Bab 685
*SssssssâŠ*
Kabut tebal dan monster Scalor memiliki sinergi yang sangat mematikan. Itulah alasan mengapa pihak musuh sengaja menebarkan Fog of Annihilation. Namun yang tengah mereka hadapi di sini adalah empat orang Knights.
Monster-monster biasa bahkan tidak akan sanggup menahan langkah mereka walau sedetik pun. Ragna adalah orang pertama yang membuktikan fakta telak itu.
Greatsword raksasanya membelah tubuh sang Scalor yang bertindak sebagai media mantra sihir.
Normalnya mengeksekusi media sihir tidak akan semudah itu. Bagaimana pemuda itu sanggup memburu dan membantai media yang bersembunyi jauh di barisan paling belakang, menjaga jarak sejauh mungkin sembari hanya mengintai dengan bola matanya?
Ragna hanya melesat lurus ke depan, menghujamkan dirinya tepat ke tengah kepungan musuh.
Andai monster-monster reptil itu memiliki kecerdasan berpikir, mereka pasti akan menyebut aksi itu sebagai kegilaan murni.
Jika musuh mengincar punggungnya, maka ia hanya perlu membiarkan dirinya dikepung dari segala penjuru. Lalu selama ia sanggup membabat habis segala makhluk di depan dan di belakangnya, pengepungan itu tak ada artinya.
Pola pikir Ragna memang sesederhana itu.
Petaka bagi gerombolan Scalor bermula pada detik sang media tewas oleh serbuan kilat di luar nalar tersebut.
*'Sekalipun kabut masih tebal, hasilnya tidak akan berbeda.'*
Menarik kesimpulan itu, Encrid menyambut tangan sang Nyonya Bergaun Amber lalu melakoni dansa mautnya.
Kedua kakinya bergerak lincah tanpa lelah, melangkah dalam ritme anggun, pedangnya berayun harmonisâmemenggal kepala seekor Scalor yang mendekat.
*Cras!*
Kepala monster bersisik itu terputus rapi tanpa perlawanan berarti di hadapan mata bilahnya.
Sisi Black Gold memberi bobot hantaman masif dan menghela laju kecepatan, sementara sisi Star Iron menjaga keseimbangan rotasi pedang secara sempurna.
Sensasi tebasan bilah Three-Iron melampaui sekadar kepuasan biasaâitu terasa sangat menyegarkan jiwa.
*'Pedang ini terasa sungguh luar biasa.'*
Apakah ini berkat keahlian tempa Eitri yang telah meningkat pesat? Ataukah murni karena keunggulan bahan baku magisnya?
*'Mungkin perpaduan keduanya.'*
Dibandingkan dengan paduan Black Gold dan Jin Silver yang pernah ia pegang sebelumnya, Three-Iron Sword jauh lebih pas melekat di tangannya. Respons pedang itu terasa begitu hidup seolah sang Nyonya Three-Iron sendiri tengah berbisik lembut di telinganya.
Membisikkan betapa bahagianya ia bersua dengan pasangan dansa yang begitu memesona.
"Aku juga," gumam Encrid lirih di sela hembusan napasnya.
Bagi orang lain kalimat itu mungkin terdengar seperti racauan orang gila. Namun ia terus bergerak lincah, memandu sang Nyonya dalam dansa berdarah mereka.
Gerakannya bukan putaran sembarangan. Ia berputar dalam lingkaran presisi, memusatkan poros tubuhnya mengelilingi Ann. Pikirannya yang terakselerasi dan indranya yang menegang tajam menghitung setiap sudut serangan musuh yang meluncur.
Ia mempertahankan kuda-kuda Wave Blocking, menepis serangan lalu menebas balik pada detik celah terbuka.
Dengan pergerakan melingkar Encrid yang memahat zona perlindungan mutlak, baik Scalor maupun Bride of Plague tak sanggup mendekat walau sejengkal.
Ann merasa seolah dirinya tengah berdiri di mata badai badai amber yang perkasa.
"Hembusan napas Bride of Plague itu mengandung racun mematikan!" teriak Ann memperingatkan.
Namun tidak ada satu pun yang bereaksi.
Hal itu karena sudah tidak ada lagi Bride of Plague yang tersisa di medan laga. Encrid telah membabat habis mereka semua sebelum roh-roh jahat itu sempat menyemburkan racunnya.
Meski hampir tidak bisa melihat pertempuran karena tertutup sosok Encrid, Ann tetap merasa perlu menyuarakan peringatannya.
Tidak butuh waktu sampai setengah hari bagi mereka untuk memusnahkan seluruh gerombolan Scalor itu.
Beberapa ekor yang tersisa mencoba berpura-pura mundur, merayapkan perut mereka rata di atas tanah dan melata senyap demi menyergap Ann dari titik buta.
Namun upaya licik itu pun berakhir sia-sia. Magrun melesat lincah ke sana kemari, menghujamkan pedangnya ke tanah secara acak.
*Jleb! Brak!*
Bangkai beberapa reptil bersisik yang bersembunyi di balik tanah liat kejang-kejang sebelum akhirnya mati kaku.
Bahkan tidak sampai lima ekor kadal raksasa yang tersisa di hadapan mereka. Ragna telah membantai hampir seluruh gerombolan itu seorang diri.
*'Kalau bicara murni soal daya tempur fisik, monster-monster kadal inilah yang lebih berbahaya.'*
Itulah evaluasi taktis Encrid.
Bahaya sejati dari Scalor terletak pada kemampuan mereka memanipulasi persepsi indra seorang Knight. Mereka mendesiskan suara *sssshhh* yang menggetarkan udara demi mengacaukan sensasi getaran rabaan.
Mereka juga tidak memancarkan bau tubuh sedikit pun, membuat mereka mustahil dilacak melalui indra penciuman.
Mereka adalah musuh terburuk bagi bangsa beastman. Mereka sanggup mengelabui sentuhan, pendengaran, dan penciuman secara halus.
Namun pada akhirnya seorang pendekar hanya perlu mengonfirmasi posisi mereka secara visual lalu menebas dan menusuk sesuai sasaran.
Sensasi geli menusuk di tengkuk leher Encrid selalu memberitahunya setiap kali ada monster yang mendekat terlalu rapat.
*'Seorang Knight sejati tidak akan tumbang semudah itu oleh makhluk semacam ini.'*
Mereka tak lebih dari hama pengganggu yang merepotkan. Tidak ada mantra sihir susulan yang mengintervensi pertarungan setelah itu.
Sebuah pertanyaan baru muncul di kepala Encrid setelah ia puas menikmati sesi adu pedang yang harmonis bersama rekan barunya.
*'Kenapa musuh melancarkan serangan ini? Kenapa mereka membuang pasukan sebesar ini cuma demi gangguan kecil?'*
Jawabannya terkuak begitu pertempuran resmi berakhir.
*Krak!*
Ragna menghunjamkan greatsword menembus tempurung kepala Scalor terakhir lalu memutar pergelangan tangannya.
Pecahan batok kepala terlempar ke segala arah, menumpahkan cairan otak kelabu dan darah hitam pekat ke tanah.
Grida yang sedari tadi mengawasi perimeter tiba-tiba mengernyitkan alisnya tajam.
"Bajingan-bajingan ini..." geram Grida menatap jauh ke luar perimeter pertempuran.
Mereka tadi sengaja melesat maju menyambut musuh demi mencegah kuda-kuda tunggangan mereka terseret ke dalam medan perang. Namun di barisan belakangâsebuah pemandangan tak terduga terpampang di depan mata.
Kuda-kuda perkasa milik Border Guard yang telah membawa mereka sejauh ini terkapar mati di atas tanah, leher mereka terpenggal rapi.
Darah segar menggenang membasahi tanah hitam di sekeliling bangkai hewan-hewan malang itu.
"Mereka membawa kabur semua air dan ransum makanan kita," lapor Magrun setelah memeriksa kantong-kantong pelana yang robek terkoyak.
Mereka tadi tidak perlu menggendong tas berat karena seluruh logistik tersimpan di pelana kuda. Kini seluruh perbekalan itu telah lenyap tanpa sisa.
"Apa kita terlalu hanyut dalam pertarungan tadi?" gumam Encrid.
Encrid bukan tipe orang yang suka larut dalam penyesalan atas kesalahan taktis. Namun bukan berarti ia tidak mengevaluasinya secara objektif.
Ia bertanya pada dirinya sendiri:
*'Apa kita terlalu terlena dalam pertempuran?'*
Dan ia menjawab mantap:
*'Tidak.'*
Ini adalah siasat musuh sejak awal. Itulah alasan mengapa musuh sengaja mengerahkan Scalor dan Bride of Plague secara bersamaan. Yang satu mengacaukan indra rabaan dan suara, yang lainnya menumpulkan indra penciuman dengan bau busuk.
Dan kemudianâ
*'Mereka bahkan sengaja mengambil risiko mengekspos keberadaan seorang penyihir.'*
Andai tadi dewi fortuna berpihak padanya saat mementalkan bola api, Encrid mungkin sanggup melacak titik persembunyian sang penyihir musuh.
*'Aku bisa saja memburunya kalau aku nekat menerobos maju.'*
Namun menerobos maju berarti mempertaruhkan nyawa Ann tanpa perlindungan. Sekalipun ia menugaskan Ragna menjaga Ann sementara ia sendiri yang mengejar, hasilnya belum tentu pasti. Nasi sudah menjadi bubur. Sekalipun situasi serupa terulang kembali, ia tetap tidak akan membiarkan Ann tanpa penjagaan.
*'Musuh bahkan rela memberitahu kita bahwa ada penyihir di pihak mereka.'*
Semua pengorbanan besar itu murni hanya demi membantai kuda tunggangan dan mencuri ransum serta air minum.
*'Mereka menyuruh kita untuk putar balik pulang.'*
Itulah kesimpulan mutlak Encrid.
Jika tidakâ
*'Seorang penyihir membentuk medan tempur sesuai kehendaknya melalui rangkaian mantra berantai.'*
Bagaimana jika sang penyihir musuh sama liciknya dengan Krais?
"Jalan di depan sudah tidak bisa dilalui oleh kuda lagi. Itu artinya mereka memang sengaja mengincar logistik perbekalan kita," analisis Grida sebagai seorang pemandu.
Situasinya memang tidak ideal. Namun tidak ada alasan untuk panik. Jalur di depan adalah medan pegunungan terjal.
Itu mungkin bencana bagi orang biasa, tetapi bukan masalah besar bagi Grida. Hutan pegunungan dipenuhi sumber makanan liar.
Musim semi yang hangat membuat aneka tumbuhan, buah beri, dan tanaman hutan tumbuh subur. Ada banyak hewan liar untuk diburu, dan sumber mata air pegunungan bisa ditemukan di sepanjang jalan.
"Kita terus maju," putus Encrid sependapat.
Ia menoleh ke arah Ann dengan tatapan penuh tanya. Jika Ann ingin putar balik ke perbatasan, wanita itu hanya perlu mengatakannya sekarang. Ann mengertakkan giginya rapat-rapat.
Seseorang dengan niat busuk tengah memburunya di kegelapan. Itu bukan hal yang menyenangkan. Namun ia tak akan pernah mundur selangkah pun. Tidak sekarang, tidak pula selamanya.
"Aku adalah seorang healer. Tujuanku adalah menyembuhkan setiap penyakit yang ada di muka bumi ini."
Terlebih lagiâtanah Zaun menanti di depan. Salah satu dalang di balik kehancuran keluarganya di masa lalu.
"Bagus," angguk Encrid menghormati tekad bajanya.
Seolah khasiat ramuan amber telah habis menguap, sisa cairan kental di bilah Three-Iron menetes jatuh ke tanah.
"Kau bukan seorang Nyonya lagi sekarang. Lain kali langsung bertarung saja," tegur Ann berusaha menenangkan detak jantungnya lewat celotehan santai.
Encrid menyahut santai,
"Kalau begitu lain kali aku akan memesan setelan tuksedo hitam berekor."
Tanggapan Ann bernada pujian tinggi:
"Nama ordo ksatria kalian memang tidak akan pernah berubah ya."
Dengan tekad yang kian mengeras, mereka kembali melangkah maju.
Berkat kebiasaan para ksatria yang selalu menempelkan senjata langsung di tubuh mereka, satu-satunya hal yang hilang hanyalah selimut tidur, panci masak, cangkir, dan ransum ransum kering.
Selimut bisa dengan mudah digantikan oleh jubah tebal.
Ragna melepas jubah dari pinggangnya lalu menyerahkannya kepada Ann. Itu adalah jubah yang jarang ia pakai karena terasa merepotkan saat bertarung.
Beruntung jubah itu tadi terikat di pinggangnyaâjika tidak, jubah itu pasti sudah ikut dijarah musuh.
"Ah, terima kasih," ucap Ann menerima jubah biru tua itu lalu melilitkannya menyelimuti tubuhnya.
"Ayo jalan."
"Iya, ayo jalan," sahut Grida, dan Magrun mengangguk sepakat. Keduanya kini semakin yakin bahwa ada pergolakan besar yang tengah mendidih di dalam internal Zaun.
Jika bukan karena itu, untuk apa semua teror dan penyergapan terencana ini dilancarkan?
Mereka bahkan belum menyentuh wilayah resmi Kekaisaran, tetapi begitu banyak hal ganjil yang terjadi hingga membuat hati mereka diliputi kecemasan.
Sembari mereka melangkah mendaki, Encrid yang berjalan berdampingan di samping Ann mengajukan pertanyaan penasaran.
"Apa itu Panacea dan Remedy Omnia?"
"Eh?" Ann menolehkan kepalanya sembari mengerjapkan mata heran.
Hamparan tanah luas di belakang mereka kini mulai menjauh, dan setelah melintasi beberapa gundukan bukit, rombongan itu disambut oleh hamparan rumput hijau yang tumbuh subur di bawah pijakan kaki mereka.
Medan mulai menanjak curam secara konsisten. Mereka telah resmi memulai pendakian menuju punggung pegunungan. Deretan pepohonan rindang di sekeliling mereka menjadi penandanya.
"Dari mana kau mendengar istilah itu?" tanya Ann penasaran.
"Istilah itu pada dasarnya sama seperti Elixirâtetapi Panacea adalah istilah khusus yang digunakan oleh Fairy Tribe. Beberapa sarjana mengklaim bahwa jika kau melebur Philosopher's Stone, fungsinya sama persis."
Encrid memang akrab dengan istilah Elixir. Itu adalah Air Kehidupanâsebuah ramuan mitos yang konon sanggup menyembuhkan segala penyakit di dunia.
Istilah itu kerap muncul dalam dongeng para penyair keliling. Bukan dalam catatan sejarah resmi, melainkan dalam kisah-kisah legenda penuh intrik. Beberapa kisah menamainya Golden Apple.
Kisah lain menggambarkannya sebagai cairan obat yang terus bergerak hidup dengan sendirinya meski disegel rapat di dalam botol kaca. Namun apakah benda itu benar-benar eksis di alam nyata?
Tidak ada satu pun alchemist di seluruh penjuru benua yang pernah berhasil meraciknya.
"Remedy Omnia merujuk pada konsep puncak dalam ilmu alkimia," lanjut Ann menjelaskan. "Sederhananya, istilah itu bermakna sesuatu yang mewujud menjadi obat penyembuh segala penyakit."
"Apa hal semacam itu benar-benar ada di dunia?" tanya Encrid penasaran.
Grida yang berjalan di sampingnya ikut menimpali sinis,
"Setiap kali ada alchemist keliling yang mengaku-ngaku memiliki ramuan semacam itu, ujung-ujungnya cairan itu cuma racun mematikan. Obat dan racun kan seringkali cuma berjarak setipis sehelai rambut, bukan?"
Ann menoleh menatap Grida.
"Apa kau punya pengetahuan tentang ilmu alkimia? Kau benar sekali. Sekalipun sesuatu adalah racun mematikan, ia bisa menjelma menjadi obat mujarab jika digunakan dengan tepat. Dan sebaliknya, obat penyembuh bisa menjadi racun fatal jika salah pemakaian. Beberapa obat menjadi sangat beracun jika diminum berlebihan, sementara beberapa racun ganas justru berkhasiat obat jika diberikan dalam takaran mikro."
"Jadi maksudmu⊠sebotol ramuan yang menyembuhkan segala macam penyakit itu mungkin saja eksis?" tanya Grida dengan nada malas.
Encrid tetap bungkam menyimak dalam keheningan.
Ann tidak langsung menjawab pertanyaan itu.
Ia melangkah melewati akar-akar pohon besar yang mencuat di jalan setapak terjal, menatap sebatang pohon pinus raksasa yang berdiri kokoh di kejauhan.
Keringat dingin membasahi keningnya.
Ia bukan wanita berfisik lemah, dan rombongan ksatria itu sengaja memperlambat tempo jalan demi mengimbangi langkahnya, tetapi pendakian gunung tanpa henti tetap saja menguras staminanya.
*'Sebentar lagi aku harus menyuruh Ragna menggendongnya,'* batin Encrid mencermati napas Ann yang mulai memburu.
Ann melangkah beberapa meter lagi sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Semua alchemist yang menekuni cabang penyembuhan bermimpi meracik Elixir. Aku pribadi selalu menganggap upaya mereka itu konyol dan sia-sia."
Maksud ucapannya sangat benderang: ia meyakini ramuan legendaris semacam itu mustahil ada di dunia nyata.
Bakat Ann sangat luar biasa, bahkan jika dibandingkan dengan para cendekiawan senior. Sang alchemist Laban di masa lalu sangat menginginkan sekaligus mendengki bakat alaminya yang mengerikan.
Meskipun Laban hanya membagikan serpihan kecil pengetahuannya, Ann sanggup melampaui teknik pengobatan pria itu dalam waktu singkat.
Jika di dunia pedang ada sosok jenius pedang, maka di dunia alkimia pun ada jenius-jenius alkimia yang diberkahi langit.
Ann sendiri menganggap dirinya hanya beruntung karena sanggup menemukan beberapa pemahaman yang luput dari perhatian orang lain.
Namun orang lain menyebut anugerah itu sebagai kejeniusan mutlak.
Dan justru karena kejeniusannyalah ia memahami hukum alam: Elixir hanyalah mitos fiksi belaka. Sebuah dongeng pengantar tidur yang tak akan pernah menjadi kenyataan fisik.
"Tapi bagaimana kalau kita mengubah sudut pandang berpikir kita?"
"Orang-orang meyakini bahwa Elixir, Panacea, dan Remedy Omnia adalah nama bagi sebotol cairan obat mujarab, kan?"
"Sudut pandang?" ulang Grida heran.
Encrid menyimak dengan saksama.
"Bagaimana kalau nama-nama itu bukan merujuk pada sebotol obat, melainkan⊠sebuah gelar kehormatan?" tutur Ann dengan mata berbinar.
Encrid seketika merasakan sesuatu yang berdenting klop di dalam kepalanya.
Sebuah pergeseran cara pandang. Jika wujudnya bukan cairan obat di dalam botol kaca, maka memang tidak ada yang namanya Ramuan Legendaris. TetapiâŠ
"Itu adalah impian hidupku."
"Remedy Omnia."
"Aku bertekad menjadi sosok manusia yang sanggup menyembuhkan segala penyakit di dunia."
Sosok manusianya benar-benar bisa eksis di alam nyata. Itulah impian agung seorang Ann.
Mendengarkan penuturan wanita muda itu, seberkas benang kusut di kepala Encrid mendadak terurai benderang. Entah mengapa ia merasa kini ia telah memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh musuh mereka.
Dari sudut pandang taktis, dengan menggeser perspektif berpikirnya, ia kini sanggup melihat motif sejati musuh di balik bayang-bayang.
"Aku mencium bau air," seru Grida memecah lamunan mereka sembari memimpin jalan menaiki bukit kecil.
Melintasi punggungan bukit, mereka mendapati sebuah danau pegunungan berukuran sedang terhampar di depan mata. Permukaan airnya tampak jernih berkilau, dan jalan setapak terjal membentang di baliknya.
Kontur tanah yang cekung membentuk waduk alami bagi air pegunungan untuk menggenang.
Ada hawa dingin menusuk yang menguar dari air itu, menandakan sumbernya kemungkinan besar berasal dari mata air bawah tanah. Mereka masih memiliki beberapa kantong air minum kosong, jadi tidak ada kekurangan wadah.
Akan tetapiâ
"Tunggu," tahan Encrid menahan lengan Grida lalu menoleh menatap Ann.
"Bisakah kau memeriksa apakah ada hal yang ganjil dengan air danau ini?"
"Eh? Oh, iya, tentu saja."
Para alchemist sangat teliti dalam hal kualitas kemurnian air. Itulah mengapa para penikmat teh selalu memiliki relasi dekat dengan para alchemist. Bukankah Marcus dulu selalu berkata demikian?
*"Kalau kau punya teman seorang alchemist, mencari air minum yang bersih itu sangat mudah. Tapi air terbaik dari segala air konon adalah Dew of Dawn yang dibuat oleh para peri."*
Ann mendekati tepian danau, mengisi kantong kulitnya lalu meneteskan beberapa tetes cairan dari botol kecilnya ke dalam air.
Ia selalu menenteng tas ransel kecil di punggungnyaâberisi aneka reagen kimia murni yang tak akan pernah ia biarkan tumpah ke tubuhnya sendiri.
"Jangan minum air ini. Kalau kalian meminumnya, racun berbahaya akan mengendap perlahan di organ dalam. Memang tidak langsung mematikan dalam sekejap, tapi kalian tetap tidak boleh meminumnya sedikit pun."
Niat licik musuh kini terpampang sangat telanjang di depan mata mereka.
"Apa mereka sengaja merusak perbekalan kita tadi karena tahu satu-satunya sumber air di jalur ini sudah terkontaminasi?" gumam Magrun geram.
"Atau mereka memang sengaja meracuninya terlebih dahulu sebelum kita tiba?" duga Grida.
Encrid mendengarkan analisis mereka, tetapi tidak ada cara untuk memastikannya secara mutlak.
Entah danau ini memang mengandung racun alami atau sengaja diracuni musuh, satu hal yang pasti: rute pendakian di depan akan menjadi ujian bertahan hidup yang sangat berat.
Tingkat racun semacam ini tidak akan sanggup melumpuhkan para ksatria yang sanggup mengerahkan Will untuk memurnikan racun di tubuh mereka, yang berarti target sejati musuh sudah sangat benderang.
Target musuh adalah Ann.
Mereka belum tahu motif di baliknya. Mereka bahkan belum tahu siapa dalang di balik tirai konspirasi ini. Namun sesuatu di dalam dada Encrid mulai mendidih panas.
Apa sebenarnya yang tengah bergolak naik ke permukaan jiwanya?
Sebuah tekad baja yang membaraâbahwa apa pun yang diinginkan musuh, ia tak akan pernah membiarkan musuh mendapatkannya. Dan bukan hanya Encrid yang merasakan kobaran amarah itu.
"Keparat-keparat ini, cara mereka bermain benar-benar licik dan menjijikkan..."
Bibir mungil Ann melontarkan serapah pedas dengan nada sarkasme yang tajam. Nada bicaranya terdengar seolah mengagumi kepiawaian taktik musuh, padahal tentu saja ia sama sekali tidak terkesan.











