Bab 733: Air yang Tumpah Kemarin Tak Bisa Diraih Kembali Hari Ini
Tempaan latihan fisik selama bertahun-tahun telah menanamkan kebiasaan refleks tertentu ke dalam tubuhku, sehingga bahkan saat tertidur lelap sekalipun, aku sanggup merasakan gangguan sekecil apa pun di sekitarkuāsama sekali tak ada yang perlu kukhawatirkan.
Terlebih lagi, ditinggalkan seorang diri di alam liar sama sekali tidak membuatku merasa murung atau kesepian.
Aku memang tidak punya waktu luang untuk meratapi kesendirian.
*'Ilmu pedang.'*
Sebaliknya, keheningan dan kesunyian alam justru menjadi momen paling sempurna untuk menata kembali teori ilmu pedangku dan merapikan berbagai alur pemikiran di dalam kepala.
Bukankah ada begitu banyak pelajaran berharga yang telah kuserap selama ini?
Paling baru, teknik-teknik ilmu pedang kekaisaran Empire dan bahkan hawa keberadaan sosok ksatria tangguh seperti Balmungāsegalanya telah menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga.
*'Imperial Knight.'*
Encrid telah mengamati sosok Balmung dengan sangat cermat sepanjang perjalanan mereka.
Ia telah memperhatikan kontur otot-otot tubuhnya yang terlatih menggunakan matanya, serta mendengarkan dengan saksama setiap desah tarikan napas dan derap langkah kakinya menggunakan telinganya.
Secara alami, ia juga berusaha mengerahkan seluruh indra persepsi lainnya.
Pengalaman tempur seperti apa yang telah dikumpulkan pria perkasa itu sepanjang hidupnya?
Serangan maut macam apa yang akan ia lancarkan dalam pertarungan hidup-mati yang sesungguhnya?
Jika sang Kepala Keluarga Tempest Yohan diibaratkan seperti sebilah pedang besar yang teramat perkasa, dan Alexandra menyerupai sebutir duri beracun yang menusuk tajamā
*'Maka Balmung bagaikan perpaduan mematikan antara pedang, tombak, dan gada besi.'*
Bayangan yang terlintas di benaknya adalah sebilah mata tombak, sebilah kapak perang, sebilah pedang, dan sebatang gada berduri yang mencuat berbahaya dari balik celah-celah barisan perisai baja.
Di dalam bayang-bayang gelap di antara perisai-perisai itu, seolah-olah ada sebutir mata buas yang mengintai mangsanya dalam kesenyapan.
*'Ia sangat lihai menyembunyikan dirinya sembari menghujamkan bilah senjatanya tanpa terduga.'*
Di permukaan luar, pria itu tampak hanya membawa sebatang gada pemukul biasa, namun ia pasti menyembunyikan segudang senjata rahasia di balik baju zirahnya.
Apakah itu bisa disebut kelicikan?
Alih-alih kelicikan, lebih tepat jika dikatakan bahwa ia hidup sesuai dengan prinsip yang ia perkenalkan sendiri sejak awal.
*"Dia akan menggunakan cara apa pun demi meraih kemenangan."*
Haruskah aku melawannya hanya mengandalkan ilmu pedang taktis?
Hanya berpegang pada satu pendekatan kaku itu saja?
Membatasi diriku sendiri di medan tempur hanya akan melenyapkan seluruh peluang kemenanganku.
Bagaimanapun juga, manusialah yang mengendalikan dan mengayunkan teknik pedang.
Terjebak dan terkungkung di dalam satu teknik tunggal adalah sebuah kebodohan mutlak.
Saat bertarung hidup-mati, kau pantang membelenggu dirimu seperti itu.
Persis seperti bagaimana aku memadukan teknik Sword of Chance dengan Swift Flash demi membelah tubuh pria keparat bernama Gelt itu tempo hari.
Demi menghadapi lawan sekelas Balmung, aku harus mengerahkan segala daya upaya dan teknik yang kumiliki tanpa sisa. Dan bahkan jika kulakukan itu semua, memprediksi siapa yang akan keluar sebagai pemenang tetaplah perkara yang sangat sulit.
Encrid menemukan sebuah gua batu yang nyaman untuk bermalam. Ia tidak menyalakan api unggun; sebaliknya, ia mencari buah-buahan liar beraroma menyengat di sekitar tebing, menghancurkannya, lalu membalurkannya ke sekujur tubuhnya.
Ini adalah trik bertahan hidup yang sangat umum digunakan oleh para pemandu hutan atau tentara bayaran kawakan yang bepergian seorang diri.
Dengan melakukan itu, kau bisa menghapus aroma tubuh manusiamu, sehingga jauh lebih mudah untuk menghindari monster buas atau binatang iblis yang memiliki indra penciuman teramat tajam.
Jika ada jejak kotoran binatang liar biasa di sekitarnya, itu adalah pertanda yang jauh lebih baik.
Jika suatu wilayah dikuasai sepenuhnya oleh monster atau binatang iblis, binatang liar biasa takkan berani berkeliaran di sana, sehingga keberadaan kotoran hewan menandakan bahwa area tersebut relatif aman untuk ditempati.
Karena jajaran pegunungan Pen-Hanil Mountains dipenuhi oleh monster dan binatang iblis buas, batas-batas wilayah teritorial ini justru terlihat jauh lebih jelas.
Jika tidak, seluruh binatang liar pasti sudah musnah dibantai dan hanya monster-monster kelaparan yang merayap di mana-manaāitulah hakikat sejati dari sebuah Demonic Domain.
Orang-orang sering mengatakan bahwa bagian tengah dari pegunungan Pen-Hanil Mountains menyerupai sebuah Demonic Domain, namun hal itu tidak berlaku untuk sebagian besar wilayahnya.
Di bentang alam ini, monster buas, binatang iblis, dan satwa liar biasa hidup berdampingan di wilayah masing-masing.
Maka, garis batas teritorial mereka sangatlah tegas.
Tentu saja, jika kau sedang sial, kau tetap bisa berakhir menjadi santapan lezat para monster, namun hal semacam itu takkan pernah terjadi pada diri Encrid.
Jika ada yang harus mati, justru para monster atau binatang iblis malang itulah yang akan meregang nyawa di tangannya.
Ia sama sekali tidak sedang terburu-buru, jadi tak ada alasan baginya untuk berlari menerjang rute terpendek menuju markas Border Guard.
Bukannya ia sengaja mengulur-ulur waktuāEncrid murni melangkah mengikuti dorongan kata hatinya.
Ia memperhitungkan bahwa ia masih memiliki cukup banyak waktu luang, jadi ia memanfaatkan malam di dalam gua untuk merenung dalam-dalam, meninjau kembali apa yang telah ia pelajari, serta melatih fisiknya.
Ia menyayat udara menggunakan tepi telapak tangannya, memutar dan menggeser postur tubuhnya demi menguji kuda-kuda tempur baru.
Mengingat kembali berbagai variasi teknik praktis yang pernah diperagakan Balmung adalah sebuah proses belajar yang sangat berharga bagi jiwanya.
Bagaimanapun juga, semakin kaya pengalaman tempur yang kau kumpulkan, semakin perkasa dirimu.
*'Tentu saja, aku harus sangat berhati-hati agar tidak menyerap kebiasaan-kebiasaan buruk.'*
Seorang ksatria yang telah mencapai tingkatan ini memiliki kontrol yang luar biasa sempurna atas setiap serat otot tubuhnya, sehingga nyaris tak ada risiko baginya untuk membentuk kebiasaan yang keliru.
Setiap kali rasa kantuk mulai merayap, ia hanya memejamkan mata untuk tidur sejenak. Ia sama sekali tidak merasakan kelelahan batin yang menumpuk. Tubuhnya memang merasakan sedikit letih akibat perjalanan jauh, namun itu bukan masalah berarti.
*'Bahkan andai aku harus bertarung hidup-mati saat ini juga, aku sanggup mengatasinya dengan mudah.'*
Itu adalah malam tepat setelah ia berpisah jalan dengan Balmung.
Malam itu disinari oleh dua rembulan yang bersinar terang benderang di angkasa luas, dengan kerlap-kerlip bintang yang bertaburan seolah menolak kalah gemilang dari sang dewi malam.
Suara lolongan malam di kejauhan, nyanyian jangkrik yang bersahut-sahutan, serta gemerisik dedaunan yang tertiup angin sepoi-sepoiāEncrid baru saja hendak memejamkan matanya untuk tidur lebih lama, menjadikan suara-suara malam musim panas yang familier itu sebagai lagu pengantar tidurnya.
Tiba-tiba saja, ia mendapati dirinya telah berdiri tegak di atas haluan sebuah perahu kayu.
Itu adalah undangan gaib dari sang Ferryman.
Berdiri di atas aliran sungai hitam yang pekat dan tak berdasar, sang Ferryman menggenggam lentera minyak berwarna violet seraya menatap lurus tepat ke arahnya.
Apakah pemandangannya sama persis seperti biasanya?
Ada beberapa perbedaan yang mencolok malam ini.
Wajah sang Ferryman tampak jauh lebih jelas dan nyata daripada sebelumnya.
Kulit wajahnya pecah-pecah dan retak menyerupai tanah tandus abu-abu, dan bentuk wajahnya tampak sedikit lebih panjang, tertarik vertikal dibandingkan perjumpaan terakhir mereka.
Sepasang bola matanya yang hitam pekat tanpa pupil tidak memantulkan apa pun di dalamnya, begitu pula dengan rongga mulutnya.
Lidahnya berwarna ungu pekat, dan bagian dalam mulutnya tampak bagaikan jurang Abyss yang mengangaāgelap gulita tanpa dasar.
Jika kau menyelam ke dalam kolam yang teramat dalam dengan cara yang salah, kau bisa kehilangan orientasi arah atas-bawah lalu tenggelam binasa.
Persis seperti itulah penampakan rongga mulut sang Ferryman.
Itu adalah pemandangan mengerikan yang sengaja diciptakan demi memicu rasa teror paling purba di dalam jiwa setiap manusia fana.
Makhluk itu selalu memancarkan aura asing yang bukan berasal dari dunia ini, namun malam ini aura mistis itu terasa jauh lebih pekat dan mencekik.
Sang Ferryman membuka suaranya, berpura-pura bersikap lembut dan ramah.
"Naiklah ke atas perahu."
Keramahan itu hanyalah sebuah sandiwara palsu.
Insting batin Encrid yang tajam membisikkan kepastian itu tanpa ragu.
Namun ia belum bisa menebak apa tujuan di balik sandiwara munafik ini.
Bukankah sebelumnya sang Ferryman selalu mendesaknya untuk menyelamatkan nyawa Anneādemi mempertahankan hari ini yang mungkin sama langkanya dengan sebutir rezeki emas?
Ia tak pernah merasakan kebaikan tulus dari makhluk gaib ini sebelumnya, dan malam ini terasa sangat berbeda dari malam-malam lainnya.
*'Apa yang membedakannya?'*
Bayangan hitam pekat yang panjang membentang luas di belakang tubuh sang Ferryman. Bayangan yang biasanya nyaris tak terlihat itu kini membesar dan melebar memenuhi ruang.
Jika ia harus menamai bayangan hitam itu sebagai 'niat jahat murni', itu akan menjadi sebutan yang teramat sempurna.
Ya, malam ini, sang Ferryman meluap-luap oleh niat jahat yang begitu pekat.
Saat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, yang terlihat bukanlah gusi manusia, melainkan kegelapan abadi yang pekat.
Tak seperti biasanya, aliran sungai hitam di bawah perahu membeku tenang tanpa riak sedikit pun.
Seolah-olah sungai gaib itu pun ikut gemetar ketakutan menyaksikan niat jahat yang dibeberkan oleh sang Ferryman, melangkah mengendap-endap dalam kesenyapan.
"Kau bersikap agak terlalu ramah menyambutku malam ini."
"Kalau aku tidak menyambutmu dengan hangat, lantas siapa lagi yang pantas kusambut? Di dalam pekatnya kegelapan jurang Abyss ini, hanya ada satu hal tunggal yang sanggup memberikan kebahagiaan sejati bagiku."
Makhluk itu mengucapkannya dengan wajah yang tersenyum lebar.
"Dan hal membahagiakan apa yang kau maksud itu?"
"Mengulang hari penuh kenikmatan surgawi, ekstasi, kelezatan fana, kebahagiaan mutlak, dan pesta pora iniālagi dan lagi tanpa pernah berakhir."
Encrid tidak menangkap adanya kepalsuan murahan dalam perkataan sang Ferryman.
Sebaliknya, ia melihat sebuah kegigihan obsesif yang luar biasa gila.
Dari mana kegigihan buta itu berasal?
Itu adalah hasrat purbaāsebuah kerinduan dan dahaga nafsu yang teramat mendalam.
Sang Ferryman memang bukan manusia, namun alur pemikirannya tidak jauh berbeda dari makhluk fana.
*'Jika kau benar-benar ingin memahami seseorang, kau wajib mengetahui apa yang sesungguhnya paling mereka hasratkan di dunia ini.'*
Ia mengingat kembali pelajaran berharga yang ia petik dari mengamati sosok Hescal tempo hari.
Sang Ferryman malam ini dipenuhi oleh niat jahat. Alasan kenapa niat jahat itu terpancar begitu jelas dan kasat mataā
*'Itu karena makhluk ini sedang membeberkan niat aslinya yang sebenarnya.'*
Sosok Ferryman yang jujur dan tanpa tedeng aling-aling.
Hal yang dulunya hanya ia bisikkan secara terselubung, kini ia nyatakan secara terang-terangan di depan mata.
Kata-kata yang ia lontarkan memancarkan ketulusan nafsu yang begitu murni.
Mengulang hari yang berlumuran kenikmatan ekstasi fana tiada akhir.
Itulah hal yang sesungguhnya paling dihasratkan oleh sang Ferryman.
"Apa yang akan terjadi andai waktu itu aku gagal melindungi Anne?"
Senyuman iblis di wajah sang Ferryman meliuk melingkar ke atas bagai pusaran kegelapan.
Debu-debu halus berjatuhan dari celah-celah retakan kulit abu-abunya yang tandus.
"Kau akan menghabiskan setiap harimu dalam jeritan rasa sakit dan penderitaan tak berujung akibat racun penyakit mematikan itu, mengulang hari yang sama berulang-ulang kali. Itu pun tidak terlalu buruk sebenarnya. Ya, sama sekali tidak buruk bagiku, tapi apakah akhir tragis semacam itu yang sesungguhnya kau harapkan?"
Sang Ferryman mendesakkan pertanyaan itu sekali lagi. Encrid hanya membalas tatapannya dalam keheningan total.
"Hari mengerikan itu pasti akan tiba, cepat atau lambat. Hanya dengan salah melangkah setengah jengkal di persimpangan jalan takdir, waktu kehancuran yang tak bisa diputar kembali akan menelanmu bulat-bulat."
Sang Ferryman bukanlah seorang nabi peramal masa depan.
Hal itu sudah sangat dipahami Encrid sejak lama.
Meski begitu, rasanya seolah-olah segala malapetaka yang diucapkannya pasti akan menjadi kenyataan yang tak terelakkan.
"Lihatlah sendiri."
Sang Ferryman memperlihatkan kepadanya sebuah garis masa depan yang belum terjadiāsebuah hari ini yang belum pernah ia hadapi.
Di dalam ilusi itu, Encrid menyaksikan tubuhnya sendiri meregang nyawa dalam penderitaan akibat racun wabah penyakit Dmule.
*"Kalau kau bilang kau menikmati pertarungan apa pun, seharusnya kau bersungguh-sungguh dengan kata-katamu!"*
Sepasang mata Ragna menggelap pekat penuh duka saat menyaksikan Encrid mati perlahan di depannya.
Di samping pemuda itu, terbaring jasad kaku Anne yang sudah tak bernyawa.
Pemandangan di sekitarnya tampak buram dan kacau, namun ada satu fakta mengerikan yang teramat pasti.
Di dalam garis masa depan itu, Encrid terperangkap di dalam lingkaran neraka tanpa akhir, menjadikan rasa sakit dan penderitaan sebagai satu-satunya kawan setianya saat ia mengulang hari yang sama berulang-ulang kali.
Dengan tiadanya sosok tabib yang tersisa untuk menyembuhkannya, ia hanya bisa mengalami siksaan kematian abadi tanpa pernah bisa lolos.
Suara sang Ferryman menghunjam dalam, bagaikan jemari tajam yang mencabik-cabik luka lama yang belum sembuh.
"Aku telah menolongmu."
Kata-katanya meluncur bagaikan puluhan bilah belati beracun yang menikam tepat ke ulu hati Encrid.
Sang Ferryman memang selalu turun tangan di setiap momen krusial kehidupannya.
Makhluk itu telah memperingatkan Encrid sebelum monster-monster buas menyerang Anne, dan sebelum setiap pertempuran hidup-mati meletus, ia selalu memberikan petunjuk-petunjuk penting.
Apakah ini sebuah kebenaran mutlak?
Bukan hal itu yang terpenting saat ini.
Sang Ferryman sedang mengaduk-aduk rasa takut paling purba yang secara alami dimiliki oleh setiap manusia hidup.
Lakukan satu kesalahan kecil saja di medan perang, dan kau akan terperangkap selamanya di dalam hari ini yang teramat mengerikan.
Waktu yang telah bergulir takkan pernah bisa diputar kembali.
Air yang telah tumpah kemarin takkan pernah bisa kau raih kembali hari ini.
Encrid menundukkan pandangan matanya, tak sanggup menyahut.
Bagi sang Ferryman, reaksi bungkam itu sudah sangat ia duga sejak awal.
Siapa pun yang dihadapkan pada rasa takut yang selama ini sengaja mereka abaikan pasti akan membeku lumpuh. Pada detik kelemahan itulah, makhluk itu hanya perlu menyusupkan apa pun hasrat yang ia inginkan ke dalam jiwanya.
"Duduklah di meja judi. Aku yang akan memastikan kau selalu menang besar."
"Rengkuhlah wanita-wanita cantik di dalam pelukanmu. Tenggelamkan dirimu ke dalam kenikmatan syahwat yang belum pernah kau kenal di dunia fana ini."
"Tenggaklah obat-obatan terlarang itu. Kau akan merasakan gelombang euforia luar biasa mengalir membanjiri sekujur tubuhmu."
"Kau suka seni pedang? Tebaskanlah bilah pedangmu. Kau ingin menebas sesuatuāapa pun itu? Lakukanlah sesukamu. Lampiaskan segala nafsumu. Aku yang akan membantumu mewujudkannya."
Dengan seringaian iblis yang bengkok, sang Ferryman memahat kehendak sesatnya ke dalam ruang hampa yang ditinggalkan oleh rasa takut.
"Jalani hari-harimu tenggelam di dalam lautan kenikmatan fana."
Sang Ferryman sangat mendambakannya: sebuah masa kini yang dipenuhi oleh ekstasi, kegembiraan liar, kelezatan inderawi, pesta pora, dan kenikmatan instan yang langsung memuaskan dahaga nafsu.
Rasa takut paling mendasar dari seorang manusia menindih setiap serat jiwa raga Encrid.
*'Lindungi Anne.'*
Segala perkataan yang pernah diucapkan sang Ferryman kini berbalik menghantam Encrid, menjelma menjadi monster-monster teror baru.
Makhluk ini pasti telah merancang seluruh skenario ini murni demi satu momen keruntuhan batin ini. Bahkan menyelamatkan Anne, bahkan menolong Encrid di masa laluāsemuanya adalah bagian dari rencana liciknya.
Satu kesalahan langkah saja, maka semua orang di sekitar Encrid akan tewas mengenaskan. Hari ini takkan pernah bisa ditarik kembali.
Ya, ia mengakuinya. Kenyataan itu teramat fatal. Rasa takut merayap dingin menginvasi setiap jengkal tubuhnya. Sangat mudah baginya untuk menyerah dan ambruk pasrah pada detik ini juga.
Kekuatan mental manusia bukanlah tanpa batas; jiwa manusia pasti akan terkikis dan aus jika dihantam terus-menerus.
Begitulah cara sang Ferryman menjebak jiwa manusia dengan teror rasa takut, lalu mendoktrin bahwa hanya ada satu jalan keluar yang tersisa: menyerah pada kenikmatan nafsu.
Encrid pun merasakan teror rasa takut itu meremas dadanya. Bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang manusia biasa.
Namun rasa takut dan teror selalu terasa paling mengerikan pada kali pertama kau mengalaminya.
Semakin sering kau melewatinya, semakin kau sanggup menanggung bebannya.
Rasa takut mungkin adalah salah satu emosi paling kuat yang menggerakkan manusia. Terutama saat kenikmatan fana menanti di seberang sana sebagai hadiah pelariannya.
Dan tepat pada detik ini, Encrid menarik garis batas yang tegas antara apa yang sanggup dan tidak sanggup dilakukan oleh sang Ferryman.
*'Ferryman sanggup memprediksi dan menilai masa depan dengan mengamati masa kini, namun ia sama sekali tidak bisa mengetahui masa laluku.'*
Andai sang Ferryman mengetahui masa lalunya, makhluk itu takkan repot-repot menggunakan rasa takut murahan semacam ini demi mengguncang keteguhan hatinya.
Pria berkebiasaan aneh yang menggenggam lentera violet itu sama sekali tidak tahu siapa jati diri Encrid sebelum lingkaran waktu hari ini mulai berulang.
Encrid mengingat kembali masa lalunya yang kelam.
Seluruh kawan berharga yang harus tewas karena ia dulu tidak memiliki kekuatan apa pun.
Orang-orang yang gagal ia selamatkan dengan kedua tangannya sendiri.
Garis-garis takdir yang hancur berantakan hanya gara-gara satu pilihan yang salah.
Pengalaman-pengalaman pahit dan mengerikan yang telah ia laluiāberulang-ulang kali tanpa henti.
"Kalau aku berhenti melangkah di sini, maka tak ada satu pun hal yang kuperjuangkan selama ini yang memiliki arti."
Kalimat tegas itulah yang meluncur tenang dari bibir Encrid.
Ekspresi wajah sang Ferryman seketika terdistorsi bengkok.
Itu jelas bukan lagi sebuah senyuman seringai, melainkan wajah yang dipenuhi oleh rasa murka dan kejengkelan yang teramat mendalam.
Lentera violet di tangannya mulai bergetar hebat, dan tak lama kemudian, permukaan sungai hitam yang membeku mulai beriak liar.
"...Kau pasti akan menyesalinya seumur hidupmu."
"Aku sudah menyesalinya, setiap hari sepanjang hidupku."
Keheningan total menyelimuti ruang gaib itu.
Wajah sang Ferryman tidak berubah bentuk lagi, namun ekspresinya tampak jauh lebih masam dan terpelintir dalam seringaian geram.
Lalu Encrid merasakan tubuhnya mendadak melayang tanpa bobot.
Pemandangannya tampak bagaikan serpihan mimpi, namun ia juga samar-samar mendengar beberapa suara aneh yang berdengung riuh di sekelilingnya.
*"Kerja bagus!"*
*"Dasar bajingan keras kepala."*
*"Begitulah cara bertarung yang benar!"*
*"Inilah alasannya kenapa kau harus selalu memasang taruhan koin emas pada peluang tertinggi!"*
*"Lihat ekspresi wajah si keparat itu, hahaha!"*
Bercampur di dalamnya adalah suara tawa terbahak-bahak dan kekehan riang dari entitas-entitas misterius yang tak kasat mata. Secara keseluruhan, situasinya terasa sangat kacau dan gaduh.
Berisik sekali.
Itulah hal pertama yang terlintas di benak Encrid saat ia membuka matanya.
Menarik kesadarannya keluar dari suara-suara gaib ituāentah itu murni halusinasi atau serpihan mimpiāia membuka matanya lebar-lebar lalu memandang ke sekeliling gua.
Malam masih pekat gelap gulita.
Tak ada suara monster buas ataupun binatang liar di sekitarnya.
Bukan ancaman bahaya fisik yang membangunkannya dari tidur lelap.
Encrid mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
*'Syukurlah.'*
Rupanya ia sempat meneteskan beberapa butir air mata dalam tidurnya.
Andai hal memalukan ini terjadi di barak militer Border Guard dulu, Rem dan kawan-kawan pasti sudah langsung mengejeknya dan menjulukinya sebagai "pemimpin regu cengeng".
Lalu Krais pasti akan berkeliling menyebarkan julukan memalukan itu ke seluruh penjuru benteng.
Orang-orang itu memang benar-benar gila.
Encrid memejamkan matanya kembali untuk beristirahat sejenak, lalu bangkit berdiri tepat saat fajar menyingsing di ufuk timur.
Ia memperkirakan arah jalannya dengan menatap titik di mana matahari pagi terbit lalu mulai melangkahkan kakinya. Alih-alih langsung menuju ke markas Border Guard melalui jalur lurus, ia memilih rute memutar yang jauh lebih santai dan nyaman.
Tepat saat itulah ia menemukan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
Ada jejak-jejak keberadaan manusia yang baru saja melintasājalur rumput yang terinjak pipih di antara semak belukar liar serta sisa aroma manusia yang samar di udara membeberkan segalanya.
Ini adalah wilayah perbatasan di sekitar jajaran pegunungan terjal yang membelah kekaisaran Empire dan daratan Continentātempat ganas yang sama sekali tidak layak untuk dihuni oleh manusia biasa.
Lantas, apa arti dari jejak-jejak kaki ini?
Apakah ini jejak yang ditinggalkan oleh para pemburu? Namun lokasi ini berada terlalu jauh di pedalaman hutan belantara. Pemburu datang ke hutan demi berburu mangsa, bukan demi mencari mati bunuh diriāmereka takkan pernah berani berkeliaran sejauh ini.
Siapa pun yang tidak merasa penasaran dalam situasi seperti ini tidak pantas menyebut dirinya sebagai manusia.
Encrid mengikuti jejak-jejak samar ituātanda-tanda yang begitu halus sehingga hanya sosok beruntung dengan kepekaan indra seperti dirinyalah yang sanggup menemukannya.
Hingga akhirnya, jejak-jejak itu menuntun langkahnya menuju ke sebuah perkampungan tersembunyi.
Pada detik pertama ia menyaksikannya, ia sudah bisa langsung menebak pemukiman macam apa yang berdiri di depannya saat ini.
*'Village of HermitsāDesa Para Buronan.'*
Di daratan Continent, tatanan masyarakat tidak memungkinkan berdirinya desa-desa kecil yang terisolasi. Karena tanah liar dipenuhi oleh monster dan binatang buas, umat manusia terpaksa bersatu padu dan hidup mengelompok di dalam kota-kota benteng bertembok kokoh.
Meski begitu, selalu ada segelintir orang yang tidak sanggup beradaptasi dengan kehidupan kota dan berakhir terlunta-lunta mengembara dari satu tempat ke tempat lain.
Mungkin mereka tak tahan menanggung penindasan kejam sang tuan tanah bangsawan, atau mungkin mereka dijebak fitnah palsu, atau bahkan memang melakukan kejahatan kriminal berdarah.
Lantas ke manakah orang-orang terbuang semacam itu pergi demi bertahan hidup?
Mereka melarikan diri ke pedalaman terpencil, bersembunyi di balik bayang-bayang dan melakukan cara apa pun demi menyambung nyawa.
Mereka harus tetap tak terlihat dari pandangan para monster dan binatang iblis, sehingga mereka menjalani berbagai macam cara hidup yang ekstrem hanya demi bertahan hidup satu hari lagi.
Jejak-jejak pemukiman di hadapanku saat ini ditinggalkan oleh desa pelarian semacam itu.
Pengamatan sekilas mengungkapkan bahwa para penduduk desa ini telah dengan sangat cerdik memanfaatkan kontur medan alami serta menggali perangkap-perangkap maut demi menghalau monster dan binatang buas mendekat.
*'Dan bukan hanya itu saja. Mereka kemungkinan besar juga memanfaatkan celah di antara garis perbatasan teritorial monster liar.'*
Ini adalah pemandangan yang teramat sangat familier di mata Encrid.
Bagaimanapun juga, ia sendiri dibesarkan dan tumbuh dewasa di dalam perkampungan buronan yang persis seperti ini.











