**Bab 188. Sekte Pahlawan (4)**
***
*Hyaah!*
**Tebasan Kilat Mata Satu (One-Eyed Flash Slash / Dok-an-jeom-gwang-cham)**.
Sebuah seni bela diri pedang kilat yang dirancang khusus hanya untuk mereka yang melihat dunia melalui satu kelopak mata saja. Jurus ini bertumpu pada teknik mencabut pedang secepat kilat (*draw slash*), bertujuan untuk meluncurkan serangan maut sekali tebas dengan cara mendominasi ruang spasial menggunakan akselerasi kecepatan ekstrem dan memusatkan seluruh sirkulasi tenaga dalam ke satu titik fokus guna menutupi keterbatasan jarak pandang visual.
Ini adalah jurus pedang yang sama dengan yang digunakan Cheong Goryang saat memotong leher Pelindung Pertama Geng Lonceng Api tadi.
*Bum!*
Cheong Goryang menghentakkan kakinya keras menghantam lantai batu granite biru, membuat batu lantai retak hancur saat bayangan raganya melesat memanjang lurus ke arah pemuda misterius di depannya.
Bentuk Pertama jurus *Tebasan Kilat Mata Satu*: **Jejak Kilat Halilintar (Lightning Flash Trace / Noe-gwang-jeon-hwi)**.
Karena pergerakannya meluncur secepat sambaran kilat, udara di sekelilingnya terkompresi kuat seolah-olah waktu sedang membeku kaku, meninggalkan jejak-jejak bayangan semu yang menumpuk di sepanjang rute pergerakannya.
*Kwaaaang!*
Ledakan gelombang suara yang teramat sangat kencang meletus saat lantai batu granite di bawah kakinya hancur lebur berkeping-keping. Sebelum gaung suara ledakan itu sempat menyebar menyapu seisi kompleks Sekte Mata Satu, wujud raga Cheong Goryang sudah melesat merapat tepat berada di depan moncong hidung Dong Bong-su.
Jurus langkah keringan tubuh: **Langkah Sepuluh Ribu Li Mata Satu (One-Eyed Ten Thousand-Li Step / Dok-an-man-ri-bo)**.
Sesaat setelah langkah kaki ini diaktifkan, zirah fisik sang pengguna akan mengalami akselerasi kecepatan hingga menembus batas supersonik, memicu efek visual yang seolah-olah melipat jarak spasial udara yang dilewatinya. Ini bertindak selaku ilmu meringankan tubuh (*lightness skill*) kustom yang murni dirancang untuk menyokong jurus pedang berjalur lurus selevel *Tebasan Kilat Mata Satu*.
‘Kekeke……’
Meskipun tubuhnya melesat membelah angin malam yang kencang, senyuman tipis yang licik dan dingin tetap terukir di sudut bibir Cheong Goryang. Dia menolak mempedulikan siapa identitas asli pemuda di hadapannya, namun perbuatannya menolak bersedia dimaafkan. Berani-beraninya membantai jajaran anak buahnya dan merampas mangsa buruannya.
Namun……
Pemuda misterius itu tetap berdiri kokoh menolak bergerak sekelumit pun di tempatnya berdiri.
Awalnya Cheong Goryang berpikir pemuda itu menolak sanggup merespon serangannya karena perbedaan kecepatan yang terlampau jauh. Namun bahkan di saat kecepatannya menembus supersonik, dia melihat pantulan bayangan dirinya tercermin jelas di sepasang bola mata pemuda tersebut tanpa adanya getaran kecemasan sedikit pun.
Cukup aneh sekali.
Ekspresi pemuda itu tampak tenang bagaikan jurang tanpa dasar yang menolak memendam suhu udara sedikit pun. Sebaliknya, justru Cheong Goryang selaku pihak penyerang yang mendadak diselimuti oleh kecemasan batin.
Meskipun dia bergerak melesat di dalam pecahan milidetik waktu, sirkulasi pikiran Cheong Goryang tampak memanjang bagaikan helaian benang sutra, memungkinkannya mendeteksi setiap perubahan kecil pada fitur wajah lawannya secara detail.
**Kitab Hati Langit Mata Satu (One-Eyed Heavenly Heart Art / Dok-an-cheon-sim-gong)**.
Itu bertindak selaku kitab tenaga dalam meditasi batin yang melatih sang pengguna untuk memusatkan seluruh konsentrasi jiwa ke satu mata saja, memperluas daya fokus hingga ke batas maksimal dan meregangkan pecahan milidetik waktu yang singkat menjadi keabadian berfikir yang melimpah. Kitab batin ini murni diciptakan untuk menyokong penggunaan jurus *Tebasan Kilat Mata Satu* dan *Langkah Sepuluh Ribu Li Mata Satu*.
Sejujurnya, hingga beberapa milidetik lalu, dia memendam keyakinan mutlak bahwa seandainya jika Bukgung Ri sekalipun yang berdiri di depan gerbang, dia sanggup membantainya dalam sekali tebas menggunakan kombinasi ketiga jurus legendaris ini……
Namun keyakinan batinnya saat ini mendadak goyah. Pemuda itu terlalu tenang menghadapi terkaman mautnya. Meskipun pergerakannya supersonic, sepasang bola mata pemuda itu terus bergulir mengunci pergerakannya, melacak setiap koordinat tubuhnya dengan akurat. Meskipun raga pemuda itu menolak bergerak, dari sudut bola matanya yang bergeser, Cheong Goryang tahu pemuda itu telah membaca seluruh alur serangannya.
Dia bisa merasakannya secara ilmiah. Rasanya sangat aneh sekali, seolah-olah dia telah merayap masuk ke dalam ruang dan waktu milik pemuda itu, terjebak di dalam jaring laba-laba pembantainya secara sukarela.
Namun tebasan pedang telah diluncurkan. Kombinasi ketiga jurus maut ini sejak awal bertindak selaku serangan satu arah yang menolak diizinkan untuk ditarik kembali setelah dilepaskan ditelan udara.
‘Toh, jasad tuaku murni bersiap mempercayai kekuatan pedangku seutuhnya kelak!’
Aku bertindak selaku Pemimpin Sekte Mata Satu, Cheong Goryang. Salah satu master beladiri terkuat yang menguasai kota tanpa hukum River Capital ini selama puluhan tahun lamanya, sang *Mata Beracun Wajah Senyum*.
*Sring~*
Pedang tipisnya akhirnya tercabut sepenuhnya dari sarung, melesat menusuk lurus ke arah tenggorokan pemuda tersebut.
Tepat bertumpu menyiasati milidetik itu.
Sesuatu yang teramat sangat mengerikan meletus menyembur dari balik sepasang kelopak bola mata Dong Bong-su yang legap bagaikan jurang. Dari sepasang mata yang menolak memendam suhu udara tersebut, seberkas aliran emosi yang sangat tajam dan panas meledak keluar menyapu udara.
Hawa membunuh (*Killing Intent*).
Hawa membunuh yang ditempa begitu runcing dan pekat hingga secara instan memotong habis seluruh silsilah kemauan bertarung di dalam jiwa Cheong Goryang—bagaikan sebilah pedang pusaka yang dengan mudah membelah lembaran kertas tipis di udara.
Ah……
Baru pada detik kematiannya itulah, Cheong Goryang menyadari bahwa dia telah meluncurkan keputusan yang teramat sangat bodoh sekali seutuhnya kelak. Pemuda di hadapannya ini, menolak memendam kelayakan disandingkan dengan jajaran master manapun yang pernah dia temui di River Capital selama puluhan tahun, entah itu Bukgung Ri, Cheol So-ah, atau mantan ketua faksi lainnya.
Dia jauh lebih unggul dari mereka semua. Bukan, dia menolak memendam kesamaan jenis makhluk hidup dengan mereka seutuhnya kelak. Bukankah jajaran master di kota ini setidaknya masih berada di dalam batas kategori manusia fana?
Sedangkan pemuda di hadapannya ini……
Meskipun dia menolak pernah menyaksikannya secara langsung, pemuda ini dipastikan bertindak selaku salah satu dari jajaran master yang berasal dari **Alam Dewa (Immortal Realm / Seon-gye)**, atau setidaknya sesosok kultivator tingkat tinggi yang posisinya sudah merapat mendekati batas langit tersebut. Sesosok entitas yang kedudukannya berada jauh di atas tingkat pemahaman manusia biasa persilatan Jianghu, baik dari silsilah kekuatan beladiri maupun transendensi emosi jiwanya.
*Kuh.*
Keputusasaan batin terukir jelas di bibir Cheong Goryang. Baru saat ini dia memahami mengapa jajaran master beladiri yang telah merapat menyentuh puncak tertinggi persilatan—seperti Bukgung Ri—begitu gila terobsesi meluncur mengejar kultivasi dewa seutuhnya kelak.
“──Enam.”
Tepat di akhir sisa kesadarannya. Wujud raga pemuda di depannya bergerak meliuk. Tubuh pemuda itu meliuk menghindari tebasan pedangnya dengan selisih milimeter, lalu secara ajaib keningnya menempel keningnya, dadanya menempel dadanya, tubuh bagian bawahnya menempel tubuh bagian bawahnya secara sejajar sempurna.
Dia merangsek menembus raganya. Menembus fisiknya secara total.
Seluruh sel-sel tubuh Cheong Goryang terurai hancur berkeping-keping. Sebelum otaknya sempat memikirkan makna nominal angka '6' yang dia dengar dari mulut pemuda itu tadi, kesadaran jiwanya telah resmi dibongkar dan berserakan ditelan bumi seutuhnya kelak.
Pemimpin Sekte Mata Satu, Cheong Goryang, meletus berubah menjadi uap darah merah segar pekat di udara, menyiram seisi halaman markasnya dalam postur bertarung yang sama saat dia menerjang tadi.
*Sssss~*
Seiring dengan mengendapnya uap darah merah tersebut ke tanah, halaman kediaman Sekte Mata Satu tenggelam sepenuhnya ke dalam keheningan malam yang sunyi. Dalam kesunyian absolut di mana hembusan angin malam sekalipun seolah-olah berhenti bergerak, murni hanya Dong Bong-su yang berdiri tegak sendirian di tengah lapangan. Ujung jubah hitamnya berkibar lembut ditiup angin.
*Duung~*
Sebuah petikan suara mekanis sistem yang sangat merdu terdengar di telinganya, menandai berakhirnya sesi "pembersihan" di koordinat lokasi ini seutuhnya kelak:
`[Misi Tambahan: Penyatuan River Capital (Unification of the River Capital)]` [Mendadak] - Dunia baru ini selalu dipenuhi oleh jajaran pendekar jahat yang menuntut untuk disapu bersih seutuhnya kelak. - Seorang pahlawan sejati memendam wewenang untuk merapikan keberadaan mereka demi membuat dunia ini menjadi tempat yang jauh lebih indah seutuhnya kelak. - Jika jasad tuaku sanggup menyatukan seisi seluruh aliansi sekte (*guild*) yang didokumentasikan di kota perbatasan ini, wadah jiwamu bersiap secepatnya mengunci tingkat kepercayaan batin penduduk kota seutuhnya kelak. - Tugas: Satukan seisi seluruh aliansi sekte persilatan di River Capital (6/13 tuntas) - Progress: 48.5% - Hadiah: Sejarah Kepahlawanan +2 ※ Didokumentasikan metode yang sangat melimpah ruah sekali untuk merampungkan misi sains ini, jadi pilihlah metode pembantaian yang paling kau sukai seutuhnya kelak.
---
Pergerakan taktis menyapu seisi kota yang dilakukan Dong Bong-su terus berlanjut secara intensif hingga beberapa waktu lamanya. Seiring malam yang semakin larut, keheningan yang sangat janggal dan mencekam menyelimuti seisi kota River Capital.
Dalam kondisi normal, pada jam-jam seperti ini, gang-gang kota bersiap secepatnya dipenuhi oleh gelak tawa pemabuk dari kedai arak dan rumah judi. Namun malam ini sepenuhnya berbeda. Suara derik jangkrik malam sekalipun menolak terdengar berkumandang sekelumit pun, seolah-olah seisi kota sedang menahan napas ketakutan setengah mati.
Kondisi mencekam ini terus berlanjut hingga seluruh ketua sekte dan master beladiri dari setiap faksi persilatan yang dinilai bertindak selaku "aliansi/guild" oleh sistem *What is Hero* selesai dilenyapkan tanpa sisa.
Di Jalan Barat: **Aula Angin Hitam (Black Wind Hall)**, **Sekte Mata Satu (One-Eyed Sect)**, **Geng Lonceng Api (Fire Bell Gang)**, **Perkumpulan Ular Biru (Blue Snake Society / Cheong-sa-hoe)**, **Paviliun Sepuluh Ribu Emas (Ten Thousand Gold Pavilion / Man-geum-gak)**, dan **Sekte Persembahan Tombak Api (Spearflame Consecration Sect / Chang-hwa-bong-seon-pa)**.
Di Jalan Timur: **Benteng Angin Biru (Blue Wind Fortress / Cheong-pung-seong)**, **Sekte Harmoni Awan (Cloud Harmony Sect / Un-hwa-pa)**, **Paviliun Gigi Hitam (Black Tooth Pavilion / Heuk-a-gak)**, **Korps Rembulan Aliran Terbang (Flying Stream Moon Corps / Bi-ryu-wol-dae)**, **Paviliun Bintang Mabuk (Drunken Star Pavilion / Chwi-seong-gak)**, **Sekte Suara Gaib (Mysterious Sound Sect / Myo-eum-pa)**, dan **Korps Ular Giok (Jade Snake Corps / Ok-sa-dae)**.
Malam itu terasa teramat sangat panjang sekali, dipenuhi oleh catatan pertumpahan darah dan pembantaian ratusan pendekar. Namun bagi Dong Bong-su, seisi pertarungan tersebut hanyalah sebatas runtunan proses sains melipat "nominal angka status" belaka seutuhnya kelak. Begitu tugas pembersihannya selesai dirampungkan, sebuah kosa kata datar meluncur dari bibirnya.
“Tiga belas.”
Dia berdiri kokoh di atas puing-puing reruntuhan markas Korps Ular Giok. Fajar pagi mulai menyingsing di ufuk timur. Cahaya matahari pagi yang kemerahan memancarkan bayangan tubuh jubah hitamnya memanjang di atas tanah. Bayangan dewa kematian yang menyapu seisi kota River Capital sepanjang malam tadi akhirnya resmi berhenti bergerak.
*Duuung~*
`[Sistem: Penyatuan River Capital (Unification of the River Capital)]` - Progress: 100% (Tuntas) - Hadiah: Mengunci Sejarah Kepahlawanan +2 seutuhnya. `[Sistem: Tindakan kepahlawanan jiwamu sukses melipatgandakan data sejarah pahlawan seutuhnya. Hadiah diberikan.]` `[Sejarah Kepahlawanan +2]` `[Dunia baru ini telah menjadi jauh lebih indah sekali seutuhnya kelak.]`
Di balik stempel hologram bertuliskan hadiah kepahlawanan yang melayang di udara, tumpukan mayat Ketua Korps Ular Giok beserta ratusan jasad prajuritnya yang hancur tampak menggunung mengenaskan. Namun, menolak seluruh anggota faksi tersebut tewas terbantai.
“P-Mohon ampuni nyawa jasad kami…… K-Kami murni hanya……”
Sisa prajurit logistik Korps Ular Giok dan jajaran anggota keluarga mereka tampak bersujud ketakutan di sudut bangunan.
※ Didokumentasikan metode yang sangat melimpah ruah sekali untuk merampungkan misi sains ini, jadi pilihlah metode pembantaian yang paling kau sukai seutuhnya kelak.
*Step, step.*
Dong Bong-su melangkah santai mendekati kerumunan orang yang gemetar ketakutan di sudut bangunan yang hancur setengah bagian itu. Jumlah mereka diperkirakan mencapai tiga puluh orang. Jajaran orang dewasa tampak merapatkan punggung mereka ke dinding batu dengan wajah pucat pasrah, sedangkan sebagian besar anak-anak menyembunyikan wajah mereka karena takut.
Namun, sesosok anak laki-laki dengan keberanian batin yang tegap nekat melangkah maju menghadapinya.
“A-Apakah pahlawan bersiap membantai jasad kami semua juga seperti mereka, hah?”
“Itu menolak bertindak selaku metode pembantaian pilihan sains milik jasad tuaku seutuhnya kelak.”
“Hah? Apa maksud—”
“Apakah wadah jiwamu melakukan tindakan kejahatan yang dinilai memenuhi kelayakan sains untuk dihukum mati, hah?”
“T-Tidak…… Jasad tuaku menolak melakukannya……”
“Maka urusannya selesai seutuhnya kelak. Jajaran pendekar yang nilai kelangsungan hidupnya memendam kelayakan sains diperkenankan memelihara keaktifan napas jiwanya seutuhnya.”
Seluruh pendekar yang dibantainya malam ini murni karena nilai kegunaan hidup mereka jauh lebih menguntungkan jika diubah menjadi mayat. Itulah metode penyelesaian masalah yang paling dia sukai. Meskipun sistem kepahlawanan kemungkinan menyediakan opsi penyelesaian bermoral lainnya, jalur pembantaian massal ini bertindak selaku metode tercepat dan paling efisien seutuhnya kelak.
Dong Bong-su menatap wajah-wajah ketakutan itu dengan senyuman yang menyiratkan kepedihan mendalam—sebuah senyuman sandiwara yang sangat rapi. Sebuah senyuman ramah yang terlalu sempurna hingga menonjolkan kejanggalan sains jika diamati oleh master spiritual tingkat tinggi. Itu bertindak selaku senyuman kepedihan batin dari pendekar keadilan yang tersiksa batinnya karena terpaksa melakukan pembantaian demi menegakkan kedamaian dunia fana.
“Jasad tuaku memegang kepemilikan nama Kim Rae-won seutuhnya kelak.”
Dia mengusap kepala anak laki-laki tadi dengan lembut sebelum melayangkan tatapan matanya menatap seisi kerumunan orang di depan.
“Di antara kalian, dipastikan didokumentasikan silsilah keluarga dari jajaran pendekar yang kubantai malam ini. Bagi mereka, jasad tuaku tanpa ragu telah resmi dicap bertindak selaku musuh bebuyutan pembunuh darah daging mereka seutuhnya kelak. Namun—”
Dong Bong-su menatap sepasang kelopak mata mereka satu per satu dengan intonasi lisan yang memancarkan ketulusan batin yang sangat mendalam.
“Jasad tuaku menegaskan secara ilmiah: seluruh pendekar yang tewas malam ini bertindak selaku bajingan sesat yang memang sepantasnya menemui ajal kematiannya seutuhnya kelak. Mereka bertindak selaku manusia kotor yang cepat atau lambat bersiap secepatnya melunasi nominal dosa mereka seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi meskipun menolak melalui cakar tanganku.”
Di antara kerumunan, beberapa orang tampak tersentak marah mendengar kalimat tersebut. Sepasang bola mata mereka memancarkan teriakan batin yang menolak terima bahwa ayah, kakak, atau paman mereka dicap sebagai bajingan yang layak mati terbunuh. Namun pancaran tatapan mata Dong Bong-su yang menyemburkan aura "keadilan dan kepahlawanan" yang pekat langsung melumat habis keberanian tatapan mata mereka secara mutlak.
“Jika didokumentasikan di antara kalian yang memendam hasrat membalas dendam maut atas kematian darah daging kalian…… Baguslah. Kalian diperkenankan melangkah mendatangi kediaman jasad tuaku di **Sekte Pahlawan (Hero's Sect)** kapan saja seutuhnya kelak. Jika tindakan itu bertindak selaku keadilan bagi jiwa kalian, jasad tuaku bersiap menyambut kedatangan cakar senjata kalian dengan senang hati seutuhnya kelak. Namun mohon pahami satu hal ini secara mutlak.”
Dong Bong-su menekan intonasi suaranya lebih tegap di hadapan mereka.
“Jasad tuaku, Kim Rae-won, bersumpah di bawah langit bahwa seluruh pembantaian yang kulakukan hari ini bertindak selaku letusan tindakan menegakkan keadilan seutuhnya kelak menyapu dunia fana ini.”
“……”
“Murni hanya karena darah daging kalian tewas terbunuh, hal itu menolak serta-merta merubah keadilan sains yang kutegakkan menjadi sebuah kejahatan seutuhnya kelak.”
Selesai mengucapkan kalimat kepahlawanan tersebut, Dong Bong-su mengacak rambut anak laki-laki tadi sekali lagi sebelum membalikkan tubuhnya melangkah pergi meninggalkan halaman. Tugasnya di tempat ini telah selesai seutuhnya kelak, dan umpan keadilan yang dipendamnya dinilai sudah cukup untuk tumbuh di masa depan. Mengenakan apakah umpan pembalasan dendam itu akan tumbuh ataukah membusuk, dia hanya perlu meluangkan waktu memantaunya nanti. Yang terpenting, fondasi kekuasaan Sekte Pahlawan di kota perbatasan ini telah resmi terkunci rapat tanpa didokumentasikan satu pun sekte saingan yang tersisa.
Dengan begitu, seluruh faksi persilatan raksasa yang menguasai kota River Capital resmi hancur lebur hanya dalam kurun waktu kurang dari satu hari penuh.
Malam pedang panjang (*The night of the long sword*), sebuah badai pembantaian massal yang meletus sejak Jam Anjing (sekitar pukul 7 malam) dan baru resmi berakhir mereda pada Jam Macan (sekitar pukul 6 pagi) keesokan harinya.
Dalam rentang waktu yang teramat sangat singkat sekali seutuhnya kelak, keteraturan rimba kota River Capital yang terawat selama ratusan tahun lamanya resmi hancur berkeping-keping ditelan bumi seutuhnya kelak. Dan di atas puing-puing kehancuran tersebut, sebuah nama baru telah resmi terukir secara abadi menyapu seisi kota perbatasan.
Lautan uap darah merah dan puing-puing hancur menyapu bersih seisi seluruh markas persilatan, menyisakan bangunan kosong tanpa tuan. Tidak, lebih tepatnya menyisakan tepat satu sekte penguasa yang abadi.
Sang master pemegang pedang hitam pembunuh.
Musuh bebuyutan bagi seisi pendekar sesat yang bertahan hidup.
Sekaligus sosok pahlawan penyelamat bagi jajaran penduduk biasa yang tersisa.
Kim Rae-won.
Dan faksi miliknya seutuhnya kelak: **Sekte Pahlawan (Hero's Sect)**—satu-satunya sekte persilatan berdaulat yang bersiap menyokong kelangsungan hidup kota River Capital mulai detik ini seutuhnya kelak melintasi batas langit.


