Bab 838: Astrail
Sepuluh hari telah berlalu sejak pertempuran sengit melawan sang Salamander purba usai dan sang Dragonkin Themares menyatu secara alami ke dalam keseharian kelompok mereka.
Apakah karena bangsa Dragonkin dianugerahi daya adaptasi lingkungan yang teramat tinggi?
Dia menjalani hari-harinya di antara barisan ksatria dengan pembawaan santai yang mengejutkan.
Dia tidak rewel dalam urusan makanan, tidak pula pemilih dalam perkara tempat tidur.
Dia menyantap porsi makanan sebanyak yang disantap oleh para ksatria, serta tidur dengan durasi yang sama persis seperti mereka.
Bukan, lebih tepatnya dia tidur selama Encrid tidur, dan makan tepat di saat Encrid bersantap.
Dia hampir tidak pernah beranjak dari sisi Encrid, dan kehadiran sosoknya terasa teramat alami.
"Apa sang Dragonkin tengah berusaha merebut posisiku?"
Situasinya bahkan telah mencapai titik di mana Shinar kerap melontarkan lelucon bernada cemburu semacam itu, namun tak ada seorang pun yang menanggapinya dengan serius.
Jika meminjam istilah yang biasa dilontarkan oleh Rem:
"Dia bakal mencari jalannya sendiri. Memangnya apa urusanku?"
Pria barbar itu dipastikan bakal menyahut demikian.
Dengan kata lain, semua orang telah kembali menjalani rutinitas harian mereka yang damai.
Satu-satunya perbedaan kecil adalah mereka tidak lagi memforsir ketahanan fisik mereka secara berlebihan, baik dalam sesi sparring maupun latihan rutin.
Waktu menunjukkan tengah hari, dengan terik matahari yang bersinar menyengat.
Mungkin sebagai dampak dari sisa-sisa keberadaan sang Salamander tempo hari, temperatur udara di sekitar benteng masih terasa sepanas sebelumnya untuk beberapa saat.
Hujan sempat turun beberapa kali, dan kelembapan udara yang tinggi meningkatkan tingkat kegerahan di atmosfer.
Tentu saja, tingkat kelembapan semacam itu adalah kondisi yang sangat memuaskan bagi sosok seperti Luagarne.
Sang katak cerdas pun sempat menaruh secuil rasa penasaran pada sosok sang Dragonkin, namun dirinya tidak sampai membuat kehebohan yang berlebihan.
Persis seperti biasanya, fokus perhatian sang katak tetap terkunci sepenuhnya pada sosok Encrid.
Arah rasa ingin tahunya sama sekali tidak pernah bergeser.
Itu adalah momen di mana sang katak pun tengah melangkah pergi sejenak demi menenggelamkan dirinya ke dalam sesi latihannya sendiri.
Pada hari kesepuluh, di tengah sesi sparring yang terus diulang tanpa henti, Encrid menebas leher Themares.
Percikan darah segar menyembur di titik lintasan yang baru saja dilalui oleh Dawnforged.
Themares yang lehernya telah terpenggal separuh menusukkan pedang panjang miliknya lurus menembus jantung Encrid.
Bahkan dengan leher yang nyaris terputus, kecepatan dan daya hantam dari tusukan bilah pedangnya sama sekali tidak berkurang sedikit pun.
Jleb! Bilah pedang putih bersih itu menghunjam menembus lapisan Will yang dilindungi oleh teknik pengerasan baja (ironclad), merobek serat otot dada, lalu membelah organ jantungnya.
Normalnya, satu sisi tubuh bakal terlindungi oleh Dragon Scale (Sisik Naga) dan sisi lainnya dibentengi oleh zirah kulit Beelrog, namun kenyataannya tidak ada lapisan pelindung yang aktif.
Itu murni karena keduanya tengah beradu kelihaian teknik secara murni, tanpa melibatkan sisik ataupun baju zirah.
Sebuah kemenangan ataukah kekalahan?
Hal itu mustahil bisa ditentukan.
Lagipula, mereka melangsungkan duel ini murni demi memuaskan kenikmatan bertarung.
Tentu saja tebasan leher dan tusukan jantung tadi hanyalah pertarungan virtual di dalam benak imajinasi mereka.
Semua luka fatal itu hanyalah simulasi semu.
Andai adegan tadi terjadi di dunia nyata, keduanya dipastikan bakal meregang nyawa seketika.
Hanya karena dirimu menyandang gelar ksatria bukan berarti kau sanggup bertahan hidup dengan jantung yang tertusuk tembus, dan hanya karena dirimu seekor Dragonkin bukan berarti kau bisa bernapas dengan leher yang terpenggal.
Mereka bertarung di dalam alam pikiran mereka, berulang kali menyingkap dan menyamarkan niat serangan melalui kedutan jemari tangan dan pijakan kaki, lirikan tatapan mata, serta pergeseran sudut gagang pedang yang bahkan tak lebih dari sekadar getaran halus.
Sebuah sesi sparring virtual (virtual spar).
Demi melangsungkan duel dengan tingkat presisi yang lebih mendalam, mereka sesekali memadukannya dengan ayunan tangan dan langkah kaki di udara, memamerkan pergeseran titik berat tubuh yang cukup jelas untuk dibaca oleh sang lawan.
Butiran keringat dingin mengalir menetes di sepanjang punggung Encrid.
Pada awalnya pria itu masih tergolong lawan yang bisa dikendalikan, namun kini dirinya tak lagi bisa dicap sebagai musuh yang mudah untuk dihadapi.
Bisakah diriku meraih kemenangan andai kami bertarung hidup-mati di medan nyata?
Sanggupkah diriku membantainya?
Dia harus menjajalnya sendiri demi menemukan jawabannya.
Hanya dalam kurun waktu setengah bulan singkat, sang Dragonkin telah berhasil memangkas jurang pemisah di antara kemampuan mereka.
Dan Encrid pun telah menyerap segudang pemahaman berharga yang setara.
"Sangat aneh rasanya," gumam Themares sembari mengerjapkan matanya.
Pancaran rasa kagum yang bersemayam di dalam sepasang mata bercelah pupil vertikal miliknya—yang dikenal sebagai Dragon Eye (Mata Naga)—masih berpendar jelas di sana.
"Aku pun tengah memikirkan hal yang sama. Kau ini benar-benar sangat unik. Apakah wawasan intuisimu memang sedahsyat itu? Ciri khas rasialmu? Pada teknik pamungkas tadi, kau menyelimuti sekujur tubuhmu dengan kehendak Will lalu melancarkan tusukan layaknya refleks otomatis tanpa ancang-ancang, kan?"
Apakah ketajaman wawasan milik sang Dragonkin teramat mengagumkan?
Tentu saja.
Dan sosok Encrid pun sama mengagumkannya.
Pemuda itu sanggup menyaksikan teknik tempur yang dipamerkan oleh sang Dragonkin di dalam dimensi imajinasinya lalu menangkap esensi intinya dalam sekejap.
Dia melangkah melampaui sikap tidak pelit dalam membagikan ilmu; dia pun sama sekali tidak pernah pelit dalam menyerap pelajaran baru.
Dia selalu mengamati dan menerima segala hal dengan pikiran yang teramat terbuka.
Bukankah karakteristik kepribadian luhur semacam inilah yang mekar subur dan memungkinkannya dinobatkan sebagai seorang ksatria agung?
Ketajaman wawasan intuisinya sejatinya telah sanggup disejajarkan dengan wawasan milik seekor Dragonkin.
Namun meski begitu, anugerah wawasan milik sang Dragonkin tetaplah sebuah keajaiban yang mencengangkan.
Ketika seseorang dinobatkan menjadi seorang ksatria, mereka bakal memperoleh sebuah wawasan batin yang dikenal sebagai sepasang mata yang sanggup melihat satu langkah di depan.
Dan seekor Dragonkin terlahir ke dunia dengan membawa anugerah tersebut sejak detik pertama mereka bernapas.
Itulah sebabnya mengapa kebohongan palsu mustahil mempan di hadapan mereka.
Dengan membaca pancaran kehendak Will, mereka menguasai keahlian yang nyaris setara dengan seni membaca isi pikiran.
Tak perlu dijelaskan lagi betapa mematikannya anugerah tersebut kala diterapkan di medan laga.
'Ilmu pedang ortodoks tidak mempan di hadapannya.'
Itu murni karena sepasang mata Themares sanggup menembus segala bentuk tipu muslihat.
Sebaliknya, ilmu pedang ortodoks yang dirancang oleh Encrid adalah seni tipu daya tingkat tinggi yang dibangun di atas fondasi-fondasi dasar yang teramat kokoh.
'Metode menusuk titik kelemahan lawan berlandaskan aliran pedang yang mengalir.'
Fondasi ilmu pedangnya memang teramat solid, namun dirinya telah merintis gaya bertarungnya sendiri sedari awal.
Wawasan batinnya—sepasang mata tajam bawaan lahirnya—sangat mahir dalam mengidentifikasi celah kelemahan milik lawannya.
Sesi sparring mereka terbagi menjadi separuh adu fisik dan separuh bertukar percakapan.
Sepanjang masa-masa itu, Encrid sempat mendengar alasan mendasar mengapa sang Dragonkin memilih untuk tetap bertahan di benteng ini.
"Intuisiku teramat sangat tajam. Dan intuisi itu membisikkan padaku bahwa jika aku tetap berada di sampingmu, aku bakal dipertemukan kembali dengannya."
Seekor Dragonkin dianugerahi wawasan batin tingkat tinggi.
Sesosok entitas yang sanggup melakukan prakiraan masa depan secara samar.
Mereka menyimpan misteri agung semacam itu.
Bukan tanpa alasan mereka sanggup mengubah jenis kelamin mereka sesuka hati dan berubah wujud menjadi entitas hermafrodit.
"Bertemu dengan siapa maksudmu?" tanya Encrid penasaran.
"Entitas keparat yang telah berani mengacaukan pelaksanaan kewajiban suciku."
Tak ada secuil pun hawa dingin yang terpancar dari nada bicara sang Dragonkin.
Tak tampak pula adanya letupan tekad yang membara di dalamnya.
Itu adalah nada bicara dari seorang akademisi yang tengah merinci serangkaian fakta objektif, berbicara perihal sebuah prinsip yang mutlak wajib ditegakkan.
Lantas haruskah penuturannya dicap sebagai sebuah kengerian yang tersembunyi?
Dia membicarakan sebuah vonis mati seolah hal itu hanyalah perkara biasa, namun jika kau membedah sisi lain di baliknya, hal itu sanggup memicu rasa merinding di sekujur tubuh.
Tentu saja Encrid sama sekali tidak gentar.
Dia adalah pria yang bercita-cita ingin melenyapkan eksistensi seisi Demon Realm dari muka bumi.
Sebuah gencatan senjata bakal mengakhiri perang fana, dan sebuah kiamat abadi berarti kehancuran total bagi Demon Realm.
Itulah hal agung yang dia dambakan di dalam hatinya.
Sosok pria dengan cita-cita segila itu tentu saja sanggup menanggapi tekad sang Dragonkin untuk memburu dan meremukkan sesosok iblis tunggal sebagai hal yang lumrah.
"Intuisimu memang teramat tajam," Encrid menganggukkan kepalanya setuju.
Menimbang barisan antek-antek iblis yang terus memburunya tanpa henti, mereka dipastikan bakal kembali menampakkan batang hidungnya dalam waktu dekat.
Jikalaupun mereka tidak datang, Encrid sendiri yang bakal memburu dan menemukan sarang mereka.
"Kami pantang melupakan sosok yang telah berani mengotori kewajiban suci kami," tambah sang Dragonkin menegaskan.
Bagi kaum Dragonkin, sebuah kewajiban adalah satu-satunya alasan mengapa mereka tetap bernapas.
Memang sangat mengejutkan bahwa dirinya sanggup merasakan ketertarikan dan kenikmatan hidup di dekat seorang manusia fana, namun Themares tetap membutuhkan sebuah kewajiban nyata.
Dia membutuhkan sebuah ruang untuk menemukan jangkar kewajiban baru.
Persis seperti apa yang selalu dia lakukan di sepanjang lembaran hidupnya.
Namun sebelum melangkah ke sana, seekor Dragonkin wajib menuntut bayaran lunas dari sosok yang telah berani mengacaukan kewajiban lamanya.
Hal ini, di atas segalanya, adalah prioritas tertinggi yang tak boleh ditawar.
Di samping alasan sakral tersebut, Themares memilih untuk tetap tinggal di tempat ini murni karena palung hatinya telah tergerak oleh karisma sang pemuda manusia.
Kenyataan itu sendiri tak ubahnya sebuah keajaiban yang mencengangkan, bahkan bagi sang Dragonkin itu sendiri.
Tentu saja tak ada satu pun ksatria di tempat ini yang menganggapnya sebagai hal yang ganjil.
"Memangnya apa yang kau harapkan dari pesona karisma iblis miliknya?"
"Dia adalah sosok pria yang bahkan sanggup memikat hati sang dewi keberuntungan sekalipun."
Jika meminjam istilah yang kerap dilontarkan oleh Rem dan Audin, sosok Encrid memanglah pria dengan karisma semacam itu.
Pada sore harinya, Krais yang berdiri menyimak sesi sparring melontarkan pertanyaan geli, "Kau sebenarnya tidak berniat mengumpulkan seluruh ras di muka bumi ke dalam ordumu, kan?"
Sebuah ordo ksatria yang dipadati oleh seorang half-giant, seekor katak cerdas, seorang gadis beastkin, seekor Dragonkin, seorang putri elf, serta barisan manusia tangguh.
Tentu saja sang Dragonkin saat ini belum terdaftar sebagai anggota resmi dari ordo ksatria, namun di mata Krais, sosoknya tampak meresap masuk ke dalam lingkungan ordo layaknya guyuran air hujan di atas tanah tandus yang kering.
'Alangkah indahnya andai dirinya sudi meresap masuk ke panggung salon kecantikanku juga.'
Yah, jika pria itu menolak, maka dia tak bisa berbuat banyak.
"Bukankah kita sebaiknya mengganti nama ordo ini menjadi Ordo Ksatria Lintas-Ras (Inter-species Knight Order)?"
Itu adalah sebuah lelucon iseng.
"Dan aku sempat mendengar sebuah kabar dari Esther..."
Krais adalah pria yang sangat sibuk.
Dia tak punya alasan untuk sering berkunjung ke lapangan latihan tanpa membawa sebuah tujuan nyata.
"Katakan saja langsung ke intinya."
Esther sempat membeberkan perihal sebuah potensi krisis darurat.
Terlebih lagi, sang penyihir bahkan sanggup memprediksi estimasi waktu kedatangan sang tamu tak diundang tersebut dengan tingkat akurasi yang teramat tinggi.
Gara-gara ramalan tersebut, Krais telah kehilangan waktu tidur nyenyaknya setidaknya selama tiga hari berturut-turut.
Rasa cemas ini, betapa pun kerasnya dia berusaha menindasnya di siang hari, selalu mengangkat kepalanya kembali.
Kecemasan yang dia tekan kala terjaga meluap keluar menghantui alam mimpinya.
Itu adalah sebuah mimpi buruk di mana benteng kota terbakar hangus membara dan barisan penyihir berjubah hitam menculik warga sipil lalu mengurung mereka di dalam laboratorium bawah tanah yang mengerikan.
Detail isi mimpi buruk itu terasa sedemikian spesifiknya hingga membuatnya merasa kian tidak tenang.
Di dalam mimpinya, Krais turut menyingkap motif di balik eksperimen keji tersebut serta menyaksikan proyeksi masa depan lima puluh tahun dari sekarang.
Markas garnisun Border Guard telah disulap menjadi rahim kedua bagi sang iblis, dan sesosok raja iblis baru terlahir ke dunia di tanah ini.
'Iblis Pesona sang Pemikat Jiwa (Demonic Devil of Charm).'
Sebuah wujud evolusi tertinggi dari sesosok succubus, sesosok iblis mimpi yang sanggup memikat dan memperbudak kewarasan jiwa manusia murni hanya lewat satu tatapan mata.
Sebuah mimpi buruk yang teramat menjijikkan.
Itulah alasannya.
Krais yang terkepung oleh rasa cemas telah mengeksekusi serangkaian langkah antisipasi taktis.
Pesan yang kini tengah dia sampaikan kepada Encrid pun berkaitan erat dengan persiapan tersebut.
"Aku telah menginstruksikan seluruh personel perihal posisi jaga dan tugas yang wajib mereka eksekusi. Esther berbicara dengan penuh rasa percaya diri, namun jika situasi berubah menjadi kacau, kalian terpaksa harus bertindak mengatasinya sendiri."
Krais telah menuntaskan perannya sembari menenangkan detak jantungnya yang berdegup cemas—dia bahkan sempat memukuli rongga dadanya sendiri hingga kepergok dan diomeli habis-habisan oleh Luagarne.
Dan demikianlah, tiga hari berikutnya kembali berlalu.
Sebuah bayangan hitam pekat sekali lagi membentangkan naungannya di atas benteng perbatasan Border Guard.
Tentu saja mayoritas warga sipil dan barisan prajurit reguler sama sekali tidak menyadari apa yang tengah bergolak di balik layar, namun sesosok bayangan kelam telah resmi menginjakkan kakinya ke kota perbatasan.
Dalam satu sudut pandang, musuh kali ini adalah lawan yang jauh lebih merepotkan dibanding amukan sang Salamander purba.
Setelah kembali ke kota, Encrid tidak memforsir dirinya dalam sesi latihan kekuatan penuh.
Sesi sparring melawan sang Dragonkin, meskipun melompati batas aman di dalam dimensi pikiran, dieksekusi secara sangat terkontrol di dunia fisik.
Hal serupa berlaku mutlak bagi para ksatria lainnya.
Tentu saja bagi orang awam biasa, porsi latihan itu tetap terlihat layaknya kegilaan murni, namun menurut standar latihan milik Encrid, porsinya tergolong sangat santai.
Dia tengah menggaruk pipinya yang tertempel bekas luka goresan tipis akibat kibasan pedang Baek-a—nama pedang tulang putih milik sang Dragonkin—kala seorang perapal mantra dari divisi sihir asuhan Esther bergegas menghampirinya.
"Mereka telah tiba," lapor sang pemantera.
Intonasi suaranya tidak terdengar panik, namun pesan yang terkandung di dalam laporan tanpa subjek itu sudah teramat gamblang di telinga Encrid.
"Di mana Jaxon?"
"Tuan Jaxon telah lebih dulu bergerak menempati posisinya."
"Mari kita berangkat."
Encrid mengenakan selembar mantel jubah berkerudung tambahan di atas jubahnya lalu melangkah keluar meninggalkan benteng kota.
Dia melintasi lapangan latihan tempur, melangkahi gerbang benteng dalam, lalu berjalan tanpa henti menapaki jalanan berbatu yang tertata rapi menuju ke arah gerbang benteng luar.
Dia menyamarkan paras wajahnya di balik kerudung sembari melangkah, dan bagi orang-orang yang dia kenal di sepanjang jalan, dia cukup menyapa mereka lewat sebaris lirikan mata.
"Status pos penjagaan aman terkendali, silakan lewat jalur sebelah sini."
Hanya segelintir personel terpilih yang mengetahui bahwa sang komandan tengah melangkah keluar dari benteng.
Sosok yang bertugas mengawal pos gerbang hari ini adalah sang kepala keamanan kota.
Vengeance menganggukkan kepalanya takzim kepada Encrid.
Dia adalah salah satu dari segelintir orang yang mengetahui misi keberangkatan Encrid.
Tugasnya adalah berpura-pura keluar memeriksa kedisiplinan prajurit jaga, sengaja memanggil Encrid keluar dari barisan, lalu membukakan jalur baginya untuk meninggalkan kota tanpa menarik perhatian.
"Apa buah hatimu tumbuh dengan sehat?" tanya Encrid ramah sembari melintas di sampingnya.
"Sangat sehat, Tuan."
Senyuman hangat yang teramat tulus seketika mengembang di wajah pria perkasa tersebut.
Encrid sempat melihat buah hati milik Vengeance sepintas lalu tempo hari.
Bakal menjadi sosok seperti apa anak kecil itu kala dirinya tumbuh dewasa nanti?
Melindungi anak tak berdosa itu serta orang-orang berhati hangat seperti dirinya, barisan jiwa yang berdiri damai di belakang punggungnya.
Encrid memahami dengan sangat jernih apa kewajiban sejatinya sebagai seorang ksatria.
Menuntaskan percakapan singkatnya dengan Vengeance, pemuda itu melangkah keluar melewati dinding benteng kota.
Sang Dragonkin melangkah tenang mengiringi di belakang punggungnya.
"Aliran darahmu tampak tengah mendidih membara, Enki," celetuk Themares yang kini telah mulai memanggilnya menggunakan nama panggilan akrab hanya dalam kurun waktu beberapa hari singkat.
"Sudah berulang kali kuperingatkan padamu, kau tidak perlu menyuarakan setiap hal yang tertangkap oleh matamu, Themares."
Tingkat adaptasi sosial milik sang Dragonkin pada kenyataannya tidaklah terlalu mulus.
Pria itu selalu menyuarakan apa saja yang dia lihat secara blak-blakan tanpa saringan.
"Gadis beastkin itu enggan mandi murni karena dirinya tidak sudi memperlihatkan aroma rasa takutnya."
Sebagai contoh, pria itu dengan sangat santai mengungkit luka batin milik Dunbakel secara gamblang.
"Berani-beraninya kau mengataiku, dasar kadal bangsat?!"
Tentu saja Dunbakel seketika mengamuk membalas ucapannya.
"Sang putri elf telah hidup melintasi kurun waktu yang teramat panjang. Jika kita menghitung pergantian tahunnya..."
"Apa kau pernah melihat sesosok Dragonkin yang memiliki otak sebusuk kecambah kentang busuk seperti makhluk ini?!"
Insiden-insiden keributan semacam itu sempat meletus beberapa kali di markas mereka.
"Sang penyihir wanita itu pun, meskipun dirinya terlahir sebagai manusia fana, rentang hari yang telah dia lalui..."
Dia pun sempat berbicara terlalu santai di hadapan Esther lalu memamerkan keahlian memotong mantra Badai Salju D'Mulle (D'Mulle's Blizzard) menggunakan pedang Baek-a miliknya.
Esther pada akhirnya membungkam mulut sang Dragonkin murni menggunakan aksi sihirnya, bukan lewat perdebatan lisan.
Yah, lambat laun sang Dragonkin mulai terbiasa dengan dinamika semacam ini.
Di lokasi yang kini tengah dituju oleh Encrid, sosok Esther yang lebih dewasa telah berdiri menanti kedatangan mereka.
Sesosok penyihir agung yang usianya memang tidak setua Shinar, namun jelas terpaut usia jauh lebih tua dibanding dirinya sendiri.
Tepat saat Esther menatap paras Encrid, dia berujar dingin, "Sepasang matamu tampak sangat aneh."
Encrid membuyarkan alur pemikirannya lalu bertanya balik sembari berpura-pura tidak paham, "Mataku?"
Rem yang baru saja bergabung di samping mereka tanpa selisih waktu menimpali santai, "Sudah kubilang padamu kan, sepasang mata milik sang komandan memang kerap berubah menjadi sangat aneh dari waktu ke waktu."
Encrid mengabaikan tatapan menyelidik milik Esther lalu bertanya kepada Rem, "Apakah personel lainnya telah menempati posisi masing-masing?"
Rem menganggukkan kepalanya mantap. "Semuanya telah bersiaga di posisinya."
Krais meyakini prinsip bahwa di dalam sebuah pertarungan atau pertempuran besar, pihak yang telah mempersiapkan diri dengan sempurna sebelum genderang perang bertalu adalah pihak yang bakal keluar sebagai pemenang mutlak.
Esther pun sangat menyetujui doktrin tersebut.
Sedari awal, para penyihir dan witch adalah barisan petarung yang selalu mengandalkan persiapan matang.
Formula sihir yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari berkali-kali lipat lebih mematikan dibanding mantra yang dirapalkan secara mendadak di medan laga.
Melalui bimbingan Esther, seluruh anggota The Order of the Madmen Knights memahami fakta krusial tersebut dengan sangat baik.
Krais tempo hari sempat berujar kepada Encrid dengan tatapan matanya yang hampa, "Jika kau sanggup menusuk tepat melampaui batas ekspektasi musuh semacam itu, maka bilah pedang yang kau hunus pada detik tersebut bakal menjelma menjadi sebilah belati yang jauh lebih mematikan dibanding senjata apa pun."
Sebuah persiapan tempur selalu berakar di dalam dimensi prediksi dan spekulasi taktis.
Kilasan inspirasi seorang penyihir sanggup menyerap seluruh kalkulasi tersebut layaknya seberkas firasat gaib, namun...
"Esther jauh lebih superior dibanding barisan penyihir yang tengah bergerak mendekat saat ini, bukan? Itulah premis dasar dari strategi kita."
Krais adalah seorang pria jenius.
Dan Esther, menurut standarnya sendiri, sangat menyetujui pernyataan tersebut.
Pria bermata besar itu telah merancang sebuah strategi perang dengan menempatkan kapasitas keahlian Esther tepat di dalam poros perhitungannya.
"Kalian rupanya sengaja melangkah keluar demi menyambut kedatangan kami?"
Lanskap di hadapan mereka terbentang sangat luas, terpisah dari benteng garnisun Border Guard dan rute jalan raya utama.
Sebuah hamparan tanah tandus yang menyerupai padang gurun gersang, di mana kepulan debu sesekali membubung tertiup angin.
Tepat di hadapan mereka, seorang pria tua yang mengenakan jubah putih mewah berhiaskan sulaman benang emas membuka suaranya angkuh.
Sekitar belasan perapal mantra yang mengenakan jubah abu-abu polos berdiri berbaris mengiringi di belakang punggungnya.
Esther telah berhasil memprediksi pergerakan para penyihir yang tengah memburu dirinya.
Krais yang mencemaskan konspirasi iblis dan potensi serangan balas dendam telah mendengar laporan perihal keberadaan kelompok perapal mantra gila yang tengah menargetkan Esther, lalu menyusun langkah antisipasi terpadu.
"Apa saja kapasitas yang sanggup mereka lakukan?"
Krais sempat melontarkan pertanyaan itu tempo hari, dan Esther membeberkan seluruh informasi yang dia ketahui.
Mengingat pengalamannya yang teramat kaya dalam berhadapan dengan kelompok tersebut di masa lalu, Esther mengetahui segudang rahasia mereka.
Jauh lebih banyak dibanding apa yang diharapkan oleh Krais.
"Komandan."
Krais kala itu segera memanggil Encrid dan Abnaier lalu menggelar rapat koordinasi taktis darurat.
Dia turut melontarkan satu pertanyaan kunci kepada Esther.
"Apa kelemahan terbesar yang dimiliki oleh seorang penyihir?"
Astrail.
Sebuah organisasi perkumpulan magis yang menyandang makna 'kelompok para pengejar taburan bintang'.
Esther telah membeberkannya secara gamblang.
Para penyihir pada hakikatnya adalah entitas yang tidak paham bagaimana cara berbaur secara harmonis dengan makhluk lain.
"Mereka teramat sangat sombong dan angkuh," demikianlah penuturan Esther.
Mereka adalah barisan manusia yang tak pernah membayangkan bahwa raga mereka sanggup ditumbangkan murni hanya oleh sebilah mata pedang biasa.
Esther menegaskan bahwa para penyihir itu pasti bakal berpikir demikian, dan sepasang mata Krais kala menyimak penuturan tersebut seketika meredup tenang layaknya endapan yang mengendap di dasar secangkir air bening.
Kilau cahaya di matanya meredup, sembari memutar ulang seluruh kalkulasinya di dalam kepala.
Sang pria jenius yang tengah dikepung oleh rasa cemas telah berhasil mengidentifikasi celah kelemahan fatal milik para penyihir tersebut.
Dan tepat setelah momen tersebut, sosok pertama yang dia cari untuk mengeksekusi rencana penyergapan ini adalah Jaxon.











