Bab 827: Menolak Perintah Berhenti
Jeda keheningan itu berlangsung singkat, namun kecanggungan yang tertinggal terasa sangat nyata.
Di dalam sebuah pertarungan yang sarat akan ketegangan mematikan, jeda sekecil itu sejatinya sudah menjadi celah yang cukup lebar untuk membuat leher seseorang terpenggal.
Tepat saat Encrid menggerakkan tubuhnya, sang lawanâsosok pemilik kulit putih pucat dengan sepasang mata bercelah pupil vertikalâkembali membuka suaranya.
"Diam. Kau tak bisa. Bergerak. Kaki."
Untaian kalimatnya masih terdengar patah-patah dan kaku, namun di dalamnya terkandung daya pengekang yang nyata.
'Tolak.'
Encrid mengabaikan paksaan kata-kata tersebut sembari mengulang tekad penolakannya di dalam batin.
Aliran Will miliknya seketika bergolak liar, menjelma menjadi dinding benteng kokoh yang tak tertembus, sebuah benteng pertahanan yang dibangun atas keteguhan mutlak untuk memblokir apa pun yang menerpa.
Dia lalu menjejakkan telapak kakinya ke tanah dan memimpin serangan dengan ujung pedangnya.
Dalam sepersekian detik yang teramat singkat itu, percepatan alur pikirannya langsung menganalisis situasi medan laga.
'Setiap kali pria di depanku ini membuka mulutnya, sebuah kekuatan koersif bekerja menindas tubuh fisikku.'
'Sensasinya mirip dengan aura intimidasi, namun memiliki mekanisme kerja yang berbeda.'
'Sederhananya, ini bekerja layaknya aliran air.'
Sebongkah batu besar yang menggelinding deras mungkin sanggup membentur dinding benteng, namun mustahil bisa melompati puncaknya.
Namun air sanggup meresap menembus celah-celah tersempit di antara tumpukan batuan, lalu merembes membasahi fondasi dasarnya.
'Apakah kekuatan semacam itu bisa diwujudkan hanya melalui sepatah kata?'
Pertanyaan semacam itu bahkan tidak sempat mencuat di kepalanya.
Begitu dirinya memasuki mode tempur penuh, fokus Encrid terkunci sepenuhnya pada satu tujuan mutlak.
Konsentrasinya memadat menjadi satu titik tunggal, menenggelamkan kesadarannya ke dalam pertarungan.
Tepat sebelum mulut sang lawan sempat terbuka lagi, tangan kiri Encridâalih-alih tangan kanannya yang menggenggam Dawnforgedâmenyapu cepat melintasi dadanya.
Sebilah belati tanduk (horn dagger), yang telah ditempa menjadi jauh lebih ramping berkat keahlian pandai besi Aetri, melesat membelah udara dengan kecepatan mengerikan.
Tak ada suara desingan yang terdengar.
Bukan, lebih tepatnya suara desingannya tertinggal di belakang.
Objek fisik yang melesat jauh melampaui kecepatan suara itu bakal menghunjam menembus kepala sang lawan terlebih dahulu.
Sosok pria misterius itu menggeser tubuhnya ke samping dengan luwes.
Sebuah gerakan mengelak yang tampak sangat mengalir dan alami, namun pada kenyataannya adalah manuver penghindaran berkecepatan tinggi yang mustahil bisa ditangkap oleh mata telanjang orang biasa.
WUUUNG!
Suara lengkingan udara yang tertinggal baru bergema di detik berikutnya.
Pisau lempar bersuara yang sangat dibenci oleh Jaxon itu sukses merobek ruang hampa, mencuri momentum tepat saat mulut sang lawan hendak berucap.
Memanfaatkan celah sempit itu, Encrid memangkas jarak di antara mereka.
Dia meledakkan aliran Will miliknya, melipatgandakan kecepatan geraknya lewat ledakan titik tunggal.
Sebuah tusukan satu titik yang diarahkan lurus membidik rusuk sang lawan.
Lebih presisi lagi, ujung matapedangnya menusuk ke arah titik letak organ paru-paru lawannya berada.
Menepis tekanan berat yang menimpa kedua pundaknya bagaikan terperosok ke dalam kubangan rawa hisap, Encrid melangkah masuk ke dalam sebuah dunia tanpa suara.
Ranah keheningan mutlak.
Kedua lubang telinganya terasa tersumbat rapat, dan tekanan atmosfer yang menghimpit terasa seolah ada sepasang tangan raksasa yang tengah meremas kepalanya sekuat tenaga.
Sepasang mata kuning bermata reptil milik sang musuh melirik lurus ke arah paras wajah Encrid.
Pria itu rupanya turut melangkah masuk ke dalam ranah keheningan pada saat yang bersamaan, seolah hendak memprotes: apa susahnya melangkah ke ranah ini?
DHUAAR!
Suara ledakan udara yang terkoyak oleh lompatan dan dorongan eksplosif bergema memekakkan telinga.
Bercampur baur dengan dengungan sisa dari belati tanduk serta suara kibasan bilah pedang yang menyayat hampa.
Bilah pedang putih milik pria bermata aneh itu bergerak menghadang dan menepis ujung pedang Encrid. Pada detik krusial itu, Encrid berusaha memuntir bilahnya untuk menangkis balik dan melancarkan tusukan susulan, namun usahanya kandas.
Bilah pedang putih itu meliuk lentur bagaikan seekor ular lalu kembali memblokir serangannya, memaksa Encrid melepaskan sisa daya rusak di pedangnya ke udara kosong.
Ting, cringgg!
Suara gesekan nyaring meletup saat kedua bilah pedang saling beradu dan bergesekan tajam.
"Tidak terbiasa. Menggunakannya. Sudah lama sekali."
Gaya bicaranya masih terdengar sangat kaku dan terputus-putus.
Lalu bibir pria itu kembali terbuka lebar.
Kali ini, Encrid tidak memiliki cukup waktu untuk menghentikannya.
Itu hanyalah pelafalan dari sebuah kata yang teramat sederhana.
"Halt."
Sebuah daya misterius yang terkandung di dalam satu patah kata 'Berhenti' itu seketika menekan dan memaksa seluruh tubuh fisiknya untuk membeku kaku.
Sensasinya bagaikan ada suara gaib yang berbisik tepat di lubang telinganya untuk tidak bergerak, sembari mencengkeram erat seluruh persendian tangan dan kakinya.
Andai ada sesosok dewa di dunia ini, rasanya seolah entitas agung tersebut baru saja turun ke bumi dan menjatuhkan titah mutlak yang tak boleh dilanggar.
Encrid merasakan tekanan tanpa wujud yang merenggut kebebasan gerak tubuhnya.
Dan melawan segala bentuk tekanan, penindasan, serta paksaan koersif yang tengah menghimpitnya, pria itu membangkitkan kehendak Will miliknya yang tak tergoyahkan.
Dia tidak tahu apakah dewa takdir benar-benar eksis di dunia ini, namun seluruh perjalanan hidupnya adalah sebuah rantai perjuangan tanpa henti. Sebuah lembaran hidup di mana dirinya harus merangkak naik sekuat tenaga di tengah minimnya bakat bawaan.
Logika dunia, kebenaran semu, dan segala dogma yang mewakili kehendak para dewa telah berulang kali memaksanya untuk menyerah kalah, namun dirinya berhasil melangkahi seluruh masa-masa kelam itu demi membangun hari ini dan berdiri tegak di titik ini.
Oleh karena itu, dia sanggup menepis belenggu semacam ini sebanyak apa pun yang diperlukan.
"Tolak."
Merespons satu kata penolakan tersebut, kekuatan koersif yang mengikat raganya seketika memudar dan hancur lebur.
Pria bermata reptil itu tampak terperanjat kaget, namun alih-alih membiarkan rasa herannya berlarut-larut, bibirnya kembali melafalkan perintah yang sama.
"Halt."
Encrid menyahut balik dengan keteguhan yang setara.
"Tolak."
Bahkan andai para dewa di kahyangan turun ke bumi demi menguji batas keteguhan hati umat manusia, mereka pasti bakal terperangah takjub saat melihat sosok Encrid.
Oleh sebab itu, mantra apa pun yang disusupkan ke dalam kata-kata tersebut, Encrid selalu sanggup menolaknya mentah-mentah.
Aliran Will miliknya meluap hebat.
Keyakinan, kehendak, kepercayaan, serta prinsip moral yang dia bangun dan pupuk di sepanjang hidupnya menjelma menjadi perisai mutlak yang menolak segala bentuk sihir manipulasi milik lawannya.
Apa sebenarnya esensi dari sebuah ksatriaan?
Itu adalah sebuah kode etik, sebuah pedoman moral.
Dan jika harus memilih elemen terkuat yang bersemayam di dalamnya...
'Selalu menepati setiap patah kata yang pernah kuucapkan.'
Tidak semua orang yang menyandang gelar ksatria sanggup memegang teguh prinsip tersebut, namun Encrid melakukannya dengan segenap jiwanya.
Secara keras kepala, dan terkadang terlihat sangat bodoh di mata orang lain.
Dia tidak pernah mengemis pemahaman dari orang lain, dan memilih untuk teguh menapaki jalannya sendiri.
Dia telah menjalani pola hidup semacam itu bahkan jauh sebelum dirinya resmi dinobatkan sebagai seorang ksatria.
Tepat saat lawannya melontarkan kata-kata pengekang, sebagian porsi dari energi Will miliknya memang terkuras terpakai.
Namun hal itu sama sekali bukan masalah baginya.
Sebab cadangan Will milik Encrid adalah Uskeâsebuah mata air abadi, sebuah sumur mata air yang tak akan pernah kering.
"Halt."
"Tolak."
"Halt."
"Tolak."
"Halt."
"Tolak."
Dan demikianlah pemandangan aneh tercipta, di mana keduanya tampak seperti tengah terlibat dalam sebuah perang urat saraf saling berteriak kata-kata.
Rem yang sengaja meninggalkan ajudannya di belakang demi menyusul Encrid, mendadak berdiri terpaku menatap pemandangan tersebut.
Dia melihat punggung kokoh Encrid dan sosok pria asing yang tiba-tiba muncul di hadapan kaptennya.
Lebih tepatnya, melihat dua pria bersenjata pedang yang justru tengah bertarung sengit menggunakan mulut mereka, dia tak tahan untuk tidak melontarkan celetukan heran.
"Eeh, apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan berdua?"
Bagi orang awam yang melihat dari kejauhan, pemandangan itu pasti bakal terlihat layaknya sebuah adegan komedi konyol.
Meskipun sosok Rem telah menampakkan diri, pria asing yang menghalangi jalan Encrid sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya.
Dia hanya menatap Encrid lalu melontarkan pertanyaan serius.
"Kau sanggup mematahkan sebuah Word of Command?"
Kali ini, susunan kalimatnya terdengar sangat lancar dan tertata rapi.
Mungkin begitulah karakteristik dari kalimat-kalimat pendek.
Sebuah Word of Command (Sabda Perintah) merujuk pada seni menyusupkan kekuatan absolut ke dalam getaran kata itu sendiri.
Jika penindasan melalui pancaran Will menekan lawan lewat pergerakan fisik ataupun keberadaan aura, struktur kerja dari Word of Command memiliki mekanisme yang sangat berbeda.
Kekuatan itu menghantam dan menggoncang kehendak jiwa lawan melalui resonansi getaran suara.
Ini bukan sekadar perkara adu gengsi menegakkan kehendak batin semata.
Terlebih lagi, Word of Command yang baru saja dia lancarkan berganti-ganti di antara dua wujud manipulasi tingkat tinggi.
Wujud pertamanya adalah Overwriting Will (Menimpa Kehendak).
Dia berusaha menimpa dan menenggelamkan kehendak milik sang lawan di bawah dominasi kehendaknya sendiri.
Wujud keduanya adalah Overwhelm (Meremukkan Kehendak).
Dia berniat menghancurkan dan meremukkan fondasi kehendak lawan secara paksa.
Itulah tujuan awal yang dia targetkan, namun sosok manusia biasa di hadapannya ini berhasil menepis dan melangkahi seluruh manipulasi tersebut dengan sempurna.
Apakah fenomena semacam ini adalah hal yang lumrah terjadi di dunia?
Tentu saja tidak.
Menilik kembali seluruh lembaran panjang kehidupannya, ini adalah kali pertama dirinya menjumpai fenomena anomali semacam ini.
"Apa wujud Salamander itu mirip seperti manusia? Matanya persis seperti mata kadal," gumam Rem santai.
Daya observasi visual milik Rem memang selalu luar biasa tajam.
Melihat bentuk mata, postur kuda-kuda, serta pembawaan pria asing itu, dia langsung mencurigai identitas aslinya.
Rem saat ini telah memanjat sebatang pohon besar dan mengambil posisi berjongkok di atas dahannya.
Bagi orang yang tidak paham, pose itu tampak seperti orang yang tengah bermalas-malasan, namun Encrid tahu betul bahwa Rem sudah berada dalam posisi siaga penuh untuk mengintervensi pertempuran kapan saja.
Kekuatan destruktif yang masif pasti telah terkumpul rapat di telapak kakinya yang menekan dahan pohon, dan jikalaupun tidak, Rem juga memiliki keahlian mematikan dalam melepaskan proyektil senjata lempar.
Encrid menggeser langkah kaki kirinya ke samping, memperlihatkan punggungnya sembari menyahut singkat.
"Entahlah."
Rem mengernyitkan alisnya jengkel melihat punggung Encrid yang kini secara sempurna menutupi sudut pandang penglihatannya ke arah musuh.
Posisi berdiri Encrid saat ini adalah sebuah penegasan kehendak yang nyata.
Bukankah sudah menjadi naluri alami bagi seorang manusia posesif untuk mengklaim apa yang dia dambakan sebagai miliknya sendiri?
Dan Encrid tengah melakukan hal tersebut detik ini.
Pria di hadapannya menguasai teknik bertarung yang sangat ganjil dan langka.
Namun ada hal lain yang jauh lebih memacu gejolak semangat di dalam dadanya.
'Aku tidak bisa menakar batas kemampuannya.'
Kenyataan itulah yang membuat darah di sekujur tubuhnya mendidih membara penuh gairah.
Dan terlepas dari sensasi tersebut, dirinya tidak semata-mata mabuk kepayang oleh kenikmatan bertarung belaka.
Apakah monster legendaris bernama Salamander itu menyimpan ancaman sebesar Beelrog?
Apa alasan mendasar di balik kebangkitan mendadak monster purba tersebut?
Mengesampingkan segala macam pertanyaan rumit itu, tugas yang terpampang di hadapan Encrid sudah teramat jelas dan nyata.
Dia tahu betul di mana posisinya berdiri dan apa kewajiban yang harus dia tunaikan.
Menebas siapa pun yang berani menghalangi jalannya dan melindungi setiap jiwa yang berdiri di belakang punggungnya.
Saat ini, tepat di belakang punggung Encrid, terbentang wilayah garnisun Border Guard.
Di dalam pemukiman itu, ada seorang wanita ramah yang menjual selai marmalade, serta seorang pemilik penginapan yang mengumpulkan buku-buku bacaan berharga dari pundi-pundi Krona yang berhasil dia tabung.
Wanita penjual selai marmalade itu kabarnya akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Keluarga kecil milik Vengeance, yang kini telah resmi menjabat sebagai kapten keamanan Border Guard, turut bermukim di dalam benteng kota tersebut.
Kisah cinta bertepuk sebelah tangan pria itu akhirnya berbuah manis dalam kehidupan nyata.
Dia kini bisa tersenyum bahagia sembari menggendong buah hatinya, serta tersenyum hangat menatap paras sang istri.
Ada begitu banyak orang baik semacam itu yang menggantungkan harapan hidup mereka di tanah ini.
Dan di sana pula...
'Gedung Vanessa's Library.'
Sebuah nama untuk gedung perpustakaan umum yang tengah dibangun di sudut kota Rockfreed.
"Aku sudah memimpikan ingin membangun tempat seperti ini sejak masih gadis belia."
Mendengar penuturan tulus dari bibir Vanessa tempo hari, Encrid sempat bertanya balik, "Bahkan jika kau harus menguras seluruh tabungan Krona yang kau kumpulkan seumur hidup?"
Vanessa adalah pemilik dari kompleks penginapan terbesar di persimpangan jalan, yang kini telah menjelma menjadi salah satu landmark ikonik di kawasan Border Guard.
Kelezatan semangkuk sup labu buatan Vanessa adalah hidangan legendaris yang membuat penginapannya selalu dibanjiri pengunjung.
Encrid, yang mengenal baik sosok Allenâpemilik penginapan kecil di seberang kedai Vanessaâtentu saja sangat akrab dengan wanita paruh baya tersebut.
Bahkan faktanya, dirinya telah mengenal sosok Vanessa jauh lebih awal.
Seorang wanita berkulit sawo matang dengan bintik-bintik penuaan di punggung tangannya, bertubuh gempal, dan selalu menyunggingkan senyuman hangat yang menenangkan hati.
Dia adalah figur seorang ibu tangguh yang berhasil membesarkan empat orang anak seorang diri setelah kehilangan sang suami di usia muda.
Dan menyaksikan keempat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang rajin, jujur, dan berakhlak muliaâmeskipun hanya satu di antara mereka yang merupakan anak kandungnya sendiriâsiapa pun bisa menyimpulkan bahwa keteguhan tekad yang dimiliki wanita itu tidak kalah hebat dibanding seorang petarung berjiwa Will.
Bukankah ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa membesarkan seorang anak sama sulitnya dengan membumihanguskan sebuah sarang monster?
Dirinya memang tidak memiliki pengalaman merawat anak, namun semua orang tahu bahwa siapa pun wajib menaruh rasa hormat yang mendalam kepada sosok yang telah menuntaskan perannya sebagai seorang ibu dengan sempurna.
Ibu Vanessa adalah salah satu jalinan ikatan masa lalu yang teramat berharga.
Dan Encrid sedari kecil selalu merasa sangat mudah menjalin persahabatan tulus dengan orang-orang berhati hangat seperti dirinya.
Wanita itu sempat mengungkit masa lalu Encrid sesaat setelah dirinya resmi dinobatkan menjadi seorang ksatria.
"Kantongku tidak bakal langsung kosong melompong hanya gara-gara mendirikan sebuah gedung perpustakaan, Prajurit."
Semangkuk sup labu hangat yang dia santap di hari pertamanya menginjakkan kaki di kota garnisun ini memiliki cita rasa tak terlupakan yang membekas abadi di lidahnya.
"Kalau kau bergabung ke dalam militer bukan untuk mati konyol, maka tegakkan kepalamu dan perbaiki ekspresi wajahmu itu."
Hari pertama dirinya tiba di kota perbatasan ini.
Dia mendengar kalimat nasihat itu dari bibirnya.
Apakah raut wajahnya kala itu memang tampak seburuk itu?
Itu adalah masa-masa di mana dirinya menjalani kehidupan yang hampa tanpa secercah harapan, meskipun dirinya pantang mengenal kata menyerah.
Masa-masa di mana keahlian berpedangnya tak kunjung menunjukkan peningkatan, betapa pun kerasnya dia mengayunkan pedang hingga kedua telapak tangannya pecah berdarah dan menggertakkan gigi hingga gusinya terluka.
Itu adalah era di mana seluruh beban keputusasaan menindih berat di atas kedua pundaknya.
Meski begitu, dia merasa dirinya tidak pernah menampakkan kerapuhan itu ke permukaan.
Namun sosok Ibu Vanessa sanggup membaca isi hati pemuda yang terpaut usia jauh lebih muda darinya itu dengan teramat jernih.
Meskipun dirinya telah melintasi dimensi waktu yang berbeda dari manusia lain lewat pusaran pengulangan hari, ada kenangan-kenangan manis yang mustahil bisa terkikis oleh waktu.
'Sejak pertama kali tiba di Border Guard.'
Dia tak akan pernah bisa melupakan seluruh proses perjuangannya, mulai dari bersikeras mendaftarkan diri menjadi prajurit hingga akhirnya dipercaya memimpin barisan ordo para ksatria gila.
Keyakinan dan keteguhan tekad.
Prinsip hidup dan sumpah suci.
Dan tepat di tengah pusaran nilai-nilai luhur tersebut, secercah ekspektasi dan kenikmatan bertarung meresap masuk ke dalam jiwanya.
Sensasi mendebarkan dari sebuah pertempuran sengit adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi dirinya.
Selama dirinya tidak terlena dan mabuk kepayang oleh haus darah, hal itu sama sekali bukan dosa.
Justru karena dirinya memiliki gelora semangat bertarung yang jauh lebih membara dibanding sang iblis konflik, naluri pembantai dari baju zirah Beelrog tempo hari kehilangan taringnya di hadapannya.
Pendaran cahaya biru terang menyelimuti mata bilah Dawnforged.
Senjata berinskripsi suci itu bereaksi selaras merespons gelombang aliran Will yang berdenyut di dalam raganya.
Sang lawan pun turut mengangkat senjata pedang putihnya.
Pedang panjang tanpa pelindung tangan yang menyerupai sebatang tongkat itu memamerkan bilah pedang yang berwarna putih bersih tanpa noda.
Dia menahannya pada sudut kemiringan tertentu sembari menunggu dengan tenang.
Ujung pedangnya tidak terhunus lurus ke depan, melainkan membidik miring ke arah sisi kiri kepala Encrid.
Sebuah kuda-kuda bertarung yang sangat unik dan tak lazim.
Encrid tahu betul kapan harus mengalah dan bertindak sewajarnya.
Bahkan jika dirinya tidak memilih jalan itu, dia telah menyaksikan ratusan orang mengambil keputusan tersebut di depan matanya.
Encrid tahu kapan harus menarik langkah mundur.
Isi kepalanya sanggup mengkalkulasi untung rugi dari sebuah situasi taktis tanpa perlu berpikir panjang.
Namun meski begitu, detik ini dia memilih untuk pantang melangkah mundur.
Itu karena di dalam rongga dadanya bersemayam secuil arogansi ksatria yang mungkin bisa dicap sebagai sebuah kebodohan nekat oleh orang lain.
Dan itulah alasan mengapa saat ini, berdiri berhadapan dengan sosok musuh misterius yang batas kekuatannya tak sanggup dia takar, Encrid menyunggingkan senyuman khasnya seperti biasa.
Dan dengan senyuman terkembang di wajahnya, dia melesat menerjang maju.
Laksana gulungan ombak samudra raksasa yang pantang terhenti meski langit terbelah dua, laksana sambaran badai prahara yang mengamuk tanpa henti, dia melesat membelah takdir.











