Eternally Regressing Knight

Bab 716 — Mau Berkeliaran ke Mana Kau?

2738 Kata

Bab 716 — Mau Berkeliaran ke Mana Kau?

Ragna mengira Encrid bakal memberitahunya di mana posisi terbaik yang harus ia tempati.

Itu adalah sebentuk rasa percaya—namun Encrid sama sekali tak membisikkan satu kata pun kepadanya.

*'Kenapa?'*

Secara garis besar jika medan perang dibagi ke dalam beberapa sektor, sang ayah, ibu, dan Lynox bertugas memagari garis depan, sementara posisi Ragna sedikit ditarik mundur ke barisan belakang.

Jadi meski telah menebas mati beberapa ekor monster mutan, ia belum benar-benar melangkah maju ke palagan terdepan.

Haruskah ia berlari merapat ke sisi sang ayah?

Menatap ke depan, ia bisa melihat barisan musuh yang teramat berbahaya mulai merangsek mendekat.

Di hadapan sang ibu, sesosok Death Knight tampak merangkak keluar dari liang tanah, menegakkan kepalanya di tengah amukan badai.

Lalu di manakah seharusnya ia berdiri?

Kenapa sang kapten tak memberinya komando apa pun?

Saat berdiri di posisi yang terbilang ambigu itu seraya mengamati dinamika perang, ia perlahan mulai memahami maknanya.

Alasan kenapa sang kapten memilih bungkam.

*'Apa perang berdarah ini adalah pertempuran milik sang kapten?'*

Bukan.

Pria itu hanyalah seorang pendukung dari luar.

*'Alasan kenapa amarahku membakar adalah karena tanah ini adalah rumahku.'*

Ia memang telah membulatkan tekad untuk menjalani sisa hidupnya sebagai anggota Unit Pasukan Gila di Border Guard.

Ketetapan hati itu sama sekali tak pernah berubah.

Namun klan Zaun—adalah tanah suci tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

*'Apa yang ingin kutinggalkan bagi dunia.'*

Kini ia telah memahaminya dengan sangat gamblang.

Ia ingin meninggalkan masa depan yang cerah bagi Ann.

Ia ingin menitipkan warisan berharga pada Encrid.

Secara garis besar, ia ingin melindungi orang-orang yang berharga di dalam hidupnya.

Dan ia berharap sang ayah serta ibunya pun termasuk di antara orang-orang yang berhasil ia selamatkan hari ini.

Ragna mulai menggerakkan langkah kakinya.

Kini ia tahu pasti ke mana arah tujuannya.

Pusat dari kobaran amarahnya berada di luar arena pertempuran utama.

Krisis maut yang sedang dihadapi oleh ayah dan ibunya—biarlah mereka berdua yang menuntaskannya dengan kekuatan mereka sendiri.

Amukan badai hujan yang menderu hebat mengacaukan koordinasi arah mata angin.

*SYUUUUT.*

Lolongan melengking dari para Scalor menumpulkan ketajaman panca inderanya.

Ular sihir kutukan yang melayang di langit menindih tubuhnya, memelintir koordinasi kelima inderanya.

Dan jauh di kejauhan sana, akibat pancaran aura sang Medusa—monster tingkat tinggi yang layak menyandang gelar penguasa Demonic Domains—ia bahkan tak sanggup membuka kedua matanya untuk menatap lurus ke depan.

Namun di tengah segala kekacauan sensorik itu, Ragna merasakan bakat tempur istimewa di dalam dirinya berkilau benderang.

*'Aku bisa melihat jalurnya.'*

Betapa pun inderanya dipelintir oleh kabut ilusi, tak ada kebingungan yang sanggup memblokir jalur jalan yang dipandu oleh bakat alaminya.

Ragna melangkah mantap ke depan.

Manuver ini bahkan berada di luar dugaan Encrid sekalipun.

Sejujurnya Encrid sempat berharap Ragna bakal tetap siaga di garis belakang dan baru terjun melompat di saat situasi darurat menuntutnya.

Namun takdir di atas medan perang tak selalu berjalan persis seperti yang direncanakan.

Itulah hakikat dari perang—dan begitulah dinamika kehidupan.

Ketidakpastian itulah yang terkadang mendatangkan kebahagiaan, dan terkadang melahirkan kepedihan.

Namun untuk saat ini, peristiwa ini patut disambut dengan seulas senyuman.

"Mau berkeliaran ke mana kau dengan gaya santai seperti itu?"

Usai melangkah cukup jauh dengan memanfaatkan tumpukan bangkai monster sebagai penanda jalan, sebuah suara menyapa pendengaran Ragna.

Sebuah suara yang teramat ia kenal.

*SWUUUSH.*

Di tengah guyuran hujan lebat, sesosok pria paruh baya menampakkan wujudnya, dengan rambut basah kuyup yang menempel di dahi dan pelipisnya.

Sambil menyibak rambut basah dari wajahnya, pria itu menanti jawaban dari sang pemuda.

Ragna menyahut tenang:

"Aku sedang dalam perjalanan mencari sosok keparat yang telah merancang kekacauan ini."

"Apa kau tersesat?"

"Tidak, kurasa aku sedang melangkah di jalur yang sangat tepat. Menemukan jalan yang benar adalah keahlian utamaku."

Hescal pada dasarnya adalah pria yang berwatak teramat tenang dan berkepala dingin.

Sangat jarang melihat pria itu tersulut emosi, bahkan sekali dalam setahun pun belum tentu terjadi.

Saat berselisih paham dengan Lynox sekalipun, ia tak pernah meninggikan nada bicaranya, begitu pula saat berdebat sengit dengan sang kepala keluarga—ia selalu bersikap santun dan terukur.

Hanya segelintir orang yang pernah melihatnya meledak marah.

Namun kini Hescal berbicara dengan secercah nada ketus, memperlihatkan secuil rasa jengkel yang sangat langka.

"Kenapa kau tidak diam mematung di tempatmu dan menunggu saja?"

"Aku melihat sebuah jalan, maka aku melangkah ke sana."

Sikap santai Ragna memancarkan rasa percaya diri mutlak yang hanya dimiliki oleh sosok yang percaya penuh pada kemampuannya sendiri.

Dan hal itu kian memperkeruh suasana hati Hescal.

Andai Ragna diam menunggu di posisinya tadi, Hescal bakal sangat mudah menemukannya—namun gara-gara bocah tengil ini kelayapan sembarangan, ia terpaksa membuang banyak waktu berputar-putar di luar arena pertempuran demi melacak jejaknya.

Hescal sendiri harus menempuh rute pencarian yang sangat berliku.

Bagaimana bisa ada orang waras yang nekat melenggang santai melintasi kawanan monster mutan yang sengaja ditimbun sebagai pasukan cadangan?

Bocah ini benar-benar gila—tak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkannya.

Namun Ragna tetap berkeras bahwa jalurnya adalah jalan yang benar.

*'Kalau aku tidak berinisiatif mencarimu, kau pasti bakal tersesat lalu baru kembali setelah semuanya berakhir.'*

Dari sudut pandang klan Zaun, wajar jika menganggap variabel kebetulan ini sebagai sebuah keberuntungan besar.

Andai Hescal tidak mencarinya, Ragna mungkin tak akan sempat kembali ke medan laga tepat waktu.

Namun andai Encrid berada di tempat ini dan menyaksikan jalur yang baru saja dilalui oleh Ragna—pria itu pasti bakal memahami niat taktis sang pemuda.

Tentu saja bagi Hescal, tindakan ini adalah kegilaan yang tak masuk akal.

Di saat ksatria lainnya sedang terkunci dalam duel maut yang mempertaruhkan nyawa, kenapa bocah ini justru kelayapan sendirian alih-alih membantu keluarganya?

Dari kacamata strategi perang ini adalah kekacauan fatal, dan dari sudut pandang moral manusia ini adalah keburukan terburuk.

Mengabaikan ancaman maut yang membayangi ayah dan ibunya, untuk apa ia kelayapan ke sektor terpencil ini?

"Kalau aku jadi Tempest, aku tak akan pernah mengampuni kelakuanmu ini."

"Ukuran fisikmu jauh lebih kerdil dibanding ayahku," sahut Ragna acuh tak acuh.

Saat melihat sosok Encrid, seseorang secara otomatis bakal membicarakan tentang seberapa besar kapasitas wadah jiwa seseorang.

Dengan pemahaman itu, Ragna merenungkan kembali jalan hidup yang telah ia tempuh hingga detik ini.

*'Aku telah menyerap begitu banyak pelajaran berharga.'*

Benar sekali.

Saat pertama kali mengangkat bilah pedang dulu, jalan lurus yang terbentang di depan matanya tampak begitu jelas dan teratur.

Namun tanpa melangkahinya secara nyata, kau tak akan pernah tahu wujud sejati dari jalan tersebut.

Jalan yang telah ia lalui selama ini memiliki tanjakan terjal.

Memiliki pula turunan curam.

Terkadang berbatu kasar, dan terkadang mulus beraspal.

Melangkahinya dengan kedua kakinya sendiri telah merombak total seluruh pemahaman hidupnya.

Tak ada yang namanya jalan takdir yang digariskan secara mutlak.

Saat prosesnya berubah, maka segala hasil akhirnya bakal ikut bermutasi.

*'Siapakah yang berhak menentukan batas kemampuan seseorang?'*

Kecuali jika seseorang adalah orang bodoh yang membiarkan dirinya dibelenggu oleh omongan orang lain, batas kemampuan seseorang ditentukan murni oleh dirinya sendiri.

"Jika aku membatasi diriku bahwa langkahku hanya sampai di sini."

Maka itulah garis akhir bagiku.

Encrid selalu berdiri menantang batas kemampuannya lalu menyangkal batas tersebut dengan pedangnya.

Ragna pun menyerap filosofi itu dan menirunya.

Jalan mendobrak batas kemampuan diri—

*'Terasa sangat menyenangkan.'*

Sensasi mendebarkan yang pernah ia rasakan saat pertama kali menggenggam bilah pedang dulu kini kembali membanjiri sekujur jiwanya.

Adakah hal di dunia ini yang sanggup menandingi kebahagiaan dari melangkah maju, berevolusi, lalu menyongsong domain dunia yang baru?

Pandangan mata Hescal jatuh mengamati greatsword di genggaman Ragna.

Mata pedang itu tampak kotor berlumuran lumpur pekat.

"Sunrise tidak ada di tanganmu."

Sunrise adalah sebilah longsword pusaka.

Dan dari postur tubuh Ragna saat ini, mustahil ia menyembunyikan pedang pusaka itu di balik pakaiannya.

"Aku akan mengambilnya nanti."

"Apa itu karena kau tak punya rasa percaya diri sanggup mengalahkan sang kepala keluarga?"

Syarat mutlak untuk menyandang Sunrise adalah meraih pengakuan tulus dari sang kepala keluarga, dan Tempest Zaun bukanlah tipe pria yang sudi mewariskan pusaka agung keluarga kepada seseorang yang kapasitasnya lebih rendah dari dirinya.

Bahkan andai itu adalah putra kandungnya sendiri, ia pantang menyerahkannya begitu saja.

"Pedang milikku adalah senjata pusaka berukir," ucap Hescal membanggakan senjatanya.

*'Sedangkan pedang di tanganmu hanyalah besi tua biasa.'*

Makna terselubung itu sengaja ia hilangkan dari untaian kalimatnya.

Ragna mengabaikan pameran itu lalu mencengkeram gagang greatsword miliknya dengan kedua tangan.

Ujung bilah pedangnya masih menempel di atas tanah, tidak terangkat ke langit, melainkan tergantung siaga di belakang pinggangnya.

"Kau menurunkan pedangmu karena takut tersambar petir?" sindir Hescal seraya mencoba menakar kapasitas mental Ragna lewat provokasi kata-kata.

*'Anak ini tak pernah berani mengambil risiko besar.'*

Kebiasaan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak mustahil bisa terkikis dengan mudah.

Ragna sejak belia memiliki kebiasaan buruk pantang menyimpang dari jalur aman yang telah ditentukan.

Hescal mengingat watak itu dengan sangat baik.

*'Jika ada lawan yang sanggup ia kalahkan seiring berjalannya waktu, ia tak akan repot-repot memaksakan diri untuk menang hari ini.'*

Ragna tak memiliki intensitas membunuh yang liar.

Berkat bakat alaminya yang terlalu genius, ia selalu sanggup mempelajari dan menguasai segala ilmu pedang dengan teramat mudah, sehingga kebiasaan menghindari risiko maut tertanam kuat di alam bawah sadarnya.

Mungkinkah beberapa pertempuran kecil di daratan utama benua sanggup menghapus tabiat bawaan tersebut?

Sangat mustahil.

Agar kebiasaan buruk itu hancur lebur, seseorang harus menyuntikkan teror bahaya maut ke dalam jiwa sang genius.

Namun berapa banyak ksatria di dunia ini yang bakatnya sanggup menyaingi seorang Ragna?

Sangat langka.

Bahkan di klan Zaun sekalipun, tak ada nama yang terlintas di kepalanya.

*'Pernahkah bocah ini bertemu lawan tanding yang membuatnya rela mempertaruhkan seluruh nyawanya?'*

Kemungkinan besar belum pernah.

Memiliki rekan tanding dengan bakat setara untuk diajak berduel mati-matian adalah salah satu keunggulan terbesar dari klan Zaun.

Namun Ragna tak pernah mengecap pengalaman berharga tersebut.

Bakatnya yang memicu rasa iri hati orang lain telah membentuknya menjadi sosok yang terlalu berhati-hati.

"Apa kau sudah belajar bagaimana cara bertarung mengerahkan segenap jiwa ragamu?" tanya Hescal memancing.

Ragna tak menyahut sepatah kata pun.

Kedua bola matanya yang merah menyala menembus kegelapan malam, berkilau memancarkan binar cahaya tajam.

Itu adalah bukti otentik bahwa sekujur tubuhnya kini telah dipenuhi oleh luapan Will murni.

*'Mari kita naikkan estimasi kekuatannya lebih tinggi dari perkiraan awalku.'*

Hescal memiliki tabiat selalu melebih-lebihkan kekuatan lawan dibanding menilainya secara presisi.

Karena itulah ia pantang bertarung mengandalkan tenaga mentah secara membabi buta.

Sebagai gantinya, ia selalu bersabar menanti celah kelemahan musuh terbuka.

Ia meyakini bahwa beradu kekuatan fisik secara frontal hanya akan mendatangkan kerugian taktis baginya.

Ia membuang jauh-jauh gagasan menundukkan musuh murni lewat kepadatan Will atau tenaga otot.

Doktrin bertarungnya sangat sederhana: mengunci pergerakan musuh dengan pedang nyata, lalu menebas mereka dengan bilah ilusi.

Terdengar sangat sederhana, namun bagi siapa pun yang menjadi sasarannya, jurus itu adalah mimpi buruk.

Teknik Single Point Focus pada dasarnya adalah ilmu pedang pusaka yang diwariskan turun-temurun di dalam kediaman klan Zaun.

Artinya, Hescal menguasai kedua teknik tersebut dengan sempurna.

Sambil bertukar kata-kata dingin, pikiran keduanya berputar kencang dalam kecepatan tinggi.

*'Aku akan memenggal kepalamu lalu melemparkannya tepat di depan kaki ayahmu.'*

Itulah yang terlintas di benak Hescal.

Di sisi lain, isi kepala Ragna benar-benar hening tanpa pikiran apa pun.

Ia hanya merasakan sensasi dingin dari greatsword di genggamannya—dan tak lama kemudian, bahkan sensasi fisik itu pun melebur lenyap dari kesadarannya.

Sosok yang pertama kali melancarkan serangan adalah Hescal.

Dengan hentakan kaki kilat ke tanah, ia melesat melompat—bukan dengan kecepatan lambat, melainkan secepat lesatan anak panah ksatria—dan menghujamkan pedangnya lurus ke depan!

Dengan tangan kiri terpilin di belakang punggung, ia memutar tubuhnya secara horizontal lalu melancarkan tusukan mematikan.

Tubuhnya bermutasi menjadi sebaris garis lurus, dan bilah pedangnya menjadi satu titik fokus tunggal yang membidik tepat di tengah dahi Ragna!

Ragna menggeser tubuhnya ke samping seraya tetap mempertahankan genggaman pada greatsword miliknya.

*TRANG, KRAK.*

Ujung bilah greatsword menggores tepi bongkahan batu besar yang menancap di tanah, memercikkan serpihan batu ke udara.

Usai meloloskan diri dari tusukan maut itu, keduanya bertukar posisi lalu kembali berdiri saling berhadapan.

Hescal masih menyembunyikan tangan kirinya rapat-rapat di balik punggung.

Apa pun senjata rahasia yang ia sembunyikan di sana, jelas bukan trik murahan yang bisa diremehkan.

Pedang ukir pusakanya kembali bergerak lincah.

Siapa pun yang dekat dengannya—termasuk putra angkatnya, Riley—mengetahui nama dari pedang tersebut.

Pedang itu menyandang nama Routine.

Bilah yang selalu meluncur di lintasan yang telah ditentukan dengan takaran tenaga yang telah terukur pasti, namun hampir mustahil untuk ditangkis—karena itulah ia dijuluki Routine.

"Bahkan saat ini, di saat kita membuang-buang waktu mengobrol seperti ini, ayahmu sedang sekarat meregang nyawa, Ragna."

Hescal berucap dengan nada bicara kebapaan yang teramat santun—lembut dan akrab, seolah ia benar-benar peduli mendesak Ragna agar segera berlari menyelamatkan sang ayah.

Tentu saja tujuan sesungguhnya adalah mengguncang kestabilan batin sang pemuda demi merebut dominasi psikologis.

"Apa kau benar-benar mempercayai bualanmu itu?" tanya Ragna balik.

"Sang kepala keluarga telah bertahun-tahun digerogoti penyakit kutukan, tubuhnya kian kurus kering. Bukankah kau sendiri sudah melihat betapa rapuhnya kondisi fisiknya sekarang?"

Ragna memang telah melihatnya.

Namun itu hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang ada.

Ragna mengingat dengan sangat jelas sosok ayah perkasa yang ia kagumi sejak masa kanak-kanak dulu.

"Alex sedang bertarung mati-matian melawan sesosok Death Knight saat ini."

Hescal sengaja memilih untaian kata yang menyengat batin alih-alih memberi semangat.

Namun ketenangan Ragna sama sekali tak goyah sedikit pun.

Mungkin di masa lalu—sebelum ia bertemu Encrid, bocah barbar sialan itu, kucing liar yang licik, serta sang fanatik religius—hatinya pasti bakal terguncang hebat.

Namun sekarang?

Sama sekali tidak.

Untaian kalimat Encrid jauh lebih tajam menyayat hati, dan bocah barbar itu jauh lebih lihai menusuk harga dirinya.

"Hescal."

"Katakan."

"Rambutmu rontok banyak ya sejak terakhir kali kita bertemu. Guyuran air hujan ini membuat kebotakanmu makin kelihatan jelas."

Ragna melontarkan provokasi kasualnya dengan sangat santai.

Hescal bukanlah tipe pria yang gampang kehilangan kendali emosi hanya gara-gara ejekan fisik semacam itu—namun ia cukup terkejut mendengarnya.

"Mulutmu jadi sangat pintar bersilat lidah sejak terakhir kali kita berduel."

"Ilmu pedangku berkembang jauh lebih hebat lagi dibanding mulutku."

"Hal itu masih harus kita buktikan. Tapi apa kau benar-benar berniat melawanku tanpa memegang senjata ukir pusaka? Kuberi kau satu kesempatan emas: Larilah. Buang dan khianati klan Zaun sekali lagi, persis seperti yang pernah kau lakukan dulu. Tak apa-apa, tak ada seorang pun yang bakal menyalahkanmu."

Sebuah manuver perang psikologis yang sangat matang.

Dalam urusan mencabik-cabik hati musuh, Hescal berada di level yang setara dengan Encrid.

Jelas sekali lelucon pria botak barusan belum cukup untuk meruntuhkan ketenangannya.

"Aku tak pernah sekalipun meninggalkan mereka."

"Oh ya? Lalu apa kami yang telah membuangmu?"

Berdebat adu mulut dengan pria ini jelas tak ada gunanya.

Ragna sebenarnya enggan merendahkan martabatnya ke tingkatan sekasar ini, namun khusus untuk kali ini saja, ia meminjam gaya bahasa khas milik Rem.

"Diam dan bertarunglah, keparat botak sialan! Berhenti mengibaskan lidah kotormu itu! Bau busuk mulutmu tercium menyengat sampai ke sini, menjijikkan sekali!"

Ragna sempat merasa sedikit bersalah karena telah melontarkan makian sekasar itu—namun rupanya trik itu bekerja dengan sangat efektif!

Alis Hescal sempat bertaut menegang sesaat sebelum akhirnya kembali mendatar tenang.

"Untaian kata yang teramat murahan dan menjijikkan. Bahkan di Hunters' Village sekalipun, kau tak akan pernah mendengar makian sekotor itu."

"Itu karena kau hanyalah seekor katak dungu yang terkurung di dalam sumur! Melangkahlah keluar mengarungi benua! Pergilah ke wilayah barat—kau bakal menemukan segerombolan bajingan yang bau mulutnya berkali-kali lipat jauh lebih busuk darimu!"

Terutama sosok keparat bernama Rem.

Hescal menarik napas dalam-dalam seolah hendak menyemburkan kutukan balasan, namun secara mendadak ia menghujamkan pedangnya lurus ke depan!

Lesatan serangannya kali ini dua kali lipat lebih kilat dibanding sebelumnya!

Ragna kembali meliuk menghindar.

Mata pedang sempat menyerempet pundaknya, menyayat putus pelindung bahu kulit yang ia kenakan.

Keduanya saling bertukar tebasan maut, masing-masing sibuk mengincar celah pertahanan lawan, hingga akhirnya Ragna mengayunkan greatsword miliknya—sebuah tebasan maut menyongsong ke atas!

*DUARRR!*

Udara badai meledak terbelah oleh daya dorong ayunan greatsword raksasa itu, memaksa Hescal untuk melompat mundur setengah langkah.

Di masa jayanya dulu, Hescal adalah salah satu dari tiga pendekar pedang paling genius di seantero kediaman Zaun.

Ia meloloskan diri dari tebasan badai yang sanggup membelah rintik hujan tersebut, lalu dalam sekejap mata kembali melancarkan tusukan kilat menyusul di belakangnya!

Ragna kembali bergeser meluncur ke samping—namun kali ini secara magis, bilah pedang di tangan Hescal mendadak memanjang melesat ke depan!

Sebuah serangan mematikan yang berada sepenuhnya di luar jangkauan kalkulasi Ragna!

Hescal tak pernah membocorkan nama sejati dari pedang ukir pusakanya kepada siapa pun di dunia ini.

Nama sejati dari pedang maut itu bukanlah Routine—melainkan Camouflage.

Tipu muslihat terkutuk yang terselubung di balik sebilah pedang lurus—sebuah senjata pusaka yang mencerminkan kepribadian munafiknya secara sempurna.

Camouflage menampakkan wujud sejatinya, menancapkan taring logamnya menembus pundak Ragna!

*JLEB!*

Suara robekan daging dan otot bergema parau.

Mata pedang itu menembus lapisan pelindung kulit lalu membuat lubang menganga bersimbah darah di bahu kanan Ragna!

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.