Bab 702
Pria yang menyerupai Odinkar itu datang ke sini murni demi menjalankan titah sang tuan.
Sang tuan hanya berucap singkat:
"Pergi dan bunuh gadis itu."
Hanya itu.
Kenapa? Ia tak perlu tahu alasannya. Baginya, sang tuan adalah dewa. Mematuhi sabda dewa adalah kewajiban mutlak seorang pengikut setia.
Lagi pula, apakah membunuh seorang gadis ingusan adalah tugas yang berat? Karena itulah ia berangkat dengan langkah ringan.
Tugas sesungguhnya yang harus ia emban baru akan dimulai setelah urusan kecil ini rampung.
Dalam hal itu, pekerjaan ini tak ubahnya menyusup ke pemukiman kumuh, membujuk seorang bocah jalananâyang mungkin bakal kehilangan tangan akibat menjadi pesuruh Thieves Guild lalu berakhir jadi pencopet atau pengemisâdan menyeretnya pergi.
Sama mudahnya, sama tak berartinya.
Menculik bahan kelinci percobaan seperti ini seharusnya cukup diserahkan kepada anak buahnya saja.
Menjalankan tugas seremeh ini sempat memantik secercah kejengkelan di dalam hatinya. Bukankah ia ditakdirkan untuk hal-hal yang jauh lebih agung? Lalu kenapa harus mengurus remahan seperti ini?
*'Dasar lancang.'*
Pria itu buru-buru memarahi dirinya sendiri. Ia adalah seorang pengikut setia. Sudah sepatutnya ia menjaga keteguhan iman kepada sang dewa.
Meski ia tak mampu melihat gambaran besarnya, sang tuan pasti memiliki rancangan agung yang sedang berjalan. Bukankah dewa memang selalu seperti itu?
Mereka menguji iman pengikutnya dengan merenggut harta benda dan membantai anak-anak mereka. Menutupi sekujur tubuh dengan bisul bernanah, menenggelamkan mereka ke dalam lautan siksa hanya untuk melihat apakah iman itu masih tersisa.
Sebagian orang mungkin menyebutnya hobi yang bejatânamun bagi pria ini, itulah hakikat dari sebuah keimanan.
Kembali ke tugas remeh ini, perlawanan dari gadis kumuh itu sama sekali tak mengubah apa pun.
Gadis itu memang dilindungi monster mutan dan lihai meracik racun. Jadi ia hanya perlu menaklukkannya.
Bahkan andai ada seorang Knight yang menghalangi jalannya sekalipun, itu bukanlah masalah besar.
"Racunku tidak bisa dinetralkan semudah iâ"
Pria itu menggelengkan kepala seraya mencemooh bocah ingusan yang berani menentangnya, namun ucapannya terpotong seketika.
*DUARRR!*
Raungan gelegar petir membelah tumpahan air hujan.
*KRAKKK!*
Suara tebasan pedang membelah udara dengan dahsyat. Sebilah greatsword raksasa membabat habis seekor Scalorâmonster bersisik tebal yang ketahanan kulitnya sanggup menandingi tubuh sang pengikut setia.
Lebih tepatnya, monster itu tadi mengincar punggung sang gadis, namun ksatria berpedang besar itu dengan santai membalikkan badan lalu membelahnya jadi dua.
Padahal tubuh pria itu jelas-jelas sudah terpapar racun.
*'Kenapa dia masih baik-baik saja?!'*
Para Knight memang monster berkekuatan gila, ia tahu betul itu. Karena itulah ia menggunakan racun mematikan yang bahkan sanggup melelehkan tulang.
*KRAAAASH!*
Gemuruh hujan lebat kembali mengisi kesunyian sesaat yang tercipta dari ayunan pedang itu.
Air bah yang merangsek masuk dari kamar meluap ke lorong, menggenang di sekitar kaki mereka.
Genangan air itu seharusnya memperlambat gerakan, namun Ragna dengan santai menerjang air, membenahi kuda-kudanya, lalu mengayunkan greatsword dengan kedua tangan.
*DUG. SREK. KROK.*
Dua ekor Owlbear yang menerjang membabi buta dan seekor Scalor bersisik hitam terbelah berkeping-keping lalu ambruk ke lantai.
Mata Scalor hitam itu berputar liar sebelum akhirnya membeku tak bergerak.
Meski tubuhnya sudah terbelah dua, daya hidupnya yang liat sempat meronta beberapa detik sebelum akhirnya meregang nyawa.
Pupil matanya yang berkedut kini diam membeku, dan sisa kakinya gemetar sekali sebelum terkulai lemas.
Tepat di hadapan bangkai itu, monster berpedang besar berdiri tenang tanpa terusik. Ia memegang greatsword dengan satu tangan sambil memutar-mutar lengan kirinya, seolah sedang mengecek apakah otot bahunya kaku.
"Penawar apa yang kau berikan tadi?" tanya sang monster berpedang besar kepada gadis di sampingnya.
"Bukan apa-apa. Kulihat tadi hanya racun saraf murahan, jadi kuberikan saja penawar lama yang kubawa.
Itu jelas turunan racun kelumpuhan saraf, kemungkinan besar diekstrak dari bisa ular.
Tangkap beberapa ular beludak, peras bisanya, suntikkan sedikit demi sedikit ke hewan seperti kambing atau unta sampai darah mereka membentuk antibodi, lalu racik penawarnya dari sana.
"Tapi biarpun kujelaskan panjang lebar, apa kau bakal paham?"
Gadis buruannya itu mendongakkan kepala di tengah kalimat. Tak ada secercah pun rasa bangga di kedua mata merahnya. Ia berbicara seolah hal itu hanyalah masalah sepele.
"Omong kosong!" bentak sang pengikut berwajah Odinkar.
Ia telah menyempurnakan racun itu ribuan kali, bagaimana mungkin gadis ini sudah mengantongi penawarnya?
Terlebih lagi, racun saraf yang ia pakai barusan baru selesai ia kembangkan bulan lalu. Penjelasan gadis itu sama sekali tidak masuk akal!
"Apanya yang tidak masuk akal?" tanya Ann santai.
"Kau mustahil bisa meracik penawar tanpa mengetahui formula racunku!" geram sang pengikut.
Dan gadis itu, seolah sedang memetik bunga liar di pinggir jalan, menyahut datar:
"Memangnya apa yang istimewa dari racun yang dibuat dengan metode basi yang bisa ditiru siapa saja?"
Satu-satunya cara agar kata-kata gadis itu masuk akal hanyalah melalui sebuah kenyataan pahit:
Racun yang telah ia kembangkan selama puluhan tahun ternyata hanyalah formula usang dan murahan di mata gadis ini.
Karya seumur hidupnya tak lebih dari teori lewat yang tak berarti baginya. Mungkinkah hal gila seperti itu nyata?
Jika memang benar⊠maka gadis ini adalah monster di atas segala monster.
Di mata sang pengikut, gadis itu tampak jauh lebih mengerikan dibanding monster berpedang besar di depannya.
"Mati kau!"
Kedua matanya membara diselimuti rasa iri yang membakar jiwa. Ia harus membantai gadis iniâapa pun yang terjadi.
Entah kenapa, dorongan kebencian yang teramat pekat tiba-tiba meledak di dalam dadanya.
Ia merogoh racun baru, racun halusinasi yang membuat korbannya mati perlahan di tengah luapan euforia semu.
Jika mereka bertarung di luar ruangan, angin dan hujan deras mungkin akan melarutkannya. Namun mereka berada di dalam lorong tertutup.
Sang pengikut menggesekkan bubuk racun itu di antara kedua telapak tangannya. Serbuk halus itu pecah menjadi partikel mikroskopis lalu menyebar cepat ke udara.
Satu racun lagi. Yang ini mustahil gagal. Ia mendesis seraya melepasnya.
"Kenapa kau terus mengoceh omong kosong? Ada apa dengan wajahmu itu? Hasil operasi bedah, ya?"
Ann merogoh tas kulit kedap air miliknyaâtas berbalut tiga lapis kulit tebal hasil jahitan tangan ahli mantan penjahit Border Guard Reserve Unit yang ia beli dengan kepingan emas murni.
Ia mengeluarkan sesuatu lalu menelan sebutir pil ke dalam mulutnya sendiri, kemudian menyelipkan sebutir lagi ke dalam mulut Ragna.
Sang monster berpedang besar menerimanya dengan santai, mengunyahnya tanpa ragu.
Sang pengikut kian membenci pemandangan itu. Hasrat membunuh kembali berkobar di dadanya. Namun bubuk racun itu sama sekali tidak mempan.
Wajah mereka tidak memerah, mata mereka tidak berkunang-kunang, bahkan batuk pun tidak.
Melihat bubuk racunnya gagal total, pria itu melemparkan sebotol ramuan kimia. Ramuan legendaris yang mengerikan. Cairan asam pekat yang tak hanya sanggup melelehkan kulit binatang sihir, tapi juga meremukkan tulang belulang seketika.
Bahkan uap gasnya saja sanggup melarutkan kulit manusia.
Ia melemparkan botol ramuan ke udara sambil melesatkan tombak pendek dengan tangan satunya.
Otot-otot hasil modifikasinya memberikan tenaga fisik yang setara dengan seorang Knight. Setidaknya secara teori. Namun menghadapi Knight murni hanya mengandalkan otot fisik adalah kebodohan mutlak.
Sang pengikut paham betul soal itu. Karena itulah mata tombak pendeknya dilumuri racun ganas.
Ia masih menyimpan tiga tombak lagi di pinggangnya, senjata khusus jarak dekat dengan gagang yang dipendekkan.
Ia sudah melempar satu lewat jendela tadi, dan satu lagi setelah menerobos masuk.
Namun monster berpedang besar itu hanya menepis tombak beracun bak mainan anak-anak, lalu berkelit santai menghindari siraman cairan asamâsemua itu ia lakukan sambil terus mendekap sang gadis dalam pelukannya.
"GRAAAAHHH!"
Sang pengikut hilang kendali dan melolong murka. Jantungnya berdegup gila-gilaan, pandangannya memerah pekat. Ia harus membantai mereka berdua, terutama monster cilik itu! Ia melompat gesit mencengkeram langit-langit.
Belasan monster merayap bangkit dari kegelapan lalu menerjang maju. Deretan Scalor bersayap kelelawar menyapu lorong sempit itu.
*'Yang paling berbahaya adalah monster cilik itu. Aku bisa mengatasi ksatria berpedang besar ini!'*
Namun delusi bodoh itu hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.
Tepat saat pengguna greatsword itu bergerak sedikit, senjatanya menyambar lebih cepat daripada yang sanggup ditangkap oleh mata kepala sang pengikut.
*DUARRR! DUARRR!*
Ledakan sonik beruntun merobek udara. Empat monster yang menerjang terpotong-potong berkeping-keping lalu terpental menghantam dinding.
Sang pengikut merogoh ke belakang hendak melempar tombak lagiânamun tubuhnya mendadak mematung beku.
"âŠMonster gila macam apa kalian berdua ini."
Ia sebenarnya tak berhak berucap demikian, mengingat dirinya sendirilah yang telah merombak tubuhnya dan mengganti wajahnya melalui operasi bedah sesat.
Namun dari sudut pandangnya, ucapan itu terasa sangat beralasan.
Ia rela membuang kemanusiaannya dan hidup di antara kawanan monster demi menjadi sosok yang lebih unggul.
Lebih jujurnya lagi, ia hanya ingin melampaui para "genius" keparat itu dan merasa lebih berkuasa.
Namun di hadapannya kini berdiri dua sosok monster yang meruntuhkan segala pengorbanan yang telah ia jalani. Mereka tak pernah membuang kemanusiaan mereka, namun tetap jauh lebih unggul darinya. Ini adalah jurang keputusasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
*'Kenapa? Kenapa?! Aku sudah mengorbankan segalanya untuk berhenti jadi manusia, lalu kenapa kalian berdua masih jauh lebih hebat dariku?!'*
Monster-monster mutan yang ia bawa sanggup menyulitkan Knight berpengalaman mana pun. Ditambah racun mematikan miliknya, serangan ini seharusnya membawa maut mutlak.
*'Tapi kenyataannya⊠sama sekali tidak ada artinya.'*
Monster berpedang besar itu membantai kawanan binatang buas sambil tetap melindungi monster cilik di sampingnya, lalu mengayunkan pedang raksasanya ke arah sang pengikut seolah menebas rumput liar.
Sejak benturan pertama, sang pengikut bahkan tak pernah berhasil melihat celah Ann sedikit pun.
Monster berpedang besar itu sama sekali tak memberi izin. Bahkan hingga akhir. Ia menerjang lurus ke depan, menebaskan pedang mautnya, lalu melompat mundur kembali ke posisi semula.
Jalur mundurnya kembali memagari tubuh gadis itu rapat-rapat. Gerakannya saat mundur bahkan jauh lebih cepat dibanding saat melancarkan serangan.
Kalaupun sang pengikut masih menyimpan senjata rahasia, itu tak akan berguna sedikit pun. Ksatria itu tak pernah lengah walau seperseratus detik.
"Ghk."
Greatsword raksasa itu membelah kepalanya menjadi dua, dan racun-racun pekat yang selama ini terjaga seimbang di dalam tubuhnya langsung lepas kendali, membakar dan meremukkan organ-organ dalamnya.
Pada akhirnya, racun di dalam tubuhnya sendirilah yang membunuhnya sebelum luka tebasan pedang merenggut nyawanya. Tepat sebelum kesadarannya padam untuk selamanya, ia akhirnya paham kenapa ia begitu bernafsu membunuh gadis itu.
*'Dia adalah ancaman terbesar bagi rencana Tuan.'*
Bakat yang kelewat luar biasa memang selalu memantik ketakutan mendalam.
Dan gadis itu tampak memiliki kejeniusan mutlak yang sanggup meremukkan segala rencana agung yang telah dipersiapkan oleh sang Tuan.
Pikiran yang terlintas di detik-detik kematian adalah rahasia yang tak akan pernah bisa dibagikan kepada siapa pun. Dan dengan begitu, pria itu tewas tanpa sempat meninggalkan kata-kata terakhir.
"Kau baik-baik saja?"
Ragna bertanya seraya melangkah menjauhi tumpukan bangkai monster dan menyeka darah di bilah greatsword miliknya.
Hanya dengan melihat sepintas saja, gerigi tumpul terlihat jelas di mata pedang. Ketajamannya sudah menurun drastis.
Tubuh monster-monster itu dipenuhi cairan racun pekat. Darah salah satu monster bahkan hampir identik dengan cairan asam kimia yang dilemparkan oleh pria berwajah Odinkar tadi.
Itu adalah cairan perusak yang membakar apa pun yang disentuhnya.
Meski sudah meminum penawar, kontak fisik langsung dengan kulit tetap bisa menimbulkan luka bakar serius.
Namun Ragna berhasil menghindari semuanya hanya dengan membaca sudut semburan darah. Hanya beberapa percikan kecil yang sempat mengenai tuniknya.
Rompi kulitnya yang diperkuat kulit binatang buas sebagai pengganti zirah logam sudah cukup tangguh menahan percikan asam.
Tentu saja, memakai pelat besi di luarnya akan jauh lebih ideal. Beberapa lubang kecil kini menganga di rompi kulitnya.
Sedangkan untuk bilah pedangnya, logam itu hanya sedikit terkikis setelah membabat monster-monster beracun.
"Selain sedikit mual, aku baik-baik saja," jawab Ann seraya merapatkan kembali tas kulit mahalnya, lalu mengunci ketiga kait penutupnya rapat-rapat.
*KRAAAAAHHH!*
Bahkan di tengah amukan badai sedahsyat ini, barang-barang berharga di dalam tasnya tidak akan rusak sedikit pun.
Tas itu dirancang khusus agar tetap kering meski tenggelam di dasar air. Badai biasa bukanlah tandingan baginya.
"Kita sebaiknya segera menyusul Kapten," tambah Ann.
Pasti ada kekacauan besar yang pecah di luar sana, namun di tengah badai yang menderu hebat ini, sulit memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Ragna sekalipun tak sanggup membedakan suara apa pun di tengah kekacauan alam semesta ini.
*BLARRR!*
Petir kembali menyambar dahsyat.
Ragna melangkah perlahan di depan, menjaga Ann tetap berada di balik punggungnya. Ia terus memasang kewaspadaan penuh mengantisipasi keberadaan musuh lain yang mungkin luput dari pengawasannya.
"Kau melindungiku?" tanya Ann pelan.
Ragna menjawab dengan kejujuran mutlak. Ia memang bukan tipe orang yang suka berbohong atau berpura-pura.
"Kau tidak akan mati selama aku masih bernapas."
Wajah Ann seketika memerah tipis.
Bukankah kata-kata barusan terdengar seperti sebuah pengakuan cinta?
* * *
Encrid berdiri berhadapan dengan sang kepala keluarga Zaun, sementara di belakangnya berdiri sosok pengguna pedang tercepat yang pernah ia temui seumur hidup.
Pendekar pedang itu bernama Alexandra.
Dan di antara mereka berdiri sosok lainâSchmidt, sang pembelot. Seorang ksatria dari Kekaisaran yang sarat akan aroma sihir.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?"
Schmidt yang kini basah kuyup bak tikus kecebur selokan bertanya dengan tatapan tak percaya.
Rambutnya yang basah menempel di dahi, namun ia bahkan tak berniat membenahinya, terlalu terpukul untuk peduli pada penampilannya.
*'Kalau ini hanya aktingâŠ'*
Maka Schmidt pantas dinobatkan sebagai aktor terhebat di seantero benua.
Bahkan mengabaikan naluri tajam seorang Knight sekalipunâketerkejutan pria itu terasa sangat tulus. Encrid menoleh ke arah sang kepala keluarga.
"Kenapa Millestia tewas?"
Ia sengaja menanyakan 'kenapa'.
Ia memang tidak tahu rincian kejadiannya, namun ia bisa merasakan bahwa kematian Millestia telah direncanakan sejak awal.
Nuansa pertanyaan itu langsung ditangkap jelas oleh sang kepala keluarga.
"Dia berkorban demi memicu situasi ini," jawabnya seraya memutar tubuh menghadap Encrid.
*KRAAAAHH.*
Tetesan air hujan yang dingin menghujam bumi tanpa henti. Gemuruh petir berkali-kali menyambar, membuat siapa pun yang menggenggam senjata logam merasa waswas.
Mereka bisa tersambar petir sewaktu-waktu.
Di wilayah Zaun, penggunaan senjata berbahan logam di musim badai memang dilarang keras karena alasan tersebut.
Kondisi geografis lembah Zaun yang menyerupai cekungan ditambah sifat petir yang menyukai logam menjadikannya kombinasi yang mematikan.
"Bolehkah aku meminta satu bantuan?" tanya sang kepala keluarga.
Kecurigaan Grida memang tertuju lurus padanya, menuduh sang kepala keluarga telah mengkhianati marganya sendiri demi suatu motif tersembunyi.
"Katakan saja," jawab Encrid tenang.
"Jika aku tewas nanti, tolong urus kekacauan setelahnya. Penerusku adalahâ"
Ia menghentikan ucapannya di tengah kalimat lalu melangkah mendekat. Ia mencondongkan tubuh lalu membisikkan sebuah nama tepat di samping telinga Encrid.
Encrid menyimak seksama lalu mengangguk mantap.
"Paham."
"Terima kasih."
"Bukan masalah besar."
"Melihat pemuda ini tiba di sini bersama Ragna tepat di saat-saat genting seperti ini⊠sepertinya dewi keberuntungan masih memihak kita, ya?" celetuk Alexandra begitu percakapan rahasia itu selesai.
Ia melirik sekilas ke arah kerumunan ksatria yang saling bersitegang di tengah amukan badai.
Matanya mungkin sempat menyimpan kesedihan mendalam, namun di mata Encrid, sorot mata wanita itu kini hanya dipenuhi oleh tekad baja. Alexandra melanjutkan:
"Kalaupun tidak, yah, mau bagaimana lagi. Takdir memang tak bisa dihindari."
Benar.
Encrid sangat setuju, terutama pada bagian tentang takdir yang tak terhindarkan itu.
*'Sang kepala keluarga bukanlah musuh kita.'*
Grida mungkin meragukannya, namun Encrid menilai sebaliknya. Melihat segalanya dari sudut pandang yang lebih luas membuat duduk perkaranya kian terang benderang.
*'Sang kepala keluarga sudah menjadi sosok paling berkuasa dan berpengaruh di siniâbahkan tanpa perlu melakukan apa pun.'*
Jika tujuannya adalah menghancurkan klan Zaun, ia tak perlu repot-repot membuat sandiwara serumit ini.
Ia cukup memanggil para ksatria satu per satu lalu membantai mereka secara diam-diam.
Bahkan hilangnya Odinkar kemungkinan besar adalah bagian dari rencananya.
Lebih tepatnya, bukan menghilangâmelainkan sengaja disembunyikan berdasarkan permintaan atau perintah rahasia.
Odinkar pernah bercerita bahwa ia ditugaskan ke Border Guard atas titah langsung dari sang kepala keluarga.
Jika kepergiannya bukan atas kehendaknya sendiri, maka hanya ada satu kemungkinan yang tersisa.
Gambarannya memang masih samar, namun Encrid sudah bisa menyatukan kepingan teka-teki ini murni dari analisanya sendiri.
*'Yah⊠kecuali jika sang kepala keluarga mendadak terjerumus ke sekte sesat atau kehilangan akal sehatnya.'*
Namun mungkinkah seseorang yang telah mencapai puncak ksatria bisa dimanipulasi semudah itu? Seseorang yang mampu menempa Will miliknya menjadi senjata mematikan?
*'Sangat mustahil.'*
Tentu saja, masih ada kemungkinan bahwa orang-orang yang berdiri di depan dan di belakangnya mendadak berbalik menjadi musuh karena alasan yang tak ia ketahui.
Namun hal itu pun tak jadi masalah baginya. Karena itulah ia memilih datang seorang diri.
Tepat saat itu, sosok yang tadi meneriakkan nama sang kepala keluarga melangkah maju ke depan. Namanya adalah Lynoxâksatria veteran yang paling vokal menentang tindakan sang kepala keluarga.
Namun pria itu tak pernah sekalipun mengkhianati keluarganya.
Ia berteriak lantang karena menuntut pertanggungjawaban atas kekacauan berdarah yang melanda kediaman Zaun.
Ia baru saja berhasil menenangkan dua kubu yang nyaris saling tebas barusan.
"Kalau sampai ada satu pun di antara kalian yang berani mengayunkan pedang ke arah saudara sendiri, aku bersumpah bakal meremukkan tengkorak kepalanya! Ini bukan gertakan kosong, ini janji mutlak! Jangan bertarung! Paham?! Tidak ada peringatan kedua!"
Entah ia sadar atau tidak dengan apa yang baru saja ia semburkan.
Kata-katanya terdengar kasar dan berantakan, namun pesannya tersampaikan dengan sangat tegas. Setidaknya untuk saat ini, kedua kubu yang terpecah itu tidak sampai saling bunuh.
Setelah menenangkan para ksatria, Lynox menghampiri mereka dan mendesis geram.
"Hescal menusuk Grida."
Encrid menembus tirai hujan dan melihat Lynox menggenggam enam bilah pedang yang terbungkus kain tebalâkemungkinan untuk menghindari sambaran petir.
Pria itu pasti sedang berlatih di kamarnya saat kekacauan pecah, dan kemungkinan besar ia pun sempat disergap musuh.
Luka sayatan terlihat jelas di pipi dan bahunya, tempat darah hitam merembes keluar.
Mendengar laporan Lynox, sang kepala keluarga hanya menanggapi tenang:
"Begitu rupanya."
"Ini bukan waktunya untuk bersikap tenang! Andante juga sudah tewas dibantai! Aku sendiri disergap! Sebagian ksatria bilang mustahil Hescal pelakunya, tapi dia sudah membunuh Jerry, Eben, Roist, dan Fail dengan tangannya sendiri! Sialan, dan beberapa ksatria lain ikut membelot bersamanya! Jadi sekarang bagaimana, Tempe?"
Nama asli sang kepala keluarga adalah Tempest Zaun. 'Tempe' adalah panggilan akrab yang hanya digunakan oleh para sahabat dekatnya.
Lynox, sebagai sahabat lamanya, memiliki hak istimewa untuk memanggilnya dengan nama itu.
Tempest Zaun menimbang-nimbang peristiwa yang terjadi di antara hal-hal yang telah ia antisipasi dan kejadian yang luput dari perhitungannya.
"Kita cari musuh."
"Lalu setelah ketemu?" tanya Lynox.
"Kita bertarung."
Semua sudah terlanjur terjadi. Sekarang hanya ada satu jalan yang tersisa. Encrid mengangguk setuju mendengar jawaban tegas itu. Langkah itu memang yang paling tepat.











