Bab 885: Dinding Hijau Tua
Ferdinand dari Crimson Cloak Knights mengenang kembali pertempuran yang baru saja ia saksikan beberapa saat yang lalu.
'Apakah itu adalah pertempuran di mana kemenangan telah terjamin pasti? Apakah kemenangan mereka telah digaransi sedari awal?'
Kesimpulan yang berhasil ia raih setelah merenungkannya berulang kali adalah tidak.
Mereka sama sekali tidak bergerak dengan bertumpu pada asumsi semacam itu.
Tidak pula melangkah maju setelah menimbang kalkulasi untung dan rugi.
'Mereka tak ubahnya sekawanan kuda liar yang mengamuk membabi buta.'
Ia tidak sedang merujuk pada satu sosok individu tertentu.
Melainkan seluruh anggota The Madmen Knights tampak bertindak persis seperti itu.
'Menjadikan raga mereka sendiri sebagai artefak hidup demi mempertahankan posisi pertahanan.'
Menunggangi kuda terbang di angkasa dan mengamuk liar di atas punggung kawanan monster griffon.
Itu bukan sekadar membantai beberapa ekor griffon belaka.
Mereka benar-benar bertarung sembari melompat kesana-kemari di antara tubuh kawanan griffon yang sedang terbang.
Itu adalah pemandangan luar biasa yang mengingatkannya pada sosok sang Master yang ia layani. Ia memang tidak sampai melepaskan seruan kagum saat menyaksikannya, namun mustahil pula baginya untuk tidak terkesiap takjub.
Kehebatannya benar-benar seluar biasa itu.
'Pertempuran yang satu ini... kita pasti kalah.'
Ia selalu menakar peluang kemenangan dan kekalahan bahkan sebelum genderang perang berdentang.
Itu adalah sebuah kesadaran batin, namun bisa pula disebut sebagai kebiasaan lamanya yang mendarah daging.
Demi menyelamatkan nyawa bahkan hanya satu prajurit bawahan tambahan, seorang perwira komandan wajib mahir dalam memperhitungkan kalkulasi taktis.
Itulah kualitas utama dari seorang perwira komandan ulung dalam pandangannya.
Keahlian itu telah mengkristal menjadi spesialisasi pribadinya secara menyeluruh.
Keunggulan dari pola pikir semacam ini adalah ia tidak akan pernah mengendurkan kewaspadaannya, baik dalam pertempuran yang bakal ia menangkan maupun dalam pertempuran yang berujung pada kekalahan.
Mempelajari dan meneliti bagaimana cara merebut kemenangan secara realistis alih-alih bertarung bebas mengandalkan kobaran semangat semata adalah bentuk latihan, disiplin, dan perjuangannya.
Itulah alasan kenapa ia selalu menghindari pertempuran yang mustahil untuk dimenangkan.
Jika ia terpaksa harus bertarung demi sang Master atau rekan-rekan seperjuangannya, ia akan tetap maju bertempur meski mengetahui dirinya bakal kalah, namun apakah ia sanggup melakukannya sembari menikmati pertarungan tersebut?
Layaknya sekumpulan orang-orang yang dijuluki sebagai orang gila itu?
'Aku tidak akan pernah sanggup melakukannya.'
Ferdinand memahami batas kemampuannya sendiri dengan sangat baik.
Ia menatap langsung pada dinding batas kemampuannya.
'Lalu apakah aku harus berhenti melangkah sampai di sini?'
Perenungan batinnya teramat mendalam.
Sinar matahari pagi yang baru terbit menyilaukan pandangan matanya.
Bentang alam wilayah South yang terpampang di kejauhan tertangkap oleh pelupuk matanya.
Ferdinand sedang berjalan menyusuri area perbatasan setelah secara sukarela mengajukan diri untuk memimpin misi pengintaian.
Menghentikan langkah kakinya di tengah jalan, ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
Sebuah titik hitam pekat tampak bergerak di kejauhan di depan matanya.
Itu adalah detik di mana matahari kemarin telah terbenam tuntas dan fajar pagi baru mulai menyingsing.
Itu adalah salah satu teknik pengamatan yang dilatih di ordo ksatrianya.
Pupil mata Ferdinand mendilatasi melebar, menyesuaikan fokus penglihatannya agar ideal untuk menatap target di kejauhan.
Tepat pada detik saat ia melihat sosok musuh tersebut, ia langsung membalikkan tubuhnya seketika.
Jika ia sanggup melihat mereka dari titik ini, maka pihak musuh pun pasti telah mendeteksi keberadaannya dari seberang sana.
Mengabaikan seni menyembunyikan diri, ia berlari kencang sekuat tenaga menuju ke markas utama sekutu.
Bum, bum! Bongkahan tanah dan batu-batu kerikil meledak terlempar di setiap jengkal tanah yang ia pijak.
'Venom.'
Jaxen baru pertama kali mendengar nama itu terucap, namun ia merasa sangat mengenali nama julukan lama yang pernah disandang oleh sosok kerdil tersebut.
'Miasma.'
Sebuah kata yang bermakna sama dengan udara beracun atau hawa pembunuh yang pekat.
Terlahir sebagai seorang peranakan berdarah campuran elf, makhluk itu mengalami kelainan pertumbuhan fisik dan bertubuh kerdil layaknya kurcaci dwarf seumur hidupnya akibat salah menelan tanaman herba beracun tepat setelah ia dilahirkan ke dunia.
'Bukankah usianya saat ini sudah jauh melampaui seratus tahun?'
Ia pernah mendengar kisah bahwa makhluk kerdil itu dahulu kala pernah bertarung sengit melawan mendiang gurunya.
"Bajingan kerdil itu rupanya masih melayang terbang kesana-kemari dengan sangat lincah. Apa aku kalah? Apa tuanmu, gurumu, dan ayah angkatmu ini terlihat selemah itu di matamu?"
Jaxen tidak pernah sekalipun memanggil pria itu sebagai ayahnya, sehingga kala itu ia sama sekali tidak mengerti kenapa kata 'ayah angkat' mendadak meluncur dari mulut sang guru.
"Tentu saja aku yang keluar sebagai pemenangnya!"
Sang guru berujar seraya tertawa bangga, dengan salah satu bola matanya yang memar membiru legam.
Itu bukan bengkak akibat terkena pukulan tinju, melainkan rembesan racun mematikan yang menyusup masuk akibat terserempet sabetan senjata beracun.
Jika kala itu terjadi kesalahan fatal sedikit saja, pria itu pasti sudah mengalami kebutaan permanen pada salah satu matanya.
Faktanya ketajaman penglihatan sang guru pada mata tersebut merosot sangat drastis setelah duel berdarah itu terjadi.
"Seharusnya Tuan mengurangi hawa beracun di tubuh Tuan saat membual."
"Racun ini bakal mereda dengan sendirinya nanti. Bagaimanapun juga, bajingan kerdil itu pasti sedang berkeliaran melakukan segala macam kejahatan di suatu tempat. Aku wajib membantainya saat bertemu dengannya lagi nanti!"
Lalu kenapa Tuan tidak menuntaskan sumpah tekad Tuan itu dahulu kala?
Wahai Guru.
Jaxen mengutuk pelan di dalam hatinya lalu merendahkan kuda-kudanya, memusatkan titik tumpu berat tubuhnya pada telapak kaki kirinya.
Setelah merendahkan posisinya sedemikian rupa, ia memblokir serangan yang mengarah ke atas kepalanya dan di depan paha kirinya hanya dengan sepasang belati di tangannya.
Itu bukan sekadar pola pertahanan pasif biasa.
Ia membelokkan daya hantam lawan dengan menanamkan prinsip-prinsip dasar dari seni bela diri Gaya Pedang Lunak, Soft Sword Style, ke sekujur raganya.
Jika tidak melakukannya, sebagian dari daging tubuhnya pasti akan terobek putus dalam sekejap mata.
Trang!
Ujung-ujung gada flail berduri yang diayunkan oleh pria bernama Pustis meliuk lincah seolah-olah ketiga kepala gada besi itu hidup dan memiliki kehendak sendiri.
Sensasinya persis seperti memblokir dan menangkis tiga bilah pedang tajam secara simultan.
Sudah sewajarnya jika sebuah inscribed weapon yang dikendalikan oleh seorang ksatria sejati memiliki kedahsyatan semacam ini.
Mampu melakukan hal seekstrem ini adalah standar normal bagi mereka.
Menyusul setelahnya, sebilah mata pedang yang meluncur mengincar sisi kanan kepalanya menampilkan lintasan gerak yang teramat fleksibel menyerupai lecutan seutas cambuk.
Sebuah teknik pedang lentur yang melipatgandakan akselerasi tebasan dengan meliukkan sendi lengannya secara elastis, melahirkan sebuah sabetan kilat yang secepat ayunan kapak tempur sang manusia barbar.
Itu adalah aplikasi sempurna dari prinsip kerja seutas cambuk yang diterapkan pada sebilah mata pedang.
Sebuah pola serangan yang teramat orisinal dan mematikan.
Di sela-sela pertukaran serangan tersebut, kurcaci bernama Miasma atau Venom itu menyusup masuk melancarkan serangan gelap.
"Makhluk itu bukan cuma piawai meracik racun mematikan, ia terlahir sebagai seorang pembunuh berdarah dingin alami. Kurcaci buruk rupa keparat itu."
Mendiang gurunya dahulu kala pun pernah melontarkan penilaian yang serupa.
Nama julukan Miasma dahulu kala adalah nama dari seorang pembunuh bayaran legendaris yang menebarkan teror maut di seantero benua.
Sosok kerdil itu melemparkan sebilah Pisau Sunyi, Silent Knife.
Bahkan di internal ordo pembunuh bayaran Georg's Dagger, di luar Jaxen sendiri, hanya ada dua orang master yang sanggup mengoperasikan pisau khusus semacam ini.
Kurcaci itu memainkan pisau lempar tanpa pelindung gagang tersebut dengan kemahiran yang teramat luar biasa.
Terlebih lagi ia melemparkannya dengan mengunci sudut-sudut buta dan ritme waktu yang teramat mustahil untuk dihindari bahkan jika kau menyadari keberadaannya.
Jaxen berputar dinamis secara akrobatik, meliukkan pinggangnya, meluruskan tekukan lututnya, lalu menghentikan pergerakannya secara mendadak.
Wuuush! Silent Knife melesat terbang menyerempet tepat di koordinat ruang tempat ia seharusnya mendarat jika menghindar secara normal.
Sebuah manuver penghindaran yang dieksekusi seolah-olah ia telah melihat masa depan sedari awal.
Tepat pada detik saat ia menghentikan gerakannya, ayunan flail kembali melesat menerjang, dan pedang lentur lawan mendadak menghunjam lurus menusuk layaknya sebatang tombak harpoon.
Lengan pria berlengan panjang itu berhenti meliuk dan berubah menjadi tusukan lurus yang menghujam ganas!
Pada detik yang sama persis, Jaxen mendeteksi empat bilah jarum beracun yang melesat mengincar punggungnya dari arah belakang.
Sama sekali tidak ada ruang sedetik pun baginya untuk sekadar menarik napas.
Meski begitu ia terus mengulang rangkaian manuver tangkisan dan penghindaran maut tersebut tanpa henti.
"Kenapa kau tidak mati-mati juga, keparat?!"
Sebuah seruan pertanyaan frustrasi meluncur dari mulut kurcaci berdarah campuran elf tersebut.
Bagaimana bisa manusia ini sanggup bertahan hidup meski telah teracuni dan diserang secara sepihak oleh tiga orang ksatria sekaligus?
Suaranya dipenuhi rasa tak percaya dan kebingungan mendalam, namun bahkan seruan keputusasaan itu pun merupakan sebuah tipu muslihat yang licik.
Suara teriakannya terdengar jelas dari sisi kiri, namun proyektil jarum beracunnya mendadak melesat dari sisi kanan. Situasi pertempurannya serumit ini. Detik-detik di mana kematian tampak berdiri tepat di bawah ujung hidungnya, namun seulas senyuman tipis justru tersampir di wajah Jaxen secara berselang-seling.
'Ini sangat bisa kulakukan.'
Waktu-waktu yang ia habiskan sehari-hari selagi bertarung bersama sang pria barbar, pemuda pemalas yang buta arah, sang manusia beruang, dan sang Kapten akhirnya bersinar terang hari ini.
Bahkan jika mereka bertarung di tengah luapan amarah konyol sehari-hari, mereka selalu mengayunkan kapak, melontarkan pukulan tinju, dan menusukkan pedang dengan keseriusan setengah hidup-mati.
Jaxen melihat sebuah celah kelengahan yang terbuka lalu melemparkan sebilah Silent Knife!
Ia menjulurkan tangannya lurus ke angkasa tanpa memperlihatkan gerakan memutar tubuh untuk melempar.
Pisau lempar yang melesat tanpa suara itu membidik tepat di titik tengah dahi Pustis.
Lintasan terbangnya melukis kurva melengkung dari atas menukik tajam ke bawah.
Seni melempar pisau bukan semata-mata teknik melontarkan belati dalam garis lurus horizontal belaka.
Kibasan pergelangan tangan, posisi cengkeraman pada bilah pisau—seluruh aspek mekanis itu saling mempengaruhi secara organis, membuat mata pisau sanggup meluncur dalam lintasan aerodinamis yang mustahil dipercaya.
'Luncuran Burung Layang-layang, Swift's Swim!'
Sebuah teknik luncuran terbang di mana bilah pisau melesat menembus ruang udara seolah-olah sedang berselancar mulus di atas lapisan angin.
Tentu saja ia telah menanamkan aliran Will murni ke dalamnya.
Kekuatan penetrasi yang sudah lebih dari cukup untuk menembus zirah baja seorang ksatria dan mencabut nyawanya seketika.
Di atas kekuatan tersebut, teknik Tanpa Niat Membunuh, Killing Intent-less, melenyapkan hawa keberadaan maut secara sempurna.
Demi melenyapkan hawa membunuh, dibutuhkan keahlian khusus untuk memusatkan seluruh konsentrasi pada kesempurnaan teknik itu sendiri alih-alih berfokus pada sosok sang lawan.
Bisa dibilang memfokuskan jiwa pada keindahan eksekusi jurus daripada hasrat untuk mencabut nyawa manusia.
Bagi Jaxen, hal itu sudah teramat mendarah daging.
Pisau yang ia lemparkan bahkan meloloskan diri dari ketajaman pandangan mata Venom.
Jika menilainya murni dari kapasitas keahlian sebagai seorang pembunuh bayaran, keahlian Jaxen jelas berada jauh di atas kurcaci tersebut.
Meski tubuhnya sedang teracuni oleh racun sintetis yang dibanggakan oleh Venom, raga Jaxen yang telah membangun kekebalan racun tingkat tinggi berkat tempaan khusus dari sang guru sanggup bertahan dengan sangat kokoh.
Rasa pusing berputar dan mual di perutnya cukup ia redam menggunakan keteguhan kendali batinnya.
Jurus mematikan yang tidak pernah bisa ia lancarkan kepada rekan-rekan sekutunya kini tampak hampir menancap telak di dahi Pustis.
Silent Knife yang digunakan oleh Jaxen adalah bilah pisau khusus yang ukurannya hanya sebesar gabungan jari telunjuk dan jari tengah orang dewasa. Artinya meski berukuran mungil, senjata ini sudah lebih dari cukup untuk membunuh seorang manusia jika tertanam di kepalanya, dan tingkat kekerasannya teramat luar biasa.
Tepat setelah melemparkan belatinya, Jaxen langsung melompat mundur melenting ke belakang demi menghindari ayunan flail dan sabetan pedang lentur musuh.
Ia memperlebar jarak tempuh secara signifikan lalu melakukan salto akrobatik di udara.
Menghadapi manuver penghindaran maut yang berada di luar prediksi tersebut, Venom pun tidak sanggup merangsek maju menerkam, dan tepat pada detik saat kurcaci itu ragu-ragu apakah harus melempar belati di tangannya...
Tepat sebelum bilah pisau yang telah melenyapkan hawa membunuh dan suara desingannya itu menancap di kepala sang target, sebuah perisai baja mendadak menyusup masuk menghalangi lintasannya!
Trang!
Serangan penentu kemenangan milik Jaxen berhasil diblokir rapat.
Sebuah perisai baja yang terpasang kokoh di lengan bawah sang ksatria baru berhasil menahan hantaman belati tersebut.
Sosok penangkis itu menyesuaikan sudut kemiringan perisainya lalu memantulkan bilah belati ke samping.
Jaxen memang tidak sanggup menebak seluruh proses kronologinya, namun menilik hasil akhirnya, ia sanggup membaca sebagian dari jalannya peristiwa.
Ksatria yang baru saja mengintervensi ini kemungkinan besar telah mengamati jalannya duel dari kejauhan lalu melancarkan bantuan tepat pada waktunya.
Teknik Swift's Swim teramat sulit untuk dideteksi jika disaksikan dari jarak dekat.
Bahkan sosok Venom, sang jenius racun dan pembunuh bayaran legendaris, sempat melewatkan lintasannya.
Seorang ksatria cadangan yang bersiaga di barisan belakang telah turun tangan dan merusak skenario kemenangannya.
Tentu saja dari sudut pandang ordo Mud Knights, intervensi itu adalah tindakan yang sangat tepat.
"Sungguh luar biasa," gumam ksatria yang baru bergabung seraya berdecak kagum.
Pria itu mengenakan sepasang perisai oval di kedua lengan bawahnya.
Sama sekali tidak ada senjata tajam lain yang terlihat di tubuhnya.
Itu adalah inscribed weapon miliknya.
"Sang Komandan menyuruh kita untuk segera menuntaskan pertarungan ini. Area rawa hisap semakin meluas dan ada lebih dari seratus prajurit kita yang tenggelam mati di sana. Jika dibiarkan berlarut-larut, seluruh korps kita bakal binasa tertelan lumpur."
Ksatria berperisai itu menyampaikan instruksi sang komandan.
Dengan kemunculan sosok ini, kini ada empat orang petarung berkekuatan setaraf ksatria sejati yang mengepungnya.
Jaxen seorang diri telah berhasil menahan dan mengunci pergerakan empat orang ksatria musuh sekaligus.
Hal yang paling menggelikan adalah Jaxen yang beberapa detik lalu tampak terdesak secara sepihak hampir saja memenangkan duel maut melawan tiga orang ksatria sekaligus.
Seandainya bilah pisau tadi berhasil menancap telak di kepala Pustis dan menjadi hiasan yang cantik di dahinya, kemenangan mustahil itu benar-benar akan terwujud.
"Sudah kubilang sedari awal, kan? Bajingan di hadapan kita ini adalah seekor monster gila," ujar Pustis santai.
Ia sama sekali tidak merasa terkejut menyaksikan aksi mematikan lawannya barusan.
Sedari awal pria ini memang terlalu merepotkan untuk dihadapi seorang diri.
"Kau melemparkan pisau itu seraya menghindari sudut pandang mataku?!"
Venom berseru gusar, harga dirinya terasa terinjak-injak parah.
Ia pun merupakan seorang master yang mendalami seni pembunuhan bayaran hingga ke akar-akarnya.
Hanya lewat satu manuver yang dipamerkan Jaxen barusan, ia menyadari dengan pasti bahwa keahlian sang pemuda berada jauh di atas tingkatannya sendiri.
Kenyataan pahit itu mengoyak-ngoyak lubuk hatinya tanpa henti.
Dan bukan hanya hal itu saja yang mencabik-cabik rasa percaya dirinya.
Akibat pergerakan fisik yang teramat intensif sedari tadi, masker kain penutup wajah yang dikenakan Jaxen telah lama robek terlepas.
Paras wajah aslinya kini terpampang benderang di depan mata mereka.
Paras wajah teramat rupawan yang selalu sanggup mencuri tatapan mata para wanita bangsawan setiap kali ia melangkah melintasi jalanan kota Border Guard.
Wajah Venom berkerut jelek dipenuhi rasa dengki yang pekat.
Ia mengidap sindrom rasa rendah diri yang teramat akut terhadap penampilan fisiknya sedari masa mudanya.
Tepatnya sedari detik di mana paras wajahnya berubah menjadi buruk rupa dan menjijikkan akibat racun mematikan.
"Bakal kukelupas habis seluruh kulit wajahmu yang mulus itu!"
Terlebih lagi menghadapi seorang lawan yang memiliki ilmu bela diri yang jauh lebih unggul daripada dirinya?
Bukankah pemuda ini tak ubahnya sosok musuh yang teramat menjengkelkan, persis seperti sang master dari Georg's Dagger di masa lalu?
Jaxen menatap lurus ke depan, mengabaikan segala sumpah serapah yang dimuntahkan oleh sosok kerdil bernama Venom tersebut.
Ksatria keempat yang baru saja muncul tampaknya memiliki spesialisasi dalam pertarungan jarak dekat.
Persenjataan perisai di lengannya mengindikasikan hal tersebut.
"Aku yang akan mengunci pergerakannya dari depan. Manfaatkan kesempatan itu untuk menghantam punggungnya dari belakang! Venom, jangan pernah melepaskan racun gas ke udara bebas. Gunakan bilah senjatamu secara langsung!"
"Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan bahkan tanpa perlu kau beritahu, dasar cerewet!"
Sosok ksatria yang baru muncul itu secara alami mengambil alih kepemimpinan formasi tempur.
Jaxen masih mempertahankan seulas senyuman tipis di wajahnya.
'Hal semacam ini pun...'
Terasa sangat menyenangkan baginya.
Sang Kapten tidak pernah membicarakan tentang kenikmatan bertarung tanpa alasan.
Apakah ini terjadi semata-mata karena dirinya sedang melindungi orang lain, bukan sekadar membantai manusia demi uang?
Ataukah semata-mata karena perubahan paradigma di dalam lubuk jiwanya?
Terlepas dari apa pun alasannya, pertarungan ini terasa teramat menyenangkan.
Sebuah letupan sukacita dan kenikmatan sejati.
Bahkan jika detik ini adalah akhir dari hayatnya, bahkan jika kekalahan tampak sebagai keniscayaan yang mutlak, ini akan menjadi sebuah kematian yang teramat indah dan menyenangkan baginya.
Seluruh perpaduan emosi itu membuka mulut Jaxen untuk berujar santai.
"Apakah cuma kalian berempat saja yang datang?"
"Bukan, kami berlima."
Sebuah jawaban berat terdengar meluncur dari balik punggung ksatria berperisai tadi.
Sosok pria berambut panjang yang terurai menutupi kedua matanya melangkah keluar.
Postur tubuhnya teramat kekar dengan bongkahan otot-otot padat yang kokoh di sekujur raganya.
Meski tidak sebesar seekor raksasa, tubuhnya sudah lebih dari cukup untuk membuat siapa pun menoleh kagum di mana pun ia melangkah.
Melihat pria itu berdiri bersanding di samping sang manusia beruang Audin pasti akan melahirkan pemandangan yang sangat menarik.
'Pasti akan jauh lebih menyenangkan seandainya salah satu dari orang-orang gila itu berada di sini bersamaku saat ini.'
Ia bahkan tidak berani berharap sang Kapten bakal muncul menolongnya.
Jika salah satu dari sang manusia barbar, pemuda pemalas yang buta arah, atau sang beastkin beruang berada di tempat ini, arah jalannya duel maut ini pasti akan berubah total.
Ia tidak bisa mengharapkan datangnya bantuan dari siapa pun.
Di belakang punggungnya ada Esther yang sedang berjuang.
Gadis penyihir itu telah mewujudkan mukjizat luar biasa yang merombak seluruh bentang alam di wilayah ini.
Seorang diri gadis itu telah menjerumuskan tiga ribu prajurit narapidana ke dalam rawa lumpur dan mengunci kaki-kaki mereka.
Jika seorang ksatria sejati kerap dijuluki sebagai pendekar yang sebanding dengan seribu prajurit, maka gadis itu saat ini sedang menahan tiga ribu prajurit seorang diri.
Selagi gadis itu mencurahkan segenap jiwanya demi operasi tersebut, ia tidak mungkin memohon agar gadis itu datang ke mari demi menghadapi beberapa orang ksatria.
Terlebih lagi sosoknya adalah seorang penyihir.
Meski gadis itu piawai dalam pertarungan magis, spesialisasi yang dimilikinya sepenuhnya berbeda saat harus berhadapan langsung dengan banyak ksatria tempur sekaligus.
'Meski kenyataannya hal itu pun berlaku bagi diriku sendiri.'
Namun apa lagi yang bisa ia perbuat?
Hanya inilah kapasitas kemampuan yang ia miliki.
Ia memutar sepasang belati di genggamannya.
Kedua tangannya masih utuh tanpa cacat dan bilah belatinya tidak mengalami kerusakan sedikit pun.
Ketetapan tekad tempurnya berkobar jauh lebih pekat daripada sebelumnya.
'Aku yang akan melindungi mereka.'
Sorot mata Jaxen tidak menunjukkan secuil pun keraguan.
"Baric dari ordo Mud Knights," sosok ksatria bertubuh kekar itu memperkenalkan dirinya.
Meski tidak selaras dengan postur tubuhnya yang sangar, ia memiliki sepasang mata besar yang memancarkan kesan ramah dan lembut.
Pria itu hanya menggenggam sebilah pisau pendek di tangan kanannya.
Sebagai gantinya, ia mengenakan setelan pelindung zirah yang dipenuhi duri-duri baja runcing di sekujur tubuhnya.
Lengan bawah, tulang kering, hingga pelindung dadanya dipenuhi oleh tonjolan duri-duri tajam yang mematikan.
'Pihak lawan yang satu ini pun adalah seorang spesialis pertarungan jarak dekat.'
Kedua ksatria yang baru saja muncul tampak seperti tipe petarung yang gemar melakoni pertarungan gulat dan cengkeraman jarak dekat.
Kondisi ini sama sekali tidak menguntungkan bagi Jaxen.
Di tengah situasi terjepit seperti saat ini, jauh lebih sulit menghadapi musuh yang menerjang maju dengan ketetapan tekad baja daripada menghadapi musuh yang menjaga jarak dan membuang waktu demi memperhitungkan kalkulasi taktis.
"Trik sihir yang dimainkan oleh penyihir musuh itu teramat luar biasa. Di sepanjang perjalanan kami menuju ke mari, tangan-tangan lumpur mendadak mencuat keluar dari dasar rawa dan mencengkeram pergelangan kaki kami."
Jika dibiarkan berlarut-larut, seluruh divisi korps mereka pasti akan terjerumus ke dalam malapetaka besar.
Pilihan taktis sang komandan tertinggi Mud Knights teramat tegas dan benderang.
Mendobrak segala rintangan yang menghadang di garis depan lalu melenyapkan sumber akar dari seluruh bencana sihir ini.
Itu adalah kesimpulan matang yang ia raih berkat segudang pengalaman bertarung menghadapi barisan penyihir di masa lalu.
Terlebih lagi pria misterius yang berdiri menghadang di depan matanya saat ini sama berbahayanya dengan sang penyihir.
Oleh karena itu, kelima ksatria utama mereka wajib turun tangan bersama-sama demi membantai pria ini di tempat ini.
Karena doktrin ordo Mud Knights sedari dulu selalu memilih metode yang paling menguntungkan demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka, ini adalah keputusan yang paling rasional dan tepat.
Jika lima orang ksatria sejati bergerak menyerbu secara serempak, setidaknya tidak akan ada satu ksatria pun dari pihak mereka yang bakal tewas di tempat ini.
Itulah fondasi pertimbangan dari keputusan Baric.
"Hei, cepat menyingkirlah dengan tenang. Kau tidak harus mati konyol di tempat ini, bukan?" Pustis kembali bersuara.
Ia benar-benar merasa sangat menyayangkan kematian dari sosok lawan sehebat ini.
Bukankah jauh lebih bijak untuk mundur dan bersiap membalas dendam di masa depan daripada membuang nyawa sia-sia hari ini?
Pendekar dengan kapasitas kemampuan tempur setinggi ini teramat langka ditemukan di muka bumi.
Jaxen memberikan jawabannya secara nyata melalui tindakan fisiknya.
Ia menyilangkan sepasang belati di kedua tangannya secara menyerong tepat di depan dadanya lalu mengambil kuda-kuda siaga.
Kedua kakinya merenggang kokoh dan ketegangan otot di sekujur tubuhnya dilepaskan secara rileks.
Jika tubuh seseorang menegang kaku akibat rasa takut, ia pasti akan mati tertebas dalam sekejap mata.
Jaxen memahami betul hukum alam tersebut.
"Lenyapkan bajingan itu!" Baric sang Komandan menitahkan komando eksekusinya.
Instruksi itu adalah hukum mutlak bagi mereka.
Seluruh ksatria South bergerak menerjang serentak!
Sabetan pedang, hantaman tinju berduri, lesatan belati, dan ayunan gada flail meluncur deras menerpa tubuhnya dari segala arah mata angin!
Hanya ada satu celah sempit di antara puluhan kemungkinan yang menjadi jalur keselamatan hidupnya.
Jaxen berulang kali mendobrak probabilitas matematis yang mustahil dipercaya dengan nalar sehat.
Menghitung pertukaran serangan dan tangkisan maut sebagai angka matematis murni, ia telah melampaui delapan kali pertukaran mematikan berturut-turut!
Sebuah mukjizat agung?
Kapasitas ilmu bela diri murni?
Orang awam pasti akan menyebutnya sebagai sebuah keajaiban para dewa.
Dalam hitungan satuan waktu, durasi duel berdarah itu hanya menghabiskan waktu selama lima tarikan napas pendek belaka.
Termasuk Pustis, bahkan sang komandan Baric pun dibuat ternganga takjub menyaksikannya.
Jika ia kalah, ia pasti akan mati binasa.
Itu adalah kebenaran abadi yang tak terbantahkan.
Dan kedua belah kaki pemuda itu masih utuh tanpa luka sedikit pun.
Ia sanggup melarikan diri kapan pun ia menghendakinya.
Dengan kata lain, meski ada jalan terang untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, pemuda ini sama sekali tidak beranjak mundur walau sejengkal pun.
Jika ada tugas yang wajib dituntaskan dan ada orang-orang berharga yang wajib dibentengi, ia hanya tinggal berdiri kokoh dan melindunginya hingga akhir.
Apakah ini wujud sejati dari sosok seorang ksatria pelindung?
Apakah ksatria sejati memang seharusnya bertindak seperti ini?
"Jaxen dari The Madmen Knights... aku akan selalu mengingat namamu untuk selamanya!"
Pustis melontarkan kalimat penghormatannya tepat saat ia akhirnya berhasil mengunci posisi belakang punggung Jaxen.
Jaxen menyeret lengan kirinya yang terkulai mati rasa menggunakan kehendak tekad Will miliknya.
Dengan menumbalkan satu lengannya, ia berhasil melubangi dan meremukkan paha sang ksatria pengguna pedang cambuk ganda, namun pada akhirnya menghadapi lima orang ksatria sekaligus seorang diri terlalu mustahil untuk sanggup ia bendung lebih lama lagi.
Ajal kematian sedang melangkah mendekat.
Sebuah kematian yang ia sambut dengan kesadaran penuh, dan sebuah akhir hayat yang dipenuhi oleh letupan sukacita mendalam.
Sosok sang kekasih melintas di pelupuk matanya, dan ia merasa ingin meninggalkan pesan terakhir bahwa perjalanan hidupnya sedari masa-masa orang gila hingga detik ini terasa teramat menyenangkan baginya.
Sang Kapten pasti akan sangat marah besar kepadanya kelak.
Apakah si pria barbar Rem hanya akan melepaskan tawa terbahak-bahak?
Pria liar itu pasti akan mencabik-cabik seluruh musuh ini dengan seringai buas di wajahnya.
Sang pemuda pemalas Ragna dan sang beastkin beruang Audin pun pasti akan melakukan hal yang serupa.
Jeda waktunya berlangsung jauh lebih singkat daripada kedipan kelopak mata.
Sebuah detik krusial di mana seandainya terlambat sepersekian detik saja, ia pasti sudah mati membujur kaku dan terpaksa berenang menyeberangi sungai hitam pekat di alam baka.
Duaaaaaarrr!
Sambaran petir dahsyat mendadak menghantam permukaan bumi!
Kilatan petir yang menyambar jatuh dari langit yang kering mencongkel dalam permukaan tanah dan membuat gumpalan debu membubung tinggi ke angkasa luas.
Dan kemudian, disertai suara deru angin yang meraung dahsyat tepat di atas kepalanya, sebuah entitas raksasa melesat jatuh menerjang dari langit!
Brak, duar!
Rentetan suara ledakan berdentum susul-menyusul tanpa henti, dan sebuah dinding tebal berwarna hijau tua mendadak terbentang kokoh tepat di depan kedua mata Jaxen.
Kibar kain berderu nyaring!
Sebuah dinding pelindung raksasa yang tercipta dari kibaran sehelai jubah hijau tua yang membentang lebar.
Menembus celah kibaran jubah yang merekah, suara dari sosok pemuda yang menarik kerah baju Jaxen dan menyeretnya keluar dari tepian sungai hitam alam baka terdengar menyapa telinganya.
"Kau belum kehabisan seluruh tenagamu, kan?"
Jaxen meludahkan genangan racun pekat yang sedari tadi ia tahan di dalam rongga mulutnya ke tanah.
Itu adalah hasil dari proses menghimpun dan memusatkan sisa-sisa racun mematikan yang menyusup ke dalam aliran darahnya setelah sempat tertusuk oleh jarum sang kurcaci tadi.
Ia tidak tahu mukjizat apa yang bakal terjadi, namun karena dirinya sedari awal memang tidak pernah benar-benar menyerah pada takdir, ia mengumpulkan hawa beracun yang merayap di tubuhnya ke dalam mulutnya.
Demi meludahkannya keluar, ia membutuhkan jeda waktu sejenak untuk menarik napas.
Dan semata-mata karena sebuah celah penyelamatan telah tercipta di depan matanya barulah ia sanggup memuntahkan racun terkutuk tersebut ke tanah.
"Perjalananku masih sangat panjang."
Jaxen yang telah meludahkan seluruh racun mematikan itu menyahut dengan seulas senyuman khas di wajahnya.











