Eternally Regressing Knight

Bab 712 — Mengikis Kesalahan

2986 Kata

Bab 712 — Mengikis Kesalahan

Melalui ilmu pedang taktis gaya Luagarne, ribuan garis imajiner ditarik, dihapus, lalu dilukis kembali di dalam benak.

*'Jadikan tubuhku sebagai bilah pedang.'*

Taktik perang bermutasi menjadi instrumen seni berpedang.

Dan dengan begitu, Encrid melesat membelah medan pertempuran.

Dalam kondisi pengendalian terkendali, ia sama sekali tidak memancarkan hawa keberadaan ataupun luapan Will—hampa tanpa jejak.

Ia murni melesat maju mengandalkan daya ledak fisik tubuhnya yang telah ditempa ribuan kali.

Maka saat menemukan target berikutnya, ia langsung menghujamkan Three-Iron ke depan.

Andai ia menggeser kaki kirinya sedikit lebih melebar, tusukan itu bakal menghasilkan daya hancur yang jauh lebih masif—namun di tengah situasi genting ini, ia tak punya kemewahan waktu untuk hal tersebut.

Maka ia memperpendek jarak langkahnya lalu memanfaatkan putaran pinggang demi menyuntikkan tenaga rotasi ke dalam tusukannya.

Bersamaan dengan meledaknya ketegangan otot di sekujur tubuh, ia melapiskan pancaran Will di atas bilah pedangnya.

Mata pedang itu dengan lihai menembus lapisan sisik tebal sang Scalor, menyelinap melewati rahang bawahnya, lalu meremukkan batok kepalanya hingga hancur.

*CRASH! JLEB.*

Detik saat pedang itu menusuk tembus, ia langsung menariknya keluar secepat kilat.

Noda darah hitam dan serpihan otak sempat menempel di bilah logam, namun ini adalah arena maut yang diguyur hujan badai tanpa henti.

Kotoran itu langsung terbilas bersih dalam sekejap mata.

*DUARRR!*

Sambaran kilat meledak di dekat posisinya, memekakkan telinganya dengan dentuman dahsyat.

Dunia yang selama ini dipetakan oleh suara rintik hujan mendadak berubah menjadi putih menyilaukan.

Sinar benderang itu sempat membutakan pandangannya sesaat.

Encrid menghentikan langkahnya, menumpulkan sensitivitas panca inderanya sejenak.

Ia tak bisa langsung melompat bergerak.

Getaran masif yang mengguncang sekelilingnya membuat tanah berlumpur terasa seperti dilanda gempa bumi dahsyat.

Namun berhenti sejenak bukan berarti membuang-buang waktu secara percuma.

Ia pantang membiarkan satu hari pun berlalu tanpa memberikan usaha terbaiknya—namun saat ini, lebih dari sebelumnya, ia wajib memanfaatkan setiap detiknya dengan presisi mutlak.

Dan begitulah yang ia lakukan.

*'Pangkas pergerakan yang tidak perlu.'*

Dalam jeda waktu yang sangat singkat itu, ia menelusuri kembali proses pembantaian monster barusan.

Apakah tadi ia sempat membuang sepersekian detik dalam perjalanannya menuju target?

Akibatnya, seorang bocah ksatria—yang memadukan Gaya Eil Karaz dengan ilmu pedang Zaun—sempat terjerat cengkeraman Telekinesis sesaat.

Keterlambatan sepersekian detik itu nyaris saja merenggut nyawa sang bocah.

Encrid melihatnya sendiri—seekor Scalor bersayap selaput darah menukik tajam mengincar leher bocah malang tersebut.

Makhluk buas itu memang berhasil ditepis oleh belati lempar milik Riley, namun lengan bawah sang pendekar muda sempat tergores cakar beracun.

Bukan sekadar goresan tipis.

Lukanya cukup menganga hingga mengucurkan darah segar.

Dan menilai dari pergerakan sang bocah yang mendadak melambat kaku, cakar monster itu pasti dilumuri racun kelumpuhan.

Bocah itu memang tidak akan mati, namun klan Zaun kembali kehilangan satu orang petarung aktif.

Jika hal semacam ini terus berulang, barisan mereka cepat atau lambat pasti bakal kewalahan dibantai.

Singkatnya—

*'Bocah itu nyaris meregang nyawa.'*

Ia seolah bisa melihat gambaran mengerikan itu: tubuh kaku sang bocah terkapar tak bernyawa di atas tanah basah bersimbah darah.

Kejadian itu memang belum terjadi, namun bayangan maut itu tertanam kuat di kepalanya.

Ini sangat tidak bagus.

Encrid sama sekali tak berniat membiarkan satu pun ksatria yang berdiri di belakang punggungnya mati terbunuh.

Lalu apa yang harus ia perbuat sekarang?

*"Lemparkan pertanyaan. Lalu temukan jawabannya."*

Itulah doktrin fundamental dari ilmu pedang taktis gaya Luagarne.

*SWAAAAH…*

Guyuran hujan kembali tumpah deras, membuka kembali gerbang domain hitam dan putih di mata batinnya.

Dengan mata terpejam rapat, ia mengamati dinamika perang murni melalui getaran suara.

Atas pertanyaan bagaimana cara mencegah kematian rekan-rekannya, hanya ada satu jawaban mutlak:

*'Kikis segala bentuk kesalahan sekecil apa pun.'*

Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Bahkan sekadar meminimalkan kesalahan saja masih belum cukup.

Lalu apa langkah selanjutnya?

Pangkas jalur pergerakan fisik.

Raih efisiensi waktu.

Ciptakan ruang bernapas bagi rekan-rekanmu.

Lalu bagaimana cara menarik lintasan gerak sependek mungkin?

*'Tandai titik-titik kuncinya.'*

Lalu hubungkan titik-titik itu dengan garis lurus terpendek.

Bagaikan berlari di tepi jurang terjal, menari di atas tali tipis batas kemampuan fisik.

*KRAK.*

Pergelangan kakinya melentur lembut saat ia menjejakkan kaki ke tanah.

Sepatu botnya menancap mantap ke dalam tanah berlumpur.

Tanah becek yang terkompresi di bawah telapak kakinya memadat menjadi tumpuan pegas yang kokoh.

Encrid melompat melesat menuju titik koordinat berikutnya yang telah ia tandai.

Andai seseorang mengamati jalannya pertempuran dari atas langit, mereka bakal melihat bahwa lintasan lengkung anggun yang sebelumnya ia buat kini telah bermutasi menjadi garis-garis lurus yang sangat tajam.

*'Tepis bahaya yang melintas sepintas lalu.'*

Hanya dorong, hantam, atau tebas rintangan yang benar-benar menghalangi jalur utamamu.

Menggenggam Three-Iron di tangan kanan dan Penna di tangan kiri, ia melesat maju dengan langkah-langkah ritmis.

Ia merasakan denyut arus medan pertempuran dengan sekujur tubuhnya.

Nalurinya memilih target berikutnya, dan ia memutar tubuh ke arah sasaran—menebaskan Three-Iron ke samping dengan santai.

*DUG!*

Ujung bilah pedang menghantam siku seekor Scalor yang sedang menggenggam tombak hitam beracun.

Tanpa menghentikan laju larinya, Encrid menyentak bilah pedangnya dan terus melesat maju.

*KREK!*

Betapa pun tajamnya bilah pedang pusaka yang ditempa seorang master penempa, logam itu mustahil membelah daging hanya lewat sentuhan ringan semata.

Terlebih jika lawannya adalah seekor Scalor—monster buas yang diselimuti sisik keras bak baju zirah baja.

Namun Encrid terus menusuk dan menebas tanpa henti.

Bagaimana caranya?

Ia melakukannya murni melalui daya ledak kekuatan fisik yang luar biasa.

Bisa dibilang serangannya bukan lagi sekadar memotong, melainkan merobek paksa.

Ia menghunjamkan pedang ke dekat siku, bahkan tanpa mencabutnya keluar, lalu menyentaknya hingga daging dan sisik monster itu terkoyak hancur murni mengandalkan tenaga kasarnya.

Tepian luka yang robek itu tentu saja sangat kasar—dan mendatangkan siksa rasa sakit yang berkali-kali lipat lebih menyiksa dibanding sayatan rapi.

*KREEEKKK!*

Sang Scalor melolongkan jeritan melengking yang memekakkan telinga.

Jeritan maut itu menjadi sinyal bahaya, memperingatkan monster-monster di sekitarnya bahwa ada sosok penyusup mematikan yang sedang menyusup di antara mereka.

Namun tentu saja, sosok Encrid telah lama melesat lenyap dari sana.

Ia terus berlari gesit dengan kedua pedang tergantung santai di tangannya.

*BLARRR!*

Amukan badai terus membasahi tubuh dan bilah pedangnya.

Setidaknya ia tak perlu cemas tubuhnya bakal berlumuran darah amis.

Entah karena harmonisasi dengan badai atau murni karena dahsyatnya hembusan angin, ia merasa seolah hembusan angin dingin sedang menyelinap di antara sela-sela tulang rusuknya.

Sensasi itu terasa sangat menyegarkan baginya.

*'Atau mungkin terasa menyegarkan murni karena dirikulah yang sedang membantai musuh.'*

Terlepas dari lamunan itu, kedua tangan dan kakinya terus bekerja dengan sibuk.

*Krak, trang, buk, jleb.*

Bagi orang lain suara itu hanyalah kebisingan perang, namun bagi Encrid, bunyi-bunyian itu adalah cetak biru visual yang terukir nyata di dalam benaknya.

Ia bertempur mengandalkan indera pendengaran dan persepsi gerak, membabat habis monster-monster berdaya sensorik tinggi satu per satu—dipandu murni oleh suara.

Dan hanya dengan tindakan itu, arus jalannya pertempuran perlahan mulai bergeser.

Mampukah satu orang manusia mengubah aliran arus sungai raksasa?

Mungkin bisa, jika orang itu terus menimbun batu-batu raksasa dan menggali tanah tanpa kenal lelah demi membelokkan jalurnya.

Sebagian orang memang sanggup melakukannya.

Namun hal itu membutuhkan waktu berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun lamanya.

Tetapi seorang Knight sejati adalah bencana berjalan—ia sanggup mengubah dinamika medan perang dan membelokkan arus sungai hanya dalam hitungan menit.

Bagaikan bencana alam dahsyat yang merombak topografi daratan.

Layaknya gempa bumi dahsyat yang membelah jalur baru di atas tanah.

Itulah hal luar biasa yang sanggup diwujudkan oleh seorang ksatria.

Persis seperti apa yang sedang dikerjakan oleh Encrid saat ini.

*SSSKRAAAAAAA!*

Dari atas langit, ular sihir kutukan menyemburkan raungan mengerikan yang menyelimuti seantero medan perang.

Detak jantung Encrid berdegup kencang menyelaraskan irama dengan jeritan sang ular.

*'Tekanan hawa keberadaan ini… jadi begini rupanya aura yang dipancarkan oleh monster tingkat tinggi.'*

Hanya dengan mendengar raungannya saja sudah cukup membuat bulu kuduk meremang ngeri.

Membuat naluri hewani memaksamu untuk berbalik melarikan diri.

Rasa takut purba—teror tak kasat mata—menuntut kepatuhan dari setiap sel di dalam tubuhnya.

Memerintahkannya untuk mematung membeku dan gemetar ketakutan.

Namun gertakan mistis semacam itu sama sekali tidak mempan pada diri Encrid.

Dan tak ada seorang pun ksatria Zaun di sini yang bakal runtuh hanya gara-gara ancaman suara.

Meski begitu, lolongan itu bukan berarti tanpa dampak.

Tepat saat itu dari garis belakang, Riley berteriak lantang dengan suara sarat amarah.

Encrid bisa melihat posisinya.

Meski jarak mereka terpisah cukup jauh, jarak geografis tak lagi menjadi penghalang baginya.

Itulah keunggulan mutlak dari penglihatan berbasis indera pendengaran.

Lalu apa kekurangannya?

Segalanya terlukis dalam domain hitam dan putih.

Tanpa detail warna, tanpa nuansa ekspresi halus.

Urat-urat yang menegang tebal di leher Riley, misalnya—Encrid tak bisa melihat warna kulitnya.

Bukan berarti ia perlu melihatnya secara visual.

Ia sanggup membayangkan perjuangan pemuda itu dengan sangat jelas di dalam benaknya.

"Bagi siapa pun yang napasnya mulai tersengal—tarik napas kalian sekarang juga!" seru Riley lantang membakar semangat pasukannya.

"WOOOOOH!"

Dari kejauhan Anahera membalas seruan itu dengan raungan liar yang sarat energi tempur serupa.

Merekalah pilar-pilar tangguh yang menahan laju gelombang ribuan monster mutan.

Mereka tak akan sanggup bertahan selamanya jika terus dipaksa bertarung tanpa henti.

*'Aku harus menghemat tenaga… dan bertarung sampai akhir.'*

Dalam hal itu, Riley terbukti menjadi wakil komandan lapangan yang luar biasa hebat.

Pemuda itu bertarung hanya dengan bertumpu pada satu kaki—ia terpaksa membakar energi fisik dua kali lipat lebih boros dibanding ksatria normal.

Meski ini adalah pengalaman pertamanya memimpin perang skala besar, ia paham betul bahwa memforsir tenaga secara membabi buta hanya akan berujung pada maut.

Maka ia mengatur tempo pertempuran dengan sangat cerdas.

Bertarung mengandalkan otak taktis.

*'Bertahanlah.'*

Encrid tak pernah menghentikan laju langkah kakinya.

Tak pernah pula ia mendongakkan kepalanya ke atas.

Namun ia sanggup merasakan tatapan dingin seseorang yang tertuju lurus padanya.

Penuh kekejaman.

Dan sarat akan niat membunuh yang pekat.

Dari balik domain monokrom yang dipetakan oleh rintik hujan, sesosok monster raksasa—yang bertindak sebagai media pengalir sihir kutukan—mengunci pandangannya tepat ke arah Encrid.

Sorot mata maut sang Medusa.

Ia tak perlu menatap balik demi merasakan tekanan intimidasi yang menyesakkan dada.

*'Hanya seorang Knight sejati yang berani berdiri berhadapan melawan monster sekaliber itu.'*

Karena itulah makhluk itu memancarkan hawa keberadaan yang begitu menindas—bahkan hanya melalui secercah lirikan mata.

Monster tingkat tinggi secara naluriah menguasai manipulasi tekanan yang mirip dengan aura intimidasi seorang ksatria.

Mereka menyebarkan teror—mengincar makhluk-makhluk yang mereka anggap sebagai mangsa buruan.

Bagaikan seekor katak yang mematung beku di hadapan tatapan ular berbisa, mereka melumpuhkan sistem saraf manusia dan ras berakal lainnya.

Bahkan raungan ular raksasa di atas langit pun kemungkinan besar merupakan perpanjangan tangan dari aura penindas milik Medusa.

Demonic Domains pasti dipenuhi oleh kawanan monster mengerikan semacam ini.

Dan itulah alasan kenapa ras manusia tak pernah sanggup menaklukkan kawasan terlarang tersebut.

Hal yang bisa mereka lakukan hanyalah bertarung—dan bertahan hidup sekuat tenaga.

Lalu apakah situasi ini terasa menakutkan?

Sama sekali tidak.

Suatu hari nanti, aku pasti bakal bertarung menghadapi seluruh monster buas yang menghuni alam sihir terlarang itu.

Andai jalurnya mudah digapai, hal itu tak akan layak disebut sebagai sebuah impian agung.

Impian Encrid selalu terjal, sulit, dan tampak mustahil di mata orang awam.

Begitulah hakikat impiannya.

*'Aku akan membabat habis mereka semua sampai bersih.'*

Tak ada ruang bagi keraguan kecil di dalam tujuan hidup yang begitu sederhana dan lugas ini.

Sekali lagi, Encrid mengakui kehebatan taktis Hescal saat merenungkan dinamika pertempuran ini.

Taktik memanfaatkan Medusa bukan sebagai prajurit lini depan, melainkan sebagai stasiun pemancar sihir kutukan adalah siasat yang sangat mengagumkan.

*'Sebuah penempatan kekuatan yang teramat efisien.'*

Itu adalah taktik perang yang secara perlahan bakal mengeringkan stamina para ksatria Zaun.

Sekali lagi, Hescal memang wajib diakui sebagai pria yang sangat cerdas.

Berapa banyak monster yang telah ia tebas mati?

Angka pastinya tak lagi bermakna; ia telah menusuk dan merobek terlalu banyak bangkai.

Ia menghemat penggunaan Will miliknya sebaik mungkin, jadi tak ada ledakan momentum yang mencolok—murni pengurangan populasi musuh secara stabil dan konsisten.

Kini jangkauan persepsi Encrid telah terentang jauh melampaui apa yang sanggup ditangkap oleh mata kepala biasa.

Oleh karena itu, ia sanggup membaca arah pergerakan musuh bahkan sebelum nalurinya membunyikan alarm bahaya.

*'Sangat rapi.'*

Seseorang rupanya telah mempersiapkan jaring jebakan usai mengamati pola pergerakannya.

Saat bergerak memutar, ia menyadari ada delapan pemanah musuh yang mengunci bidikan ke arahnya, dan puluhan anak panah berujung racun hitam melayang siaga di tengah tirai badai.

Di tengah kepungan jebakan itu, ia melihat sesosok "manusia" yang mengenakan helm besi.

Zirah pelindungnya tipis dan terbuat dari material khusus yang berkilau samar diterpa air hujan.

Jika dinilai dari situasi di permukaan, Encrid tampak seperti mangsa empuk yang sukses terpancing masuk ke dalam perangkap maut.

Melihat betapa cepatnya jebakan itu terpasang, perangkap ini jelas tidak dirancang secara terburu-buru.

"Bukankah ksatria itu seharusnya hanyalah seorang Knight biasa?"

Murid utama Drmule mengamati pergerakan Encrid berkat organ Evil Eye yang tertanam di dahinya.

Hescal sendiri tak memiliki mata sihir semacam itu, jadi ia tak bisa merasakan hawa keberadaan Encrid ataupun melacak gerakannya dengan mata telanjang, namun ia tahu pasti bahwa ksatria asing itu sedang melancarkan trik mematikan di garis depan.

Detik saat Encrid menghilang dari pandangan, monster-monster yang memiliki kemampuan indera khusus mulai tumbang satu per satu, jadi sangat mudah baginya untuk menyimpulkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Terlebih lagi dengan mengamati medan perang dari kejauhan, membaca peta kekuatan menjadi sangat mudah.

*'Dari dekat kau hanya melihat pepohonan, namun dari kejauhan kau bisa melihat seisi hutan.'*

Seorang penebang kayu hanya fokus menebang pohon di depan matanya, namun seorang penjaga hutan mengamati seluruh ekosistem hutan lalu menentukan pohon mana yang paling tepat untuk ditebang.

Dalam hal ini, Hescal bertindak layaknya seorang penjaga hutan yang sangat berpengalaman.

"Aku pun cukup terkejut," aku Hescal tenang.

"Tak ada rencana perang yang berjalan seratus persen sempurna."

"Lawannya adalah klan Zaun. Wajar jika mereka sanggup menunjukkan perlawanan sekuat ini."

"Tapi rasanya bukan klan Zaun yang sedang membalikkan situasi ini, bukan?"

Fakta itulah yang membuat situasi ini terasa kian mengejutkan bagi pihak musuh.

Bukan hanya wabah penyakit terkutuk yang gagal melumpuhkan pertahanan Zaun, namun ksatria yang menahan gempuran mereka pun masih berdiri kokoh tanpa goyah.

*'Encrid dari Border Guard… pria itu benar-benar sangat lihai bertempur.'*

Hescal kian kagum pada kemampuan pemuda tersebut.

Dari luar ucapannya terdengar seperti pujian tulus, namun Hescal melontarkannya dengan nada bicara yang teramat dingin dan tenang.

"Aku sudah menyiapkan kejutan khusus. Awalnya aku berniat menjebak Lynox, tapi mau bagaimana lagi."

Mata sihir yang tertanam di dahi sang murid utama berkedip dua kali.

Bersamaan dengan kedipan itu, sudut pandang penglihatannya bergeser menatap ke arah posisi sang kepala keluarga dan Alexandra.

"Kau berniat membiarkan kedua ksatria itu begitu saja?" tanya sang murid.

Meski pertanyaannya terdengar mendadak, Hescal memahaminya dengan sangat baik.

Seluruh dinamika medan pertempuran telah terpetakan rapi di dalam benaknya.

"Pada titik ini, stamina mereka dipastikan sudah terkuras drastis. Ksatria yang seharusnya sekarat di tempat tidur kini masih memaksakan diri berdiri bertarung."

"Perkataanmu itu lancang sekali. Apa kau sedang meragukan kedahsyatan kekuatan sang Dewa?" tegur sang murid sengit.

"Sama sekali tidak."

Inilah klan Zaun, ia memang sudah mengantisipasi ketangguhan fisik mereka sejak awal.

Bahkan setelah ia membantai Millestia demi menutup akses pengobatan, para ksatria itu tetap sanggup bertahan hidup.

Memang, tak ada perang yang berjalan semudah membalikkan telapak tangan.

Andai merebut kekuasaan semudah itu, ia tak perlu repot-repot menyusun siasat serumit ini selama puluhan tahun.

"Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai," ucap Hescal seraya mendongak menatap langit kelam.

Awan badai hitam dan guyuran hujan lebat membuat siapa pun kesulitan membuka mata.

Kecuali jika seseorang nekat mencabut mata monster lalu menanamkannya di dahi seperti murid sesat di sampingnya, mustahil manusia biasa sanggup menembus tirai langit dengan jelas.

Maka mungkin menjadi manusia biasa adalah sebuah berkah tersendiri.

*Huuu.*

Meski Hescal berucap bahwa perang baru dimulai, ia menghela napas panjang yang terdengar berat.

Di dalam hembusan napas itu tersirat secercah rasa getir yang mendalam, namun murid utama Drmule tak mampu menangkap nuansa emosi tersebut.

Betapa pun istimewanya mata sihir di dahinya, telinganya tetaplah telinga manusia biasa yang terbatas.

Sang murid tak boleh meninggalkan pos komandonya, maka sudah ditentukan siapa sosok yang wajib melangkah maju ke garis depan.

Meski beberapa bagian dari skenario perangnya sempat terdistorsi, kerangka utama strateginya masih berdiri kokoh tanpa cacat.

Hescal menatap lurus ke depan.

Tak ada yang berubah.

Kemenangan akhir tetap berada di genggaman tangannya.

"Kau mendambakan takhta kedewaan, bukan? Kalau begitu tunjukkan kesetiaan mutlakmu, Hescal dari Zaun."

"Aku tahu," sahut Hescal seraya mulai menggerakkan langkah kakinya.

Kini giliran dirinya untuk melangkah naik ke atas panggung pembantaian.

"Katakan pada gurumu untuk melepaskan senjata pamungkas yang telah dipersiapkan."

"Hanya dengan satu Death Knight itu saja, kami sanggup membantai sang Kepala Keluarga beserta ksatria wanita di sampingnya," sesumbar sang murid utama.

"Itu hanya ada dalam khayalanmu. Komando perang ini berada sepenuhnya di bawah kendaliku."

Andante telah dibangkitkan menjadi ksatria mayat hidup yang merangkak keluar dari liang kubur.

Hanya mengandalkan sosok itu saja, mungkinkah mereka sanggup menumbangkan ksatria sekaliber Alexandra?

Tak ada yang tahu pasti.

"Jika kita sampai menelan kekalahan bahkan setelah Guruku turun tangan langsung, nyawamu tak akan diampuni."

"Kalau kita sampai kalah dan aku masih bernapas hidup, aku sendiri yang akan menggantung leherku sampai mati, jadi kau tak perlu cemas," sahut Hescal dingin.

Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya bahwa dirinya bakal gantung diri jika menelan kekalahan.

Hescal selalu menanamkan ketulusan mutlak di setiap tindakan yang ia ambil.

Itu adalah prinsip hidup yang ia serap dari sang kepala keluarga Zaun di masa lalu:

*"Apa pun yang kau kerjakan dalam hidup ini, lakukanlah dengan segenap jiwa ragamu."*

Bahkan saat kau berniat menipu dan mengkhianati seseorang, kau wajib melakukannya dengan ketulusan dan kesungguhan mutlak.

Dari filosofi hidup sang kepala keluarga itulah Hescal menempa ilmu pedang unik miliknya sendiri.

Bahkan sebilah pedang tipu daya pun wajib membawa niat membunuh yang sejati.

Ia tahu pedangnya mustahil sanggup menembus pertahanan sang kepala keluarga.

Lalu ke arah manakah bilah pedangnya harus dihunus?

Jawabannya sudah teramat gamblang di depan mata.

*'Maafkan aku, Ragna.'*

Jika ia berhasil membantai Ragna—sang anak hilang yang baru saja kembali—terlebih dahulu, hati sekeras batu karang milik sang kepala keluarga dipastikan bakal terguncang hebat.

Guncangan emosi itu pada akhirnya akan mengaburkan kejernihan berpikir sang kepala keluarga dan membuka celah kemenangan mutlak bagi kubunya.

Saat empat monster raksasa mulai bergerak maju demi menyibukkan sang kepala keluarga, Hescal membalikkan badan melangkah mencari keberadaan Ragna.

Secara kebetulan—atau mungkin sebuah takdir yang tak terhindarkan—Ragna pun baru saja mulai melangkahkan kakinya menyongsong ke depan.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.