Eternally Regressing Knight

Bab 886: Melawan Empat Ksatria

2873 Kata

Bab 886: Melawan Empat Ksatria

"Keparat, mundur! Tarik pasukan mundur! Mundur ke belakang, dasar orang-orang bodoh! Hei, cepat mundur! Para perapal sihir gila itu...!"

Itu adalah jeritan panik dari sang perwira komandan unit pengawas militer.

Bahkan unit pengawas yang biasanya bertugas memerintahkan serbuan maju dengan menodongkan mata tombak ke punggung prajurit sekutunya sendiri kini berada dalam kondisi panik luar biasa.

Begitu terkejut dan kalutnya mereka saat ini.

Kenapa di muka bumi ini mendadak muncul hamparan rawa hisap di tengah jalan?

Mendengar seruan sang komandan, barisan pasukan bergegas menarik langkah mereka mundur, namun laju pergerakan kabut rawa hisap jauh lebih cepat.

Kabut uap air tebal melingkupi area tertentu dalam sekejap.

Bagaimanapun juga, siapa pun yang melangkah masuk ke dalam kabut tersebut tidak hanya kehilangan jarak pandang di depan mata mereka, melainkan didera oleh ilusi halusinasi yang teramat mengerikan.

"Ibu? Apakah itu Ibu?"

"Rebecca, bukankah kau sudah mati?!"

"Sialan, pergi dari hadapanku! Menjauhlah dariku!"

Para prajurit narapidana saling menusuk rekan seperjuangan mereka sendiri.

Percikan darah segar memancar deras dan daging tubuh tertebas robek.

Sebuah unit militer yang sedang didera ilusi halusinasi ekstrem sama sekali bukan lagi pasukan yang layak membicarakan tentang moral tempur.

Kini tiba saatnya bagi mereka untuk membicarakan tentang bagaimana cara mempertahankan kelangsungan hidup.

Gumpalan kabut tebal itu menggumpal dan melayang hidup, menelan tiga atau empat prajurit narapidana sekaligus.

Pemandangannya tampak seolah-olah ada seekor monster raksasa yang terbuat dari kabut sedang memangsa manusia hidup-hidup.

Hal yang paling melegakan adalah gumpalan kabut ilusi itu hanya tercipta pada koordinat area tertentu saja.

Prajurit-prajurit yang bermata jeli dan berkaki lincah sanggup menghindarinya dengan baik.

Tentu saja seluruh fenomena ini adalah manifestasi dari mukjizat ilmu sihir.

Sebuah keajaiban magis yang sanggup membendung laju sebuah divisi militer besar.

Mereka sama sekali belum pernah mengalami sihir yang semengerikan ini sebelumnya.

Sang komandan pengawas mengedarkan pandangan matanya ke depan selagi sibuk menghindari kejaran gumpalan kabut.

Sungguh membuat frustrasi kenapa kabut terkutuk ini tidak kunjung sirna meski ordo Mud Knights telah turun tangan menyerbu.

"Uh? Uwaa-aaargh!"

Selagi menghindari gumpalan kabut tebal, beberapa prajurit terperosok jatuh ke dalam lumpur rawa.

Begitu kaki-kaki mereka terjerembap tertahan di dalam lumpur hisap, dimangsa oleh gumpalan kabut yang mendekat perlahan hanyalah masalah waktu belaka.

"Gila!"

Seorang prajurit yang dilanda rasa panik berteriak histeris.

Hamparan rawa yang tadinya tampak melebar di area tertentu mendadak merekah memunculkan lubang-lubang tanah baru, menjelma menjadi perangkap yang mengunci pergelangan kaki mereka.

'Apakah hal semacam ini benar-benar masuk akal?'

Bahkan jika ini disebut sebagai sebuah ilmu sihir, bukankah perilakunya tak ubahnya makhluk hidup yang bernapas?

"Sialan, apakah mereka benar-benar sudah gila?!"

Sang komandan berteriak meluapkan rasa frustrasinya.

Selagi meratap, pandangan matanya terarah menatap sosok-sosok ksatria yang sedang bertempur di garis depan.

Jika situasi ini terus berlarut-larut, ia pun pasti akan mati binasa tertelan lumpur.

Namun ia sama sekali tidak bisa memerintahkan pasukannya untuk melarikan diri secara serampangan.

Sebelum berangkat ke garis depan tadi, sang Knight Commander ordo Mud Knights telah menitahkan instruksi tegas: 'Tunggu di tempat ini lalu melangkahlah maju!'

Kedudukan ordo ksatria berada jauh di atas unit pengawas militer.

Secara sederhana, para ksatria memiliki wewenang mutlak untuk mengeksekusi mati mereka semua di tempat jika ada yang berani bertindak bodoh.

Oleh karena itu, sangatlah alami bagi mereka untuk mati dieksekusi jika berani melanggar perintah militer.

Itu adalah doktrin mati yang telah terpatri di dalam benak mereka layaknya sebuah cuci otak.

Oleh karena itu hanya ada satu harapan yang bersemayam di dalam hati sang komandan.

'Cepat bantai mereka semua dan akhiri mimpi buruk ini!'

Kelima ksatria Mud Knights harus segera menuntaskan pembantaian itu lalu kembali ke barisan.

Hanya itulah satu-satunya jalan keselamatan bagi mereka semua.

Menembus celah-celah kabut aneh yang terhampar luas, sang komandan menyaksikan jalannya duel para ksatria.

Perbedaan jumlah petarung terpampang sangat benderang.

Begitu mencolok hingga ia sendiri tidak mengerti kenapa para ksatria itu sempat tertahan di tempat tersebut.

Mungkin karena merasa jengkel dan frustrasi, bahkan sang Knight Commander Baric sendiri akhirnya ikut turun tangan menyerbu.

Kini mereka hanya perlu bertahan sedikit lebih lama lagi, bukan?

Tepat di saat ia sedang memelihara secercah harapan tersebut...

'Benda apa itu?'

Sebuah siluet hitam yang meluncur jatuh dari langit luas tertangkap oleh pelupuk matanya.

Dalam satu kali pandang, wujudnya tampak menyerupai sosok seorang manusia.

Gumpalan siluet itu terjun bebas menerjang tepat di atas kepala ksatria sekutunya!

Sang komandan seketika mengenang kembali memori masa kecilnya dahulu kala saat menyaksikan seekor burung elang raksasa yang menyambar menerkam seekor rusa hutan.

Detik ini, seekor burung elang dengan sepasang sayap berwarna hijau tua baru saja menyusup masuk menerobos medan pertempuran.

Di matanya, pemandangan itu terlihat persis seperti itu.

Hanya saja burung elang raksasa itu menggenggam sebilah pedang tajam dan memiliki sepasang tangan serta kaki manusia.

Jaxen terkapar terduduk di atas tanah setelah meludahkan racun di mulutnya.

Kedua kakinya terasa mati rasa.

Itu terjadi akibat beban berlebih yang menimpa jaringan otot-ototnya setelah melakoni manuver pergerakan yang melampaui batas kewajaran.

"Kau cuma perlu mengulur waktu sedikit saja. Jangan mati seenak jidatmu sendiri."

Encrid berujar datar tanpa repot-repot menolehkan kepalanya ke belakang.

Terlepas dari makna kalimatnya, Jaxen melepaskan tawa kecil mendengar kata-kata sang kapten.

Jangan mati seenak jidat sendiri.

Yah, ia berniat untuk mematuhi perintah itu dengan sepenuh jiwa.

Sebagai seorang anggota terhormat dari The Madmen Knights.

Seandainya ada seseorang yang memberitahunya beberapa tahun yang lalu bahwa hari seperti ini bakal tiba dalam hidupnya, ia pasti sudah melubangi leher orang tersebut dengan lima tusukan belati yang indah.

Namun kini, mematuhi instruksi sang Kapten terasa teramat menyenangkan baginya.

Encrid kembali membuka suaranya seraya menatap lurus ke depan tepat setelah ia selesai berbicara.

Bisa dibilang sebelum para ksatria musuh sempat bereaksi sedikit pun.

Ia langsung mengambil alih kepemimpinan atmosfer pertempuran semata-mata lewat kemunculan dan pembawaan sikapnya.

"Perhatian semuanya, mari kita istirahat sebentar..."

Duaaaarrr!

Brak!

Pustis dari ordo Mud Knights yang mendengarkan ocehan pemuda itu segera merendahkan kuda-kudanya lalu mengayunkan gada flail berduri miliknya ke depan!

Bukan mengincar titik sasaran yang presisi, melainkan demi memblokir laju pemuda yang tampak hendak menerjang maju.

Apakah ini bisa disebut sebagai manuver pertahanan darurat?

Meski sempat terkejut, reaksinya membuktikan bahwa ia sanggup merespons situasi genting secara instan.

'Melancarkan serangan selagi berbicara?'

Pustis membatin seraya menyambut tebasan lawan.

Sebuah trik pedang tipu muslihat dari seni pedang tentara bayaran gaya Valaf, Valaf-style.

Pada hakikatnya seni pedang tipu muslihat lebih condong ke arah strategi taktik tempur.

Bajingan yang mendadak muncul dari langit ini memanfaatkannya dengan sangat lihai.

Terlebih lagi ia mengoperasikannya jauh lebih mahir daripada Pustis sendiri.

'Bajingan gila.'

Mengendalikan hawa keberadaannya, ia memuntahkan kata-kata konyol yang sepenuhnya tak masuk akal.

Menyarankan untuk beristirahat sejenak di tengah duel berdarah, memusatkan seluruh tatapan mata musuh ke arahnya, lalu meluncurkan serbuan kilat.

Wuuush!

Suara gada flail yang membelah ruang hampa terdengar sangat renyah.

Sebab serangannya sama sekali tidak mengenai sasaran apa pun.

'Bajingan keparat ini...?!'

Terlebih lagi pemuda itu sama sekali tidak meluncurkan serbuan maju.

Manuver serbuan itu pun hanyalah sebuah tipu muslihat belaka!

Berpura-pura menerjang maju, ia menjejakkan kakinya ke tanah lalu menghentikan langkahnya setelah hanya bergerak satu langkah pendek saja.

Selagi melakukan manuver palsu tersebut, ia menyabetkan bilah pedangnya lurus ke arah kiri!

Telapak kaki kiri yang ia jejakkan ke tanah menjelma menjadi pijakan kuda-kuda yang teramat sempurna untuk melancarkan sabetan pedang.

Bersamaan dengan terjulurnya kakinya, seberkas garis cahaya biru membentang membelah ruang udara!

Dentuman menggelegar meledak di titik tersebut.

Itu adalah sabetan pedang maut yang diarahkan secara presisi ke arah rekan ksatrianya.

Melihat bilah pedang yang meluncur membabat lehernya, sebuah reaksi alami meletup seketika.

Menyambut serangan lawan selagi mengayunkan pedang sendiri.

Dua bilah pedang yang merobek udara saling beradu lalu terpental berpisah!

Trang!

Gelombang kejut menyebar dalam lingkaran konsentris dari titik di mana dua lempengan baja itu saling bertubrukan.

Hempasan angin kencang berputar ganas ke segala arah tak ubahnya hantaman angin topan, dan jubah yang dikenakan oleh pemuda gila itu berkibar melebar.

Kibar kain berderu nyaring!

Bukankah ukuran jubah hijaunya tampak menyusut jika dibandingkan dengan kemunculannya tadi?

Saat ia pertama kali terjun bebas tadi, jubahnya tampak menyelimuti seluruh tubuhnya hingga menjuntai menutupi kedua belah kakinya.

Bukankah pemandangan itu terlihat layaknya sepasang sayap raksasa?

Encrid memang sengaja membentangkan jubahnya demi menangkap aliran angin dan meluncur melayang saat melompat turun dari punggung Odd-eye, namun karena manuver terbang itu tidak lagi dibutuhkan saat ini, jubah itu secara alami menyusut kembali ke ukuran normalnya.

Ksatria Longarm yang baru saja beradu pedang dengan pemuda itu menjejakkan kakinya ke tanah lalu melangkah mundur dua langkah ke belakang.

Itu adalah manuver untuk membuang dan menyebarkan sisa daya hantam benturan lawan.

Longarm mengerutkan keningnya tajam.

Dirinya yang menangkis serangan terpaksa harus membuang daya benturan, namun sang lawan tetap berdiri kokoh memaku di tempatnya tanpa terpengaruh oleh gaya tolak balik sedikit pun.

Meski pahanya sempat terluka akibat tusukan Jaxen tadi, jurang perbedaan kekuatan di antara mereka terpampang sangat benderang.

Apa yang disuarakan oleh pertukaran sabetan pedang barusan?

'Perbedaan mutlak dalam kapasitas kekuatan fisik murni.'

Pustis yang mengerahkan ketajaman wawasannya menilai sosok monster yang baru muncul ini sebagai pendekar yang memiliki kekuatan fisik monster setara dengan sang Knight Commander Baric.

"Makhluk apa yang kau tunggangi tadi?" Longarm bertanya seraya menatap heran.

Semua orang di tempat itu secara serempak melemparkan pandangan mata mereka ke angkasa luas.

Dari atas langit yang tinggi, seekor kuda bersayap tampak menatap dingin ke arah mereka semua.

Kuda bersayap itu tampak siap menyusup menerjang ke bawah jika situasi tuannya memburuk.

"Seekor monster?" Longarm bertanya seolah sedang bergumam pada dirinya sendiri.

"Seekor divine beast," Encrid menyahut tenang.

Atmosfer di sekeliling mereka terasa seolah-olah sesi tanya jawab santai bakal terus bergulir dalam waktu yang cukup panjang.

Knight Commander Baric tahu betul bagaimana cara memanfaatkan atmosfer lengah semacam ini.

Tepat sebelum sang lawan sempat membuka mulutnya tadi, ia telah memusatkan seluruh kekuatan fisiknya ke kedua belah kakinya.

Aliran tenaga yang menjalar dari telapak kaki, lutut, hingga pinggang ditransmisikan secara sempurna ke sekujur raganya.

Melangkah maju menerjang, ia menyalurkan seluruh kekuatannya ke bilah pisau tebas yang ia ayunkan.

Bilah pisaunya memiliki panjang seukuran lengan bawah pria dewasa.

Sebuah senjata tajam yang diasah pada satu sisinya dengan titik keseimbangan berat yang telah disesuaikan, sebilah senjata yang sanggup membabat dan membelah apa pun yang dilintasinya.

Meski terlihat layaknya sebilah pisau pendek di tangannya yang kekar, senjata itu sangat layak disebut sebagai sebilah pedang falchion sejati.

Terlebih lagi ia menanamkan kekuatan fisik monsternya yang unik ke dalam sabetan ini dan memadukannya dengan keahlian bela diri tingkat tinggi.

Itu bukan sekadar ilmu pedang yang bertumpu pada kekuatan otot kasar semata.

Kecepatan, ritme waktu, dan daya hantam berpadu dalam harmoni yang sempurna.

Bahkan jika kau menangkisnya, bilah pedang itu tetap akan menebas dagingmu, dan menghindarinya pun sama sekali bukan hal yang mudah.

Dahulu kala di perbatasan Demon Realm, jurus ini pernah dijuluki sebagai 'ilmu pedang yang sanggup membelah demon sekalipun'.

Itu terjadi tepat sebelum sabetan pedang maut itu sempat meledak.

Sayangnya Baric tidak sanggup melangkah maju ataupun mengayunkan pedangnya pada ritme waktu yang ia dambakan.

Wuuush!

Karena sebuah proyektil senjata tajam melesat terbang mengincar jakun lehernya diiringi suara desingan yang teramat menjengkelkan!

Pria yang baru saja hendak menerjang maju itu terpaksa mengubah titik tumpu berat badannya dalam sekejap mata, memutar pergelangan tangannya, lalu menggunakan permukaan datar pedang falchion-nya sebagai perisai darurat demi menahan benda yang melesat ke arahnya.

Duaaaarrr!

Dentuman ledakan dahsyat kembali meletup memekakkan telinga.

Benda yang baru saja ia tangkis adalah sebilah pisau lempar berwujud unik.

Gumpalan logam berat yang menghantam bilah pedangnya memantul ke samping lalu menancap amblas ke dalam tanah keras.

Meski telah memantul terbelokkan, pisau lempar itu menancap begitu dalam hingga gagang pegangannya bahkan tidak terlihat lagi di permukaan tanah.

Suara hantamannya terdengar teramat berat dan padat.

Dan koordinat sasaran lemparannya benar-benar sangat cerdik dan berbahaya.

Seandainya pisau itu mengincar kepalanya, ia cukup memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindar lalu menerjang maju, dan jika mengincar tubuhnya, ia akan menaruh keyakinan pada ketebalan zirahnya dan membiarkannya memantul.

'Mengincar celah jakun di leherku.'

Membidik tepat pada celah kosong pelindung zirah bajanya.

Dan sebuah titik sasaran yang mustahil untuk dihindari semata-mata dengan memiringkan kepala.

Serangannya berhasil diputus dan digagalkan bahkan sebelum sempat dimulai.

Tak ubahnya mengumpulkan tumpukan ranting kayu kering demi menyalakan api unggun, namun hembusan angin kencang mendadak bertiup dan memadamkannya tepat sebelum percikan api sempat menyala.

Apakah ini sebuah krisis bahaya?

Baric bertanya di dalam lubuk hatinya.

Kemungkinan besar tidak.

Hal yang paling menguntungkan baginya adalah seluruh ksatria bawahannya saat ini sedang berdiri mendampinginya di tempat ini.

Bukankah melakukan tindakan apa pun demi meraih kemenangan dan mempertahankan kelangsungan hidup adalah doktrin sejati dari ordo Mud Knights?

Mereka belum kehilangan keunggulan mutlak mereka.

Situasi taktis sama sekali belum berubah.

Baric menetapkan penilaian tersebut.

Itu terjadi tepat pada detik setelah ia berhasil memblokir lemparan pisau tadi.

Begitu sang pelempar pisau memperlihatkan celah kelengahan sesaat, Ksatria Barod segera merapatkan kedua tangannya lalu menghantamkan tepi perisai bajanya mengincar pundak kiri lawan!

Sang lawan sedang menggenggam sebilah pedang di tangan kanannya dan baru saja melemparkan pisau dengan tangan kirinya.

Encrid mengangkat tangan kirinya yang baru saja melempar pisau lurus ke atas.

Dengan telapak tangan menengadah menghadap ke atas.

Telapak tangan terbuka itu menghantam telak persendian siku Barod tepat sebelum hantaman perisai sang ksatria sempat mendarat sempurna!

Plak!

Terhantam telak di dekat pelindung zirah yang membentengi sikunya, titik hantaman perisai Barod seketika buyar dan kuda-kudanya goyah berantakan.

Barod menarik langkahnya mundur.

Ia pantang memaksakan serangannya.

Jika mereka bertarung sembari mengulur waktu, pihak merekalah yang memegang keunggulan mutlak.

Sama sekali tidak ada alasan baginya untuk bertarung secara tergesa-gesa.

Meski baru menghabiskan waktu selama beberapa tarikan napas pendek, kapasitas ilmu bela diri yang dipamerkan oleh pemuda yang mendadak jatuh dari langit ini benar-benar teramat mencengangkan.

Pustis berhasil dibendung dalam serangan tipuannya, Ksatria Longarm terpaksa mundur dua langkah akibat dahsyatnya daya tebasan sang pemuda, Baric terpaksa membatalkan serangannya akibat lemparan pisau maut, dan terakhir, hantaman perisai Barod pun berhasil dipatahkan dengan sangat mulus.

Apakah ini saat yang tepat untuk terkesiap kagum?

Keempat ksatria South pantang bertindak sebodoh itu.

Pandangan mata keempat ksatria itu serempak beralih menatap ruang tepat di belakang punggung sang pemuda.

Ksatria yang tersisa adalah Venom, dan sosok kerdil itu sedari awal memang merupakan tipe petarung yang gemar melancarkan taktik licik yang menyimpang.

Venom tidak mengincar sosok Encrid, melainkan menyergap ke arah Jaxen yang sedang duduk bersila memijat otot betisnya!

Tepat saat bilah pisau sang kurcaci meluncur mengincar kepala Jaxen...

Sret!

Pemandangannya tampak seolah-olah sepasang tangan mendadak mencuat keluar dari ruang udara hampa yang kosong.

Itu adalah kedahsyatan dari artefak sihir langka yang menyerupai jubah tembus pandang yang sanggup melenyapkan wujud fisik dan hawa keberadaan penggunanya.

Itu adalah sebuah serangan senyap di mana hawa keberadaan sang penyerang sama sekali tidak teraba sedikit pun hingga tepat pada detik saat tangannya terjulur keluar dari balik jubah.

Namun Jaxen mengayunkan belatinya dengan sangat rapi dan menangkis serangan tersebut!

Trang!

Begitu serangannya terblokir, Venom melenting memantul ke belakang.

Gerakan melentingnya tak ubahnya sebuah bola karet yang dipompa padat lalu dilemparkan ke tanah keras.

Kecepatan luncur yang tercipta berkat elastisitas tubuhnya yang luar biasa.

"Kalau kau sudah melampaui tingkatan tertentu, jangan terlalu bergantung pada artefak sihir semacam itu."

Jaxen bergumam dingin.

"Kau berani menceramahiku?!"

Venom mendesis seraya berbisik rendah, suaranya dipenuhi oleh niat membunuh yang teramat pekat.

"Mendiang guruku berpesan agar aku menyampaikan nasihat ini kepadamu jika kebetulan bertemu denganmu di suatu tempat."

"...Kau..."

"Master dari Georg's Dagger adalah guruku tercinta."

"Bajingan munafik yang menjijikkan itu!"

Jika kau berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran, membantai manusia dengan baik sudah lebih dari cukup, lalu bukankah pria keparat itu gemar mengoceh tentang tujuan mulia dan arti kebenaran?

Segumpal kemunafikan yang langsung merangsek maju mengamuk membabi buta begitu menyaksikan rakyat jelata ditangkap dan dijadikan kelinci percobaan untuk riset racun mematikan miliknya.

"Beliau adalah seorang guru yang teramat luar biasa," ujar Jaxen seraya menegakkan tubuhnya dan bangkit berdiri.

Ia telah memanfaatkan waktu berharga yang dibeli oleh Encrid dengan sangat sempurna.

Di sela-sela waktu tersebut, Encrid telah berhasil memblokir dan menggagalkan upaya serangan dari keempat ksatria musuh sekali lagi.

Selaras dengan tebasan pedang Venom tadi, keempat ksatria lainnya turut melancarkan serangan serempak, namun keempat ksatria Mud Knights itu sama sekali tidak sanggup mewujudkan apa yang mereka dambakan.

Sebelum bilah senjata mereka sempat beradu sempurna dengan sang lawan, alur serangan mereka selalu terpotong dan terputus di tengah jalan.

Tentu saja apa yang sedang diterapkan oleh Encrid saat ini adalah teknik Bara Pembunuh, Killing Embers.

Sebuah teknik mematikan yang dahulu kala bahkan sanggup memblokir dan mematahkan serangan dahsyat milik sang demon lord Beelrog.

Setelah peristiwa tersebut, ia memusatkan diri dalam latihan keras dan mengulang tempaan disiplin berintensitas tinggi tanpa henti.

Dan inilah hasil nyata dari tempaan neraka tersebut.

Tangan dan kaki dari keempat ksatria Mud Knights terkunci dan terbelenggu rapat.

Keempat ksatria South itu seketika memperlihatkan rasa bingung dan terkejut yang mendalam.

Encrid mengatur ritme napasnya, mempertahankan tingkat konsentrasi batinnya, lalu bertanya singkat.

"Sudah siap?"

Pertanyaan itu diarahkan ke belakang punggungnya.

"Aku siap."

Sebuah jawaban mantap meluncur membalas pertanyaannya.

Encrid tidak bertanya bertele-tele, dan jawaban Jaxen pun teramat ringkas dan tegas.

Venom yang menyaksikan interaksi tersebut mengerutkan keningnya jijik.

"Sekumpulan cecunguk yang sombong! Apa kalian pikir ada hal yang bakal berubah semata-mata karena jumlah kalian bertambah dari satu menjadi dua orang?!"

Sama sekali tidak ada jawaban yang membalas teriakannya.

Sebuah pengabaian total.

Bukan karena alasan khusus.

Semata-mata karena detik ini adalah saat yang tepat bagi mereka berdua untuk memusatkan seluruh jiwa raga pada apa yang wajib mereka tuntaskan.

Tentu saja pengabaian itu membuat Venom mendidih marah bukan main.

"Dasar bajingan-bajingan berdarah campuran sialan!"

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.