Bab 706

Hescal berdiri tenang di bawah tirai hitam sihir yang menahan derasnya tumpahan air hujan.

Apakah kubah pelindung ini tercipta dari sihir murni?

Pemandangan ini seharusnya memantik decak kagum, namun Hescal tak menunjukkan reaksi apa pun.

Amukan badai mengaburkan seluruh pemandangan di hadapannya. Cuaca seburuk ini sanggup membutakan pandangan seorang Knight sekalipun.

Meski begitu, tak ada sebutir air hujan pun yang mendarat di bahunya. Sihir agung yang luar biasa—haruskah ia melantunkan pujian? Namun Hescal tetap bersikap dingin tanpa ekspresi.

"Jadi, apa kau sudah menjalankannya sesuai rencana?"

Sosok lain berdiri di sampingnya di dalam naungan tirai hitam. Tidak, apakah makhluk mengerikan itu masih layak disebut manusia?

Bagi standar Hescal, pria itu sudah lama berhenti menjadi manusia. Bahkan makhluk itu sendiri tak pernah lagi menganggap dirinya sebagai manusia.

"Sudah kulakukan," jawab Hescal datar.

"Bagus. Kalau begitu aku akan menyiapkan tempat baru bagi kebangkitan klan Zaun. Dan aku akan naik takhta menjadi dewa, menegakkan hukum baru di atas tanah ini."

Pandangan Hescal tertuju pada sosok yang baru saja berbicara.

Kulitnya yang bersisik mengelupas tampak seperti bangkai hidup yang siap meregang nyawa. Otot-otot wajahnya telah membusuk mati, menciptakan rupa yang teramat mengerikan. Pipinya cekung ke dalam, dan bola matanya tampak melotot seolah siap menggelinding keluar kapan saja.

Tulang pipinya yang menonjol menembus robekan daging yang membusuk.

Tak perlu penjelasan panjang—tubuh pria itu memang sedang membusuk hidup-hidup.

Drmule, sang alkemis genius legendaris.

Dahulu kala, konon separuh dari seluruh alkemis di seantero benua menimba ilmu dari karya-karyanya. Mereka membaca buku-bukunya, mengembangkan warisan ilmunya, lalu merintis jalur alkimia mereka sendiri dari fondasi tersebut.

Ia adalah hantu dari masa lalu yang teramat kelam. Sosok mayat hidup yang seharusnya sudah terkubur berabad-abad silam namun masih bernapas hingga hari ini.

Melihat wujudnya membuat Hescal kembali merenung di dalam hati.

*'Kau hanya bisa bertahan hidup jika berdiri di kubu pemenang, Tempe.'*

Heskal berbisik lirih dalam batinnya.

Bagaimana cara seseorang menjalani hidup adalah urusan nanti—yang terpenting sekarang adalah memastikan diri tetap bernapas.

Saat ini tak ada lagi sosok di kediaman Zaun yang memiliki pengalaman memimpin pasukan militer, dan seluruh ksatria di sana tengah digerogoti penyakit. Kemenangan atau kekalahan sudah ditentukan bahkan sebelum pedang dihunus. Begitulah keyakinan mutlak Hescal.

Di tengah lamunannya, bau busuk bangkai yang menyengat mendadak menusuk lubang hidungnya.

Aroma mayat membusuk adalah wangi parfum khas milik Drmule. Pria bangkai itu melangkah maju satu tapak. Jika makhluk itu mendekat selangkah lagi, Hescal pasti terpaksa melompat keluar dari balik tirai pelindung.

Makhluk itu membawa hawa bahaya mematikan bahkan dalam jarak dekat. Ia adalah perwujudan nyata dari kekuatan terkutuk yang berani memproklamirkan diri sebagai dewa.

"Sahabat lamamu yang akan memimpin barisan depan."

Hescal, Lynox, dan Andante. Tiga bilah pedang legendaris yang mewakili kehormatan klan Zaun.

Di antara mereka bertiga, Andante telah tewas terbunuh beberapa waktu lalu lalu dibangkitkan kembali. Menjadi sosok apakah seorang Knight jika mati lalu dibangkitkan dari liang kubur?

Seorang alkemis sesat dan penyihir hitam telah menyeret jiwanya dari kematian, menyulapnya menjadi seekor Death Knight.

Saat intensitas hujan mulai menipis, bala tentara raksasa yang bertahan di tengah badai mulai menampakkan wujud di balik tirai hitam. Kawanan Scalor, Medusa, dan Owlbear—hampir mencapai seribu ekor monster mutan.

Sebuah legiun monster pemusnah.

Di belakang barisan monster itu berdiri deretan sosok berkepala tertunduk dengan rambut ular yang menjuntai lebat.

Ada pula sosok penyihir hitam yang sanggup menebar wabah maut hanya dengan satu jentikan jari. Serta puluhan dukun sihir yang jiwanya telah diperbudak oleh sang penyihir.

Lebih mengerikan lagi, para ksatria di dalam kediaman Zaun kini dalam kondisi sekarat, teracuni oleh "bibit penyakit" yang ditebarkan oleh Drmule.

Hescal telah meminum penawarnya, namun ksatria lainnya tidak. Ini adalah pertempuran yang sudah dimenangkan bahkan sebelum genderang perang ditabuh.

Saat ini, orang-orang di dalam benteng Zaun pasti sedang memuntahkan darah atau menderita demam tinggi yang membakar otak. Sebagian mungkin sudah tenggelam dalam halusinasi gila.

Halusinasi yang sanggup meremukkan kewarasan mereka atau demam membara yang merebus otak mereka hingga tewas mengenaskan.

*'Persis seperti saat anak kandungku meregang nyawa.'*

Penyakit mematikan yang disebarkan Drmule akan mengeringkan daya hidup mereka perlahan-lahan, meremukkan semangat tempur mereka bahkan sebelum pertarungan dimulai.

"Kenapa kau sampai bertindak sejauh itu hanya demi membunuh seorang gadis ingusan?" tanya Hescal.

Drmule sesumbar berniat menjadi dewa penguasa, namun ia mengerahkan segala tipu daya licik hanya demi melenyapkan satu orang gadis muda.

Ia bahkan memanfaatkan warga yang telah dipengaruhinya dari perkampungan pemburu dan menggelar ritual terkutuk.

Sebagian besar kekuatan itu memang berasal dari sihir Drmule—namun kebijaksanaan taktis Hescal-lah yang memastikan kekuatan itu dikerahkan di tempat dan waktu yang paling tepat.

"Dia adalah penghalang jalan."

Heskal hendak bertanya lebih lanjut, namun Drmule sudah lebih dulu membalikkan punggungnya.

Itu adalah isyarat mutlak bahwa ia menolak menjawab. Sebagai gantinya, dua orang murid kepercayaannya melangkah maju ke depan.

Salah satu dari tiga murid terbaiknya telah disusupkan ke dalam kediaman Zaun tadi, namun gagal kembali. Bukan karena ada yang melihat mayatnya, melainkan karena ia tak kunjung pulang tepat waktu.

Ragna bertugas mengawal gadis itu.

*'Apakah Ragna yang menebasnya sampai mati?'*

Jika benar begitu, Ragna kemungkinan besar ikut terpapar racun mematikan dan tewas. Murid-murid Drmule memiliki keahlian racun yang cukup untuk mewujudkan hal itu.

Kalaupun pemuda itu tidak mati, ia mustahil bisa melangkah tanpa luka parah.

Itu artinya berkurang satu lagi ksatria berpedang di kubu Zaun. Hescal menyingkirkan tanda tanya tentang sang gadis lalu mulai merancang skenario pertempuran di dalam kepalanya.

Kemenangan mutlak adalah satu-satunya kesimpulan yang tak terbantahkan.

* * *

*Uhuk, uhuk, uwekkk!*

Seorang ksatria Zaun memuntahkan segumpal darah kental ke lantai. Kain perca yang ia dekapkan ke mulut seketika berubah warna menjadi merah pekat.

Begitu batuknya mereda, ia menarik kain itu lalu menatap nanar noda darah di tangannya.

"Apakah aku akan mati?"

Nada suaranya bergetar berat, wajar bagi seseorang yang baru saja memuntahkan darah hitam dari paru-parunya. Ia siap mengangguk pasrah apa pun vonis yang ia terima.

Jika memang harus mati, ia lebih memilih mengayunkan pedangnya sekali lagi di medan perang sebelum meregang nyawa.

Tekad ksatria itu memperkuat kobaran Will miliknya. Tepat saat itu, Ann menepuk punggungnya dengan keras.

*PLAK!*

"Hentikan ocehan mau mati itu! Ini cuma sedikit darah kotor!"

Nada bicara Ann terdengar sangat ketus—bisa dimaklumi mengingat betapa sibuknya ia saat ini. Bahkan setelah menepuk punggung pria itu, kedua tangannya tetap bergerak lincah—memeriksa denyut nadi, menumbuk tanaman obat, lalu mencampur ramuan penawar.

Pria itu memuntahkan darah hitam justru setelah meminum ramuan penetralisir yang diberikan oleh Ann.

Sudah sekian lama ia merasakan gumpalan lendir aneh menyumbat tenggorokannya dan mulutnya mengeluarkan bau busuk, membuat semangat hidupnya perlahan terkuras habis.

Gejala kronis itu telah berlangsung begitu lama sampai-sampai ia sempat berpikir serius untuk mengasingkan diri ke Retirees' Village, tempat berkumpulnya para veteran Zaun yang telah uzur.

Ia mengira tubuhnya hanya menua secara alami, tanpa menyadari bahwa dirinya sedang digerogoti penyakit menular buatan.

"Dasar tukang mengeluh lebay," cibir seorang kawan di belakangnya.

Sang ksatria baru menyadari bahwa rasa mengganjal yang menyiksa di tenggorokannya mendadak lenyap tanpa bekas setelah memuntahkan darah hitam tadi.

"Apa tubuhku sudah membaik sekarang?" tanyanya takjub.

"Kau harus meminum obat ini rutin selama satu bulan penuh. Aku tidak bisa meracik dosis lebih banyak sekarang. Begitu hujan reda nanti, aku akan mengumpulkan bahan tambahan dan merebus obat baru. Sekarang, minggir dulu dan biarkan yang lain maju!"

Ann berbicara cepat tanpa jeda, dan pria itu dengan patuh melangkah mundur. Ann terus menyuapkan ramuan penawar atau menggunakan pisau bedahnya untuk menyayat lapisan kulit pasiennya.

Bahkan dari beberapa ksatria, makhluk-makhluk berlendir mirip lintah tampak menggeliat keluar dari balik robekan daging mereka.

*'Sebenarnya penyakit macam apa ini?'*

Sang ksatria bertanya lewat tatapan matanya yang terbelalak ngeri.

"Ini bukan penyakit murni. Ada kutukan sihir hitam yang sengaja dicampurkan ke dalamnya," jawab Ann lugas.

Pemandangan itu benar-benar di luar akal sehat.

Terutama bagi ksatria paruh baya yang baru saja menyaksikan makhluk mirip lintah dicabut paksa dari otot lengannya.

Kutukan sihir, katanya?

Bukankah kutukan gaib baru bisa musnah jika media sihirnya dihancurkan atau sang penyihirnya dibantai sampai mati?

"Seorang penyembuh merawat apa yang terlihat di depan mata. Kalau bisa kulihat wujudnya, maka bisa kusembuhkan penyakitnya. Kutukan gaib maupun infeksi penyakit—keduanya sama-sama merusak organ tubuh manusia, jadi hakikat biologisnya serupa," ucap Ann tegas.

Hanya seorang genius sejati yang berani melontarkan teori revolusioner semacam itu. Kenapa? Karena tak ada alkemis kolot di benua ini yang sudi berpikir demikian.

Bahkan para ksatria yang sedang dirawat dan Schmidt sang perwira Kekaisaran pun dibuat terperangah tak mampu berkata-kata.

"Luar biasa
 Pola pikir gadis ini benar-benar berada di tingkatan yang berbeda."

Melihat binar kagum di matanya, Schmidt kemungkinan besar bakal membujuk Ann untuk ikut bersamanya ke Kekaisaran begitu badai ini berlalu.

Bahkan di tengah situasi genting sekalipun, sang perwira perekrut tetap tak bisa menahan naluri berburu bakatnya.

Meski begitu, ia masih cukup waras untuk tidak mengganggu pekerjaan Ann saat ini. Ann bergerak gesit mengidentifikasi akar racun lalu menuntaskan pengobatannya.

Hanya dalam kurun waktu satu hari, tak ada lagi ksatria yang tumbang memuntahkan darah, dan tak ada lagi yang meracau gila akibat demam membara.

"Makan yang banyak dan istirahatlah dengan baik. Aku ingin melarang kalian banyak bergerak, tapi aku tahu kalian pasti keras kepala dan tidak mau mendengar, kan?"

Ann tidak mengarahkan ucapannya pada siapa pun secara khusus, namun semua orang mendengarnya dengan sangat jelas.

"Tentu saja kami tidak akan menurut," sahut Ragna datar.

"Meski begitu, usahakan istirahat sebisa kalian."

Ragna berucap serius. Tubuh yang baru pulih dari racun ganas mustahil sembuh total dalam semalam. Mereka harus menghargai kerja keras Ann. Maka setiap ksatria mulai mencari cara masing-masing untuk memulihkan tenaga.

Mereka menjejalkan kayu bakar ke perapian aula utama lalu menyulutnya hingga berkobar hangat. Di halaman depan kediaman, mereka bahkan menyalakan api unggun raksasa.

Demi mengeringkan pakaian basah dan menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan.

Setelah itu mereka mengeluarkan ransum makanan darurat lalu menyantapnya bersama di tempat mereka duduk. Tak ada waktu luang untuk duduk santai di meja perjamuan dan memasak hidangan mewah.

Sebagian besar anggota keluarga Zaun telah berkumpul di aula ini, sampai-sampai ruang duduk pun terasa sempit.

Beberapa ksatria tampak memejamkan mata beristirahat, sementara yang lain sibuk mengasah dan memeriksa senjata mereka. Bagi seorang ksatria, merawat senjata pusaka adalah bentuk istirahat yang menenangkan jiwa.

Encrid memeriksa ketajaman bilah pedangnya lalu berganti memakai celana dalam kering yang bersih.

Itu adalah pakaian dalam pemberian bangsa peri tempo hari.

Semuanya terasa nyaman—hanya saja tekstur kainnya agak kasar di kulit. Rasanya mirip mengenakan anyaman daun kering yang sedikit gatal.

Awalnya terasa melekat pas, namun sensasinya berubah seiring waktu. Terlalu serakah jika mengharapkan sutra mewah di tengah situasi darurat seperti ini.

Sadar akan hal itu, ia tak mengeluh sedikit pun. Ia hanya mencatat dalam hati bahwa bahan itu memang kurang nyaman untuk pakaian dalam tempur.

"Pekerjaanku selesai untuk tahap ini."

Pada satu titik, Ann mengangkat kedua tangannya ke udara seraya menghela napas panjang. Dahinya dipenuhi butiran keringat dingin, dan lingkaran hitam tebal membayangi matanya. Gadis itu telah memeras habis seluruh staminanya.

"Aku lelah sekali
"

Gadis itu bergumam lirih lalu ambruk berbaring ke lantai. Anahera dengan sigap menyelipkan bantal empuk di bawah kepalanya sebelum kepalanya membentur lantai papan.

Dari mana wanita raksasa itu mendapatkan bantal tersebut?

Lynox pun membawakan sehelai selimut tebal dari suatu tempat lalu menyelimuti tubuh Ann dengan hati-hati.

Ksatria lain berbisik menyuruh Ann memanggil mereka jika butuh sesuatu—bahkan menawarkan diri untuk maju bertarung menggantikan posisinya.

Andai bukan karena kejeniusan Ann, jumlah ksatria yang sanggup berdiri tegak dan berbicara sadar saat ini pasti jauh lebih sedikit.

Tak ada yang tahu siasat busuk apa yang ditebarkan oleh Hescal sebelum membelot, namun seluruh ksatria termasuk Lynox sempat merasakan ada yang salah dengan organ tubuh mereka.

Penyakit yang selama ini menggerogoti mereka secara perlahan mendadak dipicu meledak cepat, dan sosok orang asing—Ann—lah yang berhasil meredam bencana tersebut.

Heskal sengaja membantai Millestia demi memanfaatkan kekosongan posisi penyembuh di klan Zaun.

Satu kesalahan perhitungan fatal dari pihak musuh. Ann masih hidup dan berdiri kokoh di sini. Mungkin jasa Ferryman pun patut diperhitungkan dalam hal ini.

Pria tua itu memang selalu mendesak mereka untuk melindungi keselamatan Ann sejak awal perjalanan.

*'Masuk akal.'*

Encrid bertekad menceritakan semua ini kepada sang Ferryman andai mereka berkesempatan bertemu kembali kelak.

Guyuran hujan deras yang tadi menderu membahana dan mengancam menenggelamkan bumi kini perlahan berubah menjadi rintik-rintik halus—badai besar akhirnya mulai mereda.

Bukan berarti mentari pagi langsung bersinar cerah. Meski amukannya melemah, hembusan angin dingin dan gerimis tipis masih terus menyapu daratan.

"Musuh sudah datang."

Sang kepala keluarga mendadak bersuara. Menilai dari posisi waktu, fajar baru saja menyingsing di ufuk timur.

Encrid bangkit berdiri dalam keheningan, memperhitungkan waktu di dalam benaknya.

Sang kepala keluarga kembali memberi komando:

"Semua ksatria yang sanggup mengayunkan pedang—keluar sekarang."

Ia bukan tipe pria yang sanggup menyuntikkan emosi membara ke dalam untaian kata, jadi berpidato megah bukanlah keahliannya.

Karena itulah ia tak pernah mengandalkan kata-kata. Ia adalah sosok pendekar yang selalu berbicara melalui tindakan nyata. Ia meraih greatsword miliknya lalu melangkah tegap keluar dari pintu utama.

Mengamati punggung pria itu, Encrid berdiri di samping Ragna dan memperhatikannya lekat-lekat. Berbeda dari sang ayah yang dingin membeku, emosi Ragna terpancar jelas dari raut wajahnya.

Pemuda itu sedang sangat murka. Wajahnya memang tampak datar, namun kobaran amarah di kedua matanya menyala teramat buas.

"Tidak apa-apa kalau kau merasa marah," ucap Encrid pelan.

Satu per satu para ksatria Zaun mulai melangkah tegap keluar menyongsong medan pertempuran.

Grida berusaha ikut maju bertarung dengan luka jahitan yang masih basah di perutnya, dan Ann yang melihat hal itu mendesis tajam:

"Aku tidak keberatan memukul pingsan wanita bebal itu sekarang juga."

Peringatan itu bermakna mutlak bahwa Grida wajib tetap tinggal di dalam ruangan.

Encrid berdiri tenang di samping Ragna, mengamati barisan ksatria yang berbaris keluar satu per satu.

"Kenapa aku harus marah?" tanya Ragna balik.

Encrid merasakan secercah rasa gemas di dadanya.

"Jujurlah pada perasaanmu sendiri."

Meski begitu, nada bicara Encrid tetap terjaga tenang dan lembut. Ia yakin Ragna sebenarnya sudah mulai memahami kekacauan di dalam batinnya.

Melihat dari samping, segalanya tampak sangat jelas. Kenapa pemuda itu tidak segera mengambil Sunrise? Jika tujuannya kembali adalah demi Sunrise, kenapa ia hanya berdiam diri tanpa bertindak? Bukankah alasannya sudah sangat gamblang?

"
Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

Terkadang Encrid merasa sangat jengkel menghadapi tingkah orang-orang gila di sekitarnya. Ia jarang kehilangan kesabaran—namun sikap Ragna kali ini benar-benar menguji ketenangannya.

"Bahkan jika kau memilih pergi menjauh dari tempat ini, tak akan ada seorang pun yang menyalahkanmu," ucap Encrid.

"Aku baik-baik saja," sahut Ragna singkat.

"Aku tahu kau tidak pernah berniat membuang tanggung jawabmu. Tapi aku juga tidak percaya bahwa satu tebasan pedang sanggup menyelesaikan segala masalah di dunia ini."

Ragna terdiam membisu.

"Saat kau melangkah pergi meninggalkan tempat ini bertahun-tahun lalu, apa kau benar-benar pergi hanya untuk bersenang-senang? Apa karena itu waktu yang kau lalui terasa berbeda? Terasa lebih ringan? Mengabur tanpa arah? Apa kau merasa telah membuang-buang waktumu secara percuma? Apa kau benar-benar menikmati pengembaraanmu? Ataukah kau sebenarnya hanya sedang tersesat? Benarkah begitu? Karena membuang muka dari kenyataan yang terpampang di depan matamu bukanlah arti dari tersesat. Itu murni tindakan melarikan diri."

Penyesalan yang datang setelah kehilangan segalanya selalu tiba terlambat. Penyesalan adalah tamu yang selalu ingkar janji dan hanya meninggalkan luka mendalam bagi mereka yang menanti.

Encrid pernah merasakan pahitnya kehilangan, dan karena itulah ia paham betul betapa pentingnya melangkah maju sebelum semuanya terlambat.

Kenangan masa lalu mendorongnya untuk berbicara sedikit lebih tegas kepada pemuda di sampingnya.

"Kemarahanmu sangat beralasan, Ragna."

Encrid berucap mantap. Ragna mengerjapkan matanya sekali. Lalu pemuda itu membatin di dalam lubuk hatinya:

*'Apakah aku benar-benar sedang marah?'*

Ia memang sedang sangat murka.

Kata-kata Encrid—yang diawali dengan ketegasan membara lalu ditutup dengan ketenangan mendalam—telah memaksa Ragna untuk menatap lurus kenyataan yang selama ini sengaja ia abaikan.

Seseorang telah berani melukai keluarganya dan menginjak-injak tanah kelahirannya. Ragna akhirnya memahami hal itu sekarang.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.