Bab 707

Encrid berbicara kepada Ragna dengan nada yang tajam menusuk.

"Kalian beruntung jika separuh dari mereka sanggup bertahan hidup."

Ann yang tadi berbaring kini menegakkan separuh tubuhnya, menatap nanar barisan ksatria yang melangkah pergi. Sorot matanya terpaku lurus, bahkan tanpa mengerjap sekali pun.

Jika seseorang menatap Ann dari depan, bayangan punggung para ksatria yang berangkat ke medan maut terpantul jelas di kedua bola matanya yang besar.

Mendengar ucapan itu, Encrid, Ragna, dan Grida yang tengah berbaring serentak menoleh menatap Ann.

"Maafkan aku, Ragna. Padahal tadi aku sesumbar bilang sanggup menyembuhkan segalanya."

Hanya separuh yang bisa diselamatkan. Dan itu pun dengan catatan jika orang-orang di luar sana tidak tewas terbunuh di medan pertempuran. Begitulah makna yang ditangkap oleh Encrid.

Ann sebenarnya bisa saja mencari-cari alasan, berdalih, atau membela diri. Namun ia memilih tidak melakukannya. Seorang genius sekalipun mustahil bisa mempercepat laju waktu.

Penyakit terkutuk itu telah menyiksa keluarga Zaun selama bertahun-tahun lamanya, murni karena seseorang sengaja menjadikan tanah ini sebagai arena kelinci percobaan mereka.

Niat jahat di balik skema ini benar-benar teramat biadab.

Andai Ann memiliki waktu luang satu tahun lagi, ia tak akan melontarkan kalimat bernada pesimis seperti ini. Ia pasti berani menjamin sanggup menyelamatkan tujuh dari sepuluh orang.

Andai ia memiliki waktu tiga tahun, ia akan mengatakan hal yang jauh lebih luar biasa.

Ia pasti dengan bangga menyatakan bahwa tak akan ada satu pun nyawa yang bakal melayang akibat penyakit ini. Namun untuk saat ini, kata-kata itu mustahil ia ucapkan.

Untuk menerapkan metode pengobatan berbasis alkimia yang ia kembangkan, Ann butuh waktu untuk menggelar puluhan eksperimen dan mengamati reaksi klinis obatnya.

Di hadapan keterbatasan waktu yang teramat mutlak, apalah arti sebuah kejeniusan? Tak ada bedanya dengan daun kering yang rapuh tersapu angin badai.

"Aku sungguh minta maaf."

Ann kembali berucap lirih.

Pandangan Ragna terarah lurus ke luar ruangan, persis seperti Ann. Bayangan punggung orang-orang yang lahir dan dibesarkan di Zaun terpantul jelas di matanya. Dan di tengah keheningan itu, Grida Zaun—kakak perempuannya—menyahut pelan:

"Tak ada seorang pun yang menyalahkanmu."

Ragna dulunya kesulitan menemukan arah hidup. Ia tak pernah tahu bagaimana cara menetapkan tujuan masa depan. Namun ia tak pernah menganggap hal itu sebagai sebuah kekurangan.

Alih-alih cacat, ia justru menganggapnya sebagai sebuah berkah istimewa. Jalan baru, dunia baru, dan hal-hal baru selalu menyambut langkah kakinya. Jalan yang dilalui di malam hari akan terasa asing meski sudah dihafal di siang bolong.

Apakah itu sebuah kutukan? Jelas bukan.

Namun saat jemarinya menggenggam sebilah pedang, jalurnya seketika terbentang terang benderang. Ia bisa menyusuri jalanan luas dan melihat ujung akhirnya dengan sangat gamblang. Tak ada misteri yang tak terpecahkan dalam perjalanan hidup yang ia arungi bersama pedang.

Karena itulah hal itu tak lagi memikat minatnya. Dan itulah alasan utama kenapa ia memilih kabur meninggalkan rumah.

Sebuah pelarian dari takdir yang terlalu mudah ditebak, demi mengejar makna hidup melalui jalan menyimpang.

Itulah jalan hidup yang telah ia pilih sendiri.

"Ragna, di sinilah tanah tempatmu dilahirkan dan dibesarkan," tegur Encrid pelan.

Ragna merenungkan kembali setiap tindakan yang telah ia ambil sejak menginjakkan kaki kembali di Zaun.

"Dulu aku sebenarnya enggan mencari Sunrise."

Kenapa? Ia bertanya pada dirinya sendiri dan mencari jawabannya di dalam lubuk hati.

*"Jawabannya ada di dalam dirimu sendiri. Segala hal yang telah kau bangun selama ini akan menjadi penunjuk arah jalanmu."*

Untaian kata yang telah Encrid serukan ratusan kali akhirnya benar-benar meresap ke dalam sanubari Ragna.

Apa makna sesungguhnya di balik perkataan bahwa merasa marah itu adalah hal yang wajar?

"Mereka telah menodai rumahmu, melukai keluargamu, dan berusaha membumihanguskan tanah kelahiranmu."

Itulah alasan kenapa pusaka Sunrise tak lagi menjadi hal yang penting saat ini.

Ia secara naluriah mengayunkan pedangnya membelah udara kosong. Rasanya persis seperti berlari sekuat tenaga lalu mendadak mengerem mendadak di tepi jurang.

Apakah ia bakal mati tanpa meninggalkan warisan apa pun dan lenyap begitu saja? Ia bahkan tak takut pada maut.

Ia hanya merasa harus berhenti melarikan diri. Itu adalah naluri murni. Firasat batin yang kuat. Seolah dewa telah mengukir takdir itu di garis tangannya.

Dan sekarang ia paham alasannya.

*'Karena keluargaku sedang berada di ambang maut.'*

Encrid mungkin menyebut Zaun sebagai sebuah negara kecil, namun bagi Ragna, tempat ini adalah padang rumput tempatnya berlarian saat kanak-kanak, tempat tinggal orang-orang yang membesarkannya dengan penuh kasih, tempat di mana seluruh hidupnya bermula.

Dengan kata lain, inilah rumah sejatinya.

Meski jasad sang anak hilang telah lama kembali, baru sekarang ia membuka kedua matanya yang selama ini sengaja ia pejamkan rapat-rapat.

Tubuh ayahnya kini kurus kering—wajahnya menyusut separuh. Sorot mata ibunya kini memancarkan kepedihan mendalam yang belum pernah ia lihat seumur hidup.

Perut kakak perempuannya berlubang tertembus belati.

Dan para ksatria lain yang ia anggap sebagai saudara kandung kini terkapar memuntahkan darah hitam sambil menahan siksa.

"Ada bajingan di luar sana yang telah merencanakan semua kekejian ini," ucap Encrid.

"Aku tahu," sahut Ragna singkat.

Ya. Sekarang ia akhirnya mengerti. Kenapa dadanya terasa terbakar oleh amarah.

Apakah selama ini ia merasa tak berhak bertindak karena pernah melarikan diri dari tanggung jawabnya?

Apakah ia mencemaskan apa yang bakal dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya?

"Satu tebasan pedangmu tak akan pernah bisa menggantikan tahun-tahun saat kau menghilang," sindir Encrid melontarkan nasihat yang terdengar dingin. Maknanya tegas: hanya karena Ragna kembali dan mengayunkan pedangnya sedikit, bukan berarti semua orang bakal memuja dan memaafkannya begitu saja.

Entah Ragna memahami sindiran itu atau sekadar mengabaikannya, tak ada yang tahu pasti, namun pemuda itu menjawab lugas:

"Aku tidak peduli."

Encrid mengangguk puas seraya menatap kawan seperjuangannya itu.

*'Nah, ini baru Ragna yang kukenal.'*

Dan dengan begitu, Encrid membiarkan kepedihan masa lalunya hanyut terbawa angin. Tak ada gunanya terus larut dalam luka lama.

Saat ini ia hanya perlu mengulurkan tangan membantu, agar sahabat dan rekan seperjuangannya ini tidak perlu menyaksikan kepedihan serupa yang pernah ia alami.

"Grida."

"Katakan."

"Lindungi Ann."

"Bahkan andai kau tidak memintanya, aku pasti mempertaruhkan nyawaku demi melindunginya," sahut Grida mantap.

Grida bukan satu-satunya orang yang tertinggal di dalam kediaman. Usai pengkhianatan Hescal terkuak, masih ada beberapa orang yang kondisinya teramat kritis hingga sulit bernapas.

Ann-lah yang telah menyelamatkan nyawa mereka.

Di antara mereka ada seorang pelayan berpedang yang sempat memandu jalan mereka tempo hari.

Bahkan ada seorang bocah berusia tiga belas tahun yang kondisinya sudah berada di luar kuasa sihir pengobatan Ann.

Anak itu divonis tak tertolong. Konon ia telah terinfeksi bibit penyakit paling beracun yang sengaja ditanam oleh dalang sesat di balik bencana ini.

Penyakit terkutuk yang membuat gumpalan daging membengkak dan merambat ganas di dalam organ dalamnya hingga merenggut nyawanya.

Ia bahkan tak sanggup melangkah keluar untuk bertempur, menjadi salah satu dari sedikit anak-anak yang terpaksa ditinggal di dalam aula.

"Aku juga akan ikut melindunginya!" seru bocah itu dengan suara bergetar.

Apakah anak sekecil itu paham apa arti dari ucapannya barusan?

Setidaknya ia tampak jauh lebih dewasa dibanding Ragna di usia yang sama. Menilai dari nada bicaranya, tersirat keteguhan yang kuat.

"Aku memang tidak bisa maju bertarung di luar sana, tapi kalau ada musuh yang berani menyentuh tabib ini, aku pasti sanggup menusuk mereka sekali!"

Tentu saja.

Semangat juang bocah itu sungguh luar biasa.

"Penyusup terakhir yang datang ke sini menggunakan racun, kan? Dan berkat bantuan Ann, kita berhasil melewatinya tanpa luka? Kalau musuh yang datang punya kemampuan serupa, kemampuanku sudah lebih dari cukup untuk membantai mereka," tambah Grida seraya berusaha menenangkan hati mereka.

Ada luka robek menganga di perutnya. Ia memang masih sanggup memaksakan diri bertarung, namun jika ia mengerahkan seluruh tenaganya, lukanya pasti terbuka dan ia bisa tewas kehabisan darah.

Hal itu pantang dibiarkan terjadi. Prinsipnya sangat sederhana: tak boleh ada satu pun musuh yang berhasil melangkahi punggungnya.

Sosok yang wajib ia lindungi berada tepat di belakangnya. Dan keteguhan itulah yang bakal menjadi warisan kehormatan yang ia tinggalkan setelah ajal menjemput.

Ragna menatap lekat ke arah Ann.

"Kalau aku pulang hidup-hidup nanti…"

"Hentikan. Aku tidak mau mendengar ocehan soal hidup atau mati. Pokoknya pulanglah dalam keadaan utuh! Kalau situasi di sini memburuk, aku pasti berteriak memanggilmu. Jadi kau wajib kembali dan melindungiku juga!" potong Ann garang.

Ragna tak mendebat lagi—ia hanya mengangguk patuh.

"Pasti."

Andai ia tewas di medan perang nanti, apa yang bakal tersisa di dunia ini?

Setidaknya, sosok wanita berjiwa hangat yang memancarkan aura kehidupan itu—wanita yang selalu disiksa rasa bersalah karena merasa gagal menyelamatkan pasiennya, padahal itu bukan salahnya—akan tetap hidup.

Ragna membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun menelannya kembali.

Lebih tepatnya, ia menahan untaian kalimat yang berbunyi: *"Sosok diriku yang hidup di dalam ingatanmu akan tetap abadi."*

"Ayo berangkat…" ajak Encrid seraya melangkah maju di depan. Ragna mengekor di belakangnya.

*'Di belakang punggungku.'*

Bukan hanya Ann yang bakal tertinggal di belakangnya. Sosok pria yang telah bersusah payah merangkak dari lumpur kehinaan dan berani memarahinya ini pun akan tetap hidup.

Sosok "Ragna" yang diingat oleh pria itu akan tetap terjaga abadi.

Mereka melangkah keluar dari kediaman utama dan menyusuri jalan setapak. Usai melangkah beberapa saat, mereka berpapasan dengan salah seorang ksatria Zaun yang berjalan agak lambat di depan.

Seorang wanita berambut pendek. Ia melirik sekilas ke arah Encrid lalu bertanya heran:

"Tapi kenapa Enki memilih ikut bertempur di sini?"

Wanita itu adalah salah satu ksatria yang sempat akrab dengan Encrid selama beberapa hari terakhir.

Mungkin demi membantu seorang kawan, mungkin demi melindungi mereka yang berdiri di belakang punggungnya—apa pun alasannya, ada segudang motif yang masuk akal.

Namun Encrid bukanlah tipe pria yang suka mengumbar kata-kata puitis yang memalukan.

Menyadari hal itu, Ragna bergeser melangkah agak ke samping. Karena menghabiskan sebagian besar waktunya mengawal Ann, ia memang jarang berinteraksi dengan para anggota klan dibanding Encrid.

Sang ksatria wanita pun merasa agak canggung mendekati sosok Ragna yang dingin.

*Tap, tap—*

Encrid membuka suara selaras dengan derap langkah kakinya:

"Three-Iron terus merengek padaku."

"…Hah?"

"Dia terus merengek manja ingin diajak bermain."

Ksatria gila itu melontarkan bualan tersebut seraya menepuk-nepuk gagang pedang yang tergantung di pinggangnya.

*SWAAAAAH.*

Hembusan angin membawa butiran air hujan menerpa wajah mereka. Ksatria wanita Zaun itu spontan mundur setengah langkah menjauhi Encrid.

"Jadi kabar dari tabib itu benar adanya… Kau benar-benar orang gila yang suka bicara sendiri dengan pedangmu?"

"Iya, iya, Three-Iron. Hari ini pasti bakal sangat menyenangkan."

Encrid mengabaikan tatapan heran wanita itu seraya mengelus lembut sarung pedangnya seolah sedang menenangkan anak kecil. Melihat keanehan itu, sang ksatria wanita langsung mempercepat langkah kakinya menjauh.

Encrid sebenarnya tidak bermaksud mempermainkannya. Namun haruskah ia berterus terang dan berkata: *"Aku sangat membenci bajingan yang telah mengobrak-abrik rumah sahabatku"*?

Atau haruskah ia mengaku: *"Aku berharap setidaknya orang-orang yang kusukai di tempat ini tidak mati terbunuh"*?

Tidak, kata-kata semacam itu terlalu memalukan untuk diucapkan keras-keras.

Jauh lebih baik menunjukkan keseriusannya lewat cara yang unik.

Three-Iron menangis kehausan darah. Itu pun bukan sekadar lelucon kosong. Bilah pedangnya bergetar halus menimbulkan dengungan samar merespons pancaran Will milik Encrid.

Tentu saja bukan berarti pedang logam itu benar-benar bisa menangis—itu murni fenomena fisik akibat luapan Will yang meresap ke dalam inti logam.

"Kenapa kau malah menakut-nakuti orang?" tegur Ragna menyindir Encrid pelan. Ia tidak memarahinya, hanya mengingatkan bahwa candaan itu agak berlebihan jika Encrid hanya berniat menyembunyikan rasa canggungnya.

"Aku?"

"Memangnya siapa lagi kalau bukan kau?"

"Kalau ada orang yang bertanya padamu apa yang bakal kau tinggalkan setelah mati, apa jawabanmu?" Encrid membalikkan pertanyaan Ragna tadi untuk menyerang balik.

"Apalagi kalau bukan orang-orang yang pernah melihatku mengayunkan pedang?"

Ragna tersenyum lebar—bahkan di tengah guyuran rintik hujan, senyuman cerah itu terlihat sangat jelas. Ragna pun tergelak tawa.

Benar. Ia sedang sangat murka pada bajingan yang telah menghancurkan tanah kelahirannya, dan kini ia sedang melangkah pergi untuk membantai mereka semua. Tentu saja ia berhak tertawa lepas.

Meski di mata orang normal, jalan pikiran mereka berdua jelas-jelas terlihat seperti kegilaan orang tak waras.

Pemukiman Zaun terletak di atas cekungan tinggi, sehingga jalan keluar menuju lembah berupa lereng landai yang panjang.

Jalanan berbatu itu dibangun cukup lebar, dan seluruh ksatria Zaun kerap menyebut jalur agung itu sebagai "Pilgrimage of the Sword".

*'Bukankah mereka bilang memuja Dewa Pedang?'*

Encrid kini ikut menapaki jalur suci tersebut. Akibat terpaan angin dan hujan deras, kubangan air lumpur terbentuk di sana-sini. Namun permukaan jalannya sendiri tetap kokoh dan rata.

Mereka memang tidak menyembah kesucian dewa-dewi mitos, namun mereka menghormati dan memuja kemurnian seni pedang. Karena itulah mereka menamainya jalur ziarah—sebuah penghormatan agung bagi sang Dewa Pedang.

Di ujung lereng yang melengkung landai di bawah sana, kelompok pemberontak yang memicu seluruh petaka ini telah berkumpul rapat.

Akibat terpaan angin kencang dan tirai kabut hujan, sulit memandang jelas dari kejauhan. Meski begitu, siluet sang kepala keluarga terlihat kokoh berdiri di barisan paling depan, berhadapan langsung dengan musuh-musuh yang memblokir jalurnya.

Encrid dan Ragna menatap punggung tegap sang kepala keluarga dari kejauhan.

Sebelum sang lawan sempat melontarkan kata-kata provokasi, sang kepala keluarga langsung menghunus greatsword miliknya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Pihak musuh menyambut tantangan itu.

Dua ekor Scalor raksasa bersisik hitam dengan corak merah darah berpencar menerjang buas dari sisi kiri dan kanan.

Sang kepala keluarga melangkah maju seorang diri menyambut mereka.

*'Apa Ann sempat meracik ramuan khusus untuknya?'*

Kenyataannya, sebagian besar obat yang diberikan oleh sang tabib genius kepada para ksatria hanyalah stimulan darurat agar tubuh mereka sanggup bertarung saat ini juga.

Ann sendiri menegaskan bahwa pengobatan tuntas membutuhkan waktu lama.

Terlepas dari hal itu, sang kepala keluarga jelas telah meminum ramuan stimulan tersebut. Tekanan hawa intimidasi yang memancar dari sekujur tubuhnya kini terasa dua kali lipat lebih pekat dibanding sebelumnya.

Tekanan hawa pedang yang begitu masif dan padat berdiri tegak menjulang di tengah terpaan hujan badai.

* * *

"Kenapa mereka masih baik-baik saja?!"

Heskal bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia dibuat syok luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Rasa terkejutnya benar-benar tak terbendung.

Ia menggumam tak percaya tanpa sadar.

Orang-orang yang seharusnya terbaring sekarat memuntahkan darah kini berdiri tegak di hadapannya dalam kondisi bugar. Dan mereka sama sekali tidak tampak memaksakan diri.

Sosok pria yang dikenal sebagai murid utama Drmule angkat bicara dari sampingnya:

"Aku tidak paham…"

Pria itu adalah seorang kakek tua berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Ia telah mengalami kebutaan sejak kecil, namun sebagai ganti dari terbukanya mata batinnya, ia sengaja menanam mata buatan terkutuk di dahinya.

Itu adalah Evil Eye yang telah dipanen, diteliti, dan direkayasa secara magis. Berkat organ sihir itu, ia sanggup menembus tirai hujan dan melihat situasi dengan sangat jernih.

"Pasti ada seseorang yang menggagalkan rencana kita. Bukankah wanita penyembuh mereka sudah kalian bantai sampai mati?"

Hescal dengan kemampuan analisisnya yang luar biasa langsung menilai situasi dan menyahut dingin:

"Serangan penyusupan kemarin pasti gagal total."

Jawabannya sangat sederhana.

*'Pasti gadis bernama Ann itu pelakunya.'*

Naluri tajamnya memberi tahu kebenaran itu. Ada alasan kuat kenapa Drmule mati-matian berusaha melenyapkan gadis tersebut.

*'Drmule sudah mengetahui potensi berbahaya gadis bernama Ann itu sejak awal.'*

Detik pertama mendengar laporan intelijen yang disampaikan oleh Hescal tempo hari, sang alkemis mayat hidup langsung bertitah untuk membunuhnya. Apa alasan resminya kala itu? Bahwa orang-orang yang ditakdirkan mati memang harus mati?

*'Jadi ia berusaha melenyapkan satu-satunya orang yang sanggup meredam wabah penyakitnya.'*

Siasat pertama yang dipersiapkan matang-matang oleh Hescal ternyata gagal total. Meski begitu, murid utama Drmule tak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

Begitu pula dengan Hescal.

"Gadis itu paling banter hanya menunda kematian mereka sesaat. Siapa di dunia ini yang sanggup melenyapkan wabah yang telah disempurnakan Guru selama puluhan tahun hanya dalam kurun waktu satu hari?"

Perkataan itu pun teramat benar.

Kalaupun gadis itu berhasil menekan gejalanya, Hescal sama sekali tak percaya bahwa hal remeh itu sanggup mengubah hasil akhir dari pertempuran berdarah ini.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.