Eternally Regressing Knight

Bab 751: Kupotong Saja Kakinya?

2794 Kata

Bab 751: Kupotong Saja Kakinya?

"Jadi maksudmu, kau menciptakan lima teknik pedang, dan kelimanya adalah jalan untuk menjadi seorang Knight, begitu?"

Rem merangkum semua hal yang dijelaskan dan didemonstrasikan Encrid selama beberapa hari terakhir.

Mendengar rangkuman Rem, mata Encrid membelalak lebar—sebuah ekspresi takjub yang tulus, bukan sekadar kaget biasa.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Rem dengan nada kesal.

"Waktu aku mengajari dan menjelaskan padamu, kau kelihatannya tidak paham sama sekali. Tapi kenapa sekarang kau bisa merangkumnya dengan begitu sempurna?" kata Encrid dengan mata yang masih membelalak.

Semua orang bisa melihat bahwa Encrid sengaja menggodanya. Rem langsung merengut.

"Siapa yang tidak paham? Kalau muridnya tidak mengerti, berarti gurunya yang bermasalah! Cepat hentikan tatapan matamu itu!"

"Aku cuma benar-benar takjub."

Rem yang masih mengerutkan kening tiba-tiba menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk seringai buas.

Tanpa ragu sedikit pun, ia mengayunkan kapaknya.

Ayunan kapak itu melesat begitu cepat hingga gerakannya saat ditarik sama sekali tak tertangkap mata.

Iramanya bahkan tidak sejalan dengan langkah kakinya—sebuah serangan mendadak yang dilancarkan pada saat yang mustahil ditebak. Serangan itu tidak mengikuti ketukan ritme, melainkan menyusup di sela-selanya.

Encrid merespons ayunan kapak itu dengan tenang.

Entah sejak kapan, ia sudah menghunus pedangnya dan melancarkan tebasan.

Ia menyabetkan bilahnya secara diagonal, memotong tepat di jalur lintasan kapak yang datang.

Klang!

Baja beradu dengan baja di bawah ayunan tenaga manusia, memicu gelombang angin kencang yang meledak dari titik benturan.

Dengan suara kepakan kain yang tajam, jubah hijau tua milik Encrid berkibar kencang ke belakang.

Ini bukan pertarungan hidup-mati, melainkan murni sebuah demonstrasi.

Setelah benturan tunggal itu, Rem berbicara dengan nada datar.

"Ini yang kau maksud, kan?"

Rem sebenarnya menyimpan rasa terkejut dalam hatinya.

Encrid berhasil menahan tebasan kapak mendadaknya secara sempurna.

Kini Rem sadar ia tak bisa lagi memandang remeh Encrid dari sudut mana pun.

Pria di hadapannya menyambut hantaman kapak itu seolah hal tersebut bukanlah apa-apa.

Jika Encrid menghindar, Rem tak akan terlalu heran. Namun Encrid mengayunkan pedangnya belakangan, tetapi sanggup menyambut kapak itu dengan kecepatan yang sama persis.

Kenyataan bahwa kekuatan dan kecepatan mereka seimbang, padahal ini bukanlah duel latihan yang direncanakan, menjadi bukti nyata atas kemampuan mereka berdua.

Tentu saja Rem masih bisa mengayunkan kapaknya jauh lebih cepat dan lebih keras jika ia mau. Namun yang terpenting adalah betapa pesatnya peningkatan kemampuan Encrid dibandingkan sebelumnya—kini sudah berada di tingkat yang sama sekali berbeda.

Rem menyingkirkan gumaman batinnya lalu mendengus pelan.

"Tepat sekali," jawab Encrid singkat.

Dalam serangan tadi, Rem menyingkirkan semua pilihan yang tidak perlu dan mencurahkan segalanya ke dalam satu tindakan tersebut.

Encrid memahami makna di balik demonstrasi Rem.

'Tebasan yang begitu cepat hingga tak sanggup dikalkulasi.'

Gerakan itu bukan sekadar di luar ketukan ritme, melainkan mengabaikan seluruh ritme itu sendiri. Pikirannya mengoptimalkan setiap gerakan secara naluriah.

Sungguh sebuah keahlian yang menakjubkan.

Jika semua ini hanya disimpulkan sebagai "bakat", hal itu terasa sangat tidak adil bagi orang lain.

"Tunjukkan bentuk Straight Sword juga pada kami, Brother," potong Audin menimpali.

Penjelasan panjang selama berhari-hari akhirnya berakhir—semuanya bermula dari kalimat, "Wave-Breaker berbasis pada Straight Sword."

Sepanjang penjelasan itu, Luagarne tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Pipinya menggembung antusias berkali-kali.

"Tunjukkan pada kami. Berikutnya apa? Jadi begitu caramu memakai Tactical Sword. Aku memang sudah menduganya, tapi melihatnya langsung tetap saja luar biasa," celoteh Luagarne berulang kali.

Itu adalah ilmu pedang yang disesuaikan dengan lima tipe—lurus, berat, tipuan, cepat, dan mengalir.

Wave-Breaker Sword, ilmu pedang ortodoks, Flash, dan juga Sword of Chance.

Dari semuanya, demonstrasi pedang berat masih belum diperlihatkan.

Teknik-teknik lainnya telah ditunjukkan dengan jelas, tetapi melancarkan hantaman berat secara sembarangan di tempat terbuka bukanlah hal yang mudah.

Teknik itu juga tak bisa diperagakan di dalam Imaginary Realm, karena di sana hanya gerakan yang terprediksi yang dapat dihadirkan. Jika sebuah teknik belum pernah didemonstrasikan di dunia nyata, mustahil menampilkannya di dalam Imaginary Realm.

Wajar jika Audin sangat penasaran bagaimana cara Encrid memusatkan daya hancur luar biasa ke dalam satu tebasan tunggal.

Bukankah Encrid mengatakan bahwa teknik itu merupakan gabungan dari Valaf-style Martial Arts dan Yohan-style Greatsword?

Fel dan Ropord turut mengamati dengan mata berbinar.

Tanpa terasa, kini rombongan mereka beranggotakan sembilan orang.

"Kebetulan sekali, aku memang baru mau menunjukkannya," jawab Encrid seraya menatap ke arah monster yang sedang mendekat.

Monster itu adalah Cyclops, raksasa bermata satu.

Meski bertarung dengan tangan kosong, makhluk itu sanggup mencabik-cabik pelat besi semudah merobek roti hangat. Jika monster seperti ini muncul di kawasan pemukiman, lonceng tanda bahaya pasti sudah berdentang tiada henti.

Mungkin karena mereka telah melangkah jauh ke dalam Southern Demonic Domain, monster langka seperti ini bisa mereka temukan. Atau mungkin setelah mereka menyapu bersih seluruh ghoul, monster liar, dan binatang buas di sepanjang jalur, hanya makhluk ini yang tersisa.

Atau bisa jadi ini murni sebuah kebetulan.

Semua kemungkinan itu bukanlah hal yang dipusingkan oleh Encrid.

Ia memang berniat mencari monster kuat untuk uji coba, dan kini monster itu datang sendiri menghampirinya.

Cyclops adalah lawan yang sangat cocok untuk menguji tekniknya.

Saat raksasa bermata satu itu semakin dekat, obrolan mereka terhenti. Kaki Encrid melangkah maju menyambut sang monster.

"Baiklah, perhatikan baik-baik."

Meskipun berhadapan langsung dengan monster raksasa, Encrid tetap tenang seutuhnya.

Lengan Cyclops begitu panjang hingga telapak tangannya nyaris menyentuh tanah, sedangkan otot-otot pahanya setebal pinggang pria dewasa. Saat membungkuk, buku-buku jarinya terseret menyapu tanah.

Dug, dug, dug.

Di atas tanah tandus, alur-alur dalam tercipta di setiap jalur yang dilalui tangannya.

Meski hanya gesekan ringan, tanah keras itu langsung terkikis dan terkelupas. Sulit dibayangkan seberapa tebal dan kerasnya kulit monster tersebut.

"Kita akan melihat tontonan menarik," ujar Luagarne seraya mengunyah ulat kering dan mencari posisi nyaman.

Ia langsung duduk bersila di tanah, bersiap menikmati pertunjukan.

Meskipun Fel dan Ropord baru saja resmi menjadi ksatria, ambisi mereka membara lebih besar dari sebelumnya. Keduanya menyebar ke sisi kiri dan kanan Encrid agar tidak melewatkan satu momen pun.

Tangan mereka tetap bersiap di gagang senjata, menyalakan api konsentrasi di dalam dada. Sorot mata mereka yang membara menjadi bukti nyata.

Sang Cyclops terus melangkah maju dengan pandangan terkunci hanya pada Encrid. Makhluk itu tidak melolongkan raungan buas. Alih-alih mengintimidasi mangsa lewat suara, ia lebih suka meremukkan dan mencabik lawan secara langsung menggunakan kedua tangannya. Lagi pula, setiap monster memiliki kebiasaan yang berbeda.

Encrid melangkah maju dengan gagah berani. Tak ada keraguan dalam setiap pijakannya, bahkan tak ada secuil pun rasa takut.

Bagi orang awam, tindakan mendekati monster sebesar itu terlihat seperti aksi bunuh diri.

Krak—kedua kaki Cyclops menancap dalam ke tanah. Titik berat tubuhnya bergeser, dan tenaga raksasa terpusat di pinggangnya. Dalam sekejap, kedua tangan yang tadinya terseret di tanah menyambar ke depan dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia biasa.

Bagaikan sepasang kait raksasa, kedua tangannya membelah udara—tangan kiri mengincar pinggang Encrid, sementara tangan kanan menyapu ke arah pahanya.

Cerdas.

Encrid mengamati taktik Cyclops dengan pikiran yang tetap rileks.

Monster itu tidak langsung mengincar kepala atau leher—kemungkinan besar berkat pengalaman dari pertarungan-pertarungan berdarah yang tak terhitung jumlahnya. Monster yang sanggup bertahan hidup lama memang jauh lebih berbahaya karena mereka terus mengamati dan belajar.

Hal itu merupakan teori yang pernah ditegaskan oleh Valfir Balmung, sang ksatria ternama dari Empire.

Bahkan itu bukan sekadar teori, melainkan sebuah fakta nyata.

Encrid meluncur gesit melewati sela-sela cengkeraman tangan monster itu.

Selama ia bergerak maju lebih cepat daripada ayunan lawan, serangannya tak akan mengenai dirinya.

Dengan menyalurkan Will ke seluruh tubuh, Encrid menerobos masuk ke dalam jangkauan serangan monster yang berukuran tiga kali lipat tubuh manusia tersebut.

Cyclops seketika membuka rahangnya lebar-lebar.

Gigi-giginya mencuat tak beraturan bagaikan susunan dinding batu runcing, masing-masing berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa. Monster itu berniat menggigit putus kepala Encrid di tempat.

Kedua tangan raksasa itu membelah udara dengan suara desingan tajam—deretan gigi mengerikan nyaris mengatup, dan aroma busuk yang lebih pekat dari bangkai hampir menerpa wajahnya.

Tepat pada detik genting itu, tubuh Encrid mulai berputar.

Bertumpu pada kaki kirinya, ia berpilin laksana pusaran badai.

Jubahnya melilit rapat di punggungnya.

Bagi sang Cyclops, kepala berambut hitam Encrid seolah berputar cepat dalam lingkaran.

Mengumpulkan seluruh konsentrasinya—yang bermula dari satu titik lalu meluas merengkuh seluruh alam kesadaran—Encrid memadatkannya kembali menjadi satu kekuatan tunggal.

"Putaran."

Melatih fisik semata jelas memiliki batas mutlak.

Jika seseorang ingin melangkah lebih jauh dan melipatgandakan daya hancurnya, jalan apa yang harus ia tempuh?

Jika kau tidak puas hanya dengan membelah batu dalam satu tebasan, inilah jalan yang wajib kau tapaki.

Kau harus memadukan semua hal yang pernah kau lihat, pelajari, dan alami secara langsung hingga saat ini.

Setelah menciptakan beberapa teknik pedang dengan tangannya sendiri, Encrid memperoleh sudut pandang baru yang lebih jernih.

'Aku hanya butuh satu tebasan.'

Tubuhnya berpilin di sekitar kaki kiri bagaikan ular, otot-ototnya menegang lalu meledak dari satu titik tumpu.

'Hanya sebatas beban yang sanggup ditanggung tubuhku.'

Dengan cadangan Will yang tak terbatas, memaksakan kekuatan secara berlebihan hanya akan merobek serat-serat ototnya sendiri. Ia memahami hal itu dari pengalaman masa lalu.

Daya putaran bermula dari ujung jari kaki, merambat naik ke betis, memusat di pinggang, bertransformasi menjadi daya dorong dahsyat, lalu disalurkan utuh melalui pedangnya yang melesat ke depan.

Mata bilah menghunjam lurus ke tubuh monster itu.

'Tebasannya sangat bersih.'

Kesan itu terasa dalam sepersekian detik.

Duskforged, senjata buatannya yang tergolong sebagai Engraved Weapon, tadinya ia kira kurang tajam jika dibandingkan dengan Penna. Namun saat diayunkan dalam pertarungan nyata, pedang itu membelah tubuh sang monster semudah mengiris kentang rebus. Hambatan yang terasa di tangannya bahkan lebih ringan daripada pedang mana pun.

Cyclops adalah monster tangguh—kulitnya sekeras batu karang dan tulangnya luar biasa kokoh. Namun bilah Duskforged menembus dan keluar dari tubuh monster itu jauh lebih mulus daripada True Silver buatan Aetri.

Setelah menyalurkan daya putaran dan menyelesaikan tebasan, Encrid meluncur anggun ke samping.

Bagi orang-orang yang menyaksikan, mata pedang itu seakan meledak keluar dari dalam tubuh Cyclops sesaat setelah kedua lengan Encrid bersilang.

Di sepanjang jalur yang dilalui bilah pedang, darah hitam, organ dalam, dan serpihan daging menyembur keluar bersamaan.

Monster mengerikan yang menjadi momok di seluruh wilayah itu tewas dalam satu tarikan napas.

Cyclops ini dikenal luas di seantero Southern Region dengan julukan "the Wandering Demon".

Mengapa ia dijuluki iblis, padahal ia bukanlah iblis sejati?

Sebagian alasannya mungkin karena kekuatan fisiknya yang luar biasa, tetapi alasan terbesarnya adalah banyaknya nyawa yang telah melayang di tangannya selama bertahun-tahun.

Tak seperti monster yang berdiam di sarang tetap, monster pengelana seperti ini jauh lebih sulit dilacak dan diburu. Kemampuannya menghindari kejaran para ksatria selama ini kemungkinan besar berkat faktor keberuntungan semata.

Encrid membelah monster itu secara vertikal lalu melangkah menjauh. Beberapa tetes darah hitam memercik ke jubahnya, tetapi kain hijau tua itu menyerap setiap tetes darah tanpa meninggalkan bekas.

Itu adalah jubah hidup.

Begitu pula dengan pedangnya.

Encrid dapat merasakannya dengan sangat jelas.

'Kau merespons kehendakku, kan?' bisik Encrid kepada pedangnya di dalam hati.

Biasanya saat ia meminyaki dan mengelus bilahnya, pedang itu tampak kusam dan bersahaja. Namun saat ia mengayunkannya dalam pertempuran, pedang itu beresonansi sempurna dengan jiwanya.

Rasanya seperti bertarung berdampingan dengan seorang kawan karib yang memahami dirinya luar dan dalam.

Mungkin karena itulah senjata jenis ini dinamai Engraved Weapon.

Bagaimanapun juga, kata "engraved" menandakan bahwa sebagian dari jiwa pemiliknya telah terukir abadi di dalamnya.

"Brother, apa kau menamai teknik tadi Vortex?" tanya Audin membuka suara.

Mereka yang memiliki mata jeli dan bakat tinggi langsung menyadari keanggunan serta kedalaman di balik tebasan Encrid.

Itu adalah sebuah serangan yang diperas dari inti keberadaan sang ksatria, melepaskan seluruh daya tempur dalam satu momentum singkat.

Sensasinya seperti melengkungkan dahan pohon hingga batas maksimal sebelum membiarkannya memantul balik dengan keras.

'Lebih tepatnya, ia mengayunkan dahan itu sekuat tenaga, lalu memanfaatkan daya pegasnya.'

Atau mungkin lebih mirip dengan menarik tali busur sepenuhnya, melesat maju, lalu melepaskan anak panah dari jarak tiga langkah di depan sasaran.

Pada jarak sedekat itu, seluruh daya dorong yang tersimpan di dalam anak panah akan menghantam mangsa secara mutlak.

Mata Audin berbinar penuh kekaguman.

Teknik ini berakar kuat pada Valaf-style Martial Arts, tetapi telah berevolusi dan melangkah jauh melampauinya.

"Itu adalah pelajaran yang sangat berharga," ujar Audin seraya melangkah mendekat dan memeriksa bangkai monster yang terkapar.

Jejak yang ditinggalkan oleh daya putaran itu terlihat sangat nyata.

Ukuran luka menganga jauh lebih besar daripada dimensi bilah pedang.

Daging monster itu koyak dan terkoyak hancur.

'Dia tidak sekadar menebas dengan pedang—dia melepaskan Will-nya secara bersamaan.'

Apakah hal serupa bisa dicapai menggunakan kekuatan suci?

Bukan sekadar meniru, melainkan apa yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat daya hancur sebesar ini?

Sudah saatnya bagi Audin untuk mulai merenung dan mendalaminya.

Bukan hanya Audin seorang.

Ragna, yang mengandalkan bakat alami dan insting tempurnya, juga sibuk menganalisis makna di balik setiap gerakan serta mengurai kembali kalkulasi teknik tersebut.

Begitu pula dengan Rem dan rekan-rekan lainnya.

Mereka sebenarnya sudah bisa melakukan hal ini sejak masih bertugas di Border Guard, tetapi perubahan lingkungan membawa pergeseran sudut pandang. Dengan begitu, hal-hal yang sanggup mereka lihat dan serap pun mulai berkembang pesat.

Bisa dibilang, ini adalah masa-masa di mana mereka mendalami teknik, ilmu pedang, dan metode latihan secara lebih serius daripada sebelumnya.

Encrid membagikan kembali wawasan yang ia pelajari dari para bawahannya, sementara Rem dan rekan-rekannya tak ragu menyerap ilmu-ilmu baru dari Encrid.

Melihat mereka semua merenungkan dan mencerna setiap pelajaran, Encrid pun sebaliknya memetik banyak pemahaman baru dari respons mereka.

Pemandangan ini tampak unik sekaligus memikat—mereka saling berbagi apa yang mereka ketahui, mengamati metode satu sama lain, dan saling belajar bersama.

"Kudengar letaknya di sekitar sini," gumam Ropord setelah mereka berjalan cukup jauh.

Mendengar ucapan Ropord, Encrid dan yang lainnya langsung menoleh ke arahnya.

Sudah sekitar empat hari sejak mereka berbelok ke selatan dan melintasi kawasan ini, dan Ropord berhasil merangkai beberapa petunjuk berdasarkan desas-desus yang ia dengar.

Ia menemukan informasi mengenai sebuah Demonic Domain kuno di area ini yang sejak lama menjadi buah bibir warga lokal.

Sederhananya, tempat itu mirip dengan Gray Forest yang berada di dekat kota Oara.

Meski kemunculan area seperti ini tidak bisa dibilang sering, keberadaannya di dekat Demonic Domain utama bukanlah hal yang terlalu mengejutkan.

Seorang cendekiawan pernah mengibaratkan bahwa mendekati Demonic Domain di Southern Region sama seperti melintasi gugusan seratus pulau. Karena pernah melihat laut dan berlayar di pesisir, perumpamaan tentang seratus pulau itu sangat mudah dipahami maknanya.

Artinya, ada sekitar seratus Demonic Domain kecil yang tersebar mengelilingi Demonic Domain utama.

"Kalau memang ada seratus tempat seperti itu, berapa banyak yang rencananya mau kau bersihkan?" tanya Rem.

Encrid menjawab dengan tekad yang bulat.

"Semuanya."

Jika memungkinkan, itulah hal yang hendak ia lakukan.

Rem mengangguk paham.

Komandan mereka memang sosok yang selalu bertindak seperti itu.

Jika mereka tadi tidak berpapasan dengan Cyclops, Encrid pasti akan sengaja melacak keberadaan monster tersebut.

Bagaimana mungkin ia membiarkan monster berjuluk "Demon" berkeliaran begitu saja tanpa dibereskan?

Hal itu jelas pantang baginya.

Bahkan jika hanya didorong oleh rasa penasaran murni, ia pasti akan menghadapinya.

"Di sebelah sana," tunjuk Jaxon ke satu arah, dan Shinar mengangguk setuju.

Di antara seluruh anggota rombongan, Shinar memiliki kepekaan indra paling tajam dan kemampuan mengenali kejanggalan di sekeliling mereka.

Di hadapan mereka terbentang hutan lebat dengan dedaunan berwarna cokelat pekat.

Bukan Gray Forest, melainkan kawasan yang biasa disebut orang sebagai Brown Forest.

Warna daunnya memancarkan nuansa ganjil yang memicu rasa tidak nyaman.

"Penuh dengan benda-benda yang tidak bisa dimakan," celetuk Luagarne seraya menggembungkan pipinya sedikit.

Mereka bahkan belum melangkah masuk ke dalam hutan, tetapi Encrid sudah bisa melihat berbagai makhluk aneh menggeliat dan melata di atas tanah.

Sebagian tampak seperti cacing tebal, sementara yang lain memiliki bentuk bulat menggelinding. Ekosistem di tempat itu telah terdistorsi parah oleh pengaruh Demonic Domain—bahkan serangga-serangganya pun bermutasi menjadi aneh.

Angin berembus dari depan, membawa aroma ganjil dari dalam hutan ke arah mereka.

Bau busuk bangkai tercium pekat di udara.

"Kudengar ini adalah sarang monster yang dijuluki Parasitic Beast. Konon seorang Junior Knight pun bisa tumbang jika sampai lengah..."

Seiring dengan ucapan Ropord, sesosok pendekar pedang melangkah keluar dari kegelapan hutan.

Sebelah wajahnya dipenuhi jalinan urat cokelat yang menonjol mengerikan, dan kedua bola matanya hanya memperlihatkan bagian putihnya saja.

Ropord seketika meralat ucapannya.

"Tampaknya sudah ada yang menjadi korban."

Sosok itu tampak jauh lebih mirip monster daripada manusia biasa, sehingga Rem tak membuang waktu sedetik pun.

Saat pandangannya tertumbuk pada musuh, kapak tangan di genggamannya sudah melesat membelah udara.

Dengan suara siulan tajam, kapak itu terbang lurus mengincar kepala sang pendekar pedang—bagaikan berpindah tempat dalam sekejap—

Brak!

Pendekar pedang itu menangkisnya dengan memiringkan greatsword miliknya secara presisi.

Encrid yang mengamati dengan saksama langsung berseru.

"Jangan bunuh dia!"

"Kenapa?" tanya Rem seraya menoleh, merasa yakin bahwa makhluk aneh di depan mereka bukanlah tandingannya.

"Aku kenal wajah itu," sahut Encrid.

Ia bersungguh-sungguh.

Nama pria itu adalah Roman, dan ia adalah seorang Junior Knight.

Roman, sang Junior Knight yang seharusnya bertugas di kota Oara, kini berdiri di hadapan mereka dengan mata yang memutih tak bernyawa.

"Kupotong saja kakinya?" tanya Rem menawarkan solusi.

"Jangan, lumpuhkan saja dia," balas Encrid tegas.

Tergantung bagaimana seseorang memandangnya, tugas itu terdengar cukup menantang.

Roman, yang dulunya adalah seorang Junior Knight, mengayunkan greatsword miliknya—dan udara seketika berdentum keras di bawah hantaman kekuatan fisiknya yang dahsyat.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.