

Meskipun gema bau busuk yang sangat menjijikkan dari pembusukan jasad mayat menguap menyelimuti seluruh penjuru perkemahan, sesuai dengan kesepakatannya, Lee Ja-song membantu menyukseskan seluruh rangkaian instruksi Dong Bong-su. Ia bahkan mempercayakan komando atas lima ribu prajurit operator mesin pelontar batu puting beliung di bawah kendali langsung Dong Bong-su saat ini.

Kini Dong Bong-su telah resmi bertransformasi menjadi sesosok jenderal perang yang memimpin seribu orang prajurit tentara bayaran beserta lima ribu orang prajurit operator mesin pelontar batu.

Ia mempertahankan tampilan jendela status sistemnya tetap terbuka di udara tanpa menutupnya. Ini dilakukan agar ia bisa mendeteksi perubahan sekecil apa pun yang terjadi pada kondisi fisiknya secara instan. Di saat yang sama, ia segera memobilisasi rencana aksi penyerangan baru yang telah ia susun sepanjang perjalanan menuju ke tempat ini selama beberapa hari terakhir.

“Segera bongkar seluruh mesin pelontar batu puting beliung saat ini juga.”

Jika Lee Ja-song sedang berada di tempat ini dan mendengarkan instruksi perintah dari Dong Bong-su barusan, ia dipastikan akan langsung tersentak kaget setengah mati. Di saat semua orang menganalisis bahwa ia akan menggunakan unit mesin pelontar batu tersebut untuk meruntuhkan dinding Benteng Guisui, ia justru memerintahkan pembongkaran mesin tersebut? Sebagai seorang komandan perang, detail tindakan tersebut sangatlah tidak masuk akal untuk dipahami oleh logika militer.

Namun Lee Ja-song saat itu sedang sibuk mengawasi jalannya pemindahan perkemahan di bagian belakang, sehingga di tempat kejadian saat itu hanya menyisakan keberadaan Dong Bong-su, tujuh ratus orang tentara bayaran yang mendampinginya—sekitar tiga ratus orang tentara bayaran dilaporkan telah kehilangan kemampuan tempur akibat tertular penyakit pes sampar di sepanjang perjalanan kemarin—serta unit prajurit operator mesin pelontar batu yang bertugas mengoperasikan mesin tersebut.

Meskipun para prajurit operator pelontar batu kesulitan menangkap logika di balik instruksi tersebut, tidak ada satu pun orang yang berani membantah perintah dari Dong Bong-su. Bagaimanapun juga, prajurit militer kelas bawah tidak memiliki opsi lain. Bukankah mereka secara esensial hanyalah sebatas bidak catur di atas papan perang yang hanya perlu mengeksekusi apa yang diperintahkan, dan dilarang mengeksekusi apa yang dilarang meskipun nyawa mereka taruhannya?

*Brak! Jleg!*

Untuk beberapa saat, area dalam perkemahan dipenuhi oleh kebisingan suara pelepasan baut pasak kayu beserta suara pembongkaran masing-masing komponen mesin pelontar batu.

Karena mesin pelontar batu puting beliung tersebut awalnya dirakit secara instan di tempat perkemahan ini, dan proses pembongkarannya dieksekusi langsung oleh unit prajurit operator yang memang ahli di bidangnya, proses pembongkaran seluruh unit mesin berhasil diselesaikan dalam kurun waktu yang tergolong singkat.

Seratus buah komponen Tiang Penembus Langit (`Sky-Piercing Pillars`) beserta tiang penyangga lengan pelontar, ditambah dengan berbagai macam pasak kayu dan tali pengikatnya diletakkan menumpuk di atas tanah pasir.

Dong Bong-su kembali mengeluarkan perintah baru untuk memindahkan seluruh komponen kayu tersebut ke satu titik area yang jarak fisiknya tergolong sangat jauh dari dinding Benteng Guisui. Meskipun para prajurit operator beserta tentara bayaran kesulitan merumuskan alasan di balik instruksi tersebut, mereka tetap mengeksekusi instruksi pemindahan tersebut dengan sangat patuh.

Begitu proses pemindahan selesai dieksekusi, Dong Bong-su segera meluncurkan langkah kerja berikutnya.

“Mulai saat ini, perhatikan dengan sangat lekat setiap gerakan tanganku dan rakit kembali komponen kayu ini menggunakan metode perakitan yang baru.”

Selesai menyuarakan instruksi singkat tersebut, Dong Bong-su bahkan tidak meluangkan waktu menanti jawaban dari para prajuritnya dan segera menggerakkan fisiknya merakit kayu. Bagi dirinya, sisa waktu kelangsungan hidupnya saat ini layaknya sumbu pendek yang terpasang di sebuah bom maut. Masalah terbesarnya adalah ia tidak mengetahui seberapa dahsyatnya daya hancur bom tersebut atau seberapa panjang sisa sumbu pendek yang ia miliki.

Karena ia tidak tahu kapan bom penyakit di tubuhnya akan meletus aktif, tidak ada satu detik pun yang boleh ia buang secara percuma.

*Brak! Sret! Kencangkan!*

Di bawah ketangkasan jari tangan Dong Bong-su yang bergerak dengan sangat cepat dan sangat presisi, komponen Tiang Penembus Langit beserta tiang penyangga lengan dirakit secara mekanis membentuk struktur yang baru. Sesosok objek raksasa yang telah ia susun dan ia simulasikan ratusan kali di dalam kepalanya sepanjang perjalanan sebulan terakhir kini secara fisik mulai menampakkan wujud aslinya dengan sangat cepat di lapangan.

Berbeda dengan struktur mesin pelontar batu puting beliung biasa, struktur rakitan baru ini terlihat jauh lebih rumit. Konsepnya bukan lagi berupa tiang penyangga tunggal Tiang Penembus Langit yang ditancapkan tegak ke dalam tanah pasir. Melainkan berupa rangkaian beberapa tiang kayu berukuran tebal yang saling dihubungkan secara organik dengan sudut kemiringan tertentu baru kemudian ditancapkan rapat ke tanah, dengan bagian ujung atas tiang penyangga yang saling bertemu dipasang sebuah lengan pelontar berukuran besar. Lengan pelontar yang dipasang bukan berupa tiang tunggal biasa, melainkan berupa dua buah tiang kayu tebal yang ditumpuk ganda secara sejajar, membuat ukuran fisiknya terlihat jauh lebih besar dan jauh lebih kokoh dibandingkan lengan pelontar mesin sebelumnya.

Satu buah perbedaan fisik yang paling mencolok yang membedakan mesin baru rakitan Dong Bong-su dengan mesin pelontar puting beliung lama adalah alih-alih memasang puluhan utas tali penarik di bagian ujung lengan pelontar, ia justru memasang sebuah keranjang anyaman tali berukuran sangat besar. Di atas segalanya, Dong Bong-su tampak mencurahkan fokus yang sangat padat untuk memastikan kekuatan dari struktur keranjang anyaman tersebut terpasang dengan sangat kokoh.

Seiring dengan wujud fisik mesin kepung baru tersebut yang perlahan mulai terbentuk di lapangan, barulah para prajurit operator pelontar batu mulai bisa menerka konsep kerja dari mesin rakitan Dong Bong-su baru saja. Meskipun mereka belum pernah menyaksikan keberadaan mesin kepung seunik ini sepanjang hidup mereka di perbatasan utara, cara kerja mekanis dari mesin ini sangatlah mudah dipahami oleh logika mereka.

Berbeda dengan cara kerja pelontar batu puting beliung biasa yang menuntut pengerahan tenaga fisik dari empat puluh hingga lima puluh orang prajurit secara bersamaan untuk menarik tali agar batu bisa terlontar, mesin kepung baru ini tampaknya mengandalkan metode pengisian bongkahan batu besar di dalam keranjang penyeimbang sebagai pemberat, menggunakan gaya gravitasi dari jatuhnya beban keranjang pemberat tersebut untuk memutar lengan pelontar secara instan dan melontarkan batu di ujung lengan lainnya ke udara. Mereka sempat melihat konsep mekanis serupa di kampung halaman mereka masing-masing. Konsep putaran kincir air di pemukiman nelayan digerakkan memanfaatkan konsep mekanis yang serupa.

*Brak! Sret! Kencangkan!*

Jika di dunia persilatan ini benar-benar eksis sesosok master pengrajin ilahi (`divine craftsman`), bukankah visual kerjanya dipastikan akan terlihat sama persis dengan visual kerja Dong Bong-su saat ini?

Para prajurit operator pelontar batu hanya bisa berdiri terdiam menyaksikan ketangkasan kerja Dong Bong-su merakit “sebuah mesin raksasa misterius” dengan mulut yang ternganga lebar karena heran. Tanpa perlu meributkan tingkat ketangkasan jarinya yang luar biasa presisi, kekuatan fisik murni yang ia tunjukkan untuk mengangkat dan mengikat tiang kayu tebal yang panjang fisiknya mencapai enam meter seorang diri merupakan sebuah kekuatan fisik yang berada di luar batas imajinasi mereka.

*Brak! Sret! Kencangkan!*

Tepat satu jam berlalu.

Itulah durasi waktu yang dibutuhkan oleh Dong Bong-su untuk merakit unit mesin kepung bernama `[trebuchet]` (pelontar batu tuas penyeimbang) tersebut seorang diri. Ia menarik ujung tali tambang kencang-kencang untuk mengunci simpul tambang terakhirnya, lalu melayangkan pandangan matanya menatap ke arah jajaran operator pelontar batu di sekelilingnya dan bersuara.

“Apakah kalian semua telah memperhatikan gerakan rakitanku dengan lekat?”

“………”

Jajaran prajurit operator pelontar batu masih terus berdiri terpaku dengan mulut ternganga lebar, kesulitan untuk menyuarakan kalimat jawaban akibat masih terkejut.

“Aku bertanya apakah kalian sudah memperhatikan gerakan rakitanku dengan lekat.”

Intonasi suara Dong Bong-su yang khas terdengar sangat rendah kembali menyapu sekeliling perkemahan sekali lagi.

Barulah setelah disapu oleh suara tersebut, para prajurit operator memulihkan kesadaran mereka dan buru-buru menyuarakan kalimat jawaban tegas.

“S-Siap laksanakan, sudah Kapten……!”

Dong Bong-su melayangkan pandangan matanya menatap satu per satu perwira operator mesin pelontar batu di sekelilingnya, baru kemudian kembali bersuara secara perlahan namun sangat tegas.

“Mulai detik ini, aku memberikan kalian waktu tepat setengah jam. Begitu batas waktu tersebut habis, jika aku masih menemukan adanya kepingan komponen kayu yang berserakan tidak terakit di tempat ini, kalian semua dipastikan akan langsung mati.”

*Teguk.*

Salah seorang perwira operator tampak menelan ludah keringnya secara refleks karena panik, dan detail gerakan tersebut secara resmi bertransformasi menjadi sinyal bagi mereka untuk segera bergerak.

*Brak! Jleg! Kencangkan!*

Proses perakitan massal mesin kepung *trebuchet* resmi dieksekusi secara masif di perkemahan.

*Trebuchet*.

Merupakan sejenis mesin pelontar batu kepung yang sangat populer digunakan di sepanjang abad pertengahan di daratan bagian barat Bumi. Sebelum penemuan bubuk mesiu mesiu dikembangkan menjadi unit meriam tempur, mesin kepung inilah yang diakui menyandang gelar sebagai senjata penghancur benteng yang memiliki daya hancur paling mematikan.

Jika dibandingkan dengan daya hancur pelontar batu puting beliung biasa yang mengandalkan pengerahan tenaga otot manusia, mesin kepung *trebuchet* menawarkan jarak jangkauan serangan yang ditaksir tiga hingga empat kali lipat jauh lebih jauh, dengan kapasitas berat peluru batu yang mampu dilontarkan juga tercatat jauh lebih berat. Dan karena gerakannya ditopang oleh hukum mekanik penyeimbang, persentase akurasi tembakannya juga terbukti sangat presisi.

Mungkin di sepanjang peradaban Dataran Tengah juga eksis mesin kepung yang serupa. Namun ia tidak bisa memastikan kebenarannya. Menilik fakta di mana pasukan kekaisaran di perbatasan utara ini masih menggunakan unit mesin pelontar puting beliung biasa untuk bertempur saat ini, kemungkinan besar teknologi mekanis di kekaisaran belum berkembang ke arah penciptaan mesin *trebuchet* yang presisi, atau di belahan Dataran Tengah lainnya unit meriam mesiu primitif sudah mulai dikembangkan oleh militer.

Namun bagi Dong Bong-su, tidak ada kebutuhan bagi otaknya untuk meributkan detail sejarah peradaban tersebut. Senjata mesiu modern tidak eksis di perbatasan ini saat ini, dan ia juga belum pernah melihat keberadaannya sekali pun sepanjang setahun berburu di perbatasan. Itu berarti bagi logikanya, senjata mesiu dinilai tidak eksis saat ini.

Demi menyukseskan taktik perang yang telah ia susun di kepalanya saat ini, ia membutuhkan senjata kepung jarak jauh yang jarak jangkauan serangannya jauh melampaui jarak jangkauan pelontar batu puting beliung biasa. Oleh karena alasan taktis itulah, ia memilih merakit unit *trebuchet* dengan bentuk paling primitif. Selama opsi pembuatan senjata mesiu belum bisa diakses oleh sistemnya, mesin kepung inilah opsi terbaik yang bisa ia ciptakan di lapangan.

Unit *trebuchet* yang dirakit oleh Dong Bong-su sekilas terlihat sangat canggih bagi pandangan mata orang awam, namun kenyataannya struktur kerjanya tidaklah terlampau rumit. Struktur *trebuchet* asli di Bumi biasanya dilengkapi oleh pemasangan roda katrol untuk mempermudah pengerahan tenaga penarik, namun Dong Bong-su sengaja memangkas komponen roda katrol tersebut dari desain rakitannya. Pemasangan katrol dipastikan akan membuat bentuk mesin kepung terlihat sangat rumit dan berantakan. Tentu saja, dengan katrol, menarik beban keranjang pemberat ke atas dipastikan akan terasa jauh lebih ringan.

Namun sebagai gantinya, desain mesin akan berubah menjadi rumit dengan durasi waktu perakitan yang dipastikan akan memakan waktu jauh lebih lama. Berdasarkan perhitungannya, dengan memanfaatkan kuantitas tenaga prajurit operator di perkemahan ditambah dengan kekuatan fisik mentereng dari para tentara bayarannya, komponen katrol penarik dipastikan tidak diperlukan lagi. Berbeda dengan manusia normal biasa, prajurit di tempat ini merupakan orang-orang yang menguasai seni bela diri, sehingga meskipun tanpa katrol penarik, jika mereka menggabungkan kekuatan fisik mereka secara bersamaan, ia menganalisis menarik beban seberat ratusan kilogram bahkan beberapa ton ke atas bukan merupakan tugas yang sulit bagi mereka.

Itu bukan berarti ia merakit mesin kepung tersebut secara asal-asalan. Setiap komponen di luar katrol penarik telah dihitung secara matematis dengan sangat presisi.

Sepanjang perjalanan menuju ke perkemahan beberapa hari terakhir, Dong Bong-su telah memetakan kalkulasi jarak tembak beserta kontur struktur dari mesin *trebuchet* tersebut di dalam kepalanya secara mutlak. Bahkan jika Lee Ja-song terbukti menolak permintaannya untuk menyerahkan kendali unit prajurit operator mesin kemarin, ia telah merancang rencana alternatif untuk memobilisasi unit tentara bayarannya sendiri untuk merakit mesin ini secara mandiri, meskipun ia harus menebang pohon-pohon di barisan Pegunungan Yinshan di dekatnya.

*Brak! Brak!*

Komponen kayu dari mesin pelontar puting beliung yang telah dibongkar dengan sangat cepat bertransformasi bentuk menjadi unit mesin kepung *trebuchet* baru di lapangan. Karena mereka merakit desain *trebuchet* tipe paling primitif dan sederhana, proses perakitannya benar-benar tidak memakan waktu lama. Persis seperti batas waktu yang dideklarasikan oleh Dong Bong-su tadi, setelah kurun waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan satu porsi makan berlalu, tepat **tiga puluh dua unit trebuchet** selesai dirakit dengan sempurna di lapangan. Didorong oleh rasa takut mati, jika mereka menemukan adanya bagian pasak kayu yang dirasa kurang rapat, para prajurit operator dengan sangat sigap langsung menyelipkan kepingan kayu tambahan untuk merapatkannya kembali, memastikan tidak ada satu pun serpihan kayu kecil yang terbuang percuma di lapangan.

Begitu seluruh proses perakitan selesai dieksekusi, Dong Bong-su melangkah berkeliling memeriksa kondisi fisik dari masing-masing unit mesin *trebuchet* hasil rakitan prajuritnya satu per satu.

Secara umum tidak ada cacat konstruksi yang membahayakan. Meskipun ada beberapa bagian sambungan yang dirakit kurang presisi, ia tidak memiliki sisa waktu untuk meributkan detail kecil tersebut saat ini. Ia menganalisis selama mesin kepung tersebut mampu berfungsi melontarkan beban secara normal, rencana taktisnya dipastikan tidak akan mengalami gangguan yang berarti di lapangan.

Setelah selesai memeriksa struktur fisiknya, Dong Bong-su memastikan kembali arah tembakan masing-masing mesin telah terbidik ke sasaran dengan tepat. Namun karena sejak awal proses perakitannya memang sengaja diposisikan menghadap langsung ke arah Benteng Guisui, tidak ada kebutuhan bagi mereka untuk kembali menyesuaikan arah bidikan mesin. Berbeda dengan kelenturan mesin pelontar puting beliung biasa, unit *trebuchet* tidaklah selentur itu untuk diubah arah bidikannya secara instan di tengah pertempuran, sehingga arah bidikannya harus sudah terpasang secara presisi sejak awal proses perakitan mesin diposisikan di atas tanah. Meskipun ada beberapa unit mesin yang arah bidikannya melenceng beberapa derajat ke samping, Dong Bong-su hanya perlu memicu keaktifan keahlian aktif `[Circulating Energy and Performing the Technique]` sistemnya dan mengerahkan tenaga fisiknya untuk menggeser posisi mesin kepung raksasa tersebut ke arah yang tepat membidik langsung ke Benteng Guisui tanpa kesulitan.

Begitu proses penyelarasan arah selesai dieksekusi, Dong Bong-su segera memerintahkan pemindahan kepingan batu bundar peluru ke dalam keranjang penyeimbang di ujung lengan pelontar mesin. Berat dari satu butir batu peluru ditaksir berkisar sekitar dua hingga tiga kilogram. Menilik kapasitas volume keranjangnya, ia menganalisis keranjang tambang tersebut mampu menampung ratusan butir batu sekaligus. Dengan jumlah peluru batu sebanyak itu, berat akumulasi dari beban keranjang penyeimbang dipastikan akan dengan mudah menyentuh angka beberapa ton.

Jika energi potensial yang dihasilkan saat beban seberat beberapa ton tersebut meluncur jatuh secara instan dikonversi sepenuhnya menjadi energi kinetik pelontar di ujung lengan lainnya.

‘Sudah lebih dari cukup.’

Selesai merapikan konstruksi seluruh mesin kepung *trebuchet* miliknya, Dong Bong-su memalingkan kepalanya menatap ke arah sebuah gundukan berwarna hitam pekat yang menjulang di kejauhan.

*Wusss—.*

Di saat embusan angin utara berembus menyapu perkemahan, gema bau busuk yang menguap dari gundukan hitam tersebut seketika merembes menyapu tempat penempatan mesin kepung mereka. Meskipun jarak pertahanan mereka terpisah sejauh seratus meter lebih dari gundukan tersebut, intensitas bau busuk pembusukannya tercatat sangatlah menyengat hingga membuat seluruh prajurit operator di sekelilingnya mengerutkan kening menahan rasa mual, kecuali Dong Bong-su seorang diri yang tetap memasang ekspresi wajah datar.

Gundukan hitam pekat.

Objek asli dari gundukan raksasa tersebut merupakan tumpukan jasad mayat dari ribuan prajurit kekaisaran yang tewas digerogoti oleh wabah Kematian Hitam sampar. Luas area gundukan hitam tersebut tercatat masih terus bertambah lebar dari waktu ke waktu, karena barisan prajurit secara konstan terus mengangkut jasad-jasad mayat baru menuju ke tempat pembuangan tersebut.

Sembari menyaksikan kerutan wajah mual dari para operator beserta tentara bayarannya yang sedang menatap gundukan jasad tersebut, Dong Bong-su menyuarakan satu baris kalimat singkatnya dengan ekspresi wajah datar.

“Seluruh persiapan penyerangan telah selesai dieksekusi.”

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar