Bab 682

*'Garis rahangnya lebih tirus?'*

Entah mengapa sang Ferryman hari ini tampak lebih kurus, seolah berat badannya baru saja menyusut, membuat lekuk wajahnya terlihat lebih tajam daripada biasanya. Namun sang Ferryman bukanlah sosok yang pantas dikomentari sembarangan, jadi Encrid memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.

Akibatnya tak satu pun dari mereka bersuara. Hanya keheningan pekat yang menyelimuti permukaan sungai hitam itu.

Tanpa sepatah kata pun terucap, keduanya hanya saling bertatapan di balik selubung kabut tipis.

Encrid menatap sosok berjubah gelap itu melalui tirai kabut hitam. Sang Ferryman pun bergeming tanpa suara.

Tidak ada desau angin di udara, tidak pula ada gerakan ancang-ancang.

Namun meski Encrid tidak berkedip sedetik pun, sang Ferryman mendadak telah berdiri tepat satu jengkal di depan wajahnya.

Mustahil untuk tidak terkejut. Namun itu bukan berarti ia harus melompat panik ketakutan.

Bahkan di dalam alam bawah sadarnya, Encrid tetap menjaga ketenangan batinnya. Kini keberanian baja semacam itu telah menjadi sifat alaminya.

Sang Ferryman tanpa kata mengulurkan tangan kanannya. Telapak tangannya tampak retak-retak kering, persis seperti tanah tandus yang terpanggang kemarau panjang.

Di sela-sela retakan kulitnya, sesuatu yang gelap tampak menggeliat hidup. Pada detik Encrid memusatkan pandangannya pada liukan garis hitam itu, ia tidak lagi berdiri di atas perahu di atas sungai hitam.

*'Sebuah ilusi.'*

Alih-alih memikirkannya berbelit-belit, ia lekas mengenali wujud fenomena itu.

Tidak pernah mudah menebak niat sejati sang Ferryman. Sekalipun mereka telah bersua jutaan kali dalam pengulangan waktu tanpa akhir ini, membaca maksudnya tetaplah perkara mustahil.

Dan sekali lagi, sang Ferryman tengah memperlihatkan sesuatu padanya.

"Ugh."

Tanah pijakan, cuaca sekitar—tak satu pun yang tampak jelas. Hanya siluet sosok-sosok buram yang mencuat dari kepekatan jelaga hitam. Meski begitu, mengenali mereka bukanlah hal sulit.

*'Ragna.'*

Ragna memuntahkan darah segar, menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu mendongakkan kepala.

*"Kau bilang kau tidak akan pernah menolak pertarungan. Jadi jangan tolak pertarungan yang ini juga."*

Kepada siapa Ragna berbicara? Di balik siluetnya yang kabur, sesosok tubuh lain tampak tergeletak tumbang tak berdaya. Hanya bayangan samar—terlalu buram untuk dikenali identitasnya.

Wujud Ragna mendadak menguap laksana asap ditiup angin. Meski tampak sedekat jangkauan tangan, ada jarak tak kasat mata yang aneh, seolah Encrid tengah menonton peristiwa itu dari tempat yang teramat jauh. Kemudian sosok Ragna lenyap seutuhnya, dan siluet lain mencuat dari dalam jelaga.

*"
Aku mengakuinya. Kalau aku, aku pasti bisa menyembuhkan segalanya. Aku yang menang."*

*"Dasar bodoh, kalau kau mati, artinya kau kalah."*

*"Aku adalah Elixir, Panacea, Remedy Omnia..."*

Racauan macam apa ini?

Kata-kata itu terdengar sangat ganjil. Encrid mengabaikan istilah-istilah asing yang tak ia pahami dan hanya memusatkan fokus pada situasinya.

Ann telah dikalahkan oleh seseorang. Dan kini wanita itu tengah meracau di ambang maut.

*'Dengan siapa dia berbicara?'*

Sosok lawannya sama sekali tak terlihat. Suara misterius itu terdengar samar, mustahil dipastikan apakah itu suara pria atau wanita.

*"Kalau kau mati, kau kalah. Kau bukan apa-apa."*

Ann terbatuk memuntahkan darah hitam, lalu memudar lenyap bagaikan kabut tertiup angin.

Siluet lain lekas terbentuk di tengah kabut—seorang pria yang belum pernah dilihat Encrid seumur hidupnya.

Pria paruh baya dengan alis tebal dan pipi tirus cekung. Namun postur tubuhnya tampak kokoh berotot dan sangat terlatih.

Meskipun Encrid tidak bisa merasakan aura kekuatannya secara langsung, ada banyak hal yang bisa ia simpulkan murni dari penampilan fisiknya saja.

Pipinya yang cekung dan ketiadaan lemak berlebih menandakan bahwa bahkan di usianya yang menua, pria itu tetap menjalani latihan brutal atau menjaga kebugaran fisiknya dengan sangat teliti.

*'Dia mengingatkanku pada Graham.'*

Di benteng Border Guard, ada seorang tuan tanah tua yang tak pernah meletakkan pedangnya hingga berhasil naik pangkat menjadi Junior-Knight.

Sebuah bukti nyata dari kegigihan manusia yang menjadi sumber inspirasi bagi seluruh prajurit rendahan.

*"Tidak ada kata terlambat. Hanya mereka yang tak pernah mencoba yang akan tertinggal di belakang."*

Itulah pepatah favorit Graham.

Pria tua itu adalah tipe orang yang mendengar kata-kata Encrid, menafsirkannya kembali dengan caranya sendiri, lalu menjadikannya prinsip hidupnya.

Jika Encrid secara naluriah teringat pada Graham, maka pria asing ini pasti memiliki kemiripan sifat dengannya. Sebagai ksatria yang telah mengasah instingnya hingga setajam belati, Encrid sangat mempercayai intuisinya.

Raut wajah pria asing itu mengeras saat ia angkat bicara.

*"Apa maksudmu semua ini adalah salahku?"*

Gumpalan asap lain membubung dan membentuk siluet berbeda—Ragna.

Dadanya bersimbah noda darah kering. Dan meski wajahnya bersih tanpa janggut, darah yang mengering di sekitar mulutnya tampak bagaikan jenggot kemerahan yang mengerikan. Menggenggam pedangnya erat-erat, Ragna bertanya dingin—

*"Lalu menurutmu bukan?"*

Pria asing itu mungkin sempat terdiam sejenak sebelum menjawab, tetapi bagi Encrid jeda itu terasa sangat singkat.

*"
Ini adalah usaha terbaikku."*

*"Omong kosong,"* balas Ragna seketika tanpa jeda tarikan napas.

Gumpalan asap mendadak buyar berhamburan, dan dalam sekejap mata Encrid telah kembali berdiri di atas perahu kayu.

Sang Ferryman kini telah berdiri kembali di posisinya semula di ujung haluan, memegang lentera ungu sembari membelakanginya.

"Kenapa kau memperlihatkan hal-hal ini padaku?" tanya Encrid menuntut.

Sang Ferryman sedikit menolehkan kepalanya. Dari balik tudung jubahnya, wajahnya tetap hitam pekat tanpa dasar. Tidak ada mata, tidak ada hidung—tidak ada satu pun fitur wajah yang terlihat.

Lalu alih-alih suara lisan, seutas garis makna yang teramat tipis meluncur deras menyentuh kening Encrid.

Itu bukan ucapan kata, melainkan transfer niat kehendak murni.

Encrid menerjemahkan makna itu ke dalam bahasa manusia:

*"Kau bisa mengingat ini, kan? Jangan sampai lupa."*

Dan pada detik berikutnya, ia terbangun.

Kegelapan temaram menyelimuti pandangannya. Tekstur tanah, warna dedaunan—ini adalah dunia nyata, sama sekali berbeda dari ilusi yang baru saja ia alami.

"Kau mimpi buruk?"

Sebuah suara menyapa dari luar tenda, menarik pandangannya ke bawah. Berdiri di sana adalah Magrun.

Hari sudah menjelang senja.

Di belakang Magrun, langit membiru gelap tanda malam mulai turun. Bayangan tubuhnya memanjang di atas tanah hingga menyentuh ujung kaki Encrid.

"Bukan mimpi buruk," sahut Encrid sembari bangkit duduk, masih berusaha mencerna maksud sang Ferryman.

*'Walking Fire dan Ferryman... mereka berdua berbeda.'*

Itu jelas adalah sebuah peringatan masa depan. Apa yang dilakukan sang Ferryman di masa lalu adalah bentuk campur tangan takdir.

Dan meski ini disebut nasihat, ini bukan jenis nasihat yang ingin didengar oleh Encrid.

Yah, sebuah nasihat memang jarang sekali sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pendengarnya. Dalam hal itu, sang Ferryman bisa dianggap sebagai penasihat yang hebat.

*'Lelucon yang getir.'*

Bukan lelucon yang bisa ia bagikan kepada orang lain.

Namun mengesampingkan lelucon itu—sebenarnya apa makna dari visi barusan?

Semua yang diperlihatkan hanyalah beberapa potongan percakapan dari orang-orang yang terluka parah. Sang Ferryman sendiri tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan pesan terakhirnya terasa berbeda dari metode biasanya.

"Tidak ada kejadian aneh, kan?" tanya Encrid memastikan.

"Sejauh ini aman," jawab Magrun.

Serangan musuh tidak akan berhenti hanya pada satu kali sergapan. Magrun berpikir demikian, begitu pula yang lain. Dan Encrid pun sependapat.

"Wajahmu kelihatan seperti orang yang baru saja bertemu 'sarjana bijak'," komentar Magrun mengamati perubahan ekspresi Encrid saat bangun tidur.

"Apa?"

"Itu lelucon lama di Kekaisaran."

"Lelucon macam apa?"

Sembari Encrid meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, Magrun berjongkok di samping tenda, menopang dagu dengan tangannya.

Setelah sempat ragu sejenak mencari cara menjelaskannya, ia memutuskan untuk mengatakannya secara lugas.

"Kau tahu kan bagaimana para sarjana selalu menganggap diri mereka paling bijak di dunia? Mereka tidak peduli perasaan orang lain dan cuma membicarakan teori rumit mereka sendiri. Nah, 'sarjana bijak' awalnya mencairkan suasana dengan lelucon agar orang menurunkan kewaspadaan, lalu mendadak melemparkan topik pelik yang bikin pusing. Kedengarannya penuh perhatian, tapi sebenarnya mereka cuma bicara berputar-putar dengan bahasa yang cuma dipahami mereka sendiri."

"Kedengarannya... aneh."

"Ya begitulah, orang-orang Kekaisaran langsung paham maknanya. Bukan salahku kalau kau tidak paham."

"Aku tidak pernah bilang itu salahmu kok."

Encrid melangkah keluar tenda.

Ragna berdiri di kejauhan, menatap langit senja dengan pandangan kosong. Odinkar berdiri di sampingnya, mengelus surai kudanya santai.

Ann berada di dekat Ragna, sementara Grida tengah mengamati posisi bintang-bintang untuk membaca arah.

"Malam ini tidak hujan," tutur Grida begitu menyadari kehadiran Encrid.

Encrid mendongak menatap langit lalu mengangguk setuju sebelum menoleh ke arah Ann.

"Ann, apa kau sempat tidur tadi?"

"Tidak."

Encrid tidak bertanya apa alasannya.

"Cobalah istirahat malam ini. Kita tidak akan memperlambat laju perjalanan besok."

"Dimengerti."

Itu bukan hal yang mudah, tetapi Ann cukup dewasa untuk tidak merengek mengeluh.

"Kita istirahat satu hari lagi di sini," usul Grida.

Maksud Grida adalah mereka sebaiknya menetap sehari ekstra di perkemahan ini alih-alih memaksakan diri berkuda di tengah kepekatan malam. Itu memang rencana awal mereka saat memutuskan berhenti di dekat anak sungai.

Grida menyalakan api unggun, sementara Encrid mengeluarkan ransum kering dari tasnya. Ia menuangkan air ke dalam panci kecil lalu menyiapkan makan malam—dendeng dan sayuran kering yang direbus menjadi sup hangat. Ia juga mengeluarkan beberapa potong pemmican, mengunyahnya perlahan sebelum menelannya.

Krais konon telah menyempurnakan rasa pemmican itu, tetapi rasanya tetap saja terasa seperti makanan bertahan hidup darurat.

Encrid menambahkan ransum ksatria ke dalamnya—campuran serbuk daging kering, ikan, dan buah-buahan giling. Jika dilarutkan dalam air panas, kalorinya jauh lebih padat daripada pemmican biasa.

Soal rasa? Itu bukan prioritas di medan perang. Ini adalah makanan tempur.

Seorang prajurit bertarung paling hebat saat perutnya terisi cukup. Hal itu berlaku sama bagi para Knights.

Sembari makan, Encrid menimbang opsi-opsi taktis di kepalanya.

Pilihan pertama dan paling mudah adalah putar balik ke kota.

*'Jarak tempuh kita belum terlalu jauh.'*

Karena mereka menunggang kuda cepat, mereka tinggal berkuda balik ke perbatasan.

Pilihan kedua adalah mengirim Ann kembali ke markas sementara mereka melanjutkan perjalanan.

*'Kalau ada musuh yang mengincar Ann, benteng Border Guard jauh lebih aman.'*

Di sana ada Esther. Dengan keberadaan sang penyihir agung itu, penyihir kelas teri mana pun tak akan berdaya.

Di sana juga ada banyak sekutu tangguh lainnya.

*'Tapi Ann pasti menolak mentah-mentah.'*

Pilihan ketiga adalah memanggil bala bantuan dari markas. Itu akan memperlambat jadwal mereka, tetapi menjadi opsi yang paling aman.

Andai Jaxon ikut bersama mereka tadi malam, musuh misterius itu tak akan sanggup meloloskan diri dengan begitu mudah. Sangat sedikit makhluk yang sanggup luput dari mata elang Jaxon dalam hal pelacakan.

Pilihan keempat adalah melanjutkan perjalanan seperti sekarang, menerobos maju bersama rombongan yang ada.

Encrid tahu ia tidak akan memilih tiga opsi pertama. Semuanya berarti membuang-buang waktu yang teramat berharga.

Inti dari kebuntuan ini adalah ketidakmampuan mereka membaca motif musuh.

Namun setidaknya ada satu hal yang pasti: jika tujuan musuh adalah membunuh Ann, mereka pasti sudah melancarkan serangan susulan sedari tadi. Namun mereka tidak melakukannya.

Itu berarti tujuan musuh kemungkinan besar adalah memperlambat laju perjalanan mereka alih-alih membunuh secara langsung.

Haruskah mereka mempercepat tempo lari?

*'Itu tidak akan mudah.'*

Encrid mengusap dagunya berpikir keras.

Sekalipun Ragna menggendong Ann di punggungnya sembari berlari, itu tidak realistis. Ann bukan seorang Knight—diguncang dalam lari kencang jarak jauh akan menghancurkan organ dalamnya.

Dan Ragna pun tidak bisa berlari maraton seharian penuh tanpa henti.

Sebuah pergerakan pasukan yang benar bukan soal melesat secepat kilat. Melainkan tentang mempertahankan kesiapan tempur optimal sembari meminimalkan kerugian taktis.

"Pertarungan semacam ini merepotkan sekali ya?" celetuk Ragna dari samping.

Encrid secara refleks menjawab seperti biasanya, melontarkan apa yang ada di kepalanya secara jujur tanpa saringan basa-basi.

Ini adalah gaya komunikasi khas para ksatria gila Border Guard yang telah ia jalani bertahun-tahun bersama Rem, Ragna, Audin, Jaxon, dan Krais.

Karena ia tak pernah menutupi isi kepalanya, mereka tak pernah berniat memusuhinya sejak awal. Kebiasaan lamanya menuntun jawabannya.

"Aku tidak pernah menolak pertarungan."

Tepat saat kalimat itu meluncur dari bibirnya, Encrid tersentak kaku. Matanya terpaku menatap nyala api unggun. Rasa dingin merayapi tulang belakangnya. Perlahan ia mendongakkan kepalanya menatap kegelapan malam di luar sana.

Mimpi itu. Visi masa depan sang Ferryman.

*"Aku juga bukan tipe orang yang suka menolak pertarungan,"* timpal Ragna mantap di sampingnya.

Dan Encrid—

*'Masa depan?'*

Bagaimana jika sang Ferryman tadi bukan memperlihatkan hari kemarin atau hari ini, melainkan hari esok?

Atau lebih buruk lagi—bagaimana jika sang Ferryman memperlihatkan hari di mana Encrid akan terjebak dalam lingkaran kematian baru?

Sang Ferryman pernah memperlihatkan serpihan masa depan sebelumnya melalui mimpi. Tidak semuanya terwujud persis sama, tetapi selalu mendekati kenyataan.

Kali ini ia memperlihatkan masa depan tragis yang terpecah-pecah tanpa berucap sepatah kata pun. Apa maksud sebenarnya?

Encrid tidak tahu. Namun ia tahu bahwa berpikir berlebihan pada momen kritis seperti ini tidak akan menghasilkan apa pun.

Lalu apa yang harus ia lakukan?

Langkah pertama adalah mengerucutkan opsi dan memilih yang paling realistis.

Apa yang sanggup ia eksekusi saat ini dengan sumber daya yang ada di tangan?

Pandangannya tertumbuk pada Odinkar.

Wajah pria itu menyiratkan ketegangan dan kegelisahan batin yang pekat. Bahkan saat makan sekalipun, ia tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Dan seketika itu pula pilihan kelima melintas di kepala Encrid.

*'Kita berpencar.'*

Odinkar sangat kuat. Jika bertarung hidup-mati, Encrid sendiri belum tentu bisa menjamin kemenangan mudah melawannya.

Pria itu juga hafal rute jalan pulang ke Zaun. Dan yang paling penting: insting hatinya meronta ingin lekas pulang melindungi keluarganya.

"Kita kirim Odinkar berangkat lebih dulu," cetus Encrid mantap memecah keheningan.

Grida dan Magrun serempak menoleh menatapnya terkejut.

"Ada masalah dengan itu?" tanya Encrid menegaskan.

Keduanya saling bertukar pandang sejenak.

Odinkar sempat melongo bengong beberapa detik sebelum manik matanya berbinar cerah. Ia menepukkan kedua telapak tangannya keras-keras lalu menyeringai lebar.

"Benar juga! Itu pilihan yang sangat masuk akal! Kau ini memang paling jago mengambil langkah tak terduga ya!"

Seringai Odinkar merekah lebar penuh gairah tempur.

"Baguslah, aku berangkat duluan!"

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.