Eternally Regressing Knight

Bab 839: Menebas Mantra Sihir

3494 Kata

Bab 839: Menebas Mantra Sihir

"Apa sebenarnya yang sanggup diperbuat oleh seorang ksatria?"

Krais tidak membiarkan pertanyaan filosofis tersebut mengerucut pada satu jawaban tunggal semata.

'Mereka semua dianugerahi oleh keahlian khusus yang saling bertolak belakang.'

Bagaimana jadinya jika dia membebankan misi penyusupan senyap ke pundak Audin?

'Bukankah misinya bakal berubah menjadi aksi serbuan frontal?'

Audin memang sanggup melangkah tanpa suara andai situasi benar-benar menuntutnya, namun postur tubuhnya teramat besar dan mencolok.

Bukan tanpa alasan dirinya dijuluki sebagai manusia beruang (Bear-Beastkin).

'Lantas bagaimana jika dia mempercayakan misi pelacakan jejak musuh kepada Ragna?'

Urusan mengeksekusi target buruan mungkin bukan perkara sulit baginya, namun apakah pria pirang itu sanggup menemukan jalan pulang kembali ke pangkalan adalah sebuah misteri besar.

Fel teramat terspesialisasi dalam duel satu lawan satu, sedangkan Ropord bertarung dengan sangat piawai kala memimpin satu divisi pasukan.

Tentu saja mereka tetap sanggup bertahan andai peran mereka ditukar secara mendadak.

Sebab begitulah hakikat sejati dari barisan ksatria elit.

'Apakah perbedaan keahlian teknis menjadi satu-satunya pertimbangan? Tentu tidak, watak kepribadian mereka pun turut menjadi faktor krusial.'

Sebagai contoh, bagaimana jadinya jika dia memerintahkan Encrid untuk membantai seribu prajurit musuh dalam semalam?

Pria itu dipastikan bakal menolak mentah-mentah perintah tersebut.

Mampu mengeksekusi sebuah pembantaian dan memiliki kehendak moral untuk melakukannya adalah dua dimensi perkara yang teramat berbeda.

'Dia pasti bakal memburu rute alternatif yang menelan sesedikit mungkin korban jiwa.'

Bukan berarti pemuda itu bakal melarikan diri dari medan laga, tidak pula dirinya bakal menutup mata dari kengerian prahara perang.

Jalan terjal yang telah dilalui oleh Encrid selama ini terlalu keras untuk membuatnya bersikap naif.

Dia paham betul seberapa mematikannya tebasan mata pedang realitas di dunia nyata.

Dan mata pedang itu sanggup menyayat daging, merobek serat otot, serta mencabik-cabik isi perut dari sudut-sudut yang tak pernah terduga.

Dia bakal menebas jika situasi menuntutnya untuk menebas.

Dia bakal bertarung hidup-mati andai pertempuran itu memang memiliki alasan pembenaran yang sah.

Sosok Encrid dipastikan bakal bertindak demikian.

Baik keahlian teknis maupun watak kepribadian wajib diperhitungkan secara matang.

Dan itulah yang tengah dieksekusi oleh Krais.

'Lantas bagaimana jika kita membatasi misinya murni pada urusan mencabut nyawa, bukan pertarungan adu fisik, tak peduli apakah lawannya adalah seorang penyihir agung ataupun bukan?'

Jaxon mungkin tidak bisa menjamin kemenangan mutlak dalam sebuah duel frontal melawan siapa pun.

Namun jika dirinya diperintahkan untuk mencabut nyawa sasaran, ceritanya bakal berganti total.

Pria itu tidak pernah memamerkan kapasitas keahlian aslinya di depan umum.

Itu adalah sebuah tabiat alami yang telah terpatri mendarah daging sejak masa kanak-kanaknya kala dirinya hidup sebagai seorang pembunuh bayaran (assassin).

Apa yang bakal terjadi kala pria bernama Jaxon telah mengunci niatnya pada satu sosok target buruan?

Tak ada seorang pun yang bakal menjawabnya secara jujur, namun tak ada satu pun musuh yang berani meremehkan ancaman mautnya.

"Informasi. Aku membutuhkan seluruh data intelijen yang kau miliki perihal lawan kita."

Krais telah meminta sebuah peran khusus kepada Jaxon, dan pria pembunuh itu melontarkan tuntutan informasinya seolah hal itu adalah sebuah kewajaran mutlak.

"Aku tidak tahu banyak. Dan justru karena aku tidak tahu banyak, kaulah yang wajib mengeksekusinya, Jaxon."

Namun Krais hanya mengantongi secuil serpihan data dari apa yang seharusnya wajib mereka ketahui.

"Hal yang kupahami adalah fakta ini. Di antara barisan anggota yang bernaung di bawah organisasi terkutuk itu, tak ada satu pun dari mereka yang belum pernah menggelar eksperimen keji terhadap tubuh manusia. Ada suatu masa di mana tren gila semacam itu sempat meledak populer di antara mereka."

"Sebuah tren gila?"

"Itu adalah eksperimen menanamkan bintang sihir ke dalam tubuh manusia."

Itu adalah sebuah kenyataan kelam yang sanggup memicu rasa mual murni hanya dengan mendengarnya sepintas lalu.

"Mereka mencangkokkan sebuah artefak yang telah menghimpun kehendak Will atau formula sihir ke dalam anatomi tubuh manusia. Haruskah kujelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana? Mereka mencoba menyulap raga manusia fana menjadi wadah objek mantra sihir (spell object), memanfaatkannya murni sebagai sebuah perkakas eksperimen."

Alasan di baliknya?

Esther memahami motif keji tersebut dengan sangat baik.

Krais menyampaikan kembali penuturan sang penyihir.

"Prinsipnya sama persis seperti memasak makanan di dapur. Memanfaatkan raga manusia sebagai bejana alat masak."

Itu adalah kekejian mutlak yang mereka lancarkan tanpa pandang bulu, menumbalkan orang dewasa, para lansia, hingga anak-anak kecil tak berdosa.

Apakah hanya sebatas itu kejahatan yang mereka perbuat?

Astrail, sebuah kelompok yang menyandang nama megah nan puitis ini, sama sekali tidak pernah memandang makhluk cerdas lainnya sebagai sesama manusia.

Dalam satu sudut pandang, mereka berkali-kali lipat lebih kejam dan biadab dibanding bangsa iblis.

Apakah murni karena mereka terlahir sebagai manusia sehingga mereka sanggup bertindak jauh lebih kejam kepada kaumnya sendiri?

Apakah karena manusia adalah spesies yang paling terspesialisasi dalam seni adaptasi?

"Di sepanjang lembaran hidup ini, terkadang hal-hal yang berada di luar batas akal sehat selalu menampakkan batang hidungnya tanpa tahu malu."

Jaxon, setelah menyimak tuntas penjelasan Krais, menganggukkan kepalanya pelan.

Sebuah anggukan tanda persetujuan.

Kala berhadapan langsung dengan anomali-anomali yang melompati batas pemahaman moral, Jaxon selalu menyelesaikannya menggunakan metode yang teramat konsisten.

Dan Krais mendambakan untuk menyaksikan metode konsisten miliknya sekali lagi hari ini.

"Rupanya kalian telah mengetahui kedatangan kami. Ini jelas bukan sihir pelacak aura biasa. Bagaimana caramu mendeteksi pergerakan kami?"

Jubah putih mewah bersulam benang emas milik sang tetua penyihir berkilau terang.

Kandungan sihir yang dipintal di dalam rajutan benang emas itu adalah wujud persiapan matang sang penyihir.

Bukanlah perkara sulit baginya untuk membantai beberapa ksatria berbaju zirah murni hanya mengandalkan formula mantra yang tertanam di dalam jubahnya.

Setidaknya, itulah keyakinan mutlak yang bersemayam di dalam kepalanya.

Dia belum pernah mengujinya secara langsung di medan perang nyata.

Dia murni menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan alami karena dirinya memahami rumus prinsip kerjanya.

Oleh karena itu, dirinya merasa bahwa persoalan yang paling memusingkan kepala saat ini hanyalah bagaimana cara membantai seluruh ampas prajurit di hadapannya, sembari tetap membiarkan sang Anak Bintang (Child of the Stars) tetap bernapas hidup.

Dengan kata lain, menjaga sang Anak Bintang tetap hidup di tengah kecamuk perang adalah gangguan yang paling merepotkan baginya.

Tatapan mata mereka saling bertaut di udara.

Esther, sang pemilik sepasang mata biru dingin, membuka suaranya datar.

"Itu murni sihir pendeteksi aura."

"Kau sanggup memperluas jangkauan deteksi sihirmu melompati seisi benteng kota hingga sejauh ini?!"

Fenomena itu jelas berada jauh di luar batas akal sehatnya.

Sang tetua penyihir mengernyitkan dahinya heran.

Pada detik yang sama, kilatan cahaya mendadak meledak memancar dari balik jubahnya.

Itu murni karena murid sekaligus bawahannya yang sedari tadi berdiri mengiringi tepat di belakang punggungnya mendadak melesat menerjang ke depan.

Pandangan mata sang tetua penyihir seketika menoleh ke belakang.

Di depan matanya, dia menyaksikan sebilah belati tajam mencuat keluar dari balik lipatan jubah abu-abu sang murid.

'Berani-beraninya kau melancarkan serangan picik!'

Cahaya putih menyilaukan seketika meledak dari jubah sang tetua, dan formula mantra proteksi otomatis aktif seketika.

Mantra pertahanan magis ini dibekali oleh tiga efek perlindungan mutlak.

Efek pertamanya adalah daya gravitasi di dalam radius tiga jengkal di sekeliling tubuhnya bakal berlipat ganda secara ekstrem.

Efek keduanya adalah mantra pembalas pantulan (reflection spell), di mana andai dirinya ditusuk oleh sebilah pedang, sebilah pedang cahaya bakal tercipta otomatis dan membalas menusuk ke arah sang penyerang.

Bahkan andai yang menyerangnya adalah sebatang anak panah, serangan itu bakal dipantulkan kembali dalam wujud proyektil panah serupa.

Dan efek ketiganya adalah sebuah mantra sakral bernama Pemulihan Cahaya (Light's Restoration), yang sanggup menyelamatkan nyawa sang perapal dari luka apa pun selama luka tersebut tidak bersifat fatal mematikan.

Itu adalah dimensi formula sihir yang dirancang meniru kedahsyatan kekuatan suci para dewa.

Dia meyakini sepenuh hati bahwa mantra proteksi ini sanggup menyelamatkan nyawanya setidaknya sebanyak tiga kali berturut-turut.

Dan sebilah belati sepanjang dua jengkal menyayat tuntas pembuluh arteri karotis serta ruas tulang leher bagian belakangnya.

Sreeet!

Meskipun bilah belati itu membelah ruas tulang leher yang keras, nyaris tidak terdengar adanya suara gesekan yang tercipta.

Bilah belati yang memenggal ruas tulang lehernya itu tidak meluncur dengan kecepatan supersonik, tidak pula merobek gendang telinga.

Tepat saat lehernya terpotong, semburan darah segar memancar deras, dan kepalanya yang terpenggal separuh seketika terkulai miring ke samping.

Tak ada seorang pun di dunia ini yang bakal melabeli leher yang terputus sebagai 'luka yang tidak fatal'.

Ini adalah sebuah kematian mutlak.

Sebuah momentum kebinasaan yang instan.

Pria tua sombong itu baru saja merengkuh ciuman maut sang Malaikat Maut hanya dalam satu kali sabetan belati tunggal.

Jaxon, entah sejak kapan, telah menyamar menyusup menjadi salah satu pengikut berjubah abu-abu, dan hanya dengan satu tebasan bersih, dia telah memenggal leher sang penyihir agung milik organisasi Astrail.

Permintaan yang dilontarkan oleh Krais tempo hari adalah memenggal leher salah satu penyihir kunci tepat pada detik pertama mereka saling berhadapan muka.

Mengeksekusi tebasan pembuka dengan memanfaatkan kelengahan musuh adalah peran mutlak milik seorang Jaxon.

Lapisan kulit leher yang tersisa menahan beban itu teramat tipis.

Kepala yang telah terpenggal itu terasa sangat berat.

Sisa kulit leher yang menahan akhirnya putus terkoyak, dan kepala sang tetua penyihir menggelinding jatuh ke atas tanah.

Tubuh tanpa kepala yang sempat menyemburkan air mancur darah selama beberapa detik turut miring lalu ambruk berdebam ke tanah.

Zzztt-zzztt-zzztt!

Pendaran cahaya magis dari jubah sang penyihir yang tewas sempat berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total.

Sebuah formula sihir murni hanya bisa eksis selama sang perapalnya masih bernapas.

Dan dimensi formula sihir milik pria tua itu baru saja menemui ajalnya secara permanen.

Beberapa pengikut berjubah abu-abu yang tersisa hanya sanggup mengerjapkan mata mereka, tak sanggup mempercayai kenyataan mengerikan yang baru saja tersaji di depan mata.

Sebuah tragedi yang tak pernah terlintas di dalam benak imajinasi terliar mereka baru saja terjadi.

Apa yang sebenarnya tengah terjadi detik ini?

Secara mendadak, sang guru agung mereka telah meregang nyawa menjadi mayat.

Dunia realitas mereka seketika hancur berkeping-keping.

"Mereka semua sama saja," ujar Esther dingin sembari mengibaskan telapak tangannya.

Mengikuti gestur ayunan tangannya, bilah-bilah sabit badai salju seketika tercipta di udara.

Itu adalah mantra penciptaan magis yang menyuntikkan kedahsyatan kekuatan tanah beku ke dalam sabit D'Mulle miliknya.

"Tundra Gale (Badai Tundra)."

Merespons panggilannya, aliran mana mengalir deras dan menyatu dengan dimensi formula sihir.

Misteri magis yang terkandung di dalam mantra es itu seketika menebas leher seluruh pengikut berjubah abu-abu yang tersisa.

Beberapa di antara mereka sempat mengangkat tongkat sihir demi melancarkan perlawanan darurat, namun seluruh upaya itu berakhir sia-sia.

Sebuah perisai cahaya yang memancarkan energi panas sempat tercipta, namun perisai rapuh itu mustahil sanggup membendung ketajaman bilah es dari tanah beku abadi.

Sras-sras-sras!

Rentetan suara tebasan serupa menggema bertubi-tubi di udara, dan seluruh pengikut yang tersisa serentak ambruk bergelimpangan dengan leher atau kepala mereka yang terpenggal rapi.

"Yah, tampaknya kita bahkan tidak sempat bertukar percakapan yang layak dengan mereka," gumam Encrid santai, dan Rem menyambar ucapannya dengan seringai lebar.

"Kita bisa melanjutkan percakapan itu dengan rombongan keparat yang baru saja tiba."

Astrail adalah sebuah organisasi perkumpulan.

Mereka bukanlah entitas penyendiri yang bergerak secara individual.

Namun memang benar adanya bahwa sebagai sebuah organisasi, mereka adalah perkumpulan longgar yang tidak memiliki ikatan disiplin yang ketat.

Esther telah menduga bahwa pasti bakal ada fraksi yang bergerak lebih awal mendahului rombongan utama murni didorong oleh ketamakan pribadi.

Sebuah kelengahan musuh?

Faktanya, jika kau membedahnya secara objektif, ini bahkan tidak bisa dilabeli sebagai sebuah kelengahan musuh semata.

Kenyataannya murni karena keahlian membunuh milik Jaxon yang berada di tingkatan yang teramat luar biasa.

Jaxon mengibaskan sisa darah di bilah pedangnya lalu melangkah santai berdiri tegak di samping bahu Encrid.

Kapasitas ilmu yang baru saja dia pamerkan benar-benar sangat mencengangkan.

Melihat mantra proteksi sang lawan aktif secara otomatis, dia seketika menyesuaikan kecepatan ayunan belatinya, berkelit menghindari tebasan pedang cahaya pembalas yang membidik dirinya, lalu membaca jeda celah aktivasi sihir di mana efek pantulan tidak akan terulang kembali, sebelum akhirnya menusuk masuk dan memenggal leher sang lawan secara bersih.

Di permukaan, aksinya tampak layaknya satu tebasan tunggal biasa, namun jika kau mencermatinya secara mendalam, itu adalah kombinasi dari tiga rentetan manuver serangan yang terkoordinasi sempurna.

Tentu saja hanya sosok Encrid, Rem, dan sang Dragonkin yang sanggup membaca kedalaman teknik maut tersebut.

'Dia mengidentifikasi karakteristik formula sihir lawan menggunakan telapak tangan kirinya.'

Bilah belati terhunus di tangan kanannya.

Jaxon telah mengayunkan tangan kirinya terlebih dahulu demi membedah efek apa saja yang tertanam di dalam dinding pembatas sihir sang lawan.

Lalu, dia menyesuaikan kecepatan refleks tubuhnya tepat saat dirinya melancarkan tebasan belati mematikan.

Itu terdengar sangat sederhana jika kau hanya menyimak teorinya, namun hasil akhir yang tercipta teramat sangat mengerikan.

Tentu saja kengerian itu murni dirasakan dari perspektif sang lawan.

Jaxon, bahkan tanpa secuil pun helaan napas terengah-engah, berdiri santai di samping Encrid dengan sepasang lengan yang tergantung lemas.

Genangan darah milik sang penyihir yang tewas membasahi tanah menjadi merah pekat.

Di belakang mereka, sesosok penyihir kedua mulai melangkah mendekat.

Pria itu melayang terbang di atas sebuah lempengan nampan hitam bundar, melayang sekitar dua jengkal di atas permukaan tanah.

Sosoknya terpampang tepat di depan garis pandang mata Encrid.

Dan dari arah kanan, sesosok penyihir baru kembali menampakkan diri.

Sosok kali ini adalah seorang wanita.

Wanita itu mengenakan topi bertepi lebar, dengan ular-ular berbisa ramping melingkar rapat di kedua lengan bawahnya.

Dan kembali dari arah kiri, sesosok penyihir lainnya mencuat keluar dari balik bukit.

Perawakannya teramat kerdil, bahkan tidak mencapai separuh dari tinggi badan Encrid, serta sekujur tubuhnya terbungkus rapat oleh setelan baju zirah pelat yang memancarkan pendaran warna perak.

Ketiga penyihir baru ini adalah sosok kenalan lama milik Esther.

"Tampaknya seluruh pria yang pernah kutolak di masa lalu kini telah berkumpul di tempat ini," Esther melontarkan lelucon isengnya. Tentu saja celetukan itu sengaja dia tujukan agar didengar oleh Encrid.

"Di sana ada seorang wanita juga," timpal Encrid mengoreksi ucapannya.

"Tampaknya seluruh manusia yang pernah kutolak kini telah berkumpul bersama. Sang Penyihir Iblis yang Memikat Jiwa (The Demonic Witch of Charm), itulah diriku."

"...Bukankah kalimat narsis semacam itu adalah hal yang biasa dilontarkan oleh sosok seperti Rem atau Shinar?" tanya Encrid heran.

Jelas sekali karakter aslinya sama sekali tidak mencerminkan kedua sosok tersebut.

"Kenapa kau selalu menyeret-nyeret namaku ke dalam masalahmu?! Kau mau mencari gara-gara denganku, hah?!" semprot Rem sembari mencabut tali ketapelnya dan membiarkannya menjuntai santai.

Esther melontarkan celotehan itu murni berakar dari perpaduan rasa bersalah dan rasa terima kasih yang mendalam kepada rekan-rekannya.

Dia mungkin dikenal sebagai seorang penyihir berdarah dingin, namun dirinya tetaplah seorang manusia fana.

Semua orang bisa melakukan kekhilafan lidah.

Tepat pada detik kalimat itu meluncur dari bibirnya, gadis itu seketika berharap dirinya sanggup memutar kembali waktu.

Di mata Encrid, Esther sama sekali tidak memiliki alasan untuk merasa bersalah.

Menilik dari seluruh informasi yang telah dia dengar, seluruh bajingan yang bernaung di bawah organisasi Astrail ini memang sudah sepantasnya untuk dibantai mati.

Kelompok Para Pengejar Bintang.

Sebagian dari perapal mantra yang menjadi dalang utama di balik tragedi pemanggilan iblis di Menara Kebijaksanaan (Tower of Wisdom) di masa lampau turut bernaung di dalam kelompok terkutuk ini.

Mereka adalah barisan manusia biadab yang rela membumihanguskan seisi benua demi memuluskan sebuah eksperimen sihir.

Mereka adalah entitas gila yang rela menyulut kobaran perang saudara demi memuaskan ambisi pribadi mereka.

Encrid membuka suaranya dan berbicara lurus dari ketulusan palung hatinya.

"Kau sengaja berbicara demikian demi menegaskan bahwa dirimu memiliki banyak pelamar di masa lalu, kan? Jika kau merasa iri pada gelar 'iblis' yang kusandang, aku ingin menegaskan padamu bahwa itu sama sekali bukan julukan yang menyenangkan untuk didengar."

Rona merah padam seketika menjalar menyelimuti paras wajah sang penyihir wanita yang biasanya selalu menjadikan ketenangan dingin sebagai senjatanya.

"Sang Penyihir Iblis yang Memikat Jiwa, itulah diriku!" ejek Rem menirukan intonasi suara Esther sembari terbahak.

"Sang Penyihir Iblis yang Memikat Jiwa. Apa aku perlu menggerakkan serikat informasi bawah tanah untuk menyebarkan rumor ini ke seantero benua?" Jaxon turut menawarkan bantuannya dengan seringai tipis.

"Sang penyihir wanita itu saat ini tengah diliputi oleh rasa malu yang teramat sangat mendalam di dalam jiwanya," Themares membaca gejolak batin Esther tanpa saringan.

Barisan ksatria gila ini rupanya hanya sanggup kompak secara sempurna pada momentum-momentum menjahili orang semacam ini.

Ksatria yang mengejeknya dengan ocehan cerewet, ksatria yang menirukan ucapannya sembari menyeringai sinis, ksatria yang berpura-pura menunjukkan kebaikan dengan menawarkan penyebaran rumor, serta sang Dragonkin yang dengan teramat polos membedah rasa malunya di depan umum.

Esther dengan kedua pipinya yang merona merah menatap dingin ke arah tiga penyihir yang tengah melangkah mendekat lalu berujar lantang, "Aku berdiri di sini."

Pernyataan itu menegaskan bahwa sosok sang penyihir buronan yang sedari dulu mereka dambakan kini telah berdiri tegak di depan mata mereka.

Gadis itu berusaha keras melangkahi momen memalukan tadi, namun bukankah mereka dijuluki sebagai ksatria gila bukan tanpa alasan?

"Sang Penyihir Iblis yang Memikat Jiwa, wanita itulah sosoknya!"

"Tepat di sebelah sana."

"Itu memang bukan julukan yang menyenangkan, namun jika kau memang menginginkannya, kurasa sangat tepat bagiku untuk memanggilmu dengan gelar itu mulai sekarang."

"Memalukan. Sangat memalukan. Tampaknya kau tengah mengulang-ulang kalimat itu tanpa henti di dalam kepalamu."

Secara berurutan, itu adalah celotehan dari Rem, Jaxon, Encrid, dan sang Dragonkin.

'Ah, apa sebaiknya kubantai saja seluruh bajingan ini bersamaan?'

Esther saat ini tengah benar-benar menimbang-nimbang apakah dirinya perlu memasukkan barisan rekannya sendiri ke dalam radius area mantra sihirnya.

Sama sekali tak ada secuil pun atmosfer krisis yang terasa.

Jika ada yang bertanya apa alasan di balik ketiadaan rasa takut tersebut...

"Jika ada di antara kalian bertiga yang melangkah ke tempat ini demi menegakkan kebajikan dan menyelamatkan nyawa orang banyak, silakan angkat suara kalian sekarang juga."

Itu dipastikan berakar murni dari keberadaan sosok pemuda yang satu ini.

Encrid membuka suaranya sembari menatap lurus ke dalam manik mata dari masing-masing ketiga penyihir tersebut.

Hanya Esther yang memahami kebenaran fakta tersebut secara utuh.

Encrid adalah sosok ksatria yang sanggup menebas mantra sihir (Spell Slaying).

Formula sihir biasa mustahil bakal sanggup melukai raganya.

Jaxon menarik langkah mundur beberapa jengkal ke belakang.

Dari atas tanah tempat dirinya berdiri sesaat lalu, gumpalan tanah seketika berhamburan, dan empat ekor ular beludak berbisa seukuran jari tangan mendadak mencuatkan kepala mereka ke udara.

"Dia sanggup berkelit menghindarinya?" gumam sang penyihir wanita di sisi kanan sembari menyunggingkan senyuman dingin.

Gadis itu telah menguasai seni mengendalikan kawanan ular dan merajut dimensi formula sihirnya berlandaskan ilmu tersebut.

Terlebih lagi, dirinya bahkan telah mencangkokkan darah monster Medusa dari Demon Realm ke dalam aliran darah tubuhnya sendiri.

Pancaran kegilaan pekat terpancar nyata di balik senyumannya.

"Apa kau menaruh kepedulian mendalam pada keselamatan nyawa orang-orang barbar ini? Jika memang demikian, aku bersedia mengampuni nyawa mereka, asalkan kau sudi melangkah ikut bersamaku," tawar sang penyihir pria yang berdiri di atas piringan nampan melayang.

Keahlian khususnya adalah memanipulasi serbuk bijih besi hitam.

Dia memadatkan serbuk besi hitam lalu mengombinasikannya dengan formula sihir tingkat tinggi.

Dia jelas bukan lawan yang mudah untuk ditaklukkan.

Dan yang terakhir, kapasitas bakat milik sang penyihir kerdil berzirah perak yang terlahir membawa kutukan langit pun teramat luar biasa.

Encrid melesat menerjang ke depan dengan kecepatan penuh.

Esther mengibaskan jemarinya ke sisi kanan, sementara Rem memuntir tubuhnya menyamping.

Seluruh pergerakan taktis itu meletup secara simultan.

Bagaimana mungkin sepasang mata milik seorang penyihir sanggup mengimbangi pergerakan fisik berkecepatan tinggi milik seorang ksatria?

Justru karena mereka sadar tak sanggup mengimbanginya, mereka telah merancang persiapan tempur yang teramat matang.

Namun persiapan matang tersebut masih tergolong sedikit kurang memadai.

Bukan, lebih tepatnya mereka telah meremehkan kedahsyatan The Order of the Madmen Knights dari benteng perbatasan Border Guard.

Sebuah dinding pembatas dari lempengan besi hitam seketika tercipta di hadapan Encrid lalu meliuk mengepung tubuhnya.

"Terlelaplah kau di dalam peti mati besi hitam (black coffin)!" teriak sang penyihir lantang.

Seorang penyihir yang telah mencapai tingkatan perapalan tanpa suara (silent cast), kini terpaksa meneriakkan nama mantranya murni demi mempercepat aliran mana.

Fakta itu membuktikan betapa serbuan Encrid telah memberikan beban tekanan mental dan keterkejutan yang teramat luar biasa pada dirinya.

Kondisinya tetap demikian terlepas dari seluruh persiapan yang telah dia rancang sebelumnya.

Encrid yang menyaksikan dinding besi hitam tengah meliuk hendak menelan raganya mendadak melipatgandakan akselerasi larinya sekali lagi.

Dan berkat manuver akselerasi ganda tersebut, formula sihir sang lawan seketika tertinggal jauh di belakang punggungnya.

Sepasang mata sang Dragonkin seketika memancarkan letupan ketertarikan yang mendalam.

'Sebuah manuver yang belum pernah dia pamerkan sebelumnya.'

Sebuah teknik pergerakan yang belum pernah dia saksikan di dalam seluruh sesi sparring mereka selama ini baru saja tersaji di depan matanya.

Alih-alih tertarik pada teknik itu sendiri, ketertarikannya meletup murni karena dirinya sanggup membaca niat murni yang bersemayam di dalam jiwa sang manusia berkehendak benderang tersebut.

Sang Dragonkin yang sedari tadi berdiri mengamati menghentakkan telapak kakinya ke tanah.

BLAAR!

Hanya dengan satu hentakan tunggal, seluruh kawanan ular berbisa yang tengah melata mengincar kaki mereka dari bawah tanah seketika mati hancur luluh lantak.

Itu adalah teknik memanipulasi dan memancarkan gelombang Will murni ke dalam tanah.

Sudah lebih dari setengah bulan berlalu sejak dirinya terbangun dari tidur panjangnya.

Sang Dragonkin secara perlahan mulai membangkitkan kembali serangkaian keahlian tempur dan kekuatan dahsyat yang sempat dia lupakan di masa lalu.

Encrid yang telah berhasil meloloskan diri dari kurungan mantra sihir berkat akselerasi gandanya seketika mengayunkan pedangnya membelah formula mantra musuh.

Formula sihir yang telah dipersiapkan—segumpal massa hitam pekat yang meluncur deras secara beruntun—terkoyak terbelah layaknya gumpalan benang wol yang kusut.

Mantra hitam yang seharusnya meledak dahsyat dan menyebarkan serbuk racun mematikan ke saluran pernapasan itu seketika gagal terpicu dan buyar hancur di udara.

Menebas mantra sihir (Spell Slaying).

Itu adalah sebuah pemandangan memukau yang sangat merepresentasikan makna di balik gelar tersebut.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.