Murim Psychopath

Chapter 187

2294 Kata

**Bab 187. Sekte Pahlawan (3)**

***

Saat kelompok Geng Lonceng Api tiba di atas atap sebuah rumah yang berjarak hanya beberapa puluh langkah dari gerbang Sekte Mata Satu.

“Ketua Geng. Ada yang tidak beres.”

Pelindung Pertama Geng Lonceng Api yang melompat di belakang Jo Jung-heon berbisik pelan sembari tiarap di atas genting.

Ketua Geng, Jo Jung-heon, sebenarnya juga merasakan kejanggalan tersebut. Dia menolak membuang waktu bertanya lisan, melainkan melayangkan isyarat tangan memerintahkan anak buahnya menurunkan tubuh mereka, lalu menatap tajam ke arah dinding pembatas Sekte Mata Satu yang kini tampak sangat dekat di hadapan mereka.

Dia menajamkan pendengarannya dan menyebarkan Qi Sense miliknya.

Keadaan di sana terasa terlalu sepi. Terlalu sunyi tanpa getaran energi sedikit pun. Tidak ada prajurit yang berjaga di gerbang utama, dan menolak didokumentasikan suara sekecil apa pun yang terdengar dari dalam.

Meskipun faksi tersebut saat ini sedang terlibat perang perebutan wilayah yang sengit dengan Aula Angin Hitam di luar, bukankah setidaknya mereka wajib menempatkan prajurit penjaga di gerbang utama markas mereka sendiri?

“……”

Jo Jung-heon terus memantau dengan cemas untuk waktu yang lama, namun dia tetap menolak mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan atau pergerakan di dalam markas Sekte Mata Satu.

“……Sialan.”

Menolak didokumentasikan pilihan lain yang bersiap diambil.

“Kita merangsek masuk secepatnya seutuhnya kelak.”

Jo Jung-heon melompat turun menuju pintu gerbang utama Sekte Mata Satu dengan gerakan senyap yang jauh lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Jajaran Pelindung, sesepuh, dan perwira garda depan Geng Lonceng Api melompat mengikuti di belakangnya secara patuh.

Baru setelah telapak kaki sepatu mereka menyentuh pintu gerbang utama, mereka akhirnya memahami. Bahwa bencana mengerikan tampaknya telah resmi melanda pertahanan Sekte Mata Satu terlebih dahulu seutuhnya kelak.

Tidak hanya prajurit penjaga pintu gerbang yang menolak bersua di tempat, pintu besi tebal milik Sekte Mata Satu bahkan sudah dalam kondisi sedikit terbuka.

“……Ini bersiap secepatnya bertindak selaku jebakan maut—”

Baru saja Pelindung Pertama melihat kejanggalan tersebut dan bersiap menyuarakan kecemasannya secara lisan.

*Wusss-wusss-wusss!*

Suara desingan ratusan anak panah membelah udara terdengar memekakkan telinga.

Hujan anak panah dan jarum beracun mendadak runtuh menghujani mereka dari segala arah bagaikan badai topan. Arah serangannya menolak teratur—mereka melesat dari atas dinding pembatas Sekte Mata Satu, dari atap rumah-rumah di sekeliling gang, bahkan dari balik atap tempat mereka sempat tiarap tadi seutuhnya kelak.

Dua pendekar elit Geng Lonceng Api tewas seketika dengan tubuh tertusuk ratusan jarum beracun sebelum waktu sekali minum teh berlalu. Meskipun didokumentasikan pilar teori sains menyatakan jajaran senjata rahasia menolak memendam nominal efek kerusakan yang memuaskan di hadapan master beladiri tingkat tinggi, logika tersebut runtuh menjadi kesia-siaan di hadapan nominal kuantitas jarum yang melimpah ruah di udara.

“Begundal pengecut mana yang berani meluncurkan serangan licik selevel ini, hah?!” bentak Jo Jung-heon geram.

Seolah-olah membalas tantangan lisan Jo Jung-heon, sesosok bayangan raga melompat turun dari atas dinding pembatas Sekte Mata Satu.

“Jasad tuaku menolak bersedia mendengarkan kalimat hinaan itu dari begundal asing yang merangkak masuk ke kediaman orang lain tanpa etiket lisan, Ketua Geng Jo.”

Sebuah wajah yang menyunggingkan senyuman tipis, penutup mata hitam yang menutupi kelopak mata kirinya, serta suara melengking yang mirip kicauan burung liar menyambut pandangan mereka.

Jo Jung-heon seketika mengenali wajah pria tersebut.

“**Mata Beracun Wajah Senyum (Smiling-Faced Poisonous Eye)**, **Cheong Goryang (Cheong Goryang)**…… Bagaimana wadah jiwamu bersiap didokumentasikan berada di tempat ini, hah?”

Cheong Goryang bertindak selaku Pemimpin Sekte Mata Satu.

Satu mata dan racun maut. Nama julukan *Mata Beracun Wajah Senyum* disematkan padanya karena dia selalu menyembunyikan kekejaman dan racun mautnya di balik wajah yang selalu tersenyum ramah dengan satu matanya yang tersisa. Di kota River Capital, Cheong Goryang terkenal sebagai master beladiri yang sangat licik dan memendam strategi bertarung yang luar biasa.

“Bagaimana jasad tuaku berada di tempat ini? Bukankah bertindak selaku perkara sains yang wajar bagi pemilik rumah untuk menghuni kediamannya sendiri?”

Sudut mata kanan Cheong Goryang melengkung tajam membentuk senyuman panjang. Kombinasi mata melengkung dan senyuman di bibirnya memancarkan aura kesenangan yang sangat aneh, seolah-olah dia sudah menolak sabar menikmati sesi pembantaian yang bersiap dia lakukan.

“Toh, selamat datang di markas kami. Jasad tuaku menolak bersiap bertindak selaku tuan rumah yang mengecewakan, jadi mohon nikmatilah sesi kematian kalian seutuhnya kelak, teman.”

*Step, step.*

Di setiap langkah kaki sepatu Cheong Goryang merambat maju, sebuah jejak Qi kaki yang sangat jelas tercetak di atas lantai batu granite biru lapangan. Dan di belakangnya, puluhan pendekar bermata satu melompat turun dari dinding secara berurutan.

Merekalah pasukan elit Sekte Mata Satu: **Regu Tangan Beracun Mata Satu (One-Eyed Poisonous Hand Squad / Dok-gab-wi)**.

Cheong Goryang bersama pasukannya merambat maju mendekat, membentuk formasi setengah lingkaran yang memaksa kelompok Geng Lonceng Api terdesak mundur masuk melewati pintu gerbang Sekte Mata Satu secara perlahan.

“Mundurlah! Jika kalian bersedia melangkah mundur meninggalkan tempat ini sekarang juga, nyawa kalian bersiap diselamatkan seutuhnya kelak!” bentak Pelindung Pertama Geng Lonceng Api menolak tunduk meskipun dikepung hawa membunuh yang pekat.

Dia memusatkan sirkulasi Qi api di kedua telapak tangannya, menatap geram ke arah Cheong Goryang. “Meskipun jasad kami terkepung di tempat ini, kapasitas kekuatan kami sudah lebih dari cukup untuk menyeret nyawa Cheong Goryang pergi bersama menghuni neraka jahanam seutuhnya kelak!”

Apakah kata "menyeret nyawa" terdengar sangat lucu di telinganya?

Cheong Goryang tertawa terbahak-bahak, suara lisannya terdengar jauh lebih dalam dan mengerikan dibandingkan sebelumnya.

“Jasad tuaku menolak bersiap memarahi anjing terjepit yang menggonggong cemas. Namun di situasi persilatan selevel ini, kau tahu.”

Sesaat setelah kalimatnya terhenti.

*Sring~*

Tangan kanan Cheong Goryang tampak menyentuh gagang pedang di pinggangnya. Bukan menyentuh untuk menariknya, melainkan menutup kembali sarung pedangnya secara perlahan.

Pedang tipisnya ternyata telah meluncur menebas leher target dan kembali bersarang di sarungnya dalam sekali milidetik tanpa sempat dikotori oleh setetes pun noda darah segar pekat.

“Bertindak jauh lebih menguntungkan bagi kelangsungan hidupmu untuk kencing di celana ketimbang menunjukkan taring busukmu di hadapan jasad tuaku seutuhnya kelak.”

Sebuah garis sayatan tipis yang sangat rapi membelah tubuh Pelindung Pertama dari pundak kiri hingga telinga kanannya, membagi zirah fisiknya menjadi dua bagian.

*Slid.*

Setengah bagian tubuh atas Pelindung Pertama merosot jatuh terbelah ke tanah, menyemburkan organ dalam dan lautan darah segar pekat. Cheong Goryang melangkah santai menginjak kepala mayat yang menggelinding di tanah, terus berjalan mendekati Jo Jung-heon.

Di setiap langkah Cheong Goryang merambat maju, Jo Jung-heon terpaksa melangkah mundur satu langkah. Melalui proses penekanan Qi tersebut, kelompok Geng Lonceng Api tanpa sadar telah terseret masuk sepenuhnya ke dalam halaman utama Sekte Mata Satu.

“Ketua Geng Lonceng Api yang terhormat.” Cheong Goryang menyeringai lebar, menekuk jari telunjuk kirinya memberi isyarat memanggil. “Menyerahlah dan matilah secepatnya seutuhnya kelak. Berbeda dengan waktu luangmu yang melimpah, jasad tuaku saat ini sedang sangat sibuk sekali. Setelah mencincang tubuhmu, aku harus segera bergegas menebas leher Ketua Aula Angin Hitam juga.”

Tentu saja, Jo Jung-heon menolak memendam niat untuk mati konyol di tempat ini. Dia melayangkan isyarat mata memerintahkan sisa jajaran Pelindung dan perwira garda depannya untuk merobos masuk terlebih dahulu ke dalam halaman Sekte Mata Satu.

Mulut harimau.

Melangkah masuk ke dalam kediaman Sekte Mata Satu saat ini tidak ada bedanya dengan menyerahkan kepala mereka secara sukarela ke dalam terkaman mulut harimau lapar. Dia tahu betul seluruh kejadian jebakan di gerbang tadi merupakan bagian dari strategi perang Cheong Goryang untuk memancing mereka masuk ke area perang yang sebenarnya.

Formasi spiritual apa yang dipasang di dalam?

Berapa ratus pendekar penjaga yang menunggu di balik pintu?

Berapa puluh jebakan jarum yang dipendam di tanah?

Jo Jung-heon menolak memendam data sains tersebut sekelumit pun. Namun karena menolak memendam pilihan jalan keluar lain, dia terpaksa menumbalkan jajaran anak buahnya masuk terlebih dahulu sebagai tameng penguji jebakan. Sambil terus memaku jangkauan matanya menatap lekat ke arah wajah Cheong Goryang, Jo Jung-heon melangkah mundur perlahan memasuki halaman sekte. Dia tahu jika matanya lengah sedetik saja dari Cheong Goryang, nasibnya bersiap secepatnya berakhir tragis menyalin Pelindung Pertamanya tadi.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.

Secara perlahan, dia akhirnya melangkah masuk sepenuhnya menghuni halaman Sekte Mata Satu, berharap jajaran anak buahnya di depan telah berhasil mengamankan area dasar pertahanan.

Namun……

Keadaan di halaman dalam terasa terlalu sepi. Terlalu sunyi.

Entah itu benturan formasi, ledakan jebakan, atau teriakan perang pendekar, seharusnya sudah meletus bersahut-sahutan menyambut kedatangan anak buahnya yang merobos masuk terlebih dahulu tadi.

‘Ada yang menolak beres……’

Memanfaatkan pilar pintu gerbang utama untuk memotong jangkauan visual Cheong Goryang sesaat, Jo Jung-heon segera membalikkan tubuhnya menatap ke arah halaman dalam sekte seutuhnya.

“……”

Jajaran anak buahnya yang merobos masuk terlebih dahulu tadi memang berada tepat di posisi koordinat yang dia instruksikan. Masalahnya adalah…… mereka semua telah terkapar kaku menjadi mayat di tanah.

Menolak didokumentasikan jebakan spiritual, menolak didokumentasikan formasi racun, dan menolak didokumentasikan satu pun pendekar Sekte Mata Satu yang menyambut mereka. Tentu saja dia menolak mengharapkan upacara penyambutan hangat. Namun berdiri sendirian di tengah halaman raksasa yang sunyi ini benar-benar di luar dugaan sainsnya.

Tidak, lebih tepatnya didokumentasikan satu orang pendekar asing lainnya yang tersisa di sana.

Seorang pemuda misterius tampak berdiri kokoh tegak sendirian di tengah hamparan halaman raksasa yang dipenuhi mayat tersebut.

“Siapa……”

……dirimu yang sesungguhnya, kalimat tanya itu menolak sanggup diselesaikan oleh bibir Jo Jung-heon seutuhnya kelak.

Wawasan visual matanya mendadak melosot terbalik. Suara lisannya menolak sanggup keluar dari tenggorokan.

*Tuk, rolling.*

Dunia fana di sekelilingnya berputar jungkir balik dan runtuh menggelinding ke tanah, disusul penayangan sesosok mayat pendekar bertubuh kekar berdiri tegak tanpa kepala di depannya. Jubah yang dikenakan mayat tersebut tampak sangat familiar di matanya. Tiga aksara merah terukir sangat jelas di punggung jubah tersebut: *Geng Lonceng Api*.

Sesosok jasad tak ber kepala berdiri kaku menyalin patung batu di depannya…… bertindak selaku zirah fisiknya sendiri seutuhnya kelak.

Di saat kesadaran raga Jo Jung-heon merosot jatuh tenggelam menghuni dasar neraka jahanam tanpa dia pahami bagaimana proses pembantaian itu meletus, sebaris suara lisan dingin menusuk masuk ke lubang telinga jiwanya seutuhnya kelak:

“Lima.”

Bahkan di saat jiwanya terseret menuju gerbang neraka, dia masih memendam rasa penasaran yang teramat sangat sekali seutuhnya kelak.

Lima. Apa maksud dari nominal angka tersebut? Dan siapa sebenarnya pemilik dari suara lisan dingin tanpa emosi selevel dewa pembantai tersebut?

---

Cheong Goryang menolak terburu-buru melangkah kaki mengejar kepergian Jo Jung-heon masuk ke dalam halaman sekte. Baginya, mangsanya hanyalah tikus terjepit di dalam perangkap. Meskipun Ketua Geng Lonceng Api memendam kekuatan beladiri yang cukup tangguh, jumlah pasukan setianya terlalu sedikit.

Di dalam halaman Sekte Mata Satu saat ini didokumentasikan **326 pendekar elit** yang bersiap siaga di pos masing-masing, berpasangan keaktifan tujuh lapisan formasi ilusi racun terlarang yang dipendam di tanah untuk memotong jalur melarikan diri musuh. Terlebih didokumentasikan puluhan penembak bom api yang bersembunyi di balik dinding.

“Namun mengapa……”

Sambil bersiul ringan melangkah santai menuju gerbang masuk utama sektenya—koordinat spasial yang bersiap dia jadikan sebagai monumen kemenangan raksasa malam ini—Cheong Goryang memiringkan kepalanya dengan dahi mengernyit heran.

“Mengapa keadaannya terlalu sunyi?”

Sesaat setelah kelompok Geng Lonceng Api merobos masuk ke dalam halaman, meskipun menolak meletus pertempuran bersenjata yang sengit, bukankah setidaknya suara ledakan formasi atau teriakan panik musuh bersiap secepatnya terdengar berkumandang, hah?

Ah. Dia segera menemukan kesimpulan logisnya.

“Kekeke! Jika jasad tuaku memprediksikan kekuatan bertarung Ketua Geng Lonceng Api selemah itu, aku bersiap melumpuhkan mereka sejak tadi seutuhnya kelak.”

Kelompok Geng Lonceng Api tampaknya terlalu lemah hingga lumpuh dalam sekali kedipan mata oleh pasukan elitnya. Cheong Goryang menyeringai lebar, mendorong pintu gerbang besi utama sektenya seutuhnya kelak berjalan melangkah masuk.

“Ketua Geng Jo yang terhormat. Apakah wadah jiwamu masih memelihara keaktifan napas—Hah?!”

Sesosok pemuda tampak berdiri tegak di tengah halaman. Lebih tepatnya, murni hanya pemuda misterius itu saja yang berdiri kokoh di sana.

Mayat pendekar yang dideteksi bertindak selaku Jo Jung-heon juga berada di dekatnya, namun menolak diizinkan untuk disebut berdiri tegak menyalin manusia biasa. Sesosok jasad berdiri tegap tanpa adanya kepala di lehernya hanya didokumentasikan pada patung batu atau mayat sejenisnya seutuhnya kelak.

Seluruh sisa perwira Geng Lonceng Api telah terkapar kaku menjadi potongan daging di tanah tanpa menyisakan rupa wajah asli mereka seutuhnya.

Lantas bagaimana dengan jajaran pasukan elitnya sendiri? Formasi spiritual yang dia pasang?

Batu inti dari tujuh lapisan formasi ilusi racun yang dia bangun dengan susah payah kini telah hancur lebur menjadi debu halus berserakan di tanah. Jajaran penembak bom api yang dia sembunyikan di balik dinding batu tampak telah berubah menjadi arang hitam akibat terkena ledakan bom api mereka sendiri, sedangkan ratusan jarum besi jebakan terdistorsi bengkok bagaikan diremas oleh cakar tangan raksasa dewa.

326 pendekar elit Sekte Mata Satu. Mereka semua telah tewas mengenaskan menjadi potongan daging tanpa bentuk yang berserakan di setiap sudut halaman. Di sekeliling mereka, ratusan mayat pendekar lainnya juga terkapar kaku di tanah. Menolak bersua alasan untuk menanyakan siapa faksi asal mereka.

“……Siapa sebenarnya dirimu yang sesungguhnya di bawah langit ini?” desis Cheong Goryang kaku.

Pemuda misterius yang berdiri tegap menyalin patung batu di tengah halaman tersebut perlahan memutar kepalanya menatap lurus ke arah Cheong Goryang.

Cheong Goryang akhirnya diperkenankan melayangkan jangkauan tatapan matanya menatap sepasang bola mata pemuda tersebut seutuhnya kelak. Kelopak sepasang bola mata hitam legap yang menolak memendam emosi sekelumit pun, terlalu dalam hingga menolak sanggup dideteksi energi apa yang bersemayam di dalamnya—entah itu kemarahan, ketakutan, ataukah hanya kekosongan batin yang transenden.

“Wadah jiwamu terlambat datang seutuhnya kelak,” ucap Dong Bong-su datar tanpa intonasi tinggi atau rendah sedikit pun seutuhnya, seolah-olah dia meletakkan sepasang bola mata pembantainya di atas lidahnya berbicara.

Rasa dingin yang menolak dikenal seketika merayap naik menyelimuti dada Cheong Goryang, membuat dahinya mengernyit cemas.

“Jasad tuaku bertindak selaku pemilik sah dari kediaman ini seutuhnya kelak. Kalimat wadah jiwamu barusan bersiap membuat pendekar asing mengira wadah jiwamu yang memegang kedaulatan tempat ini seutuhnya.”

Sembari berbicara, Cheong Goryang perlahan meletakkan telapak tangan kanannya di atas gagang pedang di pinggangnya, memusatkan sirkulasi tenaga dalam Dantiannya meluncur deras menyapu pembuluh meridian tubuhnya seutuhnya kelak.

Menolak mempedulikan siapa identitas asli pemuda misterius di hadapannya, sesaat setelah melangkah masuk merusak kediaman sektenya, target resmi terdaftar bertindak selaku musuh yang bersiap dibantai tanpa ampun seutuhnya kelak. Dan Cheong Goryang menolak bersedia membiarkan musuh hidup keluar dari kediaman sektenya seumur hidup.

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar