Bab 672

"Kalian sudah gila, ya?"

Ann yang menyaksikan duel itu sembari mengobati Magrun, terbelalak ngeri. Bukan sekadar syok, wajahnya bahkan sudah memucat pasi.

Dari sudut pandangnya, apa yang baru saja terjadi tak ubahnya parade kegilaan. Reaksinya sangat bisa dimaklumi.

Tentu saja Ann tidak bisa membaca arah atau alur pertarungan tingkat tinggi itu. Namun, ia bisa melihat hasil akhirnya dengan jelas.

Pedang Encrid terhenti tepat di tengah bahu pria berambut pirang itu. Jika tebasan itu masuk sedikit lebih dalam saja, baik kekuatan suci maupun obat mujarab tak akan sanggup mencegah tulang selangkanya terputus.

"Aku sudah menghentikannya, Kakak Berbintik," ujar Audin sambil menempelkan punggung tangannya ke bilah pedang Encrid.

Ia tidak mengenakan pelindung apa pun, tetapi pasir emas yang mengalir keluar dari kulitnya menahan agar dagingnya tidak robek.

Meski begitu, darah yang merembes keluar membuktikan betapa kejamnya tebasan yang baru saja dilancarkan Encrid.

"Oh, hampir saja kubunuh," gumam Encrid dengan nada datar tanpa beban.

"Kehilangan satu lengan tidak akan membunuhku," sahut pria yang baru saja ditebas, sama sekali tak gentar.

*'Dasar orang-orang gila ini...'*

Ann adalah seorang healer. Apakah ia memilih jalan ini karena ingin membunuh orang? Jelas tidak. Ia ingin menyelamatkan nyawa. Ia memilih jalan ini agar tidak ada lagi orang yang mati sia-sia karena penyakit atau luka parah.

Jadi apa maksud mereka dengan bilang kehilangan satu lengan tidak akan membunuh seseorang?

Jika lengan terputus, pendarahan hebat pasti terjadi. Darah akan menyembur deras seperti air terjun.

*'Pendarahan parah akan menurunkan suhu tubuh secara drastis.'*

Itulah pengetahuan medis yang Ann kuasai.

Rinciannya jelas: awalnya korban akan merasa cemas luar biasa. Kulitnya lekas memucat, dan tubuhnya mulai mendingin.

*'Detak jantung berpacu kencang, napas memburu pendek-pendek.'*

Saat suhu tubuh terus anjlok, denyut nadi akan menjadi tak beraturan lalu melemah. Begitu kulit berubah kebiruan dan berbercak, kesadaran akan memudar hingga akhirnya hilang total.

*'Seorang Knight mungkin bisa bertahan lebih lama, tapi...'*

Menjadi Knight tidak lantas membuat seseorang abadi.

Sama seperti kenekatan yang dipicu ilusi kemahakuasaan berujung pada kelelahan, terlalu mengandalkan vitalitas tubuh pada akhirnya bisa mengundang maut.

Ann telah belajar banyak di bawah bimbingan gurunya, sering mencuri baca catatan penelitian sang master.

Karena itu, ia tahu pasti: kecuali orang itu adalah seekor Frog, tidak ada cara manusia normal meregenerasi lengan yang terputus. Itu adalah fakta mutlak.

Namun, secercah pikiran lain melintas di benaknya.

*'Atau... mungkinkah bisa?'*

Jika luka itu ditangani seseorang dengan kekuatan divinity setingkat Archbishop...

*'Mungkin saja bisa.'*

Tentu saja menyembuhkan luka separah itu tidak semudah menuangkan energi suci ke tubuh pasien.

Bukankah Ragged Saint sempat memberi beberapa wejangan saat mengajari Seiki beberapa hari terakhir?

Ann sendiri tengah mati-matian meneliti cara meracik ramuan yang dialiri divinity. Dari proses itu, ia menyimpulkan satu hal penting.

*'Menggunakan divinity juga menuntut keterampilan tinggi.'*

Sama seperti menjahit daging robek dengan jarum panas yang membutuhkan kecekatan tangan, mengendalikan kekuatan suci pun menuntut keahlian serupa.

Namun, berapa banyak orang di dunia ini yang sanggup mengendalikan divinity dengan kemahiran setinggi itu? Dan andai bisa sekalipun, berapa tahun latihan yang dibutuhkan untuk menguasai teknik tersebut?

Seseorang harus mengalirkan kekuatan suci ke tubuh ribuan korban luka demi mengasah insting dan memahami takaran yang tepat.

*"Kalau tiba-tiba kau punya kaki ketiga, bagaimana caramu menggunakannya? Bagaimana kalau kau tiba-tiba punya ekor?"*

Begitulah sang Saint mengibaratkannya.

Namun, ada mantra khusus untuk membantu seseorang terbiasa mengendalikan hal-hal baru semacam itu. Lebih tepatnya, sebuah mantra pembantu dalam proses adaptasi.

Mengajar dan belajar.

Mereka yang sudah menguasai seni itu bisa mewariskan pengalaman berharga kepada mereka yang dianggap layak.

Untuk itu, dibutuhkan dua hal: seseorang yang sanggup mengerahkan divinity murni dalam jumlah masif, dan seseorang berpengalaman yang sanggup membimbingnya.

*'Secara kebetulan, dua-duanya ada di sini.'*

Untuk urusan teknik dan pengalaman, ada Ragged Saint.

Untuk kekuatan divinity murni, Seiki sudah lebih dari pantas disebut seorang Saintess.

*'Dan untuk urusan medis, ada aku.'*

Ann bisa memeriksa luka yang tak sanggup ditangani divinity semata. Dalam situasi darurat, ia bisa memberikan ramuan peningkat regenerasi atau melakukan pembedahan jika diperlukan.

Pengalaman masa kecilnya menjahit mayat telah mengasah keahlian tangannya hingga setara penjahit terbaik.

"Asalkan belum mati, tidak masalah," celetuk Rem dari belakangnya.

"Tapi ini sudah keterlaluan!" sahut Ann akhirnya setelah menimbang-nimbang. Tangannya tetap bergerak lincah tanpa henti.

Ia menaburkan bubuk putih untuk menghentikan pendarahan lalu memeriksa kedalaman luka di bahu Odinkar.

Haruskah dijahit? Atau cukup diobati dengan salep?

Ia punya salep baru yang diracik dari Fairy's Spring Water dan Dew of Dawn.

Haruskah ia membiusnya dulu? Tidak, langsung jahit saja lukanya lalu oleskan salep.

Pria ini seorang Knight. Ketahanan tubuhnya seharusnya cukup untuk memulihkan diri.

"Kali ini sepertinya aku kalah setengah langkah. Tapi lain kali tidak akan begini," ucap Odinkar.

Jika situasinya meleset sedikit saja, ia bisa menderita luka fatal yang membunuhnya, tetapi ia masih bisa bicara santai.

Encrid telah membaca sifat lawannya dengan tepat: pengabaian risiko yang nekat.

Alasan Odinkar bisa bertahan hidup selama ini dengan tabiat semberono semacam itu sangat jelas. Bakat alaminya cukup besar untuk mengubah kenekatan menjadi keberanian yang mematikan.

"Ya, lain kali kau pasti mati," sahut Encrid dingin.

"Kau sengaja bicara kotor begitu untuk merebut keunggulan psikologis sejak awal, kan? Kau lebih licik dari dugaanku. Watakmu agak mirip rubah. Waktu bertarung tadi pun pikiranmu terus berhitung."

Encrid menyeka tetesan darah dari hidungnya menggunakan punggung tangan.

Persis seperti perkataan Odinkar, Encrid menggunakan metode yang sama seperti saat melawan Grida—perhitungan cermat dan memandang segala situasi dari sudut pandang probabilitas.

Metode ini ia pelajari dari Jaxon, meski ia merasa masih perlu mengasahnya lebih jauh.

Dengan sedikit polesan lagi, metode ini bisa menjelma menjadi teknik pedang baru.

"Dan hebatnya lagi, kau juga tahu caranya melancarkan serangan penentu seperti pendekar lainnya. Menarik sekali. Kasar..."

"Kasar?"

"Tapi menyenangkan."

Odinkar menyeringai lebar. Bubuk putih Ann akhirnya berhasil membendung kucuran darah dari bahunya.

Baru saat itulah Odinkar melirik lukanya sendiri dan berkomentar,

"Kalian punya healer yang hebat di sini."

Keahlian Ann terlihat jelas dari caranya menangani luka daging yang parah.

"Kalau tahu begitu, tutup mulutmu. Pasien butuh istirahat," ketus Ann.

"Aku ini Knight. Besok juga sudah sembuh."

"Bahkan seekor Frog saja tidak akan bisa sembuh dari luka seperti ini hanya dalam semalam!" gumam Ann ketus sembari mengukur titik jahitan.

Encrid menatap Odinkar lalu berkata,

"Selamat datang di Border Guard."

"Bukankah terlalu cepat untuk menyambutku?"

"Ini salam pembuka yang sebenarnya."

Encrid mengibaskan Penna—pedang yang baru saja merobek bahu Odinkar. Bilahnya berkilat di bawah sinar matahari, memercikkan sisa-sisa tetesan darah.

Darah milik Odinkar.

Persis seperti ucapan Luagarne tempo hari, Encrid sangat ingin mempelajari sistem mereka. Namun, apakah mereka mau mengajarinya hanya karena diminta?

Encrid tidak yakin. Jika tidak mau, ia tinggal mencurinya lewat pertarungan.

Untuk sekarang—

*'Teknik.'*

Hal yang memberi Encrid keunggulan atas Odinkar tadi adalah faktor keberuntungan. Jika keberuntungan itu tidak berpihak padanya, Encrid-lah yang akan tumbang.

Kenyataan itu justru terasa menyenangkan baginya. Karena itu, urusan lain bisa dipikirkan nanti saja.

Bagaimanapun juga, ketiga anggota House of Zaun telah memutuskan untuk tinggal. Dan keesokan harinya, Encrid pun terpaksa beristirahat.

"Kau tidak boleh bergerak sebelum pengobatan selesai. Kalau memaksa, mending mati saja sekalian biar kujadikan bahan eksperimen," ancam Ann tanpa nada bercanda sedikit pun.

Kondisi Encrid sendiri memang jauh dari kata bugar. Meski Knights memiliki vitalitas luar biasa, penggunaan kalkulasi berlebihan saat bertarung membuat kepalanya berdenyut nyeri. Butuh waktu dua hari penuh sampai ia pulih total.

Selama masa pemulihan itu, ia menonton duel antara Audin melawan Grida, serta Rem melawan Grida.

Di antara ketiga orang dari House of Zaun, Grida adalah satu-satunya yang tidak terobsesi pada menang atau kalah.

"Bukankah curang bertarung diselimuti divinity? Jaxon?"

"Kak, kalau tidak tahu nama orang, jangan asal panggil semaumu," tegur Audin.

Mendengar teguran Audin, Grida tetap bersikap santai. Audin adalah lawan paling merepotkan baginya.

Menurut standar yang dibuat Encrid, Audin adalah sosok yang sanggup menggambar lingkaran besar. Terlebih lagi, ia adalah seorang crusader.

Divinity adalah kekuatan yang sangat terspesialisasi untuk pertahanan.

Pasir emas yang menyelimuti tubuh Audin adalah anugerah dari dewa, berkah yang menjadi zirah tak tertembus dari sebagian besar serangan.

"Ini tidak adil sekali! Rem!"

"Itu namaku," sahut Rem dari pinggir lapangan.

Bahkan ketika Rem menimpali, Grida tetap saja melontarkan nama sembarangan yang melintas di kepalanya—kecuali nama Encrid.

Duel berakhir dengan kemenangan Audin. Apakah kemenangannya telak? Tidak juga. Pertarungan itu lebih seperti keduanya saling menyesuaikan gerakan, dan Grida dengan lapang dada mengakui kekalahannya.

Duel Grida melawan Rem berjalan sedikit lebih sengit.

Sekilas pandang, Rem tampak memiliki banyak celah kelemahan. Keahlian khususnya adalah sengaja memperlihatkan celah sembari memanfaatkannya untuk membalikkan keadaan.

Grida adalah pendekar pedang yang sangat lihai mengeksploitasi kelemahan lawan. Ia melakukan hal itu, lalu kalah.

Rem nyaris tidak menggerakkan pergelangan tangannya, mengayunkan kapak dengan manuver yang dulu pernah mengecoh Ragna. Kapak tanpa hentakan itu meliuk dalam gerakan zigzag, mementalkan tebasan pedang Grida.

*Clang!*

Begitu senjata mereka beradu, Grida sempat melihat sekilas bayangan kematiannya sendiri.

*'Sorcery!'*

Jika divinity adalah zirah pelindung bagi crusader, maka sorcery adalah bilah senjata bagi seorang barbarian.

Bilah kapak itu bagaikan kain pembungkus kasar yang bisa menyayat tangan penggunanya sendiri jika salah kendali. Namun, lawannya ini memainkannya dengan presisi tingkat tinggi.

"Kau hebat juga," puji Grida sembari tersenyum meski kalah.

Di luar ketidakmampuannya mengingat wajah, ia adalah sosok yang paling ramah dan santai di antara ketiga saudaranya.

"Luagarne, ya? Kalau dia seekor Frog yang suka meneliti, keluarga kami juga punya satu. Kudengar leluhur Frog itu yang menciptakan sebagian teknik pedang kami."

Sembari berkenalan dengan yang lain, Lawford dan Pel terus melipatgandakan porsi latihan mereka, bahkan sampai menggigit potongan kayu di mulut demi menahan beban.

Sementara itu, Magrun hanya mengamati semua orang dan mencatat berbagai hal tanpa banyak bicara.

Tidak ada Knight biasa di dalam House of Zaun.

Di dalam keluarga mereka, para Knights dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama.

Kelompok pertama adalah Pioneers.

Merekalah yang memanfaatkan bakat mereka sebagai penunjuk arah untuk merintis jalan ke wilayah yang belum terjamah. Odinkar termasuk dalam golongan ini.

Kelompok kedua adalah Researchers, atau kerap disebut Deep Divers.

Mereka adalah orang-orang yang terobsesi pada ilmu pedang itu sendiri. Mereka menciptakan teknik-teknik baru, lalu menyusun teori tandingan untuk mematahkan ciptaan mereka sendiri.

Terkadang mereka tenggelam dalam pencarian yang tampak sia-sia, tetapi merekalah fondasi utama yang membangun Zaun hingga menjadi sebesar sekarang.

Magrun masuk ke dalam kategori ini.

Kelompok terakhir adalah Observers, yang juga dikenal sebagai Guardians.

Grida Zaun adalah salah satunya.

Tugas mereka adalah mengamati segala sesuatu ketimbang memusingkan urusan menang atau kalah. Tanggung jawab utama mereka adalah mewariskan pusaka dan ilmu keluarga kepada generasi penerus.

Agar sebuah sistem yang mapan sanggup bertahan melintasi zaman, dibutuhkan struktur penopang yang kokoh.

Begitulah cara House of Zaun menjalankan organisasinya.

"Kau yakin tidak apa-apa menceritakan semua ini padaku?" tanya Encrid.

Grida membalas dengan senyuman cerah.

Hari itu hujan musiman tiba—bukan sekadar gerimis biasa, melainkan guyuran air bah seolah langit baru saja terbelah.

*Syurrrr!*

Di tengah deru hujan lebat, suara Grida terdengar jernih.

"Siapa pun yang berkunjung ke Zaun bisa mengetahui sebanyak ini. Lagipula, kau ingin tahu lebih banyak lagi, kan?"

Keduanya berdiri di bawah teras atap yang lebar, terlindung dari tampias air. Di balik tirai kabut yang tercipta dari guyuran hujan lebat, manik mata cokelat Grida berbinar penuh rasa ingin tahu.

Encrid mengangguk.

"Tapi aku tidak punya apa pun untuk diberikan sebagai imbalan," sahut Encrid jujur.

Jika Grida menginginkan imbalan tertentu, terutama hubungan antara pria dan wanita, Encrid harus berhadapan dulu dengan sang Golden Witch.

"Kau bawa perempuan lain lagi?"

Sehari setelah duel waktu itu, Shinar tiba-tiba datang pagi-pagi buta sambil berteriak marah.

Untungnya kesalahpahaman itu lekas diluruskan. Namun, Shinar telah menegaskan posisinya kepada Grida—

"Antreannya sudah panjang. Giliranmu masih sangat jauh."

"Baguslah kalau begitu. Kau ini Black Flower, kan?" sahut Grida mantap, meyakini tebakannya sendiri.

Sungguh aneh bagaimana wanita itu bisa melihat rambut emas berkilau seorang Fairy lalu menyimpulkannya sebagai Black Flower.

Ia punya bakat luar biasa dalam mengamati orang lain, tetapi sama sekali buta mengenali wajah. Bagaimana bisa ia menyampaikan informasi dengan benar pada keluarganya nanti?

Pikiran itu sempat melintas di benak Encrid, tetapi ia lekas mengabaikannya.

Itu bukan masalah yang perlu ia pusingkan.

Cuaca musim semi memang mudah berubah. Hujan deras mengguyur selama dua hari, lalu matahari bersinar cerah dua hari berikutnya, mengeringkan tanah basah yang becek.

Inilah musim saat bunga bermekaran dan pepohonan mulai berbuah. Hujan musiman akhirnya berlalu.

Dan Ragna masih belum juga kembali, bahkan setelah lima belas hari penuh berlalu.

Sementara itu, Encrid menghabiskan banyak waktu bersama ketiga anggota House of Zaun, menyerap berbagai ilmu dari mereka.

Orang mungkin mengira waktu berlalu tanpa arti, tetapi kenyataannya berbeda. Hari-hari itu adalah masa yang sangat berharga.

Dan tibalah hari ini.

Satu hari lagi.

Waktu terus bergulir maju, langkah demi langkah.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.