Bab 684
"Hmm?"
Karena Ragna juga menyadari bahaya yang tengah mendekat, ia mendongakkan kepala dan menatap lurus ke depan. Kabut putih yang awalnya merayap dari ujung kaki mereka mendadak membubung cepat, dan dalam sekejap mata jarak pandang mereka tertutup total. Kabut tebal menyelimuti sekeliling, membutakan mata mereka.
Itu adalah kutukan sihir yang pernah dihadapi Encrid di medan perang masa lalu: Fog of Annihilation.
"Bersiaplah."
Encrid menarik Ann merapat ke sisi kanannya sembari memberi aba-aba. Di sisi kanan Ann, Ragna telah berdiri kokoh bersiaga.
Encrid sudah menduga kapan serangan musuh akan tiba, dan sekarang saatnya. Sebuah penyergapan terencana. Ancaman macam apa yang akan muncul kali ini?
*'Monster tak terduga? Atau rentetan mantra sihir?'*
Seiring kabut yang kian menebal, bahkan sosok Ann yang berdiri tepat di sampingnya pun menjadi tak kasat mata. Namun telinganya masih sanggup menangkap setiap desau suara.
Metode perapalan kutukan ini tampak berbeda dari para praktisi sihir Aspen tempo hariâtidak ada bendera ritual yang terlihat di udara.
"Depan!"
Itu adalah suara Grida. Entah trik apa yang ia gunakan, tetapi sang pengamat berhasil mendeteksi musuh mendahului Encrid.
Di antara kelima indranya, indra peraba Encrid menegang lebih tajam daripada sebelumnya. Bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya meremang saat ia merasakan getaran halus di udara.
*Wus, wus, wus.*
Alih-alih suara desingan, getaran udaralah yang menghantam permukaan kulitnya.
Encrid tidak menghunus Penna. Sebaliknya ia menggeser kuda-kuda kakinya empat kali dengan presisi, memblokir seluruh lintasan serangan seolah mengunci mati ruang gerak musuh.
*Tring! Tring! Tring!*
Keempat proyektil tajam yang melesat dari kegelapan terpental tanpa daya ke tanah. Anak panah mini.
Andai musuh tidak melancarkan serangan itu, Encrid mungkin kesulitan melacak posisi mereka. Namun begitu proyektil dilepaskan, mendeteksi lokasi musuh menjadi perkara mudah. Fog of Annihilation tidak menyembunyikan hawa keberadaan, mantra itu hanya membutakan penglihatan.
Namun secercah kecurigaan seketika merayapi kepalanya.
*'Setelah susah payah menyembunyikan hawa keberadaan mereka... serangannya cuma beberapa batang panah kecil?'*
Jelas tidak sesederhana itu.
Mengikuti insting tempurnya, Encrid tetap mempertahankan kewaspadaan mutlak. Ragna yang paham bahwa kaptennya tengah bertugas memagari Ann segera mengangkat pedang raksasanya.
"Aku maju ke depan."
"Bagus."
Hanya dengan dua patah kata singkat itu, keduanya membagi peran tempur secara sempurna. Ragna melesat maju, mengangkat greatsword raksasanya tinggi-tinggi di atas kepala.
Ia menekuk lalu meluruskan lututnyaâsebuah gerakan sederhana, tetapi daya hancur yang dihasilkan sungguh di luar nalar. Tubuh kekarnya melesat bagaikan peluru meriam, membelah kabut tebal di depannya.
*WUUUUUUSSS!*
Saat bilah raksasa itu membelah udara, hawa keberadaannya yang buas menekan seluruh medan di sekitarnya.
Dan kemudianâ
*BUM!*
Suara udara yang terkoyak meledak keras. Tebasan Ragna begitu bertenaga hingga kabut di sekelilingnya tersapu buyar berhamburan.
Menghalau sihir kutukan murni hanya dengan ayunan pedang baja?
Orang biasa pasti akan ternganga ngeri menyaksikan aksi mustahil itu, tetapi bagi seorang Ragna hal itu hanyalah rutinitas biasa. Itulah esensi mutlak dari seorang Knight sejati.
Bersamaan dengan tebasan sang ksatria, sebutir kepala monster terlempar melayang ke udara.
*KREEEEEK!*
Sebuah kepala dengan moncong bersisik panjang mencuat keluar. Karena kabut tebal hanya tersingkap sesaat oleh daya tebasan Ragna, mereka hanya bisa melihat siluet kasarnya.
"Scalor!" seru Grida lekas mengenali sosok itu dari jarak tiga langkah di samping kanan Ann.
Itu adalah nama jenis monster buas yang biasa berhabitat di kedalaman Demon Realm.
Pada saat yang bersamaan, semerbak aroma sihir yang manis memualkan mulai merebak pekat di udara. Sebuah mantra mematikan tengah dirapalkan musuh.
Encrid sudah mengantisipasinya, dan hal itu benar-benar terjadi. Mendadak sebuah pijar cahaya berkobar terang tepat di atas kepala mereka.
*Fwoooosh!*
Tepatnya itu bukan sekadar cahaya biasaâmelainkan sebuah bola api raksasa yang meluncur jatuh tegak lurus ke arah mereka.
Encrid melihat bola api itu mengunci Ann sebagai sasarannya. Pada saat yang sama, ia memprediksi apa yang akan terjadi pada detik ia menebas bola api itu.
*"Para penyihir gemar merangkai beberapa mantra sekaligus menjadi jebakan berantai. Sama seperti mantra pembeku berturut-turut yang terus menurunkan suhu hingga membekukan segalanya."*
Begitulah cara Esther dulu membantai penyihir kultis saat mereka bertarung melawan Walking Fire. Dan Encrid telah menyerap pelajaran itu dengan sangat baik. Otaknya seketika berputar dengan kecepatan ekstrem.
Laju jatuhnya bola api itu mendadak tampak melambat di matanya, seolah membeku di udara. Encrid dengan persepsinya yang terakselerasi memproses seluruh kemungkinan dalam rentang waktu yang teramat sempit.
*'Kalau aku jadi penyihir musuh, aku tidak akan meluncurkan bola api sederhana seperti ini.'*
Musuh telah melihat Encrid menebas mati bat beast tempo hari. Apakah bola api ini lebih berbahaya daripada monster lincah itu?
Jelas tidak.
Bola api ini meluncur lamban dan tidak memiliki insting binatang hidup. Serangan ini hanya meluncur lurus tanpa akal.
*'Mereka sengaja memancingku untuk menebasnya.'*
Berkat proses kalkulasinya yang terakselerasi kilat, Encrid bereaksi dengan kecepatan membutakan. Alih-alih menghunus Penna, ia menyambar Three-Iron Sword.
*Sring! Trak!*
Kecepatan tangannya menyarungkan satu pedang dan menghunus pedang lainnya secepat sambaran kilat. Dan hal itu sangat wajar.
Pendekar dwi-pedang memiliki teknik khusus yang didedikasikan untuk manuver itu. Dalam hal kecepatan mencabut dan menyarungkan senjata, Encrid adalah yang paling ekstrem di antara para ksatria gila Border Guard.
Ia memiringkan bilah Three-Iron, mengubah orientasi cengkeraman tangannya lalu menggenggam gagang pedang dengan kedua tangan.
Bukan sisi Black Gold, bukan pula sisi True Ironâmelainkan penampang datar Star Iron di tengah bilah yang ia benturkan menyambut bola api itu.
Encrid menebas ke atas laksana raket, menggunakan bagian pipih pedangnya untuk memukul mementalkan bola api itu kembali ke langit.
*BUM!*
Bola api itu melesat memantul ke atas, lalu meledak pecah menjadi puluhan bola api kecil di udara. Percikan api menyebar ke segala penjuru, menyapu bersih kabut di sekitarnya dan menciptakan tontonan kembang api yang spektakuler.
Untuk sesaat, kabut Fog of Annihilation itu sendiri terkoyak terbelah dua.
*"Untuk bertarung melawan sihir, kau harus berpikir di luar nalar umum."*
Nasihat Esther terbukti sangat akurat. Siapa yang menduga sebuah bola api tunggal akan terpecah menjadi puluhan ranjau api mini saat ditebas? Sihir memang memiliki ketidakterdugaan semacam itu.
Apakah penyihir musuh sempat terperangah syok menyaksikan ledakan mantranya sendiri? Tidak ada mantra susulan yang meluncur. Pijar-pijar api yang berhamburan jatuh perlahan padam di atas tanah.
Sebagai gantinya, sebuah bau busuk menyengat mendadak memenuhi udara, cukup pekat untuk membuat siapa pun ingin memencet hidung rapat-rapat. Kabut yang sempat tersingkap tadi mulai menebal kembali.
Namun musuh tidak bisa menyembunyikan media kutukan mereka selamanya.
Dan kemudianâ
*Brak!*
Suara robekan daging terdengar memuakkan. Kabut tebal mulai memudar perlahan.
Mata Encrid menangkap sosok monster berkaki dua dengan kulit bersisik ular terkapar meregang nyawa di atas tanah.
Monster-monster itu memiliki postur setidaknya satu kepala lebih tinggi daripada manusia dewasa. Di dekat Ragna, bangkai beberapa monster kadal berkaki empat berserakan membusuk, tubuh mereka terbelah dua oleh hantaman greatsword raksasa.
Dugaan Grida seratus persen tepat.
Scalorâmonster reptil berzirah sisik tebal.
Encrid melihat mantra kabut itu seketika sirna begitu sang Scalor mati ditebas.
*'Jadi makhluk hidup bisa dijadikan media perantara sebuah kutukan?'*
Itu artinya setidaknya ada satu penyihir dan satu praktisi kutukan di pihak musuh.
Kini setelah kabut sirna, area di sekitar mereka tampak dipenuhi gerombolan Scalor. Kabut tebal tadi rupanya sengaja disebar demi menutupi pergerakan pasukan monster ini.
"Spesialisasi mereka adalah menyamarkan hawa keberadaan lalu menyergap mangsa dari belakang," komentar Magrun sembari menghunus senjatanya.
Grida menyapu pandangan ke sekeliling semak belukar. Sekilas pandang saja ada lebih dari seratus kepala kadal bersisik mengepung medan pertempuran.
Sementara itu bau busuk menyengat masih melayang pekat di udara, nyaris menenggelamkan aroma manis sihir sebelumnya.
"Bau busuk apa ini?"
"Bukannya Scalor semestinya tidak punya bau tubuh?"
Grida dan Magrun bertanya bersahut-sahutan.
"Itu adalah Bride of Plague," sahut Ann tenang.
Kini setelah kabut terangkat, Ann bisa melihat wujud musuh dengan sangat jelas.
Persis seperti ucapannya, di sela-sela kepungan Scalor, tampak beberapa entitas ganjil yang berdiri melayang.
"Mereka menyebarkan wabah penyakit mematikan hanya dengan sentuhan sedikit saja. Hati-hati!" peringat Ann lantang.
Salah satu dari entitas itu melayang mendekati Ragna. Sepasang kaki telanjangnya tampak berbintik kelabu pucat, berbalut kain compang-camping menyerupai gaun lusuh. Rambutnya berdiri liar berduri, dan kedua rongga matanya berlubang hitam hampa.
Cairan hijau kental menetes menjijikkan dari hidungnyaâpemandangan mimpi buruk yang mengerikan. Makhluk itu memekik melengking lalu menerjang buas ke arah Ragna.
Namun Ragna yang sama sekali tak gentar menolak pendekatan sang 'pengantin' secara mutlak.
Dengan satu langkah geser lincah, ia meremukkan kepala seekor Scalor menggunakan pukulan gagang pedang, lalu menebas tubuh sang Bride of Plague menjadi dua bagian. Namun roh yang terbelah itu mendadak menyatu kembali.
Ann dengan cekatan melemparkan sebuah benda. Ragna menangkapnya di udaraâsebuah botol kaca kecil bertutup gabus.
"Kalau situasinya mendesak, pecahkan botolnya lalu lumuri pedangmu!" seru Ann.
Encrid yang menyaksikannya tak tahan untuk tidak bertanya heran,
"Di mana sebenarnya kau belajar melempar seakurat itu?"
Ann menyeringai bangga.
"Bukan dari ilmu alkimia kok. Cuma kebiasaan waktu main lempar batu buru burung pas masih bocah di permukiman kumuh dulu."
Anak-anak yang tumbuh di distrik kumuh belajar kerasnya bertahan hidup sejak dini. Menangkap dan memanggang burung liar di udara adalah salah satu metode bertahan hidup mereka.
"Nih, ambil."
Ann menyodorkan sebotol ramuan kepada Encrid pula. Di dalamnya, cairan kental berwarna amber berkilau anggun memamerkan khasiatnya.
"Aku memang seorang healer, tapi aku juga seorang alchemist sejati. Itu artinya makhluk roh menyedihkan semacam itu bukan ancaman besar bagiku."
Kekuatan suci memang penangkal alami seluruh roh jahat, tetapi tidak ada yang sanggup membantai mereka semudah ramuan alkimia murni.
Itu adalah pepatah kuno yang diwariskan para alchemist legendaris masa lalu. Dan pepatah itu terbukti seratus persen benar.
Encrid menuangkan cairan amber itu ke bilah Three-Iron miliknya.
Cairan kental itu meluncur turun dan melekat sempurna di mata pedang. Begitu bersentuhan dengan udara bebas, cairan itu mengeras laksana lapisan gula karamel bening, menyelimuti bilah pedang dalam kilau cahaya amber yang lembut.
"Aku punya ramuan sendiri," tolak Grida ramah pada Ann sembari menarik kantong kulit kecil dari pinggangnya. Menahan tali dengan giginya, ia menaburkan serbuk mutiara berkilau ke bilah pedangnya.
Magrun lekas menyambar botol amber dari tangan Ann.
Sementara itu Ragna sekali lagi menolak lamaran sang Bride of Plagueâkali ini menggunakan greatsword yang telah terlapisi cairan alkimia Ann.
*Cras!*
Ragna menebas horizontal, memisahkan tubuh bagian atas dan bawah roh jahat itu dengan rapi.
*Pluk.*
Sebuah bunyi letupan kecil menyusul. Sang Bride of Plague yang terbelah dua seketika dimurnikan seutuhnya.
Roh jahat adalah entitas tanpa bentuk padat, manifestasi dari kebencian dan kutukan murni. Bagi makhluk semacam itu, pemurnian berarti kehilangan wujud eksistensi merekaâsebuah kematian mutlak.
Tubuh sang Bride of Plague hancur luluh menjadi debu halus dengan desis bisikan lirih.
*Ssssshhh...*
Saat Ragna memusnahkan salah satu dari mereka, seluruh gerombolan Scalor serempak mendesis melolong panjang laksana desisan ribuan ular berbisa. Lengkingan suara itu menggetarkan udara, mengaburkan persepsi rabaan indra Encrid.
"Mereka sengaja menutupi hawa keberadaan menggunakan kebisingan suara!" seru Grida memperingatkan.
Pernah bertarung melawan Scalor di dekat perbatasan Demon Realm, Grida berbicara berdasarkan jam terbangnya. Ia tahu betul betapa merepotkannya monster-monster kadal ini.
Demon Realm memang layak dijuluki kuburan para Knights.
Ada banyak sekali jenis monster di sana yang sanggup merenggut nyawa ksatria tangguh. Scalor mungkin bukan yang terkuat, tetapi mereka sangat licik dan gemar mengincar punggung lawan secara berkelompok.
"Hah!"
Dengan hembusan napas tajam, Grida berputar kilat memenggal leher tiga ekor Scalor yang merayap di belakang punggungnya.
Ia hanya mengayunkan pedangnya sekali, tetapi tebasannya meliuk zigzag memotong ketiga kepala reptil itu sebelum mereka sempat bereaksi.
"Mau kabur ke mana kalian?" dengus Grida membetulkan cengkeraman pedangnya.
Sementara itu Encrid memindai medan pertempuran dalam keheningan.
*'Asumsikan penyihir kutukan itu tidak ada di sini...'*
Apakah penyihir musuh tengah menunggu momentum yang tepat? Ataukah mereka sudah kabur melarikan diri karena enggan mengambil risiko?
Encrid tidak tahu parfum apa yang digunakan para Bride of Plague itu, tetapi bahkan aroma manis sihir musuh pun kini meredup tertutup bau busuk mereka.
*'Apa mereka sadar aku melacak mereka lewat indra penciuman?'*
Tidak, itu asumsi yang terlalu mengada-ada. Itu hanya paranoia tak berdasar.
*'Betapa pun hebatnya seorang penyihir, mereka mustahil bisa membaca persepsi indra sensorikku.'*
Sihir punya batasan mutlak. Setelah bertualang bersama Esther, Encrid paham betul batasan-batasan hukum sihir.
Tidak ada sihir yang sanggup membaca isi pikiran orang lain secara langsung. Itu adalah hukum absolut.
*'Jadi asumsikan saja sang penyihir masih mengintai di sekitar sini.'*
Meski begitu, membabat habis monster-monster di depannya bukanlah perkara sulit.
*Trak, sret, krak!*
Seekor Scalor melompat menerjang dalam jarak tiga langkah. Encrid mengayunkan pedangnya dalam lengkungan anggun, membelah moncong moncong reptil itu menjadi dua bagian.
Lidah bercabangnya menjulur mati, dan pupil matanya yang vertikal meredup kehilangan cahaya kehidupan.
Encrid tahu bilah pedangnya telah menembus tempurung kepala monster itu. Namun ia juga tahu satu hal lain: Scalor ini tengah berpura-pura mati.
"Makhluk-makhluk licik," gumam Grida membenarkan dugaannya.
Encrid memutar pedangnya ke bawah lalu menghujamkannya menembus batok kepala sang Scalor.
Monster itu tidak sempat bereaksi. Tepat saat secercah kilatan hidup kembali di matanya, Three-Iron telah berkunjung menyapa otaknya.
Ketika ia menarik keluar bilah senjatanya, campuran darah hitam dan cairan otak kelabu menetes dari ujung pedang.
"Mengerikan sekali," bisik Ann bergidik.
Hal itu sangat wajar.
Seluruh Scalor yang tersisa dan delapan Bride of Plague kini serempak menatap lurus ke arah Ann dengan mata membunuh.
"Jangan cemas. Nyonya Bergaun AmberâThree-Ironâakan melindungimu," tutur Encrid memilih kata-katanya dengan teliti demi menenangkan sang tabib.
"âŠPedang itu perempuan?"
"Hari ini iya. Bagaimanapun juga dia sedang memakai gaun amber yang cantik sekarang."
"Jadi jenis kelaminnya bisa ganti sesuka hatimu?!"
"Itulah keunggulan pedang tanpa kelamin," sahut Encrid sembari memamerkan Three-Iron yang berkilau dilapisi ramuan amber. Tetesan darah hitam masih menetes di ujungnya.
"Dasar orang gila," bisik Ann menggelengkan kepala. Ann mengucapkannya dengan lirih, tetapi Encrid mendengar setiap patah katanya dengan sangat jelas. Namun dengan kebesaran hatinya, Encrid memilih memaafkan kelancangan itu.
Wanita itu jelas hanya tengah mengalihkan rasa takutnya yang meluap.
"Nah, Nyonya, maukah kau berdansa denganku?" bisik Encrid pada pedangnya dengan nada lembut.
Ann mengerang frustrasi menepuk keningnya,
"Demi dewaâcepat bertarung saja sana!"
Pada akhirnya sang tabib melupakan rasa takutnya dan bersiap memberikan dukungan medis terbaiknya di belakang punggung para ksatria perkasa itu.











