Eternally Regressing Knight

Bab 609 — Alasan sang Teman

1831 Kata

Bab 609 — Alasan sang Teman

Pertanyaan crusader tanpa nama itu tertangkap oleh telinga Lawford. Dia melirik sekilas padanya, lalu melangkah ke samping secara sopan untuk memberi jalan bagi macan tutul yang lewat, sembari memperlihatkan simbol pada jubahnya kepada sang crusader.

Sebuah garis tak rata tunggal—representasi dari sebuah benteng dan dinding besi.

"Kau mengenali ini?"

Tanyanya sembari memperlihatkannya. Itu adalah simbol yang sulit dilewatkan. Jika seseorang bertanya siapa yang membuat gelombang terbesar di seluruh benua baru-baru ini, inilah jawabannya.

Bahkan mereka yang hidup terisolasi di pegunungan atau bertarung melawan anggota sekte dengan telinga tertutup tak bisa mengabaikan peristiwa semacam itu.

"Border Guard?"

Sang crusader berkedip, ekspresinya terkejut. Seperti yang dikatakannya, itu memang lambang dari Border Guard.

Ada lambang lain yang menyimbolkan Encrid.

Lawford mengangkat jubahnya untuk memperlihatkannya juga—sebuah bentuk geometris hitam yang disilangkan oleh satu garis.

Bentuk itu menyimbolkan tebasan menembus Demon Realm dan merupakan lambang dari Mad Knights.

Seorang bangsawan dari Naurillia pernah melihatnya dan bercanda bertanya, "Apakah ini artinya 'tebas dulu baru berpikir belakangan'?"

"Kau tahu yang ini juga? Ini adalah satu-satunya ordere Knight dari Border Guard."

Meski aktivitas luar dan pengaruh mereka makin meningkat, Lawford secara teknis tidak berada di wilayah Border Guard saat ini.

Dia pikir mungkin saja sang crusader tidak mengetahuinya.

"Knights of Madness?"

Jawaban datang seketika. Meski nama resmi mereka adalah 'The Mad Knights', orang-orang sering menyebut mereka 'Knights of Madness'.

Yah, maksudnya tersampaikan, jadi hal itu tidak masalah. Di beberapa tempat, mereka bahkan disebut 'Iron Wall Knights'.

Lawford sendiri pernah menghadapi hal ini sebelumnya.

"Ya, aku Squire Lawford."

Lawford mengungkapkan identitasnya. Meski keterampilan sebenarnya menandingi seorang Junior-Knight, dia tetap memilih untuk bertahan sebagai seorang Squire.

Gelar Knight secara historis berasal dari kebangsawan, tetapi telah berkembang untuk mewakili mereka yang mahir mengendalikan 'Will'—sebuah simbol keperkasaan tempur.

Pangkat Junior-Knight juga mengusung signifikansi simbolis, tetapi hal itu tidak terlalu berpengaruh baginya sekarang.

Bukan berarti dia tak punya harga diri atau rasa memiliki. Baginya, menjadi seorang Squire di Mad Knights sudah lebih dari cukup.

Bahkan jika Captain Encrid miliknya memanggilnya seorang Junior-Knight, dia tetaplah seorang Squire hingga dia sendiri menerimanya.

Ini menunjukkan bahwa bahkan Lawford pun punya sekilas kegilaan di dalam dirinya.

Lawford percaya jika dia adalah seorang Squire, maka dia harus memperkenalkan yang lain sesuai jabatannya.

Dia mengulurkan tangannya lalu berkata,

"Ini Auxiliary Soldier Pel. Secara teknis, tak boleh ada prajurit biasa di dalam ordere, tapi siapa peduli? Dia cuma seorang prajurit."

Begitulah cara pandangnya. Pel, tanpa sedikit pun humor, membalas komentar tersebut.

"Apakah seorang Squire berada di bawah seorang prajurit?"

"Mungkin di hutan terpencil, tapi bukan di benua ini, prajurit."

"Permisi? Seorang Squire berani membalas?"

Saat keduanya saling menggeram satu sama lain, seorang half-blood Giant dengan ekspresi ramah terkekeh lalu berkata,

"Tenang saja, kami tak membunuh atau melukai sembarang orang, Saudara."

Meski postur raksasanya sangat mencolok, jika dilihat lebih dekat, dia cukup cantik.

Tentu saja, tak ada orang yang sedang memperhatikan wajahnya saat ini.

"Oh."

Sang crusader tanpa nama dari Cult Extermination Order berdiri terpana, mulutnya menganga.

"Knights of Madness?"

Mereka adalah kelompok yang paling banyak dibicarakan di seluruh benua saat ini.

Mengapa mereka ada di sini?

Apa yang mungkin bisa mereka dapatkan dengan berada di sini?

Setiap orang bergerak demi keuntungan mereka sendiri.

Bahkan jika sang crusader tanpa nama tidak seperti itu, sangat alami bagi orang lain untuk bersikap demikian.

Jadi sangat alami untuk bertanya-tanya mengapa mereka ada di sini.

Dan bukan hanya dia, siapa pun bakal mengajukan pertanyaan yang sama:

'Mengapa mereka ada di sini?'

Terlibat dalam pertarungan ini berarti melangkah ke dalam perang saudara Holy Nation.

Makin memperburuk keadaan, kerumunan di luar berteriak bahwa biara Noah adalah sarang demon, mengklaim adanya wahyu ilahi.

Bahkan jika tak ada yang mempercayai mereka, yang kuat selalu mendiktekan aturan pada yang lemah, dan biara-biara kecil tak bisa melawan.

Bahkan jika para Knight ini membantu biara bertahan hidup, mereka tetap bisa dicap sebagai antek demon belakangan.

Mereka mungkin menanggung stigma itu lama setelah pertarungan berakhir.

Mengetahui hal ini, sang crusader telah datang kemari bersiap untuk tewas.

"Sebelum membasmi sekte, aku memikirkan tentang apa yang sebenarnya ingin kulakukan. Itu adalah berdoa bagi mereka yang dizalimi secara tak adil."

Dengan kata-kata itu, sang crusader tanpa nama meninggalkan Ordere lalu menetap di biara.

Meski begitu, dia berdoa di bawah bulan setiap malam dan bekerja untuk memantapkan hatinya.

Mengetahui bahwa kau melangkah menuju kematian yang pasti tidak membuatnya menjadi lebih mudah.

Namun, menyaksikan sikap santai dari para Knight membuat tekadnya terasa tidak berarti.

"Ketenangan apa ini?"

Mereka telah masuk dengan begitu santai dan berkeliaran di kota tanpa beban.

Mereka saling menggeram, menyanyikan lagu, dan pria berambut abu-abu itu mengeluhkan hawa dingin sementara yang lain bertanya di mana gerbang utamanya.

Pria yang sama yang telah melompati dinding itu sendiri.

Dia tak bisa memahami alasannya.

Lalu ada macan tutul yang berjalan di samping mereka, dan pria yang mengenakan jubah mereka tetapi sengaja menjaga jarak.

menyaksikan semua ini menyisakan perasaan yang tak terlukiskan baginya.

Mengapa hal itu terasa begitu konyol?

Alasannya sederhana: mereka sama sekali tak memiliki rasa bahaya.

Hal itu membuat tekadnya sendiri terasa tak berarti. Sungguh mengusik pikiran.

* * *

"Aku belum makan selama dua hari."

Noah berkata sembari menyeduh teh dengan tangannya yang tinggal tulang.

Encrid mengambil teh itu lalu menyeruputnya.

Berkat Marcus, dia pernah mencicipi teh yang bagus sebelumnya dan bisa tahu bahwa teh ini tidak terlalu mahal.

Kenyataan bahwa Noah menyebutkan tidak makan selama dua hari memperjelas bahwa biara sedang berjuang keras.

Meski begitu, teh diseduh dengan penuh perhatian, dan Encrid menghargai usaha tersebut.

Marcus pernah memberitahunya,

"Apakah teh mahal itu pasti teh yang enak? Belum tentu. Teh yang enak bergantung pada siapa dirimu membaginya dan momen itu sendiri. Jika kau meminumnya bersama orang yang tak kau sukai, teh terbaik pun terasa pahit."

Marcus mengatakan ini saat ayahnya membawanya minum teh, mengeluh sepanjang waktu.

Mengingat hal itu, Encrid berpikir teh yang diminumnya sekarang tidak buruk.

Teh itu memiliki rasa sepat yang pas, dengan aroma dan wangi yang tertinggal di tenggorokan.

Meski dibuat dari bunga-bunga kering tanpa campuran apa pun, menyisakan rasa kasar di akhir, hal itu sudah cukup bagus.

"Aku bersyukur kau telah datang, tetapi kupikir kau perlu memahami situasinya."

Noah berbicara lagi, serius dan tulus.

Dalam perjalanan kemari, Encrid telah mengantisipasi bagaimana orang-orang mungkin bereaksi.

Sebagian besar orang bakal berterima kasih padanya, lalu memohon keselamatan.

Mereka mungkin berlutut, membuat janji-janji yang tak bisa ditepati, atau mengemis demi kelangsungan hidup mereka sendiri.

Atau bahkan memohon untuk menyelamatkan orang lain bersama mereka.

Namun ada individu-individu langka yang tak bisa kau ukur dengan begitu mudah.

Noah membuka bibirnya yang kering dan pecah-pecah untuk berbicara.

Bibirnya begitu kering hingga sedikit berdarah, kondisi mulutnya mencerminkan situasi yang sangat buruk.

Itu adalah kondisi di mana regangan sekecil apa pun bakal membuat retakannya berdarah deras.

"Kami sudah ditandai sebagai kambing hitam. Bertahan di sini bakal membuatmu turut dicap sebagai anak-anak demon. Bukan hanya oleh orang-orang di luar yang menyembah Gray God, tetapi juga oleh rakyat Holy Nation."

'Dunia ini punya begitu banyak orang gila.'

Itulah pemikiran Encrid.

Pria ini mengkhawatirkan orang lain dalam kondisi seperti ini? Noah benar-benar memang seperti ini.

Dia telah menyelamatkan Seiki dengan mengorbankan sebelah mata dan sebelah telinganya, tahu bahwa akhirnya adalah kematian setelah menanggung siksaan.

"Mengingat kembali, Noah mungkin sedikit tak waras. Meski aku memang memanfaatkannya."

Seiki pernah berkomentar demikian.

Apa yang dikatakan Noah sekarang bermuara pada ini:

"Ini berbahaya. Ini bisa berdampak buruk bagimu."

Bagi Encrid, hal ini membuatnya tampak seperti seorang gila lainnya.

Noah terus berbicara sementara Encrid mendengarkan dalam diam sembari meminum tehnya.

"Jika memungkinkan, bisakah kau setidaknya menyelamatkan anak-anak? Para biksu dan aku telah memutuskan untuk tetap berada di biara. Ya, ini adalah dosa masa laluku."

Dia berbicara dengan ketulusan, tersenyum tipis.

Dia setidaknya bisa menyelamatkan anak-anak, setidaknya beberapa orang, dan hal ini memberinya secercah harapan.

Bisakah seseorang tersenyum begitu cerah saat meminta bantuan untuk menyelamatkan segelintir nyawa dalam kondisi sesulit ini?

Encrid menatap Noah.

Setelah menanggung siksaan dan penderitaan semacam itu, kau bakal mengira tatapannya bakal redup, tetapi ternyata tidak.

Dia telah kehilangan sebelah matanya, tetapi mata yang tersisa bersinar bagai cahaya bintang.

Sebuah biara kecil, hanya beberapa lusin orang.

Apakah ini benar-benar pertarungan tanpa keuntungan?

Bagaimana bisa tak ada keuntungan?

Di antara mereka yang menilai saint berdasarkan kesucian mereka, seorang saint sejati sangat layak untuk diselamatkan.

Jangan tinggalkan tetanggamu dalam kemiskinan.

Jangan mendesak orang lain demi mengambil buah yang gugur.

Jika seseorang hidup berdasarkan kata-kata kitab suci secara utuh, bukankah mereka adalah seorang saint?

"Mari kita berteman."

Encrid berkata.

"...Maaf?"

"Mari kita bicara santai. Mulai hari ini, mari kita berteman."

Meletakkan cangkir tehnya, dia mengibaskan debu dari rambut hitamnya.

Partikel-partikel debu menari-nari di bawah sinar matahari yang menerobos jendela.

Bagi mata Noah, mereka tampak bagaikan bintang-bintang di langit malam.

Rasanya seolah dia sedang melihat cahaya dari Encrid.

Persis seperti Encrid melihat cahaya di dalam diri Noah.

Mengapa pria ini datang kemari?

Bahkan jika ditanya, jawabannya takkan menjadi sesuatu yang rumit.

Dia datang untuk menyelamatkan orang-orang.

Jika sang Ferryman melihat ini, dia kemungkinan bakal bertanya, "Pergi menyelamatkan hari esok lagi?"

Dan dia tidak bakal salah.

Encrid melihat Noah sebagai seseorang yang lurus, baik, dan diperlukan bagi dunia.

Cuma itu saja alasannya. Bahkan jika tindakannya tampak impulsif, dia takkan membantahnya.

"Mari kita berteman."

Encrid mengulang kalimatnya.

Noah, yang kemungkinan lebih tua di antara keduanya, berkedip, mengatupkan kedua tangannya secara sopan, lalu mengangguk sembari tersenyum.

"Ya, mari kita berteman."

Apakah ini dimaksudkan untuk menghiburnya? Meski begitu, hal itu membawa kebahagiaan.

Dan seperti para pahlawan yang telah berbicara demi para Tuhan sebelumnya, kali ini pun, sang pahlawan berbicara.

Dari bibir seseorang yang mengusung cahaya terdengar kata-kata,

"Jadi sekarang, ini adalah pertarungan untuk melindungi seorang teman. Sekarang sudah ada alasannya."

Dicap sebagai demon adalah sebuah kemungkinan.

Lalu kenapa?

Baik Holy Nation maupun pasukan Gray God mungkin menolak mereka, dan pasukan yang berkumpul di luar memberi ancaman nyata.

Ya, mereka tahu hal itu saat melangkah kemari.

"Dan kau masih bakal bertarung?"

Seseorang bertanya.

"Itulah sebabnya kami melakukannya."

Encrid berpikir dalam hati lalu berdiri.

Noah telah menyebutkan bahwa mereka belum makan selama dua hari.

Dia tak bisa membiarkan hal itu berlanjut.

Ada anak-anak di dalam biara, beberapa yang telah dimanfaatkan di bawah kedok kesucian dan beberapa yang tidak.

Baginya, ada banyak sekali.

Bahkan memperhitungkan kondisi biara, ada terlalu banyak anak-anak di sini.

Noah tak menunjukkan diskriminasi terhadap orang-orang.

Di dalam biara ada mereka yang telah mengorbankan diri demi menyelamatkan Saintess Seiki.

Ada pula mereka yang baru saja bertekad untuk berdiri teguh.

Untungnya, mereka yang telah mengkhianati mereka sudah dibereskan.

"Oh, Seiki memintaku untuk menyampaikan salamnya padamu."

Encrid berkata saat melangkah ke luar.

Seiki pernah berkata,

"Kau pikir aku bakal berguna jika aku pergi? Aku kemungkinan cuma bakal menghalangi. Aku bakal bergabung saat aku sudah lebih kuat. Hati-hati. Sampaikan salamku pada Paman Noah."

Gadis itu sangat lugas secara menyegarkan.

Kata-katanya mengusung kepercayaan tersirat bahwa jika Encrid bertindak, kegagalan bukanlah sebuah pilihan.

Kepercayaan itu mendorongnya maju—sebuah dorongan yang menyenangkan.

Ini juga pertama kalinya Krais melihatnya pergi tanpa menunjukkan kecemasan.

Encrid merasakan keinginan mendalam untuk membalas kepercayaan mereka.

Dan untuk memberi Noah jenis kepastian yang sama seperti yang dilihatnya di wajah Seiki dan Krais.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.