Bab 711 — Dunia Hitam dan Putih
Normalnya, pasukan klan Zaun pasti sudah tercerai-berai dan dibantai satu per satu oleh ribuan monster.
Namun alih-alih kocar-kacir, mereka justru sanggup membentuk formasi pertahanan yang sangat kokoh.
Semua berawal dari penempatan sang kepala keluarga, Alexandra, dan Lynox di barisan terdepan.
Ketiga ksatria terkuat itu bertindak layaknya benteng tak tertembus yang memblokir garis depan.
Keberadaan mereka bertiga memaksa para Scalor penunggang kadal untuk berputar memutar alih-alih menerjang lurus, melucuti momentum serangan sekaligus menelanjangi setiap pergerakan mereka.
Situasi musuh kian diperparah saat Encrid menerjunkan Anahera lebih dulu untuk mengobrak-abrik formasi lawan, menyeret pertempuran ke dalam pusaran kekacauan.
Meski begitu, Hescal sama sekali tak menunjukkan kepanikan.
Andai tadi Encrid mengirim Ragna alih-alih Anahera, musuh pasti bakal jauh lebih terkejut.
Namun Ragna terlalu berharga untuk sekadar dijadikan umpan pembuka.
Jika sang kepala keluarga adalah tembok benteng, maka Ragna adalah pelontar batu katapel raksasa.
Ia harus diterjunkan di saat yang tepat untuk memberikan pukulan kejut yang mematikan.
Tak ada musuh yang mengantisipasi adanya katapel—maka tak ada alasan untuk tidak memanfaatkannya.
Terlebih lagi, Encrid tak punya waktu luang untuk berlari mendekat dan memberi arahan detail pada Ragna.
Ia hanya perlu percaya bahwa pemuda itu bakal bertindak tepat atas inisiatifnya sendiri.
Pandangan Encrid bergeser cepat.
Bukan karena mendengar suara tertentu—melainkan persepsi inderanya yang terentang tipis dan luas berhasil menangkap kejanggalan aneh di medan perang.
Getarannya sangat samar—seperti seseorang yang diam-diam melambaikan tangan di belakang punggungnya—namun dalam radius sedekat ini, Encrid bahkan sanggup mendeteksi hembusan napas musuh.
Di tengah amukan badai sekalipun, panca inderanya sanggup membedah situasi sekitar dengan ketajaman setajam silet.
Mengikuti bisikan intuisinya, mata Encrid menangkap sesuatu—
Di antara kawanan penunggang kadal yang menerjang ke arah kelompok Riley, beberapa Scalor tampak menjulurkan tangan mereka ke udara.
Sisik hitam bersemburat merah dengan moncong lancip—wujud monster tipe unik terpampang jelas di matanya.
Jika monster itu bertahan hidup cukup lama, ia pasti bakal menyandang nama gelar tersendiri.
Di antara kawanan Scalor biasa, bersembunyi unit khusus monster yang menguasai kekuatan psikis tak kasat mata.
Anahera merespons serangan gaib itu dengan lolongan lantang:
"Ada yang mencengkeram tubuhku—!"
Tak ada cakar musuh yang menyentuh tangan atau kakinya, namun ksatria raksasa itu berteriak seolah tubuhnya sedang dibelit rantai besi.
Encrid langsung memahami arti di balik teriakan singkat itu.
Telekinesis.
Sambil menancapkan bilah pedangnya ke tanah, Encrid merentangkan jangkauan pandangan dan persepsinya jauh lebih lebar.
Hawa kehadiran beberapa monster yang bergerak aneh menyenggol kesadarannya.
Ia membiarkan banjir informasi itu mengalir tajam ke dalam benaknya.
Melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan merasakan.
Data-data medan perang tersusun rapi di dalam kepalanya, memetakan situasi persis seperti yang ia kehendaki.
Bagaikan titik-titik tinta hitam yang tertoreh di atas kanvas putih polos, koordinat monster-monster pengguna kekuatan psikis itu terpampang benderang di dalam jangkauannya.
Bahkan saat memperluas persepsi demi melacak musuh, tangan Encrid tak pernah berhenti bergerak.
Ia mencabut dua bilah belati bertanduk dari sarung yang terpasang di dadanya, masing-masing satu di setiap tangan.
Jaxon pernah bercerita bahwa senjata bersiul semacam ini adalah jenis senjata yang paling dibenci di seluruh benua.
*"Maksudmu senjata yang bukannya meredam suara malah mengeluarkan siulan melengking yang memekakkan telinga? Menjijikkan sekali."*
Itu memang jenis senjata yang sangat bertolak belakang dengan filosofi bertarung Jaxon.
Lamunan itu hanya melintas sekejap.
Pergerakan fisiknya terus mengalir tanpa jeda.
Encrid mengunci target pada beberapa monster yang telah ditandai oleh panca inderanya.
Segala hal di sekitarnya, termasuk para Scalor yang sedang menjulurkan tangan mereka, mendadak tampak bergerak dalam gerakan lambat.
Kecepatan berpikir seorang ksatria bergerak berkali-kali lipat lebih cepat dibanding manusia biasa.
Sensasinya mirip menyusup ke sela-sela retakan waktu, mengamati dinamika dunia secara rahasia dari balik tirai.
Fokus memadat ke dalam satu titik.
Merasakan waktu yang melambat membawa tekanan berat seolah tubuhnya terkubur di dalam lumpur hisap.
Namun luapan Will mengalir deras ke sekujur tubuhnya, memperkuat setiap serat ototnya.
Hal itu membuatnya sanggup bergerak bebas sesuka hati, bahkan di tengah pekatnya lumpur hisap sekalipun.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Melempar.
Menghancurkan.
Ia memusatkan seluruh konsentrasinya.
Memadukan ilmu melempar dari Jaxon dengan momentum putaran tubuh yang baru saja ia pelajari dari Riley.
Kedua lengannya terayun serentak ke belakang.
Ia mengompresi tenaganya secukupnya demi mendaratkan hantaman telak, lalu menyuntikkan Will murni ke kedua lengannya sebelum melepaskan lemparan.
Kedua lengannya menyilang bak lecutan cambuk di depan dada, dan sepasang belati bertanduk melesat merobek udara badai.
*POP! POP!*
*FWEEE—!*
Kedua belati itu membelah udara dengan siulan tajam melengking lalu menembus batok kepala dua ekor Scalor yang sedang menjulurkan tangan ke langit.
Suara letupan keras bergema jernih menembus raungan badai.
Bilah belati itu tidak tersangkut—melainkan melesat tembus hingga ke belakang.
Artinya: kepala kedua monster itu kini berlubang menganga lebih besar dari kepalan tinju.
Bahkan seekor troll berdaya regenerasi tinggi sekalipun mustahil sanggup bertahan hidup dari luka sehancur itu.
Monster pengendali Telekinesis itu langsung ambruk lemas ke dalam kubangan air berlumpur layaknya karung basah.
Encrid mencabut kembali pedangnya dari tanah lalu berseru:
"Biar aku yang mengurus monster-monster tipe unik!"
Tampaknya hanya mengamati jalannya pertempuran dari kejauhan tak lagi menjadi pilihan.
Jumlah monster berkekuatan psikis bukan hanya satu atau dua ekor.
Maka terjadilah.
Ia sendiri yang harus melompat langsung ke dalam pusaran medan perang yang mendebarkan ini.
Terlebih lagi—
Monster unik berkekuatan Telekinesis barusan hanyalah gelombang awal dari sekian banyak kejutan maut yang telah dipersiapkan oleh pihak musuh.
*BLARRR!*
Diiringi sambaran kilat yang memekakkan telinga, hawa firasat buruk mendadak menyelimuti langit kelam.
Saat mendongak ke atas, Encrid melihat butiran air hujan di bawah gulungan awan badai berputar memadat, membentuk wujud makhluk raksasa yang mengerikan.
Bayangan seekor ular raksasa melayang menjulang di langit.
Bukan seekor naga.
Melainkan ular raksasa bertubuh panjang yang melayang di udara, memancarkan aura kutukan yang memihak kawanan monster.
Sengatan dingin di tengkuknya memastikan kecurigaan tersebut—itu adalah sebuah sihir kutukan berskala masif.
"Akhirnya kau menampakkan wujudmu juga," gumam Encrid dingin.
Khasiat dari sihir kutukan itu langsung terpampang nyata.
Begitu siluet ular raksasa melayang di langit, kawanan monster di daratan seketika menjadi jauh lebih buas dan agresif.
*SHAAAA!*
Jeritan melengking yang disemburkan oleh para Scalor terdengar kian jernih dan menyengat, menyalakan sirine bahaya di dalam benak Encrid.
"Pertahankan garis formasi!" seru Encrid seraya melesat melintasi posisi Riley.
"Aku sudah melakukannya tanpa perlu kau suruh!" sahut Riley ketus.
Sambil melangkah melewatinya, Encrid mengayunkan pedangnya dengan sangat anggun.
Bilah pedang Three-Iron melukis lintasan lengkung ke atas lalu menyapu leher seekor kadal mutan yang diam-diam menyelinap dari permukaan tanah.
*CRAK!*
Bagaikan cambuk berbilah pisau yang melilit leher lalu menyentaknya putus.
Bilah pedang berputar sekali mengelilingi leher monster itu dan memenggal kepalanya dengan sangat rapi.
Monster yang satu ini sebenarnya sangat lihai menyembunyikan hawa keberadaannya, namun suara tetesan air hujan yang menghantam punggungnya terdengar sedikit janggal, dan siluet tubuhnya tertangkap basah oleh aliran air hujan.
Dan begitulah cara Encrid menebas mati monster tersebut.
*'Hescal…'*
Encrid sanggup menebak apa target akhir dari pria itu.
Andai sosok perwira taktis seperti Krais atau Avnair mengamati medan pertempuran ini, mereka pasti bakal berkata:
*"Pada akhirnya, ia berniat menuntaskan perang ini dengan satu pukulan telak yang menentukan."*
Dan sebelum melancarkan pukulan pamungkas itu, ia berniat menguras habis seluruh stamina pasukan Zaun.
Secara fisik—maupun secara mental.
Ia mengirim kawanan monster mutan untuk melemahkan para ksatria terkuat, dan jika diperlukan, ia akan mengorbankan pasukannya demi membantai para ksatria muda Zaun.
Demi mengguncang stabilitas mental para petarung utama.
Para Knight adalah kekuatan asimetris yang luar biasa dahsyat.
Jika kau sanggup melenyapkan mereka, mengorbankan ribuan monster mutan bukanlah kerugian yang berarti.
*'Siasat yang sangat brilian.'*
Hescal memang seorang ahli strategi yang teramat lihai.
Encrid tak punya pilihan selain mengikuti arus permainan Hescal sampai batas tertentu.
Ia berniat bertarung sambil menghemat stamina—namun mengabaikan keselamatan rekan-rekannya bukanlah pilihan.
Hal yang bisa ia lakukan hanyalah mencegah musuh mengguncang batin mereka, serta melindungi nyawa ksatria muda seperti Riley.
Jika garis pertahanan ini runtuh, jalur menuju pemukiman Zaun akan terbuka lebar.
Dan mereka tak akan mampu lagi melindungi orang-orang yang tertinggal di dalam kediaman.
Saraf persepsi Encrid yang terasah tajam mendadak menangkap gelombang bahaya raksasa dari kejauhan—dan ia spontan berteriak lantang:
"Tundukkan kepala kalian sekarang!"
Kali ini ancaman yang datang benar-benar keterlaluan.
Pikiran itu melintas sekejap di benaknya.
Ular kutukan di langit telah meningkatkan kekuatan fisik kawanan monster melampaui batas normal.
Namun kini sesosok entitas baru yang jauh lebih mengerikan ikut melangkah memasuki arena—monster tipe unik tingkat bencana.
Seekor monster berukuran kolosal menegakkan kepalanya—sosok raksasa yang ukurannya jauh melampaui monster lain, spesimen langka yang bahkan sangat jarang ditemui di Demonic Domains.
*SHAAAA—*
Ratusan ular berbisa yang menggeliat liar di atas kepalanya menegaskan identitas sejatinya.
Hawa keberadaan terkutuk itu menyapu seantero medan laga.
Siapa pun yang beradu tatap dengan matanya akan terkena kutukan pembatuan seketika.
Seekor Medusa.
Ukuran tubuhnya setidaknya lima kali lipat lebih masif dibanding seekor Scalor.
Bahkan jauh lebih besar dibanding fisik seorang raksasa.
Kutukan Curse of Petrification memang tidak langsung membunuh secara mutlak.
Jika kau memiliki Will yang kuat, kau bisa menahan laju pembatuan tersebut sampai tingkat tertentu.
Namun keharusan untuk terus menahan kutukan itu sendiri sudah merupakan bencana besar.
Karena itu artinya porsi Will yang bisa kau kerahkan untuk bertarung fisik bakal terpotong drastis.
Mereka harus menahan gempuran ribuan monster sambil terus memeras Will demi mencegah darah mereka membeku menjadi debu batu.
Dalam pertarungan normal, keunggulan berada di pihak klan Zaun.
Saat monster berkekuatan psikis bergabung, peta kekuatan menjadi seimbang.
Ketika ular kutukan melayang di langit, situasi berbalik merugikan—dan dengan kemunculan Medusa raksasa ini, kekalahan tampak tak terelakkan.
Namun Hescal telah memperhitungkan peran monster ini dengan sangat matang.
*'Dia memanfaatkan Medusa sebagai senjata taktis penekan medan perang.'*
Makhluk itu tidak diterjunkan untuk menerjang langsung—melainkan ditempatkan sebagai kubah penekan yang memancarkan kutukan ke seluruh penjuru area.
Kini Encrid paham dari mana sumber energi kutukan itu berasal.
Medusa itu bukan sekadar monster buas—melainkan jimat hidup sekaligus simbol utama dari sihir kutukan musuh.
Kekuatan militer musuh memang jauh lebih unggul. Ditambah lagi ada sosok dukun hitam dan alkemis legendaris di pihak mereka.
Andai mayat hidup Drmule berhasil meraih status kedewaannya… mungkin ia bakal menyandang gelar dewa penyakit atau semacamnya.
Encrid menilai jauh lebih bijak untuk tidak menatap monster itu sama sekali, dibanding membuang-buang energi Will demi menahan tatapan mautnya.
Bahkan saat tubuhmu dipenuhi oleh luapan Will, hanya sebagian kecil yang sanggup kau kerahkan dalam satu detik—dan porsi kecil itu kini sedang dikuras habis.
Orang biasa pasti sudah mulai membatu kaku dari aliran darah hingga ke sekujur tubuh mereka.
"Kurasa aku harus segera memanggil prajurit pelontar batuku."
Sambil menyibak rambutnya yang basah kuyup, satu pikiran jernih melintas di benak Encrid—situasi ini sangat berbahaya.
Jika ia gagal mengeluarkan kartu as tersembunyi dan membalikkan keadaan sekarang, mereka dipastikan bakal kalah telak.
Nalurinya menjeritkan hal itu, dan kalkulasi logikanya membenarkan fakta tersebut.
Kalau begitu, inilah saatnya bertindak.
Ilmu pedang taktis gaya Luagarne mustahil bisa dikuasai hanya dengan mengamati dari pinggir lapangan.
Intuisi tajamnya merasuk ke alam bawah sadar, menyatukan seluruh pengalaman tempur menjadi sebuah jawaban mutlak.
Termasuk memanggil kekuatan murni yang bersemayam di dalam dirinya.
Encrid melangkah mengikuti bisikan insting dan intuisinya, menggambar jalur pembantaian di dalam benaknya.
Kobaran fokus di kepalanya membuka jalan terang ke depan.
Hal ini pun berkaitan erat dengan pemahaman baru yang baru saja ia serap.
Encrid menundukkan kepalanya sedikit.
*'Lynox memanipulasi gelombang Will yang tertahan.'*
Ia menerapkan ilmu yang ia serap dari mengamati cara berpedang pria veteran itu.
Encrid memang bukan seorang genius alami, namun dalam urusan memanipulasi Will, ia memiliki bakat istimewa.
Bukan semata karena bakat, melainkan karena cadangan Will miliknya yang meluap tanpa batas memungkinkan dirinya untuk berlatih ribuan kali tanpa henti.
Itulah alasan kenapa mempelajari teknik tingkat tinggi justru terasa lebih mudah baginya dibanding latihan dasar kaku ala Zaun.
*'Pengendalian tertahan.'*
Ia menolak menatap sosok Medusa.
Lalu ia menyembunyikan seluruh pancaran Will miliknya ke dalam titik nol.
Saat ia menyelaraskan frekuensi gelombang Will dengan lingkungan sekitar, ia memasuki tingkatan yang disebut sebagai harmonisasi sempurna.
Ironisnya, baru setelah tiba di kediaman Zaun inilah ia akhirnya benar-benar memahami hakikat teknik harmonisasi yang pernah diperagakan oleh ksatria Aspen bernama Jamal tempo hari.
Andai Rem menyaksikan pemandangan ini sekarang—
*"Apa-apaan kau ini, sialan?! Kenapa kau baru bisa menguasainya sekarang, hah?!"*
—pria itu pasti bakal mengamuk meledak-ledak seperti itu, kan?
Encrid seolah bisa mendengar suara omelan Rem yang memprotes kenapa ia tak bisa melakukannya saat pertama kali diajari dulu.
Dan detik berikutnya, Encrid melebur lenyap ke dalam dinamika medan pertempuran.
Ia mendistribusikan aliran napasnya secara teratur dan stabil, menjulurkan lidahnya sedikit demi mengecap udara dan guyuran air hujan.
Sentuhan manis membawa pasokan informasi akurat ke indera pengecapnya.
Jarak, arah angin, koordinat posisi—memang tidak presisi sempurna, namun ia sanggup merasakan setiap hawa keberadaan musuh.
Ia merasa lebih baik menutup kedua matanya rapat-rapat.
Maka ia memejamkan mata.
Sebagai pengganti penglihatan, ia membuka ketajaman indera pendengarannya.
Suara menggantikan fungsi mata.
Tak perlu kemampuan ekolokasi rumit.
Guyuran air hujan yang membasahi medan perang akan memetakan segalanya untuknya.
*SYUUUUT.*
Saat suara gemuruh hujan meredup di telinganya, dunia di mata batin Encrid seketika berubah menjadi domain hitam dan putih.
Saat itulah segalanya terpampang dengan kejelasan mutlak.
Koordinat musuh, arah pergerakan mereka—semuanya terlihat sangat gamblang.
Mengikuti jalur pedang taktis yang digambar oleh Luagarne di kepalanya, Encrid melesat berlari.
Tak ada seorang pun ksatria Zaun termasuk Riley yang sanggup menangkap secuil pun bayangan pergerakannya.
Tentu saja, pihak musuh pun sama sekali tidak menyadarinya.
Ia melesat dalam kondisi harmonisasi sempurna, hanya meledakkan Will miliknya di detik terakhir tepat di depan leher targetnya.
Korban pertamanya adalah seekor Scalor lain yang baru saja hendak mengangkat tangan demi melancarkan Telekinesis.
Encrid menghunus Penna lalu melancarkan tusukan kilat ke atas dari bawah dagu monster itu.
*JLEB!*
Mata belati menembus tengkoraknya hingga hancur, menyemburkan darah hitam dan serpihan otak melalui retakan tulang kepala.
Encrid menarik Penna keluar jauh lebih cepat dibanding saat menusukkannya, mengibaskan noda darah, lalu memasukkannya kembali ke sarungnya seraya meluncur delapan belas tapak ke samping.
Sepintas terlihat seperti langkah santai, namun kecepatannya setara dengan lari cepat.
Saat ia meluncur gesit, seekor Owlbear yang lihai menyembunyikan hawa keberadaannya baru saja bersiap melesatkan bulu-bulu beracun dari sayapnya.
*PTUTUTUT!*
Bulu-bulu tajam yang sanggup merobek badai mengembang liar bak landak.
Setiap helai bulunya adalah anak panah beracun yang mematikan.
Jika dibiarkan melesat, ksatria di sekitarnya pasti bakal terluka parah.
Namun misi Owlbear itu gagal total.
Bilah pedang Three-Iron menyambar menebas leher dan bulu baja monster itu hingga putus.
Darah hitam memancar laksana air mancur dari lehernya yang terpenggal, namun guyuran air hujan langsung melarutkannya ke dalam pusaran lumpur.
Di dalam dunia pendengaran hitam-putih milik Encrid, pemandangan itu tampak bagaikan dua zat cair dengan tekstur berbeda yang melebur menjadi satu.
Ia terus melesat maju tanpa henti.
Tetap berada dalam harmonisasi, membedah posisi musuh melalui getaran suara dan denyut nadi, hanya melepaskan Will saat melancarkan tebasan maut.
*KRAK!*
Scalor berikutnya memiliki pertahanan kulit yang luar biasa liat, namun tusukan Penna menghantam rongga matanya lalu membelah batok kepalanya hingga remuk.
Monster itu tidak langsung mati seketika, namun tak ada tebasan kedua yang diperlukan.
Lanjut ke target berikutnya.
Musuh memiliki tiga variasi kemampuan khusus:
Telekinesis, pengerasan tubuh fisik, dan kamuflase hawa keberadaan.
Encrid memfokuskan serangannya pada tipe ketiga—para monster penyusup yang lihai menyembunyikan diri di kegelapan.
Dunia hitam dan putih ini terasa bagai arena pertempuran yang diizinkan khusus hanya untuk dirinya seorang.
Seolah dirinyalah satu-satunya sosok yang bebas melangkah di atas jaring laba-laba raksasa.
Jaring Aker's Web.
Segala hal memiliki urutannya masing-masing, dan setiap tebasan memiliki ritme presisinya sendiri.
Ia memadukan ilmu pedang yang telah ditempanya selama ini dengan doktrin pedang taktis Luagarne.
Sejak detik itu, pertempuran ini tak lagi terasa rumit.
Ini murni tindakan yang memang sanggup ia laksanakan dengan sempurna.
Dan hanya dengan melakukan apa yang sanggup ia perbuat, Encrid memastikan bahwa tak ada satu pun ksatria di sekitarnya yang menyandang nama keluarga Zaun bakal mati terbunuh hari ini.











